Anda di halaman 1dari 3

Dompet Penyelamat

Disebuah perantauan ibukota terdapat kampung yang semua warganya tinggal dengan kondisi
rumah yang memprihatinkan, terbuat dari barang bekas, kardus, dan sebagainya. Rata-rata
penduduk di kampung itu bermata pencaharian sebagai pemulung. Anak-anak disana tidak
sekolah, mereka ikut mencari nafkah dengan cara mengamen di perempatan lampu merah untuk
menambah penghasilan keluarganya. Oleh karena itu para mahasiswa di daerah Jakarta berinisiatif
untuk mendirikan sekolah darurat untuk anak-anak agar mereka bisa bersekolah.
Pagi yang cerah, mentari memancarkan sinarnya dengan malu-malu. Jojo, Jodi, dan Jono berniat
untuk mengikuti sekolah darurat sebelum mencari uang. Pengajarnya adalah para mahasiswa yang
sukarela meluangkan waktunya demi anak-anak yang malang nasibnya. Saat itu kejatah bagiannya
Dewi dan Faris yang mengajar, mereka mengajarkan tentang pengenalan huruf dan kejujuran.
Dewi menulis huruf di papan tulis, Setelah itu anak-anak disuruh membacanya. Dewi menunjuk
huruf yang akan mau dibaca “A, B, C” suara anak-anak jalanan terdengar lantang. Saat Dewi
menunjukkan huruf D semua anak terdiam seolah-olah tidak ada yang mengetahui huruf itu.
“Adik-adik tidak tahu huruf ini?” Tanya Dewi. “Iya kak, soalnya huruf yang di botol kecap cuma
sampai ABC kak.” Jawab salah satu anak. Dewi pun hanya tersenyum setelah mendengar salah
satu ucapan anak kecil tadi. “Siapa yang tahu huruf ini angkat tangan?” Tanya Dewi sambil
menunjuk huruf D. Beberapa saat kemudian, salah satu anak mengangkat tangannya, Dewi pun
senang karena ada yang tahu huruf yang ditunjuknya. “Kak, izin keluar mau berak saya sudah
nggak kuat saya” kata anak kecil yang angkat tangan tadi. Dewi memperbolehkannya. Tiba – tiba
ada yang angkat tangan dan menjawab “itu huruf D kak” jawab Jojo. “Pintaarr” puji Dewi. “Siapa
namanya dek?” Tanya Dewi. “Jojo kak” jawabnya. Setelah itu Dewi mengajarkan pengenalan
huruf sampai selesai.
Setelah itu, sesi kedua diisi oleh Faris, Ia mengajarkan tentang kejujuran “Anak-anak kali ini kakak
akan mengajarkan kalian pada kejujuran, tolong di dengerin yah.” Ucap Faris. “Iyaaaa kaaakk”
jawab anak-anak serentak. “Jadi gini anak-anak, kejujuran merupakan salah satu perbuatan yang
terpuji, jika kita berbuat jujur kita akan mendapatkan pahala yang banyak serta mendapatkan
kemudahan di dunia maupun di akhirat. Contohnya jika kita menemukan dompet seseorang
sebaiknya kita mengembalikannya ke yang punya, jangan di ambil. Karena itu bukan hak kita.
Setelah kita mengembalikannya mungkin kita nanti akan dimudahkan dalam segala urusan.”
Ceramah Faris. Setelah beberapa lama mengajar, anak-anak dibubarkan, karena mereka akan
mencari uang untk menambah penghasilan keluarganya.
Jojo, Jodi dan Jono mereka pergi bersama ke lampu merah untuk mencari uang dengan cara
mengamen. Di tengah perjalanan mereka bertiga melihat bahwa dompet Ibu yang punya warung
jatuh. Mereka bertiga berebut mengambil dompet itu. Ternyata Jodi yang paling cepat mengambil
dompetnya “Ini punyaku” kata Jodi. “Bukaann, itu milik kita bertiga, kita melihatnya kan bersama-
sama.” Ucap Jono. “Eitts, enak aja kan aku yang paling cepat mengambilnya, siapa cepat dia yang
dapat.” Ucap Jodi. “Tapi kan kita jalannya bareng bertiga.” Ucap Jono. “Bukaan, dompet itu bukan
milik kita. Dompet itu milik Ibu yang punya warung itu. Itu bukan hak kita.” Sahut Jojo. “Diam
kamu, nanti kalau dikembalikan kita tidak dapat uang.” Kata Jodi dan Jono. “Ya udah kita bagi
bertiga aja, Jo kamu yang mbagi uangnya biar rata, kamu kan yang paling pintar diantara kami.”
Jodi menyerahkan dompetnya ke Jojo. Tiba-tiba Jojo berlari menuju warung Ibu tadi. Jodi dan
Jono pun menepukkan tangan ke jidatnya, sambil membegokan Jojo.
Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke lampu merah. Saat mobil-mobil berhenti mereka
memainkan gitarnya sambil menyanyikan sebuah lagu yang mereka bisa. Beberapa lama kemudian
satpol pp datang untuk menangkap anak jalanan. Jodi, Jojo, dan Jono berlari meninggalkan lampu
merah agar tidak ditangkap. Mereka berlari menuju arah pulang, tetapi Satpol PP itu tetap
mengejarnya. Mereka bertiga bersembunyi di warung Ibu yang dompetnya jatuh tadi. “Bu tahu
tiga anak kecil tadi bu?” Tanya salah satu satpol pp. “oh... kesana pak.” Jawabnya sambil menunjuk
arah yang salah. Satpol pp itu pun berlari menuju ke arah yang ditunjuk ibu tadi. Setelah Satpol pp
menghilang jejak, Jodi, Jojo, dan Jono memutuskan untuk pulang sembari mengucapkan terima
kasih kepada Ibu yang punya warung tadi.
Di perjalanan pulang mereka merasa bersyukur karena telah diselamatkan oleh Ibu yang
dompetnya jatuh tadi, “untung kita tadi mengembalikan dompetnya yah, jadi kita dibolehin
bersembunyi di warung ibu tadi.” Ucap Jodi. “Iya yah untuk kita kembalikan.” Sahut Jono. Jojo
pun hanya tersenyum bahwa yang ia lakukan tadi benar.
Namaku Riki Purwanto, aku kerap disapa Riki. Anak kedua dari tiga bersaudara yang dilahirkan
19 tahun lalu, tepatnya 09 Januari 1999 di Kebumen, Jawa tengah. Di Kabupaten Kebumen ini,
aku tinggal di RT 02 RW 01 Desa Ayah Kecamatan Ayah Kode Pos 54473. Serta alamat kos Kos
Aksioma, Jalan Surya 3, RT 02/RW 25, Jebres Tengah, Jebres, Surakarta (Solo), Jawa Tengah.
Kode Pos 57126. Tapi, jika ingin menghubunginya bisa lewat akun facebook dengan nama akun
Riki Purwanto, bisa juga stalking foto di akun instagram @rikwanto_ atau email :
rikipurwanto222@gmail.com atau dengan nomor telepon 089691870443. Bimbingan dan Kritik
sangat aku perlukan dalam meningkatkan kepuasan pembaca dalam karyaku selanjutnya.