Anda di halaman 1dari 9

1.

Gambaran Epidemiologi Penyakit DBD


a. Distribusi Penyakit DBD Menurut Waktu
Pola berjangkitnya infeksi virus dengue dipengaruhi oleh iklim dan kelembaban udara.
Pada suhu yang panas (28-32 ) derajad celcius , dengan kelembaban yang tinggi, nyamuk
Aedes aegypti akan tetap bertahan hidup untuk jangka waktu lama.Di Indonesia karena
suhu udara dan kelembaban tidak sama di setiap tempat maka pola terjadinya penyakit
agak berbeda untuk setiap tempat.
b. Distribusi Penyakit DBD Menurut Tempat
Penyakit DBD dapat menyebar pada semua tempat kecuali tempat-tempat dengan
ketinggian 1000 meter dari permukaan laut karena pada tempat yang tinggi dengan suhu
yang rendah perkembangbiakan Aedes aegypti tidak sempurna. Dalam kurun waktu 30
tahun angka kejadian sakit infeksi virus dengue meningkat dari 0,05 per 100.000
penduduk menjadi 35,19 per 100.000 penduduk tahun 1998. Sampai saat ini DBD telah
ditemukan diseluruh propinsi di Indonesia.
Meningkatnya kasus serta bertambahnya wilayah yang terjangkit disebabkan karena
semakin baiknya sarana transportasi penduduk, adanya pemukiman baru, dan terdapatnya
vektor nyamuk hampir di seluruh pelosok tanah air serta adanya empat tipe virus yang
menyebar sepanjang tahun.
c. Distribusi Penyakit DBD Menurut Orang
DBD dapat diderita oleh semua golongan umur, walaupun saat ini DBD lebih banyak
pada anak-anak, tetapi dalam dekade terakhir ini DBD terlihat kecenderungan kenaikan
proporsi pada kelompok dewasa, karena pada kelompok umur ini mempunyai mobilitas
yang tinggi dan sejalan dengan perkembangan transportasi yang lancar, sehingga
memungkinkan untuk tertularnya virus dengue lebih besar, dan juga karena adanya infeksi
virus dengue jenis baru yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4 yang sebelumya belum
pernah ada pada suatu daerah.
Pada awal terjadinya wabah di suatu negara, distribusi umur memperlihatkan jumlah
penderita terbanyak dari golongan anak berumur kurang dari 15 tahun (86-95%). Namun
pada wabah-wabah selanjutnya jumlah penderita yang digolongkan dalam usia dewasa
muda meningkat. Di Indonesia penderita DBD terbanyak pada golongan anak berumur 5-
11 tahun.
2. Distribusi dan Frekuensi Penyakit DBD di NTT
a. Distribusi dan Frekuensi Penyakit DBD di NTT Tahun 2013

Dari gambar di atas terlihat bahwa angka kesakitan DBD tahun 2009-2013,
mengalamifluktuasi, dimana pada tahun 2009 sebesar 41 Kasus per 100.000 penduduk,
meningkat padatahun 2012 menjadi 255 per 100.000 penduduk, dan kemudian menurun
pada tahun 2013menjadi 73 per 100.000 penduduk. Upaya pencegahan DBD melalui
kegiatan PemberantasanSarang Nyamuk (PSN)-DBD) melalui kegiatan 3M-PLUS yang
melibatkan Peran SertaMasyarakat dan lintas sektor sampai saat ini belum memberikan
hasil yang optimal.
b. Distribusi dan Frekuensi Penyakit DBD di NTT Tahun 2014

Dari Gambar di atas dapat kita lihat bahwa penderita kasus DBD ini hanya ada pada
beberapa Kabupaten saja seperti Kota Kupang, Kabupaten Kupang, TTS, TTU, Belu,
Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dengan kasus yang
paling banyak diKabupaten Manggarai barat, Kota Kupang dan Sikka. Pada tahun 2013
ditemukan kasus DBD sebanyak 2.986 kasus atau sebesar 0,6 per1000 penduduk,
sedangkan pada tahun 2014 jumlah penderita DBD sebesar 487 kasus berarti terjadi
penurunan.
c. Distribusi dan Frekuensi Penyakit DBD di NTT Tahun 2015

Dari gambar di atas terlihat bahwa penyumbang penderita DBD tertinggi


diKabupaten/Kota se-Provinsi NTT tahun 2015 adalah Kota Kupang, Kabupaten Sikka
dan Manggarai Barat. Laporan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT pada
tahun 2015 ada sebanyak 665 kasus DBD (Inciden Rate 13,0 per 100.000 penduduk)
artinya dalam setiap 100.000 penduduk ada 13 orang yang terkena DBD pada tahun
2015. Pada tahun 2014 sebesar 487 kasus DBD (Inciden Ratei 9,7 per 100.000 penduduk.
Pada tahun 2013 sebesar 9.986 kasus dengan Incedens rate sebesar 60 per 100.000
penduduk, hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kasus pada tahun 2015.
Rincian jumlah kasus DBD pada tahun 2015.
3. Determinan Penentu kejadian DBD
Timbulnya suatu penyakit, termasuk penyakit DBD dapat diterangkan melalui konsep
segitiga epidemiologi, yaitu adanya faktor pejamu (host), penyebab (agent), dan lingkungan
(environment).
a. Pejamu (Host)
Hostmerupakan manusia yang peka terhadap infeksi virus dengue. Menurut Sari
dalam T. Azizah (2010),faktor-faktor yang terkait dalam penularan DBD pada
manusiaantara laingolongan umur,pendidikan, penghasilan,suku bangsa, kepadatan
penduduk, mobilitas penduduk, tingkat kerentanan, perilaku hidup bersih dan
sehat,sertaperkumpulan yang ada di masyarakat.
Golongan umur akan memengaruhi peluang terjadinya penularan penyakit. Lebih
banyak golongan umur <15 tahunberarti kelompok yang rentan untuksakit DBDakanlebih
besar. Sementara itu, pendidikan akan memengaruhi cara berpikir dalam penerimaan
penyuluhan dan cara pencegahanata pemberantasan yang dilakukan sedangkan
penghasilan akan memengaruhi kunjungan untuk berobat ke Puskesmas atau ke Rumah
Sakit.Tiap suku bangsa mempunyai kebiasaannya masing-masing sehingga hal ini juga
memengaruhi penularan DBD.
Bila di suatu rumah terdapat nyamuk penular maka akan berpotensi menularkan
penyakit pada orang yang tinggal di rumah tersebut, orang-orang di rumah sekitarnya,
atau orang-orang yang berkunjung ke rumah tersebut yang berada dalam jarak terbang
nyamuk.Lebih pada tpenduduk akan lebih mudah untuk terjadi penularan DBD karena
jarak terbang nyamuk diperkirakan 50 meter. Mobilitas penduduk akan memudahkan
penularan dari satu tempat ke tempat lain.
Kekuatan dalam tubuh individutidak sama dalam menghadapi suatu penyakit, ada
yang mudah kena penyakit dan ada yang tahan terhadap penyakit. Oleh karena itu,
kerentanan terhadap penyakit akan berbeda pada tiap individu.Melalui perilaku hidup
bersih dan sehat akan mengurangi risiko penularan penyakit DBD. Perkumpulan yang
ada dimasyarakat juga bisa digunakan untuk sarana Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
(PKM).
b. Penyebab (Agent)
Agent penyebab penyakit DBD adalah virus dengue nyang termasuk kelompok B-
Arthropod Borne Virus (Arboviroses) yang sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus,
famili Flaviviridae, dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu ; DEN-1, DEN-2, DEN-3,
DEN-4. Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi terhadap serotipe yang
bersangkutan sedangkan antibodi yang terbentuk terhadap serotipe lain sangat kurang
sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang memadai terhadap serotipe lain. Di
Indonesia, pengamatan virus dengue yang dilakukan di beberapa rumah sakit
menunjukkan bahwa keempat serotipe ditemukan dan bersirkulasi sepanjang tahun.
Serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan diasumsikan banyak
menunjukkan manifestasi klinik yang berat (Depkes RI, 2004)
c. Lingkungan (Environment)
Sukamto (2007) memaparkan determinan lingkungan (environment) antara lain
sebagai berikut :
 Lingkungan Fisik,yang terkait antara lain:
macam tempat penampungan air, ketinggian tempat, hari hujan, kecepatan angin,suhu
udara, tata guna tanah, pestisida yang digunakan, dan kelembaban udara.Tempat
perindukan nyamuk Aedes aegypti dibedakan berdasarkan bahan tempat penampungan
air (logam, plastik, porselin, fiberglass, semen, tembikar, dan lain lain), warna tempat
penampungan air (putih, hijau, coklat, dan lain-lain), letak tempat penampungan air (di
dalam rumah atau di luar rumah), penutup tempat penampungan air (ada atau tidak
ada), pencahayaan pada tempat penampungan air (terang atau gelap),dan sebagainya.
Di tempat dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut tidak
ditemukan nyamuk Aedes aegypti. Curah hujan menambah genangan air sebagai
tempat perindukan, menambah kelembaban udara terutama untuk daerah
pantai.Banyaknya hari hujan akan memengaruhi kelembaban udara. Kecepatan angin
juga memengaruhisuhu udara dan pelaksanaan pemberantasan vektor dengan cara
fogging. Suhu udara memengaruhi perkembangan virus di tubuh nyamuk. Tata guna
tanah menentukan jarak dari rumah ke rumah. Pestisida yang digunakan memengaruhi
kerentanan nyamuk. Kelembaban udara memengaruhi umur nyamuk.
 Lingkungan Biologi
Pada lingkungan biologi, yang memengaruhi penularan penyakit DBD terutama adalah
banyaknya tanaman hias dan tanaman pekarangan. Bila banyak tanaman hias dan
tanaman pekarangan, berarti akan menambah tempat yang disenangi nyamuk untuk
beristirahat. Pada tempat-tempat yang demikian, akan memperpanjang umur nyamuk
dan penularan mungkin terjadi sepanjang tahun di tempat tersebut.
4. Gambaran Epidemiologi DBD
a. Time (waktu)
Epidemi Demam Berdarah Dengue (DBD) di negara-negara yang mempunyai 4
musim terutama berlangsung pada musim panas walaupun ditemukan kasus DBD yang
sporadis pada musim dingin.Di negara-negara yang terletak di kawasan Asia Tenggara,
epidemi DBD terutama terjadi pada musim hujan.Epidemi DBD yang berlangsung pada
musim hujan ini berkaitan erat dengan kelembaban yang tinggi pada musim
hujan.Kelembaban yang tinggi tersebut merupakan lingkungan yang optimal bagi masa
inkubasi (dapat mempersingkat masa inkubasi) dan juga dapat meningkatkan aktivitas
vektor dalam menularkan virus dengue (Djunaedi, 2006).
b. Place (tempat)
Demam Berdarah Dengue (DBD) tersebar luas di berbagai negara terutama di negara
tropis dan subtropis yang terletak antara 30º Lintang Utara dan 40º Lintang Selatan
seperti Asia Tenggara, Pasifik Barat, dan Caribbean. Berdasarkan hasil studi
epidemiologi, sejauh ini outbreak DBD umumnya terjadi pada daerah yang kondisinya
optimal untuk transmisi virus dengue, yaitu daerah tropis dan subtropis dengan iklim dan
temperatur yang optimal bagi habitat nyamuk Aedes aegypty.Di daerah tersebut juga
ditemukan endemik berbagai tipe virus dengue dalam waktu yang bersamaan (Djunaedi,
2006).
c. Person (orang)
Demam Berdarah Dengue (DBD) dapat menyerang semua umur, termasuk neonatus.
DBD banyak dijumpai pada anak usia 2-15 tahun, dan sebagian besar tinggal di
lingkungan yang lembab serta daerah pinggiran yang kumuh (www.depkes.go.id). Anak
yang berumur lebih dewasa umumnya terhindar dari DBD walaupun ada laporan kasus
DBD pada bayi berusia 2 bulan dan pada orang dewasa.Hal ini berkaitan dengan aktivitas
kelompok umur yang relatif terhindar dari DBD mengingat peluang terinfeksi virus
dengue adalah melalui gigitan nyamuk. Selama ini juga belum ditemukan adanya
perbedaan kerentanan terhadap DBD antara perempuan dan laki-laki (Djunaedi, 2006).
Tidak semua orang yang digigit nyamuk yang membawa virus dengue akan terserang
Demam Berdarah Dengue (DBD). Hal ini tergantung dari kekebalan tubuh yang dimiliki
oleh orang tersebut. Orang dengan kekebalan tubuh yang baik terhadap virus dengue
tidak akan terserang DBD walaupun dalam darahnya terdapat virus tersebut. Sedangkan
orang yang kekebalan tubuhnya lemah terhadap virus dengue akan terserang DBD
(Rezeki dan Irawan, 2000).
5. Analisis Situasi
Kesehatan merupakan salah satu syarat yang harus terpenuhi agar seseorang dapat
melakukan aktifitasnya dengan lancar. Oleh karena itu kesehatan menjadi salah satu fokus
utama pembangunan di bidang sosial dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah secara
berkesinambungan menyediakan sarana dan prasarana kesehatan dan menggalakkan banyak
program agar status kesehatan masyarakat dapat meningkat. Sasaran utama dalam
pembangunan di bidang kesehatan adalah agar semua lapisan masyarakat dapat memperoleh
pelayanan kesehatan secara mudah, merata dan murah. Upaya perbaikan kesehatan
masyarakat secara strategis juga dilakukan melalui peningkatan partisipasi masyarakat
terutama golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Tanpa partisipasi aktif
masyarakat maka program pemerintah tidak akan mencapai hasil yang memuaskan.
Dengan berbagai upaya tersebut diharapkan akan tercapai derajat kesehatan masyarakat
yang baik, yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan penduduk secara
umum. Oleh karena itu seluruh pembangunan yang sedang digiatkan pemerintah
diharapkan dapat berakselerasi positif terhadap perbaikan derajat kesehatan masyarakat.
Nusa Tenggara Timur lebih menekankan Upaya pemberantasan penyakit menular,
angka Mortalitas dan Morbiditas dengn cara pelaksanaan surveilens epidemiologi dengan
upaya penemuan penderita secara dini yang ditindak lanjuti dengan penanganan secara
cepat melalui pengobatan penderita. Disamping itu pelayanan lain yang diberikan
adalah upaya pencegahan dengan pemberian imunisasi, upaya pengurangan faktor risiko
melalui kegiatan untuk peningkatan kualitas lingkungan serta peningkatan peran serta
masyarakat dalam upaya pemberantasan penyakit menular yang dilaksanakan melalui
berbagai kegiatan. Penyakit yang ditangani disini satu satunya adalah DBD.
Demam Berdarah Dengue adalah penyakit berpotensi KLB/wabah disebabkan oleh
virus Dengue dan ditularkan oleh vektor nyamuk Aedes aegypty. Penyakit ini
menyerang sebagian besar anak usia < 15 tahun, namun dapat juga menyerang orang
dewasa.
6. Prioritas Masalah
Dari masalah yang sudah di jelaskan diatas, maka ditetapkan pioritas masalah yaitu
sebagai berikut :
a. Pelayanan Kesehatan Dasar
Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat penting
dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan pemberian
pelayanan kesehatan dasar secara tepat dan cepat, diharapkan sebagian besar
masalah kesehatan masyarakat sudah dapat diatasi.
b. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan
Upaya pelayanan kesehatan kepada masyarakat dilakukan secara rawat jalan bagi
masyarakat yang mendapat gangguan kesehatan ringan dan pelayanan rawat inap
baik secara langsung maupun melalui rujukan pasien bagi masyarakat yang
mendapat gangguan kesehatan sedang hingga berat. Sebagian besar sarana
pelayanan Puskesmas dipersiapkan untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi
kunjungan rawat jalan dan ada pula puskesmas yang melayani rawat inap, sedangkan
RS yang dilengkapi berbagai fasilitas disamping memberikan pelayanan pada kasus
rujukan untuk rawat inap juga melayani untuk kunjungan rawat jalan. Program Jaminan
Pemeliharaan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin adalah salah satu program yang
memberi andil besar dalam peningkatan kesehatan masyarakat. Program ini menjadi vital
mengingat sebagian penduduk masyarakat kita masih berada di bawah garis
kemiskinan dan mereka yang termasuk kelompok keluarga miskin (gakin) sering
kali direpotkan dengan masalah biaya saat berhadapan dengan problem kesehatan.
Melalui program ini, keluarga miskin bisa terbebas dari biaya kesehatan sebab
dalam JPKMM pemerintah menanggung biaya pelayanan kesehatan untuk gakin.
c. Perilaku Hidup Bermasyarakat
Cakupan rumah tangga ber perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di Provinsi NTT
harus diterapkan guna masyarakat tau pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat bagi
kehidupan sehari-hari.
d. Keadaan Lingkungan
Dalam menggambarkan keadaan lingkungan, indikator-indikator yang merupakan
hasil dari upaya sektor kesehatan dan hasil upaya sektor-sektor lain yang terkait. Salah
satu sasaran dari lingkungan sehat adalah tercapainya pemukiman dan lingkungan
perumahan yang memenuhi syarat kesehatan di pedesaan dan perkotaan serta
terpenuhinya persyaratan kesehatan di tempat tempat umum, termasuk sarana dan cara
pengelolaannya. Indikator–indikator tersebut adalah persentase rumah sehat,
persentase tempat - tempat umum sehat, dan persentase penduduk dengan akses air
minum.
7. Kebijakan kesehatan berdasarkan kajian epidemiologi