Anda di halaman 1dari 59

CURICULUM VITAE

• DR INDRA KELANA SP.RAD


• BANDUNG, 30 OKTOBER 1973
• RUMAH : KOMPLEK TAMAN GRAHA ASRI BLOK H4 NO.21 KOTA SERANG BANTEN
• PENDIDIKAN :
• FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI (1992-2001)
• PPDS RADIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN PADJADAJARAN (2009-2012)
• RIWAYAT PEKERJAAN :
• KEPALA PUSKESMAS TIRTAYASA 2003-2007
• DOKTER IGD RSUD SERANG 2007-2008
• KEPALA IGD RSUD SERANG 2008-2009
• DOKTER SPESIALIS RADIOLOGI RSUD SERANG 2012-SEKARANG
• HOBBY : TEKNOLOGI INFORMASI
TRAUMA THORAKS

INDRA KELANA, DR, SP.RAD


INSTALASI RADIOLOGI RSUD SERANG
PENDAHULUAN
• 25% KEMATIAN PADA KASUS TRAUMA DISEBABKAN TRAUMA
THORAKS

• TRAUMA THORAKS :
• TRAUMA TUMPUL  90% DARI KASUS TRAUMA THORAKS 
PALING SERING DISEBABKAN OLEH KECELAKAAN LALU LINTAS
SERTA JATUH DARI KETINGGIAN

• TRAUMA TEMBUS MESKIPUN HANYA 10%, TETAPI SEBENARNYA


MEMPUNYAI ANGKA PREVALENSI YANG CUKUP TINGGI PADA
DAERAH PERKOTAAN

• PADA TRAUMA TEMBUS, YANG MEMPUNYAI RESIKO UTAMA UNTUK


CEDERA ADALAH STRUKTUR VASKULER SEPANJANG DINDING
RONTGEN THORAKS

• RONTGEN THORAKS SEBAGAI SALAH SATU DARI “TRAUMA SERIES”


(RONTGEN THORAKS, PELVIS DAN VERTEBRA CERVICAL) ADALAH
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK RADIOLOGI PRIMER PADA SEMUA KASUS
TRAUMA

• “TRAUMA SERIES” DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MENGIDENTIFIKASI


TRAUMA YANG POTENSIAL MENGANCAM NYAWA SECARA
SINGKAT SEPERTI TENSION PNEUMOTHORAKS ATAU YANG MUNCUL
KEMUDIAN, YANG BISA SAJA DISEBABKAN OLEH PEMASANGAN
“TUBE” PADA SAAT RESUSITASI, CONTOHNYA TINDAKAN INTUBASI
UNTUK PEMASANGAN ENDOTRAKEAL TUBE (ETT)
CT SCAN THORAKS

• MESKIPUN RONTGEN THORAKS MASIH MENJADI PILIHAN UNTUK


IMEJING DIAGNOSTIK PRIMER, COMPUTED TOMOGRAPHY (CT)
SCAN TELAH MENJADI IMEJING MODALITAS PILIHAN UNTUK SEMUA
KASUS TRAUMA YANG SECARA HEMODINAMIKNYA STABIL

• CT SCAN SAAT INI MEMPUNYAI KEUNGGULAN DALAM KECEPATAN,


KEAKURATAN DAN SEBAGIAN BESAR MEMILIKI UTILITAS YANG
MUMPUNI DALAM VOLUMETRIC SCAN SEPERTI SPIRAL, HELICAL CT
BAHKAN MULTIDETECTOR CT (MDCT) YANG MEMPUNYAI
KEUNTUNGAN TERSENDIRI DALAM MENGEVALUASI KASUS TRAUMA
CT SCAN THORAKS

• PEMERIKSAAN CT SCAN SAAT INI TELAH MENJADI SUATU HAL YANG


RUTIN, TERUTAMA UNTUK PASIEN DENGAN MULTITRAUMA BAHKAN
PADA PASIEN YANG PADA PEMERIKSAAN RONTGEN THORAKS
AWALNYA TIDAK DITEMUKAN APA-APA

• PEMERIKSAAN CT SCAN THORAKS DILAKSANAKAN TANPA KONTRAS


DAN MENGGUNAKAN KONTRAS INTRAVENA YANG DISUNTIKAN
MENGGUNAKAN INJECTOR DENGAN RATE 2-3 ML/SEC DENGANG
SLICE 1-5 MM

• DENGAN KELEBIHAN TEKNOLOGI CT SCAN , BUKAN TIDAK


MUNGKIN DIKEMUDIAN HARI CT SCAN AKAN MENGGANTIKAN
“TRAUMA SERIES” SEBAGAI PEMERIIKSAAN AWAL/PRIMER
YANG MENGANCAM NYAWA PADA
TRAUMA THORAKS

• RUPTUR TRAKEA
• TENSION PNEUMOTHORAKS
• HEMATOTHORAKS
• TAMPONADE JANTUNG
• TRANSEKSI AORTA
TRAUMA THORAKS YANG SERING DAN JARANG
TERIDENTIFIKASI OLEH CT SCAN

SERING JARANG
• PNEUMOTHORAKS • FRAKTUR STERNUM
• CONTUSIO PARU • CEDERA DIAPHRAGMA
• FRAKTUR COSTA • CEDERA VASKULER
• HEMATOTHORAKS • FRAKTUR BRONKHUS
• FRAKTUR SPINAL
FRAKTUR COSTA

• FRAKTUR COSTA ADALAH KASUS YANG UMUM TERJADI.


• KOMPLIKASI DARI FRAKTUR COSTA SEPERTI PNEUMOTHORAKS DAN
CEDERA LIMPA LEBIH BERBAHAYA DARI PADA FRAKTURNYA ITU
SENDIRI.

• FRAKTUR IGA SERING SEKALI TIDAK TERDETEKSI PADA RONTGEN


THORAKS DISEBABKAN FRAKTUR “UNDISPLACED “ ATAU FRAKTUR
DENGAN “DISPLACED “ YANG MINIMAL

• FRAKTUR COSTA ADALAH INDIKATOR PENTING UNTUK MENENTUKAN


MEKANISME TRAUMA DAN KEMUNGKINAN KOMPLIKASI YANG
MUNGKIN DAPAT TERJADI.
FRAKTUR COSTA

Lokasi Hubungan atau Komplikasi


3 pasang pertama Cedera spinal atau
vaskuler,
Ruptur tracheobronchial
3 pasang terakhir Cedera hepar, limpa dan
ginjal
Fraktur Multiple “Flail chest”
FRAKTUR COSTA BAGIAN ATAS

• PADA THORAKS PA TEGAK


TAMPAK FRAKTUR MULTIPLE PADA
COSTA BAGIAN ATAS DAN EFUSI
PLEURA KANAN BAWAH

• TAMPAK JUGA PNEUMOTHORAKS


KANAN YANG TELAH DI
TINDAKLANJUTI DENGAN
PEMASANGAN “CHEST TUBE
THORACOSTOMY” (CTT)
FRAKTUR COSTA BAGIAN BAWAH
• RO THORAKS AP MENUNJUKAN
MULTIPLE FRAKTUR COSTA BAGIAN
BAWAH DAN EMPHYSEMA SUBCUTIS
SEPANJANG DINDING LATERAL
BAWAH THORAKS KIRI

• HEMIDIAPHRAGM A KIRI TIDAK


TAMPAK DISEBABKAN EFUSI PLEURA
DAN ATELEKTASIS LOBUS BAWAH
PARU KIRI

• MENINGKATKAN KECURIGAAN
ADANYA TRAUMA LIMPA
LASERASI LIMPA
• CT SCAN POST KONTRAS
MENUNJUKAN LESI HIPODENS
MULTIPLE BERBATAS TEGAS TEPI
IREGULER PADA LIMPA

• TAMPAK JUGA
HEMATOTHORAKS TERLIHAT
PADA POSTERIOR
HEMITHORAKS KIRI
FLAIL CHEST

• FRAKTUR COSTA MULTIPLE YANG MELIBATKAN LEBIH DARI 3 IGA


YANG BERDEKATAN ATAU SINGLE FRAKTUR YANG MELIBATKAN 5
IGA YANG BERURUTAN DAPAT MENYEBABKAN TERJADINYA FLAIL
CHEST.

• KESULITAN BERNAFAS YANG SANGAT BERAT BISA MUNCUL


DISEBABKAN OLEH PERGERAKAN PARADOXICAL DARI SEGMEN
YANG FLAIL (MELAYANG) SELAMA PROSES PERNAPASAN.
FLAIL CHEST

Thoraks AP menunjukan fraktur multiple segmental costa kiri, tampak juga Pneumothoraks
kanan dan kontusio pada kedua paru.
Rekonstruksi CT Scan 3D pada posisi posterior menunjukan multiple bilateral fraktur costa
posterior yang mengkonfirmasikan adanya bilateral flail chest.
EXTRAPLEURAL HEMATOM

• EXTRAPLEURAL HEMATOM SERING MENYERTAI FRAKTUR COSTA


• PADA FOTO THORAKS, HEMATOM TAMPAK SEBAGAI
PERSELUBUNGAN FOKAL BERLOBULASI DAN MEMILIKI TEPI YANG
CEMBUNG DENGAN PARU-PARU

• TIDAK SEPERTI EFUSI PLEURA, HEMATOM INI TIDAK BERUBAH


POSISINYA PADA PERUBAHAN POSISI PASIEN

• EXTRAPLEURAL HEMATOM PADA BAGIAN ATAS BISA DISEBABKAN


OLEH PERDARAHAN PEMBULUH DARAH SUBCLAVIAN YANG
DIAKIBATKAN TRAUMA ATAU PASCA PEMASANGAN INTERNAL
JUGULAR CENTRAL LINE.
EXTRAPLEURAL HEMATOM

• PANAH MENUNJUKAN ADANYA


PERSELUBUNGAN OPAK
(HEMATOM) PADA EXTRA
PLEURA KIRI ATAS YANG
MUNCUL PASCA PEMASANGAN
INTERNAL JUGULAR CENTRAL
LINE

• TAMPAK PULA KONTUSIO PARU


BILATERAL YANG MASIF PADA
KEDUA PARU
FRAKTUR STERNOMANUBRIAL

• FRAKTUR STERNUM TERJADI SEKITAR 10% DARI KASUS TRAUMA THORAKS DAN
BISA DIHUBUNGKAN DENGAN CEDERA PADA PEMBULUH DARAH MEDIASTINUM
ATAU KONTUSIO MYOCARD.

• FRAKTUR STERNUM DAPAT DI DIAGNOSA PADA RONTGEN THORAKS POSISI


LATERAL.

• SEMENTARA 3D CT SCAN DENGAN MUDAH DAPAT MENUNJUKAN FRAKTUR


STERNUM DAN DISLOKASI STERNOCLAVICULAR JOINT DISERTAI DENGAN
DERAJAT DISLOKASI FRAKTURNYA.

• PADA DISLOKASI FRAKTUR KE POSTERIOR HARUS DIWASPADAI TERJADINYA


CEDERA PADA PEMBULUH DARAH SEKITAR, TRAHEA DAN ESOPHAGUS.
FRAKTUR STERNOMANUBRIAL

A, Thoraks lateral menunjukan fraktur dislokasi sternal disertai overlaping fragmen


fraktur pada distal sternomanubrial junction.
B, Foto 3D pada CT Scan menunjukan fraktur sepanjang manubrium.
CEDERA SPINAL VERTEBRA TORAKALIS

• SERING TERJADI PADA TRAUMA THORAKS DENGAN KECEPATAN


TINGGI DIMANA 30% KASUS MEMILIKI CEDERA SPINAL

• 10% KASUS CEDERA SPINAL MEMILIKI MULTIPLE FRAKTUR PADA


VERTEBRA TORAKALIS

• 60% FRAKTUR DISLOKASI VERTEBRA TORAKALIS BERHUBUNGAN


DENGAN DEFEK NEUROLOGI

• 10% CEDERA SPINAL CORD TERJADI SETELAH MASUK RUMAH SAKIT


CEDERA SPINAL VERTEBRA TORAKALIS

• IDENTIFIKASI AWAL DARI FRAKTUR SPINAL BISA MENCEGAH


TERJADINYA CEDERA SPINAL YANG IREVERSIBEL.

• RONTGEN VERTEBRA TORAKALIS TIDAK PERLU DILAKUKAN PADA


PASIEN TRAUMA YANG TELAH DI CT SCAN THORAKS
MENGGUNAKAN VOLUMETRIC.

• PENELITIAN MENUNJUKAN BAHWA POSISI CORONAL DAN SAGITAL


PADA CT SCAN LEBIH SENSITIF , SPESIFIK DAN AKURAT UNTUK
MENDETEKSI DAN MENGGAMBARKAN CEDERA SPINAL.

• KEBAYAKAN FRAKTUR DISLOKASI TERJADI PADA TORAKOLUMBAL


JUNCTION.
CEDERA SPINAL VERTEBRA TORAKALIS
• SAGITTAL DAN 3D CT SCAN
MENUNJUKAN FRAKTUR
KOMPRESI PADA TORAKAL 12
DISERTAI SUBLUKSASI YAG
MENYEBABKAN PENEKANAN
SEBESAR 50% PADA KANALIS
SPINALIS.
RUPTUR TRAKEA DAN
CABANG UTAMA BRONKHUS
• CEDERA TRACHEOBRONCHIAL SERING BERHUBUNGAN DENGAN FRAKTUR ATAU
DISLOKASI

BAGIAN ATAS RONGGA THORAKS

• ROBEKAN BISA PARSIAL ATAU LENGKAP.


• SEBANYAK 80% KASUS RUPTUR BRONKHIAL TERJADI PADA KETINGGIAN 2,5 CM
DARI CARINA.

• RUPTUR PADA SISI KANAN LEBIH SERING TERJADI PADA SISI KIRI DAN KEBANYAKAN
KASUS MENIMBULKAN PNEUMOTHORAKS.

• PNEUMOMEDIASTINUM DITEMUKAN PADA CEDERA YANG TERJADI PADA CABANG


UTAMA BRONKHUS KIRI.

• RUPTUR BRONKHIAL YANG TERJADI DEKAT DENGAN RONGGA PLEURA AKAN


MEMBUAT TERJADINYA PNEUMOTHORAKS YANG BIASANYA BESAR DAN GAGAL
MEMBAIK MESKIPUN TELAH DIPASANG CTT, DIMANA INI DISEBABKAN KEBOCORAN
TANDA-TANDA DIAGNOSTIK RUPTUR TRAKEA
DAN CABANG UTAMA BRONKHUS

• “FALLEN LUNG”
• PERSISTENT PNEUMOTHORAKS
• PNEUMOMEDIASTINUM
FALLEN LUNG

• “FALLEN LUNG” AKAN TAMPAK PADA ROBEKNYA CABANG UTAMA BRONKHUS DENGAN
LENGKAP.

• SEGMEN PARU YANG MENEMPEL PADA CABANG UTAMA BRONKHUS YANG ROBEK AKAN
JATUH KE ARAH INFERIOR DAN LATERAL PADA DASAR HEMITHORAKS.

• INI AKAN BERLAWANAN DENGAN PNEUMOTHORAKS YANG DISEBABKAN ROBEKAN PARSIAL


BRONCHIAL DIMANAN PARU AKAN KOLAPS KE ARAH MEDIAL DAN CENTRAL DARI TEMPAT
MENEMPELNYA.

• PADA KEDUA KASUS, PARU-PARU AKAN GAGAL MENGEMBANG PADA PASCA


PEMASANGAN CTT.

• APABILA TERJADI PERSISTEN ATELEKTASIS LOBARIS ATAU UDARA YANG TERJEBAK PADA PARU
YANG CEDERA, PERLU DICURIGAI ADANYA ROBEKAN BRONKIAL PARSIAL YANG TIDAK
MEMPUNYAI GEJALA KLINIS.
FALLEN LUNG

• THORAKS TEGAK AP, TAMPAK PNEUMOTHORAKS


BESAR PADA SISI KIRI YANG PERSISTEN MESKIPUN
TELAH TERPASANG WATER SEAL DRAINAGE
(WSD) TUBE.
• TAMPAK PNEUMOTHORAKS KECIL ATAS KANAN
(PANAH).
• SUBCUTANEOUS EMPHYSEMA JUGA TERLIHAT
PADA DINDING KIRI THORAKS.

• TERLIHAT PULA MULTIPLE FRAKTUR COSTA KIRI DAN


DISLOKASI STERNOCLAVICULAR KIRI.
PNEUMOTHORAKS
• PNEUMOTHORAKS LEBIH SERING TERJADI PADA PASIEN DENGAN TRAUMA
TUMPUL DARI PADA YANG MENGALAMI TRAUMA TEMBUS.

• IDENTIFIKASI PADA PNEUMOTHORAKS SEKECIL APAPUN AKAN SANGAT PENTING


KARENA PENINGKATAN YANG CEPAT DARI UKURAN PNEUMOTHORAKS BISA
TERJADI PADA PASIEN YANG TERPASANG VENTILATOR MEKANIK

• DISEBABKAN KEBANYAKAN FOTO THORAKS DILAKSANAKAN PADA PASIEN


DENGAN POSISI SUPINE, MAKA KEMUNGKINAN AKAN SULIT TERDIAGNOSA
ADANYA PNEUMOTHORAKS, BAHKAN PADA PNEUMOTHORAKS YANG BESAR
SEKALIPUN.

• UDARA AKAN TERKUMPUL PADA POSISI TERTENTU, PADA POSISI SUPINE UDARA
AKAN BERKUMPUL PADA DAERAH ANTERIOR DAN SERING JUGA PADA DAERAH
INFERIOR DIMANA INI AKAN MENGHASILKAN GAMBARAN “DEEP SULCUS”
TANDA-TANDA PADA RONTGEN THORAKS POSISI
SUPINE YANG MENGIDENTIFIKASI KAN
ADANYAPNEUMOTHORAKS

• “DEEP SULCUS” SIGN


• HEMITHORAKS YANG HIPERLUSEN
• KONTUR DIAPHRAGMA TAMPAK DOBEL
• KONTUR MEDIASTINAL DAN KARDIAK TAMPAK TAJAM (PADA
DAERAH CARDIOPHRENIC (KANAN ) DAN CARDIAC APEX (KIRI))
PNEUMOTHORAKS.

• RONTGEN THORAKS PA
MENUNJUKAN
PNEUMOTHORAKS BESAR PADA
HEMITHORAKS KIRI DISERTAI
BAYANGAN PARU KIRI YANG
KOLAPS
PNEUMOTHORAKS

A, Thoraks AP menunjukan pasien yang berbaring pada trauma board, tampak “deep
sulcus” sign (panah) pada hemithoraks kanan yang terlihat pada pasien dengan posisi
supine.
B, Dibuktikan pada CT Scan menunjukan adanya Pneumothoraks kanan.
TANDA TENSION PNEUMOTHORAKS

• MENDATARNYA HEMIDIAFRAGMA PADA SISI YANG


PNEUMOTHORAKS

• MELEBARNYA SELA COSTA PADA SISI YANG PNEUMOTORAKS


• TERDORONGNYA ORGAN MEDIASTINAL KE SISI YANG BERLAWANAN
TENSION PNEUMOTHORAKS

• THORAKS PA MENUNJUKAN
PNEUMOTHORAKS KANAN
YANG BESAR DISERTAI
MENDATARNYA
HEMIDIAFRAGMA KANAN DAN
TERDORONGNYA ORGAN
MEDIASTINUMKE KIRI
PNEUMOMEDIASTINUM

• PNEUMOMEDIASTINUM SERING DI TEMUKAN SETELAH TRAUMA


TUMPUL

• PNEUMOMEDIASTINUM LEBIH MUDAH DI IDENTIFIKASI


MENGGUNAKAN CT SCAN
PNEUMOMEDIASTINUM

A, Thoraks AP menunjukan bayangan lusen pada superior mediastinum


dan penajaman batas kiri jantung
B, CT Scan menunjukan bayangan udara yang mengelilingi struktur
mediastinum.
PNEUMOMEDIASTINUM DAN CEDERA KOLOM
UDARA

A, CT Scan coronal menunjukan pneumothoraks kanan yang persisten meskipun


telah dipasang WSD tube, pneumotoraks kiri yang kecil, pneumomediastinum
dan emphysema subkutis.
B, Pada CT Scan axial menunjukan adanya avulsi pada cabang utama bronkhus
KONTUSIO PARU

• KONTUSIO PARU ADALAH CEDERA PARENKIM YANG PALING


SERING, BIASANYA MUNCUL 6 JAM PASCA TRAUMA THORAKS.

• BIASANYA AKAN SEMBUH SETELAH 72 JAM PASCA TRAUMA.


• KONTUSIO PARU TAMPAK SEBAGAI PERSELUBUNGAN OPAK YANG
TIDAK SEGMENTAL.

• KONTUSIO PARU BISA MULTIFOCAL, SOLITER, UNILATERAL ATAU


BILATERAL.

• KADANG-KADANG KONTUSIO PARU YANG BERAT BISA


MENIMBULKAN ACUTE RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME
(ARDS).
KONTUSIO PARU

A, Rontgen thoraks menunjukan perselubungan opak bilateral pada lapang


tengah paru kanan dan lapang atas dan tengah paru kiri dan fraktur dislokasi
pada clavicula kanan.
B, 6 hari kemudian tampak perselubungan opak tersebut telah hilang, tetapi
tampak perselubungan opak yang persisten pada lobus bawah paru kanan
LASERASI PARU

• TRAUMA THORAKS YANG BERAT BISA MENYEBABKAN CEDERA PADA


PARENKIM PARU YANG AKHIRNYA MENYEBABKAN TERJADINYA
LASERASI PARU.

• LASERASI PARU BIASANYA DIIKUTI KONTUSIO PARU.


• GAMBARANNYA BERUPA BAYANGAN LUSEN DISERTAI
PSEUDOMEMBRAN DI SEKELILINGNYA MEMBENTUK GAMBARAN
PNEUMATOCELE.

• PERDARAHAN DI DALAM KAVITAS TERSEBUT BISA MEMPRODUKSI


GAS-FLUID LEVEL ATAU AIR-CRESCENT SIGN JIKA DARAH TELAH
MEMBEKU ATAU CLOTTING.
LASERASI PARU

• PNEUMATOCELE MUDAH DIKENALI PADA CT SCAN.


• PNEUMATOCELES YANG TERBENTUK SETELAH PERDARAHAN PARU
YANG MEMBAIK BIASANYA BERUKURAN KECIL (<5 MM).

• BIASANYA LASERASI PARU SEMBUH DALAM HITUNGAN MINGGU,


TETAPI HEMATOM BISA MEMUNCULKAN NODUL SOLITER YANG
PERSISTEN SELAMA BERBULAN-BULAN.

• TIDAK ADANYA RIWAYAT PENYAKIT YANG JELAS, BISA SAJA


TERDIAGNOSA SEBAGAI TUMOR PARU GANAS.
LASERASI PARU YANG TERISI HEMATOM

A, Pasca trauma thoraks rontgen thoraks PA menunjukan bayangan opak pada lobus bawah
paru kanan dengan bayangan lusen ditengahnya disertai efusi pleura minimal kanan.
Gambaran ini menyerupai abses paru atau tumor paru.
B, CT scan setinggi carina (window paru) menunjukan adanya pneumatocele besar pada paru
kanan yang menarik fissura paru. Kavitas tersebut berisi hematom yang persisten selama
berbulan-bulan dan tampak seperti tumor paru.
KONTUSIO PARU DAN LASERASI PARU

A, Rontgen thoraks menunjukan bayangan opak pada paru kanan yang


sesuai dengan kontusio paru
B, CT Scan menunjukan multifocal kontusio paru dan laserasi pada paru kanan
C, Lebih ke inferiornya , CT Scan menunjukan laserasi paru yang besar disertai
perdarahan yang tidak terlihat pada rontgen thoraks sebelumnya.
RUPTUR DIAFRAGMA

• RUPTUR DIAFRAMA SERING BERHUBUNGAN DENGAN CEDERA BERAT


LAINNYA DAN DITEMUKAN PADA 1-6% DARI KASUS TRAUMA
TUMPUL YANG BERAT.

• ANGKA KEMATIANNYA TINGGI KARENA BERHUBUNGAN DENGAN


CEDERA BERAT LAINNYA.

• RUPTUR DIAFRAGMA PALING SERING PADA SISI KIRI KARENA


SECARA TIDAK LANGSUNG HEPAR MEMPUNYAI EFEK PROTEKSI PADA
HEMIDIAFRAGMA KANAN.

• RUPTUR DIAFRAGMA KANAN BISA SAJA TIDAK TERDIAGNOSA PADA


AWAL PEMERIKSAAN DISEBABKAN HERNIASI HATI ATAU LIMPA SULIT
TERDIAGNOSA PADA RONTGEN THROAKS.
RUPTUR DIAFRAGMA

• SEBANYAK 2/3 KASUS RUPTUR DIAFRAGMA TIDAK TERDIAGNOSA


PADA RONTGEN AWAL, TETAPI SEBENARNYA MUDAH DIKENALI
APABILA CEDERANYA BARU TERJADI, ROBEKANNYA CUKUP BESAR
DAN TERJADI PADA DIAFRAGMA KIRI YANG MEMBUAT USUS ATAU
LAMBUNG MEMASUKI HEMITHORAKS.

• DIAGNOSIS YANG TERTUNDA AKAN MENINGKATKAN RESIKO


KEMATIAN DARI USUS YANG MENGALAMI STRANGULASI ATAU
OBSTRUKSI.

• RONTGEN THORAKS DENGAN KONTRAS ORAL SEBENARNYA BISA


MEMBANTU MENEGAKKAN DIAGNOSIS TERUTAMA PADA RUPTUR
DIAFRAGMA KIRI.
RUPTUR DIAFRAGMA KIRI
• RONTGEN THORAKS MENUNJUKAN
PERSELUBUNGAN OPAK HOMOGEN
BERKONTUR OBLIQ PADA
PARAKARDIAL KIRI (PANAH HITAM).
NORMAL KONTUR DIAFRAGMA KIRI
TIDAK TAMPAK.

• TAMPAK PULA MULTIPLE BILATERAL


FRAKTUR COSTA DAN
PNEUMOTHORAKS KANAN ATAS
(PANAH PUTIH).
• BAYANGAN INFILTRAT PADA PADA
LOBUS BAWAH KANAN DAN PERIHILER
KIRI = KONTUSIO PARU
RUPTUR DIAFRAGMA KIRI

B, Pada rontgen posisi RLD tampak air-fluid level pada parakardial kiri
C, Kontras yang dimasukan melalui selang nasogastric mengkonfirmasi gaster yang memasuki
hemithorak kiri melalui robekan diafragma kiri.
RUPTUR DIAFRAGMA KIRI

A, CT Scan menunjukan adanya koleksi cairan pada anterior parenkim paru kiri disertai
multiple fraktur costa dan subcutaneus emphysema.
B, CT Scan setelah post kontras oral menggunakan selang nasogastric menunjukan koleksi
cairan tersebut sebagai gaster.
C, Slice inferiornya menunjukan gaster yang masuk ke hemithoraks melalui robekan
diafragma kiri (collar sign).
RUPTUR DIAFRAGMA KANAN

A, Rontgen thoraks menunjukan kolaps paru kanan yang diakibatkan intubasi cabang utama bronkus.
“Deep sulcus” sign (panah hitam) sebagai tanda pneumothoraks, tampak pula “collar” sign sekitar hepar
yang berherniasi melalui ruptur diafragma kanan.
B, Coronal CT Scan mengkonfirmasi ruptur diafragma kanan disertai herniasi hepar ke rongga thoraks.
Tampak “collar” sign (panah putih ).
PNEUMOPERICARDIUM

• PNEUMOPERICARDIUM BIASANYA DISEBABKAN TRAUMA PENETRASI.


• BAYANGAN UDARA AKAN TAMPAK PADA KONTUR JANTUNG .
• TIDAK SEPERTI PNEUMOMEDIASTINUM, UDARA DI DALAM PERICARDIUM
AKAN BERGESER PADA PERUBAHAN POSISI PASIEN.
PNEUMOPERICARDIUM

• THORAKS AP POSISI SUPINE


MENUNJUIKAN BAYANGAN LUSEN
UDARA DISEKITAR APEKS JANTUNG
(PANAH PUTIH)
• TAMPAK PULA PNEUMOTHORAKS
KANAN (PANAH HITAM)
TAMPONADE JANTUNG

• HEMOPERICARDIUM BISA DISEBABKAN OLEH TRAUMA TUMPUL, TETAPI BIASANYA


DISEBABKAN TRAUMA PENETRASI.

• SELANJUTNYA TAMPONADE JANTUNG BISA MUNCUL DAN MENGANCAM


NYAWA.

• RONTGEN THORAKS AWAL SERINGNYA TAMPAK NORMAL, MAKA GEJALA KLINIS


LEBIH DIUTAMAKAN UNTUK MENEGAKKAN DIAGNOSIS.

• RONTGEN THORAKS SERIAL BISA MEMBANTU MENEGAKKAN DIAGNOSIS


DENGAN MELIHAT PEMBESARAN JANTUNG YANG SECARA SIGNIFIKAN
BERTAMBAH SEIRING WAKTU BERJALAN
TAMPONADE JANTUNG

• ECHOCARDIOGRAPHY JUGA DAPAT MENGKONFIRMASI ADANYA CAIRAN PERICARDIAL.


• CT SCAN DAPATMENUNJUKAN KOLEKSI CAIRAN DISEKIITAR JANTUNG, PERIPORTAL EDEMA,
DELAY KONTRAS MEMAMASUKI BILIK JANTUNG DAN DISTENSI VENA CAVA INFERIOR , VENA
HEPATIKADAN VENA RENALIS.
TRAUMA AORTA

RUPTUR AORTA :
• 8% YANG MENGALAMI ROBEKAN LENGKAP AKAN LANGSUNG
MENINGGAL

• 50% YANG MENGALAMI ROBEKAN TIDAK LENGKAP APABILA TIDAK


SEGERA DI OPERASI AKAN MENGALAMI ROBEKAN COMPLETE
DALAM 24 JAM
GAMBARAN RADIOLOGI RUPTUR AORTA

• LEBAR MEDIASTINUM AKAN MENINGGKAT LEBIH DARI 8 CM


• PELEBARAN MEDIASTINUM LEBIH DARI 25% APABILA
DIBANDINGKAN DENGAN UKURAN VERTEBRA THORAKA L SETINGGI
ARKUS AORTA

• DEVIASI TRAKEA DAN SELANG NASOGASTRIC KE KANAN


• CABANG UTAMA BRONKHUS KIRI TERTEKAN
TRANSEKSI AORTA

• RONTGEN THORAKS AP
MENUNJUKAN PELEBARAN
MEDIASTINUM
CEDERA AORTA

A, CT Scan menunjukan jaringan lunak abnormal pada anterior


mediastinum yang sesuai dengan hematom.
B, CT Scan pasien yang berbeda menunjukan kontur yang abnormal pada
arkus aorta .
CEDERA AORTA

C, CT Scan menunjukan hematom pada posterior mediastinum yang


menyelimuti aorta, tetapi aorta sendiri tampak normal. Tampak pula fraktur
vertebra thorakal.
D, CT Scan pasien lainnya menunjukan jaringan lunak bentuk oval pada
proksimal aorta desendens dan tampak pula defek intraluminal diantara
CEDERA AORTA

E, CT Scan menunjukan pseudoaneurisma kecil pada dinding anterior proksimal dari aorta
desendens. Kontur aorta yang abnormal, hematom mediastinum periaorta dan lokasi yang
klasik menegakkan diagnosis cedera aorta.
F, CT Scan pasien lain menunjukan ruptur aorta dengan kontras yang diluar aorta, tampak
pula hemothoraks kiri. Pada kasus transeksi aorta ini harus segera di operasi karena kematian
sangat dekat.
KESIMPULAN
• 25% KEMATIAN PADA KASUS TRAUMA DISEBABKAN TRAUMA THORAKS
• RONTGEN THORAKS SEBAGAI SALAH SATU DARI “TRAUMA SERIES” (RONTGEN
THORAKS, PELVIS DAN VERTEBRA CERVICAL) ADALAH PEMERIKSAAN
DIAGNOSTIK RADIOLOGI PRIMER PADA SEMUA KASUS TRAUMA
• COMPUTED TOMOGRAPHY (CT) SCAN TELAH MENJADI IMEJING MODALITAS
PILIHAN UNTUK SEMUA KASUS TRAUMA YANG SECARA HEMODINAMIKNYA
STABIL
• DENGAN KELEBIHAN TEKNOLOGI CT SCAN , BUKAN TIDAK MUNGKIN
DIKEMUDIAN HARI CT SCAN AKAN MENGGANTIKAN “TRAUMA SERIES” SEBAGAI
PEMERIIKSAAN AWAL/PRIMER
TERIMA KASIH