Anda di halaman 1dari 3

.II.

Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga adalah untuk menciptakan anggota masyarakat yang baru yang sesuai dengan norma-
norma atau ukuran pada masyarakat tersebut. Perubahan yang ada pada masyarakat mempengaruhi
suatu keluarga dalam memberikan pengajaran pada anak-anaknya. Secara umum fungsi keluarga adalah
untuk sosialisasi, reproduksi, dan legalitas status. Menurut Goode (1983), ada empat fungsi universal
keluarga inti, yaitu fungsi seksual, fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, dan fungsi pendidikan. Keempat
fungsi tersebut bersifat universal dan mendasar bagi kehidupan manusia.

Keluarga bertugas sebagai pelindung para anggotanya dari kemungkinan gangguan masyarakat luar atau
orang dari suku atau sukubangsa yang lain..
Keluarga juga berfungsi sebagai dasar untuk menentukan status para anggotanya. Di mana terdapat
perbedaan besar dalam status di kalangan suatu masyarakat, keluarga yang darinya seseorang itu
dilahirkan biasanya mempunyai hubungan dengan sistem status ini, dan status individu itu diperoleh,
sekurang-kurangnya sebagian dari keluarganya. Perubahan status biasanya terjadi melalui perkawinan.
Dalam masyarakat yang mempunyai warisan status, keluarga menjadi unit di mana warisan status itu
diturunkan. Hak-hak istimewa biasanya diturunkan melalui garis keluarga, seperti hak memperoleh tanda
kehormatan dari orang lain dan hak istimewa mendapatkan harta tertentu.
Fungsi keluarga yang penting lainnya adalah menjaga dan merawat anggota yang sakit, tua, atau tidak
bernasib baik

III. Bentuk-bentuk Modernisasi


Modernisasi bukan merupakan istilah dan proses yang teramat baru. Manifestasi proses modernisasi
pertama kali nampak di Inggris pada abad ke-18 yang disebut dengan Revolusi Industri. Untuk negara-
negara Asia sekalipun, istilah modernisasi paling tidak sudah dikenal kurang lebih selama satu abad, yaitu
sejak terjadinya industrialisasi Jepang, yang lewat pertengahan abad ke-20 itu tergolong yang paling giat
mengusahakan modernisasi tersebut. Apakah proses kontemporer ini dilukiskan sebagai “kehancuran
tradisi” ataupun sebagai “revolusi dari pengharapan yang meningkat”, yang jelas orang sedang menuntut
dan mengalami perubahan-perubahan yang sedemikian pesatnya sehingga tidak ada bandingannya
dalam sejarah.
Modernisasi sesuatu masyarakat ialah suatu proes transformasi, suatu perubahan masyarakat dalam
segala aspek-aspeknya. Di bidang ekonomi, modernisasi berarti tumbuhnya kompleks industri yang
besar-besar, di mana produksi barang-barang konsumsi dan barang-barang sarana produksi diadakan
secara massal. Perkembangan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ilmu pengetahuan.
Revolusi industri dapat terjadi karena revolusi ilmu pengetahuan dan revolusi teknologi yang berkaitan
dengan itu.
Suatu masyarakat modern dengan spesialisasi fungsi-fungsinya di semua aspek kehidupan, yang
biasanya memerlukan pendidikan dan latihan yang lama, tidak mungkin ada tanpa suatu sistem
pendidikan yang luas. Biaya pendidikan juga hanya dapat dipikul oleh suatu sistem produksi yang
modern.
Aspek yang paling spektakular dalam modernisasi sesuatu masyarakat ialah pergantian teknik produksi
dari cara-cara tradisional ke cara-cara modern, yang tertampung dalam pengertian revolusi industri. Akan
tetapi, revolusi industri hanya sebagian atau satu aspek saja dari suatu proses yang jauh lebih luas.
Modernisasi suatu masyarakat ialah suatu proses transformasi suatu perubahan masyarakat dalam segala
aspek-aspeknya. Beberapa aspek serta hubungannya dengan berbagai macam gejala berikut ini
memberikan gambaran dari transformasi besar masyarakat itu.
Dalam satu negara yang baru timbul, menurut Weiner (1980) muncul perubahan-perubahan sebagai
dampak dari modernisasi, yaitu (1) dalam bidang politik, berubahnya sistem-sistem kewibawaan suku
dan desa yang sederhana digantikan dengan sistem-sistem pemilihan umum, kepartaian, perwakilan, dan
birokrasi pegawai negeri; (2) dalam bidang pendidikan, sewaktu masyarakat berusaha mengurangi
kebutahurufan dan meningkatkan ketrampilan-ketrampilan yang membawa hasil-hasil ekonomi; (3)
dalam bidang religi, sewaktu sistem-sistem kepercayaan sekuler mulai menggantikan agama-agama
tradisionalistis; (4) dalam lingkungan keluarga, ketika unit-unit hubungan kekeluargaan yang meluas
menghilang; (5) dalam lingkungan stratifikasi, ketika mobilitas geografis dan sosial cenderung untuk
merenggangkan sistem-sistem hirarki yang sudah pasti dan turun temurun.

IV. Dampak Modernisasi Terhadap Fungsi Keluarga


Salah satu akibat dipisahkannya kegiatan-kegiatan ekonomi dari lingkungan komunitas keluarga adalah
bahwa suatu keluarga kehilangan beberapa fungsi dan memproleh suatu peranan yang khusus. Oleh
karena keluarga tidak lagi merupakan suatu unit produksi, maka satu atau lebih dari anggotanya
meninggalkannya untuk mendapatkan pekerjaan dalam pasaran tenaga kerja. Kegiatan-kegiatan keluarga
makin lebih terpusat pada kesenangan-kesenangan emosionil dan sosialisasi.
Implikasi sosial dari perubahan struktur keluarga adalah terjadinya proses individuasi dan isolasi keluarga
batih (nuclear family). Bila keluarga harus mondar-mandir dalam pasaran tenaga kerja maka tidaklah
mungkin untuk membawa seluruh anggota keluarga, malah tidak mungkin untuk mempertahankan
hubungan-hubungan yang erat dan yang bercabang-cabang itu dengan para sepupu. Hubungan dengan
anggota-anggota keluarga yang seketurunan mulai pecah; hanya beberapa generasi yang menetap
dalam suatu rumahtangga yang sama; keluarga-keluarga yang baru kawin membentuk rumahtangga
sendiri dan meninggalkan para orangtua. Satu persoalan yang sosial yang timbul akibat perubahan dalam
keluarga ini adalah tempat dari orang-orang yang telah tua sekali. Oleh karena tidak lagi ditampung oleh
unit kekerabatan yang melindungi mereka, maka orang-orang yang sangat tua ini jatuh ke dalam
pengawasan komunitas atau negara sebagai “titipan” yang jumlahnya semakin besar dari waktu ke
waktu. Akibat tersisihnya orang dari masyarakat, maka timbullah lembaga baru seperti pensiun dan
jaminan sosial.
Secara serentak hubungan antara orangtua dan anak-anak juga mengalami perubahan. Sang ayah, yang
sekarang harus meninggalkan rumahtangganya untuk bekerja di tempat yang lain, dengan sendirinya
kehilangan banyak fungsinya untuk memberi latihan ekonomi yang sebelumnya diberikannya pada anak-
anaknya. Berhubung dengan itu sistem-sistem apprentice-ship atau “magang”, di mana sang ayah dan
sang anak harus berada bersama-sama di tempat kerja, menghilang dengan bertambahnya spesialisasi
produksi di pabrik-pabrik. Sering dikemukakan bahwa menghilangnya kewibawaan ekonomi dari sang
ayah menyebabkan menghilangnya kewibawaan umumnya dari para orangtua, sekalipun pernyataan ini
sangat sulit dibuktikan secara empiris. Sang ibu yang sering merupakan satu-satunya orang dewasa di
antara para anak-anak selama hampir sehari penuh, mengembangkan suatu hubungan emosionil yang
lebih intensif dengan mereka. Peranannya dalam sosialisasi menjadi lebih penting, karena ia memiliki
hampir semua tanggungjawab untuk membina kehidupan emosional yang pertama dari anak-anak itu.
Betapapun eratnya hubungan antara sang ibu dan sang anak dalam tahun-tahun pertama itu, masa ini
tidaklah lama. Suatu masyarakat kota-industri yang sedang maju memerlukan bermacam-macam teknik
yang tidak selamanya dapat disediakan oleh keluarga. Oleh karena itu, keluarga cenderung untuk
menyerahkan fungsi pendidikannya pada sistem-sistem pendidikan formal. Pagi-pagi sekali suatu
keluarga batih telah menyerahkan kewibawaannya atas anak-anaknya pada Sekolah Dasar (atau taman
kanak-kanak, atau bahkan di Play Group); sewaktu remaja anak-anak itu menjalin hubungan-hubungan
ke luar tidak saja dengan sekolah, tetapi juga dengan sebagian dari pasaran tenaga kerja. Tambahan
lagi, anak-anak itu mungkin telah menikah pada usia yang muda (sebelum atau sesudah dupuluh tahun),
membentuk rumahtangga mereka sendiri dan makin kurang bergantung pada orangtua.
Suatu percabangan dari hubungan orangtua – anak yang berubah-ubah ini adalah “jurang masa remaja”,
yaitu ketika para remaja terlepas dari hubungan yang erat dengan orangtua semasa usia muda, tetapi
belum mendapat pekerjaan dalam dunia dewasa atau peranan-peranan dalam rumahtangga atau
masyarakat. Oleh karena itu, untuk beberapa tahun lamanya si remaja mengalami tidak adanya peranan
yang melibatkan dirinya secara mantap.
Suatu percabangan lain dari terjadinya perubahan besar dalam perhubungan-perhubungan keluarga di
lingkungan kota industri adalah yang mengenai adalah pembentukan keluarga-keluarga baru. Dalam
kebanyakan lingkungan tradisional, suatu perkawinan sangat ketat dikendalikan oleh para orangtua; cita-
rasa dan keinginan pasangan-pasangan yang akan dikawinkan itu kurang lebih tidak dianggap penting.
Jadi, dasar bagi suatu perkawinan di sini tidak terletak pada cinta, tetapi pada pengaturan-pengaturan
yang lebih praktis seperti adanya mas kawin dalam jumlah yang tertentu atau perjanjian pemberian
sebidang tanah yang terpilih. Dengan menghilangnya hubungan-hubungan keluarga besar dan
pemberian arti baru pada kewibawaan orangtua, maka para remaja dibebaskan untuk memilih pasangan-
pasangan mereka sendiri.

V. Penutup
Secara umum, modernisasi cenderung untuk menimbulkan suatu unit keluarga yang dibentuk oleh daya
tarik emosional dan yang dibangun atas dasar-dasar seksual-emosional yang terbatas. Keluarga dengan
demikian telah tersisihkan dari bidang-bidang sosial lain yang penting, kecuali hubungan-hubungan
keluar dari masing-masing anggotanya. Dengan isolasi dan pengkhususan sedemikian rupa itu, maka
keluarga kurang mencampuri bidang-bidang sosial lain tersebut. Sikap mengutamakan keluarga sendiri
(nepotisme) sebagai suatu dasar untuk memungut tenaga-tenaga bagi tugas-tugas sosial lain cenderung
untuk disalah-gunakan atau sekurang-kurangnya dicurigai, sedangkan dalam masyarakat tradisional itu
adalah cara yang halal. Akhirnya, dalam lingkungan keluarga, fungsi yang serba beragam dan kompleks
dari hubungan-hubungan antara anggota keluarga yang satu dengan anggota yang lainnya cenderung
untuk menjadi hubungan-hubungan emosional saja.
Modernisasi yang terjadi, telah menyebabkan perubahan-perubahan dalam fungsi keluarga. Jika
sebelumnya keluarga berfungsi dalam memenuhi hampir semua kebutuhan anggotanya, setelah adanya
modernisasi banyak peran-peran keluarga yang kemudian diambil-alih oleh lembaga lain. Beberapa
contoh di antaranya adalah, fungsi keluarga sebagai tempat pendidikan telah beralih ke lembaga
pendidikan yang banyak terdapat di mana-mana, baik formal maupun nonformal. Contoh lainnya adalah,
dalam menyediakan pakaian, saat ini orang tidak perlu lagi harus menenun sendiri dan menjahit sendiri
pakaiannya, tetapi bisa membeli bahannya di pasar dan membawanya ke tukang jahit untuk dijahit
sesuai dengan keinginan kita, atau bisa juga membeli pakaian jadi. Fungsi keluarga sebagai penyedia
makanan bagia anggotanya, saat ini juga sudah mulai bergeser. Banyak orang, terutama yang sama-
sama bekerja suami-istri lebih suka membeli masakan jadi daripada harus memasaknya terlebih dahulu.