Anda di halaman 1dari 48

Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

3. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik


Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun
2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4431);
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
BUPATI PATI Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
KABUPATEN PATI Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah diubah
beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12
PERATURAN BUPATI PATI tahun 2008, tentang Perubahan kedua atas Undang-Undang
NOMOR ....... TAHUN 2017 Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
TENTANG 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
POLA TATA KELOLA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KAYEN 4844);
KABUPATEN PATI 5. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
BUPATI PATI, Nomor 5063);
6. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah
Menimbang : a. bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 11 Peraturan Menteri Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik
Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Indonesia Tahun 2009 Nomor 5072);
Daerah, Pola Tata Kelola merupakan persyaratan yang
7. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
harus dipenuhi oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah/Unit
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran
kerja yang menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan
Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 2011 Nomor
Layanan Umum Daerah;
82);
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
8. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang
dalam huruf a, maka Pola Tata Kelola Rumah Sakit Umum
Pengelolaan Keuangan Badan Pelayanan Umum (Lembaran
Daerah Pariaman yang menerapkan Pola Pengelolaan
Negara Republik Indonesia tahun 2005 Nomor 48,
Keuangan Badan Layanan Umum Daerah perlu ditetapkan
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
dengan Peraturan Gubernur;
4502);
Mengingat :
9. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2005 tentang
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 49, Tambahan Lembaran Negara 3637);
Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
10. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Nomor 4286);
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran
Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Negara Republik Indonesia
726 727Nomor 4578);
Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran
11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 Dalam Peraturan Gubernur ini yang dimaksud dengan :
tentang Pedoman Teknis Badan Layanan Umum Daerah; 1. Daerah adalah Kabupaten Pati.
12. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 07/PMK.02/2006 2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Pati.
tentang Persyaratan Administratif Dalam Rangka Pengusulan 3. Bupati adalah Bupati Pati.
dan Penetapan Satuan Kerja Instansi Pemerintahan untuk 4. Rumah Sakit Umum Daerah Kayen yang selanjutnya disingkat RSUD
Menerapkan PPK-BLU; Kayen adalah Rumah Sakit Umum Daerah Kayen yang menerapkan Pola
13. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/10/PMK.02/2006 Jo Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 73/PMK.05/2007 5. Satuan Kerja Perangkat Daerah selanjutnya disingkat SKPD adalah
tentang Pedoman Penetapan Remunerasi Bagi Pejabat Satuan Kerja Perangkat Daerah dilingkungan Pemerintah Daerah
Pengelola, Dewan Pengawas dan Pegawai Badan Layanan Kabupaten Pati.
Umum; 6. Pelayanan Kesehatan adalah segala kegiatan pelayanan kesehatan yang
14. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/PMK.02/2006 diberikan kepada seseorang dalam rangka observasi, diagnosis,
tentang Tata Cara Penyusunan, Pengajuan, Penetapan dan pengobatan, rehabilitasi medis dan pelayanan kesehatan lainnya.
Perubahan Rencana Bisnis dan Anggaran serta Dokumen 7. Badan Layanan Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BLUD adalah
Pelaksanaan Anggaran Badan Layanan Umum; satuan kerja perangkat daerah atau Unit Kerja pada Satuan Kerja
Perangkat Daerah dilingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk
15. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor
memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang
PER/02/M.PAN/1/2007 tentang Pemerintah Yang
dan atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan,
Menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan
Umum;
produktifitasnya.
16. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 8. Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah, yang
631/Menkes/SK/VI/2002 tentang Pedoman Peraturan selanjutnya disingkat PPK-BLUD adalah pola pengelolaan keuangan yang
Internal Rumah Sakit; memberikan fleksibelitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-
17. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada
631/Menkes/SK/IV/2005 tentang Pedoman Peraturan masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan
Internal Staf Medis Rumah Sakit; mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pengecualian dari ketentuan
18. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 119/PMK/05/2007 pengelolaan keuangan daerah pada umumnya.
tentang Persyaratan Administratif Dalam Rangka Pengusulan 9. Pola Tata Kelola Rumah Sakit Umum Daerah Kayen selanjutnya disebut
dan Penetapan Satuan Kerja Instansi Pemerintah Untuk Pola Tata Kelola adalah peraturan internal RSUD Kayen yang menerapkan
Menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum; Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah yang memuat
antara lain struktural organisasi, prosedur kerja, pengelompokan fungsi
MEMUTUSKAN yang logis, dan pengelolaan sumber daya manusia.
Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG POLA TATA KELOLA RUMAH 10. Rencana Bisnis dan Anggaran Badan Layanan Umum Daerah, yang
SAKIT UMUM DAERAH KAYEN selanjutnya disingkat RBA adalah dokumen perencanaan bisnis dan
penganggaran tahunan yang berisi program, kegiatan, target kinerja dan
BAB I anggaran Badan Layanan Umum Daerah.
KETENTUAN UMUM 11. Rencana Strategis Bisnis Badan Layanan Umum Daerah, yang selanjutnya
Bagian Kesatu disingkat RSB adalah...............................
Pengertian 12. Praktek Bisnis yang sehat adalah penyelenggaraan fungsi organisasi
Pasal 1 berdasarkan kaidah-kaidah manajemen yang baik dalam rangka
pemberian layanan yang bermutu dan berkesinambungan.
13. Satuan Pengawas Internal adalah perangkat Badan Layanan Umum 23. Gaji Pokok adalah imbalan berupa uang yang besarnya ditentukan dari
Daerah yang bertugas melakukan pengawasan dan pengendalian internal tabel gaji pokok yang telah ditentukan.
dalam rangka membantu pimpinan Badan Layanan Umum Daerah untuk 24. Insentif adalah imbalan yang diberikan oleh RSUD Kayen yang
meningkatkan kenerja pelayanan, keuangan dan pengaruh lingkungan pemberiannya berdasarkan variabel tetap dan variabel tidak tetap antara
sosial sekitarnya (sosial responsibility) dalam menyelenggarakan bisnis lain hari masuk, datang lambat, pulang cepat, alpa, apel, pendidikan,
sehat. pangkat golongan, kompetensi, jabatan fungsi dan tunjangan khusus.
14. Dewan Pengawas Badan Layanan Umum Daerah, yang selanjutnya 25. Tunjangan lainnya adalah tunjangan yang diberikan selain gaji pokok dan
disebut Dewan Pengawas adalah organ yang bertugas melakukan insentif.
pengawasan terhadap pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah Rumah 26. Jaminan adalah berupa Jaminan Kesehatan, jaminan hari tua dan
Sakit Umum Daerah Kayen. jaminan kecelakaan kerja diluar jam kerja.
15. Jabatan Struktural adalah jabatan yang secara nyata dan tegas diatur 27. Standar dan prosedur adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur
dalam lini organisasi, yang terdiri atas Direktur, Kepala Bagian, Kepala tentang hubungan antara Rumah Sakit Umum Daerah Kayen dengan
Bidang, Kepala Sub Bagian dan Kepala Seksi. pegawai dibidang ketenagakerjaan.
16. Jabatan fungsional adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, 28. Perjanjian Kerja adalah perjanjian antara pegawai dengan RSUD
tanggungjawab, wewenang dan hak seseorang pegawai negeri sipil Pariaman yang memuat syarat-syarat dan ketentuan kerja, hak dan
dalam satuan organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan kewajiban para pihak yang terlibat.
pada keahlian dan atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri. 29. Kerja Oncall adalah Pekerjaan yang dilakukan diluar jam kerja yang
17. Direktur adalah Pimpinan PPK-BLUD sekaligus pemegang kuasa bersifat sewaktu-waktu.
manajemen tertinggi yang berada dibawah dan bertanggung jawab 30. Kerja Nerus adalah Pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai diluar jam
kepada Bupati, yang karena jabatannya mempunyai tugas mengelola kerja tetapi jenis pekerjaan bisa berbeda dari pekerjaan pokok, yang
serta memimpin Rumah Sakit Umum Daerah Kayen kedalam maupun dilakukan sore dan malam.
keluar. 31. Promosi adalah kesempatan kepada semua pegawai tetap untuk mengisi
18. Profesi Kesehatan adalah mereka yang dalam tugasnya telah mendapat lowongan jabatan / tugas dengan tanggung jawab lebih tinggi dari
pendidikan formal kesehatan dan melakukan fungsi pelayanan kesehatan jabatan semula.
terhadap masyarakat. 32. Mutasi adalah pemindahan Pegawai dapat bersifat promosi, rotasi dan
19. Pegawai non PNS adalah pegawai yang mempunyai hubungan kerja demosi yang dilakukan dengan rangka pembinaan dan pengembangan
dengan Rumah Sakit Umum Daerah Pariaman dan diangkat melalui pegawai secara individu maupun keseluruhan dengan memperhatikan
keputusan direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kayen. dedikasi, prestasi kerja, pendidikan kecakapan dan kondite pegawai.
20. Pegawai Negeri Sipil selanjutnya disingkat PNS adalah pegawai yang 33. Demosi adalah tindakan penurunan jabatan terhadap pegawai tetap
mempunyai hubungan kerja dengan Rumah Sakit Umum Daerah karena melanggar ketentuan yang telah ditetapkan.
Pariaman dan diangkat melalui keputusan pejabat yang berwewenang 34. Pegawai Tetap adalah pegawai yang diangkat oleh Rumah Sakit Umum
dan dipekerjakan di RSUD Kayen. Daerah Kayen berdasarkan kompetensi dan kebutuhan yang mempunyai
21. Keluarga Pegawai PNS adalah satu Orang Istri / Suami berdasarkan hak dan kewajiban yang diatur oleh peraturan kepegawaian RSUD Kayen
perkawinan yang sah serta dilaporkan kepimpinan, dan anak-anak yang yang tidak terikat oleh waktu tertentu.
sah maksimum 3 (tiga) orang anak yang berusia tidak lebih 21 tahun, 35. Pegawai Kontrak adalah pegawai yang diangkat oleh Rumah Sakit Umum
belum bekerja dan belum menikah atau berusia 25 tahun bila masih Daerah Kayen berdasarkan kompetensi dan kebutuhan yang mempunyai
kuliah yang dibuktikan dengan surat keterangan dari instansi pendidikan. hak dan kewajiban yang diatur oleh peraturan kepegawaian RSUD Kayen
22. Upah adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dalam bentuk uang dari yang terikat oleh waktu tertentu.
RSUD Kayen kepada pegawai untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah 36. Pegawai Harian Lepas adalah pegawai yang diangkat untuk melakukan
dilakukan meliputi : Gaji Pokok, Insentif dan Tunjangan Lainnya. pekerjaan tertentu yang pengupahannya dilakukan harian dan terikat
oleh waktu tertentu.
37. Pegawai Paruh Waktu adalah pegawai dengan profesi tertentu yang Pasal 3
diangkat sesuai dengan kebutuhan RSUD Kayen yang waktu kerjanya (1) Ruang lingkup pengaturan pola tata kelola meliputi :
berdasarkan perjanjian kerja paruh waktu. a. Organisasi dan Tata Laksana;
38. Masa Kerja adalah lamanya pegawai tersebut bekerja di Rumah Sakit b. Prosedur kerja;
Umum Daerah Kayen terhitung dari pertama awal masuk. c. Pengelompokan fungsi;
39. SIM-RS adalah system informasi manajemen rumah sakit pada Rumah d. Pengelolaan SDM; dan
Sakit Umum Daerah Kayen. e. Akuntansi dan Transparansi.
40. SPI adalah system pengendalian intern pada Rumah Sakit Umum Daerah (2) Pola Tata Kelola sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku bagi
Kayen. semua pegawai, baik PNS maupun Non PNS dan Dewan Pengawas RSUD.
41. IGD adalah instalasi gawat darurat pada Rumah Sakit Umum Daerah
Kayen. Bagian Keempat
42. SMF adalah satuan medis fungsional pada Rumah Sakit Umum Daerah Prinsip Pola Tata Kelola
Kayen. Pasal 4
Bagian Kedua Prinsip-prinsip tata kelola dalam pengelolaan RSUD adalah :
Maksud dan Tujuan a. Transparansi, merupakan asas keterbukaan yang dibangun atas dasar
Pasal 2 kebebasan arusw informasi agar informasi secara langsung dapat
(1) Pola Tata Kelola ini dimaksudkan untuk merumuskan kewenangan,
diterima bagi yang membutuhkan;
tanggung jawab, tugas, kewajiban dan hak pegawai dalam rangka b. Akuntabilitas, merupakan kejelasan fungsi, struktur, sistem yang
menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan yang baik sebagai dipercayakan pada BLUD agar pengelolaannya dapat
acuan/norma/panduan dalam interaksi antar organisasi RSUD maupun dipertanggungjawabkan;
dengan instansi/lembaga lainnya. c. Responsibilitas, merupakan kesesuaian atau kepatuhan didalam
(2) Tujuan penerapan Pola Tata Kelola adalah : pengelolaan organisasi terhadap prinsip bisnis yang sehat serta
a. Memaksimalkan kinerja pelayanan dengan cara meningkatkan prinsip
perundang-undangan;
transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, kemandirian dan d. Independensi, merupakan kemandirian pengelolaan organisasi secara
kewajaran agar RSUD memiliki daya saing yang kuat, baik secara profesional tanpa sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan
nasional maupun internasional; prinsip bisnis yang sehat; dan
b. Mendorong pengelolaan RSUD secara profesional, transparan dan e. Kesetaraan atau kewajaran, merupakan perlakuan adil dan setara
efesien, serta memberdayakan fungsi dan kemandirian; guna memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan
c. Mendorong agar pengelola RSUD dalam membuat keputusan dan
perjanjian serta peraturan perundang-undangan.
menjalankan tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta BAB II
kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial terhadap stakeholder; KEDUDUKAN, TUGAS POKOK DAN FUNGSI
dan Bagian Kesatu
d. Meningkatkan kontribusi RSUD dalam memberikan pelayanan Kedudukan RSUD Pariaman
kesehatan dan pelayanan pendidikan dibidang kesehatan pada tingkat Pasal 5
(1) RSUD merupakan SKPD sebagai unsur pendukung tugas Gubernur
daerah dan nasional.
dibidang pelayanan kesehatan, yang menerapkan PPK-BLUD,
Bagian Ketiga
Ruang Lingkup
(2) RSUD dipimpin oleh seorang Direktur yang secara taktis operasional Bagian Kedua
berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekretaris Klasifikasi
Daerah, Pasal 9
(3) Pertanggungjawaban Direktur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang RSUD Kayen merupakan RSUD Kelas C milik Pemerintah Daerah.
berkaitan dengan aspek teknis disampaikan kepada Kepala Dinas
BAB IV
Kesehatan sebagai penerima kewenangan yang didelegasikan oleh VISI, MISI, TUJUAN, FALSAFAH DAN MOTTO
Bupati. Bagian Kesatu
Visi
Bagian Kedua Pasal 10
Tugas Pokok Visi RSUD Kayen yaitu Menjadi Rumah Sakit yang menjadi tujuan utama
Pasal 6 Pelayanan Kesehatan di Wilayah Daerah Bagian Selatan.
RSUD mempunyai tugas pokok melaksanakan upaya kesehatan secara
berdayaguna dan berhasilguna, dengan mengutamakan upaya penyembuhan
dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya
peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan.

Bagian Kedua
Misi
Bagian Ketiga Pasal 11
Fungsi Misi RSUD Kayen yaitu :
Pasal 7 1. meningkatkan profesionalisme dan etika;
Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, 2. meningkatkan sarana dan prasarana
RSUD mempunyai fungsi : 3. Memberikan pelayanan yang terjangkau, bermutu dan berkeadilan;
a. Penyelenggaraan Pelayanan medis;
b. Penyelenggaraan pelayanan penunjang medis dan non medis; Bagian Ketiga
c. Penyelenggaraan pelayanan dan asuhan keperawatan; Tujuan
d. Penyelenggaraan pelayanan rujukan; Pasal 12
e. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan; RSUD Kayen mempunyai tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan
f. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan; dan masyarakat dan perorangan melalui peningkatan mutu pelayanan rumah
g. Penyelenggaraan administrasi umum dan keuangan. sakit, dalam upaya penyembuhan dan peningkatan kesehatan secara terpadu,
terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
BAB III
IDENTITAS DAN KLASIFIKASI Bagian Keempat
Bagian Kesatu Falsafah
Identitas Pasal 13
Pasal 8 Falsafah RSUD Kayen yaitu:
(1) Nama Rumah Sakit adalah RSUD Pariaman yang menerapkan PPK-BLUD. a. Pelayanan yang diberikan adalah pelayanan paripurna, terbaik, profesional,
(2) RSUD Kayen beralamat di Jalan Rumah Sakit no 1 Kecamatan Kayen tanpa membedakan pangkat, golongan, ras, keturunan, suku, dan agama;
Kabupaten Pati.
b. Pelayanan yang luhur diberikan dengan penuh dedikasi, ikhlas didasari i. Mengawasi program-program RSUD;
oleh semangat pengabdian pada Tuhan Yang Maha Esa; j. Berperan sebagai penengah apabila terjadi konflik antara staf dengan
c. Kepuasan dalam memberikan pelayanan adalah tugas yang mulia untuk staf lainnya (atas permintaan eksekutif) atau konflik antara staf
pemenuhan kebutuhan kesehatan pasien dan keluarganya didasari oleh dengan pemerintah; dan
nilai ibadah yang tidak ternilai harganya; dan k. Memantau dirinya sendiri secara kontinue serta secara periodik
d. Perawatan dan Pengobatan adalah metode ilmiah yang diberikan, namun menganalisa, baik struktur maupun kinerjanya.
takdir adalah kodrat Yang Maha Kuasa dan kita hanya dapat berusaha. (3) Dewan Pengawas berkewajiban:
a. Memberikan pendapat dan saran kepada Gubernur mengenai RBA
Bagian Kelima yang diusulkan oleh pejabat pengelola;
Motto b. Mengikuti perkembangan kegiatan BLUD dan memberikan pendapat
Pasal 14 serta saran kepada Gubernur mengenai setiap masalah yang dianggap
Motto RSUD Kayen yaitu “Kami Megoyomi Kesehatan Anda” penting bagi pengelolaan BLUD;
c. Melaporkan kepada Gubernur tentang kinerja BLUD;
BAB V d. Memberikan masihat kepada pejabat pengelola dalam melaksanakan
ORGANISASI
pengelolaan BLUD;
Bagian Kesatu
e. Melakukan evaluasi dan penilaian kinerja keuangan dan non
Dewan Pengawas
Paragraf 1 keuangan, memberikan saran dan catatan-catatan penting untuk
Fungsi, Tugas Pokok, Kewajiban, Tanggung Jawab dan Wewenang ditindak lanjuti oleh pengelola BLUD, dan;
f. Memonitor tindak lanjut hasil evaluasi dan penilaian kinerja.
Pasal 15 (4) Dewan Pengawas bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris
(1) Dewan Pengawas memegang fungsi pembinaan dan fungsi pengawasan Daerah atas tanggung jawabnya untuk:
terhadap pengelolaan BLUD yang dilakukan oleh pejabat pengelola sesuai a. Melakukan pengawasan secara umum dan/atau khusus serta
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. memberikan pengarahan dan pendapat kepada pejabat pengelola
(2) Tugas pokok Dewan Pengawas yaitu: dalam menjalankan operasional RSUD;
a. Memberikan pendapat dan saran kepada Gubernur mengenai Rencana b. Bertanggung jawab atas hasil pengawasan terhadap RSUD berupa
Bisnis Anggaran (RBA) yang diusulkan Pemimpin RSUD; rekomendasi yang diberikan untuk memperbaiki keadaan-keadaan
b. Mengikuti perkembangan kegiatan RSUD, memberikan pendapat dan yang menyimpang dari ketentuan;
saran kepada Gubernur mengenai setiap masalah yang dianggap c. Bertanggung jawab atas nasehat/pengarahan yang diberikan kepada
penting bagi pengelolaan RSUD; pejabat pengelola dalam rangka menjalankan pengelolaan RSUD
c. Melaporkan kepada Bupati tentang kinerja RSUD; dengan memperhatikan manajemen resiko dan Sistem Pengendalian
d. Memberikan nasehat kepada Pemimpin RSUD dalam melaksanakan Internal;dan
pengelolaan; d. Memastikan terselenggaranya pelaksanaan Pola Tata Kelola dalam
e. Melakukan evaluasi dan penilaian kinerja, baik keuangan maupun non setiap kegiatan RSUD pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi.
keuangan, serta memberikan saran dan catatan-catatan penting untuk (5) Untuk dapat melaksanakan tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada
ditindaklanjuti; ayat (4) kepada Dewan Pengawas diberikan kewenangan untuk:
f. Memonitor tindak lanjut hasil evaluasi dan penilaian kinerja; a. Melihat buku-buku, surat-surat, dokumen-dokumen lainnya,
g. Mengawal visi dan misi RSUD secara keseluruhan; memeriksa kas untuk keperluan verifikasi dan memeriksa kekayaaan
h. Memberikan pendapat dan saran mengenai RSUD; RSUD;
b. Meminta penjelasan pejabat pengelola dan atau pejabat lain d. memiliki kesehatan yang baik untuk melakukan tugasnya.
mengenai segala macam persoalan RSUD;
c. Meminta pejabat pengelola dan atau pejabat lainnya dengan
sepengetahuan pejabat pengelola untuk menghadiri Rapat Dewan
Pengawas;
d. Memberikan persetujuan atau bantuan kepada pejabat pengelola
Paragraf 3
dalam melakukan perbuatan hukum; Masa Jabatan
e. Mengajukan anggaran untuk keperluan tugas-tugas Dewan Pasal 17
Pengawas;dan Masa jabatan anggota Dewan Pengawas ditetapkan selama 5 (lima) tahun,
f. Mendatangkan ahli, konsultan atau lembaga independen lainnya, bila dan dapat diangkat kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya.
diperlukan untuk penjelasan.
Paragraf 4
Paragraf 2 Rapat-Rapat dan Pelaporan
Komposisi dan Kreteria Pasal 18
Pasal 16 (1) Rapat Dewan Pengawas terdiri dari :
(1) Dewan Pengawas berjumlah 5 (lima) orang anggota, dan seorang a. Rapat berkala;
diantara anggota Dewan Pengawas Ketua Dewan Pengawas. b. Rapat khusus; dan
(2) Anggota Dewan Pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri c. Rapat tahunan.
dari unsur-unsur ; (2) Rapat Dewan Pengawas hanya dapat dilaksanakan apabila yang hadir
a. Pejabat SKPD yang berkaitan dengan kegiatan BLUD; mencapai qorum, yaitu 3 (tiga) orang anggota.
b. Pejabat DPKD atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Bupati ;dan (3) Dalam hal qorum tidak tercapai maka rapat diundur setengah jam dari
c. Tenaga ahli yang sesuai dengan kegiatan BLUD. jadwal yang ditentukan dalam undangan.
(3) Gubernur dapat mengangkat Sekretaris Dewan Pengawas untuk (4) Dalam hal qorum tetap tidak tercapai maka rapat pada hari, jam, tempat
mendukung kelancaran tugas Dewan Pengawas. dan agenda yang sama pada minggu berikutnya tanpa surat undangan
(4) Sekretaris Dewan Pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dengan tidak lagi mempersoalkan jumlah anggota yang hadir.
bukan merupakan anggota Dewan Pengawas. (5) Untuk kepentingan pengambilan keputusan yang akurat dapat dihadirkan
(5) Kreteria yang dapat diusulkan menjadi Dewan Pengawas adalah: pihak-pihak yang terkait, termasuk mendatangkan ahli bilamana
a. memiliki dedikasi dan memahami masalah-masalah yang berkaitan diperlukan.
dengan kegiatan RSUD, serta dapat menyediakan waktu yang cukup
untuk melaksanakan tugasnya; Pasal 19
b. mampu melaksanakan perbuatan hukum dan tidak pernah dinyatakan (1) Rapat berkala sebagaimana dimaksud dalam pasal 18 ayat (1) huruf a
pailit atau tidak penah menjadi anggota direksi atau komisaris, atau dilaksanakan paling sedikit 10 (sepuluh) kali dalam setahun.
dewan pengawas dinyatakan bersalah sehingga menyebabkan suatu (2) Undangan rapat berkala harus disampaikan kepada seluruh anggota
badan usaha pailit atau orang yang tidak pernah melakukan tindak Dewan Pengawas paling lambat 2 (dua) hari sebelum tanggal
pidana yang merugikan daerah; dilaksanakan.
c. mempunyai kompetensi dalam bidang manajemen keuangan, sumber (3) Setiap undangan rapat harus dilampiri risalah singkat dari hasil rapat
daya manusia dan mempunyai komitmen terhadap peningkatan yang diadakan sebelumnya, kecuali untuk rapat yang diadakan pertama
kualitas pelayanan public; dan kali.
Pasal 20 (2) Pemberhentian anggota Dewan Pengawas sebelum waktunya
(1) Rapat khusus sebagaimana dimaksud dalam pasal 18 ayat (1) huruf b sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apabila :
diadakan atas permintaan oleh sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang a. Tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik;
anggota atau karena adanya keadaan tertentu yang sangat urgen untuk b. Tidak melaksanakan ketentuan perundang-undangan;
segera diselesaikan. c. Terlibat dalam tindakan yang merugikan RSUD; atau
(2) Undangan rapat khusus harus disampaikan kepada seluruh anggota 24 d. Dipidana penjara karena dipersalahkan melakukan tindak pidana
(dua puluh empat) jam sebelum tanggal dilaksanakan dengan dan/atau kesalahan yang berkaitan dengan tugasnya melaksanakan
mencantumkan alasan dan tujuannya secara spesifik. pengawasan terhadap RSUD.
(3) Rapat khusus atas permintaan anggota harus diselenggarakan paling
Bagian Kedua
lambat 7 (tujuh) hari sejak diterimanya surat permintaan.
Pejabat Pengelola
Paragraf 1
Pasal 21
Komponen Pejabat Pengelola
(1) Rapat tahunan diselenggarakan sekali dalam setahun untuk mendengar
Pasal 24
dan membahas laporan Direktur sebagai penanggung-jawab teknis (1) Pejabat Pengelola PPK-BLUD RSUD Pariaman terdiri atas :
operasional tentang kondisi RSUD (termasuk laporan keuangan) serta a. Pemimpin;
untuk menyusun laporan tahunan Dewan Pengawas kepada Gubernur. b. Pejabat keuangan; dan
(2) Undangan rapat tahunan dewan harus disampaikan kepada seluruh c. Pejabat teknis.
anggota paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum rapat diadakan. (2) Pemimpin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, adalah Direktur
(3) Setiap rapat khusus dan rapat tahunan Dewan Pengawas wajib dihadiri RSUD.
oleh segenap anggota direksi serta pihak-pihak lain yang ditentukan oleh (3) Pejabat keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, adalah
Dewan Pengawas. Kepala Bidang Keuangan dan Perencanaan.
(4) Pejabat teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, adalah
Pasal 22 Kepala Bagian Tata Usaha, Kepala Bidang Pelayanan Medis dan
(1) Rapat Dewan Pengawas dipimpin oleh Ketua Dewan Pengawas. Keperawatan serta Kepala Bidang Penunjang.
(2) Dalam hal Ketua Dewan Pengawas berhalangan hadir maka rapat
diadakan apabila telah mencapai qorum dengan memilih salah seorang Paragraf 2
anggota untuk memimpin rapat. Pengangkatan dan Pemberhentian Pejabat Pengelola
(3) Dewan Pengawas melaporkan pelaksanaan tugas pokok dan Pasal 25
kewajibannya sebagaimana dimaksud pada pasal 18 ayat (2) dan (3), (1) Pengangkatan dalam jabatan dan penempatan pejabat pengelolaan
kepada Gubernur secara berkala paling sedikit 1 (satu) dalam satu tahun BLUD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1), ditetapkan
dan sewaktu-waktu apabila diperlukan. berdasarkan kompetensi dan kebutuhan praktek bisnis yang sehat yang
dijaring melalui proses fit and proper test, setelah memenuhi syarat-
Paragraf 5 syarat kepegawaian yang ditetapkan oleh Gubernur.
Pemberhentian (2) Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), merupakan
Pasal 23 kemampuan dan keahlian yang dimiliki oleh pejabat pengelola BLUD
(1) Anggota Dewan Pengawas dapat diberhentikan sebelum waktunya oleh
berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan
Gubernur.
dalam pelaksanaan tugas jabatannya.
(3) Kebutuhan praktek bisnis yang sehat sebagaimana dimaksud pada ayat sumber daya manusia perencanaan dan anggaran, perbendaharaan,
(1), merupakan kepentingan BLUD untuk meningkatkan kinerja verifikasi dan akuntansi;
keuangan dan non keuangan berdasarkan kaidah-kaidah manajemen b. Penyelenggaraan urusan pelayanan medis, pelayanan keperawatan,
yang baik. fasilitas penunjang medis dan keperawatan, umum, sumber daya
(4) Fit and proper test yang dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh tim manusia, perencanaan dan anggaran, perbendaharaan, verifikasi dan
yang dibentuk oleh Bupati. akuntansi;
(5) Pejabat pengelola dapat berasal dari PNS dan / non PNS yang c. Pembinaan dan penyelenggaraan di bidang pelayanan medis,
profesional sesuai dengan kebutuhan. pelayanan keperawatan, fasilitas penunjang medis dan keperawatan,
(6) Pejabat pengelola yang berasal dari non PNS sebagaimana dimaksud umum, sumber daya manusia, perencanaan dan anggaran,
pada ayat (5), dapat dipekerjakan secara tetap atau berdasarkan perbendaharaan, verifikasi dan akuntansi; dan
kontrak. d. Penyelenggaraan tugas kedinasan lain sesuai dengan bidang
(7) Prosedur pengangkatan dan pemberitahuan pejabat pengelola yang tugasnya;
berasal dari PNS disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan.
(8) Ketentuan lebih lanjut mengenai Prosedur pengangkatan dan
pemberhentian pejabat pengelola yang berasal dari non PNS, diatur (3) Rincian tugas Direktur terdiri dari :
dengan Keputusan Gubernur. a. Menyusun rencana kegiatan RSUD sebagai pedoman dalam
(9) Masa jabatan Pejabat Pengelola selama-lamanya 5 (lima) tahun pelaksanaan tugas;
terhitung sejak pengangkatannya dan setelah masa jabatan berakhir b. Mendistribusikan dan memberi petunjuk pelaksanaan tugas kepada
dapat diangkat kembali untuk masa jabatan kedua kalinya apabila bawahan sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar;
c. Memantau, mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan tugas dan
mempunyai prestasi yang baik yang dibuktikan dengan kinerja RSUD
kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas-tugas yang telah dan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
(10) Pejabat pengelola BLUD diangkat dan diberhentikan oleh Bupati. belum dilaksanakan;
d. Membuat konsep, memaraf dan/atau menandatangani naskah dinas;
Bagian Ketiga e. Mengikuti rapat-rapat sesuai dengan bidang tugasnya;
Direktur f. Merumuskan kebijakan teknis operasional kegiatan RSUD;
Pasal 26 g. Menyelenggarakan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka
(1) Direktur mempunyai tugas pokok menyelenggarakan urusan dibidang penyelenggaraan pelayanan administrasi, medik dan keperawatan;
penyelenggaraan upaya penyembuhan dan pemulihan kesehatan yang h. Menyelenggarakan pembinaan kepada masyarakat berkaitan dengan
dilaksanakan secara serasi, terpadu dan berkesinambungan dengan pengelolaan dan pelayanan RSUD;
i. Menyelenggarakan urusan pelayanan administrasi, medik dan
upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan serta melaksanakan
keperawatan RSUD;
upaya rujukan berdasarkan asas desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas
j. Menyelenggarakan dan mengkoordinasikan pelayanan kepada
pembantuan.
masyarakat khususnya di bidang promotif, pencegahan, pemulihan,
(2) Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat
rehabilitasi di bidang kesehatan;
(1), direktur mempunyai fungsi :
k. Menyelenggarakan upaya rujukan di sektor kesehatan serta pelayanan
a. Perumusan kebijakan teknis dibidang pelayanan medis, pelayanan
kesehatan penunjang lainnya;
keperawatan, fasilitas penunjang medis dan keperawatan, umum,
l. Menyelenggarakan kebijakan program, keuangan, umum,
perlengkapan dan kepegawaian dalam lingkungan RSUD;
m. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas RSUD dan memberikan h. Mengkoordinasikan dan melaksanakan pengelolaan urusan
saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kepegawaian, pendidikan dan pelatihan;
kebijakan; dan i. Mengkoordinasikan dan melaksanakan urusan aset dan perlengkapan;
n. Menyelenggarakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh j. Mengkoordinasikan dan melaksanakan urusan humas dan hukum;
atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran k. Melaksanakan administrasi pengelolaan urusan umum,
pelaksanaan tugas. kerumahtanggaan, perlengkapan, humas dan hukum;
(4) Direktur, membawahi : l. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas Bagian Tata Usaha dan
a. Bagian Tata Usaha; memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan
b. Bidang Pelayanan Medis dan Keperawatan; perumusan kebijakan; dan
c. Bidang Keuangan dan Perencanaan; dan m. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan
d. Bidang Penunjang sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan
tugas.
Bagian Keempat (4) Bagian Tata Usaha terdiri dari :
Bagian Tata Usaha a. Sub Bagian Umum;
Pasal 27 b. Sub Bagian Kepegawaian, Pendidikan dan latihan; dan
(1) Bagian Tata Usaha mempunyai tugas dibidang ketatausahaan meliputi c. Sub Bagian Aset dan Perlengkapan.
surat menyurat, kearsipan, ekspedisi dan penggandaan melaksanakan
penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan, pengkoordinasian Pasal 28
penyelenggaraan tugas secara terpadu, pelayanan administrasi dan (1) Sub Bagian Umum mempunyai tugas pokok melakukan urusan
pelaksanaan dibidang umum, kepegawaian, pendidikan dan pelatihan. ketatausahaan yang meliputi surat menyurat, kearsipan, ekspedisi dan
(2) Untuk menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penggandaan melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis,
Bagian Tata Usaha mempunyai fungsi : pembinaan, pengkoordinasian penyelenggaraan tugas secara terpadu,
a. Pelaksanaan urusan umum; pelayanan administrasi, dan pelaksanaan dibidang umum meliputi
b. Pelaksanaan urusan kepegawaian, pendidikan dan latihan; pengelolaan administrasi, humas, organisasi dan tatalaksana,
c. Pelaksanaan urusan aset dan perlengkapan; dan
ketatausahaan, rumah tangga dilingkungan RSUD.
d. Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai dengan bidang tugasnya.
(2) Rincian tugas Sub Bagian Umum terdiri dari :
(3) Rincian tugas Bagian Tata Usaha terdiri dari :
a. Melaksanakan penyusunan perencanaan dan program sub bagian
a. Menyusun rencana kegiatan Bagian Tata Usaha sebagai pedoman
umum;
dalam pelaksanaan tugas;
b. Mendistribusikan tugas-tugas tertentu dan memberi petunjuk
b. Mendistribusikan dan memberi petunjuk pelaksanaan tugas kepada
pelaksanaan tugas kepada bawahan sehingga pelaksanaan tugas
bawahan sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar;
c. Memantau, mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan tugas dan berjalan lancar;
c. Memantau, mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan tugas dan
kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas-tugas yang telah dan
kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas-tugas yang telah dan
belum dilaksanakan;
d. Membuat konsep, mengoreksi, memaraf dan /atau menandatangani belum dilaksanakan;
d. Membuat konsep, mengoreksi dan memaraf naskah dinas untuk
naskah dinas;
e. Mengikuti rapat-rapat sesuai dengan bidang tugasnya; menghindari kesalahan;
f. Menyusun rumusan kebijakan teknis bidang urusan umum; e. Mengikuti rapat-rapat sesuai dengan bidang tugasnya;
g. Mengkoordinasikan dan melaksanakan pengelolaan urusan umum;
f. Mengatur penatausahaan naskah dinas masuk dan keluar yang b. Melaksanakan penyusunan bahan dan penyiapan anggaran
berhubungan dengan kegiatan RSUD; kepegawaian, pendidikan dan latihan pada RSUD;
g. Mengklasifikasi dan mendistribusikan naskah dinas sesuai petunjuk c. Mendistribusikan tugas-tugas tertentu dan memberi petunjuk
/disposisi pimpinan untuk diproses lebih lanjut; pelaksanaan tugas kepada bawahan sehingga pelaksanaan tugas
h. Melakukan kegiatan protokoler termasuk kegiatan acara dan apel; berjalan lancar;
i. Menyusun administrasidan menyiapkan surat perintah/surat d. Memantau, mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan tugas dan
tugas/surat perintah perjalanan dinas serta mendokumentasikan kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas-tugas yang telah dan
laporan pelaksanaan perintah perjalanan dinas; belum dilaksanakan;
j. Melakukan penatausahaan dan tertib penggunaan kendaraan dinas; e. Membuat konsep, mengoreksi dan memaraf naskah dinas untuk
k. Melakukan koordinasi dengan instalasi rekam medik untuk menghindari kesalahan;
perencanaan, pelaksaan dan pengawasan kegiatan penyelenggaraan f. Mengikuti rapat-rapat sesuai dengan bidang tugasnya;
rekam medik; g. Menyiapkan bahan mengelola dan menghimpun daftar hadir pegawai;
l. Menyusun kebutuhan literatur untuk perpustakaan RSUD; h. Menyiapkan bahan dan menyusun rencana formasi, informasi jabatan,
m. Menyelenggarakan dan mengawasi kegiatan pelayanan perpustakaan; dan bezetting pegawai;
n. Mengkoordinasikan dan melakukan kegiatan kehumasan RSUD; i. Menyiapkan bahan dan mengelola administrasi kepegawaian meliputi
o. Melakukan koordinasi kegiatan penghapusan arsip RSUD; usul kenaikan pangkat, perpindahan, pensiun, penilaian pelaksanaan
p. Membuat dan menyusun rumusan / rancangan produk hukum dan
pekerjaan, kenaikan gaji berkala, cuti, ijin, masa kerja, peralihan
kebijakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
status, dan layanan administrasi kepegawaian lainnya;
berlaku; j. Melaksanakan penyiapan dan pengusulan tugas/ijin belajar,
q. Memberikan perlindungan hukum dan tatalaksana kegiatan pelayanan
pendidikan/pelatihan kepemimpinan teknis dan fungsional;
RSUD; k. Menyiapkan bahan usulan pemberian tanda penghargaan dan tanda
r. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas sub bagian umum dan
jasa pegawai negeri sipil;
memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan l. Menyiapkan bahan perumusan kebijakan pembinaan, peningkatan
perumusan kebijakan; dan kompetensi, disiplin dan kesejahteraan pegawai negeri sipil;
s. Melakukan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai m. Mengembangkan penerapan sistem informasi kepegawaian berbasis
bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. teknologi informasi;
n. Menghimpun dan mensosialisasikan peraturan perundang-undangan
di bidang kepegawaian dalam lingkup rumah sakit daerah;
o. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas Sub Bagian Kepegawaian,
Pasal 29
(1) Sub Bagian Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan mempunyai tugas Pendidikan dan Latihan dan memberikan saran pertimbangan kepada
melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan, atasan sebagai bahan perumusan kebijakan; dan
p. Melakukan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan untuk
pengkoordinasian penyelenggaraan tugas secara terpadu, pelayanan
mendukung kelancaran pelaksanaan tugas.
administrasi dilingkungan RSUD.
(2) Rincian tugas Sub Bagian Kepegawaian, Pendidikan dan Latihan terdiri
Pasal 30
dari : (1) Sub Bagian Aset dan Perlengkapan mempunyai tugas melakukan
a. Melaksanakan penyusunan perencanaan dan program Sub Bagian
penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan,
Kepegawaian, Pendidikan dan Latihan;
pengkoordinasian penyelenggaraan tugas secara terpadu, pelayanan c. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Direktur sesuai tugas dan
administrasi bidang aset dan perlengkapan kesehatan. fungsinya.
(2) Rincian Tugas Sub Bagian Aset dan Perlengkapan terdiri dari : (3) Rincian tugas Bidang Keuangan dan Perencanaan terdiri dari:
a. Melaksanakan penyusunan program kerja Sub Bagian Aset dan a. Menyusun rencana kegiatan keuangan dan perencanaan sebagai
Perlengkapan; pedoman dalam pelaksanaan tugas;
b. Melaksanakan koordinasi penyusunan perencanaan dan program b. Mendistribusikan dan memberi petunjuk pelaksanaan tugas kepada
RSUD yang meliputi bidang aset dan perlengkapan pelayanan bawahan sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar;
kesehatan; c. Memantau, mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan tugas dan
c. Mengelola sarana dan prasarana serta melakukan urusan rumah kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas-tugas yang telah dan
tangga RSUD; belum dilaksanakan;
d. Mengkoordinasikan dan melakukan pemeliharaan kebersihan dan d. Membuat konsep, mengoreksi, memaraf dan/atau menandatangani
pengelolaan keamanan lingkungan kantor; naskah dinas;
e. Menyiapkan bahan dan menyusun rencana kebutuhan, pemeliharaan e. Mengikuti rapat-rapat sesuai dengan bidang tugasnya;
dan penghapusan barang; f. Menyelenggarakan pengkajian bahan kebijakan teknis pembinaan
f. Menyiapkan bahan dan menyusun administrasi pengadaan, keuangan dan perencanaan;
pendistribusian, pemeliharaan, inventarisasi dan penghapusan g. Menyelenggarakan pengkajian bahan fasilitas keuangan dan
barang; perencanaan;
g. Menyiapkan bahan dan menyusun daftar inventarisasi barang serta h. Menyelenggarakan fasilitas keuangan dan perencanaan;
menyusun laporan barang inventaris; i. Menyelenggarakan koordinasi keuangan dan perencanaan;
h. Melaksanakan pelaporan dan evaluasi kegiatan Sub Bagian Aset dan j. Menyelenggarakan fasilitas dan pengembangan keuangan dan
Perlengkapan; perencanaan;
i. Melaksanakan penyusunan bahan telaahan staf sebagai bahan k. Menyelenggarakan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan
pertimbangan pengambilan kebijakan; pengambilan kebijakan;
j. Melaksanakan koordinasi dengan unit terkait; dan l. Menyelenggarakan pelaporan dan evaluasi kegiatan keuangan dan
k. Melakukan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan untuk perencanaan;
mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. m. Menyelenggarakan koordinasi dengan unit kerja terkait; dan
n. Menyelenggarakan tugas lain sesuai dengan tugas pokok dan
Bagian Kelima fungsinya.
Bidang Keuangan dan Perencanaan (4) Bidang Keuangan dan Perencanaan, Membawahi :
Pasal 31 a. Seksi Perencanaan dan Anggaran; dan
(1) Bidang Keuangan dan Perencanaan mempunyai tugas melaksanakan b. Seksi Perbendaharaan, Akuntansi dan Verifikasi.
penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di
Pasal 32
bidang Keuangan dan Perencanaan.
(1) Seksi Perencanaan dan Anggaran mempunyai tugas melakukan
(2) Untuk menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan
Bidang Keuangan dan Perencanaan mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan urusan program dan perencanaan; pelaksanaan dibidang perencanaan dan anggaran.
b. Pelaksanaan urusan pengelolaan keuangan; dan (2) Rincian Tugas Seksi Perencanaan dan Anggaran terdiri dari :
a. Melaksanakan penyusunan program kerja Seksi Perencanaan dan
Anggaran;
b. Membuat konsep surat edaran dan disampaikan ke semua unit kerja b. Melakukan pengelolaan kas dengan menyelenggarakan penerimaan
lingkup rumah sakit untuk menginventarisasi semua kegiatan, dan pengeluaran kas, melakukan pemungutan pendapatan dan
permasalahan dan rencana tindak lanjut sebagai bahan penyusunan tagihan, menyimpan kas dan rekening bank, melakukan
program dan anggaran; pembayaran,mendapatkan sumber dana menutup defisit jangka
c. Menyusun konsep penjabaran kebijakan umum anggaran daerah pendek dan memanfaatkan surplus kas jangka pendek untuk
sebagai bahan penyusunan anggaran pendapatan dan belanja memperoleh pendapatan tambahan;
tahunan; c. Meneliti pengajuan surat-surat permintaan pembayaran;
d. Menyusun konsep perencanaan program tahunan, rencana kerja d. Meneliti penerbitan Surat Perintah Membayar untuk penarikan dana
anggaran (RKA) atas penjabaran dari rencana kerja pemerintah yang bersumber dari APBD/APBN;
daerah (RKPD); e. Meneliti surat-surat perintah dana yang diterbitkan bendahara umum
e. Melakukan koordinasi dengan unit kerja terkait dalam rangka daerah atas beban pengeluaran DPA;
perencanaan program dan anggaran; f. Menyiapkan bahan rancangan awal sistem dan prosedur keuangan di
f. Melakukan analisis perencanaan utang dan piutang atas kegiatan bidang Akuntansi Manajemen dan Verifikasi;
operasional RSUD sebagai bahan perumusan kebijakan pimpinan; g. Melakukan verifikasi penanganan dari rekanan;
g. Menyusun rencana target penerimaan pendapatan anggaran dan h. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas Sub Bagian
analisis sumber-sumber penerimaan; Perbendaharaan, Akuntansi dan Verifikasi dan memberikan saran
h. Menyusun plafon pembiayaan untuk belanja langsung dan tidak pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan;
langsung beserta analisis penggunaan anggaran pertahun anggaran; i. Menyiapkan bahan rancangan awal sistem dan prosedur keuangan di
i. Menyusun Dokumen Pengesahan Anggaran yang bersumber APBD bidang Akuntansi Keuangan;
dan APBN; j. Menyiapkan bahan rancangan awal laporan keuangan RSUD secara
j. Menyusun konsep kerja sama dengan pihak lain dan atau hasil usaha periodik;
lainnya dalam upaya peningkatan pendapatan RSUD; k. Melakukan akuntansi yang meliputi transaksi keuangan beserta
k. Menyusun rencana perubahan anggaran baik dari APBD/APBN setiap dokumen pendukungnya dikelola secara tertib;
tahun anggaran; l. Melakukan akutansi keuangan secara tertib sesuai dengan standar
l. Melaksanakan penyusunan bahan telaahan staf sebagai bahan akuntansi keuangan yang diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntansi
pertimbangan pengambilan kebijakan; Indonesia;
m. Melaksanakan pelaporan dan evaluasi kegiatan Seksi Perencanan dan m. Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait;dan
Anggaran; n. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
n. Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait; dan
o. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Bagian Keenam
Bidang Pelayanan Medis dan Keperawatan
Pasal 33 Pasal 34
(1) Seksi Perbendaharaan, Akuntansi dan Verifikasi mempunyai tugas (1) Bidang Pelayanan Medis dan Keperawatan mempunyai tugas
melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan
dan pelaksanaan di bidang Perbendaharaan, Akuntansi Verifikasi. pelaksanaan di bidang Pelayanan Medis dan Keperawatan.
(2) Rincian Tugas Seksi Perbendaharaan, Akuntansi dan Verifikasi terdiri dari: (2) Untuk menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
a. Melaksanakan penyusunan program kerja seksi perbendaharaan, Bidang Pelayanan Medis dan Keperawatan mempunyai fungsi :
akuntansi dan verifikasi;
a. Penyusunan perencanaan dan pengembangan pelayanan medis dan o. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan
keperawatan; sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan
b. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi kegiatan pelayanan medis dan tugas;
keperawatan;dan (4) Bidang Pelayanan Medis dan Keperawatan, membawahi :
c. Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai dengan bidang tugasnya. a. Seksi Pelayanan Medis ;dan
(3) Rincian tugas Bidang Pelayanan Medis dan Keperawatan terdiri dari: b. Seksi Keperawatan.
a. Menyelenggarakan pengkajian program kerja Bidang Pelayanan Medis
dan Keperawatan; Pasal 35
b. Mendistribusikan dan memberi petunjuk pelaksanaan tugas kepada (1) Seksi Pelayanan Medis mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan
bawahan sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar; perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang
c. Memantau, mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan tugas dan Pelayanan Medis.
kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas-tugas yang telah dan (2) Rincian Tugas Seksi Pelayanan medis terdiri dari:
belum dilaksanakan; a. Melaksanakan penyusunan program kerja Seksi Pelayanan Medis;
d. Membuat konsep, mengoreksi, memaraf, dan/atau menandatangani b. Mendistribusikan tugas-tugas tertentu dan memberi petunjuk
naskah dinas; pelaksanaan tugas kepada bawahan sehingga pelaksanaan tugas
e. Mengikuti rapat-rapat sesuai dengan bidang tugasnya; berjalan lancar;
f. Merumuskan kebijakan teknis bidang pelayanan medis dan c. Memantau, mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan tugas dan
keperawatan; kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas-tugas yang telah dan
g. Mengkoordinasikan program perencanaan dan pengembangan belum dilaksanakan;
pelayanan medis dan keperawatan dalam rangka sinkronisasi; d. Membuat konsep, mengoreksi dan memaraf naskah dinas untuk
h. Melaksanakan pengelolaan pelayanan medis dan keperawatan; menghindari kesalahan;
i. Melaksanakan administrasi pengelolaan pelayanan medis dan e. Mengikuti rapat-rapat sesuai dengan bidang tugasnya;
keperawatan; f. Menyiapkan bahan-bahan kerja dengan cara mengumpulkan semua
j. Melaksanakan penyusunan standar-standar pelayanan medik sebagai ketentuan, peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pelayanan
pedoman pelaksanaan dan pengawasan pelayanan medis dan medik;
keperawatan; g. Menyusun konsep perencanaan program dan kegiatan pelaksanaan
k. Memfasilitasi pengusulan peserta pendidikan dan pelatihan bidang pelayanan medis;
pelayanan medis dan keperawatan; h. Menyusun konsep sistem prosedur operasional pelayanan medis pada
l. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait serta pihak lainnya instalasi rawat jalan, istalasi rawat inap, instalasi rawat darurat,
dalam rangka pelaksanaan kegiatan pelayanan medis dan instalasi rawat intensif, instalasi bedah sentral, instalasi farmasi,
keperawatan; instalasi laboratorium patologi klinik, instalasi laboratorium patologi
m. Menyusun instrumen serta melaksanakan monitoring dan evaluasi anatomi, instalasi radiologi;
pelaksanaan pelayanan medis dan keperawatan; i. Menyusun jadwal jaga tenaga medis pada instalasi pelayanan yang
n. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas Bidang Pelayanan Medis dikoordinasikan;
dan Keperawatan dan memberikan saran pertimbangan kepada j. Menyimpan/menata surat-surat yang berkaitan dengan perencanaan
atasan sebagai bahan perumusan kebijakan;dan dan pengembangan pelayanan medis;
k. Mengkoordinasikan pelaksanaan program perencanaan dan g. Menyusun konsep perencanaan program dan kegiatan pelaksanaan
pengembangan pelayanan medis dengan unit terkait agar diperoleh pengembangan pelayanan keperawatan;
sinkronisasi dalam pelaksanaan program; h. Menyusun konsep sistem prosedur operasional pelayanan
l. Melakukan evaluasi pelaksanaan program pelayanan medis dengan keperawatan pada instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap, instalasi
unit terkait melalui rapat, kunjungan atau pertemuan untuk rawat darurat, instalasi rawat intensif, dan instalasi bedah sentral;
mengetahui masalah, hambatan dan upaya tindak lanjut; i. Melakukan koordinasi yang berkaitan dengan pelayanan keperawatan
m. Menghimpun laporan kegiatan pelayanan setiap instalasi yang pada instalasi farmasi, instalasi laboratorium patologi klinik, instalasi
dikoordinasikan untuk bahan penyempurnaan kegiatan yang akan laboratorium patologi anatomi, instalasi radiologi;
datang; j. Menyusun jadwal jaga tenaga keperawatan pada instalasi pelayanan
n. Menyusun standar pelayanan medik untuk pedoman pelaksanaan dan yang dikoordinasikan;
pengawasan; k. Melakukan pelayanan administrasi yang berkaitan dengan
o. Mengajukan usul peserta pelatihan bidang pelayanan medis; perencanaan dan pengembangan pelayanan keperawatan;
p. Menyusun konsep kebutuhan tenaga medis sesuai standar l. Mengkoordinasikan pelaksanaan program perencanaan dan
ketenagaan yang ditetapkan; pengembangan pelayanan keperawatan dengan unit terkait agar
q. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas seksi pelayanan medis dan diperoleh sinkronisasi dalam pelaksanaan programnya;
memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan m. Menghimpun laporan kegiatan pelayanan setiap instalasi yang
perumusan kebijakan;dan dikoordinasikan untuk bahan penyempurnaan kegiatan yang akan
r. Melakukan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai datang;
bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. n. Mengajukan usul peserta pelatihan bidang pelayanan keperawatan;
o. Menyusun konsep kebutuhan tenaga keperawatan sesuai standar
Pasal 35 ketenagaan yang di tetapkan;
(1) Seksi Keperawatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan p. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas Seksi Keperawatan dan
perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan
Keperawatan. perumusan kebijakan;dan
(2) Rincian Tugas Seksi Keperawatan terdiri dari: q. Melakukan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai
a. Melaksanakan penyusunan program kerja Seksi Keperawatan; bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas.
b. Mendistribusikan tugas-tugas tertentu dan memberi petunjuk
pelaksanaan tugas kepada bawahan sehingga pelaksanaan tugas Bagian Ketujuh
berjalan lancar; Bidang Penunjang
c. Memantau, mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan tugas dan Pasal 36
kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas-tugas yang telah dan (1) Bidang Penunjang mempunyai tugas melaksanakan penyiapan
belum dilaksanakan; perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang
d. Membuat konsep, mengoreksi dan memaraf naskah dinas untuk penunjang kesehatan dan informasi kesehatan.
menghindari kesalahan; (2) Untuk menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
e. Mengikuti rapat-rapat sesuai dengan bidang tugasnya; Bidang Penunjang mempunyai fungsi :
f. Menyiapkan bahan-bahan kerja dengan cara mengumpulkan semua a. Penyusunan rencana dan pengembangan kebutuhan fasilitas medis
ketentuan, peraturan, peralatan yang berkaitan dengan pelayanan dan keperawatan;
keperawatan;
b. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi pemanfaatan fasilitas medis dan Pasal 37
keperawatan;dan (1) Seksi Penunjang Medik mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan
c. Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai dengan bidang tugasnya. perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang
(3) Rincian tugas Bidang Penunjang terdiri dari: Penunjang Medik.
a. Menyelenggarakan pengkajian program kerja Bidang Penunjang; (2) Rincian Tugas Seksi Penunjang Medik terdiri dari:
b. Mendistribusikan dan memberi petunjuk pelaksanaan tugas kepada a. Melaksanakan penyusunan program kerja Seksi Penunjang Medik;
bawahan sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar; b. Mendistribusikan tugas-tugas tertentu dan memberi petunjuk
c. Memantau, mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas kepada bawahan sehingga pelaksanaan tugas
kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas-tugas yang telah dan berjalan lancar;
belum dilaksanakan; c. Memantau, mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan tugas dan
d. Membuat konsep, mengoreksi, memaraf dan/atau menandatangani kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas-tugas yang telah dan
naskah dinas; belum dilaksanakan;
e. Mengikuti rapat-rapat sesuai dengan bidang tugasnya; d. Membuat konsep, mengoreksi dan memaraf naskah dinas untuk
f. Merumuskan kebijakan teknis bidang penunjang; menghindari kesalahan;
g. Mengkoordinasikan dan menyusun perencanaan pengembangan e. Mengikuti rapat-rapat sesuai dengan bidang tugasnya;
fasilitas penunjang medik dan keperawatan; f. Menyiapkan bahan-bahan kerja dengan cara mengumpulkan semua
h. Mengkoordinasikan perencanaan program dan pengembangan bidang ketentuan, peraturan-peraturan yang berkaitan dengan fasilitas
fasilitas medik dan keperawatan dalam rangka sinkronisasi kegiatan; penunjang medik;
i. Melaksanakan penyusunan standar-standar pelayanan fasilitas g. Menyusun konsep perencanaan program dan kegiatan pelaksanaan
penunjang medik dan keperawatan; pengembangan fasilitas penunjang medik;
j. Melaksanakan pengelolaan fasilitas medik dan keperawatan; h. Menyusun konsep sistem prosedur operasional pengelolaan fasilitas
k. Melaksanakan administrasi pelaksanaan perencanaan dan
medik dan keperawatan pada instalasi rawat jalan, instalasi rawat
pengembangan fasilitas penunjang medik dan keperawatan;
inap, instalasi gawat darurat, instalasi rawat intensip, instalasi bedah
l. Mengkoordinasikan, menyusun instrumen dan melaksanakan
sentral, instalasi farmasi, instalasi laboratorium patologi klinik,
monitoring dan evaluasi pelaksanaan pelayanan pengelolaan fasilitas
instalasi laboratorium patologi anatomi, instalasi radiologi;
penunjang medik dan keperawatan pada setiap instalasi;
i. Menyusun jadwal kegiatan pengadaan fasilitas penunjang medik pada
m. Melaksanakan pengelolaan pengusulan peserta pendidikan dan
instalasi pelayanan yang dikoordinasikan;
pelatihan bidang fasilitas penunjang medik dan keperawatan;
j. Menyimpan / menata surat-surat yang berkaitan dengan perencanaan
n. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas Bidang Penunjang dan
dan pengembangan fasilitas penunjang medik;
memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan
k. Mengkoordinasikan pelaksanaan program perencanaan dan
perumusan kebijakan;dan
pengembangan fasilitas penunjang medik dengan unit terkait agar
o. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan
diperoleh sinkronisasi dalam pelaksanaan programnya;
sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan
l. Menyelia pelaksanaan program fasilitas penunjang medik dengan unit
tugas.
terkait melalui rapat, kunjungan atau pertemuan untuk mengetahui
(4) Bidang Penunjang, membawahi : masalah, hambatan dan upaya tindak lanjutnya;
a. Seksi Penunjang medik;dan
b. Seksi Non Penunjang Medik.
m. Menghimpun laporan kegiatan pelayanan pengelolaan fasilitas i. Menyusun jadwal kegiatan pengadaan fasilitas non penunjang medik
penunjang medik setiap instalasi yang dikoordinasikan untuk bahan pada instalasi pelayanan yang dikoordinasikan;
penyempurnaan kegiatan yang akan datang; j. Menyimpan/menata surat-surat yang berkaitan dengan perencanaan
n. Menyusun standar fasilitas penunjang medik untuk pedoman dan pengembangan fasilitas non penunjang medik;
pelaksanaan dan pengawasan; k. Mengkoordinasikan pelaksanaan program perencanaan dan
o. Mengajukan usul peserta pelatihan bidang fasilitas penunjang medik; pengembangan fasilitas non penunjang medik dengan unit terkait
p. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas Seksi Penunjang Medik agar diperoleh sinkronisasi dalam pelaksanaan programnya;
dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan l. Menyelia pelaksanaan program fasilitas non penunjang medik dengan
perumusan kebijakan;dan unit terkait melalui rapat, kunjungan atau pertemuan untuk
q. Melakukan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai mengetahui masalah, hambatan dan upaya tindak lanjutnya;
bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. m. Menghimpun laporan kegiatan pelayanan pengelolaan fasilitas non
penunjang medik setiap instalasi yang dikoordinasikan untuk bahan
Pasal 38 penyempurnaan kegiatan yang akan datang;
(1) Seksi Non Penunjang Medik mempunyai tugas melakukan penyiapan n. Menyusun standar fasilitas non penunjang medik untuk pedoman
bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di pelaksanaan dan pengawasan;
bidang Non Penunjang Medik, meliputi skala provinsi : o. Mengajukan usul peserta pelatihan bidang fasilitas non penunjang
(2) Rincian Tugas Seksi Non Penunjang Medik terdiri dari: medik;
a. Melaksanakan penyusunan program kerja Seksi Non Penunjang p. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas Seksi Non Penunjang
Medik; Medik dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai
b. Mendistribusikan tugas-tugas tertentu dan memberi petunjuk
bahan perumusan kebijakan;dan
pelaksanaan tugas kepada bawahan sehingga pelaksanaan tugas q. Melakukan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai
berjalan lancar; bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas.
c. Memantau, mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan tugas dan
kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas-tugas yang telah dan BAB VI
belum dilaksanakan; SATUAN PENGAWAS INTERNAL
d. Membuat konsep, mengoreksi dan memaraf naskah dinas untuk Bagian Kesatu
menghindari kesalahan; Kriteria, Komposisi dan Jumlah
e. Mengikuti rapat-rapat sesuai dengan bidang tugasnya; Pasal 39
f. Menyiapkan bahan-bahan kerja dengan cara mengumpulkan semua (1) Pegawai yang ditugaskan pada Satuan Pengawas Internal adalah
ketentuan, peraturan-peraturan yang berkaitan dengan fasilitas non pegawai fungsional yang dibentuk menjadi tim dengan memenuhi kriteria
penunjang medik; sebagai berikut :
g. Menyusun konsep perencanaan program dan kegiatan pelaksanaan a. Memiliki etika, integritas dan kapabilitas yang memadai;
pengembangan fasilitas non penunjang medik; b. Mempunyai komitmen dalam meningkatkan kualitas diri dan
h. Menyusun konsep sistem prosedur operasional pengelolaan fasilitas meningkatkan kinerja RSUD;
non penunjang medik pada instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap, c. Bersedia untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan SPI;
d. Memahami tugas pokok dan kewajiban di bidang pengawas internal;
instalasi rawat darurat, instalasi rawat intensip, instalasi bedah
e. Memiliki pengetahuan yang memadai atas keseluruhan tugas pokok
sentral, instalasi farmasi, instalasi laboratorium patologi klinik,
dan kewajiban di setiap Bidang/Bagian pada RSUD;dan
instalasi laboratorium patologi anatomi, instalasi radiologi;
f. Mempunyai sikap independen dan obyekti terhadap obyek yang Fungsi Satuan Pengawas Internal adalah membantu pejabat mengelola BLUD
diaudit. dalam hal :
(2) Komposisi tim sebagaimana pada ayat (1) terdiri dari; a. Pengamanan harta kekayaan ;
a. Pengendali Mutu yang berfungsi membina, merencanakan, b. Menciptakan akurasi sistem informasi keuangan;
mengkoordinasikan dan mengawasi tim dalam setiap penugasan dan c. Menciptakan efisiensi dan produktifitas ;dan
d. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen dalam menerapkan praktek
memediasi hasil pengawasan dengan Direktur;
b. Pengendalian teknis yang berfungsi mengawasi tim secara teknis bisnis yang sehat.
operasional dalam penugasan yang berkaitan dengan kepatuhan
Bagian Ketiga
terhadap prosedur audit/pengawasan dan mereviu draft laporan yang Tanggung Jawab dan Wewenang
disusun oleh ketua tim; Pasal 42
c. Ketua Tim yang berfungsi melaksanakan audit internal sesuai dengan (1) Satuan Pengawas Internal ditunjuk oleh Direktur dan bertanggung jawab
prosedur audit dan menyusun laporan hasil pengawasan;dan langsung kepada Direktur.
d. Anggota Tim yang berfungsi membantu ketua tim dalam (2) Satuan Pengawas Internal bertanggung jawab atas ketepatan dan
melaksanakan tugas audit internal. kebenaran dalam hal:
(3) Pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya a. Penjadwalan kerja;dan
terdiri dari satu tim yang jumlahnya ditetapkan dengan b. Pelaporan dan prosedur unit.
mempertimbangkan :
a. Keseimbangan antara manfaat dan beban;dan Pasal 43
b. Volume dan / atau kompleksitas pelayanan. Berdasarkan penugasan dari Direktur, Satuan Pengawas Internal mempunyai
wewenang sebagai berikut :
Bagian Kedua a. Mendapatkan buku catatan, laporan dan bukti-bukti terkait dengan ruang
Tugas Pokok dan Fungsi lingkup penugasan;
Pasal 40 b. Meminta keterangan dari pegawai atas kegiatan yang dilaksanakannya;dan
Tugas Pokok Satuan Pengawas Internal yaitu : c. Melaporkan kepada direktur atas adanya penyimpangan yang ditemukan.
a. Mengadakan penelitian terhadap sistem pengendalian manajemen dan
pelaksanaannya pada RSUD untuk memberikan saran-saran perbaikannya; BAB VII
b. Memimpin Tim SPI melaksanakan pemeriksaan sesuai penjadwalan; KOMITE
c. Membuat laporan hasil pemeriksaan kepada Direktur; Bagian Kesatu
d. Melakukan pembinaan terhadap Staf SPI; Pembentukan
e. Melakukan koordinasi dengan unit kerja lain di RSUD; Pasal 44
f. Mempersiapkan bahan manajemen review; (1) Komite dibentuk dengan tugas pokok untuk membantu Direktur
g. Melakukan pengembangan staf SPI dan melakukan pendidikan staf SPI; menyusun standar pelayanan, memantau pelaksanaannya, melaksanakan
h. Menyusun perencanaan/program kerja tahunan dan pelaksanaan pembinaan etika profesi, mengatur kewenangan profesi anggota staf
pengawasan secara berkala; medis dan/atau paramedis fungsional, mengembangkan program
i. Membuat laporan hasil pengawasan;dan pelayanan, pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan
j. Mengadakan evaluasi terhadap Tim secara berkala.
pengembangan.
(2) Komite dibentuk sesuai dengan kebutuhan RSUD dan tuntutan kualitas
Pasal 41
pelayanan, sehingga tidak dibatasi dari jumlah yang telah ada, yaitu :
a. Komite Medis; l. Menyusun Standar Pelayanan Medis (SPM) dan membantu
b. Komite Keperawatan; pelaksanaannya;dan
c. Komite Mutu, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3); m. Memberikan saran dan masukan kepada Direktur perihal
d. Komite Pengendalian Infeksi;dan pengembangan pelayanan medis.
e. Komite Rekam Medik. (2) Dalam melaksanakan tugasnya Komite Medis, disamping dibantu oleh
(3) Antar satu komite dengan komite lainnya dapat saling berkoordinasi
Wakit Ketua dan Sekretaris juga dibantu oleh Sub Komite / Panitia yang
untuk menyelesaikan pelayanan yang ada
anggotanya terdiri dari Staf Medis Fungsional dan tenaga Profesi lainnya
(4) Pembentukan komite ditetapkan dengan Keputusan Direktur;
secara Ex-offisio.
Bagian Kedua (3) Sub Komite atau Panitia sebagaimana tercantum pada ayat (2)
Komite Medis merupakan kelompok kerja khusus di dalam Komite Medis yang dibentuk
Pasal 45 berdasarkan kebutuhan RSUD untuk mengatasi masalah khusus.
(1) Komite medis adalah wadah profesional medis yang keanggotaannya (4) Wakil Ketua dan Sekretaris Komite Medis serta panitia ditetapkan oleh
berasal dari ketua kelompok, staf medis atau yang mewakili. Direktur atas usul Ketua Komite Medis.
(2) Para anggota komite medis memilih dan menetapkan ketua, wakil ketua
dan sekretaris diantara anggota komite medis. Bagian Ketiga
(3) Jabatan Ketua Komite Medis merupakan jabatan non struktural yang Komite Keperawatan
berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Direktur Pasal 47
(4) Ketua, Wakil ketua dan Sekretaris Komite Medis mempunyai masa bakti (1) Komite Keperawatan adalah kelompok tenaga keperawatan yang
selama 3 (tiga) tahun dan sesudah masa bakti berakhir akan diadakan keanggotaannya dipilih dari Ketua atau Anggota Kelompok Staf Perawat
pemilihan kembali. Fungsional (SPF);
(2) Para anggota Komite Keperawatan memilih dan menetapkan Ketua
Pasal 46 diantara anggota Komite Keperawatan
(1) Komite Medis mempunyai tugas membantu Direktur dalam; (3) Ketua Komite Keperawatan terpilih, memilih dan menunjuk Wakil Ketua,
a. Menyusun rencana kerja jangka pendek (RBA) dan jangka panjang Sekretaris dan Perangkat lainya yang dianggap perlu.
(RSB); (4) Jabatan Ketua Komite Keperawatan merupakan jabatan Non Struktural
b. Merencanakan anggaran rutin dan tidak terduga untuk pelaksanaan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktur.
kegiatan Komite Medik; (5) Ketua , Wakil Ketua dan Sekretaris dan Pengurus Komite Keperawatan
c. Mengusulkan panitia-panitia dibawah Komite Medik; mempunyai masa bakti selama 3(tiga) tahun dan sesudah masa bakti
d. Mengusulkan calon-calon Ketua Staf Medis Fungsional (SMF) yang akan diadakan pemilihan kembali.
sudah ditetapkan oleh SMF masing-masing kepada Direktur RSUD;
e. Mengkoordinir penyusunan prosedur-prosedur pelayanan medis;
f. Memimpin rapat Komite Medik; Pasal 48
g. Melakukan pembinaan etika profesi; (1) Komite Keperawatan mempunyai tugas membantu Direktur dalam hal :
h. Mengatur kewenangan profesi dari SMF; a. Merencanakan, menyusun dam mengusulkan Standar Keperawatan
i. Mengembangkan program pendidikan, pelatihan, penelitian dan yang terdiri dari standar kebutuhan tenaga, standar peralatan
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; keperawatan, standar asuhan keperawatan, standar manajemen
j. Menyeleksi rekruitmen tenaga medis; keperawatan, serta memantau pelaksanaannya;
k. Mengadakan pengendalian mutu pelayanan medis; b. Menyusun rencana kerja Komite Keperawatan;
c. Bersama Kasi/Sub Bidang Keperawatan menyusun rencana strategis Pasal 50
keperawatan; (1) Penerapan Sistem Pengendalian Intern bertujuan untuk memberikan
d. Menyusun dan mengusulkan panitia-panitia yang berada dibawah keyakinan yang memadai bagi tercapainya efektifitas dan efisiensi
Komite Keperawatan; pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara, keandalan
e. Melaksanakan etika profesi; pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketetapan terhadap
f. Mengatur kewenangan profesi anggota SPF; peraturan perundang-undangan.
g. Mengembangkan program pendidikan dan pelatihan serta penelitian (2) Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Direktur
dan pengembangan ilmu dan teknologi keperawatan;dan membangun struktur sistem pengendalian intern yang terdiri atas unsur :
h. Memberikan masukan kepada Direktur perihal pengembangan a. Lingkungan pengendalian;
pelayanan keperawatan. b. Penilaian resiko;
(2) Dalam melaksanakan tugas Komite Keperawatan disamping dibantu oleh c. Kegiatan pengendalian;
Wakil Ketua dan Sekretaris serta pengurus lainnya juga dibantu oleh Sub d. Informasi dan komunikasi; dan
Komite / Panitia yang anggotanya terdiri dari anggota SPF an tenaga e. Pemantauan pengendalian intern.
Profesi lainnya secara insidensil. (3) Penerapan unsur Sistem Pengendalian Intern sebagaimana dimaksud
(3) Sub Komite sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan kelompok pada ayat (1), dilaksanakan menyatu dan menjadi bagian integral dari
kerja khusus dalam Komite Keperawatan yang dibentuk berdasarkan kegiatan RSUD.
kebutuhan RSUD untuk mengatasi masalah khusus. (4) Direktur dalam mengefektifan sistem pengendalian intern sebagaimana
(4) Pembentukan Panitia dalam Komite Keperawatan ditetapkan oleh dimaksud pada ayat (2) dibantu oleh Satuan Pengendalian Internal (SPI).
Direktur atas usulan Ketua Komite Keperawatan berdasarkan
Bagian Kedua
pertimbangan Kepala Bidang Pelayanan Medis dan Keperawatan.
Tata Hubungan Kerja
(5) Dalam menjalankan tugasnya Komite Keperawatan bekerjasama secara
Paragraf 1
horisontal dengan Instalasi terkait, dan seksi-seksi di bawah Kepala Hubungan Kerja Direktur dengan Kepala
Bidang Pelayanan Medis dan Keperawatan. Bagian dan Bidang
Pasal 51
(1) Direktur adalah atasan langsung dari Kepala Bagian dan Kepala Bidang;
(2) Segala tindakan yang berkaitan dengan komunikasi eksternal merupakan
kewenangan Direktur;
BAB VIII (3) Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat didelegasikan
PROSEDUR KERJA
kepada Kepala Bagian dan Bidang sesuai dengan Tugas Pokok secara
Bagian Kesatu
Sistem Pengendalian Intern teknis masing-masing Kepala Bagian dan Bidang, dengan tanggung
Pasal 49 jawab tetap berada pada Direktur;
(1) Direktur merencanakan, membangun, menyelenggarakan dan mereviu (4) Kebijakan yang ditetapkan oleh Direktur, terlebih dahulu
sistem pengendalian intern RSUD sesuai dengan peraturan perundang- dimusyawarahkan dengan para Kepala Bagian dan Bidang;
undangan. (5) Kepala Bagian dan Kepala Bidang mendukung sepenuhnya atas kebijakan
(2) Efektifitas sistem pengendalian intern tercermindalam pelaksanaan yang telah ditetapkan oleh Direktur.
prosedur kerja.
Paragraf 2
Hubungan Kerja Direktur dengan Dewan Pengawas
Pasal 52 (1) Komite memantau Direktur sebagaimana diatur dalam Pasal 50 ayat (1)
(1) Hubungan kerja Direktur dengan Dewan Pengawas bersifat check and dan Pasal 52 ayat (1);
balances dimana Direktur adalah pihak yang diberikan kepercayaan untuk (2) Selain tugas-tugas Komite sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Direktur
mengelola RSUD dan Dewan Pengawas adalah pihak yang diberikan mendapatkan masukan dari Komite menyangkut hal-hal yang berkaitan
kepercayaan untuk melakukan pengawasan atas pelaksanaan pekerjaan dengan peningkatan kualitas pelayanan;
Direktur. (3) Direktur dan Komite melakukan rapat secara periodik untuk membahas
(2) Berdasarkan sifat hubungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), hal-hal yang berkembang baik internal RSUD maupun eksternal RSUD
Direktur bekerjasama dengan Dewan Pengawas dalam mencapai tujuan serta dunia kesehatan;
dan menjaga nama baik RSUD. (4) Komite sebagai wakil dari pegawai fungsional, berkomunikasi secara
(3) Efektifitas hubungan Direktur dengan Dewan Pengawas, diwujudkan efektif dengan Direktur.
Direktur dalam hal berkomunikasi untuk :
a. Mengkonsultasikan kepada Dewan Pengawas terhadap hal-hal Paragraf 4
material berkaitan dengan keharusan merevisi kebijakan dan rencana- Hubungan Kerja Antar Kepala Bagian dan Bidang
Pasal 54
rencana RSUD yang telah ditetapkan sebagai dampak dari kewajiban
(1) Masing-masing Kepala Bagian dan Bidang bersinergi dalam pencapaian
RSUD untuk mematuhi peraturan yang berlaku;
tujuan RSUD;
b. Menyediakan data dan informasi yang akurat, relevan dan tepat
(2) Setiap kegiatan yang akan dan telah direalisasikan adalah merupakan
waktu kepada Dewan Pengawas, agar fungsi Dewan Pengawas dalam
hasil kerja sama antar fungsi pelayanan, penunjang dan administrasi
melaksanakan pengawasan dan pemberian nasihat dapat berjalan
RSUD;
efektif;dan (3) Dalam hal terjadi hambatan pelaksanaan kegiatan maka masing-masing
c. Menyiapkan dan menyampaikan laporan periodik berikut dengan
Kepala Bagian dan Bidang mengambil kebijakan strategis untuk
penjelasan-penjelasan yang memadai kepada Dewan Pengawas agar
menyelamatkan nama baik RSUD;
Dewan Pengawas dapat meneliti secara efektif dan menandatangani (4) Kebijakan strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang berkaitan
laporan periodik secara tepat waktu, sehingga mempunyai persepsi dengan pihak eksternal, terlebih dahulu dimusyawarahkan dengan
yang sama saat mempertanggungjawabkanya dalam konsolidasi LPJ Direktur.
Bupati.
(4) Direktur menindaklanjutilaporan hasil audit yang dilaksanakan Pemeriksa Paragraf 5
Eksternal dan melaporkan perkembangan tindak lanjutnya kepada Dewan Hubungan Kerja Direktur, Kepala Bagian,
Pengawas. Bidang dengan SPI
(5) Dewan Pengawas aktif dalam memantau perkembangan tindak lanjut Pasal 55
atas laporan hasil audit Pemeriksa Eksternal. (1) Direktur meminta pendapat dari Kepala Bidang dan SPI sebelum meminta
(6) Dalam hal terdapat hambatan dalam pelaksanaan tindaklanjut persetujuan Dewan Pengawas berkaitan dengan rencana penunjukan
sebagaimana hasil pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (5), kantor akuntan negara/publik sesuai dengan peraturan perundang-
Dewan Pengawas membantu memberikan solusi penyelesaiannya. undangan yang berlaku;
(2) Pendapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyangkut alasan
Paragraf 3 pencalonan dan besarnya honorarium/imbal jasa yang diusulkan untuk
Hubungan Kerja Direktur dengan Komite Pemeriksa Eksternal RSUD.
Pasal 53
Paragraf 6 c. Pasien menunggu di poliklinik yang dituju, untuk menunggu panggilan
Hubungan Kerja SPI dengan Pemeriksa Eksternal sesuai antrian;
Pasal 56 d. Pasien dipanggil petugas poliklinik dan diperiksa oleh dokter serta
(1) Berdasarkan kewenangan yang didelegasikan oleh Direktur, SPI diberikan resep;
memberikan pelayanan berkaitan dengan proses audit yang e. Bagi pasien yang memerlukan pemeriksaan tambahan untuk
dilaksanakan oleh Pemeriksa Eksternal; pemeriksaan penunjang, maka dokter membuat surat kiriman ke
(2) Pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyangkut: bagian penunjang yang dituju;
a. Sebagai penghubung antara manajemen RSUD dengan Pemeriksa f. Hasil pemeriksaan bagian penunjang setelah diterima oleh pasien,
Eksternal dalam hal penyediaan data dan informasi sesuai dengan diberikan kepada dokter di poliklinik;
ruang lingkup audit yang dilaksanakan; g. Apabila hasil pemeriksaan yang dimaksud pada huruf f, diperkirakan
b. Memberikan penjelasan hasil pengawasan yang dilaksanakan SPI; selesai setelah pukul 11.00 wib yang berarti akan dapat diambil
c. Menyediakan semua catatan akuntansi dan data penunjang yang
keesokan harinya maka berdasarkan pertimbangan dokter
diperlukan Pemeriksa Eksternal;dan
dikeluarkan resep sementara;
d. Membahas hasil temuan audit sementara, sebelum disampaikan
h. Pasien menyerahkan resep dari dokter yang dimaksud pada huruf d
kepada Direktur.
atau g, di apotik serta menunjukan karcis berobat;dan
(3) Memediasi percepatan tindak lanjut dan setelah disetujui Direktur, maka
i. Pasien dapat pulang setelah membayar dan mendapatkan obat
hasil tindak lanjut disampaikan kepada Pemeriksa Eksternal.
dengan aturan pemakaian yang jelas
(5) Prosedur tetap rawat jalan pasien yang dijamin oleh pihak ketiga atau
asuransi kesehatan lainya sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
mengikuti peraturan atau petunjuk pelaksanaan yang berlaku pada
Bagian Ketiga program asuransi kesehatan tersebut yang telah disepakati antar RSUD
Mekanisme Kerja Pelayanan dengan asuransi tersebut/pihak ketiga.
Paragraf 1
Pelayanan Rawat Jalan (Poliklinik) Paragraf 2
Pasal 57 Pelayanan Instalasi Gawat Darurat
(1) Mekanisme kerja pelayanan di rawat jalan terdiri atas pelayanan kepada pasal 58
pasien umum, pasien yang dijamin oleh pihak ketiga atau asuransi (1) Mekanisme kerja pelayanan di instalasi gawat darurat dibedakan
kesehatan lainya; terhadap penanganan pasien dengan identitas yang jelas dan
(2) Pasien umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah pasien yang penanganan pasien yang tak dikenal;
mampu untuk membiayai sendiri pelayanan kesehatannya; (2) Prosedur tetap pelayanan terhadap pasien dengan identitas yang jelas
(3) Ruang lingkup pelayanan dirawat jalan berlaku disemua poliklinik; sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagai berikut;
(4) Prosedur tetap rawat jalan pasien umum mampu sebagaimana dimaksud a. Pasien datang ke IGD, dan bila diperlukan maka pasien dibantu oleh
pada ayat (2) sebagai berikut: petugas untuk turun dari kendaraan dengan memakai kursi
a. Pasien membeli karcis di loket penjualan karcis; roda/branckard, yang selanjutnua pasien dibawa keruangan triase;
b. Pasien melapor ke Medical Record (MR) dan membawa kartu b. Dokter jaga diberi tahu petugas untuk pemeriksaan pasien;
berulang, dimana status diantar oleh petugas MR ke poliklinik yang c. Dokter jaga bersama perawat jaga memeriksa keadaan fungsi vital,
dituju sesuai dengan jenis penyakit yang diderita pasien; kegawatdaruratan pasien dan diberi pertolongan pertama;
d. Pemeriksaan dan pertolongan lebih lanjut di ruangan, sesuai dengan (6) Pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat
sarana dan prasarana yang telah tersedia dibagian-bagian rawat IGD; (4) dan (5), dilaksanakan secara terinci sesuai dengan Prosedur Tetap
e. Pasien dibawa keruangan atau kamar sesuai dengan jenis pelayanan Instalasi Gawat Darurat yang ditetapkan oleh Direktur.
yang diperlukan pasien;
f. Dokter jaga bersama perawat jaga melakukan pemeriksaan lebih Paragraf 3
lanjut dengan pemberian terapi atau pertolongan sesuai dengan Pelayanan Rawat Inap
indikasi medis; Pasal 59
g. Sesuai dengan diagnosa dan indikasi medis, apabila diperlukan maka (1) Mekanisme kerja pelayanan di rawat inap terdiri atas pelayanan kepada
dokter meneruskanya untuk konsultasi ke dokter spesialis atau pasien umum, pasien yang dijamin oleh pihak ketiga atau asuransi
dirawat atau dilakukan pemeriksaan penunjang atau observasi lebih kesehatan lainnya.
(2) Pasien umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pasien yang
lanjut atau dipulangkan dengan surat rujukan ke poliklinik;dan
h. Dokter jaga menjelaskan kepada pasien/keluarga tentang diagnosa, mampu membiayai sendiri biaya pelayanan kesehatannya.
tindakan/terapi yang akan diberikan/dilakukan.
(3) Penanganan pasien tidak dikenal yang dimaksud dalam ayat (1) terdiri
dari:
a. Pasien dengan masalah sosial; dan
b. Pasien tanpa masalah sosial.
(4) Prosedur tetap pelayanan terhadap pasien dengan masalah sosial Paragraf 4
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a, sebagai berikut: Pasien Masuk di Rawat Inap
a. Pasien diterima dan di data oleh petugas; Pasal 60
b. Selanjutnya pasien ditangani sebagaimana penanganan pasien biasa; (1) Pelaksanaan prosedur untuk pasien mampu, pasien yang dijamin oleh
c. Pemberian obat yang dibutuhkan pasien disesuaikan dengan obat asuransi pihak ketiga yang masuk di rawat inap dibedakan berdasarkan
persiapan yang disediakan RSUD; waktu masuk yaitu;
d. Jika pasien dapat dipulangkan dan tidak mampu membayar a. Masuk pagi pada hari kerja;
pengobatan, maka secara administratif dilaporkan kepada Direktur; b. Masuk pada hari libur atau sore/malam pada hari kerja.
e. Jika pasien harus di warat, maka pasien tersebut harus dirawat di (2) Mekanisme kerja untuk pasien masuk sebagaimana dimaksud pada ayat
Kelas 3 sesuai dengan penyakitnya;dan (1) huruf a, sebagai berikut :
f. Jika pasien tersebut meninggal di IGD, maka mayat dibawa ke kamar a. Setelah membeli karcis pasien mendapat pelayanan dan persetujuan
jenazah. rawat dari dokter poliklinik/ IGD baik datang sendiri maupun rujukan;
(5) Prosedur tetap pelayanan terhadap pasien tanpa masalah sosial b. Berdasarkan persetujuan rawat sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b, sebagai berikut; huruf a, pasien/keluarga pergi ke bagian pencatatan medik (MR)
a. Pasien ditangani seperti penanganan pasien biasa;dan untuk mendapatkan informasi yang diperlukan seperti tata tertib,
b. Pasien dengan kondisi tidak bisa berkomunikasi yang disebabkan
ruang yang tersedia, mendapat surat masuk ruangan dan mendapat
penurunan kesadaran, maka petugas harus mencari identitas pasien
registrasi;
dari pengantar dan melaporkannya kepada Pengawas Pelayanan c. Selanjutnya pasien dirawat diruangan yang tersedia dan disetujui oleh
RSUD. pasien/keluarga;
d. Oleh petugas ruangan, pasien dilaporkan kepada Dokter ruangan
untuk penanganan selanjutnya;dan
e. Pasien dalam keadaan gawat yang memerlukan “ life saving” langsung (1) Pelaksanaan prosedur untuk pasien mampu, pasien tidak mampu atau
dirawat secara intensif di ICU. pasien peserta askes yang keluar dari rawat inap dibedakan berdasarkan
(3) Mekanisme kerja untuk pasien masuk sebagaimana dimaksud ayat (1) kondisi pasien saat keluar yaitu :
huruf b, sebagai berikut ; a. Keluar hidup;dan
a. Setelah membeli karcis dan mendapatkan pelayanan secara b. Keluar meninggal dunia.
persetujuan rawat dokter IGD/ dokter jaga, petugas IGD (2) Mekanisme kerja untuk pasien keluar sebagaimana dimaksud ayat (1)
menghubungi petugas ruangan untuk mendapatkan informasi huruf a, sebagai berikut :
mengenai tempat yang tersedia; a. Keputusan pasien boleh pulang diberikan oleh dokter yang merawat
b. Apabila tempat yang diinginkan oleh pasien tidak ada (penuh) maka dan untuk pasien pulang paksa harus ditandatangani oleh pasien atau
petugas IGD menginformasikan kelas lainnya yang ada serta keluarga;
menjelaskan peraturan-peraturannya; b. Data tindakan pelayanan medik pelayanan perawatan, pelayanan
c. Atas persetujuan pasien maka petugas mengeluarkan surat masuk penunjang dan lain-lain, dicatat oleh petugas ruangan berdasarkan
ruangan di ruangan yang tersedia dan pasien dapat pindah keruangan pola tarif yang berlaku;
yang diinginkan apabila telah tersedia; c. Setelah diterbitkan surat tagihan perhitungan biaya, maka pasien
d. Untuk pasien yang memerlukan penanganan segera oleh dokter ahli langsung membayarnya diloket;
dilaporkan sesegera mungkin oleh petugas;dan d. Pembayaran pada sore, malam hari atau pada hari libur, maka data
e. Prosedur rawat selanjutnya diatur oleh SMF ruangan sesuai dengan tindakan pelayanan medik, pelayanan perawatan, pelayanan
penyakit pasien. penunjang dan lain-lain dicatat oleh petugas ruangan berdasarkan
(4) Mekanisme kerja yang berlaku terhadap pasien yang dijamin pihak ketiga pola tarif yang berlaku dan setelah keluarga pasien membayar keloket
atau asuransi kesehatan lainnya, sebagai berikut; pembayaran IGD;dan
a. Setelah selesai pada pelayanan rawat jalan, seandainya pasien e. Berdasarkan bukti pelunasan atau surat jaminan hutang, maka pasien
membutuhkan rawat inap maka status yang telah disetujui rawat oleh dapat meninggalkan ruangan.
dokter dibawa ke PPRS; (3) Mekanisme kerja untuk pasien keluar sebagaimana dimaksud ayat (1)
b. Pasien meminta les pendek pada petugas MR , dimana oleh PPRS huruf b, sebagai berikut :
pasien diberi jaminan rawat; a. Jenazah boleh dibawa pulang atau di pindahkan kekamar jenazah,
c. Apabila pasien masuk melalui IGD, maka langsung dirawat dengan apabila pasien dinyatakan meninggal dunia oleh dokter, sesudah
dirujuk hanya dari IGD; ditunggu selama 2 (dua) jam;
d. Apabila pasien memerlukan darah, maka akan diberikan oleh b. Bagi jenazah yang langsung dibawa pulang, maka keluarga pasien
dokternya blanko permintaan darah lalu disyahkan oleh PPRS untuk terlebih dahulu memenuhi prosedur administrasi dan pembayaran
langsung dibawa ke PMI; dan sebagaimana yang diberlakukan pada prosedur pembayaran pada
e. Kepada pasien yang memerlukan tindakan canggih, seperti ICU maka pasien keluar hidup;
dokternya akan memberikan blanko permintaan canggihnya, lalu c. Bagi jenazah yang masuk kamar jenazah, maka keluarga pasien
dibawa ke PPRS untuk mendapatkan persetujuan. terlebih dahulu memenuhi prosedur administrasi dan pembayaran
sama dengan prosedur pasien pulang hidup ditambah administrasi
Paragraf 5 dan biaya kamar jenazah, sesuai dengan peraturan pola tarif;dan
Pasien Keluar Dari Rawat Inap
Pasal 61
d. Bagi jenazah yang terlantar, maka pihak RSUD harus ...../....../..../2017tentang Pengesahan Pemberlakuan Buku Standar
memusyawarahkannya dengan Dinas Sosial untuk penanganan Pelayanan Medis RSUD Kayen.
selanjutnya.
(4) Mekanisme kerja yang dimaksud pada ayat (2) dan (3) berlaku terhadap Paragraf 3
pasien umum dan pasien yang dijamin oleh perusahaan asuransi atau Pelayanan Medis Spesialistik Lanjut
Pasal 64
pihak ketiga sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(1) Pelayanan Medis Spesialistik Luas terdiri dari : Penyakit Mata, Telinga
(5) Mekanisme kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3)
Hidung dan Tenggorokan (THT), Kulit dan Kelamin, Syaraf, Gigi dan
berlaku terhadap pasien yang dijamin oleh pihak ketiga atau perusahaan
Mulut, Jiwa, Kardiologi, Pulmonologi serta Orthopaedi.
asuransi kesehatan lainnya sesuai dengan kesepakatan antara kedua
(2) Pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan sesuai
belah pihak yaitu pihak RSUD dengan pihak ketiga atau perusahaan
dengan Standar Operasional Prosedur Pelayanan Medis dan Terapi
asuransi kesehatan lainnya.
sebagaimana diatur dalam Surat keputusan Direktur RSUD Nomor :
BAB IX ...../....../....../2017 tentang Pengesahan Pemberlakuan Buku Standar
FUNGSI PELAYANAN DAN FUNGSI PENDUKUNG Pelayanan Medis RSUD Kayen.
Bagian Kesatu
Fungsi Pelayanan Paragraf 4
Paragraf 1 Pelayanan Medis Sub Spesialistik
Umum Pasal 65
Pasal 62 (1) Pelayanan Medis Sub Spesialistik terdiri dari : Bedah Orthopaedi dan Sub
(1) Fungsi pelayanan di bagi menjadi ; Spesialistik lainnya.
a. Pelayanan Medis Spesialistik Dasar, (2) Pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai
b. Pelayanan Medis Spesialistik Luas, dan dengan Standar Operasional Prosedur Pelayanan Medis dan Terapi
c. Pelayanan Medis Sub spesialistik sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Direktur RSUD Nomor:
(2) Penanggung jawab fungsi pelayanan secara teknis adalah Kepala Bidang
...../......./......./ 2017 tentang Pengesahan Pemberlakukan Buku Standar
Pelayanan Medis dan Keperawatan.
Pelayanan Medis RSUD Kayen.
(3) Dalam operasional pelaksanaan dan peningkatan kualitas pelayanan
Kepala Bidang Pelayanan Medis dan Keperawatan dibantu oleh: Bagian Kedua
a. Seksi Pelayanan Medis;dan Fungsi Pendukung
b. Seksi Keperawatan. Paragraf 1
Umum
Paragraf 2 Pasal 66
Pelayanan Medis Spesialistik Dasar (1) Fungsi pendukung pelayanan RSUD terdiri dari :
Pasal 63 a. Penunjang Medis dan Non Penunjang Medis;dan
(1) Pelayanan Medis Spesialistik Dasar terdiri dari Penyakit Dalam, Kesehatan b. Administrasi Umum, Aset, Kepegawaian, Pendidikan dan Penelitian
Anak, Bedah, Kebidanan dan Penyakit Kandungan. serta Administrasi Keuangan RSUD;
(2) Pelayanan yang dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan sesuai dengan (2) Penanggung Jawab Fungsi Pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat
Standar Operasional Prosedur Pelayanan Medis dan Tarapi sebagaimana (1) huruf a, secara teknis adalah Kepala Bidang Penunjang.
diatur dalam Surat Keputusan Direktur RSUD No. (3) Kepala Bidang yang dimaksud ayat (2) melingkupi fungsi :
a. Penunjang Medis yang merupakan tugas pokok Seksi Penunjang Seksi Non Penunjang Medik
Medis, dan Pasal 68
b. Non Penunjang Medis merupakan tugas pokok Seksi Non Penunjang (1) Seksi Non Penunjang Medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat
Medis. (3) huruf b, dipimpin oleh seorang Kepala Seksi, mempunyai tugas
(4) Penanggung jawab terhadap fungsi pendukung yang dimaksud pada ayat membantu dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Penunjang
(1) huruf b, adalah Kepala Bagian Tata Usaha dan Kepala Bidang dalam hal :
Keuangan dan Perencanaan. a. Mengkoordinasikan semua kebutuhan pelayanan Non Penunjang
(5) Kepala Bidang yang dimaksud pada Ayat (4) melingkupi fungsi : Medis;
a. Pengelolaan administrasi umum yang merupakan tugas pokok pada b. Melaksanakan pemantauan dan pengawasan penggunaan fasilitas,
Sub Bagian Umum, Aset merupakan tugas pokok Sub Bagian Aset, kegiatan pelayanan Non Penunjang Medis serta pengawasan
Kepegawaian, Diklat, Penelitian merupakan tugas pokok Sub Bagian pengendalian;
Kepegawaian dan Diklat, serta c. Pengendalian kegiatan-kegiatan pelayanan Non penunjang medis dan
b. Pengelolaan administrasi keuangan yang merupakan tugas pokok menjamin terlaksananya kegiatan peningkatan mutu berkelanjutan;
pada Seksi Perencanaan dan Anggaran, dan Seksi Perbendaharaan, d. Pelaksanaan kegiatan kebijakan manejerial tentang pelayanan Non
Seksi Akuntansi dan Verifikasi. Penunjang Medis yaitu Loundry, Incenerator, Ginset, Kamar Jenazah,
Penataan Taman, Pelayanan Pembuangan Sampah Rumah Sakit,
Paragraf 2 IPAL, Pengaturan jam tamu pasien, dan kegiatan Non Penunjang
Seksi Penunjang Medis dan Non Penunjang Medis Medis lain yang dianggap perlu oleh RSUD;
Pasal 67 e. Pelaksanaan kebijakan terhadap pengembangan mutu berkelanjutan
(1) Seksi Penunjang Medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (3)
berbasis standar akreditasi maupun ISO 9001:2000-IWA 1/2005;
huruf a, dipimpin oleh seorang Kepala Seksi, mempunyai tugas
membantu dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Penunjang
dalam hal :
a. Mengkoordinasikan semua kebutuhan pelayanan Penunjang Medis; Paragraf 4
b. Melaksanakan pemantauan dan pengawasan penggunaan fasilitas, Pengelolaan administrasi umum, Aset, Kepegawaian,
kegiatan pelayanan Penunjang Medis serta pengawasan pengendalian Diklat, Penelitian
pasien; Pasal 69
c. Pengendalian kegiatan-kegiatan pelayanan penunjang dan menjamin (1) Fungsi pendukung pada aspek pengelolaan administrasi umum, asset,
terlaksananya kegiatan peningkatan mutu berkelanjutan; kepegawaian, Diklat dan penelitian yang dimaksud pada Pasal 66 ayat
d. Pelaksanaan kegiatan kebijakan manejerial tentang pelayanan (1) huruf b, merupakan tugas pokok yang dilaksanakan oleh ;
penunjang (Patologi Klinik, Patologi Anatomi, Radiologi, Farmasi, Gizi, a. Sub Bagian Umum;
b. Sub Bagian Aset;dan
CSSD, Pusat Diagnostik, Pengolahan Limbah dan Layanan Penunjang
c. Sub Bagian Kepegawaian dan Diklat.
lain yang dianggap perlu oleh RSUD; (2) Sub Bagian Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,
e. Pelaksanaan kebijakan terhadap pengembangan mutu berkelanjutan
dipimpin oleh seorang Kepala Sub Bagian Umum, mempunyai tugas
berbasis standar akreditasi maupun ISO 9001:2000-IWA 1/2005;dan
membantu dan bertanggung jawab kepada Kepala Bagian Tata Usaha
f. Aktifasi pelaksanaan pokja-pokja peningkatan mutu berkelanjutan.
dalam hal :
Paragraf 3
a. Melakukan kegiatan surat menyurat, kearsipan, penggandaan dan dan Pendidikan Latihan, mempunyai tugas membantu dan bertanggung
ekspedisi; jawab kepada Kepala Bagian Tata Usaha dalam hal :
b. Melakukan administrasi mobil dinas, BBM, pengaturan pemakaian a. Melaksanakan administrasi kepegawaian, penyiapan analisis
ruangan, aula, perlengkapan rapat, pengaturan jadwal rapat, kebutuhan pegawai, pengadaan, mutasi, analisis jabatan, pensiun,
pengaturan tamu; penilaian pelaksanaan pekerjaan, kenaikan gaji berkala, cuti, ijin,
c. Menyelenggarakan urusan dalam, ketertiban, keamanan, kebersihan, masa kerja, peralihan status, kesejahteraan pegawai dan analisis
kendaraan dinas, binatu, logistik non medis;dan kebutuhan pegawai dan administrasi kepegawaian lainnya.
d. Menyelenggarakan kegiatan hubungan masyarakat, pemasaran sosial, b. Mengkoordinasi dan mengendalikan seluruh kegiatan pendidikan,
bimbingan masyarakat, publikasi dan perpustakaan. pelatihan, penelitian dan pengembangan;
(3) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Kepala c. Pelaksanaan pendidikan formal dan non formal bagi pegawai RSUD;
Sub Bagian Umum dibantu oleh masing-masing seorang penanggung d. Pelaksanaan kegiatan pendidikan in house training maupun
jawab: pendidikan non formal diluar RSUD yang di koordinasikan dengan
a. Penanggungjawab Urusan pengagendaan; Bagian Umum dan Kepegawaian;
b. Penanggungjawab Urusan Humas dan Hukum;dan e. Menyelenggarakan kegiatan penelitian di seluruh bidang keilmuan
c. Penanggungjawab Urusan tatalaksana rumah tangga dan baik medis, keperawatan maupun manajemen administrasi;
keprotokolan. f. Mengendalikan proses pelaksanaan kebijakan terkait dengan lingkup
(4) Sub Bagian Aset sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, dipimpin dan informed konsent penelitian;dan
oleh seorang Kepala Sub Bagian Aset, mempunyai tugas membantu dan g. Melaksanakan tugas lain yang diberikan atasan.
bertanggung jawab kepada Kepala Bagian Tata Usaha dalam hal :
a. Menyusun rencana kebutuhan, pemeliharaan dan penghapusan
barang; (7) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (6) Kepala
b. Penyusunan laporan aset dan perlengkapan; Sub Bagian Kepegawaian dan Diklat dibantu oleh masing-masing seorang
c. Pengamanan aset dan sarana prasarana serta urusan rumah tangga; penanggungjawab:
d. Pemeliharaan kebersihan dan keamanan RSUD; a. Penanggungjawab urusan kepegawaian;
e. Pengadminstrasian barang masuk dan keluar; b. Penanggungjawab pendidikan dan latihan;
f. Menyusun dan membuat kartu inventaris barang; c. Penanggungjawab kredit point jabatan fungsional;dan
g. Mengurus pegawai yang menempati rumah dinas dan pihak lain yang d. Penanggungjawab penelitian dan kemahasiswaan.
membutuhkan lahan, ruangan, asrama untuk disewa;dan
h. Melakukan evaluasi terhadap barang inventaris Paragraf 5
(5) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Kepala Pengelolaan Administrasi Keuangan
Sub Bagian aset dibantu oleh masing-masing seorang penanggung Pasal 70
jawab: (1) Fungsi pendukung pada aspek pengelolaan administrasi keuangan
a. Penyimpan barang; sebagaimana dimaksud dalam pasal 66 ayat (5) huruf b, merupakan
b. Pengurus barang; tugas pokok yang dilaksanakan oleh :
c. Penanggungjawab administrasi barang. a. Seksi Perencanaan dan Anggaran;dan
(6) Sub Bagian Kepegawaian dan Pendidikan Latihan yang dimaksud pada b. Seksi Perbendaharaan, Akuntansi dan Verifikasi.
ayat (1) huruf b, dipimpin oleh seorang Kepala Sub Bagian Kepegawaian (2) Seksi Perencanaan dan Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a, dipimpin oleh seoarang Kepala Seki, mempunyai tugas
membantu dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Keuangan dan
Perencanaan dalam hal : BAB X
a. Menyelenggarakan penyusunan rencana anggaran, mengatur PENGELOLAAN SUMBER DAYA MANUSIA
pengendalian penggunaan anggaran serta mengkoordinasikan Bagian Kesatu
Status Pegawai
penggunaan anggaran;dan
Pasal 71
b. Menyiapkan administrasi keuangan atau belanja dinas serta meneliti
(1) Pegawai RSUD Terdiri dari :
dan menganalisis keberadaan permintaan keuangan;
a. Pegawai tetap yaitu pegawai yang diangkat RSUD berdasarkan
c. Mengkoordinasikan kebutuhan kegiatan mobilisasi dana, pelaksanaan
kompetensi kebutuhan, yang mempunyai hak dan kewajiban sesuai
dan penyelenggaraan kegiatan mobilisasi dana, memantau,
dengan ketentuan peraturan kepegawaian RSUD.
mengawasi dan mengendalikan kegiatan mobilisasi dana.
b. Pegawai Kontrak merupakan pegawai yang diangkat oleh RSUD
(3) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Kepala
berdasarkan kompetensi dan kebutuhan yang mempunyai hak dan
Seksi Perencanaan dan Anggaran dibantu oleh masing-masing
kewajiban yang diatur oleh peraturan kepegawaian RSUD yang
penanggungjawab pada :
a. Penanggungjawab Perencanaan; terikat oleh waktu tertentu.
b. Penanggungjawab Penyusunan Anggaran;dan c. Pegawai harian lepas merupakan Pegawai yang diangkat untuk
c. Penanggungjawab Mobilisasi Dana. melakukan kegiatan tertentu yang pengupahannya dilakukan harian
(4) Seksi Perbendaharaan, Akuntansi dan Verifikasi sebagaimana dimaksud dan terikat oleh waktu tertentu.
pada ayat (1) huruf b, dipimpin oleh seorang Kepala Seksi, yang d. Pegawai Paruh Waktu merupakan pegawai dengan profesi tertentu
mempunyai tugas membantu dan bertanggung jawab kepada Kepala yang diangkat sesuai dengan kebutuhan RSUD yang waktu kerjanya
Bidang Keuangan dan Perencanaan dalam hal ; berdasarkan kebutuhan kerja paruh waktu.
a. Mengkoordinasikan kebutuhan kegiatan akuntansi keuangan, (2) Hal-hal yang berkaitan dengan status pegawai sebagaimana dimaksud
melaksanakan kegiatan akuntansi keuangan serta memantau, pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) berpedoman pada peraturan
mengawasi dan mengendalikan kegiatan akuntansi keuangan; perundang-undangan.
b. Mengkoordinasikan semua kebutuhan, kegiatan akuntansi
manajemen, memantau, mengawasi dan mengendalikan kegiatan
Pasal 72
akuntansi manajemen;dan
Semua PNS pada RSUD mempunyai kewajiban dan memperoleh hak yang
c. Memeriksa dan meneliti kebenaran permintaan atau pengeluaran
diatur dalam peraturan perundang-undangan tentang Kepegawaian.
keuangan, serta mengawasi dan memeriksa bukti dan dokumen
pertanggung jawaban penggunaan atau pengeluaran keuangan. Pasal 73
(5) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Kepala Semua Pegawai non PNS pada RSUD mempunyai kewajiban dan memperoleh
Seksi Perbendaharaan, Akuntansi dan Verifikasi dibantu oleh masing- hak yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
masing seorang Penanggungjawab pada:
a. Penanggungjawab Akuntasi Keuangan; Bagian Kedua
b. Penanggungjawab Verifikasi;dan Kebutuhan Pegawai
c. Penanggungjawab Perbendaharaan. Pasal 74
(1) Kebutuhan pegawai RSUD diajukan oleh unit masing-masing dengan
memperhatikan sifat pelayanan yang bersangkutan, pendapatan
operasional, serta efisiensi dan efektifitas kerja;
(2) Formasi kepegawaian dalam masing-masing unit dituangkan dalam c. Usia serendah-rendahnya 18 tahun dan setinggi-tingginya 41 tahun,
perencanaan penerimaan pegawai tahunan sebagai peta kebutuhan kecuali itu dimungkinkan bila yang bersangkutan memiliki
pegawai RSUD yang disahkan oleh Direktur. pengalaman/ keahlian yang sangat diperlukan oleh RSUD;
d. Lulus uji kesehatan yang dilakukan oleh Tim Penguji Kesehatan yang
Bagian Ketiga
ditunjuk Direktur;dan
Penerimaan Pegawai
e. Menandatangani Surat Perjanjian Kerja.
Pasal 75
(1) Penerimaan PNS, diselenggarakan oleh pemerintah daerah sebagaimana
diatur dalam peraturan perundang-undangan; Pasal 77
(2) Penerimaan Calon Pegawai non PNS sesuai dengan formasi dan dengan (1) Untuk penerimaan pegawai RSUD, ditentuk tim penerimaan pegawai
kualifikasi tertentu untuk mengisi kekurangan Pegawai yang dibutuhkan yang bertugas melakukan penyaringan / seleksi penerimaan calon
RSUD; pegawai;
(3) Calon pegawai non PNS harus lulus seleksi yang ditentukan oleh RSUD (2) Tim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk dengan Keputusan
dan menandatangani surat perjanjian kerja. Direktur.

Pasal 76 Bagian Keempat


(1) Penerimaan menjadi calon pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal Penempatan dan Mutasi
75 ayat (2) dan (3) harus memenuhi syarat yang meliput syarat Paragraf 1
administrasi, psikotes, wawancara, kompetensi, kesehatan serta syarat- Penempatan
syarat lainnya yang khusus diperlukan bagi suatu Pekerjaan dan Pasal 78
tanggung jawab yang ada di RSUD. (1) Penempatan pegawai sebagaimana dimaksud dalam peraturan ini, adalah
(2) Persyaratan administrasi meliputi: penerimaan pegawai yang menjadi kewenangan Direktur;
a. Surat Lamaran Kerja; (2) Ketentuan penempatan berlaku bagi pegawai dengan penempatan
b. Foto copy KTP; pertama atau pegawai yang mengalami rotasi di lingkungan RSUD;
c. Surat keterangan berkelakuan baik dari kepolisian setempat; (3) Penempatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh
d. Surat keterangan bebas narkoba dari rumah sakit pemerintah; Direktur setelah melalui proses:
e. Foto copy semua ijazah sekolah / kursus yang dimiliki; a. Analisis beban kerja;
f. Surat pengalaman kkerja bila pernah bekerja; b. Pertimbangan karir pegawai;
g. Daftar Riwayat Hidup; c. Pengujian kemampuan pegawai;
h. Pas foto ukuran 4 x 6 dua lembar;dan d. Pengamatan motifasi pegawai;dan
i. Foto copy sertifikat uji kompetensi yang dikeluarkan asosiasi profesi e. Analisis lingkungan kerja yang bersangkutan.
atau instansi berwenang. (4) Kepada pegawai yang dimaksud dalam ayat (2) memperoleh masa
(3) Disamping persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat orientasi atau pembekalan di unit/ sub unit pegawai tersebut
(2) harus memenuhi: ditempatkan dari atasan langsungnya, dengan tujuan agar pegawai
a. Bagi tenaga-tenaga yang memerlukan izin praktek / kerja sesuai bersangkutan dapat:
dengan profesinya harus ada izin dari instansi yang berwenang; a. Mengetahui / memahami visi dan misi RSUD;
b. Lulus ujian saringan penerimaan pegawai baru yang di adakan oleh b. Memahami tugas pokok dan fungsi;
tim penerima pegawai; c. Memahami dan menghayati budaya kerja;
d. Menumbuhkan sesegera mungkin rasa tenang bekerja;dan
e. Menghilangkan keraguan tentang ketidakpastian dalam Pendidikan dan Pelatihan Pegawai
mengaplikasikan kemampuan yang dimiliki. Pasal 80
(1) Program pendidikan dan pelatihan pegawai dapat diselenggarakan untuk
Paragraf 2 meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta sikap pegawai dalam
Mutasi menghadapi serta menangani masalah-masalah pekerjaan.
Pasal 79 (2) Latihan dan pendidikan yang diselenggarakan dapat berupa:
(1) Mutasi terdiri dari rotasi, promosi dan demosi; a. Latihan dan pendidikan yang diberikan pihak RSUD;dan
(2) Rotasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pemindahan b. Latihan dan pendidikan yang diberikan lembaga di luar RSUD.
pegawai dari satu satuan kerja ke satu satuan kerja lainya dilingkungan (3) Pendidikan formal yang diakui di RSUD dibedakan dalam 2 (dua) kategori
RSUD terhadap pegawai demi kelancaran operasional; yaitu:
(3) Promosi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kesempatan a. Tugas belajar: RSUD akan memberikan tugas belajar kepada pegawai
kepada semua pegawai tetap untuk mengisi lowongan jabatan/ tugas yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan berjenjang
dengan tanggung jawab lebih tinggi dari tanggung jawab semula; sesuai kebutuhan organisasi yang tertuang dalam peta kebutuhan
(4) Setiap pegawai tetap akan dipromosikan jika memenuhi persyaratan- pendidikan, dilaksanakan didalam jam kerja;dan
persyaratan yang meliputi: b. Izin belajar: RSUD akan memberikan izin belajar bagi pegawai yang
a. Memiliki disiplin yang baik; memenuhi syarat dan ingin meningkatkan kemampuan dan
b. Selama 2 (dua) tahun terakhir tidak terkena sanksi dan atau hukuman pengetahuan tapi hal itu tidak jadi prioritas RSUD sesuai dengan peta
jabatan dari perusahaan atau tersangkut tindakan hukum yang kebutuhan pendidikan dan dilaksanakan diluar jam kerja.
berlaku; (4) Pegawai yang ditugaskan mengikuti pendidikan formal di atas setelah
c. Memenuhu kriteria standar kompetensi yang telah dilakukan;dan lulus harus menjalani ikatan dinas di RSUD minimal 2 kali masa
d. Memiliki prestasi kerja yang baik sesuai dengan penilaian prestasi
pendidikan tambahan satu tahun. (2N +1)
kerja. (5) Pegawai yang ditugaskan untuk mengikuti informal dalam bentuk kursus
(5) Demosi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tindakan
singkat, seminar, konfrensi ataupun lokakarya diwajibkan membuat
penerunan jabatan terhadap pegawai tetap karena melanggar ketentuan
laporan hasil pelaksanaan kegiatan serta mempresentasikan hasil
yang telah ditentukan oleh pemerintah.
pengetahuan / keterampilan yang diperoleh di depan unit terkait dengan
(6) Pegawai yang akan dikenakan tindakan demosi, jika yang bersangkutan:
a. Kurang memberikan kontribusi yang baik kepada RSUD; bidang ilmu yang bersangkutan.
b. Dinilai melakukan kesalahan yang dapat merugikan atau telah (6) Ketentuan lebih lanjut untuk pendidikan dan latihan untuk pegawai RSUD
merugikan RSUD; diatur dengan peraturan Direktur.
c. Melanggar peraturan dan norma yang berlaku di RSUD dan terbukti
melakukan pelanggaran klasifikasi berat sebagaimana yang diatur
Paragraf 2
dalam peraturan RSUD;dan Penilaian Prestasi Kerja
d. Tidak memenuhi target kerja individu yang ditentukan selama 2 (dua) Pasal 81
tahun. (1) Dalam usaha memacu semangat kerja pegawai untuk mencapai prestasi
(7) Besar tunjangan dan intensif sesuai tempat dimana ditugaskan. kerja yang tinggi, setiap pegawai dan atasan langsungnya menyepakati
rancangan prestasi kerja yang akan dicapai oleh setiap pegawai pada
Bagian Kelima
Pembinaan Pegawai kurun waktu tertentu sesuai dengan ketentuan RSUD.
Paragraf 1
(2) Atasan langsung diwajibkan untuk membantu, membina serta menilai patut dan tertulis, maka pegawai tersebut dianggap telah mengundurkan
prestasi kerja pegawai tersebut secara berkala sesuai dengan ketentuan diri dan akan diproses sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
RSUD. (7) Terhadap dokter spesialis mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan
(3) Dasar pertimbangan untuk kenaikan upah serta kenaikan pangkat dan / Republik Indonesia Nomor 631/ Menkes/ SK/IV/2005 tentang Pedoman
atau jabatan pegawai berkaitan erat dengan hasil penilaian prestasi kerja Peraturan Internal Staf Medis (medical staff bylaws) di Rumah Sakit.
sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(4) Tata cara/ prosedur penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pasal 84
sebagai berikut: (1) Pegawai dilarang merokok di area RSUD.
a. Penilaian dilakukan setahun sekali dengan menggunakan sistem (2) Pegawai tidak diperkenankan menggunakan telepon kantor untuk
penilaian 360 derajat dengan menggunakan formulir penilaian yang kepentingan pribadi kecuali untuk hal-hal yang sangat mendesak.
(3) Pegawai dilarang memiliki dan menggunakan obat-obat terlarang,
akan ditentukan lebih lanjut;
b. Penilaian dilakukan pada akhir tahun dengan periode penilaian Januari minum-minuman yang beralkohol.
(4) Pegawai dilarang meminta, dan menerima tip, bonus, kepada / dari
sampai Desember.
(5) Jenjang karir dan pola kepangkatan akan ditentukan lebih lanjut dengan pasien, keluarga pasien atau supplier RSUD.
(5) Pegawai yang menemukan barang berharga dilingkungan RSUD wajib
keputusan Direktur.
mengembalikan kepada petugas keamanan (satpam) dengan membuat
Paragraf 3 kronologis penemuan barang tersebut.
Tata Tertib dan Disiplin (6) Pegawai dilarang membawa senjata api atau benda-benda tajam lainnya
Pasal 82 diluar keperluan pekerjaan.
(1) Penegakan tata tertib dan disiplin di RSUD dilakukan untuk terciptanya (7) Pegawai diwajibkan menjaga kebersihan lingkungan dan menjaga
suasana kerja yang aman, tertib, dan teratur. penampilan.
(2) Setiap pegawai wajib mentaati peraturan dan menghindari hal- hal yang (8) Pegawai dilarang memukul, menyakiti, atasan, teman sekerja, atau
bertentangan dengan peraturan untuk mempertahankan suasana kerja pelaksana lainnya.
yang baik.
Pasal 85
Pasal 83 (1) Setiap atasan langsung bertanggung jawab atas dipatuhinya tata tertib
(1) Setiap pegawai diwajibkan hadir pada waktu yang telah ditetapkan sesuai RSUD oleh bawahannya.
aturan yang ditetapkan Direktur. (2) Setiap atasan langsung berhak menegur bawahan atas pelanggaran
(2) Meninggalkan jam kerja sebelum waktunya tanpa persetujuan atasan ringan yang dilakukan bawahannya.
langsung dianggap melanggar tata tertib. (3) Bila pelanggaran yang dilakukan sudah mengakibatkan timbulnya sanksi
(3) Pegawai yang tidak masuk kerja karena sakit, wajib memberikan surat administratif maka perlu dilaporkan kebagian kepegawaian.
keterangan sakit paling lambat hari pertama dia masuk kerja. (4) Atasan yang lebih tinggi secara tidak langsung ikut bertanggung jawab
(4) Pegawai pada jam kerja dilarang berada di luar area kerjanya, kecuali atas pengawasan seluruh pegawai yang berada dibawah koordinasinya.
ada keperluan dinas.
(5) Pegawai tidak masuk kerja tanpa alasan yang dapat diterima RSUD, Paragraf 4
maka pegawai tersebut dianggap mangkir. Sanksi
(6) Pegawai yang mangkir 6 (enam) hari berturut–turut tanpa surat Pasal 86
Pegaawai yang melanggar tata tertib dan disiplin dikenakan sanksi
dilengkapi surat keterangan yang sah dan telah dipanggil dua kali secara
pelanggaran berupa teguran lisan, teguran tertulis.
Pasal 87 g. Tidak melaporkan kepada atasannya tentang adanya gangguan
(1) Teguran lisan diberikan oleh atasan lengsung / pimpinan unit kerja keamanan yang diketahui dapat merugikan RSUD;
serendah- rendahnya Kepala Sub Bagian yang selanjutnya dilanjutkan h. Tidak mentaati yang layak dari atasan;dan
dicatat dalam personal data yang bersangkutan. i. Melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat digolongkan perbuatan
(2) Pelanggaran yang dapat dikenakan teguran lisan: yang tidak sesuai dengan norma kesopanan dan kesusilaan.
a. Tidak masuk kerja tanpa alasan ( mangkir) 3 (tiga) kali dalam sebulan
tidak berturut–turut; Pasal 89
b. Menggunakan fasilitas dinas untuk keperluan pribadi tanpa izin dan / (1) Surat peringatan II ditandatangani dan diberikan oleh atasan dengan
atau secara berlebihan; jabatan serendah-rendahnya setingkat Kepala Bidang / Bagian dan
c. Penempatkan/ memakai kartu tanda pengenal bukan ditempat yang tembusanya disampaikan kepada Bagian Umum.
telah ditentukan dan/ atau tidak menjaga keutuhanya; (2) Surat peringatan II berlaku untuk 6 ( enam) bulan.
d. Tidak menggunakan seragam kerja dan perlengkapan lainnya yang (3) Pelanggaran yang dapat dikenakan surat peringatan II adalah:
ditentukan RSUD pada jam kerja; a. Mangkir 4 ( empat) kerja berturut- turut dalam sebulan atau 6
e. Melalaikan kewajiban untuk memberitahukan dan menyerahkan surat (enam) hari kerja berturut-turut dalam sebulan;
keterangan sakit dari dokter pada saat kesempatan pertama masuk b. Peningkatan sanksi dari SP I yang jenis atau tingkat pelanggarannya
kerja; sama;
f. Makan / istirahat lebih awal dan / atau telambat kembali ketempat c. Menghasut, menfitnah, mengadu domba, menyebarluaskan desas-
kerja dari waktu yang telah ditentukan; desus yang dapat mempengaruhi ketentraman dan ketenangan kerja
g. Meninggalkan pekerjaan tanpa seizin atasan;dan pegawai;dan
h. Datang lambat tujuh kali dalam sebulan. d. Mengintimidasi, menggangu atau melakukan pemaksaan terhadap
teman sekerja maupun atasan ataupun sebaliknya.
Pasal 88
(1) Surat peringatan I ditanda tangani dan diberikan oleh atasan dengan
jabatan serendah-rendahnya Kepala Bidang / Bagian dan tembusanya
disampaikan kepada bagian Umum.
(2) Surat peringatan berlaku untuk masa 6 ( enam) bulan. Pasal 90
(3) Pelanggaran yang dapat dikenakan surat peringatan I adalah: (1) Surat peringatan III ditanda tangani dan diberikan oleh atasan dengan
a. Mangkir 3( tiga) hari kerja berturut- turut dalam sebulan atau 5 jabatan serendah-rendahnya setingkat Kepala Bagian/ Bidang dan
(lima) hari kerja tidak berturut–turut dalam sebulan; tembusanya disampaikan kepada Bagian Umum.
b. Peningkatan sanksi dari 3 (tiga) kali peringatan lisan yang jenis atau (2) Surat peringatan III berlaku untuk 6 (enam) bulan.
tingkat pelanggarannya sama; (3) Pelanggaran yang dapat dikenakan surat peringatan III adalah:
c. Mencatatkan dengan cara apapun waktu hadir / atau pulang orang a. Mangkir 4 (empat) hari kerja berturut-turut dalam sebulan atau 7
lain; (tujuh) hari kerja tidak berturut-turut dalam sebulan;
d. Bekerja tidak sesuai dengan standar operasional yang ditetapkan; b. Peningkatan sanksi dari SP II yang jenis atau tingkat pelanggaranya
e. Menerima pekerjaan dari perusahaan lain tanpa izin tertulis dari sama;
Direktur; c. Menjual, menjaminkan, menyewa atau meminjamkan barang- barang
f. Melakukan perbuatan yang dapat merugikan nama baik RSUD; dokumen atau surat- surat berharga milik RSUD;
d. Mencemarkan nama baik RSUD, membocorkan atau memanfaatkan
rahasia perusahaan;
e. Membawa senjata tajam kedalam lingkungan perusahaan untuk (2) Remunerasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan, imbalan
keperluan yang tidak ada hubunganya dengan tugas dan tanggung kerja yang dapat berupa gaji, tunjangan tetap, honorarium, insentif,
jawabnya; bonus atas prestasi, pesangon, dan/ atau pensiun.
f. Melakukan tindakan yang dapat menimbulkan keonaran yang dapat (3) Remunerasi bagi dewan pengawas dan Sekretaris Dewan Pengawas
merugikan RSUD; sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diberikan dalam bentuk
g. Ceroboh melakukan pekerjaan yang dapat menimbulkan kecelakaan / honorarium.
bahaya bagi dirinya sendiri dan atau orang lain;dan (4) Remunerasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan oleh
h. Menyebarkan media atau elektronik maupun media cetak yang isinya Gubernur berdasarkan usulan yang disampaikan oleh Direktur RSUD
tidak dapat dipertanggung jawabkan. melalui Sekretaris Daerah.

Pasal 91 Pasal 94
(1) Skorsing diterapkan sebagai akibat pelanggaran yang dapat mengarah (1) Penetapan remunerasi oleh pemimpin BLUD, mempertimbangkan faktor-
kepada pemutusan Hubungan Kerja yaitu: faktor yang berdasarkan:
a. Apabila dalam masa berlaku SP III masih melakukan pelanggaran lain a. Ukuran (size) dan jumlah aset yang dikelola RSUD, tingkat pelayanan
yang atau jenis tingkat pelanggaranya sama atau lebih berat;dan serta produktifitas;
b. Dikenakan tahanan sementara oleh pihak berwajib karena diduga b. Pertimbangan persamaannya dengan industri pelayanan sejenis;
melakukan tindak pidana; c. Kemampuan pendapatan RSUD yang bersangkutan; dan
(2) Skorsing terhadap pegawai ditetapkan dan ditandatangani oleh Direktur d. Kinerja operasional RSUD yang diterapkan oleh kepala daerah dengan
setelah sebelumnya dan dibicarakan dengan pegawai yang bersangkutan mempertimbangkan antara lain indikator keuangan, pelayanan, mutu
dan selanjutnya disampaikan melalui Kepala Sub Bagian Kepegawaian. dan manfaat bagi masyarakat.
(3) Lamanya skorsing selama-lama 6 ( enam) bulan. (2) Remunerasi pejabat keuangan dan pejabat teknis ditetapkan paling
banyak sebesar 90% (sembilan puluh persen) dari remunerasi pemimpin
Bagian Keenam BLUD.
Masa Kerja (3) Honorarium dewan pengawas ditetapkan sebagai berikut:
Pasal 92 a. Honorarium ketua Dewan Pengawas paling banyak sebesar 40%
(1) Masa kerja adalah lamanya pegawai tersebut bekerja di RSUD terhitung
(empat puluh persen) dari gaji pemimpin BLUD;
dari pertama awal masuk. b. Honorarium anggota Dewan Pengawas paling banyak sebesar 30%
(2) Pegawai baru yang pada saat pengangkatan telah memiliki pengalaman
(tiga puluh persen) dari gaji pemimpin BLUD; dan
kerja diluar RSUD merupakan pertimbangan dalam menentukan posisinya c. Honorarium Sekretaris Dewan Pengawas paling banyak sebesar 15%
di RSUD karena kompetensi yan dia miliki, dan tidak dihitung sebagai (lima belas persen) dari gaji pemimpin BLUD.
masa kerjanya di RSUD.
Pasal 95
BAB X (1) Remunerasi bagi pejabat pengelola dan pegawai BLUD sebagaimana
REMUNERASI dimaksud dalam Pasal 93 ayat (1), dapat dihitung berdasarkan indikator
Pasal 93
penilaian:
(1) Pejabat pengelola BLUD, dewan pengawas, sekretaris dewan pengawas
a. Pengalaman dan masa kerja (basic index);
dan pegawai BLUD dapat diberikan remunerasi sesuai dengan tingkat b. Keterampilan, ilmu pengetahuan dan perilaku ( competency index);
tanggung jawab dan tuntutan profesionalisme yang diperlukan c. Resiko kerja (risk index);
d. Tingkat kegawatdaruratan (emergency index); b. 56 tahun seluruh pegawai tetap dan dapat diperpanjang sesuai
e. Jabatan yang disandang (position index);dan kebutuhan dan kemampuannya.
f. Hasil/ capaian kinerja (Ferfomance index).
(2) Bagi pejabat pengelola dan pegawai RSUD yang berstatus PNS, gaji Paragraf 2
pokok dan tunjangan mengikuti peraturan perundang-undangan tentang Pengunduran Diri
gaji dan tunjangan PNS serta dapat diberikan tambahan penghasilan Pasal 98
sesuai remunerasi yang ditetapkan oleh Gubernur sebagaimana dimaksud (1) Pagawai RSUD baik fungsional maupun struktural berhak mengakhiri
dalam pasal 93 ayat (4) hubungan kerja atas kemauannya sendiri.
(3) Pejabat pengelola, Dewan Pengawas dan Sekretaris Dewan Pengawas (2) Pegawai fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwajibkan
yang diberhentikan sementara dari jabatannya memperoleh penghasilan memberitahukan maksudnya secara tertulis kepada Direktur RSUD dalam
sebesar 50% (lima puluh persen) dari remunerasi / honorarium bulan jangka waktu sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan sebelumnya.
(3) Pejabat stuktural sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwajibkan
terakhir yang berlaku sejak tanggal diberhentikan sampai dengan
memberitahukan secara tertulis sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan
ditetapkanya keputusan definitif tentang jabatan yang bersangkutan.
(4) Bagi pejabat pengelola berstatus PNS yang diberhentikan sementara dari sebelumnya.
(4) Dalam pengunduran diri sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), RSUD
jabatanya sebagaimana dimaksud pada ayat (3), memperoleh
tidak berkewajiban membayar uang pesangon, kecuali uang pisah yang
penghasilan sebesar 50% (lima piluh persen) dari remunerasi bulan
besarnya sama dengan uang penghargaan masa kerja sesuai dengan
terakhir di BLUD sejak tanggal diberhentikan atau sebesar gaji PNS
peraturan perundang-undangan.
berdasarkan surat keputusan tentang pangkat terakhir.

BAB XI
Paragraf 3
PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA
Berakhirnya Kontrak Kerja Pegawai Non PNS
Bagian Kesatu
Pasal 99
Pemberhentian dengan Hormat
(1) Kontrak kerja berakhir dengan berakhirnya jangka waktu yang telah
Pasal 96
Pemberhentian dengan hormat terdiri dari; disepakati dengan pemberitahuan 7 hari sebelumnya tanpa
a. Pensiun; pemberian uang pesangon
b. Pengunduran diri; dan (2) Apabila salah satu pihak memutuskan hubungan kerja sebelum masa
c. Berakhirnya kontrak kerja. perjanjian berakhir, maka pihak yang hubungan kerja tersebut
diwajibkan membayar kepada pihak lainnya berupa sisa upah yang
Paragraf 1 harus dibayar sampai batas waktu berakhirnya jangka waktu
Pensiun
perjanjian kerja.
Pasal 97
(1) Pegawai tetap yang memasuki batas usia pensiun dapat diberhentikan
Bagian Kedua
dengan hormat/PHK dengan mendapat tunjangan pensiun. Pemberhentian dengan Tidak Hormat
(2) Batas usia pensiun PNS mengacu pada peraturan perundang-undangan Pasal 100
(3) Batas usia pegawai non PNS sebagai berikut: (1) Pelanggaran oleh PNS yang dapat dikenakan sanksi berupa
a. 60 tahun untuk kelompok Fungsional Dokter dan dapat diperpanjang
pemberhentian dengan tidak hormat disesuaikan dengan peraturan
sesuai dengan kebutuhan dan kemampuanya;
perundang-undangan.
(2) Pelanggaran yang dapat dikenakan sanksi PHK bagi pegawai Non PNS hubungan kerja dengannya yang dilaksanakan sesuai peraturan
adalah: perundang-undangan.
a. Mangkir selama 6 (enam) hari kerja berturut-turut (4) Pemutusan Hubungan Kerja terhadap pegawai ditetapkan dan
b. Peningkatan sanksi pelanggaran dari SP III yang jenis dan/ atau ditandatangani oleh Direktur setelah sebelumnya dibicarakan dengan
tingkat pelanggaranya lebih tinggi; pegawai yang bersangkutan dan selanjutnya disampaikan melalui Sub
c. Penggelapan, pencurian, penipuan, pemalsuan dan lain jenisnya yang Bagian Kepegawaian.
merugikan RSUD atau teman sekerja; (5) PHK dengan alasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
d. Melakukan penganiayaan, penghinaan, tindakan kekerasan, sesuai peraturan perundang-undangan.
mengancam secara fisik maupun mental terhadap pimpinan,pegawai (6) Bagi pegawai yang terkena tindakan disipliner seperti tersebut dalam
atau keluarganya; Pasal 68 sampai dengan pasal 71 dan dan Pasal 80 ayat (1) dan (2)
e. Melakukan pemaksaan / memerintahkan teman kerja / bawahan atau diberikan kesempatan untuk membela diri dan memberikan penjelasan
ikut serta melakukan perbuatan yang merugikan RSUD; atas perbuatan yang ia lakukan kepada pejabat yang berwenang.
f. Menyuruh , membujuk atau ikut serta melakukan perbuatan yang
melanggar norma kesusilaan terhadap pimpinan dan / atau pegawai BAB XII
beserta keluarganya; AKUNTABILITAS KINERJA
g. Merusak / menghilangkan barang milik RSUD baik secara sengaja Bagian Kesatu
maupun karena kecerobohan; Perencanaan, Penganggaran dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran
h. Memberi keterangan palsu atau yang dipalsukan pada saat membuat Paragraf 1
perjanjian kerja; Perencanaan
i. Berjudi, minum-minuman keras dan/ atau mabuk, mengisap madat, Pasal 101
(1) RSUD menyusun Renstra bisnis.
menggunakan obat-obat terlarang (narkoba) didalam / diluar
(2) Renstra bisnis sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mencakup
lingkungan RSUD;
pernyataan visi, misi, program strategis, pengukuran pencapaian
j. Memperdagangkan barang-barang baik didalam dan diluar lingkungan
kinerja, rencana pencapaian lima tahunan dan proyeksi keuangan
RSUD;
k. Meminta dan menerima komisi / uang atau pekerjaan yang lima tahunan RSUD.
(3) Visi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), memuat suatu gambaran
dilaksanakannya untuk RSUD kepada supplier atau pasien untuk
yang menantang tentang keadaan masa depan yang berisikan cita
kepentingan pribadi;
l. Membongkar rahasia RSUD yang mengakibatkan kerugian RSUD baik dan citra yang ingin diwujudkan.
(4) Misi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), menguat sesuatu yang
moril ataupun materil;
m. Membawa senjata api kedalam lingkungan RSUD kecuali memiliki izin diemban atau dilaksanakan sesuai Visi yang ditetapkan, agar tujuan
dari pihak yang berwenang dan untuk kepentingan yang relevan; organisasi dapat terlaksana sesuai bidangnya dan berhasil dengan
n. Melakukan tindakan pidana yang telah diputuskan oleh pengadilan baik.
yang telah berkekuatan hukum yang tetap;dan (5) Program strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (2), memuat
o. Mencemar nama baik RSUD membocorkan dan/ atau memanfaatkan program berisi proses kegiatan yang beriorentasi pada hasil yang
rahasia RSUD. ingin dicapai sampai dengan kurun waktu 1(satu) sampai 5(lima)
(3) RSUD dapat memutuskan hubungan kerja secara sepihak dan seketika tahun dengan memperhitungkan potensi, peluang, dan kendala yang
terhadap setiap pegawai yang melakukan pelanggaran yang dimaksud ada atau mungkin timbul.
pada ayat (1), sehingga tidak layak diharapkan untuk meneruskan
(6) Pengukuran pencapaian kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2), k. Ringkasan pendapatan dan biaya untuk konsolidasi dengan RKA-
memuat pengukuran yang dilakukan dengan menggambarkan SKPD/APBD.
pencapaian hasil kegiatan dengan disertai analisis atas faktor-faktor (5) RBA sebagaimana dimaksud pada ayat (4), disertai dengan usulan
internal dan eksternal yang mempengaruhi tercapainya kenerja. program, kegiatan, standar pelayanan minimal dan biaya dari keluaran
(7) Rencana pencapaian lima tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat yang akan dihasilkan.
(2), memuat capaian kinerja pelayanan tahunan selama 5 (lima) (6) Kinerja tahun berjalan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a,
tahun. meliputi :
(8) Proyeksi keuangan lima tahunan sebagaimana diamaksud pada ayat a. Hasil kegiatan usaha;
(2) memuat perkiraan capaian kinerja keuangan tahunan selama b. Faktor yang mempengaruhi kinerja;
c. Perbandingan RBA tahun berjalan dengan realisasi;
5(lima) tahun.
d. Laporan keuangan tahun berjalan; dan
(9) Renstra bisnis sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipergunakan
e. Hal-hal lain yang perlu ditindaklanjuti sehubungan dengan pencapaian
sebagai dasar penyusunan RBA dan evaluasi kinerja.
kinerja tahun berjalan.
(7) Asumsi makro dan mikro sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b,
antara lain :
a. Tingkat inflasi;
b. Pertumbuhan ekonomi;
Paragraf 2 c. Nilai kurs;
Penganggaran d. Tarif;
Pasal 102 e. Volume pelayanan.
(1) RSUD menyusun RBA tahunan yang berpedoman kepada renstra bisnis. (8) Target kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf c, antara lain :
(2) Penyusunan RBA sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disusun a. Perkiraan pencapaian kinerja pelayanan; dan
b. Perkiraan keuangan pada tahun yang direncanakan.
berdasarkan prinsip anggaran berbasis kinerja, perhitungan akuntansi,
(9) Analisis dan perkiraan biaya satuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
biaya menurut jenis layanan, kebutuhan pendanaan dan kemampuan
huruf d, merupakan perkiraan biaya perunit penyedia barang dan/atau
pendapatan yang diperkirakan akan diterima dari masyarakat, badan lain,
jasa pelayanan yang diberikan setelah memperhitungkan seluruh
APBD, APBN, dan sumber-sumber pendapatan RSUD lainnya.
komponen biaya dan volume barang dan/atau jasa yang akan dihasilkan.
(3) RBA merupakan penjabaran lebih lanjut dari program dan kegiatan RSUD
(10) Perkiraan harga sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf e,
dengan berpedoman kepada pengelolaan keuangan BLUD.
merupakan estimasi harga jual produk barang dan/atau jasa setelah
(4) RBA sebagaimana dimaksud pada ayat (2), memuat :
a. Kinerja tahun berjalan; memperhitungkan biaya persatuan dan tingkat margin yang ditentukan
b. Asumsi makro dan mikro; seperti tercermin dari tarif pelayanan.
c. Target kinerja; (11) Anggaran pendapatan dan biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
d. Analisis dan perkiraan biaya satuan; huruf f, merupakan rencana anggaran untuk seluruh kegiatan tahunan
e. Perkiraan harga; yang dinyatakan dalam satuan uang yang tercermin dari rencana
f. Anggaran pendapatan dan biaya; pendapatan dan biaya.
g. Besaran persentase ambang batas; (12) Besaran persentase ambang batas sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
h. Prognosa laporan keuangan;
huruf g, merupakan besaran persentase perubahan anggaran bersumber
i. Perkiraan maju ( for ward estimate);
j. Rencana pengeluaran investasi / modal; dan
dari pendapatan operasional yang diperkenankan dan ditentukan dengan (1) Dokumen Pelaksaan Anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102
mempertimbangkan fluktuasi kegiatan operasional RSUD. ayat (23) paling sedikit mencakup seluruh pendapatan dan belanja,
(13) Prognosa keuangan sebagaimana dimaksud dalam pada (4) huruf h, proyeksi, arus kas, serta jumlah dan kualitas jasa dan atau barang yang
merupakan perkiraan realisasi keuangan tahun berjalan seperti tercermin akan dihasilkan.
dalam laporan operasional, neraca, dan laporan arus kas. (2) DPKD sesuai dengan kewenanganya, mengesahkan Dokumen
(14) Perkiraan maju ( forward estimate) sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Pelaksanaan Anggaran RSUD paling lambat tanggal 31 Desember
huruf i, merupakan perhitungan kebutuhan dana untuk tahun anggaran menjelang awal tahun anggaran.
berikutnya dari tahun yang direncanakan guna memastikan (3) Dalam hal Dokumen Pelaksanaan Anggaran sebagaimana dimaksud
kesinambungan program dan kegiatan yang telah disetujui dan menjadi dalam ayat (2) belum disahkan oleh DPKD, sesuai dengan
dasar penyusunan anggaran tahun berikutnya. kewenangannya, Direktur RSUD dapat melakukan pengeluaran uang
(15) Rencana pengeluaran investasi / modal sebagaimana dimaksud pada paling tinggi sebesar angka Dokumen Pelaksaan Anggaran tahun
ayat (4) huruf j, merupakan rencana pengeluaran dana untuk sebelumnya.
memperoleh aset tetap. (4) Dokumen Pelaksanaan Anggaran yang telah disahkan oleh DPKD
(16) Ringkasan pendapatan dan biaya untuk konsolidasi dengan RKA- sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) menjadi lampiran dari perjanjian
SKPD/APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf k, merupakan kinerja yang ditandatangani oleh Bupati sesuai dengan kewenangannya
ringkasan pendapatan dan biaya dalam RBA yang disesuaikan dengan dengan Direktur RSUD, antara lain memuat kesanggupan untuk
format RKA-SKPD/APBD. meningkatkan:
(17) RBA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disajikan sebagai bagian yang a. Kinerja peleyanan bagi masyarakat;
tidak terpisahkan dari Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD. b. Kinerja keuangan dan non keuangan;
(18) RBA sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipersamakan sebagai RKA- c. Manfaat bagi pelayanan masyarakat;dan
SKPD. d. Menerapkan praktek bisnis yang sehat.
(19) RBA sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disampaikan kepada DPKD. (5) Dokumen Pelaksanaan Anggaran yang telah disahkan oleh DPKD, sesuai
(20) RBA sebagaiamana dimaksud pada ayat (19), oleh DPKD disampaikan kewenanganya , sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi dasar
kepada TAPD untuk dilakukan penelaahan. penarikan dana bersumber dari APBN dan atau APBD.
(21) RBA yang telah dilakukan penelaahan oleh TAPD sebagaimana dimaksud (6) Penarikan dana sebagaimana dimaksud pada ayat (5), digunakan untuk
dalam ayat (20), disampaikan kepada PPKD untuk dituangkan dalam belanja pegawai, belanja modal, barang dan/atau jasa, dilakukan sesuai
Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD. dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(22) Setelah Rancangan Peraturan Daerah tetang APBD sebagaimana (7) Penarikan dana sebagaimana dimaksud pada ayat (6), sebagai selisih
dimaksud dalam ayat (21) ditetapkan menjadi Peraturan Daerah, Direktur (mismatch) jumlah kas yang tersedia ditambah dengan aliran kas masuk
melakukan penyesuaian terhadap RBA untuk ditetapkan menjadi RBA yang diharapkan dengan jumlah pengeluaran yang diproyeksikan dengan
definitif. memperhatikan anggaran kas yang telah ditetapkan dalam DPA-RSUD.
(23) RBA definitif sebagaimana dimaksud pada ayat (22), digunakan sebagai
dasar penyusunan DPA-BLUD untuk diajukan kepada DPKD. Bagian Kedua
Pengelolaan Kas
Paragraf 3 Pasal 104
Dokumen Pelaksanaan Anggaran
Pasal 103
(1) Transaksi penerimaan dana pengeluaran kas yang dananya bersumber (5) Penagihan piutang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang sulit ditagih
dari jasa layanan, hibah, hasil kerja sama dengan pihak lain, dan lain-lain dapat dilimpahkan pada Gubernur dengan dilampiri bukti-bukti valid yang
pendapatan yang sah dilaksanakan melalui rekening kas RSUD. sah.
(2) Dalam pengelolaan kas, sebagimana dimaksud pada ayat (1) RSUD (6) Piutang RSUD dapat dihapus secara mutlak atau bersyarat oleh pejabat
menyelenggarakan: yang berwenang, yang nilainya ditetapkan secara berjenjang
a. Perencanaan penerimaan dan pengeluaran kas; (7) Kewenangan penghapusan piutang secara berjenjang sebagaimana
b. Pemungutan pendapatan dan tagihan; dimaksud pada ayat (6) ditetapkan dengan Peraturaan Bupati, sesuai
c. Penyimpanan kas dan mengelola rekening bank; dengan peraturan perundang-undangan.
d. Pembayaran;
e. Perolehan sumber dana untuk menutup defisit jangka pendek; dan
f. Pemanfaatan surplus kas jangka pendek untuk memperoleh
pendapatan tambahan. Paragraf 2
(3) Penerimaan RSUD pada setiap hari disetorkan seluruhnya ke rekening Pinjaman/Utang
kas RSUD yang dibuka oleh Direktur pada Bank Nagari dan dilaporkan Pasal 106
kepada Kepala SubBagian Keuangan. (1) RSUD dapat melakukan pinjaman/ utang sehubungan dengan kegiatan
(4) Pengelola kas RSUD dilaksankan berdasarkan praktek bisnis yang sehat. operasional dan atau perikatan peminjaman dengan pihak lain.
(5) Penarikan dana yang bersumber dapi APBN dan atau APBD dilakukan (2) Pinjaman / utang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa
dengan menerbitkan Surat Perintah Membayar (SPM ) sesuai dengan pinjaman /utang jangka pendek atau pinjaman / utang jangka panjang.
peraturan perundang-undangan. (3) Pinjaman/utang RSUD dikelola atau diselesaikan secara tertib, efisien,
ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab, sesuai dengan praktek
Bagian Ketiga bisnis yang sehat.
Pengelolaan Piutang dan Utang (4) Pemanfaatan pinjaman/ utang yang berasal dari perikatan peminjaman
Paragraf 1 jangka pendek ditujukan hanya untuk belanja operasional termasuk
Piutang
untuk menutup defisit kas
Pasal 105
(5) Pemanfaatan utang yang berasal dari perikatan pinjaman jangka panjang
(1) RSUD dapat memberikan piutang sehubungan dengan penyerahan
ditujukan hanya untuk belanja modal/ pengeluaran investasi.
barang, jasa, dan atau transaksi lainnya yang berhubungan langsung atau
(6) Pinjaman jangka panjang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terlebih
tidak langsung dengan kegiatan RSUD.
dahulu wajib mendapat persetujuan Bupati.
(2) Piutang RSUD dikelola dan diselesaikan secara tertib, efisien, ekonomis,
(7) Perikatan peminjaman dilakukan oleh pejabat yang berwenang secara
transparan dan bertanggung jawab serta memberikan nilai tambah,
berjenjang berdasarkan nilai pinjaman.
ssesuai dengan praktek bisnis yang sehat dan berdasarkan ketentuan (8) Kewenangan peminjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (7) diatur
peraturan perundang-undangan. dengan Peraturan Bupati.
(3) RSUD melaksanakan penagihan piutang pada saat piutang jatuh tempo. (9) Pembayaran kembali utang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
(4) Untuk melaksanakan tagihan piutang sebagaiamana dimaksud pada ayat
merupakan tanggung jawab RSUD.
(3), RSUD menyiapkan bukti dan administrasi penagihan serta (10) Hak tagih atas utang RSUD menjadi kadaluarsa setelah 5 (lima) tahun
menyelesaikan tagihan atas piutang RSUD. sejak utang tersebut jatuh tempo, kecuali ditetapkan lain oleh undang-
undang.
(11) Jatuh tempo sebagaimana dimaksud pada ayat (10) dihitung sejak (2) Pendapatan RSUD yang bersumber dari jasa layanan sebagaimana
tanggal 1 Januari tahun berikutnya. dimaksud pada ayat (1) huruf a, berupa imbalan yang diperoleh dari jasa
(12) RSUD wajib membayar bunga dan pokok utang yang telah jatuh tempo. layanan yang diberikan kepada masyarakat.
(13) Direktur RSUD dapat melakukan pelampauan pembayaran bunga dan (3) Pendapatan RSUD yang bersumber dari hibah sebagaimana dimaksud
pokok sepanjang tidak melebihi nilai ambang batas yang telah ditetapkan pada ayat (1) huruf b, dapat berupa hibah terikat dan hibah tidak terikat.
dalam RBA. (4) Hasil kerja sama RSUD dengan pihak lain sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf c, dapat berupa perolehan dari kerja sama operasional,
BAB XIII sewa menyewa dan usaha lainya yang mendukung tugas dan fungsi
PENATAUSAHAAN
RSUD.
Pasal 107
(5) Pendapatan RSUD yang bersumber dari APBD sebagaimana dimaksud
(1) Penatausahaan keuangan RSUD sekurang-kurangnya memuat:
a. Pendapatan/biaya; pada ayat (1) huruf d, berupa pendapatan yang berasal dari otorisasi
b. Penerimaan/pengeluaran; kredit anggaran pemerintah daerah bukan dari kegiatan pembiayaan
c. Utang/piutang; APBD.
d. Persediaan, aset tetap dan investasi; dan (6) Pendapatan RSUD yang bersumber dari APBN sebagimana dimaksud
e. Ekuitas dana. pada ayat (1) huruf e, berupa pendapatan yang berasal dari pemerintah
(2) Penatausahaan RSUD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi dan/ atau tugas pembantuan
didasarkan pada prinsip pengelolaan keuangan bisnis yang sehat. dan lain-lain.
(3) Penatausahaan RSUD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), (7) RSUD dalam melaksanakan anggaran dekonsentrasi dan /atau tugas
dilakukan secara tertib, efektif, efisien, transparan, dan dapat pembantuan sabagaimana dimaksud pada ayat (6), proses pengelolaan
dipertanggung jawabkan. keuangan diselenggarakan secara terpisah berdasarkan ketentuan
(4) Direktur RSUD menetapkan kebijakan penatausahaan keuangan peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam pelaksanaan APBN.
RSUD. (8) Lain-lain pendapatan RSUD sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1)
(5) Penetapan kebijakan penatausahaan sebagaimana dimaksud pada huruf f, antara lain:
ayat (4) disampaikan kepada DPKD. a. Hasil penjualan kekayaan yang tidak dipisahkan;
b. Hasil pemanfaatan kekayaan;
BAB XIV c. Jasa giro;
PENDAPATAN DAN BIAYA d. Pendapatan bunga;
Bagian Kesatu e. Keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing;
Pendapatan f. Komisi, potongan atau bentuk lain sebagai akibat dari penjualan
Pasal 108 dan /atau pengadaan barang dan /atau jasa oleh RSUD ;dan
(1) Pendapatan RSUD bersumber dari: g. Hasil investasi.
a. Jasa layanan; (9) Seluruh pendapatan RSUD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kecuali
b. Hibah;
yang berasal dari hibah terikat, dapat dikelola langsung untuk membiayai
c. Hasil kerja sama dengan pihak lain;
d. APBD; pengeluaran RSUD sesuai RBA.
e. APBN; (10) Hibah terikat sebagaimana dimaksud pada ayat (9), diperlukan sesuai
f. Lain-lain pandapatan RSUD yang sah. peruntukanya.
(11) Seluruh pendapatan RSUD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,
huruf b, huruf c,dan huruf f, dilaksanakan melalui rekening kas RSUD dan
dicatat dalam kode rekening kelompok pendapatan asli daerah pada jenis (10) Biaya umum dan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (8),
lain-lain pendapatan asli daerah yang sah dengan objek pendapatan terdiri dari :
RSUD sebagai BLUD. a. Biaya pegawai;
(12) Seluruh pendapatan RSUD sebagaimana dimaksud pada ayat (11) b. Biaya administrasi kantor;
dilaporkan kepada DPKD setiap triwulan. c. Biaya pemeliharaan;
d. Biaya barang dan jasa;
e. Biaya promosi;
Bagian Kedua f. Biaya umum dan administrasi lain-lain.
Biaya (11) Biaya non operasional sebagimana dimaksud pada ayat (3), terdir dari :
Pasal 109 a. Biaya bunga;
(1) Biaya RSUD terdiri dari biaya operasional dan non operasional. b. Biaya administrasi bank;
(2) Biaya operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mencakup c. Biaya kerugian penjualan aset tetap;
d. Biaya kerugian penurunan nilai;dan
seluruh biaya yang menjadi beban RSUD dalam rangka menjalankan
e. Biaya non operasional lain-lain.
tugas dan fungsi.
(3) Biaya non operasional sebagimana dimaksud pada ayat (1), mencakup Pasal 110
seluruh biaya yang menjadi beban RSUD dalam rangka menjalankan (1) Seluruh biaya pengeluaran RSUD yang bersumber sebagaimana
tugas dan fungsi. dimaksud dalam pasal 109 disampaikan kepada DPKD setiap triwulan.
(4) Biaya RSUD sebagimana dimaksud pada ayat (1), dialokasikan untuk (2) Seluruh pengeluaran RSUD yang bersumber sebagaimana dimaksud pada
membiayai program peningkatan pelayanan, kegiatan pelayanan dan ayat (1), dilakukan dengan menerbitkan SPM pengesahan yang dilampiri
kegiatan pendukung pelayanan. dengan surat Pernyataan Tanggung Jawab (SPTJ).
(5) Pembiayaan program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), (3) Bentuk format SPTJ dan laporan sesuai dengan aturan yang ditetapkan
dialokasikan sesuai dengan kelompok, jenis, program dan kegiatan. oleh Bupati.
(6) Biaya operasional sebagimana dimaksud pada ayat (2), terdiri dari :
a. Biaya pelayanan; Pasal 111
b. Biaya umum dan administrasi. (1) Pengeluaran biaya RSUD diberikan fleksibilitas dengan
(7) Biaya pelayanan sebagimana dimaksud pada ayat (6) huruf a, mencakup mempertimbangkan volume kegiatan pelayanan.
seluruh biaya operasional yang berhubungan langsung dengan kegiatan (2) Fleksibilitas pengeluaran biaya RSUD sebagaimana dimaksud pada ayat
pelayanan. (1), merupakan pengeluaran biaya yang disesuaikan dan signifikan
(8) Biaya umum dan administrasi sebagimana dimaksud pada ayat (6) huruf dengan perubahan pendapatan dalam ambang batas RBA yang telah
b, mencakup seluruh biaya operasional yang tidak berhubungan langsung ditetapkan secara definitif
dengan kegiatan pelayanan. (3) Fleksibilitas pengeluaran biaya RSUD sebagaimana dimaksud pada ayat
(9) Biaya pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (7), terdiri dari : (1), hanya berlaku untuk biaya rumah sakit yang berasal dari pendapatan
a. Biaya pegawai;
selain dari APBN/APBD dan hibah terikat.
b. Biaya bahan;
(4) Fleksibilitas perubahan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
c. Biaya jasa pelayanan
d. Biaya pemeliharaan; RSUD dapat melakukan perubahan RBA/DPA setiap triwulan dengan
e. Biaya barang dan jasa; persetujuan RKPD.
f. Biaya pelayanan lain-lain. (5) Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) akan dilakukan
perhitungan komulatif pada anggaran perubahan tahun berjalan.
(6) Dalam hal terjadi kekurangan anggaran, RSUD mengajukan usulan (4) Dalam penetapan barang dan jasa sebagaimana dimaksud dalam pasal
tambahan anggaran dari APBD kepada PPKD melalui Sekretaris Daerah. 113 ayat (1), panitia pengadaan terlebih dahulu harus memperoleh
persetujuan tertulis dari:
Bagian Ketiga a. Direktur RSUD untuk pengadaan barang /jasa yang bernilai diatas Rp
Ambang Batas Rencana Bisnis Anggaran 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah);
Pasal 112 b. Pejabat lain yang ditunjuk oleh Direktur RSUD untuk pengadaan yang
(1) Ambang batas RBA sebagaimana dimaksud dalam pasal 111 ayat (2),
bernilai sampai dengan Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
ditetapkan dengan besaran persentase. (5) Ketentuan pengadaan barang dan/atau jasa yang ditetapkan Direktur
(2) Besaran persentase sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditentukan
RSUD sebagaimana dimaksud pada ayat (4), harus dapat memjamin
dengan mempertimbangkan fluktuasi kegiatan operasional RSUD.
ketersediaan barang dan/atau jasa yang lebih bermutu, lebih murah,
(3) Besaran persentase sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ditetapkan
proses pengadaan barang yang sederhana dan cepat serta mudah
dalam RBA dan DPA-RSUD oleh DPKP.
(4) Persentase ambang batas tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), menyelesaikan dengan kebutuhan untuk mendukung kelancaran
merupakan kebutuhan yang dapat diprediksi, dapat dicapai, terukur, pelayanan RSUD.
(6) Pengadaan barang dan/atau jasa dilakukan berdasarkan prinsip efisien,
rasional dan dapat mempertanggungjawabkan.
efektif, trasparan, bersaing, adil/ tidak diskriminatif, akuntabel dann
BAB XV praktek bisnis yang sehat.
PENGADAAN BARANG DAN/ATAU JASA
Bagian Kesatu Bagian Kedua
Umum Pengadaan dari Dana Hibah dan Jasa Layanan
Pasal 113 Pasal 114
(1) Pengadaan barang dan/atau jasa pada RSUD dilaksanakan berdasarkan: (1) Pengadaan barang dan/atau jasa yang dananya berasal dari hibah terikat
a. Sepenuhnya dari ketentuan yang berlaku bagi pengadaan barang atau dapat dilakukan dengan mengikuti ketentuan pengadaan dari pemberian
jasa pemerintah atau; hibah, atau ketentuan pengadaan barang dan/atau jasa yang berlaku
b. Pembebasan sebagian atau seluruhnya dari ketentuan yang berlaku bagi RSUD sepanjang disetujui pemberi hibah.
bagi pengadaan barang atau jasa pemerintah. (2) Pengadaan barang dan/atau jasa yang dananya bersumber dari jasa
(2) Kebijakan pengadaan barang dan/atau jasa yang dimaksud pada ayat (1) layanan RSUD dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
huruf b, berlaku apabila RSUD ditetapkan oleh Bupati dengan status a. Untuk pengadaan barang /jasa dengan nilai sampai dengan
penuh melaksanakan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dilakukan oleh swakelola;
Daerah sehingga dengan alasan efektifitas dan /atau jasa efisiensi b. Untuk pengadaan barang/jasa dengan nilai sampai dengan
diberikan freksibilitas. Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dilakukan dengan cara
(3) Freksibilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diberikan terhadap pembelian langsung;
pengadaan barang dan/atau jasa yang sumber dananya berasal dari c. Untuk pengadaan barang/jasa dengan nilai sampai dengan
pendapatan fungsional, yaitu: Rp 500.000.00,00 (lima ratus juta rupiah) dilakukan dengan cara
a. Jasa layanan; penunjukan langsung;
b. Hibah tidak terikat; d. Untuk pengadaan barang /jasa dengan nilai Rp 1.000.000.000,00
c. Hasil kerja sama dengan pihak lain; dan (satu milyar rupiah) dilakukan dengan cara dengan pemilihan
d. Lain –lain pendapatan RSUD yang sah. langsung;
e. Untuk pengadaan barang/jasa dengan nilai diatas (1) Barang inventaris milik RSUD dapat dialihkan pada pihak lain dan atau
Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) dilakukan dengan cara dihapuskan berdasarkan pertimbangan ekonomis.
pelelangan/tender. (2) Pengalihan kepada pihak lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
(3) Jenjang nilai yang dimaksud pada ayat (2) berlaku untuk pengadaan dilakukan dengan cara dijual, dipertukarkan atau dihibahkan.
barang dan jasa yang terkait langsung dengan pelayanan RSUD. (3) Barang inventaris sebagaimana dimaksud pada ayat (1), merupakan
barang pakai habis, barang untuk diolah atau dijual, barang lainnya yang
Bagian Ketiga tidak memenuhi persyaratan sebagai aset tetap.
Pelaksanaan Pengadaan (4) Penerimaan hasil penjualan barang inventaris sebagai pengalihan
Pasal 115 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan pendapatan RSUD.
(1) Pengadaan barang dan/atau jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal (5) Pengalihan dan atau penghapusan barang inventaris sebagaimana
106 ayat (1), dilakukan oleh pelaksana pengadaan. dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (4) dilaporkan kepada Bupati
(2) Pelaksana pengadaan sebagaiman dimaksud pada ayat (1) dibentuk unit
melalui Sekretaris Daerah dan dituangkan dalam laporan keuangan
layanan pengadaan barang dan jasa (UPBJ) yang ditetapkan /dibentuk
RSUD.
oleh Direktur yang ditugaskan secara khusus untuk melaksanakan
pengadaan barang dan/atau jasa guna keperluan RSUD. Bagian Kedua
(3) Pelaksana pengadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), terdiri dari Pengelolaan Aktiva Tetap
personil yang memahami tata caara pengadaan, suntansi Pasal 117
pekerjaan/kegiatan yang bersangkutan an bidang lain yang diperlukan. (1) RSUD tidak dapat mengalihkan dan atau menghapuskan aset tetap,
(4) Penunjukan pelaksanaan pengadaan barang dan/atau jasa sebagaimana kecuali atas persetujuan pejabat yang berwenang.
dimaksud pada ayat (3), dilakukan dengan prinsip: (2) Aset tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan aset
a. Objektifitas, dalam hal penunjukan yang didasarkan pada aspek berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas )
integritas moral, kecakapan pengetahuan mengenai proses dan bulan untuk digunakan dalam kegiatan RSUD atau dimanfaatkan oleh
prosedur pengadaan barang dan/ atau jasa, tanggung jawab untuk masyarakat umum.
mencapai sasaran kelancaran dan ketepatan tercapainya pengadaan (3) Kewenangan pengalihandan /atau penghapusan aset tetap
barang dan/atau jasa; sebagaiamana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan berdasarkan nilai
b. Independensi, dalam hal menghindari dan mencegah terjadinya dan jenis barang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
pertentangan kepentingan dengan pihak terkait dalam melaksanakan undangan yang berlaku.
penunjukan pejabat lain baik langsung maupun tidak langsung; dan (4) Penerimaan hasil penjualan aset aset sebagaimana dimaksud pada ayat
c. Saling uji (cross check) dalam hal berusaha memperoleh informasi (3) merupakan pendapatan RSUD.
dari sumber yang berkompeten, dapat dipercaya, dan dapat (5) Pengalihan dan atau penghapusan aset tetap sebagaimana dimaksud
dipertanggungjawabkan untuk mendapat keyakinan yang memadai pada ayat (3) dan ayat (4) dilaporkan kepada Bupati melalui Sekretaris
dalam melaksanakan penunjukan pelaksana pengadaan lain. Daerah.
(6) Penggunaan aset tetap untuk kegiatan yang tidak terkait langsung
BAB XVI dengan tugas pokok dan fungsi RSUD harus mendapat persetujuan
PENGELOLAAN BARANG Gubernur melalui Sekretaris Daerah.
Bagian Kesatu
Pengelolaan Barang Inventaris Bagian Ketiga
Pasal 116 Pengelolaan Tanah dan Bangunan
Pasal 118 (1) Investasi jangka pendek sebagimana dimaksud dalam Pasal 111 ayat (2)
(1) Tanah dan bangunan RSUD disertifikasikan atas nama Pemerintah merupakan investasi yang dapat segera dicairkan dan dimaksudkan
Daerah. untuk dimiliki selama 12 (dua belas) bulan atau kurang.
(2) Tanah dan bangunan yang tidak digunakan RSUD untuk (2) Investasi jangka pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
penyelenggaraan tugas pokok, fungsinya dapat dialihkan oleh direktur dilakukan dengan pemanfaatan surplus kas jangka pendek.
setelah mendapat persetujuan Gubernur melalui Sekretaris Daerah. (3) Investasi jangka pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara
lain :
BAB XVII a. Deposito jangka waktu 1 (satu) sampai dengan 12 (dua belas) bulan
SURPLUS DAN DEFISIT ANGGARAN dan / atau yang dapat diperpanjang secara otomatis;
Pasal 119 b. Pembelian surat utang Negara jangka pendek;
(1) Surplus anggaran RSUD merupakan selisih lebih antara realisasi biaya c. Pembelian sertifikat Bank Indonesia.
RSUD pada 1 (satu) tahun anggaran. (4) Karakteristik investasi jangka pendek sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) Surplus anggaran RSUD dapat digunakan dalam tahun anggaran (1), adalah :
berikutnya kecuali atas permintaan Gubernur sesuai kewenangannya a. Dapat segera diperjual belikan/dicairkan;
disetorkan sebagian atau seluruhnya keKas daerah dengan b. Ditujukan dalam rangka manajemen kas, dan
mempertimbangkan posisi likuiditas RSUD. c. Beresiko rendah.

Bagian Kedua
Pasal 120 Investasi Jangka Panjang
(1) Defisit anggaran RSUD merupakan selisih kurang antara realisasi Pasal 123
pendapatan dengan realisasi biaya RSUD pada satu tahun anggaran. (1) RSUD tidak dapat melakukan investasi jangka panjang, kecuali atas
(2) Defisit anggaran RSUD dapat diajukan usulan pembiayaannya paa tahun persetujuan Bupati.
anggaran berikutnya kepada DPKD. (2) Investasi jangka panjang sebagimana dimaksud dalam Pasal 111 ayat
(2), antara lain:
BAB XVIII a. Penyertaan modal;
INVESTASI JANGKA PENDEK DAN INVESTASI b. Pemilikan obligasi untuk masa jangka panjang; dan
JANGKA PANJANG c. Investasi langsung seperti pendirian perusahaan.
Pasal 121
(1) RSUD dapat melakukan investasi sepanjang memberi manfaat bagi
peningkatan pendapatan dan pelayanan kepada masyarakat serta tidak
Bagian Ketiga
mengganggu likuiditas keuangan RSUD.
Hasil Investasi
(2) Investasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa investasi jangka
Pasal 124
pendek dan invenstasi jangka panjang.
(1) Hasil investasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 123 ayat (1)
Bagian kesatu merupakan pendapatan RSUD.
Investasi Jangka Pendek (2) Pendapatan RSUD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat
Pasal 122 dipergunakan secara langsung untuk membiayai pengeluaran sesuai RBA.

BAB XIX
KERJASAMA (2) Imbalan atas barang/jasa layanan yang diberikan sebagaimana yang
Pasal 125 dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam tarif yang disusun atas dasar
(1) Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan, RSUD dapat perhitungan biaya per unit layanan atau hasil per investasi dana.
melakukan kerja sama dengan pihak lain. (3) Tarif layanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diusulkan oleh
(2) Kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan berdasarkan Direktur RSUD kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Pati sesuai dengan
prinsip efisiensi, efektifitas, ekonomis dan saling menguntungkan. kewenangannya.
(3) Kerja sama dengan pihak lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), (4) Usulan tarif layanan dari Direktur RSUD sebagaimana dimaksud pada
antara lain: ayat (3), selanjutnya ditetapkan oleh Bupati Pati atau dengan Peraturan
a. Kerja sama operasi;
Daerah untuk tarif Kelas III dan II, sesuai peraturan perundang-
b. Sewa menyewa;
c. Usaha lainnya yang menunjang tugas dan fungsi BLUD. undangan yang berlaku.
(4) Kerja sama operasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a, (5) Tarif layanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) dengan
merupakan ikatan antara RSUD dengan pihak lainnya, melalui mempertimbangkan:
a. kontinuitas dan pengembangan layanan;
pengelolaan manajemen dan proses operasional secara bersama dengan
b. daya beli kemauan masyarakat (ATP, WTP);
pembagian keuntungan sesuai kesepakatan kedua belah pihak. c. asas keadilan dan kepatutan; dan
(5) Sewa menyewa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b, d. kompetisi yang sehat.
merupakan hak penggunaan/pemakaian barang/alat RSUD kepada pihak
lain atau sebaliknya dengan imbalan berupa uang sewa bulanan untuk BAB XXI
jangka waktu tertentu, baik sekaligus maupun secara berkala. PENYELESAIAN KERUGIAN
(6) Usaha lainnya yang menunjang tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud Pasal 128
pada ayat (3) huruf c, merupakan kerja sama dengan pihak lain yang Setiap kerugian daerah pada RSUD yang disebabkan oleh tindakan melanggar
hukum atau kelalaian seseorang diselesaikan sesuai dengan peraturan
menghasilkan pendapatan bagi RSUD dengan tidak mengurangi kualitas
perundang-undangan.
pelayanan umum yang menjadi kewajiban RSUD antara lain dari kerja
sama jasa pelayanan perawatan dan pendidikan.

BAB XXII
PENGENDALIAN KESEHATAN LINGKUNGAN
Pasal 126 Bagian Kesatu
(1) Hasil kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 ayat (3) Ruang Lingkup dan Program
merupakan pendapatan RSUD. Pasal 129
(2) Pendapatan RSUD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat (1) Ruang lingkup penyehatan lingkungan RSUD meliputi:
dipergunakan secara langsung untuk membiayai pengeluaran sesuai a. Penyehatan bangunan dan ruangan, termasuk pencahayaan,
RBA . penghawaan serta kebisingan;
b. Penyehatan makanan dan minuman;
BAB XX c. Penyehatan air termasuk kualitasnya;
TARIF LAYANAN d. Penanganan sampah dan limbah;
Pasal 127 e. Penyehatan tempat pencucian umum termasuk tempat pencucian
(1) RSUD dapat memungut biaya kepada masyarakat sebagai imbalan atas linen;
barang/jasa layanan kesehatan yang diberikan.
f. Pengendalian serangga dan tikus; (9) Pelaksanaan pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), ayat (5),
g. Sterilisasi/desinfeksi; ayat (6), ayat (7) dan ayat (8) dapat juga dilakukan secara insidentil
h. Perlindungan radiasi;dan apabila terjadi kondisis darurat di RSUD.
i. Penyuluhan kesehatan lingkungan.
(2) RSUD dalam melaksanakan penyehatan lingkungan yang bertujuan Pasal 130
meningkatkan kualitas lingkungan di RSUD, maka RSUD menyusun (1) RSUD menetapkan unit yang sifatnya terintegrasi yang dapat menangani
program yang sekurang-kurangnya berkaitan dengan: kegiatan penyehatan lingkungan termasuk B3, K3, dan infeksi
a. Pemantauan kualitas air bersih; nosokomial.
b. Pemantauan kualitas udara; (2) Untuk mengefektifkan unit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) RSUD
c. Pemantauan kualitas makanan dan minuman;
melakukan:
d. Pemantauan vektor ( binatang atau serangga penular penyakit);dan
a. Identifikasi peralatan pemantauan lingkungan yang dibutuhkan;
e. Pemantauan terhadap manusia.
b. Evaluasi kapasitas tenaga kesehatan lingkungan yang ada;
(3) Program-program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan
c. Evaluasi permasalahan pelayanan yang tersedia, baik menyangkut
dengan melibatkan instansi terkait.
sarana, prasarana maupun peralatan monitoring yang mempunyai
(4) Pemantauan kualitas air bersih sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
kaitan dengan kesehatan lingkungan.
huruf a, dilakukan dengan cara mengambil sampel secara periodik, yaitu:
a. Tiap minggu untuk unit-unit cukup rawan seperti kamar operasi, Unit Bagian Kedua
IGD, ICCU, dan dapur; Pengelolaan Limbah
b. Tiap bulan untuk pemeriksaan secara bakteriologi;dan Pasal 131
c. Tiap 6 (enam) bulan untuk pemeriksaan secara kimiawai. (1) Jenis limbah yang menjadi perhatian RSUD dikelompokkan atas:
(5) Pemantauan kualitas udara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. Limbah yang tidak membahayakan;dan
b, dilakukan secara periodik tiap 6 bulan yang meliputi pemantauan b. Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
pencahayaan, pemantauan kualitas udara ambient, pemantauan emisi (2) Limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, adalah:
gas buang, pemantauan angka kuman dan pemantauan kebisingan. a. Limbah bukan klinik yaitu limbah yang meliputi kertas-kertas
(6) Pemantauan kualitas makanan dan minuman yang dimaksud pada ayat pembungkus atau kantong atau plastik yang tidak berkontak dengan
(2) huruf c, dilakukan dengan mengambil sampel dan specimen secara cairan badan dan limbah ini tidak menimbulkan resiko sakit;dan
periodik tiap 6 (enam ) bulan yang meliputi pemeriksaan aspek sanitasi b. Limbah dapur yaitu limbahyang bersumber dari sisa-sisa makanan dan
makanan/minuman, pemeriksaan alat masak/alat makan, dan air kotor.
pemeriksaan specimen usap bubur. (3) Limbah yang dimaksud pada ayat (1) huruf b,adalah:
(7) Pemantauan vektor sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d, a. Limbah klinik yaitu limbah yang dihasilkan selama pelayanan pasien
dilakukan seecara periodik tiap 3 (tiga) bulan yang meliputi pemantauan secara rutin, pembedahan dan unit-unit resiko tinggi, seperti perban
indeks larva, pemantauan kepadatan lalat dan pemantauan kepadatan atau pembungkus yang kotor, cairan badan, anggota badan yang
tikus. diamputasi, jarum-jarum dan semprit bekas, kantung urin dan produk
(8) Pemantauan terhadap manusia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) darah;
huruf e, dilakukan secara periodik tiap 3 (tiga ) bulan yang meliputi b. Limbah Patologi yaitu Limbah beresiko tinggi yang sebaiknya diotoklaf
pemantauan terhadap petugas yang berpotensi tertular atau menularkan sebelum keluar dari unit patologi;dan
c. Limbah Radioaktif yaitu limbah yang dihasilkan dari proses
penyakit dari atau ke orang lain.
pengobatan nuklir.
(4) Limbah yang termasuk limbah bahan berbahaya dan beracun (B) adalah c. Limbah cair sebagai dampak yang ditimbulkan sebagaimana yang
limbah yang memenuhi salah satu atau lebih karakteristik : dimaksud pada ayat (6) huruf b, harus dialirkan dan diolah di IPAL
a. Medah meledak; RSUD;
b. Mudah terbakar; d. Limbah pathologis yaitu limbah yang berasal dari bagian tubuh
c. Bersifat reaktif; manusia, agar dipendam/ditanam pada lokasi khusus atau dibakar di
d. Beracun;
incenerator;
e. Menyebabkan infeksi;
e. Limbah berasal dari benda tajam yang terkontaminasi, ditangani
f. Bersifat korosif, dan
g. Limbah lain yang apabila diuji dengan metode toksikologi dapat dengan menempatkannya pada wadah yang kokoh dan aman bagi
diketahui termasuk dalam jenis limbah B3. petugas yang akan menanganinya;
f. Penanganan untuk limbah yang dimaksud pada ayat (60) huruf f,
Pasal 132 paling efektif dengan menggunakan steam sterilization dan
(1) Pengelolaan limbah RSUD terdiri dari : inceneration;
a. Penanganan sampah domestik; g. Limbah bangkai hewan dan bagian tubuh hewan yang terkontaminasi,
b. Penanganan limbah infeksius; ditangani dengan membuangnya ke incenerator.
c. Pengelolaan limbah cair. (7) Pengelolaan limbah cair yang dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdiri dari
(2) Pada dasarnya limbah sampah domestik dapat dikategorikan sebagai tahap:
sampah yang tidak membahayakan, namun disebabkan volume dan a. Pengumpulan limbah cair;
intensitasnya maka penanganannya harus tertib. b. Pengolahan limbah cair;dan
(3) Penanganan sampah domestik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) c. Pemantauan kualitas limbah cair.
huruf a, membutuhkan tempat penampungan sampah yang disertai (8) Pengumpulan limbah cair sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a,
dengan perlengkapannya. bertujuan untuk mengatur air limbah dari berbagai sumber hingga
(4) Tempat penampungan sampah yang dimaksud pada ayat (3) harus terkumpul dalam suatu sistem.
terbuat dari bahan yang kuat, kedap, tertutup, mudah diangkat, mudah (9) Pengolahan limbah cair dibutuhkan agar limbah cair yang sudah di olah
dibersihkan dan lain-lain sesuai dengan persyaratan kesehatan yang memenuhi baku mutu sebelum di buang ke media yang lain.
telah ditetapkan. (10) Pemantauan kualitas limbah cair diperlukan untuk mengetahui apakah
(5) Pembuangan sampah kelokasi pembuangan akhir dapat dilaksanakan limbah yang sudah di olah oleh IPAL sudah memenuhi baku mutu, atau
bersama-sama dengan pembuangan sampah kota pada umumnya. belum, serta untuk mengetahui kinerja IPAL.
(6) Metoda penanganan limbah infeksius sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf b, secara spesifik terdiri dari ; BAB XXIII
a. Limbah dari ruang isolasi memiliki potensi yang besar sebagai sumber AKUNTANSI, PELAPORAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN
Pasal 133
dan media penyebaran penyakit, oleh sebab itu untuk melokalisir
RSUD menerapkan sistem informasi manajemen keuangan sesuai dengan
pathogent dari limbah pasien tersebut, maka sebelum dibuang supaya kebutuhan dan praktek bisnis yang sehat.
terlebih dahulu didesinfeksi atau disterilisasi;
b. Limbah biologis spesifik juga disarankan supaya disterilisasi, yaitu Bagian Kesatu
menggunakan autoclave untuk volume limbah yang sedkit dan Akuntansi
menggunakan desinfeksi untuk volume limbah yang banyak; Pasal 134
(1) Setiap transaksi keuangan RSUD harus diakuntansikan dan dokumen (8) Laporan pertanggung-jawaban keuangan RSUD diaudit oleh Pemerintah
pendukungnya dikelola secara tertib. Eksternal sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(2) Akuntansi dan laporan keuangan RSUD/BLUD disesuaikan dengan
Standar Akuntansi Keuangan yang diterbitkan oleh Asosiasi Profesi BAB XXIV
Akuntansi Indonesia untuk manajemen bisnis yang sehat. KETENTUAN PERALIHAN
(3) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menggunakan Pasal 136
Pada saat mulai berlakunya Peraturan Bupati ini, peraturan yang berkaitan
basis akrual baik dalam pengakuan, pendapatan, biaya, aset, kewajiban
dengan pelaksanaan kegiatan pelayanan RSUD yang telah ada tetap berlaku
dan ekuitas dana. sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Kayenini.
(4) RSUD mengembangkan dan menerapkan sistem akuntasi dengan
mengacu kepada standar akuntansi yang berlaku sesuai dengan jenis BAB XXV
layanannya. KETENTUAN PENUTUP
Pasal 137
Bagian Kedua Ketentuan yang belum diatur dalam Peraturan Bupati ini sepanjang mengenai
Pelaporan dan Pertanggungjawaban teknis pelaksanaannya akan diatur dan ditetapkan dengan Keputusan
Pasal 135 Direktur, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(1) Laporan keuangan RSUD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 ayat
(2) sekurang-kurangnya meliputi laporan realisasi anggaran / laporan
operasional, neraca, laporan arus kas dan catatan atas laporan
keuangan, disertai dengan laporan kinerja.
(2) Laporan keuangan unit-unit usaha/layanan yang diselenggarakan RSUD Pasal 138
Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
dikonsilidasikan dalam laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada
Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan
ayat (1) Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Pati.
(3) Lembar muka laporan keuangan unit-unit usaha/ layanan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dimuat sebagai lampiran laporan keuangan
RSUD. Ditetapkan di Pati
(4) Laporan keuangan RSUD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pada tanggal .................... 2017
disampaikan secara berkala kepada Bupati sesuai dengan BUPATI PATI
kewenangannya, untuk dikonsolidasikan dengan laporan keuangan
Pemerintah Daerah Kabupaten Pati.
(5) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud ayat (1) disampaikan kepada
Gubernur, sesuai dengan kewenangannya, paling lambat 1 (satu) bulan ...............................
setelah periode laporan berakhir.
(6) Laporan keuangan RSUD merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Diundangkan di PaTI
laporan pertanggung-jawaban keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Pada tanggal ...................... 2017
Pati. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN PATI
(7) Penggabungan laporan keuangan RSUD adalah laporan keuangan RSUD /
Pemerintah Daerah disesuaikan dengan Standar Akuntasi Pemerintah.
.........................

BERITA DAERAH KABUPATEN PATI TAHUN 2017 NOMOR : ...............