Anda di halaman 1dari 9

Makalah Jembatan

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Sejarah dan Perkembangan Jembatan

Jembatan mempunyai arti yang sangat penting bagi setiap orang, akan
tetapi kepentingannya tidak selalu sama bagi tiap orang. Seseorang yang
melintasi jembatan setiap hari pada saat pergi bekerja, hanya dapat melintasi
sungai bila ada jembatan, dan ia menyatakan bahwa jembatan adalah sebuah
jalan yang diberi sandaran pada tepinya. Tentunya sedikit berbeda
pandangannya bagi seorang pemimpin pemerintahan dan dunia bisnis.

Dari keterangan di atas, dapat dilihat bahwa jembatan merupakan suatu


sistem transportasi untuk tiga hal, yaitu

1. Merupakan pengontrol kapasitas dari sistem, maksudnya bila lebar jembatan


kurang lebar untuk menampung jumlah pengguna lalu lintas, maka jembatan
akan menghambat laju lalu lintas.
2. Mempunyai biaya tertinggi per mil dari sistem.
3. Jika jembatan runtuh, maka sistem akan lumpuh.
Sejarah jembatan dapat dikatakan sejalan dengan waktu sejarah
peradaban manusia. Akan tetapi, keberhasilan di bidang teknik jembatan bukan
berarti suatu hal yang mudah untuk menjadi seperti sekarang ini. Beberapa abad
lampau sebelum manusia mengkategorikan lima tipe jembatan ; balok (beam),
kantilever (cantilever), pelengkung (arch), kabel gantung (suspension), dan
rangka (truss).
Contoh alami dari jembatan balok sederhana (simple beam bridge) adalah
pohon yang tumbang melintas di atas sungai. Perkembangan selanjutnya
digunakan slab-slab batu alam sebagai jembatan.
Suatu hal yang telah dicapai manusia purba saat itu adalah pemakaian
prinsip-prinsip jembatan kantilever pada kedua pangkal jembatan. Mereka
menggunakan prinsip tersebut untuk membangun bentang-bentang panjang agar
jembatan balok sederhana dapat dibangun.
Jembatan gantung digambarkan di alam oleh akar-akar pohon yang
bergantungan dan digunakan oleh manusia dan hewan untuk melewati dari satu
pohon ke pohon yang lainnya di atas sungai.
1
Makalah Jembatan

I.2 Bentuk dan Tipe Jembatan


Dari penjelasan tentang runtutan perkembangan jembatan, dapat
diklasifikasikan beberapa bentuk struktur atas jembatan yang telah berkembang
hingga saat ini, seperti yang diuraikan berikut ini ;

I.2.1 Jembatan lengkung-batu (stone arch bridge)


Jembatan pelengkung dari bahan batu, telah ditemukan pada masa
lampau, di masa Babylonia. Pada perkembangannya, jembatan jenis ini
semakin banyak ditinggalkan, jadi saat ini hanya berupa sejarah.

I.2.2 Jembatan rangka (truss bridge)


Jembatan rangka dapat terbuat dari bahan kayu atau logam.
Jembatan rangka kayu hanya terbatas untuk mendukung beban yang tidak
terlalu besar. Pada perkembangannya setelah ditemukan bahan baja, tipe
rangka menggunakan rangka baja, dengan berbagai macam bentuk yaitu tipe
Howe, tipe Pratt, dan tipe Arch.

I.2.3 Jembatan gantung (suspension bridge)


Dengan semakin majunya teknologi dan demikian banyak tuntutan
kebutuhan transportasi, manusia mengembangkan tipe jembatan gantung,
yaitu dengan memanfatkan kabel-kabel baja.

I.2.4 Jembatan beton (concrete bridge)


Dewasa ini, dengan kemajuan teknologi beton dimungkinkan untuk
memperoleh bentuk penampang beton yang beragam, bahkan dalam
kenyataan sekarang jembatan beton ini tidak hanya berupa beton bertulang
konvensional saja, tetapi setelah dikembangkan berupa jembatan prategang.

I.2.5 Jembatan haubans/cable stayed


Jembatan tipe ini sangat baik dan menguntungkan bila digunakan
untuk jembatan bentang panjang. Kombinasi penggunakan kabel dan dek
beton prategang merupakan keunggulan dari jembatan tipe ini.

2
Makalah Jembatan

BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan membahas tentang hasil pengamatan dan


analisis yang dilakukan pada empat jenis jembatan yang berbeda, yaitu ;

1. Jembatan 1 Palu
Jembatan yang menghubungkan ruas Jl. Sultan Hasanuddin dan
ruas Jl. Gadjah Mada tersebut merupakan jenis jembatan yang
menggunakan beton prategang dengan pilar yang berbentuk elips dan
memikul beban dari pipa air sebagai beban tambahannya.
Seperti yang kita ketahui, beton prategang adalah jenis beton
dimana tulangan bajanya ditarik/ditegangkan terhadap betonnya.
Penarikan ini menghasilkan sistem kesetimbangan pada tegangan dalam
(tarik pada baja dan tekan pada beton) yang akan meningkatkan
kemampuan beton menahan beban luar. Karena beton cukup kuat dan
daktail terhadap tekanan dan sebaliknya lemah serta rapuh terhadap
tarikan maka kemampuan menahan beban luar dapat ditingkatkan
dengan pemberian pratekanan (Bambang Supriyadi & Agus Setyo
Muntohar, 2007 dalam Collins & Mitchell, 1991).
Dari hasil penelusuran internet, jembatan ini memiliki panjang
bentang 132 m, jarak antar tiang sandaran 2 m, dan memiliki lebar trotoar
1,5 m. Jembatan yang diresmikan pada tanggal 21 oktober 1976 oleh
Wakil Presiden Republik Indonesia Sri Sultan Hamengkubuwono IX ini
menggunakan balok gelagar sebagai unsur pemikul utama beban
jembatannya. Gelagar jembatan akan mendukung semua beban yang
bekerja pada jembatan.
Selain itu, jembatan ini menggunakan balok girder yang dibuat
menggunakan metode pree-stress, menggunakan kabel tendon yang
diselimuti oleh balok girder yang berfungsi untuk menahan gaya tarik
yang terjadi pada balok.
Jembatan 1 terdiri dari beberapa elemen bangunan jembatan
pada umumnya, terdiri dari ;

3
Makalah Jembatan

- Tiang sandaran
- Pipa sandaran
- Plat injak
- Lantai kendaraan
- Plat kantilever (trotoar)
- Kerb
- Gelagar
- Balok diafragma
- Abutmen
- Pondasi
Ditinjau dari aspek lalu lintasnya, jembatan 1 kurang optimal
dalam menjalankan fungsinya, hal ini dikarenakan lebar jembatan yang
tidak sebanding dengan padatnya lalu lintas yang melewati jembatan
tersebut, sehingga mengakibatkan laju lalu lintas di jembatan tersebut
menjadi terhambat.
Untuk itu sangatlah penting diadakannya perencanaan ulang
terhadap jembatan tersebut. Dengan perolehan yang baik terhadap hasil
analisis yang optimum dalam perencanaan lebar optimumnya agar
didapatkan tingkat pelayanan lau lintas yang maksimum.
Selain dari pada itu, pendekatan ekonomi selayaknya juga
sebagai bahan pertimbangan biaya jembatan perlu dibuat seminim
mungkin.

4
Makalah Jembatan

2. Jembatan Gantung Maesa Palu


Jembatan yang menghubungkan ruas Jl. Miangas (maesa) dan
ruas Jl. Nunu (palu barat) tersebut merupakan jenis jembatan gantung
yang menggunakan pilon sebagai tempat untuk menggantungkan kabel
utama, memiliki hanger penggantung dan di bawah pilon terdapat pondasi
dengan blok angker.
Seperti yang kita ketahui, jembatan gantung sering digunakan
untuk jembatan dengan bentang panjang dan tanpa menggunakan pilar di
tengahnya. Jembatan gantung terdiri atas pelengkung penggantung dan
batang penggantung (hanger) dari kabel baja, dan bagian yang lurus
berfungsi mendukung lalu lintas (dek jembatan). Selain bentang utama,
jembatan gantung juga mempunyai bentang luar (side span) yang
berfungsi untuk mengikat/mengangkerkan kabel utama pada blok angker.

Gambar 2.1 Jembatan gantung (Maesa-Nunu)

5
Makalah Jembatan

3. Jembatan 3 Palu
Jembatan yang terletak di ruas Jl. Kimaja ini merupakan jembatan
bertipe rangka baja, dimana rangka baja tersebut berguna untuk
menahan balok melintang pada jembatan dan gelagar serta lantai
kendaraannya. Pada struktur bawah jembatan terdapat perancah yang
berfungsi untuk menahan gaya tarik, struktur jembatan terbuat dari beton.
Jembatan ini menggunakan tipe pondasi tiang pancang.

Gambar 3.1 Jembatan 3 Palu (Jl. Kimaja)

6
Makalah Jembatan

4. Jembatan 4 Palu
Jembatan yang menghubungkan antara Kelurahan Besusu dan
Lere tersebut merupakan jenis jembatan yang menggunakan beton
bertulang biasa dan menggunakan kabel-kabel yang digantungkan pada
pelengkung gantung yang dikombinasikan dengan pelengkung baja.
Dengan penggunaan dari kabel-kabel baja, maka beban dipikul oleh
kabel-kabel yang bergantung pada lengkungan baja tersebut.
Seperti yang kita ketahui, beton bertulang dan beton prategang
sama-sama merupakan jenis beton yang melakukan aksi komposit
bersama baja tulangan, dan bersama-sama memikul beban yang bekerja
padanya. Akan tetapi pada beton bertulang, antara beton dan baja
tulangan memikul bebannya masing-masing, yaitu beban tekan dipikul
oleh beton dan beban tarik dipikul oleh baja tulangan.
Jembatan yang diresmikan pada bulan mei tahun 2006 oleh
Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono ini
menggunakan konstruksi cable stayed single plane with box girder,
dengan menggunakan sistem busur yang mempunyai lebar 2 x 3,5 m dan
memiliki bagian ikatan angin yang terbuat dari baja. Jembatan cable
stayed merupakan jembatan yang terdiri dari satu atau lebih kolom
(pylon) yang menopangnya, dengan kabel sebagai penopang terhadap
dek jembatan.
Selain itu, pada konstruksi bawah jembatan ini terdapat pemecah
gelombang (break water) yang terbagi 2 buah untuk setiap bentangnya,
hal ini digunakan mengingat jembatan ini melintas di atas teluk palu yang
memiliki gelombang laut yang berenergi lumayan besar, sehingga
pemecah gelombang tersebut digunakan untuk memecah gelombang
yang terhempas dari teluk palu dan membuat energi gelombang akan
melemah, maka saat gelombang melewati bagian bawah jembatan
energinya tidak sampai merusak konstruksi bawah jembatan tersebut.
Jembatan ini menggunakan spondeks sebagai alas lantai
kendaraannya, spondeks berfungsi sebagai pengganti tulangan pokok
lantai kendaraan. Terdapat pula overstek pada bagian kiri dan kanan
jembatan yang pada perencanaan awalnya akan digunakan untuk
kendaraan bermotor, tetapi sekarang dimanfaatkan untuk pejalan kaki.
7
Makalah Jembatan

Ditinjau dari aspek estetikanya, jembatan 4 menjadi sebuah


kebanggaan bagi warga Kota Palu secara khusus dan warga Suawesi
Tengah umumnya, mengingat jembatan tersebut merupakan jembatan
lengkung pertama di Indonesia dan ketiga di dunia setelah Jepang dan
Prancis. Dengan keberadaan jembatan ini, teluk palu lebih terwarnai dan
terlihat lebih menarik.

Gambar 4.1 Jembatan 4 Palu


8
Makalah Jembatan

DAFTAR PUSTAKA

Supriyadi, B & Muntohar, A. S., 2007, Jembatan, Beta Offset, Yogyakarta.

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=7&ca
d=rja&ved=0CF0QFjAG&url=http%3A%2F%2Fwisata.kompasiana.com%2
Fjalan-jalan%2F2011%2F07%2F05%2Fjembatan-lengkung-baja-pertama-
ri-ke-3-di-dunia-
378123.html&ei=UEjgUJWyIcWtrAfjn4DQAQ&usg=AFQjCNEtJZV6O9pdC
6omhSjA6GfwJgDcKA&sig2=LVuvg7WwZ4gX4Fg4doDpng&bvm=bv.1355
534169,d.bmk.

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=8&ca
d=rja&ved=0CGcQFjAH&url=http%3A%2F%2Fdigilib.its.ac.id%2Fpublic%
2FITS-Undergraduate-16922-3107100063-
Paper.pdf&ei=UEjgUJWyIcWtrAfjn4DQAQ&usg=AFQjCNGyG09pAm_Y43
ovyiLeHtTIWvXjRQ&sig2=5oqkA87_kH95lpEZwqkq3g&bvm=bv.13555341
69,d.bmk

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=6&ca
d=rja&ved=0CFEQFjAF&url=http%3A%2F%2Fwikimapia.org%2F1554207
2%2Fid%2FJembatan-Palu-
III&ei=UEjgUJWyIcWtrAfjn4DQAQ&usg=AFQjCNHa8FFMHBebEbGWwq
SU3yzn4S2vCw&sig2=JSplx1Yc9sa2pCI2JFv7zA&bvm=bv.1355534169,d
.bmk