Anda di halaman 1dari 27

REKAYASA PONDASI II

BAB I
TURAP

1.1. PENDAHULUAN
1.1.1. Definisi Turap
Turap (sheet pile wall) adalah dinding menerus yang dibuat dengan cara
menghubungkan potongan-potongan/section yang saling mengunci (baja, beton
atau kayu) yang bertujuan untuk :
1. Menahan tekanan horisontal akibat tanah dan air
2. Menghasilkan stabilitas terhadap tekanan horisontal dari tanah yang dipancang
3. Menghasilkan sokongan horisontal yang bersumber dari anchor yang yang
dipasang pada turap
1.1.2. Penggunaan Turap
Penggunaan turap antara lain adalah :
1. Melindungi struktur bangunan yang berhubungan dengan air (waterfront
structures) , misalnya pelabuhan, dock, shore protection works.
2. Sebagai konstruksi sementara seperti braced cut (galian yang tanahnya mudah
runtuh)
3. Penggunaan turap untuk melindungi sungai dari gerusan dan penahan tanah pada
tepi sungai
Berikut gambar contoh-contoh penggunaan turap :

Gambar 1.1. Penggunaan Turap pada struktur bangunan yang


berhubungan dengan air

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

1.1.3. Jenis-jenis Turap


Jenis-jenis turap dibedakan menurut bahan yang digunakan.
Bahan tersebut dapat bermacam-macam contohnya kayu, beton dan baja.

1. Turap Kayu
Turap kayu digunakan untuk dinding penahan tanah yang tidak begitu tinggi
karena tidak kuat menahan beban lateral yang besar. Turap kayu banyak
digunakan pada pekerjaan-pekerjaan sementara. Turap jenis ini tidak cocok pada
tanah berkerikil karena turap mudah pecah ketika dipancang.
Bentuk-bentuk dinding turap yang biasa digunakan planks, wakefield, tongue and
groove serta splined dan paku yang digunakan adalah dari bahan baja/logam

Turap kayu
:

Gambar 1.2. Turap kayu dan sambungan-sambungannya

2. Turap Beton
Merupakan balok-balok beton yang telah dicetak dengan bentuk tertentu, yang
dibuat saling kait mengait satu sama lain. Ujung bawah biasanya dibuat
meruncing untuk memudahkan pemancangan.

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

Gambar 1.3. Turap Beton

Digunakan untuk konstruksi yang berat dan permanen dan biasanya diberi
perkuatan. Turap jenis ini harus mampu menahan tegangan yang timbul selama
pelaksanaan konstruksi dan setelah konstruksi selesai. Tebalnya 150 – 200 mm
dan lebarnya 500 - 800 mm

3. Turap Baja
Turap baja umum digunakan karena berbagai keuntungan dan kemudahan dalam
penanganan. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain :
▪ Kuat terhadap gaya-gaya benturan pada pemancangan
▪ Bahan relatif tidak begitu berat
▪ Dapat digunakan berulang-ulang
▪ Mempunyai keawetan tinggi
▪ Penyambungan mudah bila kedalaman turap besar

Dari US, tebalnya sekitar 0,4 in – 0,5 in dan dari Eropa ketebalannya lebih tipis
dan lebih lebar dengan bentuk penampangnya : z, deep arch, low arch dan strigh
web

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

Gambar 1.4. Penampang Turap Baja

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

(a) koneksi thumb & finger

(b) koneksi ball & socket

Gambar 1.5. Interlock dan Tegangan Ijin Dari Turap Baja


Turap menurut metode konstruksinya
Metode pelaksanaan konstruksi (Tsinker, 1983) untuk backfilled structure dan
dredged structure.
A. Dredged Structure
1. turap dipancang
2. diberi timbunan dan angker dipasang
3. ditimbun hingga permukaan
4. bagian depan di gali

Gambar 1.6. Urutan pelaksanaan konstruksi dredged structur

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

B. Backfiled Structure
1. digali,
2. turap dipancang,
3. timbunan dan angker dipasang,
4. ditimbun hingga permukaan

Gambar 1.7. Urutan pelaksanaan konstruksi backfilled


structure
Turap menurut tipe struktur dan pola beban
a). Cantilever sheet pile wall
Stabilitasnya secara penuh tergantung pada kekuatan tanah yang dipancang
terhadap tekanan tanah lateral.
b). Anchored sheet pile wall
Stabilitasnya tergantung tidak hanya pada kedalaman pemancangan tetapi juga
kepada angkur.

Turap menurut materialnya


a). Flexible SPW : umumnya terbuat dari baja, stabilitasnya tergantung pada
kedalaman pemancangan dan angkur
b). Rigid SPW : umumnya terbuat dari beton, stabilitasnya tergantung pada kekuatan
strukturnya sendiri.

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

Turap menurut End Support


a). Free End Support
Turap dipancang pada kedalaman yang tidak terlalu besar sehingga garis
elastiknya sederhana
b). Fixed End Support
Turap dipancang pada kedalaman tertentu, sehingga tumpuan akhirnya dalam
keadaan terjepit (fixed position)

1.2. DESAIN TURAP KANTILEVER


1.2.1. Turap Kantilever Pada Tanah Berpasir

Gambar. 1.8. Turap kantilever pada tanah pasir


Turap kantilever direkomendasikan untuk dinding dengan tinggi menengah
yaitu 6 m atau kurang, diukur dari dredged line. Gambar 1.10 menunjukkan
distribusi tekanan lateral pada turap kantilever pada tanah pasir. Dinding turap
berotasi pada titik O. Karena tekanan hidrostatis pada kedalaman manapun dari
kedua sisi dinding turap saling meniadakan, hanya dipertimbangkan tekanan tanah
lateral efektif. Pada zona A, tekanan lateral hanya tekanan aktif dari tanah. Pada
zona B, ada tekanan aktif dari tanah dan tekanan pasif dari air. Kondisi sebaliknya
pada zona C, di bawah titik rotasi O. Distribusi tekanan aktual netto pada gambar
(b), dan disederhanakan dengan gambar (c).

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

Gambar 1.9. Turap kantilever pada tanah berpasir (a) variasi diagram net pressure ; (b)
variasi momen
Distribusi tegangan : tekanan dominan aktif dari kanan ke kiri pada bagian atas
dominan pasif dari kiri ke kanan pada bagian kaki.
Koefisien tekanan tanah aktif Rankine :
𝜑
𝐾𝑎 = 𝑡𝑎𝑛2 (45 − ) ( 1-1 )
2

Koefisien tekanan tanah pasif Rankine :


𝜑
𝐾𝑝 = 𝑡𝑎𝑛2 (45 + ) ( 1-2 )
2

Tekanan aktif pada kedalaman z = L1


𝜎1 ′ = 𝛾 𝐿1 𝐾𝑎 ( 1-3 )
dengan :
Ka = koefisien tekanan tanah aktif Rankine
 = berat volume tanah di atas muka air tanah

Untuk tekanan tanah aktif pada kedalam z = L1 + L2


𝜎2 ′ = (𝛾𝐿1 + 𝛾 ′ 𝐿2 )𝐾𝑎 ( 1-4 )
dengan ;
’ = berat volume tanah efektif = sat - w

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

Untuk menentukan net lateral pressure di bawah dredgeline sampai dengan titik 0,
perlu dihitung tekanan pasif dari water side dan tekanan aktif dari land side.
Tekanan aktif pada kedalaman z :
𝜎𝑎′ = [ 𝛾𝐿1 + 𝛾 ′ 𝐿2 (𝑧 − 𝐿1 − 𝐿2 )]𝐾𝑎 ( 1-5 )
Tekanan pasif pada kedalaman z :
𝜎𝑝′ = 𝛾 ′ (𝑧 − 𝐿1 − 𝐿2 )𝐾𝑝 ( 1-6 )
dengan ;
Kp = koefisien tekanan tanah pasif
Kombinasi persamaan ( 1-5 ) dan ( 1-6 ) diperoleht:
𝜎 ′ = 𝜎𝑎′ − 𝜎𝑝′ = (𝛾𝐿1 + 𝛾 ′ 𝐿2 )𝐾𝑎 − 𝛾 ′ (𝑧 − 𝐿1 − 𝐿2 ) 𝐾𝑝 − 𝐾𝑎
= 𝜎2′ − 𝛾 ′ (𝑧 − 𝐿) 𝐾𝑝 − 𝐾𝑎 ( 1-7 )
dengan;
L = L1 + L2
Net Pressure (σ’), menjadi sama dengan nol pada kedalaman L3 di bawah Dredge
Line:
𝜎2′ − 𝛾 ′ (𝑧 − 𝐿) 𝐾𝑝 − 𝐾𝑎 = 0
atau
𝜎2′
(𝑧 − 𝐿) = 𝐿3 = ( 1-8 )
𝛾 ′ 𝐾𝑝 − 𝐾𝑎

Kemiringan garis DEF : (Kp – Ka) ’, sehingga:


𝐻𝐵 = 𝜎3′ = 𝐿4 𝐾𝑝 − 𝐾𝑎 𝛾 ′
̅̅̅̅ ( 1-9 )

Pada bagian bawah turap tekanan pasif, 𝜎𝑝′ berarah dari kanan ke kiri dan tekanan
aktif 𝜎𝑎′ berarah dari kiri ke kanan, sehingga pada z = L + D
𝜎𝑝′ = (𝛾𝐿1 + 𝛾 ′ 𝐿2 + 𝛾 ′ 𝐷)𝐾𝑝 ( 1-10 )
Pada kedalaman yang sama :
𝜎𝑎′ = 𝛾 ′ 𝐷𝐾𝑝 ( 1-11 )
Tekanan lateral pada kaki turap :
𝜎𝑝′ − 𝜎𝑎′ = 𝜎4′ = (𝛾𝐿1 + 𝛾 ′ 𝐿2 )𝐾𝑝 + 𝛾 ′ 𝐷 𝐾𝑝 − 𝐾𝑎
= (𝛾𝐿1 + 𝛾 ′ 𝐿2 )𝐾𝑝 + 𝛾 ′ 𝐿3 𝐾𝑝 − 𝐾𝑎 + 𝛾 ′ 𝐿4 𝐾𝑝 − 𝐾𝑎
= 𝜎5′ + 𝛾 ′ 𝐿4 𝐾𝑝 − 𝐾𝑎 ( 1-12 )

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

Dengan : D = L3 + L4 ( 1-13 )
Syarat stabilitas turap :
 Gaya horizontal = 0
 Momen terhadap titik B = 0
Jumlah gaya horizontal = Luas diagram ACDE – Luas EFHB + Luas FHBG = 0
( 1-14 )
1 ′ 1
𝑃− 𝜎3 𝐿4 + 𝐿5 (𝜎3′ + 𝜎4′ ) = 0
2 2

Dengan P = area diagram tekanan bidang ACDE,


Jumlah momen terhadap B :
1 𝐿4 1 𝐿5 ( 1-15 )
𝑃(𝐿4 + 𝑧) − 𝐿 𝜎′ + 𝐿4 (𝜎3′ + 𝜎4′ ) =0
2 4 3 3 2 3
Dari Persamaan 1-14, diperoleh :
𝜎3′ 𝐿4 − 2𝑃 ( 1-16 )
𝐿5 =
𝜎3′ + 𝜎4′
Kombinasi persamaan (1-9), (1-12), (1-15) dan (1-16) didapat :
L44 + A1 L43 – A2 L42 – A3 L4 – A4 = 0 ( 1-17 )
Dengan :
5
A1 = ( 1-18 )
 ' ( Kp  Ka )
8P
A2 = ( 1-19 )
 ' ( Kp  Ka )

A3 =

6 P 2 z ' ( Kp  Ka)   5'  ( 1-20 )
 '2 ( Kp  Ka)2
P(6 z 5'  4P)
A4 = 2 ( 1-21 )
 ' ( Kp  Ka)2
Langkah – langkah untuk mendapatkan diagram tegangan tanah :
1. Hitung Ka dan Kp
2. Hitung 𝜎1′ dan 𝜎2′ ; L1 dan L2 diketahui
3. Hitung L3
4. Hitung P
5. Hitung z
6. Hitung σ5

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

7. Hitung A1, A2, A3 dan A4


8. Hitung L4 (Eq 1-17) dengan cara trial and error
9. Hitung 𝜎4′
10. Hitung 𝜎5′
11. Hitung L5
12. Gambar pressure diagram
13. Teoretical depth diperoleh L3 + L4
Actual depth ditambah 20% - 30% Theoretical depth.
Kp
Beberapa designer menggunakan Kp (design) = ; FS berkisar 1,5 – 2,0
FS

Maximum Bending Moment (Mmax)


Mmax terjadi pada gaya geser = 0 (pada E – F’)
1
P = 2 (z’)2 (Kp – Ka) ’

2P
z’= ( 1-22 )
( Kp  Ka) '

Jika titik gaya geser = 0 maka :


1  1 
Mmax = P ( z + z’) -   ' z '2 ( Kp  Ka ) z '  ( 1-23 )
2  3 
M max
Mmax diketahui, S= ( 1-24 )
all
Dimana : S = Section modulus sheet pile per satuan panjang
all = Allowable flexural stress of the sheet pile

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

1.2.3. Turap Kantilever pada Tanah Berlempung


Gambar 1.10. Turap kantilever pada tanah lempung

 Pada kedalaman z > L1 + L2, diatas titik rotasi O :

 a  L1   ' L2  sat( z  L1  L2)Ka  2c Ka ( 1-25 )

 p   sat z  L1  L2 K p  2c K p ( 1-26 )

Net pressure :
 6   p  a

  sat z  L1  L2   2c  L1   ' L2   sat z  L1  L2   2c

 4c  L1   ' L2  ( 1-27 )


Pada bagian bawah turap, tekanan pasif dari kanan ke kiri adalah :
 p  L1   ' L2   sat D   2c ( 1-28 )

tekanan aktif dari kiri ke kanan adalah:


 a   sat D  2c ( 1-29 )
Sehingga, net pressure adalah :
7   p  a

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

 4c  L1   ' L2  ( 1-30 )


 Untuk analisi kesetimbangan,  FH = 0  Luas diagram ACDE – Luas EFIB +
Luas GIH = 0, atau

P1 - 4c  (L1   ' L 2)D  L 44c  (L1   ' L 2)  4c  (L1   ' L 2)  0
1
2
Dengan, P1 = area diagram tekanan ACDE
D4c  (L1   ' L2)  P1
L4 = ( 1-31 )
4c
  Mb = 0
D2 1 L 
P1 (D + z1 ) - 4c  (L1   ' L2)  L4 8c  4   0 ( 1-32 )
2 2  3
Kombinasi persamaan ( 1-31 ) dan ( 1-32 ) diperoleh:
P1( P1  12cz1 )
D2 4c  (L1   ' L 2)  2 DP1  0 ( 1-33 )
(L1   ' L 2)  2c
Langkah – langkah untuk mendapatkan diagram tekanan tanah :
1. Hitung Ka = tan2 (45 - /2)  Granular soil
2. Hitung σ1 dan σ2
3. Hitung P1 dan z1
4. Gunakan persamaan ( 1-33 ) untuk mendapatkan D
5. Gunakan persamaan ( 1-31 ) untuk memperoleh L4
6. Hitung σ6 dan σ7
7. Gambar Pressure diagram
8. Dactual = 1,4 – 1,6 Dtheoretical

 Maximum Bending Moment


Momen maksimum terjadi pada daerah L1 + L2 < z < L1 + L2 + L3
Gunakan sistem koordinat yang baru z’, untuk gaya geser = 0 :
P1
P1 – σ6 z’ = 0  z’ = ( 1-34 )
6
Momen maksimum dapat dihitung dengan menggunakan persamaam :
1
Mmax = P1 (z’ + z 1) - σ6 z’2 ( 1-35 )
2

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

1.3. TURAP DENGAN ANGKUR


Pada turap dengan tinggi tanah timbunan melampaui 6 m, maka akan lebih
ekonomis untuk mengikat turap di dekat bagian atas dinding turap. Hal ini biasa disebut
dengan turap berangkur (anchored sheet pile wall atau anchored bulkhead). Pemakaian
angkur meminimalkan kedalaman pancang yang diperlukan dan mengurangi besarnya
penampang dan berat turap yang diperlukan pada konstruksi.
Ada dua metode dasar dalam melaksanakan turap berangkur: (a) free earth support
methode dan (b) fixed earth support methode. Gambar di bawah menunjukkan asumsi
defleksi turap yang dirancang menggunakan dua metode tersebut.

Anchor tie rod Anchor tie rod


Moment
Water Water
table
table Moment Mmax
Deflection

Mmax
Dredge line Point of inflection
Dredge line

D
D Sheet pile fixed
Sheet pile at lower end
simply uspported
(b)
(a)

Gambar 1.11. Variasi defleksi dan momen turap berangkur (a) metode free earth support ; (b)
metode fixed earth support

Free earth support metode adalah metode dengan kedalaman pentrasi minimum. Di
bawah dredged line tidak ada pivot point untuk sistem statik. Variasi bending moment
terhadap kedalaman dari kedua metode tersebut juga ditunjukkan pada gambar tersebut.

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

1.3.1. Metode Free Earth Support Untuk Turap Pada Tanah Berpasir

Gambar 1.12. Turap berangkur pada tanah berpasir


σ1 =  L1 Ka
σ2 = ( L1 + ’ L2) Ka
2
L3 = ;
 ' ( Kp  Ka )
Pada z = L1 + L2 + L3 + L4, maka tekanan tanah menjadi :
σ8 = ’ (Kp - Ka) L4 ( 1-36 )
Syarat keseimbangan :  Mo’ = 0 dan  FH = 0
 FH = 0  Luas ACDE – Luas EBF – F = 0
Dengan : F = Tension dalam tie rod / satuan panjang dinding (wall)
1
P- σ8 L4 – F = 0 atau
2

F=P-
1
 ' ( Kp  Ka)L4 2 ( 1-37 )
2

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

Dengan P = diagram tekanan area ACDE


 Mo’ = 0

-P ( L1  L 2  L3)  ( z  l1) 
1
 ' ( Kp  Ka)L 4 2  l2  L2  L3  2 L4   0
2  3 
Atau :
3P( L1  L 2  L3)  ( z  l1)
L43 + 1,5L42 (l2 + L2 + L3) - =0 ( 1-38 )
 ' ( Kp  Ka )
Eq. ( 1-38 ) dapat diselesaikan dengan cara tiral and error untuk menetukan nilai
L4:
Dteoritis = L3+L4
Dactual = 1,3 – 1,4Dteoritis ( 1-39 )

Maximum Bending Moment


Momen maksimum teoritis pada turap akan terjadi antara z= L1 dan z
= L1 + L2
Kedalaman dimana terjadi gaya geser = 0 dapat diperoleh melalui persamaan:

 1 L1  F   1' z  L1   K a ' z  L1 2  0
1 ' 1
( 1-40 )
2 2
Jika nilai z telah diketahui, menentukan momen maksimum akan lebih mudah
untuk ditentukan

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

1.3.2. Metode Free Earth Support Untuk Turap Pada Tanah Berlempung

A
l1
L1 O F
Sand, γ, φ'
l2
Water level 1 C

z
Sand
γsat , φ'
L2
P1

z1

Dredge line 2 D
E

Clay Clay
γsat
D φ=0
c

F 6 B

Gambar 1.13. Turap berangkur pada tanah lempung


σ1 =  L1 Ka
σ2 = ( L1 + sat L2) Ka
σ6 = 4c – ( L1 + ’ L2)
Gaya angkur : F = P1 – σ6 D ( 1-41 )
Dengan :
P1 = Luas diagram tekanan tanah ACD
F = gaya pada angkur per satuan panjang
 Mo’ = 0
D
P1 (L1 + L2 – l1 – z 1) – σ6 D (l2 + L2 + )=0
2
Disederhanakan menjadi :
σ6 D2 + 2 σ6 D (L1 + L2 – l2) – 2 P1 (L1 + L2 – l1 – z 1) = 0 ( 1-42 )

dari persamaan ( 1-42 ) dapat ditentukan kedalaman penetrasi teoritis (Dteoritis)


Mmax diperoleh pada L1 < z < L1 + L2. Kedalaman dimana geser = 0, maka momen
maksimum dapat ditentukan dengan persamaan ( 1-40 ).

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

1.3.3. Metode Fixed Earth Support Untuk Turap Pada Tanah Berpasir
A

l1
L1 O′ F
Anchor l Sand
2
Water table C , φ′
1

Deflected
z
shape of
Sand
sheet pile L2
γsat
φ′

2 D
L5 L5
I
L3 J P′
E

D
H
F

B G
Gambar 1.4. Diagram tekanan tanah pada turap berangkur dengan
metode fixed earth support pada tanah berpasir

Jika menggunakan Fixed Earth Support Method dalam analisis SPW asumsi yang
digunakan yaitu bahwa bagian bawah dari SPW tidak mengalami rotasi.
σ1 =  L1 Ka ; σ2 = ( L1 + ’ L2) Ka
2
L3 = (sama seperti persamaan sebelumnya)
 ' ( Kp  Ka )
Prosedur mendesain dinding turap berangkur (Cornfield, 1975) :
Langkah 1. Hitung L5 dengan menggunakan table berikut, sesuaikan dengan harga

Langkah 2. Hitung jarak eqivalen


L’ = l2 + L2 + L5 (1-43 )

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

Langkah 3. Hitung beban total (W). Diagram tekanan area antara O’ dan I
Langkah 4. Hitung momen maksimum
WL '
M max  (1-44 )
8
Langkah 5. Hitung P’ dengan momen pada titik O’ atau
1
P'  (momen dari area ACDJI pada titik O’) ( 1-45 )
L'
Langkah 6. Hitung kedalaman penetrasi ( D )

6 P'
D  L5  1,2
K p  K a  ' ( 1-46 )

Langkah 7. Hitung gaya angkur per satuan panjang, F. dengan mengambil


momen pada titik I. Atau
1
F (momen dari area ACDJI pada titik I) ( 1-47 )
L'

1.4. DESAIN ANGKUR


Tipe – tipe Angkur yang umum digunakan pada sheet pile wall :
 Anchor Plates dan Beams (deadman), terbuat dari blok beton
 Tie Backs, batang / cable ditempatkan pada lubang + concrete grout
 Vertical Anchor Piles, anchor terbuat dari pile
 Anchor Beams yang ditopang oleh batter piles

Placement of Anchors
 Anchorage akan sia – sia jika anchor terletak didalam “Sliding Wedge” dari
backfill
 Pemasangan anchor jangan pada “Unstable Ground”
 Kapasitas anchor tidak maximal jika anchor terletak pada area dimana “Active
Wedge” dan “Passive Wedge” berinterferensi di depan anchor

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

Capacity of Deadman
A. Continuous Deadman Near Ground Surface
Continuous Deadman (CD) adalah deadman yang mempunyai L yang lebih besar
dari kedalamannya (H).

1 1
h’< to H
3 2
Tult = Pp - Pa
B. Short Deadmen Near Ground Surface
Total Earth Pressure pada tanah granular :

HX
   
H
1

O
H
H
Kp  H Ka (dx)Ko 
6
Ko Kp  Ka H 3

 Experiment membuktikan, pada saat runtuh (failure), tanah dimuka “deadman”


mengalami keruntuhan yang membentuk bidang a d b b’d a’ yang lebih
panjang dari deadman (L)
 Permukaan gelincir pada ujung deadman adalah kurva a b d e dan a’ b’ d’ e’
 Tahanan terhadap gelincir sepanjang permukaan abde dan a’ b’ d’ e’ lebih
kecil dari tahanan gelincir sepanjang bidang vertikal a b e dan a’ b’ e’

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

d)

Gambar 1.15. Berbagai tipe pengangkuran untuk turap: (a) plat angkur
atau beam; (b) tie back; (c) tiang berangkur vertikal; (d)
anchor beam with batter piles

 Menurut Teng (1962) :

Tult = L (Pp – Pa) +


1
3
K o  
Kp  Ka H 3 tan   Granular soil

Tult = L (Pp – Pa) + qu H2  Cohesive soil


Dimana : qu = Unconfined Compression Strength

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

 Menurut Ovesen dan Stromann (1972) :


A. Step 1 :
T’ult = ½  H2 (Kp cos  - Ka cos )

Dimana : Ka = Koefisien tekanan tanah aktif dengan  = 


Kp = Koefisien tekanan tanah pasif
Untuk menghitung Kp cos , Kp sin  dihitung dahulu :
1
W  H 2 Ka sin 
W  Pa sin  2
Kp sin  = 
1 1
H 2 H 2
2 2
B. Step 2 : (Strip Case)
 
 Cov  1 
T’ult (s) =  T ' ult
 Cov  H 
 h 
T’ult (s) = Ultimate resistance for strip case
Cov = 19  Dense sand ; 114  Loose sand
C. Step 3 : (Actual Case)
Tult = T’ult (s) * Be
Be = Lebar equivalen
Be adalah fungsi dari S’ (spasi anchor), B, H dan h
Tult
Tallowable =  SF dianjurkan 2
SF
T all
S’ =  F = gaya persatuan panjang SPW
F
0.7
0.6
0.5 Pa
0.4

0.3 Arc of log spiral


Ka

0.2

0.1
10 20 30 40 45
Soil friction angle, (deg)
(a)

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

14
12
45
10
40
8
35
6
co
sKp 30

= 25
3

2
0 1 2
Kp sin δ4
3 5

(b)

Gambar 1.16. (a) Variasi nilai Ka (untuk  = ); (b) variasi Kp cos  dengan
Kp sin  (menurut Ovesen dan Stromann, 1972)

Ultimate Resistance Dari Pelat dan Beam Anchor Pada Clay ( = 0)


Bila sebuah pelat anchor memiliki dimensi hx B tertanam pada kedalaman H.
Pola keruntuhan dari sebuah pelat anchor akan sebagai berikut :
H
  = 4,7 + 2,9 * 10-3 c  7  Anchor bujur sangkar B/h = 1
 h  cr  s

H H   B  H


  =   0,9  0,1   1,3   Anchor persegi B/h  1
 h  cr  R  h  cr  S   h   h  cr  S

c = Undrained Cohesion

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

B Sand
H
S S
h

(a)
0.5

Dense sand
0.4

)h
+
0.3
(/H Loose sand
)
B

e 0.2
B
(

0.1

0
0 0.5 1.0 1.25
(S – B)/(H – h)
(b) Stromann, 1972)

Gambar 1.17. (a) actual case untuk baris angkur; (b) variasi (Be-
B)/(H+h) dengan (S’-B)/(H+h) (menurut Ovesen dan
Stromann, 1973)

 Tult 
Fc =   ;
 Bh c 
Dengan : Fc = Break Out Factor
Tult = Ultimate Resistance
Pult / Tult = 9 h2c (Square Anchor)

  h 
Tult = 9 Bhc 0,825  0,175  (Rectangular Anchor)
  H 
Atau
  h 
Tult = Bhc 7,425  1,575 
  B 

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

Gambar 1.18. Angkur plat atau beam vertikal:


displacement horisontal pada beban ultimit (after Neeley dkk, 1973)

Untuk Square dan rectangular anchor dengan H/h  (H/h)cr, ultimate resistance dapat
dihitung dengan persamaan :

 H /h 
 ( H / h)cr 
   H /h 
= 0,41 + 0,59  
Tult / cBh  H / hcr 
7,425  1,575h / B 

Gambar 1.19. Permukaan runtuh pada tanah di sekeliling plat angkur vertikal: (a) H/h relatif kecil (b)
H/h > (H/h)cr

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

Ultimate Resistance of Tie Backs


Tult =  d l  v ' K tan  (Sandy Soil)

 v' = Tegangan vertikal rata-rata efektif


K  Dipakai Ko bila concrete grout dipasang under pressure
Tult =  d l ca (Clay soil)
2
Ca = adhesion, dapat didekati dengan c
3

Gambar 1.20 Parameter-parameter untuk penentuan tahanan ultimit tie backs

NUNY SUCIANI / F 111 15 004


REKAYASA PONDASI II

DAFTAR PUSTAKA
Das, Braja. M., 2011, Principles of Foundation Engineering Seventh Edition, Penerbit Global
Engineering, Stamford.

NUNY SUCIANI / F 111 15 004