Anda di halaman 1dari 3

TYPE 2 LEPRA REACTION IN AN IMMUNOCOMPROMISED

PATIENT PRECIPITATED BY FILARIASIS

ABSTRAK

Pasien yang menderita AIDS dan KUSTA secara umum disertai dengan kusta tipe 1 reaktif, ada
beberapa laporan yang terisolasi dari kusta tipe 2 reaktif pada pasien retropositif yang terkena
kusta. Kami menyajikan laporan kasus laki-laki 35 tahun yang terkena AIDS ,lympadenitis TBC,
dan kusta lepromatosa dengan episode berulang dari kusta tipe 2 reaktif yang bermanifestasi
sebagai eritema nodusum leprosum (ENL). Dipstick enzyme/linken imuno sorbent assay(ELISA)
untuk antigen farial yang positif. Pasien diobati dengan 100 mg thalidomide harian, 300mg
diethylcarbamazine dan dimodifikasi terapi multi drug (MDT) untuk kusta. Pengobatan tersebut
merespon dengan baik dan tidak memiliki reaksi lebih lanjut dalam 6 bulan terakhir.

PENDAHULUAN

Kusta juga dikenal sebagai penyakit Hansen, penyakit Hansen adalah penyakit kronis yang
disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Kecenderungan basil yang mempengaruhi saraf perifer,
menghasilkan karakteristik deformitas atau kusta tipe 1/tipe 2 reaktif melemahkan penyebab
utama morbiditas. Lepra tipe 2 reaktif adalah immunologically mediated gell dan coomb’s reaksi
hipersensitif. Hal ini terjadi pada pasien dengan lepromatous dan batas kusta lepramotous selalu
sebelum selama dan jarang setelah terapi multi drugs (MDT) untuk kusta. Pasien HIV yang juga
memiliki kusta biasanya hadir dengan kusta tipe 1 reaktif dan ada banyak laporan dan ulasan
mengenai fenomena ini. Persentase ini dianggap sebagai bentuk pemulihan kekebalan dari
sindrom inflamasi. Sebaliknya, terjadinya kusta tipe 2 reactif sangat jarang pada pasien ini
bahkan dalam spectrum lepromatous. Tidak ada yang menjelaskan fenomena ini sampai
waktunya. Dalam dekade terakhir meskipun banyak laporan dari kusta tipe 1 reactif pada pasien
HIV yang terinfeksi kusta, laporan kusta tipe 2 reactif pada pasien tersebut telah langka. Kami
menyajikan sebuah kasus AIDS dengan kusta lepromatosa dengan lipadenitis TBC dengan kusta
tipe 2 yang kambuh yang bermanifestasi sebagai eritema nodusum leprosum (ENL) mungkin
dipicu oleh fillariasis. Karena adanya kelangkaan terjadinya fenomena ini kami melaporkan
kasus ini.

LAPORAN KASUS

Menyajikan seorang laki-laki usia 35 tahun dengan episode demam tinggi berulang tanpa fariasi
diurnal dengan warna merah, lesi masa 1 tahun yang lalu. Lesi yang terdapat diwajah, telinga,
badan bagian atas dan tungkai atas dan episode ini sudah berlangsung 1 minggu. Dia memiliki 6
episode tersebut dalam 1 tahun terakhir.dia juga mengeluhkan sakit pada sendi lutut bilateral
selama 1 minggu tanpa pembengkakan atau gerakan terbatas.

Pasien yang mendapatkan terapi ART (ANTI RETROVIRAL) selama 1 tahun dengan AZT
lamifudine, efavirenz. Dia memiliki limfadenitis inguinal 7 bulan yang lalu, untuk sitologi
aspirasi jarum yang baik, dilakukan yang menunjukkan lipadenitis TBC dan pengobatan
antituberkula ATT. Dia sekarang mengambil isoniazid 300 mg rifampisin 450 mg dan etambutol
825 mg. Dia telah mengambi MDT 2x dalam satu tahun terakhir untuk kusta multi basiler dan
pengobatan kusta yang gagal. Pada pemeriksaan pasien dengan demam dan kurus dengan indeks
masa tubuh 18,5 kg/m 2. Pucat berat dengan oedem pitting bilateral. Ada gejala glove and stoking
anesthesia dikedua tangan dan kedua kaki dengan penebalan di radial bagian superficial, ulnaris
bilateral, dan saraf umum peroneal. Pasien memiliki nodul lembut eritematosa diwajahnya,
tungkai atas badan bagian atas dan telinga. Tidak ada nyeri saraf terkait, pembengkakan testis,
limpadenopati,sakit mata atau fotopobia. Penyelidikannya menunjukkan anemia berat dengan Hb
4,4 gram% dan MCV 77 fl dan jumlah hitung sel 3700 sel/mm3. Tetapi hitung jenis selnya
normal. Jumlah mutlak limposit CD 4 adalah 90 sel/ml dan ELISA untuk antigen filarial positif.
Hati dan tes fungsi ginjal, rontgen thorak dan rontgrn x ray sendi lutut bilateral dan urin rutin
dalam batas normal. Darah dan tinja dan streptococcus swab tenggorokan tidak menunjukkan
pertumbuhan organisme dan uji widalnya untuk typus dan mikroskop untuk parasite malaria
negative. Skin-slit smear adalah 6 + untuk basil tahan asam. Biopsi dari nodul superfisial dan
peradangan granulomatosa periadneksal bagian dalam dengan netrofili dan debris nuklear
disekeliling pembuluh darah. Noda kusta menunjukkan fragmen AFB. Berdasarkan diatas
dignosa AIDS,lepromatosa kusta tipe 2 reactif menunjukkan sebagai ENL, limpadenitis TBC dan
fillariasis. Pasien dimulai pada klofazimine 50 mg harian dan bulanan 300 mg diawasi dosis,
rifampicin 150 mg bulanan,ofloksacin 200 mg 2x sehari thalidomide 100 mg setiap hari,dan
diethilcarbamazine 100 mg 3 x sehari dengan suplemen zat besi. Dapson dihentikan karena dapat
menyebabkan hemolysis lebih lanjut dan AZT dihentikan karena dicurigai penekanan sub-sub
tulang. Pasien meningkat secara drastis dan lesinya diselesaikan dalam satu minggu. Pasien
mengikuti dan bebas reakctif apapun.

DISKUSI

Kusta adalah penyakit kronis dari infeksi berbagai jaringan tubuh disebabkan oleh
Mycobacterium leprae. Sayangnya,India adalah negara endemic kusta. India juga endemic untuk
AIDS dan kemungkinan relative lebih tinggi dari 2 terjadi bersama sama. Dalam sebuah studi
oleh Vinay et al., Kejadian kusta pada pasien yang memakai ART adalah 5,22/100 orang /tahun
(90 % akurat). Pasien yang terkena AIDS dan kusta umumnya hadir dengan kusta tipe 1 reactif
biasanya terinisiasi ART sebagai jenis immune reconstitution desease (IRD). Pasien jarang
dipengaruhi dengan lepramotosa atau batas kusta lepromatosa dapat dihadirkan dengan lepra tipe
2 reactif. kusta tipe 2 reactif adalah reksi sistemik inflamasi yang dengan imun komplek dapat
berada dalam organ atau jaringan yang memiliki penampilan bervariasi. Neuritis, orchitis,
uveitis, periostitis, limpadenitis dan glomerulonephritis jarang terjadi.vinay et al, melapaorkan
serangkaian kasus dari 8 pasien 3 diantaranya memiliki kusta tipe 2 reactif. Demikian pula vinay
et al., melaporkan serangkaian kasus dari 11 pasien terinfeksi HIV dan lepra dimana 2 pasien
memiliki kusta tipe 2 reactif. Dalam review kami,literatur tentang topic yang bersangkutan,kami
menemukan 2 laporan kasus pasien dengan HIV dan koinfeksi kusta. Telah mendalilkan bahwa
kuta tipe 2 reaktif dapat diendapkan oleh infeksi, stress, kehamilan, menyusui dan berbagai
macam obat. Ada laporan kasus infeksi fillariasis jenis pencetus kusta tipe 2 reactif dari kasus
negara kami. Kami sedang mengalami kasus AIDS dengan limpadenitis TBC dengan kusta tipe 2
reactif bermanifestasi sebagai EML dengan filariasis.Infeksi filariasis terdiagnosa oleh dipstick
ELISA untuk fillariasi dengan sensitifitas 90 % untuk mendeteksi kedua brugian dan bancroftian
fillariasis. Penyebab pengendapan pada episode ini bisa baik standart pengobatan dan infeksi
fillaria. India menjadi negara endemic HIV, kusta, dan infeksi seperti fillariasis dan TBC,
terjadinya bersamaan dari semua ini dapat memodifikasi kursus dan penyajian satu sama lain dan
menimbulkan tantangan diagnosis dan therapeutic.