Anda di halaman 1dari 3

Widyarnes Niwangtika/150341806459/Pasca Biologi C’15

Genetika Lanjut

KODE GENETIK
Kode genetik merupakan kode yang tidak tumpang tindih dan setiap asam aminonya
terdiri dari inisiasi polipeptida dan terminasi yang spesifik terhadap kodon RNA yang
tersusun oleh 3 nukleotida. Hal tersebut menjadi bukti bahwa gen berperan dalam struktur
polipeptia. Berikut hal-hal penting terkait kode genetik:
 Kode genetik tersusun dari triplet nukleotida. Tiga nukleotida pada mRNA dapat
menetukan satu asam amino dalam polipeptida. Setiap kodon terdiri dari 3 nukleotida.
 Kode genetik tidak tumpang tindih. Setiap nukleotida pada mRNA hanya dimiliki
oleh satu kodon.
 Kode genetik tidak terdapat koma. Tidak terdapat koma atau bentuk lain pada area
pengkode molekul mRNA. Selama translasi kodon terbaca secara teratur.
 Kode genetik dapat berdegenerasi. Keseluruhan atau dua dari asam amino spesifik
oleh lebih dari satu kodon.
 Kode genetik terdiri dari kodon start dan kodon stop. Kodon spesifik untuk inisiasi
atau terminasi rantai polipeptida.
Dua puluh asam amino berbeda bergabung dalam polipeptida selama translasi. Setidaknya
20 kodon berbeda harus dibentuk dengan 4 basa yang ada pada mRNA. Salah satu penelitian
yang mengungkap hal tersbut adalah peneitian yang dilakukan oleh Crick dan rekannya. Pada
penelitian tersebut, peneliti menganalisis mutasi pada lokus bakteriofag T4 dengan
menggunakan proflavin. Proflavin adalah agen mutasi yang dapat menyebabkan penambahan
atau pengurangan satu pasang basa. Tempat mutasi kedua yang memperbaiki fenotip wild
type dalam organisme mutan disebut suppressor mutasi. Berdasarkan penelitian tersebut
diketahui bahwa jika mutasi asli terjadi akibat penambahan atau pengurangan satu pasang
basa, berarti supressor mutasinya adalah penambahan atau pengurangan satu pasang basa
juga dan terdapat pada tempat dekat dengan mutasi asli. Apabila sekuen triplet nukelotida
pada mRNA mengkode asam amino, maka setiap sekuen nukleotida dapat dikenali dan
dibaca selama translasi dengan tiga cara. Sebagai contoh sekuen AAAGGGCCCTTT dapat
dibaca 1) AAA, GGG, CCC, TTT, 2) A, AAG, GCG, CCT, TT atau 3) AA, AGG, GCC, CTT,
T.
Kode genetik juga memberikan informasi genetik pada tingkatan atau level translasi. Pada
prokariotik dan eukarioik kodon AUG di gunakan untuk menginisiasi rantai polipeptida. Pada
beberapa kasus, GUG digunakan sebagai kodon inisiasi. Pada kedua kasus, kodon inisiasi
dapat dikenali oleh inisiator tRNA. tRNAtMet pada prokariotik dan tRNA imet pada eukariotik.
Pada prokariotik kodon AUG harus mengikuti urutan nukleotida yang tepat, sekuen Shine-
Delgarno pada ujung 5’ pada segmen molekul mRNA tidak diterjemahkan dalam rangka
bertindak sebagai kodon inisiasi dari proses translasi. Pada eukariotik kodon pertama
haruslah AUG yang di kenali oleh ribosom sebagai ujung 5’ pada molekul mRNA
eukariotik.
Tiga kodon yang terdiri dari UAG, UAA dan UGA merupakan terminator pada rantai
polipeptida. Kodon-kodon tersebut akan dikenali oleh protein release factor daripada oleh
tRNA. Prokariotik mengandung dua release factor yang terdiri dari RF-1 dan RF-2. RF-1
menghentikan polipeptida sebagai respon dari UAA dan UAG, sedangkan RF2 menyebabkan
pemberhentian pada kodon UAA dan UGA . Eukariotik mengandung single release factor
yang mengenali ketiga codon terminator.
Semua asam amino kecuali metionin dan tripospan dihasilkan oleh lebih dari satu kodon.
Tiga asam amino seperti leusin, serin dan arginin adalah contoh dari asam amino yang
masing-masing dihasilkan oleh enam kodon yang berbeda. Isoleusin memiliki tiga kodon dan
asam amino lainnya memiliki dua atau empat kodon. Peristiwa lebih dari satu kodon yang
menentukan keberadaan asam amino tertentu disebut dengan degenerasi. Degenerasi dalam
kode genetik tidak terjadi secara acak namun merupakan serangkaian proses yang terjadi.
PERTANYAAN
1. Telah diketahui bahwa kode genetik dapat memberikan informasi genetik baik pada
eukaryot maupun prokaryot termasuk menghasilkan atau mensitesis asam amino
spesifik. Apabila terjadi kesalahan translasi atau terjadi mutasi sebelum translasi,
apakah asam amino yang dihasilkan berbeda dan bagaimana mekanismenya?
2. Bagaimana proses perbaikan pasang basa yang mengalami delesi atau insersi agar
fenotip yang dihasilkan tidak mengalami mutasi?

JAWABAN
1. Jika terjadi kesalahan translasi atau terjadi mutasi basa sebelum translasi akan
menghasilkan asam amino yang berbeda dari yang seharusnya. Hal tersebut dapat
menjadi titik awal terjadinya mutasi pada individu. Umumnya pembentukan asam
amino dilakukan oleh lebih dari satu kodon sehingga apabila terjadi mutasi pada
kodon tersebut maka asam amino tersebut juga akan mengalami perubahan.
2. Proses perbaikan pasang basa yang mengalami mutasi pada urutan nukleotida yaitu
dengan menambahkan basa yang baru apabila terjadi proses delesi, sedangkan jika
terjadi proses insersi dilakukan pengurangan basa. Proses tersebut dilakukan pada
fenotip yang mengalami mutasi sehingga fenotip / keturunan berikutnya diharapkan
tidak mengalami mutasi.