Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PENDAHULUAN APLIKASI KLINIS KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN BRONCHITIS DENGAN


GANGGUAN ELIMINASI URIN DI RUANG INSTALANSI GAWAT
DARURAT RUMAH SAKIT PARU JEMBER

oleh

Putri Aulia Pratama

NIM 152310101060

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS JEMBER

2018

1
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Konsep teori tentang penyakit


a. Anatomi pernapasan
Fungsi pernapasan yang utama adalah untuk mengambil oksigen (O2) dari
atmosfer ke dalam sel-sel tubuh sebagai bahan metabolisme tubuh, dan
mentranport karbondioksida (CO2) kembali ke atmosfer. Secara anatomis,
sistem respirasi dibagi menjadi saluran napas atas dan saluran napas bawah.
Saluran napas atas terdiri dari nasi, cavum nasi, sinus paranasalis dan faring.
Komponen tersebut berfungsi untuk menyaring, menghangatkan, dan
melembabkan udara, serta mencegah patogen memasuki saluran napas bawah.
Saluran napas bawah terdiri dari laring, trakhea, bronkus, bronkiolus, dan
alveolus.

Fungsi paru yang utama adalah untuk proses respirasi, yaitu pengambilan
O2 dari luar masuk ke dalam saluran napas dan terus ke dalam darah. Oksigen
digunakan untuk proses metabolisme dan CO2 yang terbentuk pada proses
tersebut dikeluarkan dari dalam darah ke udara luar. Proses respirasi terdiri atas
tiga tahap yaitu ventilasi, difusi, dan perfusi. Ventilasi adalah proses keluar dan
masuknya udara ke dalam paru serta keluarnya CO2 dari alveoli ke udara luar
(Martini, 2001).

Berdasarkan fungsi, sistem pernapasan dibagi menjadi bagian konduksi dan


bagian respirasi. Bagian konduksi berfungsi untuk membawa udara ke bagian
respirasi, yang meliputi nasal, cavum nasi, faring, laring, trachea, bronkus dan
bronkiolus. Bagian respirasi berperan dalam pertukaran gas, yaitu alveolus.
b. Definisi Penyakit

Bronkitis adalah suatu penyakit yang terjadi pada saluran pernafasan bagian
bronkus. Penyakit ini kebanyakan menyerang pada anak-anak dimana dikarenakan
faktor lingkungan yakni polutan, misalnya lingkungan yang banyak orang
merokok, asap kendaraan bermotor, asap hasil pembakaran sampah. Di Indonesia
sendiri masih banyak masyrakat yang masih terpapar akan polutan ini, sehingga
mengakibatkan angka kejadian penyakit bronkitis ini sangat tinggi. (Mirna,2014)

2
Bronkitis terbagi menjadi dua yakni bronkitis kronik dan akut. Bronkitis
kronik ialah suatu bronkitis yang ditandai dengan adanya batuk produktif yang
berlangsung selama 3 bulan dalam 1 tahun selama 2 tahun berturutg-turut. Sekresi
yang menumpuk dalam bronchioles sehingga dapat menganggu pernapasan dan
membuat napas tidak efektif. Sedangkan bronkitis akut adalah suatu bronkitis
yang terjadi secara singkat dan berat, yang mana bronkitis akut ini disebakan oleh
udara dingin, penghirupan bahan yang iritan yang biasanya ditandai dengan
demam, nyeri dada terutama saat batuk, dan dyspnea.

c. Epidemiologi

Kejadian bronkitis di Indonesia masih cukup banyak dikarenakan banyaknya


paparan polutan yang masih banyak. Pada tahun 2007 di Indonesia infeksi saluran
pernafasan bawah masih merupakan masalah kesehatan yang sangat penting.
Resiko penularan setiap tahun di Indonesia dianggap cukup tinggi. Masyarakat
yang terinfeksi di Indonesia ada sekitar 1,6 juta orang. Bronkitis biasanya bersifat
ringan dan akan sembuh secara sempurna. Akan tetapi pada penderita yang
memiliki penyakit menahun misalna penyakit jantung atau penyakit paru-paru dan
usia lanjut, bronkitis bisa menjadi masalah yang lebih serius. (Arif, 2008)

Menurut American Academy of Family Physian lebih dari 90% pasien


bronkitis memiliki riwayat pernah merokok. Tetapi faktor lain yang sedikit
kontribusinya yakni infeksi virus, atau bakteri serta polutan, terpapar iritan
ditempat kerja dan lain-lain. Iritan yang dapat menyebabkan yakni logam atau

3
fume, sulfur dioksida, hidrogen sulfida, bromin, amonia, asam kuat,
beberapaorganic solvent, dan klorin. (Puspitasari,2009)

Berdasarkan data pada RSUD Surakarta pada tahun 2014 telah ditemukan
adanya kasus bronkitis yakni sebanyak 207 kasus. Sedangkan pada tahun 2015
kasus bronkitis sampai bulan april ada sekitar 53 kasus bronkitis. Kejadian kasus
ini semakin bertambah tiap, sehingga perlu adanya antisipasi mulai sejak dini dan
pemberdayaan masyarakat akan penyebab dari bronkitis dan dampak yang kan
diakibatkan.

d. Etiologi

Menurut Marni (2014) Bronkitis biasanya disebabkan oleh virus dan bakteri.
Virus yang sering menyebabkan penyakit Respiratorik Syncytial Virus.
Penyebab lain yang sering terjadi pada bronkhitis ini adalah asap rokok, baik
perokok aktif maupun perokok pasif, atau sering menghirup udara yang
mengandung zat iritan.

Virus yang menyebabkan bronkitis, seperti rhinovirus, Respiratory Syncitial


Virus (RSV), virus influenza, virus par influenza, dan Coxsackie virus. Bronchitis
adalah suatu peradangan pada bronchus yang disebabkan oleh berbagai macam
mikroorganisme baik virus, bakteri, maupun parasit.

Bronkitis akut dapat disebabkan infeksi virus: influenza virus, parainfluenza


virus, respiratory syncytialvirus (RSV), adenovirus, coronavirus, rhinovirus, dan
lain-lain. Infeksi bakteri yang menjadi penyebab yakni bordatella pertussis,
bordatella paratersusis, haemophilus influenzae, streptoccus pneumoniae, atau
bakteri atipik. Polusi udara merupakan penyebab paling sering bronkitis,infeksi
saluran kronik, sindroma aspirasi, fibrosis kistik,psikis, dan penyakit bawaan.

Sedangkan bronkitis kronik dapat disebabkan oleh polusi udara merupakan


penyebab terbesar yang sering menjadi penyebab bronkitis kronik, debu, gas
beracun pada lingkungan kerja, serta faktor-faktor yang dapat menyebabkan
terkena bronkitis diantaranya :

4
a. Merokok
b. Daya tahan tubuh yang lemah, yang didapat karena baru pulang
dan sembuh setelah dirawat dirumah sakit.
c. Terkena iritan
e. Klasifikasi

Klasifikasi bronkitis menurut Arif (2008) terbagi menjadi 2 sebagai berikut :

a. Bronkitis Akut
Bronkitis askut ialah suatu bronkitis yang terjadi adanya batuk secara tiba-
tiba karena infeksi virus yang melibatkan jalan nafas yang besar. Bronkitis
akut pada umumnya ringan. Berlangsung singkat (beberapa hari hingga
beberapa minggu), rata-rata 10-14 hari. Meski ringan, namun adakalanya
sangat mengganggu, terutama jika disertai sesak, dada terasa berat , dan
batuk berkepanjangan.
b. Bronkitis Kronis
Bronkitis Kronis adalah suatu bronkitis yang dimana batuk yang dialami
iaalah batuk produktif yang berlangsung selama 3 bulan dalam 1 tahun
selama 2 tahun berturut-turu, walaupun demikian tidak ada standart
demikian yang dapat diterima pada anak-anak. Diagnosa kronik brnkitis
biasanya dibuat berdasar adanya batuk menetap yang biasanya terait
dengan penyalagunaan tobacco (tembakau).
f. Patofisiologi

Bronkitis akut menurut Ikawati (2009) dikaraterisir oleh adanya infeksi pada
cabang trakeobrokhial. Infeksi ini menyebabkan hiperemia dan edema
pada membran mukosa, yang kemudian menyebabkan peningkatan sekresi dahak
bronchial.Karena adanya perubahan memberan mukosa ini, maka terjadi
kerusakan pada epitelia saluran nafas yang menyebabkan berkurangnya fungsi
pembersihan mukosilir. Selain itu,peningkatan sekresi dahak bronchial yang
dapat menjadi kental dan liat, makin memperparah gangguan pembersihan
mukosilir.Perubahan ini bersifat permanen, belum diketahui, namun infeksi
pernafasan akut yang berulang dapat berkaitan dengan peningkatan hiper-
reaktivitas saluran nafas, atau terlibat dalam fatogenesis asma atau PPOK. Pada

5
umumnya perubahan ini bersifat sementara dan akan kembali normal jika infeksi
sembuh.

Menurut Kowalak (2011) Bronchitis terjadi karena Respiratory Syncytial


Virus (RSV),Virus Influenza, Virus Para Influenza, Asap Rokok, Polusi Udara
yang terhirup selama masa inkubasi virus kurang lebih 5 sampai 8 hari. Unsur-
unsur iritan ini menimbulkan inflamasi pada precabangan trakeobronkial, yang
menyebabkan peningkatan produksi sekret dan penyempitan atau penyumbatan
jalan napas. Seiring berlanjutnya proses inflamasi perubahan pada sel-sel yang
membentuk dinding traktus respiratorius akan mengakibatkan resistensi jalan
napas yang kecil dan ketidak seimbangan ventilasi-perfusi yang berat
sehingga menimbulkan penurunan oksigenasi daerah arteri.

Efek tambahan lainnya meliputi inflamasi yang menyebar luas, penyempitan


jalan napas dan penumpukan mucus di dalam jalan napas. Dinding bronkus
mengalami inflamasi dan penebalan akibat edema serta penumpukan sel-sel
inflamasi. Selanjutnya efek bronkospasme otot polos akan mempersempit lumen
bronkus. Pada awalnya hanya bronkus besar yang terlibat inflamasi ini, tetapi
kemudian semua saluran napas turut terkena. Jalan napas menjadi tersumbat dan
terjadi penutupan, khususnya pada saat ekspirasi. Dengan demikian, udara napas
akan terperangkap di bagian distal paru. Pada keadaan ini akan terjadi
hipoventilasi yang menyebabkan ketidakcocokan dan akibatnya timpul
hipoksemia. Hipoksemia dan hiperkapnia terjadi sekunder karena hipoventilasi.
Resistensi vaskuler paru meningkat ketika vasokonstriksi yang terjadi karena
inflamasi dan konpensasi pada daerah-daerah yang mengalami hipoventilasi
membuat arteri pulmonalis menyempit. Inflamasi alveolus menyebabkan sesak
napas.

g. Manifestasi Klinis

6
Gejala utama bronkitis adalah timbulnya batuk produktif (berdahak) yang
mengeluarkan dahak berwarna putih kekuningan atau hijau. Dalam keadaan
normal saluran pernapasan kita memproduksi mukus kira-kira beberapa sendok
teh setiap harinya. Apabila saluran pernapasan utama paru (bronkus) merdang,
makan bronkus akan menghasilkan mukus dalam jumlah banyak yang dapat
memicu timbulnya batuk. Selain itu karena terjadinya penyempitan jalan nafas
dapat meni,mbulkan shortness of breath.

Menurut muttaqin (2008) Tanda dan Gejala bronkititis terbagi sebagai berikut :

a. Sesak nafas / Dispnea

Sesak nafas atau dispnea adalah perasaan sulit bernafas dan merupakan
gejala yang sering di jumpai pada penderita bronkhitis. Tanda objektif yang
dapat di amati dari sesak nafas adalah nafas yang cepat, terengah- engah,
bernafas dengan bibir tertarik kedalam (pursed lip), hiperkapnia
(berkurangnya oksigen dalam darah), hiperkapnia atau meningkatnya
kadar karbondioksida dalam darah.

b. Nafas berbunyi
Bunyi mengi (weezing) adalah suara pernafasan yang di sebabkan
oleh mengalirnya udara yang melalui saluran nafas sempit akibat kontriksi
atau ekskresi mucus yang berlebihan.
c. Batuk dan Sputum

Batuk adalah gejala paling umum pada penderita bronkhitis,


seringkali pada penderita bronkhitis mengalami batuk- batuk hampir setiap
hari serta pengeluaran dahak sekurang- kurangnya 3 bulan berturut-
turut dalam satu tahun dan paling sedikit 2 tahun.

d. Nyeri dada.

Nyeri dada sering sekali terjadi pada penderita bronkitis karena ada
inflamasi pada bronkus. Pada penderita bronkitis rasa nyeri di dada di
rasakan dengan tingkat keparahan penyakit.

7
e. Nafas cuping hidung

Pada balita dan anak- anak penderita bronkhitis kadang terjadi


adanya nafas cuping hidung, tetapi tidak semua penderita bronkhitis
mengalami hal tersebut.Dengan adanya cuping hidung berarti terdapat
gangguan pada sistem pernafasan yang menyebabkan kepayahan dalam
bernafas.

h. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia

1. Definisi
Eliminasi merupakan proses pembuangan sisa-sisa metabolisme tubuh.
Pembuangan dapat melalui urine ataupun bawel. Eliminasi urine
normalnya adalah pengeluaran cairan. Proses pengeluaran ini sangat
bergantung pada fungsi-fungsi organ eliminasi urine seperti ginjal, ureter,
bladder dan uretra. Ginjal memindahkan air air dari darah dalam bentuk
urine. Ureter mengalirkan urine ke bladder. Bladder urine ditampung
sampai mencapai batas tertentu yang kemudian dikeluarkan melalui uretra
(Tarwoto dan Hartonah, 2006).

2. Anatomi dan Fisiologi


Eliminasi urine tergantung kepada fungsi ginjal, ureter, kandung kemih,
dan uretra. Semua organ sistem perkemihan harus utuh dan berfungsi
dengan baik, supaya urine berhasil di keluarkan dengan baik (Potter &
Perry, 2005). Berikut diuraikan anatomi dan fisiologi organ sistem
perkemihan menurut Hidayat (2006).

a. Ginjal
Ginjal adalah organ berbentuk kacang berwarna merah tua, panjang
12,5 cm dan tebalnya 2,5 cm. Beratnya kurang lebih 125 sampai 175 gram

8
pada laki-laki dan 115-155 gram pada wanita. Ginjal terletak pada bagia
belakang rongga abdomen bagian atas setinggi vertebrata thorakal 11 dan
12, ginjal dilindungi oleh otot-otot abdomen, jaringan lemak atau kapsul
adiposa. Nefron merupakan unut struktural dan fungsional ginjal. 1 ginjal
mengandung 1 sampai 4 juta nefron yang merupakan unit pembentuk
urine. Proses filtrasi, absorbsi dan sekresi dilakukan di nefron. Filtrasi
terjadi di glomerulus yang merupakan yang merupakan gulungan kapiler
dan dikelilingi kapsul epitel berdinding ganda yang disebut kapsul
bowman.
Fungsi utama ginjal adalah mengeluarkan sisa nitrogen, toksin, ion dan
obat-obatan, mengatur jumlah dan zat-zat kimia dalam tubuh,
mempertahankan keseimbangan antara air dan garam-garam serta asam
dan basa, menghasilkan renin, enzim untuk membantu pengaturan tekanan
darah, menghasilkan hormon eritropoitin yang menstimulasi pembentukan
sel-sel darah merah di sum-sum tulang dan membantu dalam pembentukan
vitamin D.

b. Ureter

Setelah urine terbentuk kemudian akan di alirkan ke pelvis ginjal lalu


ke bladder melalui ureter. Panjang ureter pada orang dewasa antara 26
sampai 30 cm dengan diameter 4 sampai 6 mm. Setelah meninggalkan
ginjal, ureter berjalan ke bawah dibelakang peritoneum ke dinding bagian
belakang kandung kemih. Lapisan tengah ureter terdiri atas otot-otot yang
di stimulasi oleh transmisi impuls elektrik berasal dari saraf otonom.
Akibat gerakan peristaltik ureter maka urine di dorong ke kandung kemih.

c. Kandung kemih

Kandung kemih merupakan tempat penampungan urine, terletak di


dasar panggul pada daerah retroperitoneladan terdiri atas otot-otot yang

9
dapat mengecil. Kandung kemih terdiri atas dua bagian fundus atau body
yang merupakan otot lingkar, tersusun dari otot detrusor danbagian leher
yang berhubungan langsung dengan uretra. Pada leher kandung kemih
terdapat spinter interna. Spinter ini di kontrol oleh sistem saraf otonom.
Kandung kemih dapat menampug 300 sampai 400 ml urine.

d. Uretra

Merupakan saluran pembuangan urine yang langsung keluar dari tubuh.


Kontrol pengeluaran urine terjadi karena adanya spinter kedua yaitu
spinter eksterna yang dapat di kontrol oleh kesadaran kita. Panjang uretra
wanita lebih pendek yaitu 3,7 cm sedangkan pria 20 cm. Sehingga pada
wanita lebih sering beresiko terjadinya infeksi saluran kemih.
3. Masalah-masalah eliminasi urine

Pasien yang memiliki masalah perkemihan paling sering mengalami


gangguan dalam aktivitas berkemihnya. Gangguan ini diakibatkan oleh
kerusakan fungsi kandung kemih, adanya obstruksi pada aliran urine yang
mengalir, atau ketidakmampuan mengontrol berkemih (Potter & Perry,
2005) sehingga muncul masalah-masalah eliminasi seperti dibawah ini
(Hidayat, 2006) :

a. Retensi Urine
Merupakan penumpukan urine dalamm bladder dan ketidak mampuan
bladder untuk mengosongkan kandung kemih. Penyebab distensi bladder
adalah urin yang terdapat dalam bladder melebihi 400 ml. Normalnya
adalah 250-450 ml.

b. Inkontinensia urine

10
Adalah ketidakmampuan otot spinter eksternal sementara atau
menetap untuk mengontrol ekskresi urine.

c. Enuresis

Merupakan ketidaksanggupan menahan kemih yang diakibatkan


ketidakmampuan untuk mengendalikan spinter eksterna. Biasanya terjadi
pada anak-anak atau pada orang jompo.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi urine

Banyak faktor yang mempengaruhi volume dan kualitas urine serta


kemampuan klien untuk berkemih (Hidayat, 2006).

a. Diet dan asupan


Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang memengaruhi
output atau jumlah urine. Protein dan natrium dapat menentukan jumlah
urine yang dibentuk. Selain itu, kopi juga dapat eningkatkan
pembentukan urine.
b. Respons keinginan awal untuk berkemih
Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat
menyebabakan urine banyak tertahan di vesika urinaria sehingga
memengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah pengeluaran urine.
c. Gaya hidup
Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan
eliminasi, dalam kaitannya dengan ketersediaan fasilitas toilet.

d. Stres psikologis

11
Meningkatnya stres dapat mengakibatkan seringnya frekuensi
keinginan berkemih. Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk
keinginan berkeinginan berkemih dan jumlah urine yang dihasilkan.
e. Tingkat aktivitas
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinaria yang baik
untuk fungsi sfingter. Hilangnya tonus otot vesika urinaria menyebabkan
kemampuan pengontrolan berkemih menurun dan kemampuan tonus otot
didapatkan dengan beraktivitas.
f. Tingkat perkembangan
Tingkat pertumbuhan dan perkembangan dapat mempengaruhi pola
berkemih. Hal tersebut dapat ditemukan pada anak, yang lebih memiliki
kecenderungan untuk mengalami kesulitan mengontrol uang air kecil.
Namun dengan bertambahnya usia kemampuan untuk mengontrol buang
air kecil semakin meningkat.
g. Kondisi penyakit
Kodisi penyakit tertentu seperti diabetes melitus, ginjal dan lain-lain
dapat memengaruhi produksi urine.
h. Sosiokultural
Budaya dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine,
seperti adanya kultur masyarakat yang melarang buang air kecil di
tempat tertentu.
i. Kebiasaan seseorang
Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemih di toilet dapat
mengalami kesulitan untuk berkemih dengan melalui urinal atau pot
urine bila dalam keadaan sakit.
j. Tonus otot
Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses
berkemih adalah kandung kemih, otot abdomen, dan pelvis. Ketiganya
sangat berperan dalam kontaksi pengontrolan pengeluara urine.

k. Pengobatan

12
Efek pengobatan menyebabkan peningkatan atau penurunan jumlah
urine. Misalnya pemberian diuretik hormon dapat menigkatkan jumlah
urine sedangkan pemberian obat antikolinergik atau antihipertensi dapat
menyebabkan retensi urine.
5. Perubahan Pola Eliminasi urine
Pola eliminasi urine sangat tergantung pada individu, biasanya miksi
setelah bekerja, makan atau bangun tidur. Normalnya miksi dalam satu
hari sekitar 5 kali. Perubahan pola eliminasi urine merupakan keadaan
seseorang yang mengalami gangguan pada eliminasi urine, disebabkan
oleh multiple (obstruksi anatomis), kerusakan motorik sensorik dan infeksi
saluran kemih. Hal itu lah yang mempengaruhi perubahan pola eliminasi
(Hidayat, 2006).
Warna urine normal adalah kuning terang karena adanya pigmen
urochrome. Namun demikian, warna urine tergantung pada intake cairan,
keadaan dehidrasi konsentrasinya menjadi pekat dan kecoklatan,
penggunaan obat-obat tertentu seperti multivitamin dan preparat besi maka
urine akan berubah menjadi kemerahan sampai kehitaman. Bau urine
normal adalah bau khas amoniak yang merupakan hasil pemecahan urea
oleh bakteri. Pemberian pengobatan akan memengaruhi bau urine
(Tarwoto dan Hartonah, 2006). Menurut Hidayat (2006), pola eliminasi
terdiri dari:
a. Frekuensi
Frekuensi merupakan banyaknya jumlah berkemih dalam sehari.
Peningkatan frekuensi berkemih dikarenakan meningkatnya jumlah
cairan yang masuk. Frekuensi yang tinggi tanpa suatu tekanan asupan
cairan dapat disebabkan oleh sistisis. Frekuensi tinggi dapat ditemukan
juga pada keadaan stres atau hamil.

b. Urgensi

13
Urgensi adalah perasaan seseorang untuk berkemih, takut mengalami
inkontinensia jika tidak berkemih. Pada umumya terjadi pada anak-anak
karena memiliki kemampuan buruk dalam mengontrol sfingter.
c. Disuria
Disuria adalah keadaan rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih. Hal
ini sering ditemukan pada penyakit infeksi saluran kemih, trauma pada
vesika urinaria dan striktur uretra.
d. Poliuria
Poliuria merupakan produksi urine abnormal dalam jumlah besar oleh
ginjal, tanpa adanya peningkatan asupan cairan. Hal ini biasanya
ditemukan pada penderita diabetes melitus, defisiensi anti diuretik
hormon (ADH), dan penyakit ginjal kronik.
e. Urinaria Supresi
Urinaria supresi adalah berhentinya produksi urine secara mendadak.
Secara normal, urine diproduksi oleh ginjal pada kecepatan 60-120
ml/jam secara terus-menerus.

6. Asuhan Keperawatan

a. Pengkajian
Untuk mengidentifikasi masalah eliminasi urine dan mengumpulkan
data guna menyusun suatu rencana keperawatan, perawat perlu
melakukan pengkajian keperawatan. Menurut Tarwoto dan Hartonah
(2006) hal-hal yang perlu di kaji adalah sebagai berikut:
1) Riwayat keperawatan

a. Pola berkemih

b. Gejala dari perubahan berkemih

c. Faktor yang mempengaruhi berkemih

2) Pemeriksaan fisik

14
Pada abdomen perlu diperiksa pembesaran, pelebaran pembuluh darah
vena, distensi bladder, pembesaran ginjal, nyeri tekan, tenderness,
bising usus. Pada genitalia wanita perlu dilakukan pemeriksaaan
inflamasi, nodul, lesi, adanya sekret dari meatus, keadaan atropi
jaringan vagina dan pada genitalia laki-laki periksa kebersihan, adanya
lesi, tenderness, adanya pembesaran skrotum.
3) Intake dan output cairan
Lakukan pengkajian intake dan output cairan dalam satu hari,
kebiasaan minum di rumah dan intake, cairan infus, oral, makanan,
NGT kemudian kaji perubahan volume urine untuk mengetahui ketidak
seimbangan cairan. Lakukan pengkajian output urine dari urinal, cateter
bag, drainage, ureterostomi, sistostomi dan periksa karakteristik urine
seperti : warna, kejernihan, bau dan kepekatan.
4) Pemeriksaan diagnostik
Untuk data yang lebih lengkap dan akurat perhatikan pemeriksaan
diagnostik pada urine, seperti warna normalnya adalah jernih
kekuningan, penampilan urine normalnya jernih, bau beraroma, Ph
normalnya 4,5-8,0, berat jenis normalnya 1,005-1,030, glukosa
normalnya tidak terdapat pada urine dan tidak terdapat keton pada urine
normal.

i. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan fungsi paru

Respirasi dalam praktek klinik bermakna sebagai suatu siklus inspirasi dan
ekspirasi. Frekuensi pernapasan orang dewasa normal berkisar 12 - 16 kali
permenit yang mengangkut kurang lebih 5 liter udara masuk dan keluar paru.
Volume yang lebih rendah dari kisaran normal seringkali menunjukkan malfungsi
sistem paru. Volume dan kapasitas paru diukur dengan alat berupa spirometer atau
spirometri.

Udara yang keluar dan masuk saluran pernapasan saat inspirasi dan ekspirasi
sebanyak 500 ml disebut dengan volume tidal, sedang volume tidal pada tiap

15
orang sangat bervariasi tergantung pada saat pengukurannya. Rata-rata orang
dewasa 70% (350 ml) dari volume tidal secara nyata dapat masuk sampai ke
bronkiolus, duktus alveolus, kantong alveoli dan alveoli yang aktif dalam proses
pertukaran gas. (manurung, 2008 )

b. Analisa gas darah

Gas darah arteri memungkinkan utnuk pengukuran pH (dan juga


keseimbangan asam basa), oksigenasi, kadar karbondioksida, kadar bikarbonat,
saturasi oksigen, dan kelebihan atau kekurangan basa. Pemeriksaan gas darah
arteri dan pH sudah secara luas digunakan sebagai pegangan dalam
penatalaksanaan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun.
Pemeriksaan gas darah juga dapat menggambarkan hasil berbagai tindakan
penunjang yang dilakukan, tetapi kita tidak dapat menegakkan suatu diagnosa
hanya dari penilaian analisa gas darah dan keseimbangan asam basa saja, kita
harus menghubungkan dengan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan data-data
laboratorium lainnya.

c. Ukuran-ukuran dalam analisa gas darah:


d. PH normal 7,35-7,45
e. Pa CO2 normal 35-45 mmHg
f. Pa O2 normal 80-100 mmHg
g. Total CO2 dalam plasma normal 24-31 mEq/l
h. HCO3 normal 21-30 mEq/l
i. Base Ekses normal -2,4 s.d +2,3
j. Saturasi O2 lebih dari 90%.
k. (manurung, 2008 )
d. Pemeriksaan Radiologis

Pemeriksaan foto thoraks posterior-anterior dilakukan untuk menilai derajat


progresivitas penyakit yang berpengaruh menjadi penyakit paru obstruktif
menahun. Untuk mengetahui ada tidankua tubular shadow berupa bayangan garis-
garis yang paralel keluar dari hilus menuju apeks paru dan corakan paru yang
bertambah. (manurung, 2008 )

e. Pemeriksaan Laboratorium

16
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya perubahan pada
peningkatan eosinofil (berdasarkan pada hasil hitung jenis darah). Sputum
diperiksa secara makroskopis untuk diagnosis banding dengan tuberculosis paru.
Apabila terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob, akan menimbulkan sputum
sangat berbau, pada kasus yang sudah berat, misalnya pada saccular type
bronchitis, sputum jumlahnya banyak sekali, puruen, dan apabila ditampung
beberapa lama, tampak terpisah menjadi 3 bagian antara lain :

a. Lapisan teratas agak keruh


b. Lapisan tengah jernih, terdiri atas saliva (ludah)
c. Lapisan terbawah keruh terdiri atas nanah dan jaringan nekrosis dari
bronkus yang rusak (celluler debris). (mutaqin, 2008)
j. Penatalaksaan Farmakologi dan Non Farmakologis
a. Penatalaksaan Farmakologis

Apabila penyebab di karenakan oleh virus belum ada obat khusus, anti biotik
tidak ada gunanya. Banyak minum terutama air buah sangat memadahi. Obat
penekan batuk tidak boleh di berikan pada batuk yang berlendir. Bila batuk tidak
mereda pada 2 minggu patut dicurigai kemungkinan infeksi skunder dan
pemberian anti biotik dapat di berikan asal telah hilang kemungkinan terjadi
pertusis.bakteri yang di anjurkan adalah Amoxillin, ko-trimoxasol dan golongan
mikrolide.anti biotik di berikan selama dua minggu dan bila tidak berhasil maka
dilakukan rongen foto toraks untuk menyingkirkan adanya kulaps paru segmental
dan lober, benda asing dan tuberkulosis.

Bila bronkitis akut terjadi berulang kali perlu di kaji adanya penyebab lain seperti
kelainan saluran nafas,benda asing, bronkiektasis, defisiensi imonologis,
hiperreaktivitas bronkus, dan ISPA (infeksi saluran nafas atas akut) atas yang
belum teratasi.

Daftar Obat Pada Bronkitis Menurut Respiratori Disosder

NO NAMA DOSIS
1 Hidrocodone Bitatrar Antitusif 5 – 10 Mg
2 Codein Phospat Antitusif 10 – 20 Mg
3 Dextrometorpan Analgesik 10 – 20 Mg/ 4 Jam, 30 Mg/6 Jam

17
nonnarktik
4 Noscapine Analgesik nonnarktik 15 – 30 Mg
5 Levopropoxyphene Analgesik 50 – 100Mg
nonnarktik
6 Terbutaline Bronkodilator 2,5 – 5 Mg
7 Theophylline Bronkodilator Sesuai dengan serum theopilin
8 Doxycyline Antibiotik 250 – 500 Mg PO
9 Terramicin Antibiotik 250 – 500 Mg PO
10 Amphisilin Antibiotik 250 – 500 Mg PO

Terapi kortikostreroid mungkin digunakan ketika pasien tidak menunjukkan


keberhasilan terhadap pengukuran yang lebih konservatif. Pasien harus
menghentikan cara hidup yang biasanya merokok karena dapat menyebabkan
bronchoconstrictor, melumpuhkan silia, yan penting dalam membuang partikel
yang mengiritasi, dan menginaktivasi surfuctants yang memainkan peran penting
dalam memudahkan pengembangan paru-paru. Dan juga lebih rentan terkena
infeksi jika pasien tetap merokok

b. Penatalaksaan Non Farmakologis

Penatalaksaan non farmakologi yang dapat dilakukan pada pasien bronkitis


yakni memenuhi intake cairan sampai diatas atau lebih 4000 ml perhari dengan
memanipulasi lingkungan disekitar pasien dengan uap panas atau kabut dingin
yang berfungsi untuk mengencerkan dahak pasien.Anjurkan pasien untuk banyak
minum untuk mempertahanakn daya tahn tubuh pasien setalah muntah karena
biasanya pasiend dengan bronkitis mengalami muntah.

18
B. Clinical Pathway

Penyebab ( virus, bakteri, asap rokok, paparan polutan)

Peradangan bronchus

Edema,spasme bronchus,
peningkatan sekret

Penurunan fungsi silia Mualbronchioles


Obtruksi & muntah
Batuk

Pengeluaran energy
anorexia
Akumulasi Sekret Udara terperangkap meningkat
didalam alveolus
Penurunan berat
badan
Bersih Jalan Nafas tidak
Intoleransi
PaO2 rendah dan PaCO2
efektif aktivitas
tinggi Ketidakseimbanga
n nutrisi kurang
dari kebutuhan
Suplai O2 ke jaringan
rendah

Gangguan Ventilasi Inflamasi alveolus


sesak napas
Pola napas tidak
efektif

Gangguan pertukaran
gas

19
Pathway Gangguan Eliminasi Urin

20
C. Proses Keperawatan
a. Pengkajian
Nama Perawat :
Tempat Pengkajian :
Tanggal dan waktu :

I. Biodata (Identitas Pasien)


Tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis
kelamina,alamat rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa, bahasa
yang dipakai, status pendidikan, pekerjaan pasien dan penanggung jawab
pasien serta tanggal masuk rumah sakit
II. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Saat dilakukan pengkajian biasanya penderita bronchitis akan
mengeluh sesak nafas, disertai batuk mengandung sekret yang tidak
bisa keluar.
b. Riwayat penyakit sekarang
Penyakit bronchitis mulai dirasakan saat penderita mengalami
batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari terutama pada saat
bangun pagi selama minimum 3 bulan berturut-turut tiap tahun
sedikitnya 2 tahun produksi sputum (hijau, putih / kuning) dan banyak
sekali. Penderita biasanya menggunakan otot bantu pernafasan, dada
terlihat hiperinflasi dengan peninggian diameter AP, bunyi nafas
crackles, warna kulit pucat dengan sianosis bibir, dasar kuku.
c. Riwayat penyakit dahulu
Biasanya penderita bronchitis sebelumnya belum pernah
menderita kasus yang sama tetapi mereka mempunyai riwayat penyakit
yang dapat memicu terjadinya bronchitis yaitu riwayat merokok,
terpaan polusi kimia dalam jangka panjang misalnya debu / asap.
d. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya penyakit bronchitis dalam keluarga bukan merupakan
faktor keturunan tetapi kebiasaan atau pola yang tidak sehat seperti
kebiasaan merokok.
III. Pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Adanya tindakan medis dan perawatan di rumah sakit
mempengaruhi perubahan persepsi tentang kesehatan. Kemungkinan

21
adanya riwayat kebiasaan merokok, minum alcohol, dan penggunaan
obat-obatan bisa menjadi faktor predisposisi timbulnya penyakit.
b. Pola nutrisi dan metabolik
Pola nutrisi pasien dengan bronchitis perlu dikaji sebelum dan
selama di rumah sakit karena secara umum pasien dengan bronchits
akan mengalami penurunan berat badan secara significant.
c. Pola eliminasi
Pada pola eliminasi perlu dikaji adanya keluhan pasien dalam
memenuhi kebutuhan dalam bereliminasi baik pola eliminasi BAB
maupun BAK.
d. Pola aktivitas dan latihan
Pola aktivitas pasien perlu dikaji karena pasien dengan bronchitis
akan mengalami gangguan akibat adanya sesak yang disebabkan
peningkatan sputum.
e. Pola istirahat dan tidur
Pola istirahat dan tidur pada pasien dengan bronchitis akan
mengalami gangguan akibat sesak dan kecemasan yang dialami.
f. Pola persepsi sensori dan kognitif
Perlu dikaji adanya gangguan persepsi dan sensori akibat adanya
proses penyakit
g. Pola hubungan dengan orang lain
Gejala bronchitis sangat membatasi pasien untuk menjalankan
kehidupannya ssecara normal. Pasien perlu menyesuaikan
kondisinya berhubungan dengan orang lain.
h. Pola reproduksi dan seksual
Reproduksi seksual merupakan kebutuhan dasar manusia, bila
kebutuhan ini tidak terpenuhi akan terjadi masalah dalam kehidupan
pasien. Masalah ini akan menjadi stressor yang akan meningkatkan
kemungkinan terjadinya suatu penyakit.
i. Pola persepsi diri dan konsep diri
Perlu dikaji tentang pasien terhadap penyakitnya. Persepsi
yang salah dapat menghambat respon kooperatif pada diri pasien. Cara
memandang diri yang salah juga akan menjadi stressor dalam
kehidupan pasien.
j. Pola mekanisme dan koping
Stress dan ketegangan emosional merupakan faktor instrinsik
pencetus penyakit bronchitis, maka perlu dikaji penyebab terjadinya

22
stress. Frekuensi dan pengaruh terhadap kehidupan pasien serta cara
penanggulangan terhadap stressor.
k. Pola nilai kepercayaan dan keyakinan
Kedekatan pasien pada sesuatu yang diyakini di dunia dipercayai
dapat meningkatkan kekuatan jiwa pasien. Keyakinan pasien terhadap
Tuhan Yang Maha Esa serta pendekatan diri pada-Nya merupakan
metode penanggulangan stress yang konstruktif.
IV. Pemeriksaan Fisik
a. Tekanan Darah : 120/70 mmHg (usia 6-8 tahun normal sistol 100-
105 diastol 56-57)
b. Nadi : 120 x/menit (normal 70-110 x/menit)
c. Suhu : 38°C (normal 36,5-37,5°C)
d. RR : 23 x/menit (normal 16-22 x/menit)

B1 (breathing)

a. Inspeksi : Pada pasien bronkitis terlihat burrel chest,pernapsan cuping


hidung. RR cenderung meningkat dan Px biasanya dyspneu.
b. Palpasi : Fremitus fokal menurun
c. Perkusi : Hyperresonance (peningkatan suara resonance)
d. Auskultasi : Suara nafas terdengar ronkhi (grok-grok)

B2 (blood)

a. Inspeksi : diperhatikan letak ictus cordis, normal berada pada ICS – 5


pada linea medio claviculaus kiri selebar 1 cm. Pemeriksaan ini bertujuan
untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran jantung,cor pulmonar.
b. Palpasi : Untuk menghitung frekuensi jantung (health rate) dan harus
diperhatikan kedalaman dan teratur tidaknya denyut jantung (papitasi),
didapatkan takikardi (peningkatan denyut jantung).
c. Perkusi : Suara jantung perkusi normal dullness, tetapi pada bronkithis
perkusi jantung pekak. Hal ini bertujuan untuk menentukan adakah
pembesaran jantung atau ventrikel kiri.
d. Auskultasi : Adakah bunyi jantung III yang merupakan gejala payah
jantung serta adakah murmur yang menunjukkan adanya peningkatan arus
turbulensi darah. Tekanan darah pasien menunjukkan hypertensi.

B3 (brain)

23
a. Inspeksi : Inspeksi tingkat kesadaran perlu dikaji Disamping juga
diperlukan pemeriksaan GCS. Adakah composmentis atau somnolen atau
comma.
b. Palpasi : Selain itu fungsi-fungsi sensoris juga perlu dikaji seperti
pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan dan pengecapan.
c. Perkusi : Dilakukan pemeriksaan refleks patologis dan refleks
fisiologisnya.

B4 (bladder)

a. Pengukuran volume output urine dilakukan untk memonitor adanya


oliguria (sekresi urin yg berkurang dlm hub. Dg asupan cairan.

B5 (bowel)

a. Inspeksi
Apakah abdomen membuncit atau datar, tepi perut menonjol atau tidak,
umbilicus menonjol atau tidak, selain itu juga perlu di inspeksi ada
tidaknya benjolan-benjolan atau massa.
b. Palpasi
Adakah nyeri tekan abdomen, adakah massa (tumor, feces), turgor kulit
perut untuk mengetahui derajat hidrasi pasien, apakah hepar teraba, juga
apakah lien teraba.
c. Perkusi
Perkusi abdomen normal tympani, adanya massa padat atau cairan akan
menimbulkan suara pekak (hepar, asites, vesika urinarta, tumor).
d. Auskultasi
untuk mendengarkan suara peristaltik usus dimana nilai normalnya 5-35
kali permenit.

B6 (bone)

a. Inspeksi : adakah edema peritibial


b. Palpasi : pada kedua ekstremetas untuk mengetahui tingkat perfusi perifer
serta dengan pemerikasaan capillary refil time.
c. Perkusi : dengan inspeksi dan palpasi dilakukan pemeriksaan kekuatan
otot kemudian dibandingkan antara kiri dan kanan.

24
Analisa Data

Data Etiologi Masalah keperawatan


DS Ketidakefektifan pola Ketidakefektifan pola
Klien mengatakan sesak nafas nafas
napas dan bertambah
saat beraktivitas. Serta sesak nafas, nafas
adanya dahak saat batuk pendek dan batuk
DO
a. Ada suara nfas Penumpukan Sekret
tambahan berlebih
b. Klien nampak
sesak saat
Bronkitis
beraktivitas
c. Klien terlihat
nampak batuk
d. Klien bernapas
menggunakan otot
– otot pernapasan
DS Ketidakseimbangan Ketidakseimbangan nutrisi
Klien mengatakan tidak nutrisi: kurang dari kurang dari kebutuhan
nafsu makan dan juga kebutuhan tubuh tubuh
sering mual dan muntah

25
DO Penurunan berat badan
a. Porsi makan pasien
2 sendok sehari
Anorexsia
b. Badan pasien
nampak kurus
c. Berat badan pasien Mual dan Muntah
menurun

DS Intoleransi aktivitas Intoleransi aktivitas


Klien mengatakan sesak
napas dan bertambah Pengurangan Energi
saat beraktivitas, tubuh
batuknya berdahak,
sering mual dan muntah Pasien lemah dan lesu
dan juga lemah
DO
a. Klien nampak Batuk ,Sesak, dan mual
batuk muntah
b. Klien nampak
gelisah
c. Klien terlihat
pucat dan lesu
d. Klien dibantu
saat beraktivitas

b. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul

1. Ketidakefektifan Pola Nafas berhubungan dengan penumpukan sekret


yang berlebih
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan penurunan berat badan yang ditandai dengan mual muntah.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan pengurangan energy tubuh
yang ditandai dengan pasien batuk dan sesak saat beraktivitas.

26
c. Intervensi / Nursing Care Plan

No Diagnosa Keperawatan Tujuan Dan Criteria Intervensi Rasional


Hasil
1 00032 Pola nafas tidak Setelah dilakukan 3140 Manajemen 1. Mencegah
efektif tindakan 1 x 60 menit jalan nafas terjadinya suara
Definisi : inspiras dan atau Definisi :
pasien dapat bernafas nafas tambahan
ekpirasi yang tidak Fasilitasi 2. Menjaga
dengan nyaman dan
memberi ventilasi adekuat. kepatenan jalan kepatenan jalan
sekret berkurang
Kriteria hasil : nafas nafas
Batasan Karakteristik :
1. Pasien mampu 1. Berikan edukasi 3. Membantu
1. Bradipnea
2. Dispnea mendemostrasi pasien terkait mengoptimalkan
3. Fae ekspirasi
kan batuk penyakitnya pernafasan
memanjang 2. Buka jalan 4. Mengoptimalkan
efektif dan
4. Orthopnea
nafas, guanakan kondisi tubuh
5. Penggunaan otot tidak ada suara
teknik chin lift
bantu pernapasan nafas
6. Penurunan atau jaw thrust
tambahan
kapasitas vital 2. Jalan nafas bila perlu.
7. Penurunan tekanan 3. Posisikan
klien paten
ekpirasi pasien untuk
tida seperti
8. Penurunan tekanan
memaksimalkan
merasa
inspirasi
ventilasi
9. Penurunan tercekik,
4. Lakukan
ventilasi semenit frekuensi
kolaborasi
10. Pernapasan bibir
normal, tidak
11. Pernapasan cuping dengan tenaga
dan sura nafas
hidung kesehatan
12. Perubahan ekskursi yang abnormal
lainnya
3. Tanda-tanda
dada 5. Identifikasi
13. Pola napas vital dalam
pasien perlunya
abnormal rentang

27
14. Takipnea normal. pemasangan
Faktor yang berhubungan : alat jalan nafas
1. Ansietas buatan
2. Cedera medula 6. Lakukan
spinalis fisioterapi dada
3. Deformitas dinding 7. Buang sekret
dada dengan
4. Deformitas tulang
memotivasi
5. Deformitas
pasien untuk
neuromuskular
6. Gangguan melakukan
muskuloskeletal batuk atau
7. Gangguan
menyedot lendir
neurologis 8. Motivasi pasien
8. Hiperventilasi
untuk bernafas
9. Imaturasi
pelan, dalam,
neurologis
10. Keletihan berputar dan
11. Keletihan otot
batuk
pernapasan 9. Intruksikan
12. Nyeri
bangaimana
13. Obesitas
14. Posisi tubuh yang cara agar pasien
menghambat bisa batuk 1. Menjaga
10. Auskultasi jalan
kepatenan jalan
nafas,catat area
nafas
yang 2. Membantu
ventilasinya mengoptimalkan
menurun atau pernafasan
3. Mencegah
tidak adanya
terjadinya
suara tambahan.
11. Posisikan untuk obstruksi jalan
meringankan nafas
sesak nafas
12. Monitor status
pernafasan dan

28
oksigenasi
3320 Terapi
Oksigen
Definisi :
Pemberian oksigen
dan pemantauan
mengenai
efektivitasnya

1. Berikan
edukasi pasien
terkait terapi
yang akan
diberikan
2. Bersihkan
mulut, hidung
dan secret
trakea
3. Pertahankan
jalan nafas
yang paten
4. Atur peralatan
oksigenasi
5. Monitor aliran
oksigen
6. Pertahankan
posisi pasien
7. Observasi
adanya tanda
tanda
hipoventilas
8. Monitor
adanya

29
kecemasan
pasien
terhadap
oksigenasi
9. Lakukan
kolaborasi
dengan tenaga
kesehatan
lainnya.

No Diagnosa Implementasi Paraf

1. Pola nafas tidak 3140 Manajemen jalan nafas PAP


1. Memberikan edukasi pada pasien terkait
efektif
penayakitnya
berhubungan
2. Membuka jalan nafas, guanakan teknik chin
dengan
lift atau jaw thrust bila perlu.
penumpukan 3. Memposisikan pasien untuk memaksimalkan
sekret yang ventilasi
4. Melakukan kolaborasi dengan tenaga
berlebih
kesehatan lainnya
5. Mengidentifikasi pasien perlunya pemasangan
alat jalan nafas buatan
6. Melaakukan fisioterapi dada
7. Membuang sekret dengan memotivasi pasien
untuk melakukan batuk atau menyedot lendir
8. Memotivasi pasien untuk bernafas pelan,
dalam, berputar dan batuk
9. Mengintruksikan bangaimana cara agar pasien
bisa batuk
10. Mengauskultasi jalan nafas,catat area yang
ventilasinya menurun atau tidak adanya suara

30
tambahan.
11. Memposisikan untuk meringankan sesak nafas
12. Memonitor status pernafasan dan oksigenasi

3320 Terapi Oksigen


1. Memberikan edukasi pada pasien terkait terapi
yang akan diberikan
2. Membersihkan mulut, hidung dan secret trakea
3. Mempertahankan jalan nafas yang paten
4. Mengatur peralatan oksigenasi
5. Memonitor aliran oksigen
6. Mempertahankan posisi pasien PAP
7. Mengobservasi adanya tanda tanda
hipoventilas
8. Memonitor adanya kecemasan pasien terhadap
oksigenasi
9. Melakukan kolaborasi dengan tenaga
kesehatan lainnya

Evaluasi

No Diagnosa Keperawatan Evaluasi

31
1. Domain 04 : Aktivitas/ Istirahat S : Klien mengatakan bahwa
Kelas 4 . Ketidakefektifan Pola Nafas sudah nyaman saat nafas dan
3140 Manajemen jalan nafas rasa sesak berkurang
O : pasien tambak segar dan
tidak lemas, serta tidak ada nafas
tambahan dan TTV pasien
a. Tekanan Darah : 130/80
mmHg (normal dewasa tua
130-150/80-90 mmHg)
b. Suhu :
38°C (normal 36,5-37,5°C)
c. RR :
23 x/menit (normal 16-22
x/menit)

A : Masalah klien teratasi


sebagian
P : Lanjutkan Intervensi

32
Domain 04 : Aktivitas/ Istirahat S : Klien mengatakan bahwa
Kelas 4 . Ketidakefektifan Pola Nafas saat nafas lebih ringan dan tidak
3320 Terapi Oksigen sesak
O : pasien tambak segar dan
tidak lemas, serta tidak ada nafas
tambahan dan TTV pasien
a. Tekanan Darah : 130/80
mmHg (normal dewasa tua 130-
150/80-90 mmHg)
b. Suhu : 38°C (normal 36,5-
37,5°C)
c. RR : 23 x/menit (normal
16-22 x/menit)
A : Masalah klien teratasi
sebagian
P : Lanjutkan Intervensi

33
DAFTAR PUSTAKA

Arif, M. 2008. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi III. Jakarta:


Penerbitan Media Aesculapius FKUI.

Muttaqin., A. 2010. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan


Sistem Pernapasan.Jakarta : Salemba Medika
https://books.google.co.id/books?
id=G3KXne15oqQC&pg=PA24&dq=buku+anatomi+fisiologi+sistem+pern
apasan+dan+sistem+kardiovaskular&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwiKh4PV
gcnYAhXLKY8KHR96CukQ6AEINTAC#v=onepage&q=buku%20anatomi
%20fisiologi%20sistem%20pernapasan%20dan%20sistem
%20kardiovaskular&f=false (diakses tanggal 08 Januari 2018)

Doengoes, M. E. 2009. Rencana Asuhan Keperawatan. Alih Bahasa. I


Made Kariasi, S.Kp. Ni Made Sumawarti, S.Kp. Jakarta: EGC.

Moorhead, S., dan M. Johnson, dkk. 2013. Nursing Interventions Classification


(NIC) Edisi Bahasa Indonesia. Yogyakarta: CV Mocomedia

Cambridge,.C.,L (2010) Anatomi Fisiologi: Sistem Pernapasan dan Sistem


Kardiovaskuler Jakarta : EGC https://books.google.co.id/books?
id=dCBJmU2jaqAC&printsec=frontcover&dq=buku+anatomi+fisiologi+sistem+p
ernapasan+dan+sistem+kardiovaskular&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwiKh4PVgc
nYAhXLKY8KHR96CukQ6AEIKDAA#v=onepage&q=buku%20anatomi
%20fisiologi%20sistem%20pernapasan%20dan%20sistem
%20kardiovaskular&f=false (diakses tanggal 08 Januari 2018)

NANDA International. 2015. Nursing Diagnoses : Definitions & Classifications


2015-2017. Jakarta : EGC

Marni. 2014. Asuhan Keperawatan Pada Anak Sakit. Yogyakarta: Goysen

Publishing.

34
Kowalak, Jenifer. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Kimberly., L. Tacket . 2012. Evidence-based Bronchitis Therapy. New York. Sage


Journal. http://ocean.sci-
hub.tw/4da84988472dad886e5910a20d0bce88/10.1177%4008971900124608
26.pdf(diakses tanggal 08 Januari 2018)

35