Anda di halaman 1dari 3

Terkuak, Keberadaan Kamp Konsentrasi

Khusus Wanita
Di antara sejumlah kamp konsentrasi yang dibangun Nazi Jerman selama Perang Dunia II,
ternyata ada satu kamp yang dikhususkan bagi para tahanan wanita. Kamp Ravensbrück terletak
kira-kira 80 km jauhnya dari kota Berlin.

Kamp konsentrasi itu dibuka pada Mei 1939, sekitar 4 bulan sebelum mulainya Perang Dunia
II dan baru dibebaskan pasukan Rusia pada 1945. Pada masa itu, lebih dari 130 ribu wanita
dikirim ke sana. Sebanyak-banyaknya, ada 45 ribu wanita berjejal di kamp tersebut. Angka
kematian berkisar antara 30 hingga 90 ribu jiwa.

Dalam penjelasan isi buku yang tertera di laman Amazon.com, para tahanan wanita tersebut
berasal dari lebih 20 negara Eropa. Di antara mereka ada sejumlah nama terkenal seperti
Geneviève de Gaulle, keponakan dari Jenderal de Gaulle’s dan Gemma La Guardia Gluck,
saudara perempuan walikota New York di masa perang.

Dikutip dari War History Online pada Selasa (26/4/2016), tidak banyak yang diketahui tentang
kamp ini karena pihak Nazi membakar hampir semua catatan tahanan dan kemudian
membuangnya ampasnya ke danau di dekat tempat itu beberapa hari sebelum pembebasannya.

Ravensbrück merupakan pusat kejahatan Nazi terhadap kaum wanita, demikianlah pendapat
Sarah Helm, penulis berkebangsaan Inggris tentang bukunya ‘If This Is a Woman – Inside
Ravensbrück: Hitler’s Concentration Camp for Women’.

Sungguh ironis. Ketika orang mulai membicarakan holocaust pada tahun 1960-an, ganasnya
pemusnahan kaum Yahudi dan kejahatan yang terjadi terhadap mereka malah menomorduakan
kejahatan Nazi terhadap kaum non-Yahudi.

Bukan hanya itu. Karena kebanyakan ahli sejarah adalah kaum pria, kamp khusus wanita seakan
luput dari perhatian mereka. Baru pada tahun 1990-an para wanita ahli sejarah memulai
penelitian terhadap Ravensbrück. Sebelum itu, jarang ada wanita mantan tawanan yang punya
kesempatan bercerita.

“Wanita-wanita ini digiring ke kamar-kamar gas dan tidak mendapat perhatian sungguh-sungguh
dari para ahli sejarah,” kata Helm.

Salah satu hal paling menarik di Ravensbrück adalah perubahannya dari kamp khusus untuk para
tahanan politik yang kemudian menjadi kamp maut Nazi yang paling mengerikan.

“Pada awalnya, Ravensbrück berukuran kecil sekali,” kata Helm. “Kebanyakan dihuni oleh
wanita-wanita Jerman yang dianggap tidak bermoral ataupun para tahanan politik. Begitulah,
yaitu semua orang yang dianggap berseberangan dengan Hitler.”
Pada tahap awalnya, kebanyakan wanita di Ravensbrück adalah kaum Yahudi. Tapi sepertinya
mereka dikirim ke sana karena pandangan politik mereka, bukan karena agama.

Sebelum Oktober 1944, Ravensbrück sudah terlalu padat. Saat pihak Rusia membebaskan para
tahanan di timur, tawanan-tawanan Nazi mulai dipindahkan ke barat, kembali ke Jerman.

Pihak Sekutu telah menghancurkan banyak sekali jalur kereta api sehingga menyulitkan evakuasi
para tahanan. Walaupun sulit, Hitler bersikeras agar setiap orang Yahudi dikeluarkan dari
Hungaria sebelum tibanya pihak Rusia.

Dengan berjejalnya kamp tersebut, eksekusi kaum Yahudi bukan lagi proses ideologis dan lebih
kepada solusi logistik mengatasi kepadatan hunian. Pada saat itulah kamar-kamar gas dibangun
di sana.

Dalam bukunya, Helm menulis, “Adolf Hitler kurang tertarik pada kamp-kamp konsentrasi, tapi
kamp-kamp itu berdiri di tengah pusaran pengaruh Himmler. Apapun yang terjadi di balik
dinding-dinding itu, ditandatangani oleh pena miliknya.”

Helm berpendapat, “Himmler jugalah yang berada di belakang gagasan awal pendirian kamp-
kamp khusus wanita.”

Himmler bukan hanya penulis ‘Solusi Akhir’ tapi sekaligus mengawasi pendirian kamp-kamp di
wilayah timur. “Kebanyakan kamp sengaja didirikan di tempat-tempat berpemandangan indah.”

“Ravensbrück, misalnya, berlokasi di tepi danau. Kamp-kamp lain juga ditempatkan di kawasan-
kawasan hutan yang indah. Himmler sudah mempelajari tulisan-tulisan tentang kawasan
bersejarah ini.”

“Gagasannya adalah bahwa alam akan memurnikan gen-gen Jerman sehingga SS dan warga
Jerman bertumbuh lebih murni dan kuat, seperti pohon-pohon di hutan-hutan.”

“Himmler berpendapat bahwa darah bisa menjadi murni jika benihnya ditanam dekat situs-situs
murni di alam,” imbuh Helm.

Mempertanyakan Keadilan

Helm menggunakan epilog dalam bukunya untuk membahas mengapa pihak yang berwenang di
Ravensbrück belum pernah diadili karena kejahatannya. Alasan-alasannya ruwet tapi nyata, yaitu
bahwa sebelum 1948 pasukan Sekutu lebih tertarik urusan Perang Dingin daripada menghukum
pihak Nazi.

Pada 1949, tanggungjawab mengadili para pemimpin Nazi diserahkan kepada pengadilan
Jerman, yang bisa saja dipimpin oleh orang-orang yang dulunya juga anggota Nazi.
Demikian juga sejumlah pelaku industri Jerman yang lolos dari jerat hukum. Secara khusus,
Siemens memiliki pabrik di Ravensbrück dan menggunakan para tahanan sebagai pekerjanya.
Tapi Siemens tidak pernah ditanyai apa yang mereka ketahui tentang kejahatan di sana.

“Sulit dipercaya bahwa Siemens tidak bisa membuka diri dan dihadapkan kepada kejahatan-
kejahatan yang melibatkannya secara mendalam,” kata Helm.

Bukan hanya itu. Para wanita penjaga di Ravensbrück juga jarang ada yang diadili. “Sistem yang
ada tidak mau menghadapi hal ini. Sehingga hanya sedikit sekali para penjaga dari Ravensbrück
yang pernah ditanyai atau diminta mempertanggungjawabkan tindakan mereka,” kata Helm lagi.