Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kewirausahaan adalah padanan kata dari entrepreneurship dalam bahasa
Inggris, unternehmer dalam bahasa Jerman, ondernemen dalam bahasa Belanda.
Sedangkan di Indonesia diberi nama kewirausahaan . Kata entrepreneur berasal
dari bahasa Perancis yaitu entreprende yang berarti petualang, pengambil risiko,
kontraktor, pengusaha (orang yang mengusahakan suatu pekerjaan tertentu), dan
pencipta yang menjual hasil ciptaannya.
Entrepreneurship adalah suatu kemampuan untuk mengelola sesuatu
yang ada dalam diri Anda untuk dimanfaatkan dan ditingkatkan agar lebih
optimal (baik) sehingga bisa meningkatkan taraf hidup Anda dimasa mendatang.
Indonesia entrepreneurial skill untuk bisa menekan sekecil mungkin tingkat
kemiskinan yang tinggi. Menngandalkan investor asing untuk membuka
lapangan kerja tidaklah cukup, menghimbau kepada perusahaan untuk tidak
mem-PHK karyawan atau buruhnya juga sulit diwujudkan. Salah satu cara atau
jalan terbaiknya adalah mengandalkan sector pendidikan utnuk mengubah pola
piker lulsannya dari berorientasi mencari kerja menjadi mencetak lapangan kerja
sendiri alias menjadi wirausahawan mandiri.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui tahapan enterpreneur.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui tahapan-tahapan enterpreneur.
2. Untuk mengetahui faktor - faktor pendorong kewirausahaan.
3. Untuk mengetahui proses berkembangnya kewirausahaan.
4. Untuk mengetahui ciri – ciri tumbuhnya kewirausahaan.
5. Untuk mengetahui langkah – langkah menuju keberhasilan
kewirausahaan.
6. Untuk mengetahui faktor penghambat dan pendorong
kewirausahaan.
7. Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian dari berwirausaha.

1.3 Manfaat Penulisan


1. Agar pembaca dapat mengetahui tahapan-tahapan enterpreneur.
2. Agar pembaca dapat mengetahui faktor - faktor pendorong kewirausahaan.
3. Agar pembaca dapat mengetahui proses berkembangnya kewirausahaan.
4. Agar pembaca dapat mengetahui ciri – ciri tumbuhnya kewirausahaan.
5. Agar pembaca dapat mengetahui langkah – langkah menuju keberhasilan
kewirausahaan.
6. Agar pembaca dapat mengetahui faktor penghambat dan pendorong
kewirausahaan.
7. Agar pembaca dapat mengetahui keuntungan dan kerugian dari
berwirausaha.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tahapan – Tahapan Enterpreneur


Ada tahap-tahap yang dilakukan oleh seorang entrepreneur dalam
menjalankan usahanya. Secara umum tahap-tahap dalam melakukan
entrepreneurship:
1. Tahap memulai
Tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha
mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat
tantangan atau peluang usaha baru dan dilanjutkan dengan kemungkinan dan
adanya keinginan untuk membuka usaha baru. Tahap ini juga memilih jenis
usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian, industri, atau jasa
atau usaha yang lain.
2. Tahap melaksanakan usaha
Dalam tahap ini seorang entrepreneur mengelola berbagai aspek yang terkait
dengan usahanya, mencakup aspek-aspek: menjalankan bentuk usaha,
pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi
bagaimana mengambil risiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan
melakukan evaluasi.
3. Tahap mempertahankan usaha
Tahap di mana entrepreneur berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan
analisis untuk mengatasi sagala masalah dan hambatan dalam menjalankan
usahanya. Entrepreneur yang berhasil adalah yang mampu 8
mempertahankan usahanya dari segala hambatan, tantangan, dan masalah
yang ada sehingga usahanya dapat berjalan dengan lancar.
4. Tahap mengembangkan usaha
Tahap ini adalah di mana entrepreneur berdasarkan hasil yang telah dicapai
melakukan analisis perkembangan dan inovasi untuk ditindaklanjuti sesuai
dengan kondisi yang dihadapi. Dalam perkembangannya bisa dengan
memperbanyak relasi, memperbarui metode dan sistem, memperbarui
produk yang dihasilkan, memperbesar dan memperluas usaha, menambah
kualitas, menambah pelayanan, menambah tenaga kerja. Dalam tahap ini
entrepreneur melakukan kontribusi ekonomi dalam jangka panjang terhadap
manusia, alam dan lingkungan. Dari manfaat pengembangan usaha ini dapat
diperoleh secara jelas, kontribusi untuk masalah lapangan kerja, yaitu akan
ada penambahan tenaga kerja. Proses entrepreneurship diawali dengan suatu
aksioma, yaitu adanya tantangan. Dari tantangan tersebut timbul gagasan,
kemauan dan dorongan untuk berinisiatif, yang tidak lain adalah berfikir
kreatif dan bertindak inovatif sehingga tantangan tadi teratasi dan
terpecahkan. Semua tantangan pasti memiliki risiko, yaitu kemungkinan
berhasil atau tidak berhasil. Oleh sebab itu entrepreneur adalah seorang yang
berani menghadapi risiko dan menyukai tantangan (Suryana, 2006)
1. FAKTOR – FAKTOR PENDORONG KEWIRAUSAHAAN

Menurut Timmons (2008:41), dasar fundamental dari proses kewirausahaan sering


dijumpai pada pola kesuksesan ventura. Selain variasi bisnis, wirausahawan, faktor
geografi, dan teknologi, faktor pendukung utama juga mendominasi proses
kewirausahaan yang dinamis. Sehubungan dengan itu, Timmons mengemukakan lima
faktor pendorong proses kewirausahaan sebagai berikut:

1. digerakkan oleh semangat meraih peluang bisnis.


2. digerakkan oleh wirausahawan terkemuka dan tim kewirausahaannya.
3. hemat dan kreatif dalam menggunakan sumber daya.

4. sadar akan perlunya kesesuaian dan keseimbangan.

5. terintegrasi dan holistik.

Kelima hal di atas merupakan komponen proses kewirausahaan terkontrol yang dapat
diukur, dipengaruhi dan diubah. Pendiri dan invenstor memfokuskan diri pada faktor ini
saat melakukan proses analisis risiko dan menentukan upaya perubahan untuk
meningkatkan peluang sukses ventura.

Menurut Saifudin (2002), faktor pemicu kewirausahaan ditentukan oleh “property


light”, competency incentives, dan environment. Sedangkan menurut Kuncara (2008:1)
faktor pendorong kewirausahaan terdiri atas faktor internal dan faktor eksternal sebagai
berikut:
1. faktor internal, yaitu kecakapan pribadi yang menyangkut soal bagaimana kita
mengelola diri sendiri. Kecakapan pribadi seseorang terdiri atas 3 unsur
terpenting, yaitu: (1) Kesadaran diri. Ini menyangkut kemampuan mengenali
emosi diri sendiri dan efeknya, mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri,
dan keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri atau percaya diri. (2)
Pengaturan diri. Ini menyangkut kemampuan mengelola emosi-emosi dan
desakan-desakan yang merusak, memelihara norma kejujuran dan integritas,
bertanggung jawab atas kinerja pribadi, keluwesan dalam menghadapi
perubahan, dan mudah menerima atau terbuka terhadap gagasan, pendekatan dan
informasi-informasi baru. (3) Motivasi. Ini menyangkut dorongan prestasi untuk
menjadi lebih baik, komitmen, inisiatif untuk memanfaatkan kesempatan, dan
optimisme dalam menghadapi halangan dan kegagalan.
2. Faktor eksternal, yaitu kecakapan sosial yang menyangkut soal bagaimana kita
menangani suatu hubungan. kecakapan sosial seseorang terdiri atas 2 unsur
terpenting, yaitu: (1) Empati. Ini menyangkut kemampuan untuk memahami
orang lain, perspektif orang lain, dan berminat terhadap kepentingan orang lain.
Juga kemampuan mengantisipasi, mengenali, dan berusaha memenuhi
kebutuhan pelanggan. Mengatasi keragaman dalam membina pergaulan,
mengembangkan orang lain, dan kemampuan membaca arus-arus emosi sebuah
kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan, juga tercakup didalamnya. (2)
Keterampilan sosial. Termasuk dalam hal ini adalah taktik-taktik untuk
meyakinkan orang (persuasi), berkomunikasi secara jelas dan meyakinkan,
membangkitkan inspirasi dan memandu kelompok, memulai dan mengelola
perubahan, bernegosiasi dan mengatasi silang pendapat, bekerja sama untuk
tujuan bersama, dan menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan
kepentingan bersama.

Menurut Timmons (2008:40), wirausahawan harus menjauhi arena persaingan yang


sekiranya tidak menguntungkan dirinya, atau memanfaatkan potensi yang ada secara
kreatif untuk menghasilkan kompetensi. Berusaha menciptakan pertambahan nilai
perusahaan yang disertai aliran arus kas yang tidak terputus, sehingga menarik minat
perusahaan modal untuk berinvestasi. Menurut Timmons, saat ini terjadi kecenderungan
di mana wirausahawan yang telah sukses membawa pengalaman, pengetahuan, dan
keterampilan yang menjadi nilai tambah untuk menjadi invenstor terhadap perusahaan
pemula yang berpotensi tinggi. Salah satu kriteria ventura potensial adalah mampu
mengidentifikasi mitra dalam hal pendanaan dan anggota tim inti. Mereka mencari
penyandang dana yang memiliki nilai tambah yakni dapat meningkatkan sumber daya
manusia perusahaan secara keseluruhan. Dari kesemua hal berkenaan dengan proses
kewirausahaan, puncaknya adalah ventura terkait dengan pilihan gaya hidup. Hidup
harus dibuat bahagia, sehingga seseorang bisa hidup sesuai dengan keinginannya,
sementara perusahaan terus berkembang.
Timmons (2008:41) menggambarkan faktor pendorong yang mendasari kesuksesan
ventura baru melalui tiga faktor yaitu peluang usaha, sumber daya, dan tim. Ketiga
faktor tersebut saling berinteraksi menciptakan keseimbangan sebagaimana
diilustrasikan pada bagan Timmons. Proses kewirausahaan diawali dengan peluang
usaha (bukan uang), strategi, jaringan, tim, atau rencana bisnis. Peluang usaha terjadi
dengan sendirinya di luar kontrol siapa pun.Tugas wirausahawan dan timnya adalah
meramu semua faktor yang ada sehingga terjadi suatu keseimbangan.Wirausahawan
bagai seorang akrobator yang harus menjada tiga buah bola agar tetap di udara sambil
melompat-lompat di atas trampoline.Seperti itulah kondisi sebuah perusahaan
pemula.Rencana bisnis merupakan bahasa dan kode untuk mengkomunikasikan kualitas
dari tiga kekuatan dalan bagan Timmons untuk mencapai kesesuaian dan keseimbangan.
Dari bagan di atas, Timmons menganalisis bahwa bentuk, ukuran, dan dalamnya
peluang usaha menentukan bentuk, ukuran dan dalamnya kondisi sumber daya dan tim.
1. Peluang usaha, merupakan inti dari proses kewirausahaan. Suatu peluang usaha
dianggap baik jika memiliki permintaan pasar, struktur pasar dan ukuran pasar
yang baik, besarnya marjin. Ringkasnya, suatu peluang dikatakan memiliki
kekuatan bila investor mendapatkan modalnya kembali.
2. Sumber daya, yakni potensi dan kompetensi yang didukung oleh kreativitas dan
penghematan. Wirausahawan yang sukses adalah yang dapat menghemat modal
dan memanfaatkannya dengan cerdik.

3. Tim Kewirausahawan, dipimpin oleh wirausahawan yang sudah memiliki


pengalaman kerja yang sukses. Menempatkan orang yang tepat pada posisi yang
tepat, menghargai yang berhasil tetapi juga membantu yang gagal. Menerapkan
standar perilaku dan performa yang tinggi pada tim.

Hubungan antara ketiga kekuatan bagan Timmons harus diwarnai oleh konsep
kesesuaian dan keseimbangan.Dengan demikian, tugas wirausahawan dan timnya
adalah meramu semua faktor yang ada sehingga terjadi suatu keseimbangan. Dalam
artian, dia harus bisa menguasai keadaan sehingga bisa mencapai keberhasilan usaha
Dasar dari proses kewirausahaan ada dua, yaitu logika dan trial and error dengan
menggunakan intuisi dan perencanaan. Namun keberhasilan dari suatu proposal ventura
banyak tergantung pada kesesuaian faktor kekuatan yang dapat meyakinkan investor.
Tidak ada waktu yang paling tepat untuk memulai sebuah proses kewirausahaan. Oleh
karena itu, kesigapan dalam melihat suatu peluang dan keputusan untuk meraihnya
memiliki nilai tersendiri dalam proses kewirausahaan.

Menurut Kuncara (2008:3-4) kunci sukses seorang pengusaha di dalam memenangkan


pasar adalah kekuatan peranan dalam berinovasi dan menciptakan ide-ide brilian dalam
menembus market share.Inovasi bukanlah berarti menciptakan sebuah produk baru.
Inovasi dapat berwujud apa saja, mulai dari, baik dalam bentuk jasa maupaun produk.
Inovasi juga bisa dilakukan dengan mengamati produk atau jasa yang sudah ada,
kemudian melakukan modifikasi untuk membuat hasil yang lebih baik. Atau dari
modifikasi tersebut akan melahirkan sebuah produk baru lagi. Salah satu metode inovasi
adalah ala Jepang, yaitu dengan prinsip ATM; Amati Tiru Modifikasi.
Untuk menjadi wirausaha sukses dan tangguh melalui inovasi, maka harus menerapkan
beberapa hal berikut:
1. Seorang wirausaha harus mampu beripikir secara Kreatif, yaitu dengan berani
keluar dari kerangka bisnis yang sudah ada. Untuk menghasilkan sesuatu yang
lebih baik.
2. Seorang wirausaha juga harus bisa membaca arah perkembangan dunia usaha.
Misalnya, saat ini sedang maraknya penggunaan Teknologi Informasi dalam
dunia bisnis.

3. Seorang wirausaha harus dapat menunjukkan nilai lebih dari produk yang
dimilikinya, agar konsumen tidak merasa produk yang ditawarkan terlalu mahal.

4. Seorang wirausaha perlu menumbuhkan sebuah kerjasama tim, sikap leadership,


kebersamaan dan membangun hubungan yang baik dengan karyawannya.

5. Seorang wirausaha harus mampu membangun personal approach yang baik


dengan lingkungan sekitarnya dan tidak cepat berpuas diri dengan apa yang
telah diraihnya.

6. Seorang wirausaha harus selalu meng-upgrade ilmu yang dimilikinya untuk


meningkatkan hasil usaha yang dijalankannya. Hal ini dapat ditempuhnya
dengan cara membaca buku-buku, artikel, internet, ataupun bertanya pada yang
ahlinya.

7. Seorang wirausaha harus bisa menjawab tantangan masa depan dan mampu
menjalankan konsep manajemen dan teknologi informasi. Hal ini bertujuan
untuk mempelajari segala situasi bisnis atau usaha yang cepat berkembang dan
berubah sangat cepat. Untuk itu perlunya daya kreativitas yang tinggi, analisis
yang baik, intuisi yang tajam, kemampuan networking yang mendukung, serta
strategi jitu dalam memasarkan produk atau jasa yang dimilikinya.

2.Proses berkembangnya kewirausahaan


Menurut Timmons (2008:41), dasar fundamental dari proses kewirausahaan sering
dijumpai pada pola kesuksesan ventura. Selain variasi bisnis, wirausahawan, faktor
geografi, dan teknologi, faktor pendukung utama juga mendominasi proses
kewirausahaan yang dinamis. Sehubungan dengan itu, Timmons mengemukakan lima
faktor pendorong proses kewirausahaan sebagai berikut:

1. digerakkan oleh semangat meraih peluang bisnis.


2. digerakkan oleh wirausahawan terkemuka dan tim kewirausahaannya.
3. hemat dan kreatif dalam menggunakan sumber daya.
4. sadar akan perlunya kesesuaian dan keseimbangan.
5. terintegrasi dan holistik.

Kelima hal di atas merupakan komponen proses kewirausahaan terkontrol yang dapat
diukur, dipengaruhi dan diubah. Pendiri dan invenstor memfokuskan diri pada faktor ini
saat melakukan proses analisis risiko dan menentukan upaya perubahan untuk
meningkatkan peluang sukses ventura.

Menurut Saifudin (2002), faktor pemicu kewirausahaan ditentukan oleh “property


light”, competency incentives, dan environment. Sedangkan menurut Kuncara (2008:1)
faktor pendorong kewirausahaan terdiri atas faktor internal dan faktor eksternal sebagai
berikut:
1. faktor internal, yaitu kecakapan pribadi yang menyangkut soal bagaimana kita
mengelola diri sendiri. Kecakapan pribadi seseorang terdiri atas 3 unsur
terpenting, yaitu: (1) Kesadaran diri. Ini menyangkut kemampuan mengenali
emosi diri sendiri dan efeknya, mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri,
dan keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri atau percaya diri. (2)
Pengaturan diri. Ini menyangkut kemampuan mengelola emosi-emosi dan
desakan-desakan yang merusak, memelihara norma kejujuran dan integritas,
bertanggung jawab atas kinerja pribadi, keluwesan dalam menghadapi
perubahan, dan mudah menerima atau terbuka terhadap gagasan, pendekatan dan
informasi-informasi baru. (3) Motivasi. Ini menyangkut dorongan prestasi untuk
menjadi lebih baik, komitmen, inisiatif untuk memanfaatkan kesempatan, dan
optimisme dalam menghadapi halangan dan kegagalan.
2. Faktor eksternal, yaitu kecakapan sosial yang menyangkut soal bagaimana kita
menangani suatu hubungan. kecakapan sosial seseorang terdiri atas 2 unsur
terpenting, yaitu: (1) Empati. Ini menyangkut kemampuan untuk memahami
orang lain, perspektif orang lain, dan berminat terhadap kepentingan orang lain.
Juga kemampuan mengantisipasi, mengenali, dan berusaha memenuhi
kebutuhan pelanggan. Mengatasi keragaman dalam membina pergaulan,
mengembangkan orang lain, dan kemampuan membaca arus-arus emosi sebuah
kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan, juga tercakup didalamnya. (2)
Keterampilan sosial. Termasuk dalam hal ini adalah taktik-taktik untuk
meyakinkan orang (persuasi), berkomunikasi secara jelas dan meyakinkan,
membangkitkan inspirasi dan memandu kelompok, memulai dan mengelola
perubahan, bernegosiasi dan mengatasi silang pendapat, bekerja sama untuk
tujuan bersama, dan menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan
kepentingan bersama.

Menurut Timmons (2008:40), wirausahawan harus menjauhi arena persaingan yang


sekiranya tidak menguntungkan dirinya, atau memanfaatkan potensi yang ada secara
kreatif untuk menghasilkan kompetensi. Berusaha menciptakan pertambahan nilai
perusahaan yang disertai aliran arus kas yang tidak terputus, sehingga menarik minat
perusahaan modal untuk berinvestasi. Menurut Timmons, saat ini terjadi kecenderungan
di mana wirausahawan yang telah sukses membawa pengalaman, pengetahuan, dan
keterampilan yang menjadi nilai tambah untuk menjadi invenstor terhadap perusahaan
pemula yang berpotensi tinggi. Salah satu kriteria ventura potensial adalah mampu
mengidentifikasi mitra dalam hal pendanaan dan anggota tim inti. Mereka mencari
penyandang dana yang memiliki nilai tambah yakni dapat meningkatkan sumber daya
manusia perusahaan secara keseluruhan. Dari kesemua hal berkenaan dengan proses
kewirausahaan, puncaknya adalah ventura terkait dengan pilihan gaya hidup. Hidup
harus dibuat bahagia, sehingga seseorang bisa hidup sesuai dengan keinginannya,
sementara perusahaan terus berkembang.
Timmons (2008:41) menggambarkan faktor pendorong yang mendasari kesuksesan
ventura baru melalui tiga faktor yaitu peluang usaha, sumber daya, dan tim. Ketiga
faktor tersebut saling berinteraksi menciptakan keseimbangan sebagaimana
diilustrasikan pada bagan Timmons. Proses kewirausahaan diawali dengan peluang
usaha (bukan uang), strategi, jaringan, tim, atau rencana bisnis. Peluang usaha terjadi
dengan sendirinya di luar kontrol siapa pun.Tugas wirausahawan dan timnya adalah
meramu semua faktor yang ada sehingga terjadi suatu keseimbangan.Wirausahawan
bagai seorang akrobator yang harus menjada tiga buah bola agar tetap di udara sambil
melompat-lompat di atas trampoline.Seperti itulah kondisi sebuah perusahaan
pemula.Rencana bisnis merupakan bahasa dan kode untuk mengkomunikasikan kualitas
dari tiga kekuatan dalan bagan Timmons untuk mencapai kesesuaian dan keseimbangan.
Dari bagan di atas, Timmons menganalisis bahwa bentuk, ukuran, dan dalamnya
peluang usaha menentukan bentuk, ukuran dan dalamnya kondisi sumber daya dan tim.
1. Peluang usaha, merupakan inti dari proses kewirausahaan. Suatu peluang usaha
dianggap baik jika memiliki permintaan pasar, struktur pasar dan ukuran pasar
yang baik, besarnya marjin. Ringkasnya, suatu peluang dikatakan memiliki
kekuatan bila investor mendapatkan modalnya kembali.
2. Sumber daya, yakni potensi dan kompetensi yang didukung oleh kreativitas dan
penghematan. Wirausahawan yang sukses adalah yang dapat menghemat modal
dan memanfaatkannya dengan cerdik.
3. Tim Kewirausahawan, dipimpin oleh wirausahawan yang sudah memiliki
pengalaman kerja yang sukses. Menempatkan orang yang tepat pada posisi yang
tepat, menghargai yang berhasil tetapi juga membantu yang gagal. Menerapkan
standar perilaku dan performa yang tinggi pada tim.

Hubungan antara ketiga kekuatan bagan Timmons harus diwarnai oleh konsep
kesesuaian dan keseimbangan.Dengan demikian, tugas wirausahawan dan timnya
adalah meramu semua faktor yang ada sehingga terjadi suatu keseimbangan.Dalam
artian, dia harus bisa menguasai keadaan sehingga bisa mencapai keberhasilan usaha.
Dasar dari proses kewirausahaan ada dua, yaitu logika dan trial and error dengan
menggunakan intuisi dan perencanaan. Namun keberhasilan dari suatu proposal ventura
banyak tergantung pada kesesuaian faktor kekuatan yang dapat meyakinkan investor.
Tidak ada waktu yang paling tepat untuk memulai sebuah proses kewirausahaan. Oleh
karena itu, kesigapan dalam melihat suatu peluang dan keputusan untuk meraihnya
memiliki nilai tersendiri dalam proses kewirausahaan.

Menurut Kuncara (2008:3-4) kunci sukses seorang pengusaha di dalam memenangkan


pasar adalah kekuatan peranan dalam berinovasi dan menciptakan ide-ide brilian dalam
menembus market share.Inovasi bukanlah berarti menciptakan sebuah produk baru.
Inovasi dapat berwujud apa saja, mulai dari, baik dalam bentuk jasa maupaun produk.
Inovasi juga bisa dilakukan dengan mengamati produk atau jasa yang sudah ada,
kemudian melakukan modifikasi untuk membuat hasil yang lebih baik. Atau dari
modifikasi tersebut akan melahirkan sebuah produk baru lagi. Salah satu metode inovasi
adalah ala Jepang, yaitu dengan prinsip ATM; Amati Tiru Modifikasi.
Untuk menjadi wirausaha sukses dan tangguh melalui inovasi, maka harus menerapkan
beberapa hal berikut:
1. Seorang wirausaha harus mampu beripikir secara Kreatif, yaitu dengan berani
keluar dari kerangka bisnis yang sudah ada. Untuk menghasilkan sesuatu yang
lebih baik.
2. Seorang wirausaha juga harus bisa membaca arah perkembangan dunia usaha.
Misalnya, saat ini sedang maraknya penggunaan Teknologi Informasi dalam
dunia bisnis.
3. Seorang wirausaha harus dapat menunjukkan nilai lebih dari produk yang
dimilikinya, agar konsumen tidak merasa produk yang ditawarkan terlalu mahal.
4. Seorang wirausaha perlu menumbuhkan sebuah kerjasama tim, sikap leadership,
kebersamaan dan membangun hubungan yang baik dengan karyawannya.
5. Seorang wirausaha harus mampu membangun personal approach yang baik
dengan lingkungan sekitarnya dan tidak cepat berpuas diri dengan apa yang
telah diraihnya.
6. Seorang wirausaha harus selalu meng-upgrade ilmu yang dimilikinya untuk
meningkatkan hasil usaha yang dijalankannya. Hal ini dapat ditempuhnya
dengan cara membaca buku-buku, artikel, internet, ataupun bertanya pada yang
ahlinya.
7. Seorang wirausaha harus bisa menjawab tantangan masa depan dan mampu
menjalankan konsep manajemen dan teknologi informasi. Hal ini bertujuan
untuk mempelajari segala situasi bisnis atau usaha yang cepat berkembang dan
berubah sangat cepat. Untuk itu perlunya daya kreativitas yang tinggi, analisis
yang baik, intuisi yang tajam, kemampuan networking yang mendukung, serta
strategi jitu dalam memasarkan produk atau jasa yang dimilikinya.

3. Ciri – ciri bertumbuhnya kewirausahaan

Menurut Timmons (2008:41), dasar fundamental dari proses kewirausahaan sering


dijumpai pada pola kesuksesan ventura. Selain variasi bisnis, wirausahawan, faktor
geografi, dan teknologi, faktor pendukung utama juga mendominasi proses
kewirausahaan yang dinamis. Sehubungan dengan itu, Timmons mengemukakan
lima faktor pendorong proses kewirausahaan sebagai berikut:

1. digerakkan oleh semangat meraih peluang bisnis.


2. digerakkan oleh wirausahawan terkemuka dan tim kewirausahaannya.
3. hemat dan kreatif dalam menggunakan sumber daya.
4. sadar akan perlunya kesesuaian dan keseimbangan.
5. terintegrasi dan holistik.

Kelima hal di atas merupakan komponen proses kewirausahaan terkontrol yang dapat
diukur, dipengaruhi dan diubah. Pendiri dan invenstor memfokuskan diri pada faktor ini
saat melakukan proses analisis risiko dan menentukan upaya perubahan untuk
meningkatkan peluang sukses ventura.

Menurut Saifudin (2002), faktor pemicu kewirausahaan ditentukan oleh “property


light”, competency incentives, dan environment. Sedangkan menurut Kuncara (2008:1)
faktor pendorong kewirausahaan terdiri atas faktor internal dan faktor eksternal sebagai
berikut:
1. faktor internal, yaitu kecakapan pribadi yang menyangkut soal bagaimana kita
mengelola diri sendiri. Kecakapan pribadi seseorang terdiri atas 3 unsur
terpenting, yaitu: (1) Kesadaran diri. Ini menyangkut kemampuan mengenali
emosi diri sendiri dan efeknya, mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri,
dan keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri atau percaya diri. (2)
Pengaturan diri. Ini menyangkut kemampuan mengelola emosi-emosi dan
desakan-desakan yang merusak, memelihara norma kejujuran dan integritas,
bertanggung jawab atas kinerja pribadi, keluwesan dalam menghadapi
perubahan, dan mudah menerima atau terbuka terhadap gagasan, pendekatan dan
informasi-informasi baru. (3) Motivasi. Ini menyangkut dorongan prestasi untuk
menjadi lebih baik, komitmen, inisiatif untuk memanfaatkan kesempatan, dan
optimisme dalam menghadapi halangan dan kegagalan.
2. Faktor eksternal, yaitu kecakapan sosial yang menyangkut soal bagaimana kita
menangani suatu hubungan. kecakapan sosial seseorang terdiri atas 2 unsur
terpenting, yaitu: (1) Empati. Ini menyangkut kemampuan untuk memahami
orang lain, perspektif orang lain, dan berminat terhadap kepentingan orang lain.
Juga kemampuan mengantisipasi, mengenali, dan berusaha memenuhi
kebutuhan pelanggan. Mengatasi keragaman dalam membina pergaulan,
mengembangkan orang lain, dan kemampuan membaca arus-arus emosi sebuah
kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan, juga tercakup didalamnya. (2)
Keterampilan sosial. Termasuk dalam hal ini adalah taktik-taktik untuk
meyakinkan orang (persuasi), berkomunikasi secara jelas dan meyakinkan,
membangkitkan inspirasi dan memandu kelompok, memulai dan mengelola
perubahan, bernegosiasi dan mengatasi silang pendapat, bekerja sama untuk
tujuan bersama, dan menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan
kepentingan bersama.
Menurut Timmons (2008:40), wirausahawan harus menjauhi arena persaingan yang
sekiranya tidak menguntungkan dirinya, atau memanfaatkan potensi yang ada secara
kreatif untuk menghasilkan kompetensi. Berusaha menciptakan pertambahan nilai
perusahaan yang disertai aliran arus kas yang tidak terputus, sehingga menarik minat
perusahaan modal untuk berinvestasi. Menurut Timmons, saat ini terjadi kecenderungan
di mana wirausahawan yang telah sukses membawa pengalaman, pengetahuan, dan
keterampilan yang menjadi nilai tambah untuk menjadi invenstor terhadap perusahaan
pemula yang berpotensi tinggi. Salah satu kriteria ventura potensial adalah mampu
mengidentifikasi mitra dalam hal pendanaan dan anggota tim inti. Mereka mencari
penyandang dana yang memiliki nilai tambah yakni dapat meningkatkan sumber daya
manusia perusahaan secara keseluruhan. Dari kesemua hal berkenaan dengan proses
kewirausahaan, puncaknya adalah ventura terkait dengan pilihan gaya hidup. Hidup
harus dibuat bahagia, sehingga seseorang bisa hidup sesuai dengan keinginannya,
sementara perusahaan terus berkembang.
Timmons (2008:41) menggambarkan faktor pendorong yang mendasari kesuksesan
ventura baru melalui tiga faktor yaitu peluang usaha, sumber daya, dan tim. Ketiga
faktor tersebut saling berinteraksi menciptakan keseimbangan sebagaimana
diilustrasikan pada bagan Timmons. Proses kewirausahaan diawali dengan peluang
usaha (bukan uang), strategi, jaringan, tim, atau rencana bisnis. Peluang usaha terjadi
dengan sendirinya di luar kontrol siapa pun.Tugas wirausahawan dan timnya adalah
meramu semua faktor yang ada sehingga terjadi suatu keseimbangan.Wirausahawan
bagai seorang akrobator yang harus menjada tiga buah bola agar tetap di udara sambil
melompat-lompat di atas trampoline.Seperti itulah kondisi sebuah perusahaan
pemula.Rencana bisnis merupakan bahasa dan kode untuk mengkomunikasikan kualitas
dari tiga kekuatan dalan bagan Timmons untuk mencapai kesesuaian dan keseimbangan.
Dari bagan di atas, Timmons menganalisis bahwa bentuk, ukuran, dan dalamnya
peluang usaha menentukan bentuk, ukuran dan dalamnya kondisi sumber daya dan tim.
1. Peluang usaha, merupakan inti dari proses kewirausahaan. Suatu peluang usaha
dianggap baik jika memiliki permintaan pasar, struktur pasar dan ukuran pasar
yang baik, besarnya marjin. Ringkasnya, suatu peluang dikatakan memiliki
kekuatan bila investor mendapatkan modalnya kembali.
2. Sumber daya, yakni potensi dan kompetensi yang didukung oleh kreativitas dan
penghematan. Wirausahawan yang sukses adalah yang dapat menghemat modal
dan memanfaatkannya dengan cerdik.
3. Tim Kewirausahawan, dipimpin oleh wirausahawan yang sudah memiliki
pengalaman kerja yang sukses. Menempatkan orang yang tepat pada posisi yang
tepat, menghargai yang berhasil tetapi juga membantu yang gagal. Menerapkan
standar perilaku dan performa yang tinggi pada tim.

Hubungan antara ketiga kekuatan bagan Timmons harus diwarnai oleh konsep
kesesuaian dan keseimbangan.Dengan demikian, tugas wirausahawan dan timnya
adalah meramu semua faktor yang ada sehingga terjadi suatu keseimbangan.Dalam
artian, dia harus bisa menguasai keadaan sehingga bisa mencapai keberhasilan usaha.
Dasar dari proses kewirausahaan ada dua, yaitu logika dan trial and error dengan
menggunakan intuisi dan perencanaan. Namun keberhasilan dari suatu proposal ventura
banyak tergantung pada kesesuaian faktor kekuatan yang dapat meyakinkan investor.
Tidak ada waktu yang paling tepat untuk memulai sebuah proses kewirausahaan. Oleh
karena itu, kesigapan dalam melihat suatu peluang dan keputusan untuk meraihnya
memiliki nilai tersendiri dalam proses kewirausahaan.

Menurut Kuncara (2008:3-4) kunci sukses seorang pengusaha di dalam memenangkan


pasar adalah kekuatan peranan dalam berinovasi dan menciptakan ide-ide brilian dalam
menembus market share.Inovasi bukanlah berarti menciptakan sebuah produk baru.
Inovasi dapat berwujud apa saja, mulai dari, baik dalam bentuk jasa maupaun produk.
Inovasi juga bisa dilakukan dengan mengamati produk atau jasa yang sudah ada,
kemudian melakukan modifikasi untuk membuat hasil yang lebih baik. Atau dari
modifikasi tersebut akan melahirkan sebuah produk baru lagi. Salah satu metode inovasi
adalah ala Jepang, yaitu dengan prinsip ATM; Amati Tiru Modifikasi.
Untuk menjadi wirausaha sukses dan tangguh melalui inovasi, maka harus menerapkan
beberapa hal berikut:
1. Seorang wirausaha harus mampu beripikir secara Kreatif, yaitu dengan berani
keluar dari kerangka bisnis yang sudah ada. Untuk menghasilkan sesuatu yang
lebih baik.
2. Seorang wirausaha juga harus bisa membaca arah perkembangan dunia usaha.
Misalnya, saat ini sedang maraknya penggunaan Teknologi Informasi dalam
dunia bisnis.
3. Seorang wirausaha harus dapat menunjukkan nilai lebih dari produk yang
dimilikinya, agar konsumen tidak merasa produk yang ditawarkan terlalu mahal.
4. Seorang wirausaha perlu menumbuhkan sebuah kerjasama tim, sikap leadership,
kebersamaan dan membangun hubungan yang baik dengan karyawannya.
5. Seorang wirausaha harus mampu membangun personal approach yang baik
dengan lingkungan sekitarnya dan tidak cepat berpuas diri dengan apa yang
telah diraihnya.
6. Seorang wirausaha harus selalu meng-upgrade ilmu yang dimilikinya untuk
meningkatkan hasil usaha yang dijalankannya. Hal ini dapat ditempuhnya
dengan cara membaca buku-buku, artikel, internet, ataupun bertanya pada yang
ahlinya.
7. Seorang wirausaha harus bisa menjawab tantangan masa depan dan mampu
menjalankan konsep manajemen dan teknologi informasi. Hal ini bertujuan
untuk mempelajari segala situasi bisnis atau usaha yang cepat berkembang dan
berubah sangat cepat. Untuk itu perlunya daya kreativitas yang tinggi, analisis
yang baik, intuisi yang tajam, kemampuan networking yang mendukung, serta
strategi jitu dalam memasarkan produk atau jasa yang dimilikinya.
2.2
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan

3.1.1. Entrepreneurship adalah suatu kemampuan untuk mengelola sesuatu yang


ada dalam diri Anda untuk dimanfaatkan dan ditingkatkan agar lebih
optimal (baik). Dimana dalam hal ini kita diajarkan menjadi seorang
wirausaha yang mampu memberdayakan segala potensi yang ada pada diri
kita sendiri. Dan menjadi seorang Entrepreneurship yang mampu bersaing.
3.1.2. Ada tahap-tahap yang dilakukan oleh seorang entrepreneur dalam
menjalankan usahanya. Secara umum tahap-tahap dalam melakukan
entrepreneurship sbb, 1. Tahapan Memulai, 2. Tahap Melaksanakan Usaha,
3. Tahap Mempertahankan Usaha, 4. Tahap Mengembangkan Usaha.

DAFTAR PUSTAKA

http://yunushadi.blogspot.co.id/2011/10/pengertian-manfaat-fungsi-dan-prinsip.html

http://jokodalank.blogspot.co.id/2015/06/makalah-kewirausahaan-entrepreneurship.html