Anda di halaman 1dari 18

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

( RPP )

A. Identitas
SatuanPendidikan : SMK Negeri 2 Jember
Kelas / Semester : X / Genap
Mata Pelajaran : Fisika
MateriPokok : Teori Kinetik Gas dan Termodinaka
Alokasi Waktu : 3 x 40menit

B. Kompetensi Inti
KI 1 :Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI 2 :Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab,, peduli, santun, ramah
lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsive, dan proaktif) dan
menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa
dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan social dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
KI 3 :Memahami dan menerapkan pengetahuan factual , konseptual dan procedural dalam
ilmu pengetahuan, teknologi seni budaya, dan humaniora dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradapan terkait fenomena dan
kejadian serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajian yang
spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KI 4 :Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya disekolah secara mandiri dan
mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan

C. Kompetensi Dasar dan Indikator


3.12 Menerapkan hukum-hukum termodinamika
Indicator:
3.12.1 Mengidentifikasi sifat-sifat gas ideal
3.12.2 Merumuskan persamaan matematis hukum Boyle, Gay Lussac dan boyle-
gay lussac tentang gas ideal
3.12.3 Menentukan usaha gas ideal dalam berbagai proses termodinamika
3.12.4 Menjelaskan bunyi dan persamaan hukum I termodinamika
4.15 Menunjukan cara kerja alat sederhana yang berhubungan dengan termodinamika

D. Tujuan Pembelajaran
1. Setelah ceramah, siswa dapat mengidentifikasi sifat-sifat gar ideal dengan benar
2. Setelah diskusi dan Tanya jawab, siswa dapat merumuskan persamaan matematis
hukum Boyle, Gay Lussac dan boyle gay lussac tentang gas ideal dengan benar
3. Setelah diskusi dan Tanya jawab, siswa dapat menentukan usaha gas ideal dalam
berbagai proses termodinamika dengan benar
4. Setelah diskusi dan Tanya jawab, siswa dapat menjelaskan bunyi dan persamaan
hukum I termodinamika dengan benar

E. Materi Pembelajaran
Gas ideal

Gas ideal adalah gas yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:


1. Gas ideal terdiri atas partikel-partikel yang tersebar merata dalam ruang dengan
jumlah sangat banyak.
2. Partikel gas ideal bergerak secara acak.
3. Gerak partikel gas mengikuti hukum Newton tentang gerak.
4. Ukuran partikel gas ideal jauh lebih kecil (dapat diabaikan) daripada jarak antara
partikel-partikelnya.
5. Tidak ada gaya luar yang bekerja pada partikel gas, kecuali bila terjadi tumbukan.
6. Bila ada tumbukan antar partikel atau partikel dengan dinding, sifatnya lenting
sempurna.
Persamaan Gas Ideal
Bentuk umum persamaan gas ideal :
𝑃 .𝑉 = 𝑛 .𝑅 .𝑇 atau 𝑃 .𝑉 = 𝑁 .𝐾 .𝑇

Keterangan:
N : jumlah mol mole (mol)
R : konstanta umum gas (8,31 J/mol K)
K : konstanta Boltzman ( 1,38 x 10-23 J/K)
P : tekanan gas ( Pa atau N/m2 )
V : volume gas ( m3 )
T : temperatur gas ( K )

Konsep mol

Dan besarnya jumlah mol dapat dihitung dengan persamaan :

𝑚 atau 𝑁
𝑛= 𝑛=
𝑚𝑟 𝑁𝐴

Keteranan:
m : massa gas ( gr )
mr : massa relatif partikel gas ( gr/mol )
N : jumlah partikel gas
NA : bilangan Avogadro ( 6,02 x 1023 partikel/mol )

Hukum Boyle

Pernyataan tersebut bila ditulis dalam bentuk rumus :

P . V = konstan

Bila tekanan diubah maka volum gas juga berubah maka rumus di atas dapat ditulis
sebagai berikut.

P1 . V1 = P2 . V2

Keterangan:

P1 = tekanan gas mula-mula (atm, cm Hg, N/m2, Pa)


P2 = tekanan gas akhir (atm, cm Hg, N/m2, Pa)
V1 = volume gas mula-mula (m3 )
V2 = volume gas akhir (m3 )
Grafik hubungan volume dan tekanan gas pada suhu konstan (isotermal).

Jika dibuat grafik, maka akan menghasilkan sebuah kurva yang disebut kurva isotermal.
Perhatikan gambar diatas. Kurva isotermal merupakan kurva yang bersuhu sama.

Hukum Gay lussac

Hukum Gay Lussac dikemukakan oleh kimiawan Perancis bernama Joseph Gay Iussac.
Gay Lussac menyatakan bahwa jika volume gas yang berada dalam bejana tertutup
dipertahankan konstan, maka tekanan gas sebanding dengan suhu mutlaknya. Untuk gas
yang berada dalam dua keadaan seimbang yang berbeda pada volume konstan, diperoleh
persamaan sebagai berikut.

Keterangan:

T1 : suhu mutlak gas pada keadaan 1 (K)


T2 : suhu mutlak gas pada keadaan 2 (K)
p1 : tekanan gas pada keadaan 1 (N/m2)
p2 : tekanan gas pada keadaan 2 (N/m2)

Grafik hubungan tekanan dan suhu gas pada volume konstan (isokhorik)
Apabila hubungan antara tekanan dan suhu gas pada hukum Gay Lussac dilukiskan dalam
grafik, maka hasilnya tampak seperti pada gambar diatas. Kurva yang terjadi disebut
kurva isokhorik yang artinya volume sama.

Hukum Boyle-Gay Lussac

Apabila hukum Boyle, hukum Charles, dan hukum Gay Lussac digabungkan, maka
diperoleh persamaan sebagai berikut.

Persamaan di atas disebut hukum Boyle-Gay Lussac. Kita telah mempelajari hukum-
hukum tentang gas, yaitu hukum Boyle, Charles, dan Gay Lussac. Namun, dalam setiap
penyelesaian soal biasanya menggunakan hukum Boyle-Gay Lussac. Hal ini disebabkan
hukum ini merupakan gabungan setiap kondisi yang berlaku pada hukum-hukum gas
ideal.

Usaha gas ideal

Usaha dihasilkan oleh perubahan volume sistem akibat proses pemanasan.

𝑊 = 𝑃 . ∆𝑉 ∆𝑉 = 𝑉2 − 𝑉1 Jadi 𝑊 = 𝑃 . ( 𝑉2 − 𝑉1 )

P : tekanan (Pa atau N/m2)


ΔV : perubahan volume (m3)
V1 : volume awal (m3)
V2 : volume akhir (m3)
Usaha dalam berbagai proses
1. Isobarik
Proses isobarik yaitu proses yang terjadi pada tekanan tetap (ΔP = 0)
Besarnya usaha : 𝑊 = 𝑃(𝑉2 − 𝑉1 )

Keterangan:
W : usaha pada proses isobarik (joule)
P : tekanan (Pa atau N/m2)

2. Isokhorik

Proses isokhorik yaitu proses yang terjadi pada volume tetap (ΔV = 0)
Besarnya usaha: W = 0 (tidak ada)
3. Isotermis
Proses isotermis yaitu proses yang terjadi pada suhu tetap (ΔT = 0). Berlaku :
Besarnya usaha :

𝑉2
𝑊 = 𝑛 . 𝑅 . 𝑇 . ln ( )
𝑉1

n : jumlah mol (mol)


R : konstanta umum gas ( 8,314 J/mol K )
T : suhu (K)
Adiabatis
Proses adiabatis yaitu proses yang terjadi pada kalor tetap (ΔQ = 0).
Besarnya usaha :

3
𝑊= . 𝑛 . 𝑅 (𝑇2 − 𝑇1 )
2

T1 : suhu awal (K)


T2 : suhu akhir (K)
γ : konstanta laplace
Besarnya energi dalam: ΔU = W
Termodinamika I
Hukum I termodinamika adalah bentuk lain dari hukum kekekalan energi yang
diaplikasikan pada perubahan energi dalam yang dialami oleh suatu sistem. Sistem
didefinisikan sebagai sejumlah zat dalam suatu wadah. Segala sesuatu di luar sistem
disebut lingkungan. Sistem dipisahkan dari lingkungan oleh suatu atas sistem.

Hukum I termodinamika berbunyi “Besar perubahan kalor dalam sistem adalah sama
dengan jumlah perubahan energi dalam sistem dan usaha yang dilakukan”.
Secara matematis, bunyi dari hukum I termodinamika tersebut dapat ditulis dalam bentuk
persamaan
∆𝑄 = ∆𝑈 + 𝑊
Dengan :
∆𝑄 : perubahan kalor dalam sistem
Sistem melepaskan kalor : negatif (-)
Sistem menerima kalor : positif (+)
∆𝑈 : perubahan energi dalam sistem (energi dalam)
Energi dalam sistem berkurang : negatif (-) (jika suhu turun)
Energi dalam sistem bertambah : positif (+) (jika suhu bertambah)
W : usaha sistem
Sistem menerima usaha : negatif (-) (biasanya dalam proses kompresi)
Sistem melakukan usaha : positif (+)
Di dalam termodinamika, dikenal empat jenis proses berdasarkan perubahan yang dialami
sistem, diantaranya adalah
a) Proses Adiabatik
Proses adiabatik adalah suatu proses termodinamika di mana tidak terjadi perpindahan
kalor pada saat berlangsung, baik dari lingkungan ke sistem maupun sebaliknya. Jadi,
selama proses berlangsung kalor dalam sistem termodinamika selalu konstan, sehingga
perubahan kalor ∆𝑄 = 0.
Jika kita terapkan pada hukum I termodinamika, akan diperoleh
∆𝑈 = −𝑊
Ini berarti terjadinya perubahan energi dalam sistem adalah akibat usaha luar yang
diterima oleh sistem. Dalam proses adiabatik ini berlaku hubungan berikut.
𝑇1 𝑉1 𝛾−1 = 𝑇2 𝑉2 𝛾−1
Dari persamaan 𝑃𝑉 = 𝑛𝑅𝑇, kita dapatkan
𝑃𝑉
𝑇=
𝑛𝑅
𝑃𝑉
Substitusikan persamaan 𝑇 = 𝑛𝑅 ke persamaan 𝑇1 𝑉1 𝛾−1 = 𝑇2 𝑉2 𝛾−1 , kita peroleh

𝑃1 𝑉1 𝛾 = 𝑃2 𝑉2 𝛾
Dengan :
𝑃1 : tekanan dalam sistem sebelum proses berlangsung
𝑃2 : tekanan dalam sistem setelah proses berlangsung
𝑉1: volume dalam sistem sebelum proses berlangsung
𝑉2: volume dalam sistem setelah proses berlangsung
𝑇1 : temperatur dalam sistem sebelum proses berlangsung
𝑇2 : temperatur dalam sistem setelah proses berlangsung

b) Proses Isotermal
Proses isotermal adalah suatu proses termodinamika yang pada saat prosesnya
berlangsung, temperatur dalam sistem konstan. Jadi temperatur akhir dari sistem
(setelah proses berlangsung) sama dengan temperatur awal sistem (setelah proses
berlangsung). Perubahan energi dalam gas dalam proses isotermal adalah sama dengan
nol (∆𝑈 = 0). Jika kita substitusikan pada persamaan hukum I termodinamika, maka
diperoleh:
∆𝑄 = 𝑊
Ini berarti kalor luar yang diterima sistem semuanya diubah menjadi usaha sistem atau
sebaliknya usaha luar yang diterima hanya untuk melepaskan kalor dalam sistem.
Laju perubahan tekanan sangat lambat jika dibandingkan dengan laju perubahan
volume dalam sistem. Jika kita tinjau berdasarkan persamaan gas ideal 𝑃𝑉 = 𝑛𝑅𝑇,
dengan temperatur T konstan, maka dapat diperoleh hubungan :
𝑃𝑉 = 𝑛𝑅𝑇 = 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛
Atau kita tuliskan
𝑃1 𝑉1 = 𝑃2 𝑉2
Jadi hasil kali tekanan terhadap volume dalam sistem adalah konstan. Jika volume
sistem bertambah maka tekanan dalam sistem akan berkurang, sebaliknya jika volume
sistem berkurang maka tekanan akan bertambah.

c) Proses Isobarik
Proses isobarik merupakan suatu proses yang terjadi pada tekanan konstan. Jadi,
tekanan dalam sistem sebelum dan sesudah proses berlangsung adalah sama. Jika
sebagai sistem adalah gas ideal dengan persamaan 𝑃𝑉 = 𝑛𝑅𝑇, maka perbandingan
antara volume sistem terhadap temperatur sistem akan menjadi konstan. Sehingga
diperoleh hubungan :
𝑉 𝑛𝑅
= = 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛
𝑇 𝑃
𝑉1 𝑉2
=
𝑇1 𝑇2
Dengan 𝑇1 dan 𝑇2 adalah temperatur dalam sistem sebelum dan sesudah proses
berlangsung.
Jadi, agar tekanan dalam sistem dapat konstan maka temperatur sistem harus
ditingkatkan seiring bertambahnya volume sistem.

d) Proses Isokhorik
Proses isokhorik merupakan suatu proses termodinamika yang terjadi pada volume
konstan. Jadi volume sistem sebelum dan sesudah proses berlangsung adalah sama.
Proses yang terjadi pada volume konstan disebut siklus Otto. Sistem menerima dan
melepaskan kalor pada saat volume konstan. Karena volume sistem konstan, pada saat
menerima kalor luar, tekanan dalam sistem meningkat tajam hingga mencapai tekanan
maksimum dan setelah sistem melepaskan kalor, tekanan dalam sistem turun hingga
mencapai tekanan yang minimum.
Jika sebagai sistem adalah gas ideal dengan persamaan 𝑃𝑉 = 𝑛𝑅𝑇, dengan volume
sistem V adalah konstan, maka dapat diperoleh hubungan bahwa perbandingan tekanan
terhadap temperatur dalam sistem adalah konstan.
𝑃 𝑛𝑅
= = 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛
𝑇 𝑉
𝑃1 𝑃2
=
𝑇1 𝑇2
Jadi, pertambahan suhu sistem berbanding lurus terhadap peningkatan tekanan dalam
sistem.
F. Pendekatan dan Metode Pembelajaran
Pendekatan : Direct Instruction
Metode : ceramah, demonstrasi, diskusi, presentasi dan tanya jawab
G. Media dan SumberBelajar
Alat
1. Papantulis
2. Spidol
SumberPembelajaran
1. Buku paket fisika kelas X
2. Buku yang relevan

G. KegiatanPembelajaran
Pertemuan 1 (3 x 40 menit)
Kegiatan Deskripsi kegiatan Alokasi
waktu
Pendahuluan a. Dengan karakter religius guru memberi salam kepada peserta 10 menit
didik dan mengajak untuk berdo’a bersama sebelum memulai
pelajaran.
b. Guru melakukan presensi, memeriksa kesiapan peserta
didik dan memeriksa kebersihan serta kelengkapan kelas
c. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan di
pelajari.
d. Guru membuka dan mengawali pelajaran dengan
memberikan apersepsi kepada siswa “Pada pagi hari
sebuah ban sepeda motor dipompa hingga tekanan udara
di dalam ban mencapai maksimum. Apa yang terjadi
pada ban tersebut saat berada di siang hari yang terik?”
Kegiatan inti Mengamati 95
a. Siswa menyimak guru menjelaskan materi menit
pembelajaran

Menanya
a. Guru memberikan pertanyaan secara lisan mengenai
materi yang di pelajari
b. Siswa menjawab pertanyaan guru dan bertanya hal
yang belum jelas

Mengeksplorasi
a. Guru memberikan permasalahan sederhana terkait
materi yang akan dipelajari. Siswa diskusi untuk
menyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh
guru
Mengasosiasi
a. Siswa melakukan diskusi mengenai permasalahan
yang di ajukan guru
b. Guru membimbing siswa dalam melakukan kegiatan
diskusi

Mengkomunikasikan
a. Guru meminta siswa untuk menyampaikan hasil
diskusi.
b. Guru melakukan penilaian di lembar penilaian
presentasi siswa bagi siswa yang menjawab
permasalahan yang diberikan oleh guru
c. Guru memberikan koreksi dan penguatan terhadap
materi yang di diskusikan

Penutup a. Guru bersama dengan siswa menyimpulkan materi 15 menit


yang telah dipelajari bersama
b. Guru memberikan tugas mempelajari materi untuk
pertemuan berikutnya

F. Penilaian
Lembar penilaian otentik

Mata Pelajaran Fisika


Kelas/Semester X / Genap
Materi Teori Kinetik Gas dan Termodinaka

JumlahPertemuan/Waktu 1 x Pertemuan / 3 x 40menit

Jenis Penilaian Yang Digunakan


No Jenis Penilaian Rasional
Dilakukan dengan jalan menilai keaktifan siswa yaitu
1 Sikap (keaktifan dalam
mengajukan pertanyaan dan berpendapat
. pembelajaran)
menggunakan instrument dan rubric penilaian sikap
Pengetahuan Dilakukan dengan jalan menilai hasil tugas individu
2
(Penugasan) siswa menggunakan instrument dan rubric penilaian

Mahasiswa

Ayu Dini Safitri


NIM. 140210102105
Menyetujui,
Dosen Pembimbing Lapangan Guru Mata Pelajaran

Dr. Sudarti, M. Kes Rohatin, S. Pd


NIP. 19620123 198802 2 001 NIGTT. 991001069

Mengetahui,
Kepala SMKN 2 Jember

Im Sa’roni, S. Pd., MMPd.


NIP. 19600815 199402 1 002
Lembar Penilaian Afektif (Sikap)
Lembar Penilaian
Keaktifan
Nama Mengajukan
No Bekerjasama Bertanya skor nilai
siswa pendapat
1 2 3 1 2 3 1 2 3

Rubric Penilaian keaktifan bekerjasama


1 = Siswa sama sekali tidak bekerjasama dalam kelompok
2 = Siswa kurang bekerjasama dalam kelompok
3 = Siswa bekerjasama dalam kelompok

Rubric Penilaian keaktifan bertanya


1 = Siswa sama sekali tidak bertanya dalam pembelajaran
2 = Siswa bertanya kurang dari sama dengan 2 kali dalam pembelajaran
3 = Siswa bertanya lebih dari sama dengan 3 kali dalam pembelajaran

Rubric Penilaian keaktifan Mengajukan Pendapat


1 = Siswa sama sekali tidak mengajukan pendapat dalam pembelajaran
2 = Siswa mengajukan pendapat kurang dari sama dengan 2 kali dalam pembelajaran
3 = Siswa mengajukan pendapat lebih dari sama dengan 3 kali dalam pembelajaran

𝑛
Nilai = 9 𝑥100
Keterangan :
n = skor yang diperoleh siswa
6 = skor maksimal yang diperoleh siswa
100 = nilai maksimal yang diperoleh siswa

Criteria aktivitas belajar siswa


nilai Criteria
76-100 Sangat aktif

51-75 Aktif
26-50 Cukup aktif

0-25 Kurang aktif


Lembar Penilaian Pengetahuan (Penugasan)
Soal!

1. Sebutkan pengertian dan ciri-ciri gas ideal!


2. Sebutkan bunyi hukum Termodinamika I!
3. Dua liter gas pada suhu 270C dan tekanan 1 atm dimampatkan hingga volumenya menjadi
1 liter dan dipanaskan hingga suhunya menjadi 1270C. Tentukan tekanan akhir gas !

Kunci jawaban:
1. Gas yang diperhitungkan dalam perhitungan teori kinetik gas adalah gas ideal, yaitu
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Gas ideal terdiri atas partikel-partikel yang tersebar merata dalam ruang dengan
jumlah sangat banyak.
b. Partikel gas ideal bergerak secara acak.
c. Gerak partikel gas mengikuti hukum Newton tentang gerak.
d. Ukuran partikel gas ideal jauh lebih kecil (dapat diabaikan) daripada jarak antara
partikel-partikelnya.
e. Tidak ada gaya luar yang bekerja pada partikel gas, kecuali bila terjadi tumbukan.
f. Bila ada tumbukan antar partikel atau partikel dengan dinding, sifatnya lenting
sempurna.

2. Hukum bunyi termodinamika I :”Besar energy kalor yang diberikan pada suatu system
tidak seluruhnya diubah menjadi usaha tapi sebagian berubah dalam bentuk perubahan
energy dalam. Dalam proses tersebut jumlah energy tetap”
a. Diketahui:
keadaan 1 V1 = 2 L Keadaan 2 : V2 = 1 L
P1 = 1 atm
T1 = (27 + 273)K = 300 K T2 =(127+273) K
Ditanya P2 = ?
Jawab :
𝑃1 𝑉1 𝑃2 𝑉2
=
𝑇1 𝑇2

𝑃1 𝑉1 𝑇2 1𝑎𝑡𝑚 2𝐿 400𝐾
𝑃2 = = = 2, 67 𝑎𝑡𝑚
𝑉2 𝑇1 1 𝐿 300𝐾
Jadi besarnya tekanan akhir gas adalah 2,67 atm

Pedoman penskoran
Nomer benar Salah
1 30 0
2 30 0
3 40 0