Anda di halaman 1dari 44

MAKALAH TREND DAN ISSUE

KEPERAWATAN PALIATIF

Disusun oleh : Kelompok 3

Rosalia Kusuma Sari 04021381621031


Tia Anggraini 04021381621035
Sri Wulandari 04021381621036
Anggun Oktaviani Putri 04021381621039
Okta Maulisa 04021381621041

Dosen pengampun : Dian Wahyuni, S.Kep., Ns., M.Kep

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta
hidayah-Nya sehingga makalah Trend Dan Issue Keperawatan paliatif ini dapat
terselesaikan dengan baik. Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan serta
memaparkan makalah trend dan issue keperawatan paliatif pada mata kuliah
keperawatan menjelang ajal dan paliatif 2.

Dengan selesainya makalah trend dan issue keperawatan paliatif ini, kami
berharap dapat berbagi pengetahuan tentang bagaimana trend dan issue
keperawatan paliatif. Terselesaikannya makalah ini tidak terlepas dari bantuan
beberapa pihak, terutama Bapak dan Ibu selaku dosen pengampu pada mata kuliah
keperawatan menjelang ajal dan paliatif 2. terutama ibu Dian Wahyuni, S.Kep.,
Ns., M.Kep, kedua orang tua serta kerja sama dari kelompok 3 dan teman- teman
skalian.

Kami sadar bahwa makalah ini sangat jauh dari kata sempurna, maka
kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi para pembaca.

Indralaya, 10 April 2018

Kelompok 3

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...................................................................................................... i

Daftar Isi………………………………………………………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................... 2

1.3 Tujuan ............................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Konsep Paliatif Dan Perkembangannya Di Indonesia .................................... 3

2.2 Tren Perkembangan Paliatif Care Di Bidang Pendidikan Dan Pelayanan ...... 5

2.3. Jeni Penyakit Yang Masuk Dalam Perawata Paliatif ..................................... 6

2.4 Masalah Keperawatan Pada Pasien Paliatif .................................................... 7

2.5 Perkembangan Hospice Care ......................................................................... 9

2.6 Trend dan isu keperawatan paliatif dalam bidang Komunitas,

KMB, Naternitas, Pediatric, Dan Gegontik......................................................... 9

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 40

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 41

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perawatan paliatif adalah perawatan yang dilakukan secara aktif pada
penderita yang sedang sekarat atau dalam fase terminal akibat penyakit yang
dideritanya. Pasien sudah tidak memiliki respon terhadap terapi kuratif yang
disebabkan oleh keganasan ginekologis. Perawatan ini mencakup penderita serta
melibatkan keluarganya (Aziz, Witjaksono, & Rasjidi, 2008).
Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan meningkatkan kualitas
hidup pasien (dewasa dan anak-anak) dan keluarga dalam menghadapi penyakit
yangmengancam jiwa, dengan cara meringankan penderitaan rasa sakit melalui
identifikasi dini, pengkajian yang sempurna, dan penatalaksanaan nyeri serta masalah
lainnya baik fisik, psikologis, sosial atau spiritual. (World Health Organization
(WHO) 2016).
Perawatan paliatif adalah perawatan yang dilakukan pada pasien dengan
penyakit yang dapat membatasi hidup mereka atau penyakit terminal dimana penyakit
ini sudah tidak lagi merespon terhadap pengobatan yang dapat memperpanjang
hidup(Robert, 2003).Perawatan paliatif merupakan perawatan yang berfokus pada
pasien dan keluarga dalam mengoptimalkan kualitas hidup dengan mengantisipasi,
mencegah, dan menghilangkan penderitaan.Perawatan paliatif mencangkup seluruh
rangkaian penyakit termasuk fisik, intelektual, emosional, sosial, dan kebutuhan
spiritual serta untuk memfasilitasi otonomi pasien, mengakses informasi, dan pilihan
(National Consensus Project for Quality Palliative Care, 2013).Pada perawatan
paliatif ini, kematian tidak dianggap sebagai sesuatu yang harus di hindari tetapi
kematian merupakan suatu hal yang harus dihadapi sebagai bagian dari siklus
kehidupan normal setiap yang bernyawa (Nurwijaya dkk, 2010).
Permasalahan yang sering muncul ataupun terjadi pada pasien dengan
perawatan paliatif meliputi masalah psikologi, masalah hubungan sosial, konsep diri,
masalah dukungan keluarga serta masalah pada aspek spiritual (Campbell, 2013).
Perawatan paliatif ini bertujuan untuk membantu pasien yang sudah mendekati
ajalnya, agar pasien aktif dan dapat bertahan hidupselama mungkin. Perawatan
paliatif ini meliputi mengurangi rasa sakit dan gejala lainnya, membuat pasien
menganggap kematias sebagai prosesyang normal, mengintegrasikan aspek-aspek
4
spikokologis dan spritual (Hartati & Suheimi, 2010). Selain itu perawatan paliatif juga
bertujuan agar pasien terminal tetap dalam keadaan nyaman dan dapat meninggal
dunia dengan baik dan tenang (Bertens, 2009).
Prinsip perawatan paliatifyaitu menghormati dan menghargai martabat serta
harga diri pasien dan keluarganya (Ferrel & Coyle, 2007).

1.2 Rumusan Masalah


A. Bagaimana konsep paliatif dan perkembangannya di Indonesia ?
B. Bangaimana tren perkembangan paliatif care dibidang pendidikan dan pelayanan ?
C. Jenis penyakit apa yang masuk dalam perawatan paliatif ?
D. Apa saja masalah keperawatan pada pasien paliatif ?
E. Bagaimana perkembangan hospice care ?
F. Trend dan isu keperawatan paliatif dibidang Komunitas, KMB, Maternitas, Pediatric,
dan Gerontik ?

1.2 Tujuan
A. Untuk mengetahui konsep paliatif dan perkembangannya di Indonesia
B. Untuk mengetahui Tren perkembangan paliatif care dibidang pendidikan dan
pelayanan kesehatan
C. Untuk mengetahui Jenis penyakit yang masuk dalam perawatan paliatif
D. Untuk mengetahui masalah keperawatan pada pasien paliatif
E. Untuk mengetahui perkembangan hospice care
F. Untuk mengetahui Trend dan isu keperawatan paliatif dibidang Komunitas, KMB,
Maternitas, Pediatric, dan Gerontik

5
BAB II
PEMBAHASAN

2. 1 Konsep Paliatif dan perkembangannya di indonesia


Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan memperbaiki kualitas hidup pasien
dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit yang dapat
mengancam jiwa, melalui pencegahan dan peniadaan melalui identifikasi dini dan penilaian yang
tertib serta penanganan nyeri dan masalah-masalah lain, fisik, psikososial dan spiritual (sumber
referensi WHO, 2002).
Pada kasus saat tim dokter menyatakan sulit sembuh atau tidak ada harapan lagi,
bahkan mungkin hampir meninggal dunia atau yang dikenal pasien stadium terminal
(PST) tentunya membutuhkan pelayanan yang spesial. Maka, disinilah perawatan paliatif
menjadi aspek penting pada pengobatan.
Setelah terjadi kemajuan-kemajuan dalam teknologi kedokteran, paliatif care
terpinggirkan dan diabaikan. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa kemajuan
teknologi kedokteran itu mampu memperpanjang hidup dan kehidupan manusia,
meskipun tanpa mempertimbangkan kualitas hidup penderita akibat penerapan teknologi
tersebut.
Tersisihnya Perawatan Paliatif dengan filosofi dan tujuannya, tampak juga dari
berbagai kebijakan dalam bidang kesehatan yang dibuat oleh berbagai pihak, hampir
selalu terlihat: “... preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif. Hampir tidak pernah
tercamtum “paliatif”. Meskipun pada kenyataannya sering Perawatan Paliatif dibutuhkan
dalam implementasi kebijakan tersebut.
Apalagi kebijakan untuk paliatif care telah dicanangkan oleh Pemerintah Republik
Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nomor
604/MENKES/SK/IX/1989, dan telah lebih jelas lagi dengan terbitnya Surat Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 812/MenKes/SK/VII/2007 dengan
penjelasannya yang terdapat di dalam lapiran surat keputusan tersebut.
Tata kerja organisasi perawatan paliatif ini bersifat koodinatif dan melibatkan semua
unsur terkait dengan mengedepankan tim kerja yang kuat, membentuk jaringan yang luas,
inovasi tinggi, serta layanan sepenuh hati.
Menurut dr. Maria A. Witjaksono, prinsip-prinsip perawatan paliatif adalah sebagai
berikut:
1. Menghargai setiap kehidupan.

6
2. Menganggap kematian sebagai proses yang normal.
3. Tidak mempercepat atau menunda kematian.
4. Menghargai keinginan pasien dalam mengambil keputusan.
5. Menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang menganggu.
6.Mengintegrasikan aspek psikologis, sosial, dan spiritual dalam perawatan pasien
dan Keluarga.
7. Menghindari tindakan medis yang sia-sia.
8. Memberikan dukungan yang diperlukan agar pasien tetap aktif sesuai dengan
kondisinya sampai akhir hayat.
9. Memberikan dukungan kepada keluarga dalam masa duka cita

Istilah "perawatan paliatif" umumnya mengacu pada setiap perawatan yang meredakan
gejala, apakah ada atau tidak ada harapan penyembuhan dengan cara lain.
Pengobatan paliatif bermaksud mengurangi nyeri dan mengurangi symptom selain nyeri
seperti mual, muntah dan depresi. Perawatan bagi mereka yang akan segera meninggal
pertama didirikan di Inggris melalui lokakarya cicely Saunders di RS Khusus St.
Christopher, RS khusus tersebut pindah ke AS pada thn 1970an. RS khusus pertama di
AS adalah RS New Haven yang kemudian menjadi RS khusus Connecticut. RS tersebut
kemudian menyebar ke seluruh Negara.

Sedangkan di Indonesia sendiri, perawatan paliatif baru dimulai pada tanggal 19 Februari
1992 di RS Dr. Soetomo (Surabaya), disusul RS Cipto Mangunkusumo (Jakarta), RS
Kanker Dharmais (Jakarta), RS Wahidin Sudirohusodo (Makassar), RS Dr. Sardjito
(Yogyakarta), dan RS Sanglah (Denpasar).
Pelayanan yang diberikan meliputi:
1. Rawat jalan
2. Rawat inap (konsultatif)
3. Rawat rumah, yaitu dengan melakukan kunjungan ke rumah-rumah penderita.
4. Day care, merupakan layanan untuk tindakan medis yang tidak memerlukan rawat
inap, seperti perawatan luka,kemoterapi dll.
5. Respite care, merupakan layanan yang bersifat psikologis.

7
Di Amerika Serikat saat ini, 55% dari rumah sakit dengan lebih dari 100 tempat tidur
menawarkan program perawatan paliatif, dan hampir seperlima dari rumah sakit
masyarakat memiliki program perawatan paliatif.
Di Surabaya, tepatnya di RS Dr. Soetomo, perawatan palliative sudah berjalan dengan
baik. Sedangkan di Makassar sendiri, hal tersebut belum begitu optimal.
Bahkan pada tanggal 15 Mei 2010 telah dideklarasikan secara resmi di Surabaya sebagai
kota paliatif di Taman Bungkul Surabaya, dengan demikian surabaya menjadi kota
paliatif pertama di Indonesia.
Dari sini diharapkan pasien kanker bisa mendapatkan penanganan lebih baik melalui
pelayanan paliatif.

2.2 Trend perkembangan paliative care dibidang pendidikan dan pelayanan


Kualitas Hidup Pasien
adalah keadaan pasien yang dipersepsikan terhadap keadaan pasien sesuai konteks
budaya dan sistem nilai yang dianutnya, termasuk tujuan hidup, harapan, dan niatnya.
Dimensi dari kualitas hidup menurut Jennifer J. Clinch, Deborah Dudgeeon dan
Harvey Schipper(1999), adalah :
1. Gejala fisik
2. Kemampuan fungsional (aktivitas)
3. Kesejahteraan keluarga
4. Spiritual
5. Fungsi sosial
6. Kepuasan terhadap pengobatan (termasuk masalah keuangan)
7. Orientasi masa depan
8. Kehidupan seksual, termasuk gambaran terhadap diri sendiri
9. Fungsi dalam bekerja
Menurut KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007 Palliative home care adalah pelayanan
perawatan paliatif yang dilakukan di rumah pasien, oleh tenaga paliatif dan atau keluarga atas
bimbingan/ pengawasan tenaga paliatif.

Hospis adalah tempat dimana pasien dengan penyakit stadium terminal yang tidak dapat
dirawat di rumah namun tidak melakukan tindakan yang harus dilakukan di rumah sakit.
Pelayanan yang diberikan tidak seperti di rumah sakit, tetapi dapat memberikan pelayaan
untuk mengendalikan gejala-gejala yang ada, dengan keadaan seperti di rumah pasien sendiri.
8
Menurut KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007 Sarana (fasilitas) kesehatan adalah tempat
yang menyediakan layanan kesehatan secara medis bagi masyarakat.

Kompeten adalah keadaan kesehatan mental pasien sedemikian rupa sehingga mampu
menerima dan memahami informasi yang diperlukan dan mampu membuat keputusan secara
rasional berdasarkan informasi tersebut (KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007).

2. 3 Jenis penyakit yang masuk dalam perawatan paliatif


penyakit kardiovaskuler dengan prevalensi 38.5%, kanker 34%, penyakit pernapasan
kronis 10.3%, HIV/AIDS 5.7%, diabetes 4.6% dan memerlukan perawatan paliatif
sekitas 40-60%.Pada tahun 2011 terdapat 29 juta orang meninggal di karenakan
penyakit yang membutuhkan perawatan paliatif. Kebanyakan orang yang
membutuhkan perawatan paliatif berada pada kelompok dewasa 60% dengan usia
lebih dari 60 tahun, dewasa (usia 15-59 tahun) 25%, pada usia 0-14 tahun yaitu 6%
(Baxter, et al., 2014).

Prevalensi penyakit paliatif di dunia berdasarkan kasus tertinggi yaitu Benua Pasifik
Barat 29%, diikuti Eropa dan Asia Tenggara masing-masing 22% (WHO,2014).
Benua Asia terdiri dari Asia Barat, Asia Selatan, Asia Tengah, Asia Timur dan Asia
Tenggara.Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk dalam benua Asia
Tenggara dengan kata lain bahwa Indonesia termasuk dalam Negara yang
membutuhkan perawatan paliatif.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2013) prevalensi tumor/kanker


di Indonesia adalah 1.4 per 1000 penduduk, atau sekitar 330.000 orang, diabete
melitus 2.1%, jantung koroner (PJK) dengan bertambahnya umur, tertinggi pada
kelompok umur 65 -74 tahun yaitu 3.6%.Kementrian kesehatan (KEMENKES, 2016)
mengatakan kasus HIV sekitar 30.935, kasus TB sekitar330.910. Kasus stroke sekitar
1.236.825 dan 883.447 kasus penyakit jantung dan penyakit diabetes sekitar 1,5%
(KEMENKES, 2014).

Pelayanan perawatan paliatif memerlukan keterampilan dalam mengelola komplikasi


penyakit dan pengobatan, mengelola rasa sakit dan gejala lain, memberikan perawatan
psikososial bagi pasien dan keluarga, dan merawat saat sekarat dan berduka (Matzo &
9
Sherman, 2015).Penyakit dengan perawatan paliatif merupakan penyakit yang sulit
atau sudah tidak dapat disembuhkan, perawatan paliatif ini bersifat meningkatkan
kualitas hidup (WHO,2016). Perawatan paliatif meliputi manajemen nyeri dan gejala;
dukungan psikososial, emosional, dukungan spiritual; dan kondisi hidup nyaman
dengan perawatan yang tepat, baik dirumah, rumah sakit atau tempat lain sesuai
pilihan pasien. Perawatan paliatif dilakukan sejak awal perjalanan penyakit,
bersamaan dengan terapi lain dan menggunakan pendekatan tim multidisiplin untuk
mengatasi kebutuhan pasien dan keluarga mereka (Canadian Cancer Society, 2016).

2.4 Masalah Keperawatan Pada Pasien Paliatif


Permasalahan perawatan paliatif yang sering digambarkan pasien yaitu
kejadian-kejadian yang dapat mengancam diri sendiri dimana masalah yang seringkali
di keluhkan pasien yaitu mengenai masalah seperti nyeri, masalah fisik, psikologi
sosial, kultural serta spiritual (IAHPC, 2016). Permasalahan yang muncul pada pasien
yang menerima perawatan paliatif dilihat dari persepktif keperawatan meliputi
masalah psikologi, masalah hubungan sosial, konsep diri, masalah dukungan keluarga
serta masalah pada aspek spiritual atau keagamaan (Campbell, 2013).

1. Masalah Fisik
Masalah fisik yang seringkali muncul yang merupakan keluhan dari pasien paliatif
yaitu nyeri (Anonim, 2017). Nyeri merupakan pengalaman emosional dan sensori
yang tidak menyenangkan yang muncul akibat rusaknya jaringan aktual yang
terjadi secara tiba-tiba dari intensitas ringan hingga berat yang dapat diantisipasi
dan diprediksi. Masalah nyeri dapat ditegakkan apabiladata subjektif dan objektif
dari pasien memenuhi minimal tiga kriteria (NANDA, 2015).

2. Masalah Psikologi
Masalah psikologi yang paling sering dialami pasien paliatif adalah kecemasan.
Hal yang menyebabkan terjadinya kecemasan ialah diagnosa penyakit yang
membuat pasien takut sehingga menyebabkan kecemasan bagi pasien maupun
keluarga (Misgiyanto & Susilawati, 2014).

Durand dan Barlow (2006) mengatakan kecemasan adalah keadaan suasana hati
yang ditandai oleh afek negatif dan gejala-gejala ketegangan jasmaniah dimana
10
seseorang mengantisipasi kemungkinan datangnya bahaya atau kemalangan di
masa yang akan datang dengan perasaan khawatir.Menurut Carpenito (2000)
kecemasan merupakan keadaan individu atau kelompok saat mengalami perasaan
yang sulit (ketakutan) dan aktivasi sistem saraf otonom dalam berespon terhadap
ketidakjelasan atau ancaman tidak spesifik.

NANDA (2015) menyatakan bahwa kecemasan adalah perasaan tidak nyaman


atau kekhawatiran yang diseratai oleh respon otonom, perasaan takut yang
disebabkan olehantisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan tanda waspada
yang member tanda individu akan adanya bahaya dan mampukah individu
tersebut mengatasinya.

3. Masalah Sosial
Masalah pada aspek sosial dapat terjadi karena adanya ketidak normalan kondisi
hubungan social pasien dengan orang yang ada disekitar pasien baik itu keluarga
maupun rekan kerja (Misgiyanto & Susilawati, 2014).Isolasi sosial adalah suatu
keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan
sikap yang negatif dan mengancam ( Twondsend, 1998 ). Atau suatu keadaan
dimana seseorang individu mengalami penurunan bahkan sama sekali tidak
mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya, pasien mungkin merasa
ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang
berarti dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain
(Kelliat, 2006 ).

4. Masalah Spiritual
Menurut Carpenito (2006) salah satu masalah yang sering muncul pada pasien
paliatif adalah distress spiritual. Distres spiritual dapat terjadi karena diagnose
penyakit kronis, nyeri, gejala fisik, isolasi dalam menjalani pengobatan serta
ketidakmampuan pasien dalam melakukan ritual keagamaan yang mana biasanya
dapat dilakukan secara mandiri.

Distres spiritual adalah kerusakan kemampuan dalam mengalami dan


mengintegrasikan arti dan tujuan hidup seseorang dengan diri, orang lain, seni,
musik, literature, alam dan kekuatan yang lebih besr dari dirinya (Hamid,
11
2008).Definisi lain mengatakan bahwa distres spiritual adalah gangguan dalam
prinsip hidup yang meliputi seluruh kehidupan seseorang dan diintegrasikan
biologis dan psikososial (Keliat dkk, 2011).

2. 5 Perkembangan Hospice Care

Di Indonesia, perawatan di hospis atau Hospice care merupakan hal yang baru.
Falsafah Hospice Care adalah manusia yang menderita harus dibantu dan diringankan
penderitaannya, agar kualitas hidupnya dapat ditingkatkan selama sakit sampai ajal, dan
meninggal dengan tenang.

A. Lembaga Pelayanan Kesehatan, terdiri dari :

1. Rawat Jalan
2. Institusi
3. Hospice
4. Community Based Agency
Hospice care adalah perawatan pasien terminal (stadium akhir) dimana pengobatan
terhadap penyakitnya tidak diperlukan lagi. Perawatan ini bertujuan meringankan
penderitaan dan rasa tidak nyaman dari pasien, berlandaskan pada aspek bio-psiko-
sosial-spiritual. (Hospice Home Care, 2011)

2. 6 Trend dan isu keperawatan Komunitas, KMB, Maternitas, Pediatric, dan Gegontik

A. Trend Dan Issue Keperawatan Komunitas


Keperawatan merupakan profesi yang dinamis dan berkembang secara terus menerus
dan terlibat dalam masyarakat yang berubah, sehingga pemenuhan dan metode keprawatan
kesehatan berubah, karena gaya hidup masyarakat berubah dan perawat sendiri juga dapat
menyesuaikan dengan perubahan tersebut. Definisi dan filosofi terkini dari keperawatan
memperlihatkan trend holistic dalam keperawatan yang ditunjukkan secara keseluruhan
dalam berbagai dimensi, baik dimensi sehat maupun sakit serta dalam interaksinya dengan
keluarga dan komunitas. Tren praktik keperawatan meliputi perkembangan di berbagai
tempat praktik dimana perawat memiliki kemandirian yang lebih besar.
Perkembangan Keperawatan di Indonesia saat ini sangat pesat, hal ini disebabkan oleh:

12
1. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat sehingga informasi
dengan cepat dapat diakses oleh semua orang sehingga informasi dengan cepat diketahui oleh
masyarakat.

2. Perkembangan era globalisasi yang menyebabkan keperawatan di Indonesia harus


menyesuaikan dengan perkembangan keperawatan di negara yang telah berkembang .

3. Sosial ekonomi masyarakat semakin meningkat sehingga masyarakat menuntut pelayanan


kesehatan yang berkualitas tinggi, tapi di lain pihak bagi masyarakat ekonomi lemah mereka
ingin pelayanan kesehatan yang murah dan terjangkau.

Konsep Trend dan Issue Home Care


Menurut Departemen Kesehatan (2002) menyebutkan bahwa home care adalah pelayanan
kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif yang diberikan kepada individu dan
keluarga di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan
atau memulihkan kesehatan atau memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan
akibat dari penyakit.

Health care secara pribadi masih diutamakan penyakit dan orientasi pengobatan dan
mempunyai keutamaan dalam terapi medisnya. Meskipun The American Medikal
Association (AMA) dan organisasi kesehatan lain mendorong orang-orang untuk
memeriksakan kesehatannya secara rutin yang bertujuan untuk pemeliharaan kesehatan dan
pencegahan penyakit. Kebanyakan asuransi pribadi tidak mengadakan pemeriksaan fisik
secara rutin, sehingga biaya yang harus dikeluarkan oleh klien sangat mahal.

Di Amerika, Home Care (HC) yang terorganisasikan dimulai sejak sekitar tahun 1880- an,
dimana saat itu banyak sekali penderita penyakit infeksi dengan angka kematian yang tinggi.
Meskipun pada saat itu telah banyak didirikan rumah sakit modern, namun pemanfaatannya
masih sangat rendah, hal ini dikarenakan masyarakat lebih menyukai perawatan dirumah.

Di Indonesia, layanan Home Care (HC) sebenarnya bukan merupakan hal yang baru, karena
merawat pasien di rumah baik yang dilakukan oleh anggota keluarga yang dilatih dan atau
oleh tenaga keperawatan melalui kunjungan rumah secara perorangan, adalah merupakan hal
biasa sejak dahulu kala.

13
1. Landasan Hukum Home Care
a. Fungsi hukum dalam Praktik Perawat:
b. Memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan mana yang sesuai
dengan hukum
c. Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain
d. Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan keperawatan mandiri
e. Membantu mempertahankan standard praktik keperawatan dengan meletakkan posisi
perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum.

UU Peraturan Home Care:


a. UU Nomor 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran
b. UU Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah
c. UU Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan
d. PP Nomor 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan
e. PP Nomor 25 tahun 2000 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah.
f. PP Nomor 47 tahun 2006 tentang Jabatan fungsional dokter, dokter gigi, apoteker,
asisten apoteker, pranata laboratorium kesehatan. epidemiologi kesehatan,
entomology kesehatan, sanitarian, administrator kesehatan, penyuluh kesehatan
masyarakat, perawat gigi, nutrisionis, bidan, perawat, radiographer, perekam medis,
dan teknisi elektromedis.
g. SK Menpan Nomor 94/KEP/M. PAN/11/2001 tentang jabatan fungsonal perawat.
h. Kepmenkes Nomor 128 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas.
i. Kepmenkes Nomor 279 tahun 2006 tentang pedoman penyelenggaraan Perkesmas.
j. Kepmenkes Nomor 374 tahun 2009 tentang Sistem Kesehatan Nasional.
k. Kepmenkes Nomor 267 tahun 2010 tentang penetapan road map reformasi kesehatan
masyarakat.
l. Permenkes Nomor 920 tahun 1986 tentang pelayan medik swasta.
m. Permenkes Nomor 148 tahun 2010 tentang ijin dan penyelenggaraan praktik
keperawatan.

2. Tujuan Perawatan Kesehatan Dirumah

a. Membantu klien memelihara atau meningkatkan status kesehatan dan kualitas


hidupnya.

14
b. Meningkatkan keadekuatan dan keefektifan perawatan pada anggota keluarga dengan
masalah kesehatan dan kecacatan.
c. Menguatkan fungsi keluarga dan kedekatan antar keluarga.
d. Membantu klien untuk tinggal atau kembali ke rumah dan mendapatkan perawatan
yang diperlukan rehabilitasi atau perawatan paliatif.

3. Unit Perawatan Home Care

a. Pengelolah pelayanan
Merupakan individu, kelompok, ataupun organisasi yang bertanggung jawab terhadap
seluruh pengelolaan pelayanan kesehatan rumah baik penyediaan tenaga, sarana dan
peralatan, serta mekanisme pelayanan sesuai standart yang ditetapkan.
b. Pelaksana pelayanan
Merupakan tenaga keperawatan professional bekerja sama dengan tenaga professional
lain terkait dan tenaga non-profesional. Pelaksana pelayanan terdiri atas coordinator
kasus dan pelaksana pelayanan.
c. Klien
Merupakan penerima perawatan kesehatan di rumah dengan melibatkan salah satu
anggota keluarga sebagai penanggung jawab yang mewakili klien. Apabila diperlukan
keluarga dapat menunjuk seseorang yang akan menjadi pengasuh yang melayani
kebutuhan sehari-hari klien.

4. Mekanisme Perawatan Kesehatan Dirumah (Home Care)


Pasien/ klien yang memperoleh pelayanan keperawatan di rumah dapat merupakan
rujukan dari klinik rawat jalan, unit rawat inap rumah sakit, maupun puskesmas, namun
pasien/ klien dapat langsung menghubungi agensi pelayanan keperawatan di rumah atau
praktek keperawatan per orangan untuk memperoleh pelayanan. Mekanisme yang harus di
lakukan adalah sebagai berikut:
a. Pasien / klien pasca rawat inap atau rawat jalan harus diperiksa terlebih dahulu oleh
dokter untuk menentukan apakah secara medis layak untuk di rawat di rumah atau
tidak.
b. Selanjutnya apabila dokter telah menetapkan bahwa klien layak dirawat di rumah,
maka di lakukan pengkajian oleh koordinator kasus yang merupakan staf dari
pengelola atau agensi perawatan kesehatan dirumah, kemudian bersama-sama klien

15
dan keluarga, akan menentukan masalahnya, dan membuat perencanaan, membuat
keputusan, membuat kesepakatan mengenai pelayanan apa yang akan diterima oleh
klien, kesepakatan juga mencakup jenis pelayanan, jenis peralatan, dan jenis sistem
pembayaran, serta jangka waktu pelayanan.
c. Selanjutnya klien akan menerima pelayanan dari pelaksana pelayanan keperawatan
dirumah baik dari pelaksana pelayanan yang dikontrak atau pelaksana yang direkrut
oleh pengelola perawatan dirumah. Pelayanan dikoordinir dan dikendalikan oleh
koordinator kasus, setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh tenaga pelaksana pelayanan
harus diketahui oleh koordinator kasus.
d. Secara periodic koordinator kasus akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap
pelayanan yang diberikan apakah sudah sesuai dengan kesepakatan.
Persyaratan pasien yang menerima pelayanan perawatan dirumah:
a. Mempunyai keluarga atau pihak lain yang bertanggungjawab atau menjadi
pendamping bagi klien dalam berinteraksi dengan pengelola.
b. Bersedia menandatangani persetujuan setelah diberikan informasi (Informed consent).
c. Bersedia melakukan perjanjian kerja dengan pengelola perawatan kesehatan dirumah
untuk memenuhi kewajiban, tanggung jawab, dan haknya dalam menerima pelayanan.

5. Lingkup Praktik Home Care


Lingkup praktik keperawatan mandiri meliputi asuhan keperawatan perinatal, asuhan
keperawatan neonantal, asuhan keperawatan anak, asuhan keperawatan dewasa, dan asuhan
keperawatan maternitas, asuhan keperawatan jiwa dilaksanakan sesuai dengan lingkup
wewenang dan tanggung jawabnya. Keperawatan yang dapat dilakukan dengan:
a. Melakukan keperawatan langsung (direct care) yang meliputi pengkajian bio- psiko-
sosio- spiritual dengan pemeriksaan fisik secara langsung, melakukan observasi, dan
wawancara langsung, menentukan masalah keperawatan, membuat perencanaan, dan
melaksanakan tindakan keperawatan yang memerlukan ketrampilan tertentu untuk
memenuhi kebutuhan dasar manusia yang menyimpang, baik tindakan-tindakan
keperawatan atau tindakan-tindakan pelimpahan wewenang (terapi medis),
memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan dan melakukan evaluasi.

b. Mendokumentasikan setiap tindakan pelayanan yang di berikan kepada klien,


dokumentasi ini diperlukan sebagai pertanggung jawaban dan tanggung gugat untuk
perkara hukum dan sebagai bukti untuk jasa pelayanan kepertawatan yang diberikan.
16
Melakukan koordinasi dengan tim yang lain kalau praktik dilakukan secara
berkelompok.
c. Sebagai pembela/pendukung(advokat) klien dalam memenuhi kebutuhan asuhan
keperawatan klien dirumah dan bila diperlukan untuk tindak lanjut kerumah sakit dan
memastikan terapi yang klien dapatkan sesuai dengan standart dan pembiayaan
terhadap klien sesuai dengan pelayanan /asuhan yang diterima oleh klien.
d. Menentukan frekwensi dan lamanya keperawatan kesehatan di rumah dilakukan,
mencangkup berapa sering dan berapa lama kunjungan harus di lakukan.

Secara umum lingkup perawatan kesehatan di rumah juga dapat dikelompokkan sebagai
berikut:
a. Pelayanan medik dan asuhan keperawatan
b. Pelayanan sosial dan upaya menciptakan lingkungan yang terapeutik
c. Pelayanan rehabilitasi dan terapi fisik
d. Pelayanan informasi dan rujukan
e. Pendidikan, pelatihan dan penyuluhan kesehatan
f. Higiene dan sanitasi perorangan serta lingkungan
g. Pelayanan perbaikan untuk kegiatan social

Menurut Rice R (2001) jenis kasus yang dapat dilayani pada perawatan kesehatan di rumah
meliputi kasus-kasus yang umum pasca perawatan di rumah sakit dan kasus-kasus khusus
yang di jumpai di komunitas.
h. Kasus umum yang merupakan pasca perawatan di rumah sakit adalah:
i. Klien dengan penyakit gagal jantung
j. Klien dengan gangguan oksigenasi
k. Klien dengan perlukaan kronis
l. Klien dengan diabetes
m. Klien dengan gangguan fungsi perkemihan
n. Klien dengan kondisi pemulihan kesehatan atau rehabilitasi
o. Klien dengan terapi cairan infus di rumah
p. Klien dengan gangguan fungsi persyarafan
q. Klien dengan HIV/AIDS

17
Sedangkan kasus dengan kondisi khusus, meliputi:
a. Klien dengan post partum
b. Klien dengan gangguan kesehatan mental
c. Klien dengan kondisi usia lanjut
d. Klien dengan kondisi terminal
e. Klien dengan penyakit obstruktif paru kronis.

6. Tahap-tahap Perawatan Kesehatan Dirumah (Home Care)

a. Fase persiapan
Pada Fase pertama ini, perawat mendapatkan data tentang keluarga yang akan
dikunjungi dari Puskesmas atau Ibu Kader. Perawat perlu membuat laporan
pendahuluan untuk kunjungan yang akan dilakukan. Kontrak waktu kunjungan perlu
dilakukan pada fase ini.
b. Fase Inisiasi (perkenalan)
Fase ini mungkin memerlukan beberapa kali kunjungan. Selama fase ini, perawat dan
keluarga berusaha untuk saling mengenal dan bagaimana keluarga menanggapi suatu
masalah kesehatan.
c. Fase implementasi
Pada Fase ini, perawat melakukan pengkajian dan perencanaan untuk mengatasi
masalah kesehatan yang dimiliki oleh klien dan keluarga.
Lakukan intervensi sesuai rencana. Eksplorasi Nilai-nilai keluarga dan persepsi
keluarga terhadap kebutuhannya. Berikan pendidikan kesehatan sesuai tingkat
Pendidikan Klien dan keluarga serta sediakan pula informasi tertulis.
d. Fase terminasi
Fase ini perawat membuat kesimpulan hasil kunjungan berdasarkan pada pencapaian
tujuan yang ditetapkan bersama keluarga.Menyusun rencana tindak lanjut terhadap
masalah kesehatan yang sekarang di tangani dan masalah kesehatan yang mungkin di
alami oleh keluarga sangat penting dilakukan pada fase terminasi.
e. Fase pasca kunjungan
Sebagai fase terakhir hendaknya perawat membuat dokomentasi lengkap tentang hasil
kunjungan untuk disimpan di pelayanan kesehatan ,dokumentasi tersebut harus
memenuhi aspek lengkap(komplit),jelas(clear),dan dapat dibaca(legible). Adapun cara

18
untuk melakukan kunjungan yaitu angket, pertelepon, lewat email,atau kunjungan
secara langsung.

7. Peran dan Fungsi Home Care


Manajer kasus: Mengelola dan mengkolaborasikan pelayanan, dengan fungsi:
a. Mengidentifikasi kebutuhan pasien dan keluarga.
b. Menyusun rencana pelayanan.
c. Mengkoordinir aktifitas tim
d. Memantau kualitas pelayanan

Pelaksana: Memberi pelayanan langsung dan mengevaluasi pelayanan. dengan fungsi:


a. Melakukan pengkajian komprehensif
b. Menetapkan masalah
c. Menyusun rencana keperawatan
d. Melakukan tindakan perawatan
e. Melakukan observasi terhadap kondisi pasien
f. Membantu pasien dalam mengembangkan prilaku koping yang efektif.
g. Melibatkan keluarga dalam pelayanan
h. Membimbing semua anggota keluarga dalam pemeliharaan kesehatan
i. Melakukan evaluasi terhadap asuhan keperawatan.
j. Mendokumentasikan asuhan keperawatan.

B. Trend dan Isu Keperawatan Medikal Bedah

Trend Keperawatan Medikal Bedah dan Implikasinya di Indonesia

Perkembangan trend keperawatan medikal bedah di Indonesia terjadi dalam berbagai bidang
yang meliputi:

a. Telenursing (Pelayanan Asuhan Keperawatan Jarak Jauh)Menurut Martono,


telenursing (pelayanan asuhan keperawatan jarak jauh) adalah upaya penggunaan
tehnologi informasi dalam memberikan pelayanan keperawatan dalam
bagian pelayanan kesehatan dimana ada jarak secara fisik yang jauh antara perawat
dan pasien, atau antara beberapa perawat. Keuntungan dari teknologi ini yaitu

19
mengurangi biaya kesehatan, jangkauan tanpa batas akan layanan kesehatan,
mengurangi kunjungan dan masa hari rawat,meningkatkan pelayanan pasien sakit
kronis, mengembangkan model pendidikan keperawatan berbasis multimedia (Britton,
Keehner, Still & Walden 1999).

Tetapi sistem ini justru akan mengurangi intensitas interaksi antara perawat dan klien
dalam menjalin hubungan terapieutik sehingga konsep perawatan secara holistik akan
sedikit tersentuh oleh ners. Sistem ini baru diterapkan dibeberapa rumah sakit
di Indonesia, seperti di Rumah Sakit Internasional. Hal ini disebabkan karena kurang
meratanya penguasaan teknik informasi oleh tenaga keperawatan serta sarana
prasarana yang masih belum memadai.

b. Prinsip Moisture Balance dalam Perawatan LukaTrend perawatan luka yang


digunakan saat ini adalah menjaga kelembaban area luka. Luka yang lembab akan
dapat mengaktivasi berbagai growt factor yang berperan dalam proses penutupan
luka, antara lain TGF beta 1-3, PDGF, TNF, FGF dan lain sebagainya. Yang perlu
diperhatikan adalah durasi waktu dalam memberikan kelembapan pada luka sehingga
resiko terjadinya infeksi dapat diminimalkan. Selain itu prinsip ini juga tidak
menghambat aliran oksigen, nitrogen dan unsur-unsur penting lainnya serta
merupakan wadah terbaik untuk sel-sel tubuh tetap hidup dan melakukan replikasi
secara optimal, sehingga dianggap prinsip ini sangat efektif untuk penyembuhan luka.
Hal ini akan berdampak pada layanan keperawatan,meningkatkan kepuasan pasien
serta memperpendek lama hari perawatan. Namun demikian, prinsip ini belum
diterapkan di semua rumah sakit di seluruh Indonesia.

c. Pencegahan HIV-AIDS pada Remaja dengan Peer GroupRemaja merupakan masa


dimana fungsi reproduksinya mulai berkembang, hal ini akan berdampak pada
perilaku seksualnya. Salah satu perilaku seksual yang rentan akan memberikan
dampak terjadinya HIV-AIDS yaitu seks bebas. Saat ini sedang dikembangkan model
”peer group” sebagai salah satu cara dalam meningkatkan pemahaman dan
pengetahuan remaja akan kesehatan reproduksinya dengan harapan suatu kelompok
remaja akan dapat mempengaruhi kelompok remaja yang lain. Metode ini telah
diterapkan pada lembaga pendidikan, baik oleh Depkes maupun lembaga swadaya
masyarakat. Adapun angka kejadian AIDS pada kelompok remaja hingga Juni 2008
20
adalah sebesar 429 orang dan 128orang remaja mengidap AIDS/IDU. Hal ini akan
sangat mengancam masa depan bangsa dan negara ini. Diharapkan dengan metode
Peer Group dapat menurunkan angka kejadian, karena diyakini bahwa kelompok
remaja ini lebih mudah saling mempengaruhi.

d. Program sertifikasi perawat keahlian khusus Bermacam-macam program sertifikasi


saat ini mulai berkembang dalam tatanan layanan keperawatan, khususnya pada
bidang keperawatan medikal bedah misalnya sertifikasi perawat luka oleh INETNA,
sertifikasi perawat anastesi, perawat emergency, perawat hemodialisa, perawat ICU,
perawat ICCU, perawat instrument OK. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah
standarisasi setiap sertifikasi sudah sesuai dengan kompetensi perawat profesional
karena menurut analisa kami program tersebut berjalan sendiri-sendiri tanpa arahan
yang jelas dari organisasi profesi dan terkesan hanya proyek dari lembaga-lembaga
tertentu saja.

e. Hospice Home Care adalah perawatan pasien terminal yang dilakukan di rumah
setelah dilakukan perawatan di rumah sakit, dimana pengobatan sudah tidak perlu
dilakukan lagi. Bidang garapnya meliputi aspek bio-psiko-sosio-spiritual yang
bertujuan dalam memberikan dukungan fisik dan psikis, dukungan moral bagi
pasien dan keluarganya, dan juga memberikan pelatihan perawatan praktis. Di
Indonesia, metode perawatan ini di bawah pengelolaan Yayasan Kanker Indonesia.
Sedangkan di beberapa rumah sakit yang lain program ini sudah dikembangkan,
namun belum dilakukan secara legal.

f. One Day Care Merupakan sistem pelayanan kesehatan dimana pasien tidak
memerlukan perawatan lebihdari satu hari. Setelah menjalani operasi pembedahan dan
perawatan, pasien boleh pulang.Biasanya dilakukan pada kasus minimal. Berdasarkan
hasil analisis beberapa rumah sakit, diIndonesia didapatkan bahwa metode one day
care ini dapat mengurangi lama hari perawatan sehingga tidak menimbulkan
penumpukkan pasien pada rumah sakit tersebut dan dapat mengurangi beban kerja
perawat. Hal ini juga dapat berdampak pada pasien dimana biaya perawatan dapat
ditekan seminimal mungkin. Klinik HIV Saat ini mulai berkembang di beberapa
Rumah Sakit pemerintah maupun swasta. Hal ini dilakukan dalam usaha mendeteksi
dini akan HIV dan mencegah penyebaran HIV dimasyarakat. Target penderita adalah
21
kelompok masyarakat dengan resiko tinggi, misalnya pekerja sex, penderita HIV-
AIDS, remaja, kelompok IDU (injection drug use). Klinik ini masih terbatas
dikembangkan dibeberapa rumah sakit saja. Hal ini disebabkan karena kurangnya
persiapan tenaga yang kompeten dalam bidang tersebut serta sarana dan prasarana
yang masih minimal. Selain itu masyarakat masih belum siap untuk memanfaatkan
klinik ini, karena ada stigma dimasyarakat masih menganggap bahwa penyakit ini
adalah penyakit kutukan dan harus dikucilkan. Namun demikian, dalam praktik nyata,
telah ada wadah khusus dari Depkes RI untuk menjaring pengidap HIV/AIDS oleh
VCT (VoluntaryCounselling and Testing). Usaha ini telah berhasil menjaring
sejumlah pengidap AIDS dimana hingga bulan Juni 2008 telah terdeteksi 12.686
(Depkes, 2008).

Dari sejumlah pasien ini, apabila diibaratkan dengan fenomena gunung es, maka
sebenarnya disekeliling kita sudah terdapat banyak pasien dengan HIV/AIDS. Klinik
Rawat Luka Saat ini mulai bermunculan klinik rawat luka yang dikelola oleh
sekelompok perawat yang minat dalam perawatan luka. Klinik ini tidak lepas dari
kolaborasi dokter-ners. Sifat layanannya dapat berupa home visit atau pasien
berkunjung ke klinik secara langsung.

Berdirinya organisasi profesi keperawatan kekhususan Sejak diakuinya perawat


sebagai profesi yang profesional, saat ini mulai bermunculan organisasi profesi
perawat kekhususan dalam keperawatan medikal bedah, misalnya HIPKABI
(Himpunan Perawat Kamar Bedah Indonesia), InETNA (Indonesia Enterostomal
Therapy Nursing Association), IOA (Indonesia Ostomy Association), dan sebagainya.
Hal ini akan menjadi sarana bagi perawat untuk mengembangkan dirinya menjadi
lebih profesional dalam bidang garapan tertentu, namun demikian akan timbul
permasalahan karena jenis keperawatan akan menjadi lebih bervariasi dan berdampak
lebih luas pada organisasi keperawatan lebih luas karena akan terkesan terpetak-petak.
Selain itu standar dari masing-masing kekhususnan belum jelas.

g. Pengembangan Evidence Based Nursing Practice di Lingkungan Rumah Sakit dalam


Lingkup Keperawatan Medikal Bedah. Kegiatan-kegiatan penelitian diklinik akan
mendukung kualitas pelayanan keperawatan dalam mendukung sistem pelayanan
kesehatan. Kegiatan tersebut meliputi membentuk komite riset, menciptakan
22
lingkungan kerja yang ilmiah, kebijakan kegiatan riset dan pemanfaatan hasilnya dan
pendidikan berkelanjutan. Akan tetapi pelaksanaan di Indonesia belum maksimal. Hal
ini dibuktikan dengan minimnya kegiatan ilmiah keperawatan di rumah sakit, hasil
penelitian jarang didiseminasikan dan dimanfaatkan untuk pengembangan praktik
klinis keperawatan.

Isue Keperawatan Medikal Bedah dan Implikasinya di Indonesia

a. Pemakaian tap water (air keran) dan betadine yang diencerkan pada luka.Beberapa
klinisi menganjurkan pemakaian tap water untuk mencuci awal tepi luka sebelum
diberikan NaCl 0,9 %. Hal ini dilakukan agar kotoran-kotoran yang menempel
pada lukadapat terbawa oleh aliran air. Kemudian dibilas dengan larutan
povidoneiodine yang telah diencerkan dan dilanjutkan irigasi dengan NaCl 0,9%.
Akan tetapi pemakaian prosedur ini masih menimbulkan beberapa kontroversi karena
kualitas tap water yang berbeda di beberapa tempat dan keefektifan dalam
pengenceran betadine.
b. Belum ada dokumentasi keperawatan yang baku sehingga setiap institusi rumah sakit
mengunakan versi atau modelnya sendiri-sendiri. Prosedur rawat luka adalah
kewenangan dokter. Ada beberapa pendapat bahwa perawatan luka adalah
kewenangan medis, akan tetapi dalam kenyataannya yang melakukan adalah perawat
sehingga dianggap sebagai area abu-abu.Apabila ditinjau dari bebarapa literatur,
perawat mempunyai kewenangan mandiri sesuai dengan seni dan keilmuannya dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan kerusakan integritas kulit.

c. Euthanasia: suatu issue kontemporer dalam keperawatan.Saat ini mulai terdengar


istilah euthanasia, baik aktif maupun pasif. Euthanasia aktif merupakan tindakan yang
sengaja dilakukan untuk membuat seseorang meninggal.Sedangkan euthanasia pasif
adalah tindakan mengurangi ketepatan dosis pengobatan, penghilangan pengobatan
sama sekali atau tindakan pendukung lainnya yang dapat mempercepat kematian
seseorang. Batas keduanya kabur, bahkan merupakan sesuatu yang tidak relevan. Di
Nederland euthanasia sudah dalam proses untuk dilegalisasi. Dikatakan bahwa 72%
dari populasi lebih cenderung untuk menjadi relawan euthanasia aktif. Dalam praktik
nyata, masyarakat telah melegalkan euthanasia pasif terutama dalam proses aborsi.
Diyakini bahwa 30 tahun yang akan datang, euthanasia akan bergeser dari sesuatu
yang ”samar - samar” menjadi sesuatu yang legal. Dalam hal ini, perawat berada

23
dalam posisi yang sangat baik untuk mengkajinya secara lebih obyektif, sehingga
akan menjadi kesempatan terbaik bagi perawat untuk mengambil bagian terlibat aktif
dalam mengembangkan kebijakan-kebijakan terkait, khususnya pada kasus
keperawatan medikal bedah.

d. Pengaturan sistem tenaga kesehatan

Sistem tenaga kesehatan di Indonesia saat ini belum tertata dengan baik, pemerintah
belum berfokus dalam memberikan keseimbangan hak dan kewajibaan antar profesi
kesehatan. Rasio penduduk dengan tenaga kesehatan pada tahun 2003 menunjukkan
perawat 108,53, bidan 28,40 dan dokter 17,47 per 100.000 penduduk. Berdasarkan
hasil penelitian dari DEPKES menyebutkan bahwa puskesmas belum mempunyai
sistem penghargaan bagi perawat.

e. Lulusan D3 Keperawatan lebih banyak terserap di Rumah sakit pemerintah


dibandingkan S1. Dengan alasan tidak kuat menggaji lulusan S1 Keperawatan,
banyak rumah sakit pemerintah dan swasta yang menyerap lulusan D3 keperawatan.
Dilihat dari jumlah formasi seleksiCPNS, jumlah S1 sedikit dibutuhkan dibandingkan
D3 keperawatan. Hal ini akan berdampak pada kualitas layanan asuhan keperawatan
pada lingkup medikal bedah yang hanya berorientasi vokasional tidak profesional.

f. Peran dan tanggung jawab yang belum ditetapkan sesuai dengan jenjang pendidikan
sehingga implikasi di rs antara DIII, S1 dan Spesialis belum jelas terlihat.

C. Trend Dan Issue Dalam Keperawatan Maternitas

1. Masalah
a. Penyebab angka kematian bayi masih tinggi kematian pada bayi disebabkan oleh
penyakit menular seperti radang paru-paru, diare dan malaria, Penyakit yang
merenggut paling banyak korban jiwa adalah radang paru-paru 18 persen, atau
sebanyak 1,58 juta anak diare (15 persen, 1,34 juta) dan malaria 8 persen, 0.73 juta
anak.
b. Penyebab angka kelahiran bayi masih tinggi
Penyebab angka kelahiran bayi masih tinggi adalah pelayanan kesehatan yang
semakin meningkat, kurangnya pengetahuan masyarakat progam KB
c. Angka Kematian Ibu (AKI)

24
Angka Kematian Ibu (AKI) tiap tahun atau dua ibu tiap jam meninggal oleh sebab
yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas (Depkes RI,Dirjen Binkesmas,
2004) Penyebab kematian ibu cukup kompleks, dapat digolongkan atas faktor- factor
reproduksi, komplikasi obstetrik, pelayanan kesehatan dan sosio-ekonomi. Penyebab
komplikasi obstetrik langsung telah banyak diketahui dan dapat ditangani, meskipun
pencegahannya terbukti sulit. Perdarahan sebagai penyebab kematian ibu terdiri atas
perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum.
d. Penyakit menular seksual
Penyakit menular seksual, atau PMS adalah berbagai infeksi yang dapat menular dari
satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual. Kelompok remaja dan dewasa
muda (15-24 tahun) adalah kelompok umur yang memiliki risiko paling tinggi untuk
tertular PMS, 3 juta kasus baru tiap tahun adalah dari kelompok ini. Hampir seluruh
PMS dapat diobati.
Namun, bahkan PMS yang mudah diobati seperti gonore telah menjadi resisten
terhadap berbagai antibiotik generasi lama. PMS lain, seperti herpes, AIDS, dan kutil
kelamin, seluruhnya adalah PMS yang disebabkan oleh virus, tidak dapat
disembuhkan. Beberapa dari infeksi tersebut sangat tidak mengenakkan, sementara
yang lainnya bahkan dapat mematikan. Sifilis, AIDS, kutil kelamin, herpes, hepatitis,
dan bahkan gonore seluruhnya sudah pernah dikenal sebagai penyebab kematian.
Beberapa PMS dapat berlanjut pada berbagai kondisi seperti Penyakit Radang
Panggul (PRP), kanker serviks dan berbagai komplikasi kehamilan. Sehingga,
pendidikan mengenai penyakit ini dan upaya-upaya pencegahan penting untuk
dilakukan

2. Penemuan Teknologi Terbaru


a) alat Kontrasepsi Implan Terbaru UGM berhasil menemukan alat kontrasepsi implant
atau susuk KB generasi ke tiga yang dinamakan Gestplan. Kelebihan alat kontresepsi
ini bias bertahan hingga 7 tahun di badingkan implant saat ini yang ber umur 5 tahun.
Penemuan ini hasil dari penelitian dari jurusan Farmatologi dan Toksikologi UGM.
b) Water Birth Proses persalinan atau proses melahirkan yang dilakukan di dalam air,
manfaaatnya ibu akan merasakan lebih relaks karena semua otot yang berkaitan
dengan proses persalinan menjadi lebih elastic. Metode ini juga akan mempermudah
proses mengejar sehingga rasa nyeri selama persalinan tidak terlalu dirasakan, di
dalam air proses proses pembukaan jalan lahir akan lebih cepat.
25
c) Alat USG ( Ultrasonografi ) 3D dan 4D adalah alat USG yang berkemampuan
menampilkan gambar 3 dan 4 dimensi di teknologi ini janin dapat terlihat utuh dan
jelas seperti layaknya bayi yang sesungguhnya ( DrJudi Januadi Endjun S.pog Alat
USG ini bahkan dapat memperlihatkan seluruh tubuh bayi berikut gerak- geriknya
teknologi 3 dan 4 dimensi menjadi pelengkap bila di duga janin dalam keadaan tidak
normal dan perlu di cari kelainan bawaannya seperti bibir sumbing, kelaina pada
jantung dan sebagainya.
d) Pil KB Terbaru Pil KB dengan dorspirenone merupakan pil yang membuat seseorang
merasa lebih nyaman. Mengandung progestin baru dorspirenone yaitu homon yang
sangat menyerupai progesteron salah satu hormon dalam tubuh. Dorspirenone
mempunyai profil farmakologis yang sangat mirip dengan progesteron alami dengan
karateristik memiliki efek antimineralokortoid dan antiandrogenik tidak memiliki
aktifitas ekstrogenik, androgenik, glukortikoid dengan sifat antineralokortikoid. Pil
KB dengan dorspirenone dapat memberikan manfaat tambahan yaitu tidak
menaikkan berat badan, mengurangi gejala kembung, Haid menjadi teratur,
mengurangi nyeri haid, dan mengatur keluarnya darah haid, tidak menaikan tekanan
darah dengan androgennya mengurangi jerawat, dan mempercantik rambut dan kulit.
e) Robot akan digunakan untuk mengobati orang sakit Diagnostik ini robot akan
menggunakan penelitian global untuk memberikan pendapat ahli, beberapa dokter
yang akan berani untuk diabaikan. Pelatihan medis akan beralih dari apa yang orang
tahu, untuk mendapatkan data yang akurat yang robot bisa membuat keputusan, dan
menyediakan “high-touch” dukungan emosional. Ahli bedah akan selalu berada pada
premium, bersama-sama dengan tangan-on wali yang akan semakin berbasis
masyarakat, dengan kualifikasi yang sangat khusus. Operasi remote akan menjadi
bagian rutin setiap pusat spesialis rutin. Batas antara dokter dan perawat akan terus
kabur sebagai perawat berwenang untuk membuat lebih banyak keputusan. Akibatnya
pelatihan perawat akan semakin panjang dan perawat kelas atas akan lebih mahal).

1. Trend pendidikan dini pada janin dalam kandungan


Anak cerdas dan kreatif berkat alunan musik.
Menurut Suzuki (1987), seperti Menurut guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
itu, stimulasi meliputi stimulasi fisik-motorik dengan “mengelus-elus” jabang bayi melalui
kulit perut sang ibu, stimulasi kognitif dengan berbicara dan bercerita kepada janin, dan

26
stimulasi afektif dengan menyentuh perasaan bayi. Makin sering dan teratur perangsangan
diberikan, makin efektif pengaruhnya.

Pada janin, musik akan merangsang perkembangan sel-sel otak. Perangsangan ini sangat
penting karena masa tumbuh kembang otak yang paling pesat terjadi sejak awal kehamilan
hingga bayi berusia tiga tahun. Namun, menurut dr. Jimmy Passat, ahli saraf dari FKUI-
RSCM, dan Isye Widodo, S.Psi, koordinator Parent Education Program RSAB Harapan Kita,
Jakarta, intervensi ini haruslah seimbang. Orang tua sebaiknya tidak hanya menstimulasi
kemampuan otak kiri, tetapi juga otak kanannya.

Oleh para pakar, organ pengontrol pikiran, ucapan, dan emosi ini memang dibedakan atas dua
belahan, kiri dan kanan, dengan fungsi berbeda. Otak kanan berkaitan dengan perkembangan
artistik dan kreatif, perasaan, gaya bahasa, irama musik, imajinasi, lamunan, warna,
pengenalan diri dan orang lain, sosialisasi, serta pengembangan kepribadian. Sementara otak
kiri merupakan tempat untuk melakukan fungsi akademik seperti baca-tulis-hitung, daya
ingat (nama, waktu, dan peristiwa), logika, dan analisis. Oleh karena itu, bila stimulasi
dilakukan secara seimbang, diharapkan anak yang dilahirkan kelak tidak cuma memiliki
kemampuan akademik yang baik tetapi juga kreatif. Kalau dia pintar matematika, dia juga
mampu berbahasa, menulis, dan mengarang dengan baik.

Sementara itu bagi ibu hamil, musik – terutama yang klasik – bisa membebaskannya dari
stres akibat kehamilan. Ini sangat baik sebab, menurut dr. Suharwan Hadisudarmo Sp.OG.
MMR, stres yang tidak dikelola dengan baik, akan berdampak buruk bagi ibu yang
bersangkutan dan perkembangan janin di rahimnya. Stres pada wanita hamil akan
meningkatkan kadar renin angiotensin, yang memang sudah meningkat pada wanita hamil
sehingga akan mengurangi sirkulasi rahim-plasenta-janin. Penurunan sirkulasi ini
menyebabkan pasokan nutrisi dan oksigen kepada janin berkurang. Perkembangan janin pun
terhambat. Hambatan macam ini bisa dihilangkan atau dikurangi bila si ibu mendengarkan
musik klasik, terutama karya Mozart. Cukup 30 menit sehari. Mungkin semua jenis musik,
dari yang tradisional hingga modern, bisa pula dimanfaatkan untuk hal yang sama. Namun,
hingga saat ini yang sudah diteliti dan menunjukkan hasil positif baru musik klasik, terutama
karya Mozart. Jenis musik ini terbukti efektif dalam menstimulasi perkembangan otak
belahan kanan dari janin. Menurut Suzuki (1987), seperti dikutip Utami, bila anak dibesarkan

27
dalam suasana musik Mozart sejak dini, jiwa Mozart yang penuh kasih sayang akan tumbuh
juga dalam dirinya.

2. Trend dan issue dalam keperawatan anak (senam otak)


Beberapa riset menunjukkan bahwa keberuntungan dan peluang bermula dari cara berpikir
seseorang yang menentukan pola tindakannya, Banyak orang sukses di Indonesia dan negara
Timur lainnya, menggunakan intuisi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Di pihak
lain, orang yang juga sukses di Barat justru lebih banyak menggunakan rasionya. Berarti
kesuksesan akan lebih mudah diperoleh bila kita mampu menggunakan intuisi (otak kanan)
dan rasio (otak kiri). Sayangnya, menurut riset yang pernah dilaporkan, hanya 3% penduduk
dunia yang menggunakan otaknya secara seimbang.
Berikut adalah cara melatih agar otak kiri dan otak kanan anak berkembang sama baiknya
dan menjadi seimbang antara kecerdasan emosional (EQ) dan Intelektual (IQ) sehingga
munculah kecedasan spritual (SQ) yang baik juga. Latihan yang bisa dilakukan adalah :
1. Tangan kanan menepuk-nepuk kepala, tangan kiri melakukan gerakan memutar di
atas perut. Lakukan dalam 8 hitungan, lalu lakukan yang sebaliknya.
2. Kepalkan tangan kanan dan lakukan gerakan seperti menumbuk pada paha kanan,
sementara tangan kiri melakukan mengelus paha kiri. Lakukan dalam 8 hitungan, lalu
lakukan yang sebaliknya.
3. Trend dan issue dalam keperawatan dewasa (palliative dan hospice care)
Hospice adalah suatu sistem asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien sakit kronis
atau terminal bersama keluarganya. Sistem ini khusus didesign untuk memenuhi tujuan
perawatan yang berpusat pada keluarga dan dapat melibatkan perawatan dirumah. Perawatan
pada unit day care dan tempat hospice yang sebenarnya (unit perawatan terminal).
Hospice care telah mengembangkan filosofi yang menyatakan bahwakematian adalah sebuah
proses alami yang tidak boleh dipercepat atau ditunda dan bahwa orang tersebut harus tetap
dalam keadaan nyaman.
Hospice care adalah:
a. Perawatan yang diberikan pada orang-oranng penderita penyakit terminal yang
harapan hidupnya enam bulan atau kurang.
b. Jika diperlukan,melibatkan perawatan fisik langsung. Bersifat mendukung keluerga
pasien.

28
c. Diberikan difasilitasi khusus hospic, di fasilitasi peerawatan lain di rumah. Lebih
banyak dilakukan oleh asisten perawatan rumah atau asisten keperawatan dibawah
arahan pemberi asuhan kesehatan profesional.
d. Dilakukan konseling kehilangan untuk membantu orang-orang yang masih hidup agar
menerima kematian orang yang dicintainya.
e. Sebuah program di mana sukarelawan memainkan peran penting, melakukan
kunjungan pribadi yang teratur ke pasien dan keluarga.
Tujuan hospice care antara lain:
a. Pengendalian nyeri sehingga individudapat tetap berpartisipasi aktif dalam hidup
sampai ia meninggal.
b. Mengkoordinasikan layanan dukungan psikologis, spiritual dan sosial untuk pasien
dan keluarga.
c. Mengadakan konseling hukumdan finansial untuk pasien dan keluarga.

D. Palliative Care Penderita Penyakit Terminal Pada Anak

Kebutuhan Anak Yang Terminal


Pertama, komunikasi, dalam hal ini anak sangat perlu di ajak unuk berkomunikasi atau
berbicara dengan yang lain terutama oleh kedua orang tua karena dengan orang tua mengajak
anak berkomunikasi /berbicara anak merasa bahhwa ia tidak sendiri dan ia merasa ditemani.
Kedua, memberitahu kepada anak bahwa ia tidak sendiri dalam menghadapi penyakit
tersebut. Ketiga, berdiskusi dengan siblings (saudara kandung) agar saudara kandung mau
ikut berpartisipasi dalam perawatan atau untuk merawat, Keempat, Soccial support
meningkatkan koping. (Arnold, 1998)

Menjelaskan Kematian Pada Anak


Kebanyakan seorang psikolog percaya bahwa dengan berkata jujur merupakan strategi yang
terbaik dalam mendiskusikan kematian dengan anak. Respon anak terhadap pertanyaan
mengenai kematian merupakan dasar tingkat kematangan anak dalam mengartikan kematian.
Pada anak pra sekolah ,anak mengartikan kematian sebagai : kematian adalah sudah tidak ada
nafas, dada dan perut datar, tidak bergerak lagi,dan tidak bisa berjalan seperti layaknya orang
yang dapat berjalan seperti orang sebelum mati / meninggal. Kebanyakan anak- anak( anak
yang menderita penyakit terminal ) membutuhkan keberanaian, bahwa ia di cintai dan tidak

29
akan merasa di tinggalkan. Tanpa memandang umur, sebagai orang tua seharusnya sensitife
dan simpati, mendukunng apa yang anak rasakan. (White, 2010).

Perbedaan Anak Dan Dewasa Dalam Mengartikan Kematian


Perbedaan anak dan dewasa dalam mengartikan kematian dalam kehidupan adalah Jangan
berfikir kognitif dewasa dengan anak tentang arti kematian, anak tidak memiliki kematangan
emosional dalam mempersepsikan tentang arti kematian , mekanisme koping pada anak
belum terbentuk, Anak di ajak berdiskusi mengenai / tentang tuhan,surga, dan benda-benda
yang tidak terlihat. (Ferrell, & Coyle, 2007: 1194)

Support (Dukungan)
Dukungan sangat diperlukan dan sangat dibutukan oleh anak yang mengidap penyakit
terminal, siapa saja yang terlibat harus mendukung disini yaitu orang tua, teman- teman ,
orang tua yang lainnya (kakek,nenek, tante,paman), dan grife suport group. (Doyle, Hanks
and Macdonald, 2003, 1113)

Tahap-Tahap Kematian ” Kubler-Ross’s ( Kubler-Ross’s Dying)


Menurut Yosep iyus (2007, 175) tahap- tahap kematian dapat dibagi menjadi 5 : Denial and
isolation (menolak dan mengisolasi diri), Anger ( marah), Bargaining ( tawar –menawar ),
Depression ( depresi ), Acceptance ( penerimaan/menerima kematian )

Sumber Daya Manusia


Pelaksana perawatan paliatif adalah tenaga kesehatan, pekerja sosial, rohaniawan, keluarga
relawan. Kriteria pelaksana perawatan paliatif adalah telah mengikuti pendidikan/pelatihan
perawatan paliatif dan telah mendapat sertifikat. Pelatihan dilaksanakan dengan modul
pelatihan . Penyusunan modul pelatihan dilakukan dengan kerjasama antara para pakar
perawatan paliatif dengan Departemen Kesehatan (Badan Pembinaan dan Pengembangan
Sumber Daya Manusia dan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik). Modul-modul
tersebut terdiri dari modul untuk dokter, modul untuk perawat, modul untuk tenaga kesehatan
lainnya, modul untuk tenaga non medis. Pelatih dalam pelatihan adalah Pakar perawatan
paliatif dari RS Pendidikan dan Fakultas Kedokteran. Dalam pelatihan ini Sertifikasi
dikeluarkan dari Departemen Kesehatan c.q Pusat Pelatihan dan Pendidikan Badan PPSDM.
Pada tahap pertama dilakukan sertifikasi pemutihan untuk pelaksana perawatan paliatif di 5
(lima) propinsi yaitu : Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Makasar. Pada tahap

30
selanjutnya sertifikasi diberikan setelah mengikuti pelatihan. (KEPMENKES RI NOMOR:
812, 2007).

Pendidikan. Pendidikan formal spesialis paliatif (ilmu kedokteran palliatif, ilmu keperawatan
palliatif). KEPMENKES RI NOMOR: 812, (2007)

Tempat Dan Organisasi Perawatan Paliatif


1. Rumah sakit :Untuk pasien yang harus mendapatkan perawatan yang memerlukan
pengawasan ketat, tindakan khusus atau peralatan khusus.
2. Puskesmas : Untuk pasien yang memerlukan pelayanan rawat jalan. Rumah
singgah/panti
3. (hospis) : Untuk pasien yang tidak memerlukan pengawasan ketat, tindakan khusus
atau peralatan khusus, tetapi belum dapat dirawat di rumah karena masih memerlukan
pengawasan tenaga kesehatan.
4. Rumah pasien : Untuk pasien yang tidak memerlukan pengawasan ketat, tindakan
khusus atau peralatan khusus atau ketrampilan perawatan yang tidak mungkin
dilakukan oleh keluarga.
Organisasi perawatan paliatif, menurut tempat pelayanan/sarana kesehatannya adalah :
Kelompok Perawatan Paliatif dibentuk di tingkat puskesmas. Unit Perawatan Paliatif
dibentuk di rumah sakit kelas D, kelas C dan kelas B non pendidikan. Instalasi Perawatan
Paliatif dibentuk di Rumah sakit kelas B Pendidikan dan kelas A. Tata kerja organisasi
perawatan paliatif bersifat koordinatif dan melibatkan semua unsur terkait. (KEPMENKES
RI NOMOR: 812, 2007).

Pembinaan Dan Pengawasan


Pembinaan dan pengawasan dilakukan melalui sistem berjenjang dengan melibatkan
perhimpunan profesi/keseminatan terkait. Pembinaan dan pengawasan tertinggi dilakukan
oleh Departemen Kesehatan. (KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007)

Pengembangan Dan Peningkatan Mutu Perawatan Paliatif


Untuk pengembangan dan peningkatan mutu perawatan paliatif diperlukan pemenuhan
sarana, prasarana dan peralatan kesehatan dan non kesehatan., pendidikan dan pelatihan yang
berkelanjutan/Continuing Professional Development untuk perawatan paliatif (SDM) untuk

31
jumlah, jenis dan kualitas pelayanan, menjalankan program keselamatan pasien/patient
safety. (KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007)

Pendanaan
Pendanaan yang diperlukan untuk perawatan Palliative adalah Pengembangan sarana dan
prasarana, Peningkatan kualitas SDM/pelatihan, Pembinaan dan pengawasan, Peningkatan
mutu pelayanan. Sumber pendanaan dapat dibebankan pada APBN/APBD dan sumber-
sumber lain yang tidak mengikat. Untuk perawatan pasien miskin dan PNS dapat dimasukan
dalam skema Askeskin dan Askes. (KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007)

Asuhan Keperawatan Yang Diperlukan Pada Anak Yang Mengalami Penyakit


Terminal
Asuhan keperawatan yang diperlukan dan digunakan pada anak yang mengalami penyakit
terminal adalah ”PALLIATIVE CARE” tujuan perawatan paliatif ini adalah guna untuk
meningkatkan kualitas hidup anak dengan kematian minimal mendekati normal, diupayakan
dengan perawatan yang baik hingga pada akhirnya menuju pada kematian, sehingga
palliative care diharapkan akan menambah kualitas hidup (anak) pada kondisi terminal,
perawatan paliatif berfokus pada gejala rasa sakit (nyeri, dypsnea) dan kondisi (kesendirian)
dimana pada kasus ini mengurangi kepuasan atau kesenangan hidup anak, mengontrol rasa
nyeri dan gejala yang lain,masalah psikologi,social atau spiritualnya dari anak dalam kondisi
terminal (Ferrell, & Coyle, 2007, 48)

Prinsip Dari Perawatan Palliative Care


Menghormati atau menghargai martabat dan harga diri dari pasient dan keluarga pasien,
Dukungan untuk caregiver, Palliateve care merupakan accses yang competent dan
compassionet, Mengembangkan professional dan social support untuk pediatric palliative
care, Melanjutkan serta mengembangkan pediatrik palliative care melalui penelitian dan
pendidikan (Ferrell, & Coyle, 2007: 52)

Palliative Care Plane ( Rencana Asuhan Perawatan Palliative)


Melibatkan seorang partnership antara anak, keluarga, orang tua, pegawai, guru, staff sekolah
dan petugas keseatan yang professional, Suport phisik, emosinal, pycososial, dan spiritual
khususnya, elibatkan anak pada self care, Anak memerlukan atau membutuhkan gambaran
dan kondisi (kondisi penyakit terminalnya) secara bertahap, tepat dan sesuai, Menyediakan
32
diagnostic atau kebutuhan intervensi terapeutik guna memperhatikan/memikirkan konteks
tujuan dan pengaharapan dari anak dan keluarga (Doyle, Hanks and Macdonald, 2003: 42)

Peran Spiritual Dalam Palliative Care


Beberapa tahun terakhir, telah terjadi peningkatan dramatis dalam agama dan keyakinan
spiritual sebagai sumber kekuatan dan dukungan dalam penyakit fisik yang serius Profesional
kesehatan memberikan perawatan medis menyadari pentingnya pasien dalam memenuhi
'kebutuhan spiritual dan keagamaan. (Woodruff , 2004: 1)
Sebuah pendekatan kasihan kebutuhan ini meningkatkan kemungkinan pemulihan atau
perbaikan. Dalam contoh terburuk, ia menawarkan kenyamanan dan persiapan untuk individu
melalui proses traumatis penyakit terakhir sebelum kematian. (Doyle, Hanks and Macdonald,
2003 :101)
Studi pasien dengan penyakit kronis atau terminal telah menunjukkan insiden tinggi depresi
dan gangguan mental lainnya. Dimensi lain adalah bahwa tingkat depresi adalah sebanding
dengan tingkat keparahan penyakit dan hilangnya fungsi agunan. Sumber depresi seperti
sering berbaring dalam isu-isu yang berkaitan dengan spiritualitas dan agama. Pasien di
bawah perawatan paliatif dan dalam keadaan seperti itu sering mempunyai keprihatinan
rohani yang berkaitan dengan kondisi mereka dan mendekati kematian. (Ferrell & Coyle,
2007: 848)
Spiritual dan keprihatinan keagamaan dengan pasien biasa bergumul dengan isu-isu sehari-
hari penyakit yang tidak dapat disembuhkan, dengan orang tua dan mereka yang menghadapi
kematian yang akan datang. Kekhawatiran semacam itu telah diamati bahkan pada pasien
yang telah dirawat di rumah sakit untuk serius tetapi non-terminal penyakit. (Ferrell & Coyle,
2007: 52). Studi lain telah menunjukkan bahwa persentase yang tinggi dari pasien di atas usia
60 menemukan hiburan dalam agama yang memberi mereka kekuatan dan kemampuan untuk
mengatasi, sampai batas tertentu, dengan kehidupan.
Agama kekhawatiran di sakit parah mengasumsikan berbagai bentuk seperti hubungan
seseorang dengan Allah, takut akan neraka dan perasaan ditinggalkan oleh komunitas
keagamaan mereka. Sering menghormati dan memvalidasi individu dorongan agama dan
keyakinan adalah setengah pertempuran ke arah menyiapkan mereka untuk suatu 'baik'
kematian (Ferrell & Coyle, 2007: 1171)

33
Psycho Oncologi Dalam Palliative Care
Psycho Onkologi adalah berkaitan dengan sosial, psikologis, etika dan perilaku segi kanker.
Sebagai bidang studi dan praktek medis, onkologi dan psikologi. Ini adalah studi tentang
aspek-aspek kanker yang melampaui batas-batas perawatan medis. (Ferrell & Coyle, 2007:
67).
Ini adalah semua termasuk wilayah yang bersangkutan dengan beberapa disiplin ilmu yang
berhubungan dengan onkologi bunga. Merangkul ini pembedahan dan obat-obatan, pediatri,
radioterapi, imunologi, epidemiologi, biologi, endokrinologi, patologi, rehabilitasi obat-
obatan, psikiatri dan psikologi dan uji klinis penelitian dengan pengambilan keputusan.
(Doyle, Hanks and Macdonald, 200 :213).
Psycho Onkologi kadang-kadang disebut sebagai psiko-onkologi sosial karena minat patuh
perilaku dan psikososial topik. Hal ini berkaitan dengan pengetahuan dan pengobatan
psikologis, sosial, spiritual, emosional dan aspek fungsional kanker melalui semua tahap, dari
pencegahan, penyakit grafik, sampai kehilangan. Tujuan akhir psiko-onkologi adalah untuk
memperbaiki, di seluruh dunia, perawatan dan kesejahteraan pasien kanker dan keluarga
mereka.( Doyle, Hanks and Macdonald, 2003:103).
Perawatan paliatif mencakup berbagai layanan, namun tujuan jelas. Sasarannya adalah untuk
menawarkan pasien, terserang penyakit serius, terminal atau sebaliknya, sistem pendukung
memimpin menuju kehidupan senormal mungkin. Ini berarti mengendalikan rasa sakit dan
gejala menyedihkan lain individu mungkin mengalami baik karena penyakit atau pengobatan
yang berkaitan dengannya. Perawatan paliatif mencakup perawatan rohani dan psikologis.
Hal ini juga berusaha untuk menawarkan sistem dukungan keluarga dalam membantu
individu beradaptasi dan mengatasi krisis. (Doyle, Hanks and Macdonald, 2003 :7).
Pada intinya, perawatan paliatif adalah setiap bentuk perawatan medis atau perawatan untuk
penyakit yang berfokus pada intensitas mengurangi gejala penyakit. Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa tujuan psiko-onkologi dan perawatan paliatif berjalan sejajar satu sama
lain. (Doyle, Hanks and Macdonald, 2003: 108)

E. Trend Dan Isu Keperawatan Lansia


Permasalahan Pada Lansia
1. Permasalahan Umum
a. Makin besar jumlah lansia yang berada di bawah garis kemiskinan.
b. Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut
kurang diperhatikan,dihargai dan dihormati.

34
c. Lahirnya kelompok masyarakat industry.
d. Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia.
e. Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia.
2. Permasalahan Khusus
a. Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik,mental
maupun sosial.
b. Berkurangnya integrasi sosial usila.
c. Rendahnya produktifitas kerja lansia.
d. Banyaknya lansia yang miskin,terlantar dan cacat.
e. Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat
individualistik.
f. Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu kesehatan
fisik lansia.

Fenomena Bio-psico-sosio-spiritual dan Penyakit Lansia


1. Penurunan fisik
2. Perubahan mental
3. Perubahan-perubahan Psikososial
Karakteristik Penyakit pada Lansia:
1. Penyakit sering multiple,yaitu saling berhubungan satu sama lain.
2. Penyakit bersifat degeneratif yang sering menimbulkan kecacatan.
3. Gejala sering tidak jelas dan berkembang secara perlahan.
4. Sering bersama-sama problem psikologis dan sosial.
5. Lansia sangat peka terhadap penyakit infeksi akut.
6. Sering terjadi penyakit iatrogenik.
Kemudian penyakit lansia meliputi
1. Penyakit-penyakit kanker.
2. 8. Penyakit-penyakit infeksi.
3. Congestif Renal Falure (CRF)
4. 10.Stroke Multiple Sklerosis.
5. 11.Akibat kecelakaan fatal.
6. AIDS.

35
Hasil Penelitian Profil Penyakit Lansia di 4 Kota (Padang,Bandung,Denpasar dan Makassar)
sbb:
1. Fungsi tubuh yang dirasakan menurun : penglihatan (76,24%),daya ingat
(69,39%),seksual (58,04%),kelenturan(53,23%),gigi dan mulut (51,12%).
2. Masalah kesehatan yang sering muncul : sakit tulang atau sendi (69,39%),sakit kepala
(51,15%),daya ingat menurun (38,51%),selera makan menurun (30,08%),mual/perut
perih (26,66%),sulit tidur (24,88%),dan sesak nafas (21,28%).
3. Penyakit kronis : rematik (33,14%),darah tinggi (20,66%),gastritis (11,34%),dan
jantung (6,45%).

Masalah Kesehatan Gerontik


1. Masalah kehidupan seksual
Adanya anggapan bahwa semua ketertarikan seks pada lansia telah hilang adalah mitos atau
kesalahpahaman. (parke, 1990). Pada kenyataannya hubungan seksual pada suami isri yang
sudah menikah dapat berlanjut sampai bertahun-tahun. Bahkan aktivitas ini dapat dilakukan
pada saat klien sakit aau mengalami ketidakmampuan dengan cara berimajinasi atau
menyesuaikan diri dengan pasangan masing-masing. Hal ini dapat menjadi tanda bahwa
maturitas dan kemesraan antara kedua pasangan sepenuhnya normal. Ketertarikan terhadap
hubungan intim dapat terulang antara pasangan dalam membentuk ikatan fisik dan emosional
secara mendalam selama masih mampu melaksanakan.

2. Perubahan prilaku
Pada lansia sering dijumpai terjadinya perubahan perilaku diantaranya: daya ingat menurun,
pelupa, sering menarik diri, ada kecendrungan penurunan merawat diri, timbulnya kecemasan
karena dirinya sudah tidak menarik lagi, lansia sering menyebabkan sensitivitas emosional
seseorang yang akhinya menjadi sumber banyak masalah.

3. Pembatasan fisik
Semakin lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran terutama dibidang
kemampuan fisik yang dapat mengakibatkan penurunan pada peranan – peranan sosialnya.
Hal ini mengakibatkan pula timbulnya ganggun di dalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya
sehingga dapat meningkatkan ketergantunan yang memerlukan bantuan orang lain.

36
4. Palliative care
Pemberian obat pada lansia bersifat palliative care adalah obat tersebut ditunjukan untuk
mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh lansia. Fenomena poli fermasi dapat menimbulkan
masalah, yaitu adanya interaksi obat dan efek samping obat. Sebagai contoh klien dengan
gagal jantung dan edema mungkin diobatai dengan dioksin dan diuretika. Diuretik berfungsi
untu mengurangi volume darah dan salah satu efek sampingnya yaitu keracunan digosin.
Klien yang sama mungkin mengalami depresi sehingga diobati dengan antidepresan. Dan
efek samping inilah yang menyebaban ketidaknyaman lansia.

5. Pengunaan obat
Medikasi pada lansia memerlukan perhatian yang khusus dan merupakan persoalan yang
sering kali muncul dimasyarakat atau rumah sakit. Persoalan utama dan terapi obat pada
lansia adalah terjadinya perubahan fisiologi pada lansia akibat efek obat yang luas, termasuk
efek samping obat tersebut. (Watson, 1992). Dampak praktis dengan adanya perubahan usia
ini adalah bahwa obat dengan dosis yang lebih kecil cenderung diberikan untuk lansia.
Namun hal ini tetap bermasalah karena lansia sering kali menderita bermacam-macam
penyakit untuk diobati sehingga mereka membutuhkan beberapa jenis obat. Persoalan yang
dialami lansia dalam pengobatan adalah :
a. Bingung
b. Lemah ingatan
c. Penglihatan berkurang
d. Tidak bias memegang
e. Kurang memahami pentingnya program tersebut unuk dipatuhi
f. Kesehatan mental

Upaya Pelayanan Kesehatan terhadap Lansia


Upaya pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi azas, pendekatan, dan jenis pelayanan
kesehatan yang diterima.
1. Azas
Menurut WHO (1991) adalah to Add life to the Years that Have Been Added to life, dengan
prinsip kemerdekaan (independence), partisipasi (participation), perawatan (care),
pemenuhan diri (self fulfillment), dan kehormatan (dignity). Azas yang dianut oleh
Departemen Kesehatan RI adalah meningkatkan mutu kehidupan lanjut usia, meningkatkan
kesehatan, dan memperpanjang usia.
37
2. Pendekatan
Menurut World Health Organization (1982), pendekatan yang digunakan adalag sebagai
berikut :
a. Menikmati hasil pembangunan (sharing the benefits of social development)
b. Masing-masing lansia mempunyai keunikan (individuality of aging persons)
c. Lansia diusahakan mandiri dalam berbagai hal (nondependence)
d. Lansia turut memilih kebijakan (choice)
e. Memberikan perawatan di rumah (home care)
f. Pelayanan harus dicapai dengan mudah (accessibility)
g. Mendorong ikatan akrab antar kelompok/ antar generasi (engaging the aging)
h. Transportasi dan utilitas bangunan yang sesuai dengan lansia (mobility)
i. Para lansia dapat terus berguna dalam menghasilkan karya (productivity)
j. Lansia beserta keluarga aktif memelihara kesehatan lansia (self help care and family
care)

3. Jenis
Jenis pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi lim upaya kesehatan, yaituPromotif,
prevention, diagnosa dini dan pengobatan, pembatasan kecacatan, serta pemulihan.
a. Promotif
Upaya promotif juga merupakan proses advokasi kesehatan untuk meningkatkan dukungan
klien, tenaga profesional dan masyarakat terhadap praktek kesehatan yang positif menjadi
norma-norma sosial.

Upaya perlindungan kesehatan bagi lansia sebagai berikut :


1) Mengurangi cedera
2) Meningkatkan keamanan di tempat kerja
3) Meningkatkan perlindungan dari kualitas udara yang buruk
4) Meningkatkan keamanan, penanganan makanan dan obat-obatan
5) Meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan gigi dan mulut

b. Preventif
1) Mencakup pencegahan primer, sekunder dan tersier. Contoh pencegahan primer :
program imunisasi, konseling, dukungan nutrisi, exercise, keamanan di dalam dan
sekitar rumah, menejemen stres, menggunakan medikasi yang tepat.

38
2) Melakukakn pencegahan sekuder meliputi pemeriksaan terhadap penderita tanpa
gejala. Jenis pelayanan pencegahan sekunder: kontrol hipertensi, deteksi dan
pengobatan kanker, skrining : pemeriksaan rektal, mamogram, papsmear, gigi, mulut.
3) Melakukan pencegahan tersier dilakukan sesudah gejala penyakit dan cacat. Jenis
pelayanan mencegah berkembangnya gejala dengan memfasilisasi rehabilitasi,
medukung usaha untuk mempertahankan kemampuan anggota badan yang masih
berfungsi.
c. Rehabilitatif

4. Prinsip Pelayanan Kesehatan Lansia


a. Pertahankan lingkungan aman
b. Pertahankan kenyamanan, istirahat, aktifitas dan mobilitas
c. Pertahankan kecukupan gizi
d. Pertahankan fungsi pernafasan
e. Pertahankan aliran darah
f. Pertahankan kulit
g. Pertahankan fungsi pencernaan
h. Pertahankan fungsi saluran perkemihaan
i. Meningkatkan fungsi psikososial
j. Pertahankan komunikasi
k. Mendorong pelaksanaan tugas

Hukum dan Perundang-undangan yang Terkait dengan Lansia


1. UU No. 4 tahun 1965 tentang Pemberian Bantuan bagi Orang Jomp.

2. UU No.14 tahun 1969 tentang Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja

3. UU No.6 tahun 1974 tentang Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial

4. UU No.3 tahun 1982 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja

5. UU No.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional

6. UU No. 2 tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian

7. UU No.4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman

39
8. UU No.10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga
Sejahtera

9. UU No.11 tahun 1992 tentang Dana Pensiun

10. UU No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan

11. PP No.21 tahun 1994 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera

12. PP No.27 tahun 1994 tentang Pengelolaan Perkembangan Kependudukan


13. UU No. 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia (tambahan lembaran negara Nomor
3796) sebagai pengganti UU No.4 tahun 1965 tentang Pemberian Bantuan bagi Orang Jompo.

UU No. 13 tahun 1998 ini berisikan antara lain :


a. Hak, kewajiban, tugas, serta tanggung jawab pemerintah, masyarakat, dan kelembagaan.
b. Upaya pemberdayaan
c. Upaya peningkatan kesejahteraan sosial lansia potensial dan tidak potensial
d. Pelayanan terhadap lansia
e. Perlindungan sosial
f. Bantuan sosial
g. Koordinasi
h. Ketentuan pidana dan sanksi administrasi
i. Ketentuan peralihan

Beberapa undang-undang yang perlu disusun adalah :


1. UU tentang Pelayanan Lansia Berkelanjutan (Continum of Care)

2. UU tentang Tunjangan Perawatan Lansia

3. UU tentang Penghuni Panti (Charter of Resident’s Right)

4. UU tentang Pelayanan Lansia di Masyarakat (Community Option Program)

Peran Perawat
Berkaitan dengan kode etik yang harus diperhatikan oleh perawat adalah :
1. Perawat harus memberikan rasa hormat kepada klien tanpa memperhatikan suku, ras,
gol, pangkat, jabatan, status social, maslah kesehatan.
2. Menjaga rahasia klien

40
3. Melindungi klien dari campur tangan pihak yang tidak kompeten, tidak etis, praktek
illegal.
4. Perawat berhak menerima jasa dari hasil konsultasi danpekerjaannya
5. Perawat menjaga kompetesi keperawatan
6. Perawat memberikan pendapat dan menggunakannya. Kompetei individu serta
kualifikasi dalam memberikan konsultasi
7. Berpartisipasi aktif dalam kelanjutanyaperkembangannya body of knowledge
8. Berpartipitasi aktif dalam meningkatan standar professional
9. Berpatisipasi dalam usaha mencegah masyarakat, dari informasi yang salah dan
misinterpretasi dan menjaga integritas perawat
10. Perawat melakukan kolaborasi dengan profesi kesehatannya yang lain atau ahli dalam
rangka meningkatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat
termasuk pada lansia.

Program Pemerintah dalam Meningkatkan Kesehatan Lansia


Contoh upaya pemerintah di negara maju dalam meningkatkan kesehatan masyarakatnya,
diantaranya adanya medicare dan medicaid. Medicare adalah program asuransi social federal
yang dirancang untu menyediakan perawatan kesehatan bagi lansia yang memberikan
jaminan keamanan social. Medicare dibagi 2 : bagian A asuransi rumah sakit dan B asuransi
medis. Semua pasien berhak atas bagian A, yang memberikan santunan terbatas untuk
perawatan rumah sakit dan perawatan di rumah pasca rumah sakit dan kunjungan asuhan
kesehatan yang tidak terbatas di rumah. Bagian B merupakan program sukarela dengan
penambhan sedikit premi perbulan, bagian B menyantuni secara terbatas layanan rawat jalan
medis dan kunjungan dokter. Layanan mayor yang tidak di santuni oleh ke dua bagian
tersebut termasuk asuhan keperwatan tidak terampil, asuhan keperawatan rumah yang
berkelanjutan obat-obat yang diresepkan, kaca mata dan perawatan gigi. Medical membayar
sekitar biyaya kesehatan lansia (U.S Senate Committee on Aging, 1991).

Medicaid adalah program kesehatan yang dibiayai oleh dana Negara dan bantuan pemerintah
bersangkutan. Program ini beredar antara satu Negara dengan lainya dan hanya diperuntukan
bagi orang tidak mampu. Medicaid merupakan sumber utama dana masyarakat yang
memberikan asuhan keperawatan di rumah bagi lansia yang tidak mampu. Program ini
menjamin semua layanan medis dasar dan layanan medis lain seperti obta-obatan, kaca mata
dan perawatan gigi.
41
Adapun program kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia yang diperuntukkan khusunya
bagi lansia adalah JPKM yang merupakan salah satu program pokok perawatan kesehatan
masyarakat yang ada di puskesmas sasarannya adalah yang didalamnya ada keluarga lansia.
Perkembangan jumlah keluarga yang terus menerus meningkat dan banyaknya keluarga yang
berisiko tentunya menurut perawat memberikan pelayanan pada keluarga secara professional.
Tuntutan ini tentunya membangun “ Indonesia Sehat 2010 “ yang salah satu strateginya
adalah Jaminan Pemeliharan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Dengan strategi ini diharapkan
lansia mendapatkan yang baik dan perhatian yang layak.

42
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Perawatan paliatif adalah perawatan total dan aktif dari untuk penderita yang penyakitnya
tidaklagi responsive terhadap pengobatan kuratif. Berdasarkan definisi ini maka jelas
perawatan paliatif hanya diberikan kepada penderita yang penyakitnya sudah tidak respossif
terhadap pengobatan kuratif. Artinya sudah tidak dapat disembuhkan dengan upaya kuratif
apapun.
Tujuan umum kebijakan paliatif adalah meningkatkan kualitas hidup yang seoptimal
mungkin bagi penderita dan keluarganya. Yang artinya meningkatkan kualitas hidup dan
menganggap bahwa kematian adalah proses yang normal, tidak mempercepat atau menunda
kematian, menghilangkan rasa nyeri dan keluhan lain yang menganggu, menjaga
keseimbangan psikososial dan spiritual, berusaha agar penderita tetap aktif sampai akhir
hayatnya serta berusaha membantu duka cita pada keluarga.

43
DAFTAR PUSTAKA

Artantihendriyana.(2014).Perawatanpaliatifdankualitashidupbangsa.(Diakses tgl 26 february


2018 pukul 08.00) http://www.unpad.ac.id/2014/03/perawatan-paliatif-dan-kualitas-
hidup-bangsa/.

Brunner & Suddarth Ed.8.Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta: EGC.

Cemy Nur Fitria. (2010). Palliative Care Pada Penderita Penyakit Terminal. Muhammadiyah
Surakarta: Vol. 7 No. 1 . (Diakses 7 april 2018 pukul 19.00 )
file:///C:/Users/user/Downloads/ANAK/58-113-1-SM%20(anak).pdf

KEPMENKES RI NOMOR: 812/ MENKES/SK/VII/2007. Tentang Kebijakan Perawatan


Palliative. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Diakses tanggal 7 april 2018 pukul
19:30).
file:///C:/Users/user/Downloads/20130506131833.Skmenkes_Nomor_812MENKESS
KVII2007_Tentang_Kebijakan_Perawatan_Paliatif.pdf

Kholid Fasihal. (2017). Sistem Komunitas Iii Trend Dan Issue Keperawatan Komunitas
(Home Care). Pontianak : Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran
Universitas Tanjungpura. (Diakses tanggal 7 april 2018 pukul 20: 20 )
file:///C:/Users/user/Downloads/Komunitas-Home-Care.pdf

Nuhonnidkk. (2010). Bunga Rampai Perawatan paliatif . Jakarta : BadanPenerbit FKUI

Potter dan Ferry.(2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Vol.1. Jakarta: EGC

Phipps..J Wilma et al (2003). Medical surgical nursing : Health and illness perspectives,
,Mosby Inc., USA

Sumijatu dkk. (2005). Konsep Dasar Keperawatn Komunitas. Jakarta: EGC.

Trend Dan Isu Keperawatan Gerontik (Diakses tanggal 7 april 2018 pukul 20: 05)
file:///C:/Users/user/Downloads/gerontik/GERONTIK%202.pdf

Trend Dan Issue Dalam Keperawatan Maternitas (Diakses tanggal 7 april 2018 pukul 20:55 )
file:///C:/Users/user/Downloads/mater/MATER%202.pdf

44