Anda di halaman 1dari 4

Pengukuran lahan adalah pelaksanaan pekerjaan pengukuran untuk mengetahui luas dan batas

batas lahan yang berseberangan yang mengacu pada ketentuan teknis pengukuran tanah untuk
mendapatkan detail planimetris (X,Y) dan tinggi (h) yang dapat memenuhi persyaratan
Geometrisnya.
Pembangunan kebun kelapa sawit pada intinya adalah pembuatan petak petak lahan kerja berupa
blok untuk ditanami benih dan bibit kelapa sawit, blok adalah manajemen terkecil dari suatu
kebun, yang kemudian secara kolektif membentuk afdeling atau divisi, dan beberapa afdeling
atau divisi menjadi estate. Pembuatan blok blok tanam banyak ditentukan dari bentuk kontur dan
topografi lahan / areal, dan harus memenuhi beberapa kaidah antara lain :
Batasan/Pengertian Blok Pembuatan Batas areal/lahan dan rancangan blok (bloking areal)
utamanya pada bidang perkebunan perlu dilaksanakan sebagai dasar untuk penyusunan rencana
kerja, yaitu meliputi sistem kerja (perencanaan dan pengorganisasian), menentukan kebutuhan
alat/tenaga kerja, dan menentukan kebutuhan biaya. Oleh karena itu, pembangunan fisik kebun
dalam bentuk apapun belum dapat dilaksanakan sebelum pekerjaan bloking (termasuk survei
lahan) diselesaikan, kegiatan bloking areal ini juga berguna bagi masyarakat pemilik lahan yang
inclave atau penyerahan dalam menentukan kepemilikan masing-masing lahan sebelum
diserahkan ke perusahaan. Pekerjaan bloking areal kedepannya selain mengukur blok-blok
tanaman dalam satuan terkecil misalnya 25 Ha, 30 Ha maupun penentuan blok yang sesuai
dengan kontur.

Survey Pendahuluan

Mempersiapkan Peralatan dan Peta Kerja berikut informasi terkait areal yang akan di
survey/dilacak batasnya.

 Mempersiapkan peta kerja perlu dilakukan agar pada saat pelaksanaan tidak terjadi
overlaping areal karena akurasi informasi yang tidak tepat
 Peta yang digunakan adalah peta standard yang dikeluarkan oleh instansi yang
berwenang misalnya : Dinas Kehutanan dan perkebunan; Badan Pertanahan Nasional;
Peta RTRWK/RWP; Peta RBI dan lain sebagainya

Peralatan Survey antara lain :

 Untuk merintis : parang


 Untuk pengukuran : Kompas, Altimeter (mengukur ketinggian mdpl), GPS, Kamera, Pita
ukur (meter gulung), peta dasar BPN (Ijin Lokasi), peta kontur Bakosurtanal), Hard
Cover, Kertas,Alat tulis, Cat (water resist), dll.
 Untuk Pemasangan Patok : Kayu ukuran 10 x 10 x 200 cm, palu, cat putih, cat merah dan
cat biru.
 Untuk pembuatan peta : Komputer, Software GIS, Ploter, PC GPS

Menetapkan langkah-langkah teknis survey pelacakan batas


Dalam pelaksanaan Survey langkah langkah teknis perlu ditentukan agar sistematika dan
pelaporan hasil survey yang akan di ambil pada obyek survey punya BUKTI dan HISTORIS
untuk di dokumentasikan antara lain :
 Koordinat titik rujukan (Geodetic, UTM/UPS/TM3)
 Kode titik patok/pancang (merah, putih)
 Kelerengan/Topografi
 Jenis vegetasi
 Jalan, Sungai dan Rawa (Bentang/Garis Alam)
 Ketinggian tempat
 Lain-Lain (Hutan Larangan, Kuburan, Pohon Sialang, dll)

Persiapan bentuk pelaporan hasil survey


• Sistimatika pelaporan mengikuti standardisasi yang telah ditentukan dengan blanko/taly sheet
yang telah disediakan seperti :
• Rencana kerja harian
• Rencana Kerja Bulanan
• Check List Survey Lahan Pembukaan meliputi :
- Fit to Area
- Lahan Pembukaan
- Okupasi Tanaman Hortikultura
- Okupasi Tanaman Perkebunan Intensif
- Okupasi Tanaman Non Intensif
- Okupasi Tanaman Kehutanan

SISTEMATIKA DAN TEKNIS PEKERJAAN

Pelaksanaan ploting dan bloking areal disesuaikan dengan peta BPN, diawali dari penentuan titik
ikat (koordinatnya) sebagai titik rujukan tanda alam/bentang alam yang tidak mudah berubah
karena situasi (misal cabang sungai, persimpangan jalan dsb), utamakan pada batas luar kebun,
dengan GPS
Pada sepanjang batas luar/pringgan/border atau batas penanaman sesuai dengan peta ijin lokasi
(BPN) dan peta yang telah disiapkan dibuat jalur rintisan selebar 1,5 m lalu diukur dan setiap
jarak 50 - 100 m dipasangi patok yang dicat merah.
Penandaan batas areal untuk pertama kalinya secara simbolis di laksanakan bersama-sama
dengan instansi terkait, tokoh masyarakat serta tim survey dengan mengambil titik digitasi
koordinat Geodetic, ketinggian lereng, kondisi lainnya yang telah di tetapkan sesuai peta BPN
oleh tim surveyor dicatat dan selanjutnya penanaman patok batas yang dilakukan oleh juru patok,
penanggung jawab perusahaan atau yang mewakilinya, dan tokoh masyarakat atau yang
mewakilinya, untuk selanjutnya melaksanakan bloking area keseluruhan sesuai rencana
pembangunan kebun (Peta BPN)

 Mengukur keliling areal kerja efektif (Bloking Border/Area)


 Mengukur & memetak blok/bloking blok (U–S interval 250m x T-B 1000 m) 25 ha
sesuai kondisi lahan
 Memetakan jalan sebagai batas blok ( Main Road & Collection Road)
 Memasang patok kayu di setiap sudut blok & penomoran blok
 Memoles tanda dgn cat merah di sepanjang garis batas ukur blok dan cat putih pada
perpotongan blok
 Memetakan bentang alam ( dalam buku kerja )
 Melaksanakan survey blok per blok, pedoman US-SU-TB-BT
 Menyajikan semua batas-batas alam, jalan, susunan blok yang diukur dan luasnya dan
nomor blok dalam gambar/peta
 Mengukur blok per blok.
 Memetakan hasil survey sesuai kaidah pemetaan.
 Membuat Peta rancangan Desain Blok berdasarkan data awal yang sudah dikumpulkan

1. Melakukan checking lapangan berdasarkan Peta Rancangan Desain Blok untuk mendapatkan
Desain Blok Definitif dengan mengambil beberapa informasi tambahan seperti : Mengambil
Sampel Tanah, Mengambil Sampel air , Mengukur PH Tanah, Mengukur Titik Elevasi Lahan,
Menentukan Titik Starting Point pada bentang alam, Vegetasi Dominan
2. Pembuatan Peta Desain Blok definitif yang merupakan perbaikan dari Peta Rancangan Desain
Blok berdasarkan hasil checking lapangan
3. Peta Desain Blok Definitif berfungsi sebagai peta kerja dan peta dasar untuk kegiatan
pengurusan lebih lanjut dalam rangka pelaksanaan Pembangunan perkebunan Kelapa Sawit.
4. Peta Blok sebagai acuan dalam menentukan arah pembangunan, perawatan, pemanenan, dan
infrastruktur.

KESELAMATAN KERJA

Pekerjaan survey dan bloking areal adalah pekerjaan yang beresiko tinggi, dan berbahaya seperti
hewan liar, alam yang masih asing serta iklim dan cuaca yang kadang tidak bersahabat, serta
harus berjalan dan menginap pada celah dan jalur naik turun lereng dalam garis lurus, maka alat-
alat survey serta perlindungan dan keselamatan kerja harus sangat diperhatikan dan selalu dalam
pengawasan.
Menetapkan batas konsesi lahan

 Membuat jalur-jalur rintisan arah U – S berjarak tiap 400 atau 500 m


 Pemetaan skala detail calon areal perkebunan
 Umumnya survey dilakukan oleh konsultan/balai penelitian
 Kebutuhan juru ukur 2,5 HK/ha dan perintis 5 HK/ha

Penyusunan Tata ruang, Tata ruang disusun berdasarkan

 Jaringan jalan terutama untuk jalan penghubung keluar dan masuk lokasi
 Batas kebun dan batas kerja kontraktor
 Lokasi bibitan
 Kondisi lahan : darat, rawa, bukit dan sungai (rencana outlet)
 Rencana pembagian blok
 Luas setiap blok 30 ha untuk inti dan 40 ha untuk plasma/KKPA
 Penentuan Main Rod dan Colection Road
 Rencana lokasi pemukiman karyawan dan bangunan lainnya
 Rencana lokasi pabrik dan kantor
 Lokasi quari material penimbunan dan pengerasan jalan

Rintis – Blocking
 Pedoman dalam pembuatan blok dan jalan di areal datar :
 Berdasarkan peta rencana blok, dilakukan kegiatan rintis MR arah Timur – Barat dan CR
arah Utara – Selatan dengan menggunakan theodolite
 Jarak titik pancang antar MR adalah 1.009 m dan antar CR adalah 307 m
 Lebar blok 300 m dan panjang 1.000 m
 Lebar MR 9 m dan CR 7 m
 Khusus untuk areal berbukit dilakukan imas tumbang terlebih dahulu sebelum pembuatan
jalan dan bloking. Bloking ditentukan berdasarkan batas jalan dan luasnya tidak harus 30
ha.