Anda di halaman 1dari 33

Presentasi Kasus

KELAINAN DALAM JUMLAH AIR KETUBAN &


POSTTERM

Disusun oleh :
Helvia Septarini (1111103000097)

Pembimbing :
dr. Malvin Emeraldi, Sp.OG

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN & PENYAKIT
KANDUNGAN RSUP FATMAWATI
14 SEPTEMBER – 22 NOVEMBER 2015

1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayahNya
sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam senantiasa kami
junjungkan ke hadirat Nabi Muhammad SAW, semoga rahmat dan hidayahnya selalu
tercurah kepada kita selaku umatnya.
Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengajar di SMF Ilmu
Kebidanan dan Penyakit Kandungan khususnya kepada dr. Malvin Emeraldi, SpOG
atas bimbingannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya.
Sebagai manusia saya menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata
sempurna, sehingga saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
semua pihak.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami yang sedang
menempuh pendidikan dan bagi kelompok-kelompok selanjutnya.

Jakarta, November 2015

Penulis

2
BAB 1

PENDAHULUAN

Kehamilan postterm merupakan kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih
dari 41 minggu lengkap. Umumnya kehamilan berlangsung 40 minggu (280 hari)
dihitung dari hari pertama haid terakhir. Insidensi kehamilan post term kira-kira
umumnya 3,5-14%, sebagian diantaranya mungkin tidak benar-benar post term, karena
para ibu sebanyak 10% lupa akan tanggal haid terakhir, dan juga terdapat beberapa
faktor yang mempengaruhi yaitu kesalahan perhitungan dan faktor siklus haid. 1

Kehamilan postterm berpengaruh terhadap perkembangan janin sampai


kematian janin. Pada usia kehamilan 42 minggu atau lebih terdapat janin yang berat
badannya meningkat terus, ada yang tidak bertambah, ada yang lahir dengan berat
badan kurang dari semestinya atau meninggal dalam kandungan karena kekurangan zat
makanan dan oksigen. Post term berhubungan erat dengan mortalitas, morbiditas
perinatal maupun makrosomia. Sedangkan risiko bagi ibu dengan kehamilan post term
dapat berupa perdarahan post partum, distosia persalinan, partus lama, maupun
tindakan obstetrik yang meningkat. Di samping itu terdapat pula komplikasi yang lebih
sering menyertai seperti letak defleksi, posisi oksiput posterior, distosia bahu dan
perdarahan post partum.2,3

Sekitar 8% wanita hamil memiliki cairan ketuban terlalu sedikit.


Oligohidramnion dapat terjadi kapan saja selama masa kehamilan, walaupun pada
umumnya sering terjadi di masa kehamilan trimester terakhir. Beberapa keadaan
berhubungan dengan oligohidramnion hampir selalu berhubungan dengan obstruksi
saluran traktus urinarius janin atau renal agenesis. Terdapat faktor resiko yang berasal
dari fetal yaitu kromosom abnormal, anomali kongenital, kehamilan post term, ketuban
pecah dini, abruptio plansenta, sedangkan faktor resiko yang berasal dari maternal yaitu
insufisiensi uteroplasental, hipertensi, preeklampsia, dan diabetes mellitus.1

3
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kehamilan Postterm

2.1.1. Definisi

Kehamilan umumnya berlangsung 40 minggu atau 280 hari dihitung dari hari
pertama haid terakhir menurut rumus Naegele. Namun, sekitar 10% kehamilan
berlangsung sampai 42 minggu atau lebih.1

Kehamilan postterm disebut juga kehamilan lewat bulan atau pasca maturitas
adalah kehamilan yang berlangsung sampai 42 minggu atau lebih dihitung dari hari
pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari
(WHO 1977, FIGO 1986).1

American College of Obstetriccians and Gynecologist (2004), mendefinisikan


bahwa kehamilan memanjang harus 42 minggu lengkap (294 hari) atau perkiraan
melahirkan ditambah 14 hari. Kehamilan antara 41 minggu 1 hari dan 41 minggu 6 hari
belum dianggap kehamilan postterm.3

Terdapat 2 kategori kehamilan yang mencapai usia kehamilan 42 minggu,


yaitu: 1) benar-benar >40 minggu, atau 2) usia kehamilan <40 minggu, namun ada
kesalahan pada penghitungan HPHT. Blondel dkk melakukan penelitian di RS Victoria
dengan menggunakan penghitungan HPHT dan atau pemeriksaan USG pada usia
kehamilan minggu 16-18. Hasilnya menunjukkan bahwa pasien dengan kehamilan post
term sebanyak 6,4% berdasarkan HPHT, dan 1,9% berdasarkan USG saja. Sedangkan
insidensi post term berdasarkan USG usia kehamilan ≤12 minggu sebanyak 2,7%
dibandingkan dengan USG 13- 24 minggu sebanyak. Dari hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa penghitungan berdasarkan HPHT saja tidak terlalu akurat dalam
prediksi kehamilan post term.2

4
2.1.2. Epidemiologi

Prevalensi kehamilan postterm umumnya 4-19%. Di Amerika Serikat sekitar


6% dari 4 juta bayi dilahirkan pada usia 42 minggu atau lebih. Pada tahun 2000,
insidensi kehamilan post term sebanyak 7,2%, dan menurun pada tahun 2009
sebanyak 5,5%. Berikut terjadinya kehamilan post term dengan induksi pada
kehamilan tersebut.2

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), terdapat 6%


kehamilan post term pada tahun 2006, sedangkan di tahun sebelumnya sebanyak 7%.
Sedangkan di Eropa insidensinya bervariasi, di Austria sebanyak 0,6% dan di Swedia
dan Denmark sebanyak 7%.5

2.1.3. Etiologi

Seperti halnya teori bagaimana terjadinya persalinan, sampai saat ini etiologi
terjadinya kehamilan postterm belum jelas. Beberapa teori diajukan yang pada
umumnya menyatakan bahwa terjadinya kehamilan postterm sebagai akibat gangguan
terhadap timbulnya persalinan. Beberapa teori diajukan antara lain :1

a. Pengaruh progesterone
Penurunan progesteron dalam kehamilan akan meningkatkan sensitivitas uterus

5
terhadap oksitosin sehingga uterus akan berkontraksi. Sedangkan pada
kehamilan post term tidak terjadi penurunan progesteron.

b. Teori Kortisol/ACTH janin


Kelainan janin seperti anensefali, hipoplasia adrenal, dan tidak adanya kelenjar
hipofisis pada janin akan menyebabkan sekresi kortisol yang berkurang
sehingga tidak terjadi persalinan.

c. Saraf uterus
Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus frankenhauser akan
meningkatkan kontraksi uterus. Tidak adanya tekanan pada saraf tersebut
bisa disebabkan karena kelainan letak, tali pusat pendek, dan bagian bawah
masih tinggi.

d. Herediter
Beberapa penulis menyatakan bahwa seorang ibu yang mengalami kehamilan
postterm, mempunyai kecenderungan untuk melahirkan lewat bulan pada
kehamilan berikutnya. Mogren (1999) seperti dikutip Cunningham,
menyatakan bahwa jika seorang ibu mengalami kehamilan lewat bulan saat
melahirkan anak perempuan maka besar kemungkinan anak perempuannya
akan mengalami kehamilan lewat bulan.1

2.1.4. Permasalahan Pada Kehamilan Postterm

1. Perubahan pada plasenta

Disfungsi plasenta merupakan faktor penyebab terjadinya komplikasi pada


kehamilan postterm dan meningkatnya risiko pada janin. Penurunan fungsi plasenta
dapat dibuktikan dengan adanya penurunan kadar estriol dan plasental laktogen.

6
Perubahan yang terjadi adalah:1

 Penimbunan kalsium. Penimbunan kalsium yang terjadi pada kehamilan


posterm dapat menyebabkan gawat janin bahkan kematian janin intrauterine
yang dapat meningkat 2-4 kali lipat. Timbunan kalsium plasenta meningkat
sesuai dengan progresivitas degenerasi plasenta, tetapi mungkin ada beberapa
vili yang mengalami degenerasi plasenta tanpa kalsifikasi.
 Selaput vaskulosinsisial menjadi lebih tebal dan jumlahnya berkurang.
Keadaan ini dapat menurunkan mekanisme transport plasenta.
 Terjadi proses degenerasi jaringan plasenta seperti edema, timbunan fibrinoid,
fibrosis, thrombosis intervili, dan infark vili.
 Perubahan biokimia. Adanya insufisiensi plasenta menyebabkan protein
plasenta dan kadar DNA di bawah normal, sedangkan konsentrasi RNA
meningkat. Transport glukosan tidak terganggu tetapi aliran natrium, kalium,
dan glukosa menurun. Pengangkutan dengan berat molekul yang tinggi seperti
asam amino, lemak, dan gama globulin biasanya akan mengalami gangguan
sehingga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan janin intrauterine.1

2. Pengaruh pada janin

Pengaruh kehamilan posterm terhadap janin sampai sekarang masih


diperdebatkan. Beberapa ahli menyatakan bahwa kehamilan postterm
membahayakan janin, sedangkan beberapa ahli lainnya menyatakan bahwa
kehamilan posterm tidak membahayakan janin. Fungsi plasenta mencapai puncak
pada usia kehamilan 38 minggu dan mulai menurun terutama setelah usia
kehamilan 42 minggu. Rendahnya fungsi plasenta berhubungan dengan
peningkatan kegawatan janin dengan 3 kali lipat. Penyaluran makanan dan oksigen
akan menurun akibat dari penuaan plasenta dan adanya spasme arteri spiralis.
Sirkulasi uteroplasenta akan menurun dengan 50% menjadi hanya 250 ml/menit.

Beberapa pengaruh kehamilan posterm pada janin antara lain:1

7
 Berat janin. Jika pada plasenta terjadi perubahan anatomik yang besar, maka
akan terjadi penurunan berat janin. Vorherr melaporkan bahwa setelah usia
kehamilan 36 minggu grafik rata-rata pertumbuhan janin mendatar dan tampak
adanya penurunan setelah 42 minggu. Namun, sering juga plasenta masih
berfungsi sehingga berat janin akan bertambah terus seiring bertambahnya usia
kehamilan. Zwerdling melaporkan bahwa rata-rata berat janin lebih dari 3600
gram sebesar 44,5% pada kehamilan posterm, sedangkan pada kehamilan
cukup bulan (aterm) sebesar 30,6%.1
 Sindrom postmaturitas.
Bayi postmatur memiliki tampilan yang unik dan khas. Ciri-cirinya
meliputi kulit keriput, tidak merata, terkelupas, tubuh panjang dan kurus, kuku-
kuku umumnya panjang. Pengerutan kulit dapat sangat mencolok pada telapak
tangan dan kaki.2
Insiden bayi posmatur pada kehamilan usia 41, 42, 43 minggu belum
dapat disimpulkan dengan pasti. Shime dkk melaporkan insiden sindrom
postmaturitas pada sekitar 10% kehamilan antara usia 41 sampai 43 minggu
dan akan meningkat menjadi 33% pada usia kehamilan 44 minggu.2


Gambar 2.1. Sindrom postmaturitas pada bayi yang dilahirkan usia kehamilan
43 minggu.

8
Sumber: Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL (Editors). Williams Obstetrics. 23rd Edition.
New York: McGraw-Hill. 2012.

Tanda-tanda bayi dengan sindrom postmaturitas terdapat 3 stadium yaitu1


Stadium I : Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi
berupa kulit kering, rapuh, dan mudah mengelupas.
Stadium II : gejala diatas disertai pewarnaan meconium (kehijauan) pada kulit.
Stadium III : disertai pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit, dan tali pusat.

 Gawat janin atau kematian perinatal


Leveno dkk (1984), melaporkan bahwa gawat janin antepartum dan
distress janin intrapartum merupakan akibat dari kompresi tali pusat yang
disebabkan oleh olgohidramnion.2
Secara normal cairan amnion terus berkembang setalah 38 minggu dan
dapat menjadi masalah seperti pada gambar 2.3. Mekonium yang dilepaskan
pada cairan amnion yang berkurang menyebabkan mekonium kental dan tebal
sehingga dapat meyebabkan sindrom aspirasi mekonium.2

9
Gambar 2.3 Volume cairan amnion pada minggu akhir kehamilan.

Sumber: Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL (Editors). Williams Obstetrics. 23rd Edition. New
York: McGraw-Hill. 2012.

Gawat janin atau kematian perinatal menunjukkan angka yang tinggi


setelah usia kehamilan 42 minggu atau lebih, sebagian besar terjadi
intrapartum. Umumnya disebabkan oleh:
- Makrosomia yang dapat menyebabkan distosia pada persalinan, fraktur
klavikula, sampai kematian bayi.
- Insufisiensi plasenta yang dapat berakibat pada:
 Pertumbuhan janin terhambat
 Oligohidramnion: terjadi kompresi tali pusat  keluar mekonium
yang kental  perubahan abnormal jantung janin
 Hipoksia janin
 Keluarnya mekonium dapat menyebabkan aspirasi mekonium pada
janin
- Cacat bawaan: terutama akibat hipoplasia adrenal dan anensefalus.1

10
3. Pengaruh pada ibu

 Morbiditas/mortalitas: dapat meningkat akibat dari makrosomia janin dan


tulang tengkorak menjadi lebih keras sehingga dapat menyebabkan terjadinya
distosia persalinan, partus lama, perdarahan postpartum akibat bayi yang
besar.1
 Indikasi untuk Seksio sesaria jika ada Non Reassuring fetal status dan CPD.
 Aspek emosi: ibu dan keluarga menjadi cemas jika kehamilan melewati
taksiran persalinan.1

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kehamilan postterm:3

(1) Kesalahan tanggal- disebabkan oleh tidak akuratnya HPHT

(2) Riwayat kehamilan postterm

(3) Faktor maternal: primipara

(4) Faktor janin: anomali kongenital. Contohnya anensefali  abnormal fetal HPA
axis dan hypoplasia adrenal  berkurangnya respons kortisol janin.

(5) Faktor plasenta: Sulphatase deficiency → kadar estrogen rendah.

2.1.6. Diagnosis

Beberapa kasus yang dinyatakan sebagai kehamilan posterm merupakan


kesalahan dalam menentukan usia kehamilan. Kasus kehamilan posterm yang tidak
dapat ditegakkan secara pasti diperkirakan sekitar 22%. Dalam menentukan kehamilan
posterm selain dari riwayat haid, sebaiknya dilihatnya juga dari riwayat antenatal.4

1. Riwayat haid

Diagnosis kehamilan posterm tidak sulit ditegakkan jika hari pertama haid
terakhir (HPHT) diketahui dengan pasti. Agar riwayat haid dapat dipercaya,
ada beberapa kriteria antara lain:1

11
 Pasien harus yakin dengan HPHT
 Siklus haid 28 hari dan teratur
 Tidak minum pil KB setidaknya 3 bulan terakhir

Selanjutnya diagnosis ditentukan dengan menggunakan rumus


Naegele untuk menentukan estimasi hari persalinan. Berdasarkan riwayat haid,
seseorang penderita yang ditetapkan sebagai hamil posterm kemungkinan
adalah sebagai berikut:1

 Terjadi kesalahan dalam menentukan HPHT atau akibat menstruasi


abnormal
 Tanggal haid terakhir diketahui jelas, tetapi terjadi kelambatan ovulasi
 Tidak ada kesalahan dalam menentukan HPHT dan kehamilan memang
berlangsung lewat bulan (keadaan ini sekitar 20-30% dari seluruh penderita
dengan kehamilan posterm).
2. Riwayat pemeriksaan antenatal
 Tes kehamilan. Bila pasien melakukan pemeriksaan tes imunologik
sesudah terlambat 2 minggu, maka dapat diperkirakan bahwa usia
kehamilan sudah berlangsung 6 minggu.
 Gerak janin. Gerak janin atau quickening pada umumnya dirasakan pada
usia kehamilan 18-20 minggu. Pada primigravida dirasakan sekitar usia
kehamilan 18 minggu, sedangkan untuk multigravida dirasakan pada usia
kehamilan 16 minggu. Petunjuk umum untuk menentukan persalinan
adalah quickening ditambah 22 minggu pada primigravida atau ditambah
24 minggu pada multiparitas.
 Denyut Jantung Janin (DJJ). Usia kehamilan 18-20 minggu DJJ dapat
didengar dengan menggunakan stetoskop Laennec, sedangkan dengan
Doppler dapat didengar pada usia 10-12 minggu.

Kehamilan posterm dapat didiagnosis jika terdapat 3 atau lebih dari 4


kriteria hasil pemeriksaan sebagai berikut.

12
 Sudah lewat 36 minggu sejak tes kehamilan positif.
 Sudah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama didengar dengan Doppler
 Sudah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerak janin pertama kali
 Sudah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan
stetoskop Laennec
3. Tinggi fundus uteri
Pada trimester pertama, pemeriksaan tinggi fundus uteri dapat
bermanfaat jika dilakukan pemeriksaan secara berulang tiap bulan. Pada
usia kehamilan lebih dari 20 minggu, tinggi fundus uteri dapat menentukan
umur kehamilan secara kasar. Selanjutnya umur kehamilan dapat
ditentukan secara klasik maupun memakai rumus McDonald : TFU dalam
cm x 8/7 menunjukkan umur kehamilan dalam minggu, sedangkan
1,4
berdasarkan umur kehamilan dalam bulan : TFU dalam cm x 2/7.

4. Pemeriksaan Ultrasonografi
Pada trimester pertama pemeriksaan panjang kepala-tungging (crown-
rump length) memberikan ketepatan sekitar +/- 4 hari dari taksiran
persalinan. Pada umur kehamilan sekitar 16 – 26 minggu ukuran diameter
biparietal dan panjang femur memberikan ketepatan +/- 7 hari dari taksiran
persalinan. Beberapa parameter dalam pemeriksaan USG juga dapat
dipakai seperti lingkar perut, lingkar kepala dan beberapa rumus yang
merupakan perhitungan dari beberapa hasil pemeriksaan parameter seperti
tersebut di atas. Pemeriksaan pada trisemester ke- III sulit dilakukan untuk
menentukan usia kehamilan, tetapi dapat digunakan untuk menentukan
berat janin, keadaan air ketuban, ataupun keadaan plasenta yang berkaitan
dengan kehamilan postterm.1

5. Pemeriksaan Laboratorium
-Kadar Lesitin/Spingomielin
Bila lesitin dalam cairan amnion kadaranya sama, maka umurk
kehamilan sekitar 22-28 minggu lesiti 1,2 kali kdara spingomieelin:28-

13
32 minggu, pada kehamilan genap bulan rasio menjadi 2:1.
Pemeriksaan ini tidak dapa dipakai untuk menentukan kehamilan
posterm, tetapi hanya digunakan untuk menentukan apaah jann cukup
umur/matang untuk dilahirkan yang berkaitan dengan mencegah
kesalahan dalam tindakan pengakhiran kehamilan.
-Sitologi Cairan Amnion
Pengecatan nile blue sulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan
amnion. Bila jumlah sel yang mengandung lemak melebihi 10% maka
kehamilan diperkirakan 36 minggu dan apabila 50% atau lebih, maka umur
kehamilan 39 minggu atau lebih.

-Aktivitas Tromboplastin Cairan Amnion (ATCA)

ATCA meningkat seiring dengan usia kehamilan. Pada usia kehamilan


41-42 minggu, ATCA berkisar antara 45-65”, pada kehamilan >42
minggu ATCA <45”. Jika ATCA 42 – 46” menunjukkan bahwa
kehamilan postterm.

2.1.7. Tatalaksana

Proses persalinan merupakan proses yang sangat berbahaya bagi janin lebih
bulan. Oleh karena itu, perempuan yang usia kehamilannya diduga atau diketahui
lebih bulan harus segera datang ke rumah sakit. Saat mengevaluasi persalinan
aktif, dilakukan juga pemantauan denyut jantung janin, dan kontraksi uterus.2

Beberapa hal yang diperlukan dalam pengelolaan kehamilan postterm adalah


sebagai berikut:

- Menentukan apakah kehamilan memang telah berlangsung lewat bulan atau


bukan.
- Identifikasi kondisi janin dan keadaan yang membahayakan janin:
1. Pemeriksaan kardiotokografi seperti nonstree test (NST) dan
contraction stress test dapat mengetahui kesejahteraan janin sebagai

14
reaksi terhadap gerak janin atau kontraksi uterus. Bila didapat hasil
reaktif, maka nilai spesifisitas 98,8% menunjukkan kemungkinan besar
janin baik.
2. Pemeriksaan laboratorium: Estriol
3. Gerakan janin dapat ditentukan secara subjektif (normal rata-rata 7
kali/20 menit) atau secara objektif dengan tokografi (normal 10 kali/20
menit)
4. Amnioskopi. Jika air ketuban sedikit dan mengandung meconium,
resikoasfiksia sebesar 33%
- Pemeriksaan kematangan serviks dengan skor Bishop. Induksi persalinan
dapat dilaksanakan pada usia 41 maupun 42 minggu jika serviks telah
matang.
- Jika serviks sudah matang (dengan skor Bishop >5) dilakukan induksi
persalinan dan dilakukan pengawasan intrapartum terhadap jalannya
persalinan dan keadaan janin. Induksi pada serviks yang telah matang akan
menurunkan resiko kegagalan ataupun persalinan tindakan.
- Bila serviks belum matang, perlu dinilai keadaan janin lebih lanjut apabila
kehamilan tidak diakhiri:
1.NST dan penilaian kantung amnion janin. Jika keduanya normal maka
kehamilan dibiarkan berlanjut dan penilaian janin dilanjutkan seminggu dua
kali.
2. Bila oligohidroamnion (<2 m pada kantong vertical atau indeks cairan
amnion <5) atau dijumpai deselerasi variable pada NST, maka dilakukan
induksi persalinan.
3. Bila volume cairan amnion normal, dan NST tidak reaktif, tes pada
kontraksi (CST) harus dilakukan. Bila CST positif, terjadi deselerasi lambat
berulang, variabilitas abnormal (<5/20 menit) menunjukkan penurunan
fungsi plasenta janin, mendorong agar janin segera dilahirkan dengan
mempertimbangkan bedah sesar. Jika CST negative, dapat dibiarkan
berlangsung dan penilaian janin dilakukan 3 hari kemudian.

15
4. Keadaan serviks harus dinilai ulang setiap kunjungan pasien dan
kehamilan dapat diakhiri jika serviks matang.

Karena banyaknya resiko yang bisa terjadi pada kehamilan post term, maka perlu
dilakukan tatalaksana khusus, yaitu:

a) Pemeriksaan antenatal: fetal kick counts, nonstress test (NST), contraction stress

test (CST), modified biophysical profile (NST and AFI), and biophysical profile

(BPP).5

 NST
NST mengukur denyut jantung janin selama aktivitas normal dalam
hubungannya dengan gerakan/aktivitas janin. Penilaian NST dilakukan
terhadap frekunsi dasar denyut jantung (baseline), variabiitas, dan timbulnya
akselesrasi yang sesuai dengan gerakan atau aktivitas janin (fetal activity
determination). Ini bisa berlangsung 20 sampai 40 menit, selama waktu ibu
dipantau dengan fetal monitor strap di perutnya yang mendeteksi denyut
jantung janin.
Cara interpretasi dari NST:5,1

Reaktif -Terdapat paling sedikit 2 kali gerakan janin dalam waku 20


menit pemeriksaan yang disertai dengan adanya akselerasi
paling sedikit 10-15dpm.

-Frekuensi dasar denyut jantung janin diluar gerakan janin


antara 120-160

-Variabilitas denyut jantung janin antara 6-25 dpm

16
Non Reaktif -Tidaak didapatkan gerakan janin selama 20 menit pemeriksaan
atau tidak ditemukan adanya akselerasi pada setiap gerakan
janin.

-Variabilitas DJJ mungkin masih normal atau berkurang sampai


menghilang.

 CST (Contraction Stress Test)


CST dengan nama lain oxytocin challenge test (OST) dimana menggunakan
prinsip adanya kontraksi uterus akan menurunkan aliran darah ke ruang
intervilli. Menilai gambaran DJJ dalam hubungannya dengan kontraksi uterus,
CST biasanya dilakuan untuk memantau kesejahteraan janin saat proses
persalinan terjadi (inpartu). Jika janin dalam keadaan hipoksia, akan tejadi
deselerasi lambat yang menunjukkan kesejahteraan janin terganggu.
Berikut adalah cara interpretasi CST:5

Interpretasi Deskripsi Insidensi (%)

Negatif Tidak ada deselerasi dalam perekaman dengan 80


kontraksi uterus yang adekuat (3 kali dalam 10 menit)

Positif Adanya deselerasi lambat yang konsisten dan 3-5


persisten >50% dari kontraksi uterus yang tidak
berlebihan

Suspicious Deselerasi lambat yang tidak konsisten 5

Hiperstimulasi Kontraksi uterus setiap 2 menit yang berlangsung 5


>90 detik, atau 5 kontraksi uterus dalam 10 menit;
jika tidak ada deselerasi lambat, tes dianggap negatif

17
Unsatisfactory Tidak adekuatnya kontraksi uterus 5

 Modified Biophysical Profile Scoring


Modified biophysical profile merupakan penggabungan dari NST dan ICA.5

2.2. Selaput & Cairan Amnion

Selaput amnion merupakan jaringan avascular yang lentur tetapi kuat. Bagian
dalam selaput yang berhubungan dengan cairan merupakan jaringan sel kuboid yang
asalnya dari ectoderm. Jaringan ini berhubungan dengan lapisan intertisial
mengandung kolagen I, III, dan IV. Bagian luar dari selaput ialah jaringan mesenkim
yang berasal dari mesoderm. Lapisan ini berhubungan dengan koiron leave.

Lapisan dalam amnion merupakan mirovili yang berfungsi mentransfer cairan


dan metabolik. Sel mesenkim berfungsi menghasilkan kolagen sehingga selaput
menjadi lentur dan kuat. Dan menghasilkan sitokin IL-6, IL-8, MCP-1 untuk melawan
mikroorganisme.. Selaput amnion menghasilkan zat vasoaktif yaitu endotelin-1
(vasokonstriktor) dan PHRP (Parathyroid hormone related protein) suato
vasorelaksan. Sebagian cairan akan berasal dari difusi tali pusat.1

Pembentukan Cairan

18
Selaput amnion yang meliputi permukaan plasenta akan mendapatkan difusi
dari pembuluh darah korion di permukaan. Volume cairan amnion pada kehamilan
aterm ialah 800 ml, cairan amnion mempunyai pH 7,2 . Setelah 20 minggu produksi
cairan berasal dari urin janin. Sebelumnya cairan amnion juga banyak berasal dari
rembesan kulit, selaput amnion, dan plasenta. Janin juga meminum cairan amnion
(diperkirakan 500 mL/hari). Selain itu, cairan ada yang masuk ke paru sehingga penting
untuk perkembangannya. 1

Cairan amnion berfungsi sebagai kantong pelindung di sekitar janin yang


memberikan ruang bagi janin untuk bergerak, tumbuh meratakan tekanan uterus pada
partus, dan mencegah trauma mekanik dan trauma termal, serta sebagai system imun.1

Oligohidroamnion

Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana cairan amnion kurang dari


normal, dengan indeks cairan amnion yang kurang dari 5 cm. Setelah 38 minggu
volume akan berkurang, tetapi pada postterm olihgohidroamnion merupakan penanda
serius apabila bercampur dengan mekonium. Risiko kompresi tali pusat dan distress
janin meningkat dengan berkurangnya cairan pada semua persalinan, khususnya pada
kehamilan postterm.

Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan oligohidroamnion adalah kelainan


kongenital, PJT, ketuban pecah, kehamilan postterm, insufisiensi plasenta, dan obat
(misal prostaglandin). Kelainan kongenital yang paling sering menimbulkan
oligohidroamnion adalah kelainan ginjal bilateral dan obstruksi uretra dan kelainan
kromosom (trisomy 18 dan 13). Insufisiensi plasenta dapat menyebabkan hipoksia
janin.

Komplikasi yang sering terjadi adalah PJT, hipoplasia paru, deformitas pada
wajah dan skelet, kompresi tali pusat dan aspirasi meconium pada masa intrapartum,
dan kematian janin.

19
BAB 3

ILUSTRASI KASUS

3.1. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny.W

Umur : 21 tahun

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Pegawai Swasta

Agama : Islam

Alamat : Jalan Wijaya I Gg.Langgar. RT10/RW3, Kebayoran Baru,


Jakarta Selatan

No. RM : 01387082

Masuk RSF tanggal : 30 September 2015

3.2. ANAMNESIS
Autoanamnesis 30 September pukul 12.30
A. Keluhan Utama
Kehamilan lewat waktu.
(Rujukan dari puskesmas Mampang dengan G1 Hamil 42 minggu,
oligohidroamnion, Suspek Cephalo pelvic disporportion)

B. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengaku hamil 42 minggu, HPHT 10 Desember 2014. Taksiran Partus
17 September 2015. Pasien ruitn ANC tiap bulan dengan bidan di Puskesmas
Mampang 9 kali. Sudah pernah di USG sebanyak 4x. USG terakhir kali pada
hamil 8 bulan dikatakan janin baik, air ketuban berkurang, dan gerak janin aktif.
Saat kontrol terakhir, dikatakan kepala bayi belum turun ke pintu atas panggul.

20
Pasien dirujuk karena belum ada tanda persalinan pada hamil 42 minggu. Saat ini
keluhan mules (-), keluar air-air (-), keluar darah (-), pusing (-), keputihan (-), gigi
berlubang (-), buang air kecil dan buang air besar lancar. Keluhan sakit kepala,
pandangan kabur, nyeri dada, sesak, demam juga disangkal.

C. Riwayat Menstruasi

Menarche 11 tahun, lamanya haid 7 hari, siklus teratur 28 hari, 3 kali ganti
pembalut/hari, dismenorrhea (-). HPHT 10 Desember 2014. Taksiran Partus 17
September 2015.

D. Riwayat Pernikahan
Menikah 1x. Selama 9 bulan. Saat ini masih menikah.

E. Riwayat kehamilan
G1 hamil 42 minggu

1. Hamil ini

F. Riwayat Kehamilan Sekarang


Hamil muda : mual (+), muntah (-)

Hamil tua : pusing (-), kejang (-), pingsan (-)

G. Riwayat KB
Pasien belum pernah mengikuti program KB.

H. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien menyangkal memiliki penyakit hipertensi, diabetes melitus, penyakit
jantung, asma, dan alergi. Pasien tidak pernah dirawat di RS sebelumnya.
Pasien tidak pernah di operasi sebelumnya.

21
I. Riwayat Penyakit Keluarga
Di keluarga pasien, tidak ada yang memiliki riwayat penyakit hipertensi, DM,
jantung, asma, maupun alergi.

J. Riwayat Kebiasaan Sosial


Pasien tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, tidak mengkonsumsi
narkotika , dan tidak minum jamu. Pasien jarang berolahraga.

3.3 PEMERIKSAAN FISIK

A. Status Generalis

Keadaan umum : baik

Kesadaran : Compos mentis

BB : 70 Kg

TB : 150 cm

Tanda Vital : TD 120/80 mmHg N 80x/’ RR 20x/’ S 36,5ºC

Kepala : Normocephali, rambut hitam, distribusi merata

Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

THT : Sekret di telinga (-), sekret hidung (-),concha tidak


hiperemis dan tidak oedem, faring tidak hiperemis.

Leher : KGB dan tiroid tidak teraba membesar

Thorax

- Mammae : simetris, retraksi putting-/-, hiperpigmentasi +/+


- Jantung : BJ I-II reguler, murmur -, gallop –
- Paru : SN Vesikuler, Rh -/-, Wh -/-

22
Abdomen : membuncit, memanjang, striae gravidarum (+), linea
nigra (+)

Ekstremitas : akral hangat, tidak ada oedem

B. Status obstetrikus:

Abdomen

- Inspeksi : perut membuncit, striae gravidarum (+), linea nigra (+)


- Palpasi

L1 : Teraba 1 bagian besar, bundar lunak tidak melenting. TFU 37


cm.

L2 : Kanan : teraba bagian keras memanjang seperti papan

Kiri : teraba bagian-bagian kecil janin.

L3 : Teraba satu bagian besar bulat, keras, melenting

L4 : Konvergen

Rumus McDonald :

37 cm x 8/7 = Usia kehamilan 42 minggu

Taksiran berat janin (Johnson Toshack) :

{ TFU (cm) – 13 } x 155

(37 cm – 13) x 155 = 3720 gram

Kesan : TFU 37 cm, TBJ 3720 gram, Presentasi Kepala, Punggung sebelah
kanan

- Auskultasi : DJJ 144 dpm

23
Anogenital

- Inspeksi : V/U tenang, perdarahan (-)


- Inspekulo : portio livid, licin, ostium tertutup, fluxus(-), flour (-), valsava
(-)
- VT : posterior, portio kenyal, tebal 3cm, pembukaan (-) cm, kepala
Hodge I.

Pelvimetri Klinis

Promontorium : Tidak teraba

Linea inominata : 2/3-2/3

Dinding samping : Cekung

Spina ischiadika : Tajam

Distansia Interspinarium : 9

Sakrum : konkaf

Arkus pubis : <90º

Kesan panggul : Sempit

Imbang fetopelvik : Disproporsi kepala panggul (Cephalopelvic dysproportion)

3.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium (30/09/2015) :

 Darah perifer lengkap:


Hemoglobin 14.2 gr/dL / Hematokrit 42% / Leukosit 10.500/ul /Trombosit :
252.000/ul
 Hemostasis:
APTT : 30.3, Kontrol APTT: 30.
PT : 11,5, Kontrol PT: 13.6
INR : 0.81

24
Gula darah sewaktu : 75 gr/dL
Urinalisa : dalam batas normal

Kardiotokografi

Baseline: 145 dpm

Variabilitas: 5-25 dpm

Akselerasi : >2x/10 menit

Deselerasi : -

Gerak janin : >2x / 10 menit

Kontraksi : -

25
Ultrasonografi (USG)

 Janin Presentasi Kepala Tunggal Hidup


 Plasenta di korpus anterior kiri
 Maturasi Grade II, tampak kalsifikasi, DJJ (+)
 BPD : 9,11 cm
 HC : 34,29 cm
 AC : 33,32 cm
 FL : 7,599 cm
 TBJ : 3334 gram
 SDAU : 2,71
 ICA :5

26
Fungsi Dinamik Janin Plasenta (FDJP):

Variabilitas 5-25 dpm :2

Akselerasi >2x / 10 menit : 2

Gerak nafas (+) :2

SDAU 2.71 :2

Indeks cairan amnion 5 :0

FDJP :8

3.5 Resume

Ny. W 21 tahun mengaku hamil 42 minggu, HPHT 10 Desember 2014.


Taksiran Partus 17 September 2015. Pasien ruitn ANC tiap bulan dengan bidan di
Puskesmas Mampang ± 9 kali. Sudah pernah di USG sebanyak 4x. USG terakhir
kali dikatakan janin baik, air ketuban berkurang, dan gerak janin aktif. Saat kontrol
terakhir, dikatakan kepala bayi belum turun ke pintu atas panggul. Pasien dirujuk
karena belum ada tanda persalinan pada hamil 42 minggu.
Pemeriksaan Obstetri: TFU : 37 cm, punggung kanan, DJJ : 144 dpm, TBJ
klinis: 3720 gr, VT: Posterior, kenyal t: 3cm,  - cm, kepala di Hodge I. Hasil
pelvimetri klinis: kesan panggul sempit.
Pemeriksaan laboratorium dalam batas normal. Hasil kardiotokografi :
Kategori I. Hasil USG: janin presentasi kepala tunggal hidup, plasenta di korpus
anterior kiri, maturasi grade II, kalsifikasi, gerak janin (+), BPD 9,11 cm/ HC 34,29
cm/AC 33,32 cm/FL 7,599 cm/TBJ 3334 gram/ SDAU: 2,71/ ICA 5.

3.6 DIAGNOSIS
G1 hamil 42 minggu, Janin presentasi kepala tunggal hidup, belum inpartu,
oligohidroamnion (ICA 5), susp. cephalopelvic disproportion.

27
3.7 PENATALAKSANAAN
Rencana diagnosis:

- Observasi tanda vital/jam

- Observasi his dan DJJ

- Kardiotokografi

- Pemeriksaan laboratorium: Darah perifer lengkap, urinalisa, gula darah


sewaktu, PT/APTT

Rencana terapi:

Terminasi kehamilan perabdominan.

3.8 PROGNOSIS
Ibu : bonam

Janin : bonam

3.9 HASIL

• Lahir hidup bayi laki-laki BL 3390 gram, PB 50 cm AS 9/10, ketuban keruh,

jumlah sedikit, lahir plasenta lengkap. Ballard Score ~ 41-42 minggu

3.10. Laporan Operasi

Laporan Operasi (30 September 2015)

1. Pasien berbaring posisi terlentang di atas meja operasi dalam spinal anestesi

2. Dilakukan aseptic dan antiseptic daerah lapangan operasi dan sekitarnya, dilakukan
insisi pfanenstiel

3. Setelah peritoneum dibuka tampak uterus gravidarum

28
4. Plika vesikouterina disayat semilunar , kandung kemih disisihkan ke bawah.

5. SBU disayat tajam, ditembus dan dilebarkan secara tumpul. Kemudian dengan
meluksir kepala dilahirkan bayi laki-laki, 3390 gram, 50 cm, AS 9/10

6. Air ketuban keruh, jumlah sedikit, plasenta lahir lengkap

7. Kedua ujung SBU dijahit hemostasis, luka SBU dijahit 2 lapis dengan monosyn.
Diyakini tidak ada perdarahan, kedua tuba dan ovarium normal, dinding abdomen
ditutup lapis demi lapis, perdarahan intra op 100 cc, urin jernih 100 cc.

3.11. Follow Up Post SC

1/10/2015

Subyektif Nyeri bekas jahitan operasi, BAB dan BAK lancar, ASI sudah keluar

Objektif KU: Baik


Kesadaran: Compos mentis
TD: 110/70 mmHg, HR: 96x/menit, RR:18x/menit, T:36,4C
St.Generalis: dbn
St.Obstetri: I: v/u tenang

Assessment P1 Post SC a.i. CPD

Planning Observasi ttv, perdarahanm nyeri.


Cefadroxil 2x500 mg
As.Mefenamat 3 x 500 mg
Hemobion 1x1 tab
GV/hari ke 3

2/10/2015

Subyektif Nyeri bekas jahitan operasi, BAB dan BAK lancar, ASI sudah keluar

29
Objektif KU: Baik
Kesadaran: Compos mentis
TD: 110/70 mmHg, HR: 92x/menit, RR:18x/menit, T:36,4C
St.Generalis: dbn
St.Obstetri: I: v/u tenang

Assessment P1 Post SC a.i. CPD, Nifas hari ke-2

Planning Observasi ttv, perdarahanm nyeri.


Cefadroxil 2x500 mg
As.Mefenamat 3 x 500 mg
Hemobion 1x1 tab
GV/hari ke 3
Rencana pulang besok

3/10/2015

Subyektif Tidak ada keluhan

Objektif KU: Baik


Kesadaran: Compos mentis
TD: 120/90 mmHg, HR: 92x/menit, RR:18x/menit, T:36,3C
St.Generalis: dbn
St.Obstetri: I: v/u tenang

Assessment P1 Post SC a.i. .CPD, Nifas hari ke-3

Planning Cefadroxil 2x500 mg


As.Mefenamat 3 x 500 mg
Hemobion 1x1 tab

30
BAB 4

ANALISA KASUS

Berdasarkan data anamnesis menunjukkan bahwa perhitungan hari pertama


haid terakhir (HPHT) yang diyakini oleh pasien yaitu tanggal 10 Desember 2014,
sehingga taksiran persalinan pasien berdasarkan rumus Naeagele (HPHT H+7, B – 3)
jatuh pada tanggal 17 September 2015. Apabila dihitung usia kehamilan sampai dengan
tanggal data anamnesis diambil (30 September 2015), maka sesuai dengan kehamilan
42 minggu (kehamilan postterm).
Pasien tidak mengeluh mules-mules, keluhan keluar air-air, keluar lendir darah
disangkal, dan pasien mengaku gerak janin masih aktif. Pada pemeriksaan status
lokalis obstetris ditemukan TFU 37 cm, punggung kanan, DJJ 144 dpm, bagian
terbawah kepala, TBJ klinis 3720 gr. Pada inspeksi didapatkan vulva dan uretra tenang,
tidak ada perdarahan aktif. Pada inspekulo ditemukan portio livid, licin, ostium
tertutup, fluxus(-), flour (-), valsava (-). Pada pemeriksaan VT ditemukan portio
kenyal, posterir,t 3cm, pembukaan - cm, kepala belum masuk PAP, di Hodge I. Dari
data tersebut, dapat disimpulkan belum ada tanda inpartu.

Berdasarkan riwayat antenatal, kehamilan dikatakan postterm apabila


ditemukan 3 atau lebih dari 4 kriteria hasil pemeriksaan sebagai berikut:

1. Telah lewat 36 minggu sejak tes kehamilan positif

2. Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan Doppler

3. Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerakan pertama janin

4. Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan stetoskop
Laennec

31
Pada kasus diatas semua kriteria diatas tidak dapat ditelusuri karena pasien
melakukan antenatal care (ANC) di bidan dan pasien lupa mengenai poin-poin diatas
sehingga penegakkan diagnosis cukup sulit.

Penyebab dari kehamilan postterm dapat terjadi akibat dari beberapa hal seperti
adanya teori progesteron, teori kortisol/ACTH bayi, masalah saraf uterus, dan
herediter. Pada kasus ini kemungkinan etiologi dari semua yang disebutkan diatas
dapat mempengaruhi, kecuali masalah herediter dirasa tidak mempengaruhi karena
tidak ada keluarga yang sebelumnya hamil postterm.

Kehamilan postterm meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal akibat


oligohidramnion, aspirasi mekonium, dan asfiksia. Berdasarkan hasil pemeriksaan
USG didapatkan hasil yang sesuai dengan tanda-tanda kehamilan postterm yaitu
adanya air ketuban berkurang dengan ICA 5. Berkurangnya jumlah cairan amnion
dapat menyebabkan terjadinya kompresi tali pusat yang dapat membahayakan janin.
Dan pada pemeriksaan kardiotokografi, NST yang dilakukan manunjukkan reaktif
yang berarti kondisi janin dalam keadaan sejahtera.

Selain terganggunya kesejahteraan janin, dapat pula terjadi pertumbuhan janin


terhambat (PJT) maupun makrosomia. Pada kasus ini, berat badan bayi normal, yaitu
3390 gr yang berarti tidak ada PJT atau makrosomia.

Persalinan adalah waktu yang paling berbahaya bagi bagi janin postterm. Oleh
karena itu, wanita yang kehamilannya diketahui atau dicurigai postterm harus datang
ke rumah sakit sesegera mungkin setelah mereka mencurigai dirinya sedang dalam
proses bersalin. Sesuai dengan Americans College of Obstetrician and Gynecologyst,
1995 harus terus dilakukan observasi tanda-tanda vital pasien, observasai DJJ, dan his.

Pada pemeriksaan pelvimetri klinis terdapat kesan panggul sempit, dan suspek
cephalo pelvic disproportion sehingga diputuskan melakukan seksio sesaria atas
indikasi tersebut dan induksi persalinan merupakan kontraindikasi dalam keadaan
tersebut.

32
DAFTAR PUSTAKA

1. Wiknjosastro, H. Ilmu Kebidanan. edisi IV. Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo. Jakarta. 2010
2. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL (Editors). Williams Obstetrics. 23rd
Edition. New York: McGraw-Hill. 2010.
3. KM Gun, BN Chakravorty. DUTTA’s OBSTETRICS including Perinatology
and Contraception. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers (P) Ltd.
2013.
4. Pernoll ML, Benson&Pernoll Handbook of Obstetric and gynaecology.10th
ed.Boston: McGrawHill companies.2001
5. Gabbe, Steven G. Obstetrics: Normal and Problem Pregnancies, 6th Edition.
Philadelpia: Elsevier. 2007.
6. Beckmann C, Frank Ling. Obstetric and Gynecologic Sixth Edition.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2010.

33