Anda di halaman 1dari 10

1.

Definisi Keluarga
2. Bentuk / Type Keluarga
3. Fungsi dan Peran Keluarga
4. Konsep Genogram
5. Tugas Perkembangan Keluarga
6. Struktur keluarga
7. Koping Keluarga
8. Peran Perawat Keluarga
9. Aspek Legal dan Etik Melakukan Kunjungan rumah

1. Definisi Keluarga
Menurut BKKBN (1999). Keluarga adalah dua orang atau lebih yang
dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi
kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang layak, bertaqwa kepada
Tuhan, memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota
keluarga dan masyarakat serta lingkungannya.
Menurut Friedman (1998), definisi keluarga adalah dua atau le bih
individu tergabung karena ikatan tertentu untuk saling membagi
pengalaman dan melakukan pendekatan emosional, serta
mengidentifikasi diri mereka sebagian dari keluarga.

2. Bentuk / Type Keluarga


a. The nuclear family (keluarga inti)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak.
b. The dyad family
Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup
bersama dalam satu rumah
c. Keluarga usila
Keluarga yang terdiri dari suami istri yang sudah tua dengan anak
sudah memisahkan diri
d. The childless family
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk
mendapatkan anak terlambat waktunya, yang disebabkan karena
mengejar karir/pendidikan yang terjadi pada wanita
e. The extended family (keluarga luas/besar)
Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam
satu rumah seperti nuclear family disertai : paman, tante, orang tua
(kakak-nenek), keponakan, dll)
f. The single-parent family (keluarga duda/janda)
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah dan ibu) dengan anak,
hal ini terjadi biasanya melalui proses perceraian, kematian dan
ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan)
g. Commuter family
Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu kota
tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang bekerja diluar
kota bisa berkumpul pada anggota keluarga pada saat akhir pekan
(week-end)
h. Multigenerational family
Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang
tinggal bersama dalam satu rumah
i. Kin-network family
Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling
berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan pelayanan
yang sama. Misalnya : dapur, kamar mandi, televisi, telpon, dll)
j. Blended family
Keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah kembali
dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya
k. The single adult living alone / single-adult family
Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena
pilihannya atau perpisahan (separasi), seperti : perceraian atau
ditinggal mati.
3. Fungsi dan Peran Keluarga
Menurut Friedman (1998), lima fungsi keluarga adalah sebagai berikut:
 Fungsi Afektif, adalah fungsi internal keluarga untuk pemenuhan
kebutuhan psikososial, saling mengasuh dan memberikan cinta
kasih, serta saling menerima dan mendukung.
 Fungsi sosialisasi, adalah proses perkembangan dan perubahan
individu tempat anggota keluarga berinteraksi sosial dan belajar
berperan di lingkungan sosial
 Fungsi reproduksi, adalah fungsi keluarga meneruskan
kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia.
Fungsi ekonomi adalah fungsi keluarga untuk memenuhi
kebutuhan keluarga, seperti sandang, pangan, dan papan.
 Fungsi perawatan kesehatan, adalah kemampuan keluarga untuk
merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan.

Peran Keluarga, Setiap anggota keluarga mempunyai struktur peran


formal dan informal. Misalnya, mempunyai peran formal sebagai
kepala keluarga dan pencari nafkah. Peran formal ayah adalah
sebagai panutan pelindung keluarga.

4. Konsep Genogram
Genogram adalah suatu alat bantu berupa peta skema (visual map) dari
silsilah keluarga pasien yang berguna bagi pemberi layanan kesehatan
untuk segera mendapatkan informasi tentang nama anggota keluarga
pasien, kualitas hubungan antar anggota keluarga.3 Genogram adalah
biopsikososial pohon keluarga, yang mencatat tentang siklus kehidupan
keluarga, riwayat sakit di dalam keluarga serta hubungan antar anggota
keluarga.
Unsur-unsur Genogram di dalam genogram berisi :
 nama
 umur
 status menikah
 riwayat perkawinan
 anak-anak
 keluarga satu rumah
 penyakit-penyakit spesifik
 tahun meninggal dan
 pekerjaan.
Juga terdapat informasi tentang hubungan emosional, jarak atau konflik
antar anggota keluarga, hubungan penting dengan profesional yang lain
serta informasi-informasi lain yang relevan. Dengan genogram dapat
digunakan juga untuk menyaring kemungkinan adanya kekerasan
(abuse) di dalam keluarga.

Genogram idealnya diisi sejak kunjungan pertama anggota keluarga,


dan selalu dilengkapi (update) setiap ada informasi baru tentang
anggota keluarga pada kunjungan-kunjungan selanjutnya. Dalam teori
sistem keluarga dinyatakan bahwa keluarga sebagai sistem yang saling
berinteraksi dalam suatu unit emosional. Setiap kejadian emosional
keluarga dapat mempengaruhi atau melibatkan sediktnya 3 generasi
keluarga. Sehingga idealnya, genogram dibuat minimal untuk 3
generasi.

Dengan demikian, genogram dapat membantu untuk :


 mendapat informasi dengan cepat tentang data yang terintegrasi
antara kesehatan fisik dan mental di dalam keluarga
 pola multigenerasi dari penyakit dan disfungsi

5. Tugas Perkembangan Keluarga


Meskipun setiap keluarga melalui tahapan perkembangannya secara
unik, namun secara umum seluruh keluarga mengikuti pola yang sama
(Rodgers cit Friedman, 1998) :
1. Pasangan baru (keluarga baru)
Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki dan
perempuan membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan
meninggalkan (psikologis) keluarga masing-masing :
2. Keluarga child-bearing (kelahiran anak pertama)
Keluarga yang menantikan kelahiran, dimulai dari kehamilan
samapi kelahiran anak pertama dan berlanjut damapi anak pertama
berusia 30 bulan :
3. Keluarga dengan anak pra-sekolah
Tahap ini dimulai saat kelahiran anak pertama (2,5 bulan) dan
berakhir saat anak berusia 5 tahun
4. Keluarga dengan anak sekolah
Tahap ini dimulai saat anak masuk sekolah pada usia enam tahun
dan berakhir pada usia 12 tahun. Umumnya keluarga sudah
mencapai jumlah anggota keluarga maksimal, sehingga keluarga
sangat sibuk :
5. Keluarga dengan anak remaja
Dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya
berakhir sampai 6-7 tahun kemudian, yaitu pada saat anak
meninggalkan rumah orangtuanya. Tujuan keluarga ini adalah
melepas anak remaja dan memberi tanggung jawab serta kebebasan
yang lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi lebih dewasa :
6. Keluarga dengan anak dewasa (pelepasan)
Tahap ini dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan
berakhir pada saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya
tahap ini tergantung dari jumlah anak dalam keluarga, atau jika ada
anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua
7. Keluarga usia pertengahan
Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan
rumah dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan
meninggal :
8. Keluarga usia lanjut
Tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai pada saat salah
satu pasangan pensiun, berlanjut saat salah satu pasangan
meninggal damapi keduanya meninggal.

6. Struktur Keluarga
Menurut Friedman struktur keluarga terdiri atas:
1. Pola dan proses komunukiasi
2. Struktur peran
3. Struktur kekuataan
4. Nilai-nilai keluarga
7. Koping Keluarga
STRATEGI KOPING KELUARGA INTERNAL
a. Strategi hubungan
 Mengandalkan kelompok keluarga
Keluarga tertentu saat mengalami tekanan mengatasi dengan menjadi lebih
bergantung pada sumber mereka sendiri. Tipe koping keluarga ini biasanya
berasal dari pengaruh etnik protestan tradisional, yang menilai dan melihat
pengendalian dan kemandirian sebagai hal yang khususnya dibutuhkan
selama masa sulit.
 Kebersamaan yang lebih besar
Salah satu cara membuat keluarga makin erat dan memelihara serta
mengelola tingkat stres dan moral yang dibutahkan keluarga adalah dengan
berbagi perasaan dan pemikiran, serta terlibat dalam pengalaman atau
aktivitas keluarga. Kebersamaan yang lebih besar menghasilkan kohesi
keluarga yang lebih tinggi, atribut keluarga yang mendapatkan perhatian
luas sebagai atribut keluarga inti (Olson, 1993).
 Fleksibilitas peran
Perubahan yang cepat dan pervasif dalam masyarakat kita serta dalam hidup
keluarga, khususnya pada pasangan, merupakan tipe strategi keluarga yang
sangat kuat. Olson (1993) dan Walsh (1998) telah menekankan bahwa
fleksibilitas peran adalah satu dari dimensi utama adaptasi keluarga.
Keluarga harus mampu beradaptasi terhadap perubahan perkembangan dan
lingkungan. Ketika keluarga berhasil mengatasi, meluarga mampu
memelihara suatu keseimbangan dinamik antara perubahan dan stabilitas.
Fleksibilitas peran memungkinkan keseimbangan ini berlanjut.
b. Strategi kognitif
1. Normalisasi
Strategi koping fungsional keluarga lainnya adalah kecenderungan bagi
keluarga untuk menormalisasi sesuatu sebanyak mungkin saat mereka
mengatasi stresor jangka panjang yang cenderung mengganggu kehidupan
keluarga dan aktivitas rumah tangga. normalisasi adalah proses terus
menerus yang melibatkan pengakuan pentakit kronik tetapi menegaskan
kehidupan keluarga sebagai kehidupan keluarga yang normal, menegaskan
efek sosial memiliki anggota yang memiliki atau menderita penyakit kronik
sebagai suatu yang minimal, dan terlibat dalam perilaku yang menunjukkan
kepada orang lain bahwa keluarga tersebut adalah normal. keluarga
menormalkan dengan memenuhi ritual dan rutinitas. hal ini membantu
keluarga mengatasi stress dan meningkatkan rasa keutuhan sepanjang
waktu, sangat penting guna menormalisasi situasi keluarga (Faise, 2000).
2. Pengendalian makna masalah dengan membingkai ulang dan
penilaian pasif
Keluarga yang menggunakan strategi koping ini cenderung mlihat aspek
positif dari peristiwa hidup penuh stres menjadi tidak terlalu penting dalam
hierarki nilai keluarga. Hal ini ditandai dengan anggota keluarga yang
memiliki rasa percaya dalam mengatasi keganjilan dengan
mempertahankan pandangan opimis terhadap peristiwa, terus memiliki
harapan dan berfokus pada kekuatan dan potensi.
3. Pemecahan masalah bersama
Pemecahan masalah keluarga yang efektif meliputi 7 langkah:
a. Mengidentifikasi masalah
b. Mengkomunikasi tentang masalah
c. Menghasilkan solusi yang mungkin
d. Memutuskan satu dari solusi
e. Melakukan tindakan
f. Memantau atau memastikan bahwa tindakan dilakukan
g. Mengevaluasi seluruh proses pemecahan masalah
h. Mendapatkan informasi dan pengetahuan
Keluarga yang berbasis kognitif berespon terhadap stres dengan mencari
pengetahuan informasi berkenaan dengan stresor dan kemungkinan stresor.
Hal ini khususnya terbukti dalam kasus masalah kesehatan berat atau yang
mengancam hidup. Dengan mendapatkan informasi yang bermanfaat, dapat
meningkatkan perasaan memiliki beberapa pengendalian terhadap situasi
dan mengurangi rasa takut keluarga terhadap sesuatu yang tidak diketahui.

c. Strategi komunikasi
· Terbuka dan jujur
Anggota keluarga yang menunjukkan keterbukaan, kejujuran, pesan yang
jelas dan perasaan serta afeksi yang lebih besar dibutuhkan pada masa ini.
Satir mengamati bahwa komunikasi keluarga yang fungsional adalah
langsung, terbuka, jujur dan jelas.
· Menggunakan humor dan tawa
Studi mengenai resilience menekankan bahwa humor tidak terhingga
nilainya dalam mengatasi penderitaan (Walsh, 1998). Humor tidak hanya
dapat menyokong semangat, humor juga dapat menyokong sistem imun
seseorang dalam mendorong penyembuhan.

STRATEGI KOPING KELUARGA EKSTERNAL


a. Strategi komunikasi
Kategori ini merujuk pada upaya koping keluarga yang terus menerus,
jangka panjang, dan umum bukan upaya seseorang menyesuaikan untuk
mengurangi stresor khusus siapapun. Pada kasus ini, anggota keluarga ini
adalah peserta aktif (sebagai anggota aktif atau posisi pimpinan) dalam klub,
organisasi dan kelompok komunitas. hubungan komunitas yang kreatif
dapat dibuat untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti meminta
anggota keluarga lansia yang kurang memiliki kontak keluarga memberikan
bantuan disentra perawatan anak yang kekurangan staf (Walsh, 1998).
b. Memanfaatkan sistem dukungan sosial
· Dukungan sosial keluarga
Merujuk pada dukungan sosial yang dirasakan oleh anggota keluarga.
· Sumber dukungan keluarga
Menurut Caplan (1974) terdapat 3 sumber dukungan sosial umum. Terdiri
atas jaringan informal yang spontan. Dukungan terorganisasi yang tidak
diarahkan oleh petugas kesehatan profesional dan upaya terorganisasi oleh
profesional kesehatan.
· Dukungan spritual
Berbagai studi menunjukkan hubungan yang jelas antara kesejahteraan
spritual dan peningkatan kemampuan individu atau keluarga untuk
mengatasi stres dan penyakit. Agama adalah dorongan yang kuat dan
pervasif dalam membentuk keluarga (Miller, 2000)

8. Peran Perawat Keluarga


a) Sebagai pendidik.
b) Sebagai koordinator pelaksana pelayanan keperawatan.
c) Sebagai pelaksana pelayanan perawatan.
d) Sebagai supervisor pelayanan keperawatan.
e) Sebagai advokat keluarga. Sebagai pembela (advokat),
f) Sebagai fasilitator perawat bisa menjadi tempat bertanya
individu, dan masyarakat untuk memecahkan masalah kesehatan
g) Sebagai peneliti.

9. Aspek Legal dan Etik Melakukan Kunjungan rumah

Seorang perawat dikatakan legal dalam menjalankan praktik home


care apabila telah memiliki lisensi dan surat ijin praktik perawat ( SIPP).
Praktik mandiri perawat dapat dilakukan melalui kolaborasi dengan
tenaga kesehtan lain dalam memberikan asuhan keperawatan
(Fatchulloh, 2015).
Isu legal yang paling kontroversial dalam praktik perawatan di rumah
antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Resiko yang berhubungan dengan pelaksanaan prosedur dengan
teknik yang tinggi, seperti pemberian pengobatan dan transfusi darah
melalui IV di rumah.
b. Aspek legal dari pendidikan yang diberikan pada klien seperti
pertanggungjawaban terhadap kesalahan yang dilakukan oleh anggota
keluarga karena kesalahan informasi dari perawat.
c. Pelaksanaan peraturan Medicare atau peraturan pemerintah lainnya
tentang perawatan di rumah. Karena biaya yang sangat terpisah dan
terbatas untuk perawatan di rumah, maka perawat yang memberi
perawatan di rumah harus menentukan apakah pelayanan akan
diberikan jika ada resiko penggantian biaya yang tidak adekuat.
Seringkali, tunjangan dari Medicare telah habis masa berlakunya
sedangkan klien membutuhkan perawatan yang terus-menerus tetapi
tidak ingin atau tidak mampu membayar biayanya.
Aspek etik dalam home care
 Kode etik menurut ANA (1985) menyebutkan bahwa perawat
menjaga hak klien terhadap privasi dengan bijaksana melindungi
informasi yang bersifat rahasia.
 Kode etik keperawatan indonesia ( PPNI, 2000) yaitu perawat wajib
merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan dengan
tugas yang dipercayakan kepadanyakecuali jika diperlukan oleh
yang berwenang sesuai ketentuan hokum yang berlaku (Muhamad
Mu’in, 2015).
Beberapa perawat akan menghadapi dilema etis bila mereka harus
memilih antara menaati peraturan atau memenuhi kebutuhan untuk klien
lansia, miskin dan klien yang menderita penyakit kronik. Perawat harus
mengetahui kebijakan tentang perawatan di rumah untuk melengkapi
dokumentasi klinis yang akan memberikan penggantian biaya yang
optimal untuk klien. Didalam praktik juga harus memperhatikan dimensi
politi, etika dan isu-isu seperti akses ke layanan atau alokasi sumber
daya, menajement kasus menjadi semakin pragmatis, serta berbagai
tanggapan dari masyarakat terhadap praktik mandiri (Kristin
Bjornsdottir, 2009).

Daftar Pustaka

Sudiharto. 2007. Asuhan keperawatan Keluarga dengan pendekatan


Keperawatan Transkultural,. Jakarta : EGC 2007
Fatchulloh. (2015). Home care as a private in indonesia. Semarang :
PSIK FK UNDIP.