Anda di halaman 1dari 17

PENGARUH PARTISI BERTINGKAT CAIR–CAIR EKSTRAK

ETANOL RIMPANG JAHE (Zingiber officinale Rosc.)


TERHADAP PROFIL KANDUNGAN SENYAWA KIMIA DAN
AKTIVITAS ANTIRADIKALNYA

NASKAH PUBLIKASI

Oleh:

FIQHANISA DINUL HIKMAH


K 100080096

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
SURAKARTA
2012

1
2
PENGARUH PARTISI BERTINGKAT CAIR–CAIR EKSTRAK ETANOL
RIMPANG JAHE (Zingiber officinale Rosc.) TERHADAP PROFIL
KANDUNGAN SENYAWA KIMIA DAN AKTIVITAS
ANTIRADIKALNYA

THE EFFECT OF LIQUID-LIQUID PARTITIONS OF ETHANOL


GINGER EXTRACT (Zingiber officinale Rosc.) TO THE PROFILE OF
CHEMICAL COMPOUNDS CONTENT AND THAT ACTIVITIES
ANTIRADICAL

Muhammad Da’i dan Fiqhanisa Dinul Hikmah


Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta
ABSTRAK

Senyawa fenolik dalam rimpang jahe yang meliputi gingerol, shogaol,


gingeron, flavonoid, terpenoid dan konstituen non polar seperti kurkuminoid,
kava piron dan gingerol telah diketahui memiliki aktivitas antiradikal. Penelitian
ini bertujuan untuk membandingkan profil kandungan senyawa kimia antar fraksi
pada perbedaan pelarut partisi bertingkat dengan aktifitas antiradikal sehingga
dapat diamati senyawa yang diduga menyumbangkan aktivitas antiradikal.
Fraksinasi pada penelitian dilakukan dengan metode partisi cair-cair
menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan metanol:air (1:1). Aktivitas
penangkap radikal dilakukan dengan menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-
pikrilhidrazil). Uji kualitatif kandungan senyawa dilakukan dengan metode KLT
dan GC MS. Hasil partisi diperoleh tiga komponen fraksi berturut-turut yaitu
fraksi n-heksana, etil asetat, dan metanol:air 2,845; 4,548 dan 42,784 %b/v.
Hasil uji penangkapan radikal menunjukkan fraksi n-heksana, etil asetat dan
metanol:air berturut-turut adalah 44,08; 34,28 dan 1390,36 µg/mL. Hasil uji
kualitatif dengan KLT dan GC MS menunjukkan adanya kandungan senyawa
fenolik dan terpen pada fraksi heksan dan etil asetat. Secara keseluruhan diduga
senyawa-senyawa fenolik (6-shogaol dan zingiberon) dan terpen (β-ionol,
hidroksicitronellal, isopulegol, dan nerolidol) berkontribusi terhadap aktivitas
penangkap radikal.

Kata kunci : DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil), KLT (Kromatografi Lapis


Tipis), GC MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometry), terpen
dan senyawa fenolik.

ABSTRACT

Phenolic compounds in ginger rhizome that includes gingerol, shogaol,


gingeron, bideskurkuminoid, kaempferol, flavonoids, terpenoids and non-polar
constituents such as curcuminoid, kava piron and ginerol have been known that it
has antiradical activity. This research aims to compare the profile of the chemical
content between fractions on the difference of solvent partition with the
antiradical activity so it can be observed the compounded that guessed

3
contributes the antiradical activity. Fractionation on a research conducted by the
method of liquid-liquid partition using n-hexane solvent, ethyl acetate, and
methanol: water (1:1). Fishing activities carried out by using the radical DPPH
(1,1-diphenyl-2-pikrilhidrazil). The test of Qualitative content compounds was
conducted by TLC and GC MS method. Partition results obtained from three
consecutive fractions of components, namely the n-hexane, ethyl acetate, and
methanol:water fraction 2.845; 4.548 and 42.784% w / v. The test results show
the arrest of a radical faction of n-hexane, ethyl acetate and methanol: water in a
row is 44.08; 34.28 and 1390.36 µg/mL. The results showed the content of
phenolic compounds and terpenes in the fraction of hexane and ethyl acetate
qualitatively using TLC and GC MS. Overall phenolic compounds (6-shogaol and
zingiberon) and terpenes (β-ionol, hidroksicitronellal, isopulegol, and nerolidol)
contribute to the radical catcher activity.

Key words: DPPH (1,1-diphenyl-2-pikrilhidrazil), TLC (Thin Layer


Chromatography), GC MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometry), terpenes
and phenolic compounds.

Pendahuluan
Paparan radikal bebas yang berlebihan dan secara terus menerus dapat
menyebabkan kerusakan sel, mengurangi kemampuan sel untuk beradaptasi
terhadap lingkungannya, dan pada akhirnya dapat menyebabkan kematian sel,
sehingga timbul gangguan dan penyakit seperti kanker, atherosklerosis, stroke,
Alzheimer, jantung, penuaan (Langseth, 1995; Zaeoung et al., 2004; Khalaf et al.,
2008). Radikal bebas tersebut dapat dicegah atau diobati dengan antiradikal.
Berdasarkan sumbernya, antiradikal ada dua macam, yaitu antiradikal alami
dan antiradikal sintetik. Antiradikal sintetik seperti BHA (butylated hydroxy
aniline) dan BHT (butylated hydroxy toluen) telah diketahui memiliki efek
samping yang besar antara lain menyebabkan kerusakan hati. Di sisi lain, alam
menyediakan sumber antiradikal yang efektif dan relatif aman seperti flavonoid,
komponen fenolik, vitamin C, beta karoten dan lain-lain (Damayanti et al., 2007;
Padalia et al., 2011). Familia zingiberaceae merupakan salah satu tanaman yang
mempunyai kandungan fenolik (Sirat et al., 1996; Ravindran et al., 2005).
Senyawa fenolik yang terkandung dalam famili Zingiberaceae seperti
gingerol, shogaol, gingeron, flavonoid, terpenoid dan konstituen non polar seperti
kurkuminoid, kava piron dan gingerol, telah diketahui memiliki aktivitas
antiradikal (Sirat et al., 1996; Surh, 2003; Stoilova et al., 2006; Ravindran et al.,

4
2005). Ekstrak etanol rimpang jahe mengandung kadar fenol total 870,1 mg/g
ekstrak kering. Pada konsentrasi 20,0 µg/mL, ekstrak etanol rimpang jahe mampu
menangkap 90,1 % radikal DPPH. Ekstrak etanol rimpang jahe memiliki potensi
sebagai antiradikal yang melebihi dari butil hidroksitoluen (BHT) dengan IC50
0,64 µg/mL dibandingkan dengan lC50 dari BHT 7,02 µg/mL untuk
penghambatan DPPH aktivitas antioksidan (Stoilova et al., 2006).
Berdasarkan penelitian yang ada, sebagian besar hanya mengungkapkan
potensi jahe sebagai antiradikal. Kandungan senyawa dalam jahe yang berperan
sebagai aktivitas antiradikal belum diteliti. Metode partisi cair-cair merupakan
pemisahan komponen kimia diantara dua fase pelarut yang tidak saling
bercampur. Komponen kimia akan terpisah ke dalam kedua fase sesuai dengan
tingkat kepolarannya dengan perbandingan konsentrasi yang tetap (Gu, 2000).
Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan profil kandungan senyawa kimia
pada partisi bertingkat. Partisi bertingkat (polar, semi polar, non polar) akan
mempengaruhi profil kandungan kimia pada masing-masing fraksi. Perbedaan
profil kandungan kimia tersebut dimungkinkan berpengaruh terhadap aktifitas
antiradikal. Dengan penelitian ini, diharapkan dapat diketahui senyawa yang
menyumbangkan aktivitas antiradikal.

Metode Penelitian
a. Alat yang digunakan
Alat yang digunakan yaitu glassware (pyrex), spektrofotometer UV–Vis
(UV Mini SHIMADZU), mikropipet (Socorex), pipet volum (pyrex), vortex
(maxi II), pipet ukur (pyrex), yellow tips, white tips dan blue tips, stopwatch,
neraca analitik (A&D Co.Ltd.), kuvet, oven, rotary evaporator (heildoph), water
bath (memmert), seperangkat kromatografi Shimadzu-GC 2010 dilengkapi dengan
Shimadzu-GC 2010S mass selective detector dengan kolom RxiTM-1MS.
b. Bahan yang digunakan
Bahan yang digunakan yaitu ekstrak etanol rimpang jahe (Zingiber
officinale Rosc.) yang diperoleh dari Fakultas Farmasi UMS, DPPH (sigma

5
aldrich), etanol, etil asetat, toluen, metanol (p.a.; Merck), etanol, etil asetat,
toluen, etanol, aseton, metanol (teknis), aquadest, FeCl3, vanilin, asam sulfat,
kertas saring, alumunium foil, plat KLT, gas Helium (He).

c. Jalannya Penelitian
1. Proses ekstraksi rimpang jahe
Ekstrak dibuat dengan cara maserasi dengan menggunakan etanol 96 %.
Satu bagian serbuk kering rimpang jahe dimasukkan ke dalam maserator,
ditambah 10 bagian etanol 96 %, direndam selama 6 jam sambil sekali-kali
diaduk, kemudian didiamkan sampai 24 jam. Maserat dipisahkan dan proses
diulangi 2 kali dengan jenis dan jumlah pelarut yang sama. Semua maserat
dikumpulkan dan diuapkan dengan penguap vakum hingga diperoleh ekstrak
kental. Rendemen yang diperoleh ditimbang dan dicatat. Ekstrak ini diperoleh
dari koleksi penelitian standarisasi BPOM fakultas farmasi Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
2. Fraksinasi ekstrak etanol rimpang jahe
Fraksinasi ekstrak etanol rimpang dilakukan secara partisi dengan
menggunakan corong pisah. Ekstrak etanol rimpang jahe masing-masing
sebanyak 30 g dilarutkan dalam 100 mL air:metanol (1:1) hingga larut
sempurna. Kemudian ekstrak tersebut ditambahkan 100 mL larutan penyari
yang memiliki kepolaran berbeda dalam corong pisah. Campuran digojog
hingga terbentuk 2 lapisan dan dipisahkan fase-fase yang terbentuk. Sisa fase
air:metanol ditambah 100 mL larutan penyari dan digojog hingga terjadi
pemisahan kembali. Dilakukan cara yang sama hingga fase dari larutan penyari
yang ditambahkan jernih (tidak ada zat yang tersari). Larutan penyari yang
digunakan dalam penelitian ini adalah air:metanol, etil asetat dan heksan,
sehingga diperoleh fraksi air:metanol, etil asetat dan heksan dari rimpang
tersebut. Larutan penyari diuapkan dengan rotary evaporator. Rendemen
ditimbang bobot keringnya dan dicatat sebagai bobot fraksi-fraksi rimpang
jahe. Ekstrak dan fraksi aktif ditentukan aktivitas antioksidannya dengan
metode DPPH.

6
3. Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode DPPH
Aktivitas antioksidan ditentukan dengan radikal bebas menggunakan
DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) berdasarkan penelitian dari Rohman dkk
(2009) dan Rohman dkk (2006) dengan beberapa modifikasi. Penentuan IC50
Fraksi Rimpang Jahe dilakukan dengan cara sejumlah larutan stok sampel
fraksi rimpang jahe dengan seri konsentrasi yang telah ditentukan (2,0; 6,0;
8,0; 20; 24; 40; 80; 100 dan 160 µg/mL), ditempatkan dalam labu takar 5,0
mL. Sampel selanjutnya ditambah 1,0 mL DPPH 0,4 mM dan ditambah etanol
p.a hingga tanda. Campuran tersebut divortek selama 30 detik dan diinkubasi
selama waktu inkubasi (30 menit).
Absorbansi sampel diukur terhadap blangko yang terdiri dari sejumlah
larutan stok sampel dalam etanol pada maks (517 nm) yang diperoleh dari
penelitian. Selain itu, sampel dibandingkan dengan kontrol yang terdiri dari
1,0 mL DPPH 0,4 mM dalam etanol. Penentuan aktivitas antiradikal dilakukan
melalui perhitungan inhibitory concentration (IC50). IC50 adalah konsentrasi
fraksi-fraksi ekstrak rimpang jahe memberikan persen aktivitas antiradikal
sebesar 50% dibanding kontrol melalui suatu persamaan garis regresi linier
antara kadar terhadap persen penangkapan radikal (Rohman dkk, 2009). Persen
antiradikal dapat dihitung menggunakan rumus persamaan (1). Percobaan uji
aktivitas antiradikal direplikasi tiga kali.
(𝐚𝐛𝐬𝐨𝐫𝐛𝐚𝐧𝐬𝐢 𝐤𝐨𝐧𝐭𝐫𝐨𝐥−𝐚𝐛𝐬𝐨𝐫𝐛𝐚𝐧𝐬𝐢 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐞𝐥)
% Antiradikal = × 𝟏𝟎𝟎% (1)
𝒂𝒃𝒔𝒐𝒓𝒃𝒂𝒏𝒔𝒊 𝒌𝒐𝒏𝒕𝒓𝒐𝒍

Keterangan :
Absorbansi kontrol : total radikal (DPPH)
Absorbansi sampel : sisa radikal (DPPH) atau radikal yang tidak bereaksi
dengan senyawa penangkap radikal bebas.
4. Analisis kualitatif (fraksi ekstrak rimpang jahe) dengan metode KLT

7
Dibuat larutan stok dari fraksi-fraksi ekstrak rimpang jahe 1 % b/v, dengan
menimbang fraksi sebesar 50,0 mg ad 5 mL dalam pelarutnya. Pembanding
yang digunakan adalah vitamin E dengan konsentrasi 0,1 %. Dilakukan
optimasi fase gerak menggunakan toluen:etil asetat dan n-heksana:etil asetat
dengan perbandingan 3:7; 5:5 dan 7:3. Hasil optimasi yang baik digunakan
sebagai parameter analisis dengan KLT, parameternya sebagai berikut:
F Gerak : Toluen:etil asetat (7:3)
F Diam : Silika gel GF254
L Pembanding : Vitamin E 0,1%
Vol Penotolan : 5 µL L Uji dan 3 L L pembanding.
Deteksi : Vanilin-asam sulfat; DPPH 0,1 % ; FeCl3 10 %;
UV 254 dan 366 nm.
Dihitung dan ditulis harga Rf pada deteksi: UV 254 dan 366 nm, vanilin:asam
sulfat (1:10), DPPH 0,1 % dan FeCl3 10 %, dengan rumus persamaan (2).
𝒋𝒂𝒓𝒂𝒌 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒕𝒆𝒎𝒑𝒖𝒉 𝒔𝒐𝒍𝒖𝒕
𝑹𝒇 = 𝒋𝒂𝒓𝒂𝒌 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒕𝒆𝒎𝒑𝒖𝒉 𝒇𝒂𝒔𝒆 𝒈𝒆𝒓𝒂𝒌 (2)

5. Analisis Fraksi Ekstrak Rimpang Jahe Menggunakan GC-MS


Analisis fraksi dilakukan menggunakan Shimadzu–GC 2010 dilengkapi
dengan Shimadzu–GCMS 2010S mass selective detector dan kolom kapiler
Rtx-1MS (30 m x 0,25 mm, ketebalan lapisan 0,25 μm). Sistem elektron
ionisasi dengan energi ionisasi 70 eV digunakan untuk deteksi GC–MS.
Helium pada flow rate 1,20 mL/menit digunakan sebagai gas pembawa.
Injektor dan MS transfer line suhunya masing-masing diatur pada 250 ⁰C.
Temperatur kolom dijaga pada 60 ⁰C lalu secara perlahan ditingkatkan sampai
220 ⁰C dengan peningkatan 7 ⁰C/menit dan ditingkatkan lagi sampai 300 0C
dengan peningkatan 10 ⁰C/menit. Sampel 20,0 mg ad 5 mL metanol p.a (0,4 %
b/v) diencerkan sebanyak 1000 x dengan cara mengambil 5 μL ad 5 mL
sehingga didapat konsentrasi 0.0004% b/v, kemudian 1 μL diinjeksikan secara
manual dalam splitless mode. Komponen diidentifikasi dengan
membandingkan spektra massa sampel dengan internal Willey Library. Hasil
fraksinasi dianalisis dengan GC–MS replikasi pembacaan 2 kali.

8
Hasil dan Pembahasan
a. Ekstraksi dan Partisi Bertingkat Cair-Cair
Diperoleh rendemen hasil ekstraksi sebesar 6,725 % (0,0678 g berat ekstrak
kental dari 1,00825 g simplisia). Berdasarkan hasil ekstraksi tersebut, diambil
ekstrak untuk dilakukan partisi bertingkat cair-cair . Hasil yang diperoleh
merupakan tiga komponen fraksi (Tabel 1).
Tabel 1. Hasil rendemen fraksi n-heksana, etil asetat, dan metanol:air (1:1)
No. Nama Fraksi % rendemen
(% b/v)

1 n-heksana 2,845
2 Etil asetat 4,548
3 Metanol:Air ( 1:1) 42,784

Hasil fraksinasi terhadap ekstrak Zingiber officinale yang paling banyak


adalah fraksi metanol:air (42,784 %b/v) diikuti fraksi etil asetat (4,548 % b/v)
dan n-heksana (2,845 % b/v) (Tabel 1). Hal ini dimungkinkan, komponen
senyawa yang terdapat dalam ekstrak rimpang jahe lebih tertarik kedalam pelarut
polar. Analisis lanjutan dilakukan untuk penentuan aktifitas fraksi tersebut dan
komponen yang terkandung.
b. Penentuan Aktifitas Antiradikal Bebas Hasil Partisi Ekstrak Etanol
Rimpang Jahe Dengan Metode DPPH
Hasil penelitian menunjukkan nilai IC50 fraksi n-heksana, etil asetat dan fraksi
metanol:air (1:1) berturut-turut 44,08; 34,28 dan 1390,36 µg/mL. Hasil ini
menunjukkan fraksi semipolar memiliki potensi aktivitas tertinggi (Gambar 2).
Potensi aktivitas ini diduga dipengaruhi oleh kandungan senyawa yang terdapat
dalam masing-masing fraksi.
Fraksi vs rata-rata IC 50
1390.36
Konsentrasi (µg/mL)

1500.00 F heksana (FH)


1000.00
500.00 44.08 34.28
F etil asetat (FEA)
0.00
FH FEA FMA
F metanol : air (1:1)
Fraksi (FMA)

Gambar 2. Grafik Hubungan fraksi versus rata-rata % anti radikal bebas.

7
9
c. Analisis kualitatif dengan metode KLT (Kromatografi Lapis Tipis)
Analisis kualitatif dengan metode KLT dilakukan untuk mendeteksi
keberadaan senyawa golongan fenolik dan golongan volatil oil yang diduga
menimbulkan aktivitas antiradikal. Deteksi awal dilakukan tanpa reaksi
penyemprotan dengan pengamatan pada uv 254 dan 366 nm. Hasil menunjukkan
terdapat profil kandungan senyawa yang berbeda pada masing-masing fraksi
(Gambar 3). Hal ini memerlukan analisis lanjutan dengan pereaksi semprot.
Hasil penelitian menunjukkan, untuk pereaksi semprot vanilin – asam sulfat
(1:10) dihasilkan bercak atau spot berwarna biru keunguan. Bercak yang berwarna
biru keunguan tersebut merupakan golongan senyawa terpenoid (Wagner dan
Bladt, 1996). Sedangkan untuk pereaksi semprot FeCl3 terjadi bercak berwarna
kuning kecoklatan, dengan harga Rf yang berbeda untuk fraksi n-heksana dan etil
asetat. Dengan pereaksi semprot DPPH 0,1 % dalam etanol terjadi perubahan
warna bercak menjadi kuning muda, ditandai dengan adanya penurunan intensitas
cahaya dari DPPH, yang menunjukkan adanya aktifitas penangkapan radikal
(Gambar 3; Tabel 2). Harga Rf menunjukkan kekuatan polaritas dari masing-
masing senyawa dalam tiap fraksi. Senyawa yang terelusi lebih cepat mempunyai
harga Rf yang besar dan bersifat non polar (Tabel 2). Perbedaan kadar dari profil
KLT fraksi n-heksana dan etil asetat menunjukkan adanya kemiripan senyawa
namun tidak identik, fraksi etil asetat relatif lebih polar daripada fraksi n-heksana.
Fraksi metanol:air pada semua deteksi tidak menunjukkan adanya senyawa yang
terelusi, hal ini mungkin disebabkan karena fase gerak yang digunakan belum
optimal untuk fraksi metanol:air.
Tabel 2. Harga Rf fraksi dan kontrol pembanding Vitamin E
No. Sampel Vanilin:H2SO4 FeCl3 DPPH
1 Vitamin E - - 0,93
2 Fraksi n-heksana 0,22 ; 0,27; 0,35; 0,40; 0,21; 0,43; 0,77 0,22; 0,49; 0,55;
IC 50 = 44,08 µg/mL 0,50; 0,58; 0,71; 0,80 0,71; 0,80

3 Fraksi etil asetat 0,13; 0,19; 0,25; 0,33; 0,43; 0,44 0,09; 0,22; 0,46;
IC 50 = 34,28 µg/mL 0,51; 0,60; 0,83 0,78
4 Fraksi metanol:air (1:1) - - -
IC 50 = 1390,36 µg/mL

10
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
A B C E
D
Gambar 3. Profil KLT Fraksi – fraksi rimpang jahe dan vitamin E
dengan fase diam: Silikagel 60 F 254, Fase gerak: (Toluena : etil asetat ( 7:3)) dan
deteksinya A. Deteksi UV 254 nm, B. 366 nm, C. Pereaksi semprot (Vanilin:H2SO4 ), B.
FeCl3, C. DPPH. Totolan 1 adalah kontrol (vitamin E), 2. Fraksi n-heksana, 3. Fraksi etil
asetat, 4. Fraksi metanol:air (1:1).

Berdasarkan hasil uji aktifitas penangkapan radikal secara kuantitatif maupun


secara kualitatif, dan didukung analisis KLT terhadap kandungan senyawa dalam
masing-masing fraksi menunjukkan aktifitas antiradikal senyawa yang terkandung
dalam ekstrak etanol Zingiberis officinalle disumbangkan oleh senyawa-senyawa
terpenoid dan fenolik yang terdapat dalam fraksi n-heksana dan etil asetat
(Gambar 2, 3; Tabel 2). Analisis lanjutan dilakukan terhadap senyawa yang volatil
dalam masing-masing fraksi dengan menggunakan GC-MS.
d. Analisis Profil Kandungan Senyawa dengan GC MS (Gas Chromatogrphy
Mass Spectrometry).
Hasil analisis GC-MS terhadap masing-masing fraksi menunjukkan adanya
perbedaan kandungan senyawa dalam ketiga fraksi. Fraksi etil asetat mengandung
senyawa-senyawa fenolik; ester atau asam lemak, karboksilat dan golongan
terpenoid sedangkan fraksi n-heksana mengandung senyawa hidrokarbon,
aldehid, ester, furanol, karboksilat, polisiklik aromatis, fenolik dan terpenoid.
Fraksi metanol:air mengandung senyawa alkana, karboksilat (turunannya), asam
lemak dan siloksan (Gambar 4,5,6; Tabel 3). Hasil tersebut konsisten dengan hasil
KLT yang telah dilakukan. Hal ini menunjukkan senyawa-senyawa terpen

11
(hidroksicitronella, isoepugol, β-ionol dan nerolidol) dan senyawa fenolik (6-
shogaol dan zingiberone) merupakan senyawa yang bertanggung jawab terhadap
aktifitas antiradikal dalam fraksi n-heksana dan etil asetat yang mempunyai
aktifitas lebih tinggi dibanding fraksi metanol:air.

(6-Shogaol)

(Zingiberone)

(β-farnesen)
(16)
(nerolidol) (4)
(18) (10) (6)
(12) (8) (2) (3)
(7) (11) (15) (9)
(6) (14) (13)
(17) (1)

Gambar 4. Kromatogram Fraksi n-heksana ekstrak etanol jahe (Zingiber officinalle).

(6-Shogaol)

(Zingiberon)

6-Shogaol

(2) (7)
(9) (11) (5) (6)
(3) (8) (1)
(10)
(4)

Gambar 5. Kromatogram Fraksi Etil Asetat ekstrak etanol Jahe (Zingiber Officinalle).

(Metil palmitat)

(As Oktadekanoat)

(1) (10)
(8) (5)
(12)
(As 14-eicosadienoat) (7)
(9)
(3)
(11) (2) (4)
(6)
(4)

Gambar 6. Kromatogram Fraksi Metanol:Air (1:1) Ekstrak etanol Jahe (Zingiber Officinalle).

12
Tabel 3. Data Senyawa Fraksi n-heksana, etil asetat dan metanol:air (1:1)
ekstrak jahe (Zingiber Officinalle)
Fraksi n- Fraksi Etil Fraksi
heksana Asetat Metanol:air
No. Golongan Senyawa
% RT % RT % RT
Area (menit) Area (menit) Area (menit)
1 Alkana Tetrakontana (15) 5,95 23.05 - - - -
Octadekana (1) (7) 1,79 23.00 - - 2,78 29.74
1-bromo-octadekana (2) 1,08 26.98 - - - -
Nonakosana (3) 3,47 27.22 - - - -
Tetrakosana (4) 0,72 27.96 - - - -
Nonadekana (5) 0,97 28.87 - - - -
n-nonana (1) - - - - 1,59 5.46
2 Aldehida Ockaldehida (6) 1,70 5.14 - - - -
Dekaldehida (7) 1,52 9.15 - - - -
3 Ester atau Metil palmitat (8) (5) 1,02 22.11 10,51 19.58 31,16 22.10
asam lemak Metil oleat (6) - - 8,87 23.37 - -
Metil palmitoleat (1) - - 1,94 23.45 - -
Metil stearat (2) - - 1,78 23.91 - -
Metil elaidat (9) (11) 1,00 24.49 - - 7,87 24.57
Metil isoheptadekanoat (12) - - - - 7,87 24.85
4 Fenolik Zingiberone 16,46 17.20 19,95 17.15 - -
Compound
6- shogaol 24,82 26.45 25,83 25.80 - -
5 Furanol Nortrachelogenin 3,57 25.65 - - - -
6 Karboksilat Asam Geranoat (14) 1,11 12.26 - - - -
Asam Oktadekanoat (7) - - 4,05 24.85 - -
Asam 14-eicosadienoat - - - - 6,05 24.38
Asam oktadekanoat - - - - 23,65 24.49
Asam pentadekanoat (2) - - - - 1,39 26.71
Asam mercaptroasetat (3) - - - - 1,72 27.82
Asam benzendikarboksilat
(4)
- - - - 1,55 28.97
Asam bensoat (8) - - - - 4,14 30.44
7 Monoterpen Kamperone (17) 3,78 17.87 - - - -
beta ionol (10) 1,71 17.79 - - - -
d-Limonene-1,2-diol (3) - - 1,97 10.90 - -
Hidroksicitronellal (4) - - 1,85 14.14 - -
Isopulegol (8) - - 2,06 14.61 - -
8 Poliksiklik Napthalena (11) 0,92 - -
Aromatis 21.29 - -
9 Sesquiterpen α-curcumene (18) (9) 3,28 14.79 4,18 14.78 - -
ar-curcumene (10) - - 2,79 15.09 - -
b-Sesquisfellandren (12) 1,09 19.03 - - - -
B-Farnesene 5,66 18.43 - - - -
a-chamigrene (13) 0,68 19.25 - - - -
Nerolidol (11) 4,89 20.14 1,93 18.41 - -
10 Siloksan Heptasiloksan (9) - - - - 3,12 29.20
Siklodekasiloksan (10) - - - - 2,35 29.89
Eicosane (5) - - - - 1,68 30.55
Trimetilsiloksan (6) - - - - 1,58 26.25

Menurut penelitian yang sudah dilakukan, campuran fenolik seperti gingerol,


paradol, shogaol, terpenoid yang terdapat dalam rimpang jahe mempunyai
aktivitas antiradikal (Sukla, 2007). Penelitian ini juga tidak berbeda jauh dari
penelitian tersebut, dimana komponen fenolik (6-shogaol dan zingiberone), serta
sebagian golongan terpen meliputi (β-ionol, hidroksicitronellal, isopulegol,
nerolidol) mempunyai aktivitas sebagai antiradikal (Gambar 7). Hal tersebut

13
dikarenakan struktur dari masing-masing senyawa tersebut mengandung gugus
hidroksi yang dimungkinkan gugus hidroksi inilah yang mendonorkan hidrogen
untuk berikatan dengan DPPH, sehingga berpotensi sebagai antitadikal. Dengan
partisi bertingkat cair-cair dapat diketahui bahwa fraksi etil asetat yang paling
bagus penghambatan antiradikalnya yang dibuktikan dengan IC50 yang paling
besar serta paling luas % areanya kemudian diikuti fraksi n-heksana.
Senyawa-senyawa fenolik

Zingeberone/zingerone (1 &2) 6-Shogaol (1&2)

Senyawa terpena

ar Curcumene 1 α-Curcumene (1&2) β – ionol 1 β – Sesquiphelladren 1

Chamigren 1 d-limonen-1,2 diol 2 β-Farnesen 2 kamperone 1

Hidroksi citronellal 2 Isopulegol 2 Nerolidol (1&2)

Gambar 7. Struktur Senyawa fenolik dan terpen (1 : Fraksi n-heksana


2 : Fraksi etil asetat)

14
Senyawa-senyawa yang diduga memiliki konsentrasi besar terhadap aktifitas
fraksi etil asetat adalah : zingiberon, 6-shogaol dan terpenoid antara fraksi etil
asetat dan heksan. Fraksi etil asetat mempunyai aktivitas antiradikal yang besar
dikarenakan terdapat komponen fenolik (6-shogaol) yang memiliki % area yang
besar dimana struktur induk dari 6-shogaol mempunyai gugus hidroksi pada posisi
orto dengan cincin aromatik yang mempunyai gugus metoksi (OCH3), sehingga
dapat menyumbangkan gugus hidroksi untuk berikatan dengan senyawa radikal
bebas (DPPH). Senyawa 6-shogaol merupakan hasil dehidrasi atau penghilangan
gugus H2O (air) dari gingerol dan zingeberon merupakan hasil dekomposisi dari
gingerol (Onyenekw e, 2000; Shukla and Singh, 2006; Park and Pizzuto, 2002,
Nakatani et al, 2001). Gingerol, 6-shogaol, dan zingeberon merupakan senyawa
analog alami dari kurkumin yang memiliki aktifitas antiradikal bebas (Shishodia
et al, 2005). Fraksi metanol:air tidak berpotensi karena hanya terdiri dari golongan
alkana, karboksilat, ester dan siloksan serta IC50 yang rendah sehingga perlu
dilakukan penelitian lanjut dengan pelarut yang lain. Disamping itu juga perlu
dilanjutkan penelitian ke tahap isolasi senyawa murni agar mendapatkan senyawa
yang bertanggungjawab terhadap aktifitas antiradikal.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
1. Partisi bertingkat menyebabkan senyawa tertarik ke dalam pelarut masing-
masing berdasarkan tingkat kepolarannya.
2. Terdapat korelasi profil senyawa dalam fraksi-fraksi ekstrak etanol rimpang
jahe yaitu perbedaan kandungan senyawa dalam tiap fraksi menyebabkan
terjadi perbedaan aktifitas antiradikal.
3. Senyawa yang bertanggung jawab terhadap aktifitas antiradikal adalah
golongan fenol (zingeberon dan 6-shogaol) dan terpen (β-ionol,
hidroksicitronellal, isopulegol, nerolidol) yang terkandung dalam fraksi n-
heksana dan etil asetat. Fraksi metanol:air tidak menunjukkan adanya

15
senyawa yang terelusi, hal ini mungkin disebabkan karena fase gerak yang
digunakan belum optimal untuk fraksi metanol:air

Saran
Berdasarkan penelitian ini, disarankan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
dengan pelarut yang lain serta dilanjutkan ke tahap isolasi senyawa murni agar
mendapatkan senyawa yang bertanggung jawab terhadap aktifitas antiradikal.

Ucapan Terima Kasih


Bapak Dr. Muhammad Da’i, M.Si., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi,
Universitas Muhammadiyah Surakarta serta Pembimbing Akademik dan
Pembimbing Utama skripsi.

Daftar Pustaka
Damayanti, T., Nurani, L.H. dan Aznam, N., 2007 , Uji Aktivitas Antioksidan
pada Fraksi Eter Hasil Hidrolisis Dekokta Herba Meniran (Phyllantus
niruri L.) Melalui Penangkapan Radikal Bebas DPPH (1,1-difenil-2-
pikrilhidrazil), Media Farmasi , Jurnal Ilmu Farmasi , 6 (1) , 15-24.

Fessenden, R.J. and Fessenden, J.S., 1982, Kimia Organik, diterjemahkan oleh
Pudjaatmakan, A. H., Edisi Ketiga, Jilid 1, 237-239, Penerbit Erlangga,
Jakarta.

Fessenden, R.J. and Fessenden, J.S., 1982, Kimia Organik, diterjemahkan oleh
Pudjaatmakan, A. H., Edisi Ketiga, Jilid 2, 417-418, 454-455, Penerbit
Erlangga, Jakarta.

Gu, T., 2000, Liquid-Liquid Partitioning Methods for Bioseparations, Academic


Press, 2,329-364.

Hashimoto, K., Kase, Y., Murata, P., Kido,T., Nakai, Y., Sakakibara, I., Higuchi,
M., Sasaki, H., Okada, M., 2002, Pharmacological Evaluation of Shokyo
and Kankyo (1), Biol. Pharm. Bull. 25 (9), 1183—1187.

Khalaf, N.A., Shakya, A.K., Al-Othman, A., El-Agbar, Z. and Farah, H., 2008 ,
Antioxidant Activity of Some Common Plants , Turk J Biol , 32 , 51-55.

Langseth, L., 1995, Oxidants, Antioxidans, and Disease Prevention, International


Life Sciences institutes (ILSI) Europe, Belgium.

16
Nakatani, N. and Kikuzaki, H. 2001. Antioxidant in Ginger fa mily; Eds. Ho, C.
T. and Zheng, Q. Y. ACS Smposium Series 803: 230-239.

Onyenekwe, P. C. 2000. Assessment of oleoresin and gingerol contents in gamma


irradiated ginger rhizomes, Nahrung, 44 (2): 130-132.

Padalia, R.C., Verma, R.S., Sah, A.N., Karki, N., Sundaresan, V., Sakia, D., 2011,
Leaf and rhizome oil composition of Zingiber officinale Roscoe and their
antibacterial and antioxidant activities, Journal of Traditional Medicines,
6 (2), 4-5.

Park, E. J. and Pizzuto , J. M. 2002. Botanicals in cancer chem oprevention.


Cancer and Metastasis Reviews, 21, 231-255.

Ravindran, P.N. and Babu, K.N., 2005, Ginger The Genus Zingiber, CRC Press,
New York.

Royal Society of Chemistry, 2012, Chemspider: The Free Cemical Database,


Chembridge, http://www.chemspider.com/ (diakses tanggal 5 April 2012)

Shishodia, S., Sethi, G., Aggarwal, B.B., 2005, Curcumin: Getting Back to the
Roots, New York Academy of Sciences, Houston, Texas, USA.

Shukla, Y. and Singh, M., 2007, Cancer Preventive Properties of Ginger : a Brief
Review, J Food Chem Toxico, 45 (5), 683-690.

Sirat, H.M., Rahman, A.A., Itokawa, H. and Morita, H., 1996, Constituents of the
rhizomes of two Alpinia species of Malaysia, Planta Med, 62, 188–189 in
Chen, I.N., Chang, C.C., Ng, C.C., Wang, C.Y., Shyu, Y.T. and Chang,
T.L., 2008, Antioxidant and Antimicrobial Activity of Zingiberaceae
Plants in Taiwan, Plant Foods Hum Nutr, 63, 15–20.
Stoilova, I., Krastanov, A., Stoyanova, A., Denev, P. and Gargova, S., 2006,
Antioxidant activity of a ginger extract (Zingiber officinale), Plovdiv,
Bulgaria.

Vaya, J. and Aviram, M., 2001, Nutritional Antioxidant: Mechanisms of Action,


Analyses of Activities and Medical Application, Curr. Med. Chem.-Imm,
Endoc. & Metab. Agent, 1 (1).

Wagner, H. dan Bladt, S., 1996, Plant Drug Analysis: A Thin Layer
Chromatographi Atlas, Second edition, 300-301;359-366, Springer,
Germany.

Zaeoung, S., Plubrukarn,A. dan Keawpradub, N., 2004 , Cytotoxic and free
radical scavenging activities of Zingiberaceous rhizomes , Songklanakarin
J. Sci. Technol , 27 (4) , 799-812

17