Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuannya dipengaruhi

oleh beberapa faktor. Faktor yang paling penting adalah sumber daya manusia.

Pegawai pemerintah berperan sebagai penggerak utama atas kelancaran kegiatan

organisasi pemerintah. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, perlu mengelola

pegawai yang ada secara optimal agar tercipta kinerja yang baik. Kinerja pegawai

yang baik dapat diukur berdasarkan hasil yang diperoleh dari suatu aktivitas yang

dilakukan oleh pegawai tersebut dan akan membuat kinerja suatu organisasi

pemerintah menjadi semakin baik.

Kinerja merupakan ukuran keberhasilan organisasi dalam mencapai

misinya (Simamora 2003:45). Kinerja bisa juga diartikan sebagai hasil kerja yang

dapat dicapai oleh seorang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan

tanggungjawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan secara

legal, tidak melanggar hukum dan tidak bertentangan dengan moral atau etika

(Rivai,2005:15-17). Pegawai adalah orang pribadi yang bekerja pada pemberi

kerja baik sebagai pegawai tetap atau tidak, berdasarkan kesepakaktan kerja baik

tertulis maupun tidak tertulis, untuk melaksanakan suatu pekerjaan dalam jabatan

atau kegiatan tertentu yang ditetapkan oleh pemberi kerja (Robbins, 2006).

Maka dapat disimpulkan bahwa kinerja pegawai merupakan kesediaan

seseorang atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan

menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya dengan hasil seperti


yang diharapkan. Kinerja pegawai merupakan hasil kerja secara kualitas dan

kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai

dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Keberhasilan suatu instansi sangat dipengaruhi oleh kinerja pegawai.

Setiap instansi akan berusaha untuk selalu meningkatkan kinerja pegawainya

demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan suatu instasi. Kontribusi pegawai

pada organisasi akan menjadi penting jika dilakukan dengan tindakan efektif dan

berprilaku secara benar. Agar tetap survive dalam ketidakpastian lingkungan

sekarang ini, organisasi baik yang berfokus pada bisnis maupun publik termasuk

pemerintah harus mampu menciptakan kondisi yang fleksibel dan inovatif. Hal

ini, setidaknya disebabkan oleh pentingnya untuk mempertimbangkan faktor

eksternal organisasi yang semakin sulit untuk diprediksi.

Demi mewujudkan penyelenggaraan pemerintah yang baik maka

pemerintah mencoba mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa atau

dikenal dengan istilah good governance. Menurut Arie Soelendro (2000:13) ,

dalam Arja Sadjiarto (2000) unsur-unsur pokok upaya perwujudan good

governance ini adalah transparency, fairness,responsibility dan accountability.

Sedangkan Hadori Yunus (2000:1) berpendapat bahwa unsur-unsur good

governance adalah tuntutan keterbukaan (transparency), peningkatan efisiensi di

segala bidang (efficiency), tanggung jawab yang lebih jelas (responsibility) dan

kewajaran (fairness). Hal ini muncul sebenarnya sebagai akibat dari

perkembangan proses demokratisasi di berbagai bidang serta kemajuan

profesionalisme. Dengan demikian pemerintah sebagai pelaku utama pelaksanaan


good governance ini dituntut untuk memberikan pertanggungjawaban yang lebih

transparan dan lebih akurat. Hal ini semakin penting untuk dilakukan dalam era

reformasi ini melalui pemberdayaan peran lembaga-lembaga kontrol sebagai

pengimbang kekuasaan pemerintah. Peningkatan kualitas pelayanan pemerintahan

daerah bagi publik sangat penting dilakukan pemerintah daerah demi tercapainya

kepuasan kerja pada masyarakat. Sebagaimana yang kita ketahui tujuan utama

sektor publik adalah pemberian pelayanan publik (publik service) bukan untuk

memaksimumkan laba (Bastian, 2006). Tetapi sampai sekarang, kita sering belum

tahu seperti apa sesungguhnya pelayanan yang akan diiterima rakyat sebagai

warga negara dan bagaimana seharusnya pemerintah menyelenggarakan

pelayanan publik (Syafiie, 2008). Dalam era reformasi sekarang ini isu tentang

pemberian pelayanan publik semakin mencuat kepermukaan. Hal ini tidak dapat

dipisahkan dari tingkat keberadaban manusia yang semakin maju, dimana

pemberian pelayanan yang baik oleh lembaga atau instansi pemberi pelayanan

merupakan kata kunci yang tidak bisa ditawar lagi (Jonathan, 2004). Menurut

Mardiasmo (2002) terdapat 3 fungsi utama sektor publik : (1) Melakukan

pelayanan publik yang sangat vital bagi kepentingan umum. (2) Mendefinisikan

prinsip operasional masyarakat. (3) Menyediakan pelayanan publik yang

diperlukan karena tidak ada sektor swasta atau nirlaba yang ingin menanganinya.

Selain good governance, faktor lain yang juga berpengaruh terhadap

kinerja organisasi adalah pengendalian internal. Pengendalian internal merupakan

kebijakan-kebijakan, prosedur-prosedur, dan sistem informasi yang digunakan


untuk melindungi aset-aset perusahaan dari kerugian atau korupsi, dan untuk

memelihara keakuratan data keuangan (Dasaratha & Frederick 2011:8).

Sistem pengendalian internal pemerintah adalah proses yang integral pada

tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan

seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan yang memadai atas tercapainya

tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan

keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-

undangan (PP No. 60 Tahun 2008). Mengenai pengaruh peran auditor internal

serta faktor-faktor pendukungnya terhadap peningkatan pengendalian internal dan

kinerja perusahaan disimpulkan bahwa pegawai sangat besar pengaruhnya

terhadap pelaksanaaan pengendalian internal. Dengan pengendalian internal yang

baik maka tercipta organisasi/perusahaan yang economy, efficiency dan

effectiveness untuk menciptakan good governance dalam institusi yang pada

akhirnya bermuara pada kinerja organisasi (Tugiman, 2000). Untuk itulah satuan

pengawas internal dibentuk untuk mengevaluasi dan pemantauan terhadap

aktivitas manajemen dalam pencapaian tujuan serta memastikan aktivitas

organisasi telah dijalankan dengan efektif dan efisien (Asy”ari et al. 2014).

Kinerja pegawai dalam suatu organisasi akan nampak dari sejauh mana

komitmen yang ditunjukkan oleh aparatur pemerintah terhadap organisasi.

Robbins dan Judge (2009: 238) menyatakan bahwa seorang individu berkomitmen

pada tujuan. Tujuan-tujuan yang ditentukan secara partisipatif akan menghasilkan

kinerja yang tinggi, dalam hal ini dapat dikatakan bahwa kinerja dipengaruhi oleh

komitmen organisasi. Komitmen organisasi adalah suatu keadaan dimana


seseorang karyawan memihak suatu organisasi tertentu serta tujuan-tujuan dan

keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut

(Robbins dan Judge, 2009: 100). Setiap pegawai dalam organisasi harus memiliki

komitmen yang tinggi terhadap pencapaian misi, visi dan tujuan organisasi

(Mahmudi, 2013: 22). Melihat definisi-definisi tersebut menyatakan ada

keterkaitan antara komitmen organisasional dengan kinerja organisasi, termasuk

kinerja organisasi pemerintah. Dengan adanya penetapan sasaran dan didukung

oleh komitmen organisasi yang tinggi, membuat setiap manajer lebih

mementingkan kepentingan organisasi dari pada kepentingan pribadi atau

kelompok dan akan berusaha lebih keras untuk mencapai sasaran yang telah

ditetapkan.

Ada 4 penelitian yang dijadikan peneliti sebagai acuan dalam melakukan

penelitian ini, yaitu Dian Wara Pingka (2013); Nur Azlina dan Ira Amelia (2014);

Lukmanul Hakim et al. (2016); dan Fierda Pangestika (2016).

Dian Wara Pingka (2013) melakukan penelitian mengenai Pengaruh

Komitmen Organisasi dan Ketidakpastian Lingkungan Terhadap Kinerja Pegawai

Pemerintah Kota Medan. Variabel independen dalam penelitian ini adalah

komitmen organisasi dan ketidakpastian lingkungan, sedangkan variabel

dependennya yaitu kinerja pegawai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa

komitmen organisasi dan ketidakpastian lingkungan memiliki pengaruh signifikan

terhadap kinerja pegawai.

Penelitian yang kedua dilakukan oleh Nur Azlina dan Ira Amelia (2014)

yaitu meneliti Pengaruh Good Governance dan Pengendalian Intern terhadap


Kinerja Pemerintah Kabupaten Pelalawan. Variabel independen dalam penelitian

ini adalah good governance dan pengendalian intern.variabel dependennya adalah

kinerja pemerintah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa good governance dan

pengendalian intern berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja pemerintah.

Penelitian yang ketiga dilakukan oleh Lukmanul Hakim et al (2016) yaitu

meneliti Pengaruh Komitmen Organisasional, Sistem Pengendalian Intern

Pemerintah, dan Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Manajerial (Survey Pada

Skpd Sumbawa dan Sumbawa Barat). Variabel independen dalam penelitian ini

adalah komitmen organisasional, sistem pengendalian dan gaya kepemimpinan,

sedangkan variabel dependen yaitu kinerja pegawai. Hasil penelitian ini adalah

komitmen organisasional dan sistem pengendalian berpengaruh positif terhadap

kinerja pegawai sedangkan gaya kepemimpinan tidak berpengaruh terhadap

kinerja pegawai.

Penelitian yang keempat dilakukan oleh Fierda Pangestika (2016) yaitu

meneliti Pengaruh Pengendalian Internal, Good governance, dan Komitmen

Organisasi terhadap Kinerja Pegawai Bidang Keuangan Pemerintah Daerah

Kabupaten Temanggung. Variabel independen dalam penelitian ini adalah

Pengendalian Internal, Good governance, dan Komitmen Organisasi, sedangkan

variabel dependen yaitu kinerja pegawai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa

pengendalian internal, good governance, dan komitmen organisasi, secara

bersama-sama, berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai.

Fenomena yang baru ini terjadi yaitu belum optimalnya pelayanan

administrasi pemerintahan dan pelayanan publik Pemerintah Kota Medan


disebabkan oleh belum optimalnya aparatur sipil melaksanakan tugasnya sesuai

dengan standar pelayanan minimal yang merupakan tolok ukur kinerja dalam

menentukan capaian jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan

wajib daerah. Peningkatan kinerja aparatur sipil harus dilakukan, di antaranya

melalui penciptaan iklim organisasi yang dapat mendorong semangat kerja. Teori

sumber daya manusia (SDM) menyatakan semangat kerja memiliki hubungan erat

dengan iklim organisasi tempat pegawai itu bekerja karena memengaruhi cara

hidup seseorang, kepada siapa ia berhubungan, siapa yang ia sukai, bagaimana

kegiatan kerjanya, apa yang ingin ia capai, dan bagaimana caranya menyesuaikan

diri dengan organisasi (Blumenstock dan Pace dalam Steers, 1985). Iklim

organisasi pada instansi pemerintahan terkesan belum mampu memotivasi

aparatur untuk meningkatkan kinerjanya karena dimensi-dimensi iklim organisasi

yang ideal belum terwujud sesuai dengan kebutuhan dan harapan aparatur. Iklim

organisasi pada Pemerintah Kota Medan yang belum terwujud dengan baik

diduga merupakan salah satu penyebab kinerja pengelolaan keuangan Pemerintah

Kota Medan belum optimal.

Bertentangan dengan fenomena tersebut, berdasarkan Laporan Kinerja

Pemerintah Kota Medan Tahun 2014, kinerja Pemerintah Kota Medan dikaitkan

dengan pertanggungjawaban publik terhadap capaian sasaran strategis tahun 2014

justru meningkat menjadi 101,08% dari 90,12% tahun 2013, seperti diilustrasikan

pada Gambar 1.1. Bahkan sejak 2011, capaian kinerja Pemerintah Kota Medan

selalu dikategorikan sangat berhasil (kriteria yang digunakan dalam Laporan


Kinerja: ≥ 85= sangat berhasil). Artinya, kinerja Pemerintah Kota Medan dinilai

sangat efektif karena target yang ditetapkan selalu terealisasi ≥ 85%.

105,00%
100,00%
95,00%
90,00%
85,00%
80,00%
2011 2012 2013 2014
CapaianKinerja 95,39% 96,62% 90,12% 101,08%

Gambar 1.1 Capaian Kinerja Sasaran Strategis Tahun 2011-2014


Sumber: Laporan Kinerja Pemerintah Kota Medan Tahun 2014, 2015
(data diolah)
Ketidaksinkronan antara baiknya kualitas LKPD berdasarkan opini BPK,

berhasilnya capaian kinerja menurut Laporan Kinerja tersebut, dan rendahnya

kualitas pelayanan publik menimbulkan kritik. Beberapa anggota DPRD Kota

Medan yang tergabung dalam panitia khusus pembahasan Laporan Keterangan

Pertanggungjawaban akhir masa jabatan Wali Kota Medan 2011–2015

menyatakan kekesalannya bahwa informasi yang disampaikan dalam Laporan

Keterangan Pertanggungjawaban cukup bagus, tetapi fakta di lapangan sangat

berbeda (Bangun, 2015).

Alasan dilakukan penelitian pada Pemerintah Kota Medan karena Instansi

Pemerintah salah satu organisasi publik yang bertujuan mensejahterakan

masyarakat, seharusnya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat

melalui kinerja yang baik khususnya kinerja pegawai. Pada kenyataan belakangan

ini sering terjadi absen yang tinggi dan kasus korupsi yang terjadi di beberapa
instansi pemerintah dan kebanyakan pelakunya dilakukan oleh oknum

pegawainya sendiri. Hal tersebut mencerminkan bahwa kinerja pegawai pada

instansi tersebut belum dapat mencapai tujuan organisasi dengan baik.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian

dengan mengambil judul : “Pengaruh Kebijakan Good Governance,

Pengendalian Internal, dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja

Pegawai Pemerintah Kota Medan”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah kebijakan good governance berpengaruh secara parsial terhadap

kinerja pegawai Pemerintah Kota Medan?

2. Apakah pengendalian internal berpengaruh secara parsial terhadap kinerja

pegawai Pemerintah Kota Medan?

3. Apakah komitmen organisasi berpengaruh secara parsial terhadap kinerja

pegawai Pemerintah Kota Medan?

4. Apakah kebijakan good governance, pengendalian internal dan komitmen

organisasi berpengaruh secara simultan terhadap kinerja pegawai

Pemerintah Kota Medan?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui apakah kebijakan good governance berpengaruh secara

parsial terhadap kinerja pegawai pemerintah Kota Medan.


2. Untuk mengetahui apakah pengendalian internal berpengaruh secara

parsial terhadap kinerja pegawai pemerintah Kota Medan.

3. Untuk mengetahui apakah komitmen organisasi berpengaruh secara parsial

terhadap kinerja pegawai pemerintah Kota Medan.

4. Untuk mengetahui apakah Kebijakan good governance, pengendalian

internal dan komitmen organisasi berpengaruh secarra simultan terhadap

kinerja pegawai pemerintah Kota Medan.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta dapat menerapkan

pengalaman dan ilmu yang telah didapat kedalam praktek.

2. Bagi Pemerintah

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dan

sumbangan pemikiran dalam memanfaatkan analisis tentang kinerja

pegawai khususnya yang berkaitan dengan Pengendalian Internal, Good

governance, dan Komitmen Organisasi. Kemudian selanjutnya dapat

digunakan sebagai perbaikan sekaligus meningkatkan Kinerja Pegawai.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya yang mengambil tema

yang sama