Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia membutuhkan sirkulasi

udara untuk bernafas. Pernapasan merupakan salah sistem organ terpenting

yang khususnya melibatkan paru-paru sehingga bila terjadi gangguan

pernapasan dapat mengakibatkan gawat nafas (Ince A, 2013). Oksigen

dibutuhkan untuk memberikan energi yang diperlukan oleh sel untuk

melakukan keperluan aktivitas untuk memelihara efektivitas segala fungsi

tubuh (Semedi, 2012)

Seriring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi serta pembangunan di Indonesia, menyebabkan peningkatan

polusi dan perilaku tidak sehat di masyarakat sehingga menimbulkan

beragam masalah kesehatan. Salah satu permasalahan kesehatan yang

mengganggu di masyarakat adalah penyakit pada pernapasan (Ries, 2008)

Peningkatan penyakit pernapasan beberapa tahun terakhir terus

meningkat dengan berbagai penyebab, dan yang paling banyak terjadi yakni

trauma dan infeksi (Ince A, 2013). Penyakit pernapasan merupakan satu dari

sekian banyak penyebab meningkatnya angka kematian di dunia (Ries,

2008). Satu diantaranya adalah penyakit pneumotoraks yang biasa terjadi

dalam masyarakat dan juga menjadi suatu penyebab bertambahnya angka

kesakitan bahkan angka kematian (Chang & Mukherji, 2007)


Pneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terdapat udara di dalam

rongga pleura. Pneumotoraks dibagi menjadi dua, spontan bersifat primer

dan sekunder dan pneumotoraks traumatik yang terjadi karena adanya

trauma langsung atau tidak langsung terhadap dada, termasuk di dalamnya

adalah pneumotoraks yang bersifat iatrogenik dan non iatrogenik (Light

RW, 2010).

Pneumotoraks spontan primer terjadi pada orang yang sehat tanpa

adanya penyakit paru sebelumnya. Sedangkan pneumotoraks spontan

sekunder merupakan komplikasi dari penyakit paru sebelumnya. Adanya

penyakit paru tersebut juga dapat mempersulit penanganan pneumotraks

(Simsek A,2014).

Pada penderita pneumotoraks sebelum dilakukan pemasangan water

seal drainage atau WSD, masalah yang dialami adalah penurunan ekspansi

thoraks akibat ketidakmampuan paru untuk mengembang karena terdapat

zat asing di dalam rongga pleura (MacDuff, et al., 2010). WSD yaitu

tindakan untuk mengeluarkan udara atau gas di dalam rongga pleura dengan

menggunakan water seal drainage untuk mempertahankan tekanan negatif

pada rongga pleura (Ciacca, et al., 2009). Udara yang menetap pada rongga

pleura ini menyebabkan permukaan paru terkompresi sehingga kesulitan

untuk mengembang ketika inspirasi.

Berdasarkan uraian di atas penulis ingin membahas tentang

bagaimana penatalaksanaan fisioterapi pada kasus pneumothoraks yang

terjadi di RSUP Persahabatan Jakarta Timur.


B. Rumusan Masalah

Adapun masalah yang ditemui pada kasus pneumotoraks adalah sebagai

berikut :

1. Sesak napas

2. Nyeri dada

3. Jantung berdebar-debar

4. Napas cepat

5. Kulit mungkin nampak sianosis karena kadar oksigen darah

berkurang

6. Penurunan endurance\

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan fisioterapi pada

kasus pneumotoraks.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui pemeriksaan pada kasus pneumotaraks

b. Untuk mengetahui problematika dan diagnosa fisioterapi

pada kasus pneumotoraks

c. Untuk mengetahui bagaimana penanganan fisioterapi pada

kasus pneumotoraks

d. Untuk mengetahui serta menerapkan intervensi fisioterapi

yang sesuai dan juga efektif pada pasien pneumothroaks


D. Manfaat Penulisan

1. Bagi pendidikan

Dapat digunakan untuk menambah pengetahuan tentang

penatalaksanaan fisioterapi pada kasus pneumothoraks, serta

informasi mengenai kasus pneumotoraks pada proses perkuliahan

2. Bagi Profesi Fisioterapi

Dapat dijadikan tambahan wawasan untuk menentukan tujuan dan

target yang akan di capai untuk menentukan intervensi fisioterapi

yang tepat dalam menangani kasus pneumothoraks.

3. Bagi Pasien/Keluarga

a. Pasien/keluarga dapat mengetahui tentang penyakit dan

kondisi saat ini sehingga pasien/keluarga dapat memahami

apa yang harus dilakukan pada kasus pneumothoraks

b. Agar pasien mendapatkan penanganan terapi yang tepat dan

sesuai dengan kondisi saat ini.