Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MENGGAMBAR TEKNIK

BIOPLASTIK

Disusun Oleh :
Boy Oktavianus (Ketua) 1707113888
Sheren Nadya (Wakil)
Alfiyah Najmi 1707114037
Fajar Fadillah 1707122463
Ihsan Naufal Firdaus 1707114078
Putri Pajarwangi 1707121573
Syabrinur Fadillah 1707122680

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Riau
2017
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb

Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami


menyelesaikan makalah ini dengan judul “Bioplastik” dengan penuh kemudahan. Tanpa
bantuannya, mungkin penyusun tidak akan bisa menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad
SAW.

Makalah ini berisi tentang proses pembuatan bioplastik, mulai dari alat, bahan hingga
proses pembuatannya beserta penjelasannya.

Kami juga menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik
dan saran sangat diperlukan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah meridhai usaha
kita.

Wassalamu’alaikum wr.wb

Pekanbaru, November 2017

Penyusun
PENDAHULUAN

Plastik konvensional yang terbuat dari minyak bumi berbaris sintesis polimer yang
tidak dapat terdegradasi oleh lingkungan, seperti ditempat pembuangan sampah, telah
menyebabkan masalah serius bagi lingkungan. Pada saat ini, sebanyak 200 juta ton plastik
diproduksi di seluruh dunia per tahunnya. Plastik menjadi sumber utama pembentukan
limbah karena memiliki kemampuan degradasi yang rendah. Pada umumnya plastik terbuat
dari poliethylene dan polyprophilene yang sulit terurai oleh mikroorganisme di lingkungan.
Kekhawatiran terhadap terhadap sumber daya yang tidak dapat diperbaharui yang
terbatas pada lingkungan, penggunaan sumber daya yang tidak dapat terbaharui untuk
memproduksi material kemasan biodegradable yang dapat menjaga kualitas produk dan
mengurangi masalah limbah buangan saat ini sedang dijajaki.
Didorong oleh meningkatnya kesadaran pemerintah dan masyarakat, penggunaan
polimer yang berasal dari sumber daya terbarukan dan berkelanjutan untuk mengembangkan
bioplastik merupakan alternative yang inovatif dan menjanjikan. Penggunaan material
biodegradable dari sumber daya alam sangat membantu mengurangi presentase jumlah
plastik yang ada. Oleh karena itu, sudah dilakukan beberapa upaya untuk mempercepat laju
penguraian dari plastik polimer dengan cara mengganti beberapa atau seluruh polimer sintetis
dengan polimer alami dengan banyak aplikasi sebagai upaya untuk meminimalisasi masalah
lingkungan.
ABSTRAK

Bioplastik atau yang sering disebut plastik biodegradable, merupakan salah satu jenis
plastik yang hampir keseluruhannya terbuat dari bahan yang dapat diperbarui, seperti pati,
minyak nabati, dan mikrobiota. Ketersediaan bahan dasarnya di alam sangat melimpah
dengan keragaman struktur tidak beracun. Bahan yang dapat diperbarui ini memiliki
biodegradabilitas yang tinggi sehingga sangat berpotensi untuk dijadikan bahan pembuat
bioplastik (Stevens, 2002).
Permintaan bioplastik yang meningkat menyebabkan bioplastik berkembang cepat
dalam produk termoplastik global, baik yang bersifat biodegradable atau non-biodegradable.
Permintaan bioplastik global diperkirakan akan mencapai lebih dari satu milyar pon pada
2012. Saat ini, segmen bioplastik biodegradable adalah segmen terbesar dari kategori
bioplastik, tetapi diperkirakan akan digeser oleh kelompok produk bioplastik non-
biodegradable, yang paling tidak 100% berasal dari biomassa. Penggunaan utama bioplastik
ditujukan untuk kemasan, pelayanan makanan sekali pakai, dan serat aplikasi (Phil S. dan
Stephen W. 2008).
FORMULASI BIOPLASTIK

i. Metode pembuatan bioplastik (modifikasi Akmaliah, 2003)


Proses pembuatan bioplastik dilakukan dengan teknik solution casting. Proses dimulai
dengan pencampuran (blending) antara PHA–pelarut kloroform–pemlastis dimetil ftalat.
Pencampuran dilakukan dengan cara pengadukan biasa sampai terbentuk larutan PHA-
pelarut-pemlastis yang homogen. Kemudian larutan yang sudah homogen dituang pada
cetakan (plat kaca). Diagram alir proses pembuatan bioplastik dapat dilihat pada Lampiran 3.

ii. Penentuan ukuran bioplastik


Jenis plastik yang akan dibuat pada penelitian ini adalah film bioplastik. Ukuran
bioplastik ditentukan berdasarkan kebutuhan sampel untuk pengujian kuat tarik, yaitu
berdasarkan ASTM D 882-97. ASTM D 882-97 merupakan standar metode pengujian kuat
tarik lembaran plastik sangat tipis (ketebalan kurang dari 1 mm). Berdasarkan ASTM D 882-
97, ukuran sampel uji mempunyai lebar minimal 0,5 cm dengan panjang bervariasi
tergantung persen perpanjangan putus (İ). Apabila İ kurang dari 20% maka panjang sampel
adalah 17,5 cm; İ antara 20-100% panjang sampel 15 cm; İ lebih dari 100%, panjang sampel
10 cm. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka bioplastik dibuat pada cetakan dengan
ukuran 4,5 x 19 cm.

iii. Penentuan jumlah kloroform


Menurut Lee (1996), untuk melarutkan satu bagian PHA diperlukan 20 bagian
pelarut. Jumlah pelarut yang optimal akan ditentukan dengan cara melarutkan PHA pada
kloroform dengan perbandingan PHA-kloroform 1:5, 1:10, 1:15 dan 1:20. 25

iv. Penentuan jumlah PHA


Jumlah PHA yang digunakan disesuaikan dengan ketebalan bioplastik yang akan
dihasilkan. Jumlah PHA yang optimal akan ditentukan dengan cara melarutkan PHA pada
kloroform kemudian di tuang pada cetakan dan diukur ketebalannya. Perbandingan PHA-
kloroform yang digunakan adalah perbandingan optimal yang dihasilkan pada tahap
penentuan jumlah kloroform. Jumlah PHA yang optimal adalah jumlah PHA yang mampu
menghasilkan larutan PHA yang mampu menutup permukaan cetakan dengan sempurna jika
larutan tersebut dituang pada cetakan dan ketebalan bioplastik yang dihasilkan kurang dari
0,25 mm.

v. Penentuan jumlah pemlastis dimetil ftalat (DMF)


Konsentrasi pemlastis dihitung berdasarkan jumlah PHA yang digunakan. Pada
penelitian ini akan diujikan konsentrasi pemlastis dimetil ftalat (DMF) mulai dari 0%
(kontrol), 12,5%, 25%, 37,5%, dan 50% (b/b) dari jumlah PHA. Sebagai pembanding
dibuatlah bioplastik dari PHB murni yang dibeli dari Sigma-Aldrich. Bioplastik pembanding
dibuat tanpa pemlastis (0% DMF) dan dengan pemlastis pada konsentrasi terbaik hasil
karakterisasi sifat mekanik bioplastik yang dibuat dengan PHA pati sagu.

Bahan Baku

1. Asam laktat
asam laktat merupakan padatan dengan rumus molekul CH3CHOHCOOH. Asam
laktat terbentuk dari peran bakteri asam laktat yang mampu mengubah karbohidrat (glukosa)
menjadi asam laktat. Asam laktat dapat terbentuk melalui proses fermentasi yang
berlangsung dengan adanya aktivitas bakteri asam laktat yaitu Lactobacillus, yang
berlangsung secara spontan, dan terjadi secara alamiah dengan memperhatikan kondisi
lingkungannya yaitu anaerobik.

2. Pati Sagu
Pati sagu merupakan hasil ekstraksi empulur pohon sagu (Metroxylon sp) yang sudah
tua (berumur 8-16) tahun. Komponen terbesar yang terkandung dalam sagu adalah pati. Pati
sagu tersusun atas dua fraksi penting yaitu amilosa yang merupakan fraksi linier dan
amilopektin yang merupakan fraksi cabang. Pati digunakan secara luas dalam industri
pangan. Penggunaan pati alami (native) menyebabkan beberapa permasalahan yang
berhubungan dengan retrogradasi, sineresis, kestabilan rendah, dan ketahanan pasta yang
rendah terhadap pH dan perubahan suhu. Hal tersebut menjadi alasan dilakukan modifikasi
pati secara fisik, kimia, dan enzimatik atau kombinasi dari cara-cara tersebut.
3. Gliserol
Gliserol (bahasa Inggris: glycerol, glycerin, glycerine) adalah senyawa gliserida yang
paling sederhana, dengan hidroksil yang bersifat hidrofilik dan higroskopik. Gliserol
merupakan komponen yang menyusun berbagai macam lipid, termasuk trigliserida. Gliserol
terasa manis saat dikecap, dan di anggap tidak beracun.Gliserol dapat diperoleh dari
proses saponifikasi dari lemak hewan, transesterifikasi pembuatan bahan bakar biodiesel dan
proses epiklorohidrin[1] serta proses pengolahan minyak goreng.

4. Gelatin

Gelatin adalah zat kimia padat, tembus cahaya, tak berwarna, rapuh (jika kering), dan
tak berasa, yang didapatkan dari kolagen yang berasal dari berbagai produk sampingan
hewan. Gelatin umumnya digunakan sebagai zat pembuat gel
pada makanan, farmasi, fotografi, dan pabrik kosmetik. Gelatin merupakan campuran
antara peptida dengan protein yang diperoleh dari hidrolisis kolagen yang secara alami
terdapat pada tulang atau kulit binatang. Gelatin komersial biasanya diperoleh dari ikan, sapi,
dan babi. Dalam industri pangan, gelatin luas dipakai sebagai salah satu bahan baku
dari permen lunak, jeli, dan es krim.
PROSEDUR PEMBUATAN

1. Dipolimerisasi asam laktat dengan cara dipanaskan pada suhu 100°C didalam reaktor
selama 40 menit (menjadi poli asam laktat).
2. Dicampurkan antara pati sagu dan poli asam laktat dengan perbandingan 1:4 dalam
mixer.
3. Ditambahkan gliserol sebanyak 5% kedalam mixer yang berisi campuran pati dan PLA.
4. Ditambahkan gelatin kedalam mixer yang berisi campuran pati dan PLA dengan
konsentrasi 0%, 1.5%, dan 2%.
5. Bahan yang telah tercampur dihomogenisasi dalam reaktor pada suhu 200°C melalui
proses pengadukan dengan menggunakan alat pengaduk, selama 5 menit hingga seluruh
bahan terhomogenisasi sempurna.
6. Dilakukan pencetakan dalam bentuk lembaran pada kaca bening atau pun dengan bentuk
lain.
7. Diletakkan pada suhu ruang ±27oC selama 24 jam kemudian dimasukkan kedalam oven
dengan suhu 45°C selama 5 jam.
8. Produk bioplastik ramah lingkungan siap dipasarkan.
PEMBAHASAN

Bioplastik merupakan jenis plastik atau polimer yang dibuat dari bahan-bahan biotik
seperti jagung, singkong ataupun mikrobiota. Berbeda dengan plastik konvensional yang
sering kita gunakan, yang umumnya dibuat dari minyak bumi dan gas alam.

Ada dua isu penting yang menurut saya membuat Bioplastik ini “naik daun” ; isu
kelestarian lingkungan dan isu kenaikan harga bahan bakar minyak bumi. Bioplastik
merupakan jenis plastik yang secara teknis mudah untuk terurai di alam. Bioplastik yang
tersusun atas komponen-komponen alam akan lebih mudah didegradasi oleh bakteri-bakteri
pengurai karena senyawa penyusunnya sudah “dikenal” oleh bakteri-bakteri pengurai.
Berbeda dengan plastik konvensional saat dibuang ke lingkungan plastik jenis ini tidak dapat
terurai. Dalam jangka panjang di khawatirkan memberikan efek kerusakan tanah dan air yang
kronis. Bahan baku Bioplastik adalah bahan-bahan bio massa seperti biji-biji tanaman, bahan
Bioplastik bukan berbasis minyak bumi dan gas alam. Kelebihan ini memberikan insentif
Bioplastik terutama saat harga minyak bumi sedang melambung tinggi.

Namun, bioplastik juga memiliki beberapa kekurangan. Saat ini teknologi proses
Bioplastik masih lebih mahal dibandingkan biaya produksi plastik konvensional. Isu
kekuatan Bioplastik juga merupakan kelemahan plastik jenis ini, Bioplastik dinilai kurang
memiliki kekuatan dan daya tahan mekanik dibandingkan plastik konvensional. Untuk
meningkatkan kinerja Bioplastik ditambahkan bahan-bahan aditif atau dicampur dengan
plastik konevnsional.

Bioplastik terdiri atas beberapa jenis, yang paling luas penggunaan dan produksinya,
yaitu bioplastik berbasis pati dan bioplastik berbasis Asam Polilactat (PLA). Bioplastik
berbasis pati menguasai sekitar 50% pasar Bioplastik, umumnya digunakan untuk bahan
kemasan termoplast, diproduksi dari bahan-bahan alam yang mengandung karbohidrat. PLA
adalah bioplastik bening yang biasanya diprodusi dari bahan jagung atau sumber gula alam,
umumnya digunakan sebagai bahan kemasan. PLA dihasilkan dari proses fermentasi
senyawa-senyawa gula yang diperoleh dari bahan alam.. Hasil fermentasi menghasilkan asam
laktat yang dipolimerisasi untuk menghasilkan plastik PLA, siap untuk dibentuk sesuai
produk yang diinginkan.
Salah satu bagian proses pembuatan Bioplastik adalah modifikasi genetik yang
melibatkan mikroorganisme. Proses modifikasi genetik ini dianggap merupakan kunci masa
depan agar proses pembuatan Bioplastik lebih murah dan lebih sdeikit mengkonsumsi bahan
bakar minyak.

Pembuatan bioplastik berbasis pati pada dasarnya menggunakan prinsip gelatinisasi.


Dengan adanya penambahan sejumlah air pada pati dan dipanaskan pada suhu yang tinggi,
maka granula patinya akan menyerap air dan membengkak, inilah yang disebut proses
gelatinisasi. Namun demikian jumlah air yang terserap dan pembengkakannya terbatas. Pati
dapat menyerap air secara maksimal jika suspensi air dipanaskan pada temperatur 55°C
sampai 65°C. Suhu gelatinisasi pati mempengaruhi perubahan viskositas larutan pati, dengan
meningkatnya suhu pemanasan mengakibatkan penurunan kekentalan suspensi pati. Suhu
pada saat granula pati pecah disebut suhu gelatinisasi. Gelatinisasi mengakibatkan ikatan
amilosa akan cenderung saling berdekatan karena adanya ikatan hidrogen. Setelah terjadi
proses gelatinisasi, kemudian larutan gelatin dicetak atau dituangkan pada tempat pencetakan
dan dikeringkan selama 24 jam. Proses pengeringan akan mengakibatkan penyusutan sebagai
akibat dari lepasnya air, sehingga gel akan membentuk bioplastik yang stabil.

Poli(asam laktat) atau Poli laktida (PLA) dengan rumus kimia (CH3CHOHCOOH)n
adalah sejenis polimer atau plastik yang bersifat biodegradable, thermoplastic dan
merupakan poliester alifatik yang terbuat dari bahan-bahan terbarukan seperti pati jagung
atau tanaman tebu.

Polimerisasi asam laktat dapat diproduksi melalui tiga metode, yaitu: Polikondensasi
langsung, Kondensasi dehidrasi, dan Polimerisasi pembukaan cincin . Proses polimerisasi
dengan metode pembukaan cincin dilakukan melalui tiga tahapan yaitu polikondensasi asam
laktat, depolimerisasi,polimerisasi pembukaan cincin membentuk PLA( Avérous, L., 2008).
Jenis suatu reaksi reaksi yang monomernya mengalami perubahan reaksi tergantung pada
strukturnya. Polimerisasi kondensasi terjadi dari reaksi antara gugus fungsi pada monomer
yang sama atau monomer yang berbeda, yang kadang disertai dengan terbentuknya molekul
kecil seperti H2O, NH3, atau HCl. Reaksi polikondensasi yang merupakan proses polimerisasi
asam laktat secara langsung menghasilkan poli asam laktat dengan bobot molekul yang
rendah(Ibrahim et al 2006).
Plasticizer berfungsi untuk meningkatkan elastisitas dengan mengurangi derajat ikatan
hydrogen dan meningkatkan jarak antar molekul dari polimer. Semakin banyak penggunaan
plasticizer maka akan meningkatkan kelarutan. Begitu pula dengan penggunaan plasticizer
yang bersifat hidrofilik juga akan meningkatkan kelarutannya dalam air. Gliserol
memberikan kelarutan yang lebih tinggi pada bioplastik berbasis pati. Gliserol juga
merupakan plasticizer yang efektif karena memiliki kemampuan untuk mengurangi ikatan
hidrogen internal pada ikatan intermolekular.