Anda di halaman 1dari 13

Teknik Kimia atau chemical engineering merupakan salah satu cabang ilmu engineering

yang menerapkan berbagai ilmu termasuk di dalamnya ilmu-ilmu kimia, fisika, biologi
serta bioteknologi dan biochemistry, yang ditunjang oleh matematika hingga ilmu
ekonomi, untuk memproses serta mengubah bahan mentah, menjadi material industri
dalam berbagai bentuk dan sifat, yang berguna untuk kehidupan sehari-hari serta
bernilai ekonomi tinggi. Pada intinya, seorang sarjana teknik kimia akan dilatih untuk
memahami proses dan mengoperasikan berbagai peralatan yang menunjang proses
industri kimia di atas. Seorang sarjana kimia dituntut untuk bisa terus beradaptasi
terhadap perubahan teknologi maupun isu dan kebutuhan masyarakat sehingga
merupakan sebuah life-long learning process.
Lulusan dari teknik kimia akan mampu bekerja pada berbagai industri proses kimia
modern yang ada saat ini, termasuk:
o industri perminyakan, energy dan bioenergi (bioethanol, biodiesel, biogas)
o industri tambang dan mineral
o industri polimer termasuk biopolimer
o industri petrokimia,
o industri semen, keramik dan metalurgi
o industri makanan dan minuman
o industri jamu, herbal terstandar, serta obat-obatan (pharmaceutical)
o industri pengolahan limbah cair, padat dan gas
o industri kimia modern yang telah mengaplikasikan berbagai teknologi mutakhir, seperti
biotechnolog dan nanotechnology
Selain itu, lulusan sarjana teknik kimia dapat pula bekerja dan melanjutkan pendidikan
ke jenjang yang lebih tinggi (S2 dan S3), serta bekerja sebagai peneliti bertaraf
nasional dan internasional di berbagai universitas atau industri, di berbagai pelosok
dunia, untuk mengembangkan proses kimia terobosan terbaru dan material
termutakhir, yang memiliki sifat unggul dengan nilai ekonomi yang tinggi.
Trend baru: Green Chemical Processes (Proses kimia hijau)
Dalam perkembangannya, berbagai industri kimia yang ada saat ini telah memberikan
berbagai implikasi negatif terhadap lingkungan dan ekologi. Termasuk di dalamnya
adalah munculnya berbagai masalah yang diakibatkan oleh polusi di udara, air dan
tanah, hingga munculnya masalah yang lebih kompleks seperti efek global
warming (pemanasan global) karena penumpukan gas rumah kaca di atmosfir yang
berujung pada proses perubahan iklim (climate change), termasuk munculnya lubang
pada lapisan ozon (O3) di atmosfir, yang menjadi pelindung bagi kehidupan di bumi dari
bahaya radiasi sinar ultra-violet yang datang dari langit.
Green chemical processesmerupakan sebuah terobosan baru yang berupaya untuk
menjawab berbagai tantangan masalah lingkungan yang ditimbulkan oleh berbagai
aktifitas pada industri kimia, agar keberadaan industri kimia beserta berbagai
produknya akan menjadi lebih bersahabat terhadap lingkungan dan
kehidupan. Sustainability dan kelestarian alam turut menjadi salah satu prioritas dari
pengoperasian industri kimia hijau ini. Hal ini akan menjadi bahan pertimbangan yang
utuh dan matang sejak tahap perancangan proses dan pilihan bahan kimia yang
dipakai, perancangan pabrik, hingga proses pengolahan limbah.
Pemilihan bahan baku diupayakan merupakan bahan yang bersifat terbarukan
(renewable) serta dapat didaur ulang (recyclable). Dalam penggunaan energi,
diupayakan meminimalisir energi yang terbuang (heat integration), serta
memanfaatkan energi terbarukan seperti bahan bakar nabati (biofuel), atau energi
terbarukan lain seperti energi matahari misalnya. Bahkan gas buangan seperti gas
CO2 pun dapat ditangkap kembali (CO2 capture) untuk disimpan atau dipergunakan
dalam proses yang berbeda.
Berdasarkan pemikiran di atas, pengoperasian industri kimia akan menjadi proses yang
dapat mendukung kesehatan manusia dan keselamatan lingkungan serta ekologi dalam
jangka panjang. Meskipun demikian, profitability dari industri kimia ini tetap menjadi
prioritas, agar industri kimia hijau tetap menjadi tempat yang menarik bagi para
investor.
Industri yang mempergunakan prinsip green process ini misalnya:
o Produksi bahan bakar nabati, termasuk bio-ethanol, biodiesel dan biogas sebagai
sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan. Di masa depan industri biofuel ini
akan memegang peranan penting di negara tropis dan subur seperti Indonesia.
o Pembuatan plastik biopolimer yang bersifat biodegradable dengan pemanfaatan
biteknologi.
o Desain pabrik yang akan menunjang penghematan energi yang optimal serta
penggunaan energi yang bersifat terbarukan (heat integration).
o Pemilihan jalur proses manufaktur industri kimia yang menggunakan pelarut yang
aman serta ramah lingkungan seperti penggunaan air (H2O) dan CO2 super-kritis
sebagai pelarut (solvent) untuk menggantikan pelarut organik.
o Pengembangan katalis yang mendukung proses kimia hijau
o Penangkapan gas CO2 yang dihasilkan dalam proses produksi agar tidak terlepas ke
lingkungan dan memperburuk efek pemanasan global
o Pengembangan industri yang mempergunakan bahan baku dari material buangan yang
dapat didaur ulang seperti industri kertas/plastik recycle, industri biodiesel dari limbah
minyak goreng.
o Industri biofuel generasi ke-2 dan ke-3 dengan bahan baku yang tidak berkompetisi
dengan bahan pangan
o Penggunaan sampah organik untuk sumber energi seperti dalam pengolahan limbah
untuk produksi biogas, hingga yang lebih canggih yaitu untuk microbial fuel cell.
Berbagai prinsip green chemical process engineering ini menjadi bagian dari kurikulum
pada program studi Chemical and Green Process Engineering sehingga lulusannya
bukan saja menjadi sarjana teknik kimia yang handal, namun juga memiliki
pengetahuan dan wawasan kelestarian lingkungan yang baik.

Daftar Masalah Lingkungan di Indonesia


Posted on 9 November 2014by alamendah
Oktober kemarin, Greenpeace merangkum daftar masalah lingkungan di
Indonesia. Daftar masalah lingkungan tersebut merupakan hasil program
Jurnalisme Warga untuk Lingkungan (JARING) yang diinisiasi Greenpeace
Indonesia. JARING sendiri merupakan sebuah program untuk mewadahi
aspirasi masyarakat terkait masalah lingkungan.
Permasalahan lingkungan di Indonesia ternyata menjadi perhatian serius bagi
mamsyarakat. Terbukti dengan antusiasme warga dalam melaporkan berbagai
masalah lingkungan yang meliputi isu hutan, sungai, laut, limbah, sampah,
serta iklim dan energi. Hasilnya, dapat diketahui berbagai masalah
lingkungan yang menjadi fokus perhatian sebagain besar masyarakat
Indonesia.
Isu lingkungan yang paling banyak yang mendapat perhatian adalah
pencemaran sungai oleh bahan kimia berbahaya industri. Bagi masyarakat
Indonesia, masalah lingkungan ini cukup mendapat perhatian serius,
mengalahkan isu-isu lingkungan lainnya.
Masalah lingkungan

Sebagai gambaran adalah Sungai Citarum (Ci Tarum) yang pada 2010 silam,
sempat mendapatkan gelar “Sungai Paling Tercemar di Dunia” oleh situs
online terbesar di Amerika Serikat, huffingtonpost.com. Pun oleh Blacksmith
Institute dan Green Cross Swiss (2013) yang memasukkan Sungai Citarum
dalam “Top Ten Toxic Threats in 2013”. Sungai yang menjadi urat nadi bagi
sekitar 5 juta penduduk tersebut memiliki lebih dari 500-an pabrik di kanan-
kirinya yang berlomba-lomba membuang limbahnya ke Sungai Citarum.
Baca : Citarum Menjadi Sungai Paling Tercemar di Dunia dan Sungai Citarum
dan Kalimantan 10 Tempat Paling Tercemar di Dunia
Selain pencemaran sungai oleh bahan kimia berbahaya industri, masih
terdapat masalah-masalah lingkungan lainnya yang menjadi sorotan publik.
Permasalahan-permasalahan lingkungan tersebut adalah :

1. Pencemaran Sungai oleh Bahan Kimia Berbahaya Industri


2. Bencana Kebakaran Hutan dan Gambut di Sumatra dan Kalimantan
3. Alih Fungsi Hutan Lindung dan Lahan Pertanian
4. Pencemaran Perairan oleh Limbah Pertambangan
5. Kasus Penangkapan Ikan Berlebih dan Illegal di Perairan Nusantara
Itulah 5 masalah lingkungan yang mendapatkan sorotan terbesar dari
masyarakat Indonesia berdasarkan program Jurnalisme Warga untuk
Lingkungan (JARING). Hasil rangkuman dari permasalahan lingkungan ini,
oleh Greenpeace telah diserahkan kepada pemerintah melalui Presiden Joko
Widodo. Namun bukan berarti masalah tersebut kemudian menjadi tanggung
jawab pemerintah semata. Kita semua mempunyai andil pada terjadi dan
berlangsungnya masalah lingkungan tersebut. Sudah selayaknya kita semua,
bahu membahu, mencoba mengatasinya meskipun dari hal-hal yang paling
sepele dan kecil.

Isu Lingkungan

Masalah lingkungan mulai ramai dibicarakan sejak diselenggarakannya Konferensi PBB tentang Lingkungan
Hiudp di Stockholm, Swedia, pada tanggal 15 Juni 1972. Di Indonesia, tonggak sejarah masalah lingkungan
hidup dimulai dengan diselenggarakannya Seminar Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pembangunan
Nasional oleh Universitas Pajajaran Bandung pada tanggal 15 – 18 Mei 1972. Faktor terpenting dalam
permasalahan lingkungan adalah besarnya populasi manusia (laju pertumbuhan penduduk). Pertumbuhan
penduduk yang pesat menimbulkan tantangan yang dicoba diatasi dengan pembangunan dan industrialisasi.
Namun industrialisasi disamping mempercepat persediaan segala kebutuhan hdup manusia juga memberi
dampak negatif terhadap manusia akibat terjadinya pencemaran lingkungan

A. Isu Lingkungan Lokal


Saat ini masalah lingkungan cukup sering diperbincangkan. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa
lapisan ozon kini semakin menipis. Dengan terus menipisnya lapisan itu, sangat dikhawatirkan bila lapisan ini
tidak ada atau menghilang sama sekali dari alam semesta ini. Tanpa lapisan ozon sangat banyak akibat
negatif yang akan menimpa makhluk hidup di muka bumi ini, antara lain: penyakit-penyakit akan menyebar
secara menjadi-jadi, cuaca tidak menentu, pemanasan global, bahkan hilangnya suatu daerah karena akan
mencairnya es yang ada di kutub Utara dan Selatan. Jagat raya hanya tinggal menunggu masa kehancurannya
saja. Memang banyak cara yang harus dipilih untuk mengatasi masalah ini. Para ilmuwan memberikan
berbagai masukan untuk mengatasi masalah ini sesuai dengan latar belakang keilmuannya. Para sastrawan
pun tak ketinggalan untuk berperan serta dalam menanggulangi masalah yang telah santer belakangan ini.
Contoh, Penyebab dan Dampak Lingkungan Lokal

1. Kekeringan : kekeringan adalah kekurangan air yang terjadi akibat sumber air tidak dapat
menyediakan kebutuhan air bagi manusia dan makhluk hidup yang lainnya. Dampak: menyebabkan
ganggungan kesehatan, keterancaman pangan.
2. Banjir : merupakan fenomena alam ketika sungai tidak dapat menampung limpahan air hujan karena
proses influasi mengalami penurunan. Itu semua dapat terjadi karena hijauan penahan air larian
berkurang. Dampak: ganggungan kesehatan, penyakit kulit, aktivitas manusia terhambat, penurunan
produktifitas pangan, dll.
3. Longsor : adalah terkikisnya daratan oleh air larian karena penahan air berkurang.
Dampaknya : terjadi kerusakan tempat tinggal, ladang, sawah, mengganggu perekonomian dan
kegiatan transportasi

4. Erosi pantai : terkikisnya lahan daratan pantai akibat gelombang air laut. Dampak : menyebabkan
kerusakan tempat tinggal dan hilangnya potensi ekonomi seperti kegiatan pariwisata.
5. Instrusi Air Laut : air laut (asin) mengisi ruang bawah tanah telah banyak digunakan oleh manusia
dan tidak adanya tahanan instrusi air laut seperti kawasan mangrove. Dampaknya: terjadinya
kekurangan stok air tawar, dan mengganggu kesehatan.

B. Isu Lingkungan Nasional


Tanam Untuk Kehidupan adalah satu komunitas yang punya perhatian untuk isu-isu lingkungan. Tujuan
utama digelar acara ini adalah sebagai ajang pendidikan dan hiburan untuk membuka opini masyarakat agar
peduli lingkungan bermaksud mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam menjaga dan merawat
lingkungan mereka sendiri. Acara ini sendiri juga jadi wadah kolaborasi seni budaya lokal, nasional, dan
internasional dalam mengekspresikan kepedulian mereka terhadap lingkungan, mempromosikan seni budaya
serta pariwisata Salatiga, dan memperluas jaringan kerjasama antara komunitas seni dan lingkungan dari
Australia dan Indonesia.
Anak-anak juga ikut berpartisipasi pada acara ini Anak-anak lebih mudah diajak untuk peduli lingkungan
daripada orang dewasa. Apabila sejak kecil mereka telah terbiasa untuk mencintai lingkungan, maka
kebiasaan ini akan berlanjut sampai mereka dewasa nanti. Kegiatan tentang lingkungan seperti ini harusnya
lebih sering dilakukan karena bagus untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pelestarian
lingkungan.
Contoh, Penyebab dan Dampak Lingkungan Nasional

1. Kebaran Hutan : Proses kebakaran hutan dapat terjadi dengan alami atau ulah manusia . kebakaran
oleh manusia biasanya karena bermaksut pembukaan lahan untuk perkembunan. Dampaknya:
memeberi kontribusi CO2 di udara, hilangnya keaneragaman hayati, asap yang dihasilkan dapat
mengganggu kesehatan dan asapnya bisa berdampak kenegra lain. Tidak hanya pada local namun ke
negra tetanggapun juga terkena.
2. Pencemaran minyak lepas pantai : hasil ekploitasi minyak bumi diangkut oleh kapal tanker ke tempat
pengolahan minyak bumi. Pencemaran minyak lepas pantai diakibatkan oleh sistem penampungan
yang bocor atau kapal tenggelam yang menyebankan lepasnya minyak ke perairan. Dampak :
mengakibatkan limbah tersebut dapat tersebar tergantung gelombang air laut. Dapat berdampak
kebeberapa negara, akibatnya tertutupnya lapisan permukaan laut yang menyebabkan penetrasi
matahari berkurng menyebabkan fotosintesis terganggu, pengikatan oksigen, dan dapat
menyebabkan kematian organisme laut.

C. Isu Lingkungan Global Sebelumnya orang menduga masalah lingkungan global lebih banyak dipengaruhi
faktor alam, seperti iklim, yang mencakup temperatur, curah hujan, kelembaban, tekanan udara dll.
Belakangan orang mulai menyadari bahwa aktifitas manusia pun mempengaruhi iklim dan lingkungan secara
signifikan. Ambilah contoh penebangan hutan, mempengaruhi perubahan suhu dan curah hujan secara lokal.
Ketika area hutan yang hilang semakin luas, maka akibat yang ditimbulkan bukan lagi lokal tapi sudah
berskala regional. Kenapa hutan ditebang? Tentu saja ada motivasi-motivasi manusia yang membuat mereka
menebang hutan, misalnya motivasi ekonomi. Untuk skala negara, negara membutuhkan devisa untuk
menjalankan roda pembangunan. Karena industri negara belum mapan dan kuat, maka yang bisa diekspor
untuk menambah devisa adalah menjual kayu. Modal dan keahlian yang dibutuhkan untuk menebang pohon
relatif kecil dan sederhana, bukan?
Menjadi masalah global yang mempengaruhi lingkungan juga misalnya pertumbuhan penduduk dunia yang
amat pesat. Pertumbuhan penduduk memiliki arti pertumbuhan kawasan urban dan juga kebutuhan
tambahan produksi pangan. Belum lagi ada peningkatan kebutuhan energi. Pada masing-masing kebutuhan
ini ada implikasi pada lingkungan.
Coba kita perhatikan contoh dari kebutuhan lahan urban dan lahan pertanian. Pemenuhan kebutuhan ini
akan meminta konversi lahan hutan. Semakin lama daerah-daerah resapan air makin berkurang, akibatnya
terjadi krisis air tanah. Di sisi lain di beberapa kawasan berkemiringan cukup tajam menjadi rawan longsor,
karena pepohonan yang tadinya menyangga sistem kekuatan tanah semakin berkurang. Kemudian karena
resapan air ke tanah berkurang, terjadilah over-flow pada air permukaan. Ketika kondisi ini beresonansi
dengan sistem drainase yang buruk di perkotaan terjadilah banjir. Banjir akan membawa berbagai
penderitaan. Masalah langsungnya misalnya korban jiwa dan harta. Masalah tidak langsungnya misalnya
mewabahnya berbagai penyakit, seperti malaria, demam berdarah, muntaber dll.
Sekarang kita beralih ke masalah eksploitasi energi. Saat ini Indonesia misalnya masih sangat bergantung
pada sumber energi minyak bumi. Ini yang menjelaskan betapa hebohnya pemerintah dan masyarakat akibat
masalah minyak. Pemerintah bingung menutupi anggaran belanja negara, karena besarnya pengeluaran
untuk impor minyak. Masyarakat bingung sebab kenaikan harga minyak memililiki efek berantai pada
kenaikan harga barang-barang di lapangan.
Yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa penggunaan minyak dari sisi lingkungan, dan lebih spesifiknya
sisi komposisi udara di atmosfir, berarti peningkatan gas carbon dioxida (CO2). Gas ini, bersama lima jenis gas
lain diketahui menjadi penyebab terjadinya efek pemanasan global (global warming). Diperkirakan diantara
tahun 1990-2100 akan terjadi kenaikan rata-rata suhu global sekitar 1,4 sampai 5,8 derajat celsius. Akibatnya
akan terjadi kenaikan rata-rata permukaan air laut disebabkan mencairnya gunung-gunung es di kutub.
Banyak kawasan di dunia akan terendam air laut. Akan terjadi perubahan iklim global. Hujan dan banjir akan
meningkat. Wabah beberapa penyakit akan meningkat pula. Produksi tumbuhan pangan pun terganggu.
Pendek kata akan terjadi pengaruh besar bagi kelangsungan hidup manusia.
Para peneliti dan ilmuwan yang bergerak di bidang lingkungan sudah sangat ngeri membayangkan bencana
besar yang akan melanda umat manusia. Yang jadi masalah, kesadaran akan permasalahan lingkungan ini
belum merata di tengah umat manusia. Ini akan lebih jelas lagi kalau melihat tingkat kesadaran masyakat di
negara berkembang. Jangankan masyarakat umum, di kalangan pemimpin pun kesadaran masalah
lingkungan ini masih belum merata.
Di tengah kondisi di atas dimulailah prakarsa-prakarsa pro-lingkungan pada tingkat global. Kyoto Protokol
adalah konvensi yang masih cukup hangat dan masih akan diberlakukan secara efektif mulai tahun 2007. Isi
utama Protokol ini adalah upaya pengurangan emisi enam gas yang mengakibatkan kenaikan suhu global.
Pada tahun 2008-2012 akan diadakan pengukuran sistematis balance pengeluaran dan penyerapan gas-gas
ini pada semua negara yang telah menandatangani Protokol ini.
Contoh, Penyebab dan Dampak Lingkungan Global

1. Pemanasan Global : Pemanasan Global / Global Warming pada dasarnya merupakan fenomena
peningkatan temperature global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca yang
disebabkan oleh meningkatnya emesi gas karbondioksida, metana, dinitrooksida, dan CFC sehingga
energy matahari tertangkap dalam atmosfer bumi. Dampak bagi lingkungan biogeofisik : pelelehan
es di kutub, kenaikan mutu air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan
iklim, punahnya flora dan fauna, migrasi fauna dan hama penyakit. Dampak bagi aktiitas sosial
ekonomi masyarakat: gangguan pada pesisir dan kota pantai, gangguang terhadap prasarana fungsi
jalan, pelabuhan dan bandara. Gangguan terhadap pemukiman penduduk, ganggungan produktifitas
pertanian. Peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit
2. Penipisan Lapisan Ozon : dalam lapisan statosfer pengaruh radiasi ultraviolet, CFC terurai dan
membebaskan atom klor. Klor akan mempercepat penguraia ozon menjadi gas oksigen yang
mengakibatkan efek rumah kaca. Beberapa atom lain yang mengandung brom seperti metal bromide
dan halon juga ikut memeperbesar penguraian ozon. Dampak bagi makhluk hidup: lebih banyak
kasus kanker kulit melanoma yang bisa menyebabkan kematian, meningkatkan kasus katarak pada
mata dan kanker mata, menghambat daya kebal pada manusia (imun), penurunan produksi tanaman
jagung, kenaikan suhu udara dan kematian pada hewan liar, dll.
3. Hujan Asam : Proses revolusi industri mengakibatkan timbulnya zat pencemaran udara. Pencemaran
udara tersebut bisa bereaksi air hujan dan turun menjadi senyawa asam. Dampaknya : proses korosi
menjadi lebih cepat, iritasi pada kulit, sistem pernafasan, menyebabkan pengasaman pada tanah.
4. Pertumbuhan populasi : pertambahan penduduk duia yang mengikuti pertumbuhan secara ekponsial
merupakan permasalahan lingkungan. Dampaknya: terjadinya pertumbuhan penduduk akan
menyebabkan meningkatnya kebutuhan sumber daya alam dan ruang.
5. Desertifikasi : merupakan penggurunan, menurunkan kempampuan daratan. Pada proses
desertifikasi terjadi proses pengurangan produktifitas yang secara bertahap dan penipisan lahan
bagian atas karena aktivitas manusia dan iklim yang bervariasi seperti kekeringan dan banjir. Dampak
: awalnya berdampak local namun sekarang isu lingkungan sudah berdampak global dan
menyebabkan semakin meningkatnya lahan kritis di muka bumi sehingga penangkap CO2 menjadi
semakin berkurang.
6. Penurunan keaneragaman hayati : adalah keaneragaman jenis spesies makhluk hidup. Tidak hanya
mewakili jumlah atau sepsis di suatu wilayah, meliputi keunikan spesies, gen serta ekosistem yang
merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Dampaknya: karena keaneragaman hayati
ini memeliki potensi yang besar bagi manusia baik dalam kesehatan, pangan maupun ekonomi
7. Pencemaran limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun): bahan yang diindentifikasi memiliki bahan
kimia satu atau lebih dari karasteristik mudah meledak, mudah terbakar, bersifai reaktif, beracun,
penyabab infeksi, bersifat korosif. Dampak : dulunya hanya bersifat lokal namun sekarang antar
negara pun melakukan proses pertukaran dan limbanya di buang di laut lepas. Dan jika itu semua
terjadi maka limbah bahan berbahaya dan beracun dapat bersifat akut sampai kematian makhluk
hidup.

Sumber : Humairah : http://humairahworld.wordpress.com/2011/02/12/isu-lingkungan/


Tokoh Lingkungan

Gaylord Nelson: Pencetus Hari Bumi dan Hari Lingkungan Se-Dunia


Hari Lingkungan yang diperingati Se-dunia ini setiap tanggal 5 Juni menurut sejarahnya dicetuskan pada
tahun 1972. Salah satu tokoh penting dan berpengaruh kelahiran hari tersebut adalah Gaylord Nelson,
seorang senator Amerika Serikat. Sebenarnya hari Lingkungan hidup itu tercetus seiring dengan rangkaian
dari kegiatan lingkungan yang dilakukan oleh Gaylord Nelson yaitu tepatnya tahun 1970 ketika Gaylord
Nelson memproklamasikan hari Bumi (22 April). Jadi, Hari Lingkungan Hidup ada setelah dua tahun sejak
adanya Hari Bumi. Read more

Proyek Energi Ramah Lingkungan ala Mahasiswa Teknik


Kimia UI
шаблоны сайтов
joomla

Mahasiswa Departermen Teknik Kimia


Universitas Indonesia punya cara unik dalam mempromosikan penggunaan energi
terbaharukan di lingkungan kampusnya. Mereka menginstalasi Solar Panel diatap gedung
departermen mereka yang output listriknya digunakan sebagai kebutuhan charging laptop dan
handphone di saung (Gazebo) tempat mahasiswa biasa berkumpul.
Proyek ini adalah bagian dari tugas mata kuliah Energi Berkelanjutan yang merupakan
mata kuliah pilihan di Jurusan Teknik Kimia. “Proyek ini merupakan actionnyata
pengimplementasian keberlanjutan dan bauran energi ketika kita seringkali hanya
mewacanakan isu-isu tersebut” ujar Prof. Dr. Ir. Widodo Wahyu Purwanto, DEA sebagai
pembimbing mata kuliah Energi Berkelanjutan tersebut.
Solar panel yang dipasang memiliki total daya 815 Watt dengan masa pakai hingga 25-
30 tahun. Instalasi solar panel tersebut mampu menghasilkan energi hingga 1.335 kWh
pertahun yang artinya dapat mereduksi gas karbondioksida hingga 0,6–1,2 ton
ekuivalen/tahunnya. Total dana yang dikeluarkan untuk proyek ini hingga 45 juta rupiah
yang dibiayai oleh Fakultas Teknik UI, produsen solar panel SHARP dan perusahaan
migas TOTAL Indonesie sebagai wujud kepedulian perusahaan dalam dunia pendidikan
dan sustainabilitas energi. Proses instalasi disupervisi oleh Prof. Dr. Ir. Setijo Bismo,
DEA yang kebetulan juga memasang banyak solar panel dirumahnya.
Proyek energi ramah lingkungan ini diharapkan mampu memicu proyek-proyek serupa
di lingkungan kampus UI maupun kampus lain. “Saya sangat mengapresiasi apa yang
dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa ini,” tutur Prof. Dr. Ir. Riri Fitri Sari MM MSc,
SMIEEE, ACG yang juga pencetus UI Green Metric World University Ranking. Menurut
beliau, apa yang dilakukan para mahasiswa teknik kimia dapat mendorong sivitas
akademika UI terus mengembangkan gaya hidup ramah lingkungan.
Departermen Teknik Kimia Universitas Indonesia memang sangat concern sekali
terhadap isu-isu lingkungan dan keberlangsungan energi seperti ini. Riset-riset seperti
produksi hidrogen dari air menggunakan fotokatalis dan sinar matahari, produksi biofuel
generasi ketiga dari biomass, pengembangan proton exchange membrane fuel
cell(PEMFC), hingga utilisasi alga untuk menghasilkan sumber-sumber energi adalah
segelintir contoh riset-riset yang diharapkan menjadi ujung tombak riset teknologi
nasional dalam menunjang sustainabilitas energi di Indonesia. Dengan demikian,
Indonesia tidak hanya menjadi pengguna produk-produk energi tersebut namun juga
mampu memproduksi sendiri dalam menggapai kedaulatan energi dan kemandirian
bangsa.

~ Energi Nuklir Menjadi Salah Satu Isu


Kumpulan Artikel - 111 - Energi Nuklir / PLTN
Array Cetak Array PDF

Energi Nuklir, Siapa Takut?

Masalah energi merupakan salah satu isu penting yang sedang hangat dibicarakan. Semakin
berkurangnya sumber energi, penemuan sumber energi baru, pengembangan energi-energi
alternatif, dan dampak penggunaan energi minyak bumi terhadap lingkungan hidup menjadi tema-
tema yang menarik dan banyak didiskusikan. Pemanasan global yang diyakini sedang terjadi dan
akan memasuki tahap yang mengkhawatirkan disebut-sebut juga merupakan dampak penggunaan
energi minyak bumi yang merupakan sumber energi utama saat ini.
Dampak lingkungan dan semakin berkurangnya sumber energi minyak bumi memaksa kita untuk
mencari dan mengembangkan sumber energi baru. Salah satu alternatif sumber energi baru yang
potensial datang dari energi nuklir. Meski dampak dan bahaya yang ditimbulkan amat besar, tidak
dapat dipungkiri bahwa energi nuklir adalah salah satu alternatif sumber energi yang layak
diperhitungkan.

Isu energi nuklir yang berkembang saat ini lebih banyak berkisar tentang penggunaan energi nuklir
dalam bentuk bom nuklir dan bayangan buruk tentang musibah hancurnya reaktor nuklir di
Chernobyl. Isu-isu ini telah membentuk bayangan buruk dan menakutkan tentang nuklir dan
pengembangannya. Padahal, pemanfaatan yang bijaksana, bertanggung jawab, dan terkendali atas
energi nuklir dapat meningkatkan taraf hidup sekaligus memberikan solusi atas masalah kelangkaan
energi.

Sekilas tentang Energi Nuklir

Secara umum, energi nuklir dapat dihasilkan melalui dua macam mekanisme, yaitu pembelahan inti
atau reaksi fisi dan penggabungan beberapa inti melalui reaksi fusi. Di sini akan dibahas salah satu
mekanisme produksi energi nuklir, yaitu reaksi fisi nuklir.

Sebuah inti berat (misalnya uranium) yang ditumbuk oleh partikel (misalnya neutron) dapat
membelah menjadi dua inti yang lebih ringan dan beberapa partikel lain dengan menghasilkan
energi. Mekanisme semacam ini disebut pembelahan inti atau fisi nuklir.

Reaksi fisi uranium seperti di atas menghasilkan neutron selain dua buah inti atom yang lebih
ringan. Neutron ini dapat menumbuk (diserap) kembali oleh inti uranium untuk membentuk reaksi fisi
berikutnya. Mekanisme ini terus terjadi dalam waktu yang sangat cepat membentuk reaksi berantai
tak terkendali. Akibatnya, terjadi pelepasan energi yang besar dalam waktu singkat. Mekanisme ini
yang terjadi di dalam bom nuklir yang menghasilkan ledakan yang dahsyat. Jadi, reaksi fisi dapat
membentuk reaksi berantai tak terkendali yang memiliki potensi daya ledak yang dahsyat dan dapat
dibuat dalam bentuk bom nuklir.

Dibandingkan dibentuk dalam bentuk bom nuklir, pelepasan energi yang dihasilkan melalui reaksi
fisi dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih berguna. Untuk itu, reaksi berantai yang terjadi
dalam reaksi fisi harus dibuat lebih terkendali. Usaha ini bisa dilakukan di dalam sebuah reaktor
nuklir. Reaksi berantai terkendali dapat diusahakan berlangsung di dalam reaktor yang terjamin
keamanannya dan energi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang lebih berguna,
misalnya untuk penelitian dan untuk membangkitkan listrik.

Di dalam reaksi fisi yang terkendali, jumlah neutron dibatasi sehingga hanya satu neutron saja yang
akan diserap untuk pembelahan inti berikutnya. Dengan mekanisme ini, diperoleh reaksi berantai
terkendali yang energi yang dihasilkannya dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang berguna.

Reaktor Nuklir
Energi yang dihasilkan dalam reaksi fisi nuklir dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang berguna.
Untuk itu, reaksi fisi harus berlangsung secara terkendali di dalam sebuah reaktor nuklir. Sebuah
reaktor nuklir paling tidak memiliki empat komponen dasar, yaitu elemen bahan bakar, moderator
neutron, batang kendali, dan perisai beton.

Elemen bahan bakar menyediakan sumber inti atom yang akan mengalami fusi nuklir. Bahan yang
biasa digunakan sebagai bahan bakar adalah uranium (rumus kimianya U). elemen bahan bakar
dapat berbentuk batang yang ditempatkan di dalam teras reaktor.

Untuk memungkinkan terjadinya fisi nuklir adalah neutron lambat sehingga diperlukan material yang
dapat memperlambat kelajuan neutron ini. Fungsi ini dijalankan oleh moderator neutron yang
umumnya berupa air. Jadi, di dalam teras reaktor terdapat air sebagai moderator yang berfungsi
memperlambat kelajuan neutron dimana neutron akan kehilangan sebagian energinya saat
bertumbukan dengan molekul-molekul air.

Fungsi pengendalian jumlah neutron yang dapat menghasilkan fisi nuklir dalam reaksi berantai
dilakukan oleh batang-batang kendali. Agar reaksi berantai yang terjadi terkendali dimana hanya
satu neutron saja yang diserap untuk memicu fisi nuklir berikutnya, digunakan bahan yang dapat
menyerap neutron-neutron di dalam teras reaktor. Bahan seperti boron atau kadmium sering
digunakan sebagai batang kendali karena efektif dalam menyerap neutron.

Batang kendali didesain sedemikian rupa agar secara otomatis dapat keluar-masuk teras reaktor.
Jika jumlah neutron di dalam teras reaktor melebihi jumlah yang diizinkan (kondisi kritis), maka
batang kendali dimasukkan ke dalam teras reaktor untuk menyerap sebagian neutron agar tercapai
kondisi kritis. Batang kendali akan dikeluarkan dari teras reaktor jika jumlah neutron di bawah
kondisi kritis (kekurangan neutron), untuk mengembalikan kondisi ke kondisi kritis yang diizinkan.

Radiasi yang dihasilkan dalam proses pembelahan inti atom atau fisi nuklir dapat membahayakan
lingkungan di sekitar reaktor. Diperlukan sebuah pelindung di sekeliling reaktor nuklir agar radiasi
dari zat radioaktif di dalam reaktor tidak menyebar ke lingkungan di sekitar reaktor. Fungsi ini
dilakukan oleh perisai beton yang dibuat mengelilingi teras reaktor. Beton diketahui sangat efektif
menyerap sinar hasil radiasi zat radioaktif sehingga digunakan sebagai bahan perisai.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Energi yang dihasilkan dari reaksi fisi nuklir terkendali di dalam reaktor nuklir dapat dimanfaatkan
untuk membangkitkan listrik. Instalasi pembangkitan energi listrik semacam ini dikenal sebagai
pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Salah satu bentuk reaktor nuklir adalah reaktor air bertekanan (pressurized water reactor/PWR).
Energi yang dihasilkan di dalam reaktor nuklir berupa kalor atau panas yang dihasilkan oleh batang-
batang bahan bakar. Kalor atau panas dialirkan keluar dari teras reaktor bersama air menuju alat
penukar panas (heat exchanger). Di sini uap panas dipisahkan dari air dan dialirkan menuju turbin
untuk menggerakkan turbin menghasilkan listrik, sedangkan air didinginkan dan dipompa kembali
menuju reaktor. Uap air dingin yang mengalir keluar setelah melewati turbin dipompa kembali ke
dalam reaktor.

Untuk menjaga agar air di dalam reaktor (yang berada pada suhu 300oC) tidak mendidih (air
mendidih pada suhu 100oC dan tekanan 1 atm), air dijaga dalam tekanan tinggi sebesar 160 atm.
Tidak heran jika reaktor ini dinamakan reaktor air bertekanan.

Siapa Takut?

Dengan adanya mekanisme pengendalian sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, tidak ada
alasan untuk takut kepada energi nuklir. Bahkan, energi nuklir dapat menjadi salah satu alternatif
penyediaan energi di tengah krisis energi yang terjadi belakangan ini. energi nuklir yang dapat
dikonversi menjadi energi listrik di dalam sebuah PLTN dapat menjadi salah satu penyuplai energi
listrik di masa depan.