Anda di halaman 1dari 6

PENGARUH COGNITIVE BEHAVIOUR THERAPY PADA KLIEN DENGAN

MASALAH KEPERAWATAN PERILAKU KEKERASAN DAN HALUSINASI


DI RSJD DR. RM SOEDJARWADI KLATEN

Retno Yuli Hastuti, Setianingsih


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Klaten

ABSTRAK

Latar belakang : RSJD Dr.RM.Soedjarwadi Klaten mempunyai klien skizofrenia yang dirawat dengan
risiko perilaku kekerasan dan halusinasi: 43,48%. Hasil penelitian sebelumnya CBT cukup efektif dalam
menurunkan tanda gejala perilaku kekerasan dan halusinasi pada klien skizofrenia. Penelitian ini
bertujuan mendapatkan gambaran pengaruh CBT terhadap perubahan gejala dan kemampuan kognitif,
afektif dan psikomotor klien dengan perilaku kekerasan dan halusinasi yang dirawat di ruang rawat inap
RSJD Dr.RM.Soedjarwadi Klaten. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi
Experimental Pre-Post Test with Control Group dengan jumlah sample 56 responden yang terbagi 28
kelompok intervensi dan 28 kelompok kontrol. Analisa data menggunakan dependen dan independent t
test. Hasil penelitian ini menemukan penurunan gejala perilaku kekerasan dan halusinasi yang lebih besar
untuk klien yang mendapatkan daripada yang tidak mendapatkan CBT (pvalue <0,05). Kemampuan
kognitif, afektif dan perilaku klien yang menerima CBT meningkat secara signifikan (p nilai <0,05) Hasil
penelitian ini klien penurunan gejala PK 48% pengurangan gejala halusinasi 47% dari penelitian ini juga
meningkatkan kemampuan kognitif, klien perilaku kekerasan afektif dan perilaku dan halusinasi dengan
hasil tertinggi hingga 57%. CBT direkomendasikan sebagai klien keperawatan perilaku kekerasan terapi
dan halusinasi di RSJD Dr RM.Soedjarwadi Klaten.

Kata kunci: perilaku kekerasan, halusinasi, kemampuan kognitif,, terapi perilaku kognitif afektif dan
perilaku

LATAR BELAKANG menunjukkan bahwa CBT dapat


Skizofrenia merupakan salah satu jenis meningkatkan kemampuan kognitif 60%
gangguan jiwa berat yang paling banyak dan perilaku klien 66%. Wahyuni (2010)
ditemukan dengan perilaku kekerasan dan dalam penelitiannya terhadap 28 klien
halusinasi. Departemen Kesehatan RI skizofrenia yang mengalami halusinasi
(2003) mencatat bahwa 70% gangguan jiwa mendapatkan bahwa cognitive behavior
terbesar di Indonesia adalah Skizofrenia. therapy (CBT) dapat menurunkan gejala
RSJD Dr.RM.Soedjarwadi Klaten halusinasi sebesar 34.5%, sedangkan
mempunyai klien yang dirawat dengan kemampuan mengontrol halusinasi
risiko perilaku kekerasan disertai halusinasi meningkat hingga 18%. Hal ini
dan harga diri rendah : 27,98%, klien risiko menunjukan bahwa CBT cukup efektif
perilaku kekerasan dan harga diri rendah : dalam menurunkan tanda gejala perilaku
28,54%, klien dengan risiko perilaku kekerasan dan halusinasi pada klien
kekerasan dan halusinasi: 43,48% (Laporan skizofrenia.
dari masing-masing ruangan, 2013).
METODOLOGI
Tindakan keperawatan spesialis pada klien Desain yang digunakan dalam penelitian ini
halusinasi dan perilaku kekerasan adalah adalah “Quasi Experimental Pre-Post Test
cognitive behavior therapy (Varcarolis, with Control Group” dengan intervensi
Carson & Shoemaker, 2006).Penelitian Cognitive Behaviour Therapy (CBT).
yang dilakukan oleh Fauziah (2009) Teknik pengambilan sampel yang
terhadap 13 orang klien skizofrenia yang digunakan dalam penelitian ini adalah
mengalami perilaku kekerasan Purposive Sampling. Responden berjumlah

Pengaruh Cognitive Behaviour Therapy Pada Klien dengan Masalah Keperawatan Perilaku 7
Kekerasan dan Halusinasi di RSJD DR. RM Soedjarwadi Klaten
Retno Yuli Hastuti, Setianingsih
56 orang yang terdiri atas 28 orang menjadi menurun secara bermakna dari 8,46
kelompok kontrol dan 28 orang sebagai menjadi 5.21 dengan p value ≤ α 0.05
kelompok intervensi. Analisis statistik yang serta komposit Perilaku Kekerasan
digunakan adalah univariat, bivariat dengan klien menurun secara bermakna dari
analisis dependen dan independent sample 77,86 menjadi 49.79 dengan p value ≤ α
t-Test, Chi-square dengan tampilan dalam 0.05. Berdasarkan hasil uji statistik
bentuk tabel dan distribusi frekuensi. diatas maka dapat disimpulkan pada α
5% ada penurunan gejala yang
HASIL PENELITIAN bermakna (kategori rendah) baik dari
1. Karakteristik klien dengan perilaku respon kognitif, emosi, perilaku, sosial,
kekerasan dan halusinasi dalam fisiologis dan komposit perilaku
penelitian ini adalah pada kelompok kekerasan klien dengan perilaku
intervensi jenis kelamin lebih banyak kekerasan setelah diberikan terapi CBT.
laki-laki 24 orang (85.7 %), jenjang
pendidikan paling banyak SMA 11 4. Perubahan gejala halusinasi pada
orang (39,4%), responden banyak yang kelompok yang mendapatkan CBT
tidak bekerja yaitu 16 orang (57,1%), terdapat perubahan yang bermakna.
berstatus tidak kawin 15 orang (53,6%). Respon kognitif klien menurun secara
Sedangkan untuk kelompok kontrol bermakna dari 8,25 menjadi 10.295,07
terbanyak berjenis kelamin laki-laki 19 dengan p value ≤ α 0.05, respon emosi
orang (67,9%), pendidikan terbanyak klien menurun secara bermakna dari
SMA berjumlah 12 orang (42,9%), 8,29 menjadi 4,18 dengan p value ≤ α
status bekerja 16 orang (57,1%) dan 0.05, respon perilaku klien menurun
status perkawinan adalah 50% kawin secara bermakna dari 7,79 menjadi 4,79
dan 50% tidak kawin. dengan p value ≤ α 0.05, respon sosial
klien menurun secara bermakna dari
2. Usia klien skizofrenia dengan perilaku 7,93 menjadi 4,00 dengan p value ≤ α
kekerasan dan halusinasi pada 0.05 dan respon fisiologis klien
kelompok intervensi dan kelompok menurun secara bermakna dari 8,39
kontrol adalah untuk usia rata-rata 32,35 menjadi 5.71 dengan p value ≤ α 0.05
tahun atau berada pada usia produktif serta komposit Perilaku Kekerasan
dimana berada pada rentang usia 18 klien menurun secara bermakna dari
tahun sebagai usia dewasa awal sampai 40,64 menjadi 23,75 dengan p value ≤ α
dengan 55 tahun sebagai usia dewasa 0.05. Berdasarkan hasil uji statistik
akhir. Frekuensi dirawat klien perilaku diatas maka dapat disimpulkan pada α
kekerasan dan halusinasi rata-rata 5% ada penurunan gejala yang
kurang dari 3 kali. bermakna (kategori rendah) baik dari
respon kognitif, emosi, perilaku, sosial,
3. Perubahan gejala perilaku kekerasan fisiologis dan komposit perilaku
pada kelompok yang mendapatkan CBT kekerasan klien dengan perilaku
terdapat perubahan yang bermakna. kekerasan setelah diberikan terapi CBT.
Respon kognitif klien menurun secara
bermakna dari 15,25 menjadi 10.29 5. Perubahan kemampuan kognitif,afektif
dengan p value ≤ α 0.05, respon emosi dan perilaku pada klien skizofrenia
klien menurun secara bermakna dari dengan masalah keperawatan perilaku
18,68 menjadi 11.25 dengan p value ≤ kekerasan setelah diberikan CBT
α 0.05, respon perilaku klien menurun a. Perubahan kognitif
secara bermakna dari 16,00 menjadi Pada penelitian ini mampu
10.36 dengan p value ≤ α 0.05, respon meningkatkan dari 23,32 menjadi
sosial klien menurun secara bermakna 41,07
dari 19,48 menjadi 12.68 dengan p value
≤ α 0.05 dan respon fisiologis klien

8 Jurnal Keperawatan Jiwa . Volume 4, No. 1, Mei 2016; 7-12


b. Perubahan afektif kejadian dan mempengaruhi perasaan klien
Pada penelitian ini mampu sehingga berperilaku tidak baik yang
meningkatkan dari 17,14 menjadi sebenarnya tidak diinginkan. Klien dilatih
29,93 untuk mengubah pikiran yang tidak rasional
c. Perubahan perilaku tersebut menjadi pikiran yang rasional
Pada penelitian ini mampu sehingga perasaan menjadi lebih baik dan
meningkatkan dari 22,32 menjadi menunjukkan perilaku yang adaptif. Klien
37,32 akhirnya akan menyadari bahwa
menginterpretasi kejadian yang tidak
6. Berdasarkan dari korelasi regresi linier menyenangkan secara negatif dapat
berganda diketahui bahwa usia dan mengganggu perasaan sehingga akan
status perkawinan klien berpengaruh mendorong untuk melakukan perilaku
terhadap peningkatan kemampuan kekerasan baik ditujukan pada diri sendiri,
perilaku klien dengan perilaku orang lain maupun lingkungan. Kejadian
kekerasan dan halusinasi (p value < ini disebabkan kelompok klien tersebut
0.05), dengan nilai r 0.447 (hubungan tidak dilatih cara mencegah kemarahan
sedang). Faktor usia dan status dengan berpikir yang positif dan rasional
perkawinan berpengaruh terhadap dalam menghadapi kejadian yang
peningkatan kemampuan perilaku klien mengganggu serta bagaimana latihan
sebesar 19.9 % (R2 = 0.199). Hasil ini merubah perilaku negatif dengan perilaku
menunjukan perbedaan kemampuan positif yang lebih diterima oleh orang lain
perilaku klien antara yang kawin dengan dan lingkungan.
yang tidak kawin sebesar 6.903 setelah
dikontrol oleh faktor usia. Klien yang Pengaruh CBT terhadap penurunan gejala
menikah kemampuannya lebih besar halusinasi pada penelitian ini sama dengan
daripada yang tidak menikah setelah respon yang dinilai pada gejala perilaku
dikontrol usia. kekerasan yaitu dari gejala kognitif, emosi,
perilaku, sosial, dan fisiologis. Penurunan
PEMBAHASAN gejala halusinasi klien pada penelitian ini
Rieckert (2000) menyatakan bahwa terapi cukup tinggi dan mencapai tingkat yang
CBT secara signifikan dapat mengurangi rendah. Penelitian ini membuktikan bahwa
kemarahan, perasaan bersalah dan harga dengan CBT untuk gejala halusinasi dapat
diri yang rendah. Beck menyatakan bahwa menurun secara signifikan walaupun klien
kesulitan emosional dan perilaku yang tersebut memiliki masalah lain yaitu
dialami seseorang dalam hidupnya perilaku kekerasan. Rogers dkk. (1990
disebabkan oleh cara mereka dalam Birchwood, 2009) mengatakan
menginterpretasikan berbagai peristiwa bahwa perilaku kekerasan sering terjadi
yang dialami. Penerapan CBT dalam akibat isi halusinasi yang berupa perintah
penelitian ini klien dilatih mengenali untuk melukai dirinya sendiri atau orang
berbagai peristiwa yang tejadi dalam lain. Ancaman berupa tindakan kekerasan
hidupnya termasuk peristiwa yang tidak yang dapat dilakukan klien bisa dicegah
menyenangkan. Klien juga diajarkan apabila mendapatkan terapi CBT secara
mengenali perasaan yang muncul dari cara optimal.
klien menginterpretasikan peristiwa yang Stuart (2009) menyatakan terapi CBT
dialaminya dan tindakan yang dilakukan bertujuan mengubah keyakinan yang tidak
setelah mengalami perasaan tersebut. rasional, kesalahan penalaran dan
pernyataan negatif tentang keberadaan
Melalui terapi CBT klien dilatih untuk individu. CBT lebih memfokuskan pada
dapat mengevaluasi diri sendiri dengan perubahan interpretasi klien terhadap
mengidentifikasi kejadian yang pernah kejadian atau peristiwa. Interpretasi yang
dialami, pikiran-pikiran irrasional yang tidak sesuai dengan kenyataan akan
mengganggu yang timbul terkait dengan menyebabkan perubahan emosi dan

Pengaruh Cognitive Behaviour Therapy Pada Klien dengan Masalah Keperawatan Perilaku 9
Kekerasan dan Halusinasi di RSJD DR. RM Soedjarwadi Klaten
Retno Yuli Hastuti, Setianingsih
perilaku seseorang ke arah maladaptif. seperti menuliskannya di buku kerja dan
Frogatt (2005) juga menegaskan bahwa jadwal kegiatan sehari-hari.
CBT berdasar pada konsep bahwa emosi
dan perilaku merupakan hasil dari proses Peningkatan kemampuan yang signifikan
pikir. pada kelompok klien yang diberikan terapi
CBT karena selama proses pelaksanaan
Gejala halusinasi klien dapat menurun terapi klien selalu dimotivasi untuk
karena pada prinsipnya terapi CBT melakukan latihan secara mandiri yang
berfungsi merubah fungsi berpikir klien ke menjadi tugas rumah (home work) yang
arah yang positif dan akhirnya dievaluasi secara terus menerus dengan
menimbulkan perasaan yang menggunakan jadwal kegiatan harian, buku
menyenangkan. Perasaan yang timbul dari kerja, dan raport perkembangan klien.
cara berpikir positif akan membuat klien Latihan merupakan hal yang sangat penting
berperilaku konstruktif sehingga meskipun dalam proses pembelajaran. Pernyataan ini
klien mengalami halusinasi namun kejadian sesuai dengan yang dikemukakan oleh
itu tidak sampai membuat klien berpikir Notoatmojo (2007) yang menyatakan
negatif tentang dirinya. Tindakan kekerasan latihan adalah penyempurnaan potensi
yang sering dilakukan oleh klien tenaga-tenaga yang ada dengan mengulang-
skizofrenia tidak hanya karena perintah ulang aktivitas tertentu. Latihan merupakan
halusinasinya namun dapat diakibatkan oleh kegiatan yang nantinya diharapkan menjadi
interpretasi negatif tentang dirinya akibat suatu pembiasaan atau pembudayaan.
mengalami halusinasi. Penilaian negatif Pembudayaan akan membuat klien menjadi
klien tentang dirinya terutama sering terjadi mandiri ketika menghadapi kejadian atau
pada klien yang mengalami halusinasi peristiwa yang tidak menyenangkan
kronis. termasuk kejadian halusinasi yang dapat
mencetuskan perilaku kekerasan.
Peningkatan kemampuan kognitif, afektif
dan perilaku klien Hasil penelitian Peningkatan kemampuan klien terhadap
menunjukkan bahwa ada peningkatan terapi CBT juga dapat dipengaruhi oleh
yang bermakna pada kemampuan kognitif, proses pembentukan perilaku baru melalui
afektif, dan perilaku klien pada kelompok modifikasi perilaku. Peneliti menerapkan
yang diberikan CBT setelah intervensi. prinsip-prinsip teori perilaku dengan
Kemampuan klien secara kognitif, afektif memberikan penguatan (reinforcement)
dan perilaku setelah mendapatkan CBT positif terhadap perilaku positif yang
lebih tinggi berada pada tingkatan yang dilakukan klien dan memberikan umpan
tinggi sedangkan sebelum diintervensi balik negatif terhadap perilaku yang tidak
rata-rata kemampuan klien berada pada diinginkan. Videbeck (2008) menyatakan
tingkatan yang rendah. Bloom (1956 modifikasi perilaku merupakan suatu
dalam Kasan, 2005) mengklasifikasikan metode yang dapat digunakan untuk
tujuan pemberian pendidikan kedalam tiga menguatkan perilaku atau respon yang
domain, yaitu kognitif, afektif dan diinginkan melalui pemberian umpan balik
psikomotor. Teori bloom melandasi baik positif maupun negatif. Peneliti juga
penilain terhadap kemampuan klien dalam menerapkan prinsip tocen economy berupa
penelitian ini. Kemampuan kognitif memberikan hadiah berupa alat-alat
mencakup aspek intelektual seperti kebersihan diri jika perilaku yang
pengetahuan dan ketrampilan berpikir, diinginkan dilakukan oleh klien setelah
kemampuan afektif menekankan pada mengumpulkan minimal 50% poin bintang
aspek perasaan dan emosi. Kemampuan selama satu minggu.
yang terakhir yaitu perilaku menekankan
pada aspek motorik yang dilihat dari Prinsip ini sesuai dengan yang
kemampuan klien melaksanakan CBT dikemukakan oleh Stuart dan Laraia (2005)
yang menyatakan bahwa tindakan

10 Jurnal Keperawatan Jiwa . Volume 4, No. 1, Mei 2016; 7-12


keperawatan spesialis yang dapat diberikan tersebut dapat memotivasi mereka untuk
pada klien dengan perilaku kekerasan salah meningkatkan hubungan dengan orang lain
satunya adalah dengan token economy. termasuk mengerjakan sesuatu untuk
Token economy dalam proses pelaksanaan mencapai kesejahteraan keluarga. Terapi
CBT merupakan salah satu tipe dari CBT salah satu cara bagi mereka untuk
contingency contracting dimana penguatan kembali melaksanakan perannya dalam
diberikan sesuai dengan perilaku yang keluarga sehingga kewajiban tersebut dapat
diinginkan (Townsend, 2009). Pemberian dilaksanakan kembali.
token economy dan reinforcement ini
memotivasi klien dalam melaksanakan SIMPULAN
perilaku positif yang diinginkan sehingga Hasil dari penelitian ini menunjukan
akhirnya kemampuan kognitif, afektif dan Karakterisitikdari 56 orang klien yang
perilaku klien setelah diberikan terapi CBT menjadi responden yang dilakukan dalam
meningkat yang nantinya diharapkan penelitian ini rata-rata berusia 33.21 tahun
membudaya pada kehidupan klien dengan usia termuda 18tahun dan tertua 55
walaupun token sudah tidak diberikan. tahun,jenis kelamin lebih banyak laki-laki,
status pekerjaan adalah yang tidak bekerja,
Karakteristik klien yang berkontribusi . status pendidikan paling banyak di jenjang
Hasil penelitian diperoleh bahwa usia klien SMA, status perkawinan sebagian besar
berhubungan dengan peningkatan tidak kawin, frekuensi dirawat di rumah
kemampuan perilaku klien. Jean Peaget sakit rata-rata 2 kali . Berdasarkan hasil uji
(1980 dalam Fontaine, 2003) dengan teori statistik maka dapat disimpulkan pada α 5%
kognitifnya menyatakan bahwa individu ada penurunan gejala yang bermakna
membangun kemampuan kognitif melalui (kategori rendah) baik dari respon kognitif,
tindakan yang termotivasi dengan emosi, perilaku, sosial, fisiologis dan
sendirinya terhadap lingkungan. Usia komposit klien dengan perilaku kekerasan
dewasa dalam perkembangannya termasuk setelah diberikan terapi CBT. Sedangkan
periode operasional formal. Karakteristik pada gejala halusinasi terjadi penurunan
periode ini adalah diperolehnya yang bermakna baik dari respon kognitif,
kemampuan untuk berpikir secara abstrak, emosi, perilaku, sosial, fisiologis dan
menalar secara logis, dan menarik komposit gejala halusinasi pada kelompok
kesimpulan dari informasi yang tersedia. yang tidak mendapatkan terapi CBT setelah
Kemampuan pada periode perkembangan kelompok yang mendapatkan terapi CBT
ini yang membuat klien lebih memahami diintervensi.
dan termotivasi dalam melaksanakan terapi
CBT. Klien pada tahap perkembangan Untuk Kemampuan responden maka dapat
tersebut mampu menganalisa bahwa terapi disimpulkan pada α 5% terjadi peningkatan
CBT yang diberikan jika dilaksanakan kemampuan kognitif, afektif, dan perilaku
dengan baik dalam kehidupan sehari-hari pada klien perilaku kekerasan dan
akan membantu dirinya dalam menghadapi halusinasi hingga mencapai 108.32 setelah
setiap stresor yang dialami. mendapat CBT yang berada pada tingkat
kemampuan tinggi. usia dan status
Hasil penelitian didapatkan bahwa status perkawinan klien berpengaruh terhadap
perkawinan berkontribusi dalam peningkatan kemampuan perilaku klien
peningkatan kemampuan perilaku klien. dengan perilaku kekerasan dan halusinasi (p
Klien yang menikah peningkatan value < 0.05), dengan nilai r 0.447
kemampuan perilaku terhadap cognitive (hubungan sedang). Faktor usia dan status
behaviour therapy lebih besar daripada perkawinan berpengaruh terhadap
yang tidak menikah setelah dikontrol oleh peningkatan kemampuan perilaku klien
usia. Individu yang sudah menikah sebesar 19.9 % (R2 = 0.199). Hasil ini
memiliki tuntutan untuk bertanggung menunjukan perbedaan kemampuan
terhadap keluarganya. Tanggung jawab perilaku klien antara yang kawin dengan

Pengaruh Cognitive Behaviour Therapy Pada Klien dengan Masalah Keperawatan Perilaku 11
Kekerasan dan Halusinasi di RSJD DR. RM Soedjarwadi Klaten
Retno Yuli Hastuti, Setianingsih
yang tidak kawin sebesar 6.903 setelah Jakarta.
dikontrol oleh faktor usia. Klien yang FKM UI. tidak dipublikasikan.
menikah kemampuannya lebih besar Keliat, BA, Akemat (2010). Model
daripada yang tidak menikah setelah PraktikKeperawatanProfesionalJiw
dikontrol usia. a.Jakarta : EGC.
Pusat Penelitian dan Perkembangan Depkes
SARAN RI. (2008). Riset kesehatan dasar
Dengan hasil penelitian ini tindakan CBT 2007. www.litbang.go.id, diperoleh
dapat diberikan kepada pasien yang tanggal 10 Februari 2011.
mengalami gangguan jiwa secara Sastroasmoro, S. & Ismael, S. (2010).
terstruktur. Adanya peningkatan Dasar-dasar metodologi penelitian
kemampuan perawat jiwa dalam klinis (3th ed). Jakarta: CV. Sagung
menggunakan CBT sebagai salah satu Seto.
tindakan keperawatan dengan jalan Stuart,G.W & Laraia, M.T (2005).
memberikan pelatihan secara langsung Principles and practice of
kepada seluruh perawat jiwa. Guna psychiatric nursing. (7th edition).
mendukung dilaksanakanya terapi CBT St Louis: Mosby.
maka perlu dibuatnya SOP pelaksanaan Stuart,G.WT (2009). Principles and
yang mudah dipahami oleh seluruh perawat practice of psychiatric nursing. (9th
Jiwa di RSJD Dr. RM. Soedjarwadi Klaten. edition). St Louis: Mosby.
Varcarolis, E.M.(2006).Psychiatric nursing
DAFTAR PUSTAKA clinical guide; assesment tools and
Boyd, M.A. & Nihart, M.A. (1998). diagnosis . Philadelphia :W.B
Psychiatric Nursing Contemporary Saunders Co.
Practice. USA. Lippincott Raven Videbeck, S.L. (2006). Psychiatric mental
Publisher. health nursing. (3rd edition).
Erwina, I. (2010) Pengaruh cognitive Philadhelpia: Lippincott Williams
behvior therapy terhadap post- & Wilkins.
traumatic stress disorder pada Videbeck, S.L.(2008).Buku ajar
penduduk pasca gempa di keperawatan jiwa. Jakarta. EGC.
kelurahan air tawar barat Wahyuni, S.E. (2010). Pengaruh cognitive
kecamatan padang utara propinsi behaviour therapy terhadap
sumatera barat. Tesis. Jakarta. FIK halusinasi pasien di Rumah Sakit
UI. Tidak dipublikasikan. Jiwa Pempropsu Medan. Tesis.
Fauziah Tidak dipublikasikan.
(2009).Pengaruhterapiperilakukog WHO. (2001). The world health report:
nitifpadaklienskizopreniadenganper 2001: mental health: new
ilakukekerasan,Tesis. Jakarta. FIK Understanding, new hope.
UI. Tidakdipublikasikan. www.who.int/whr/2001/en/
Fontaine, K.L. (2009). Mental health diperoleh tanggal 20 Februari 2011.
nursing. new jersey. Pearson
Education. Inc.
Herdman, T.H. (2010). Nursing Diagnoses
: Definition and classification 2009
– 2011, by Nanda International,
Alihbahasa : Sumarwati Made,
WidiartiDwi, TiarEstu, Jakarta :
EGC.
Keliat, B.A. (2003). Pemberdayaan klien
dan keluarga dalam perawatan
klien skizofrenia dengan perilaku
kekerasan di RSJP Bogor.Disertasi.

12 Jurnal Keperawatan Jiwa . Volume 4, No. 1, Mei 2016; 7-12