Anda di halaman 1dari 22

BAB II

KERANGKA TEORI

2.1 Penyalahgunaan

Penyalahgunaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah suatu proses, cara

dan perbuatan yang menyalahgunakan sesuatu. Kata penyalahgunaan berasal dari kata

salah dan guna yang telah diberikan imbuhan yang berupa awalan (afiks), akhiran

(sufiks), sisipan (infiks) dan awalan-akhiran (konfiks) sehingga memiliki perubahan

makna dan disebut sebagai kata turunan. Jika dijabarkan kata penyalahgunaan

berawalan dari imbuhan dua kata yang digabungkan yaitu kata salah dan guna sehingga

menjadi kata menyalahgunakan yang mempunyai arti melakukan sesuatu tidak

sebagaimana mestinya.1 Sehingga penulis menyimpulkan bahwa kata penyalahgunaan

adalah kegiatan melakukan sesuatu hal dimana proses dan cara yang dilakukan tidak

sebagaimana mestinya sehingga hasil dari kegiatan tersebut menjadi berbeda dengan

yang diharapkan.

Dalam kegiatan penyalahgunaan terdapat subjek yang menjadi peran dalam

menyalahgunakan sesuatu, sehingga subjek tersebut menjadi pihak yang bertanggung

jawab atas kegiatan tersebut. Selain terdapat subjek maka terdapat objek dalam

penyalahgunaan, dimana objek tersebut merupakan suatu hal yang digunakan tidak

sebagai mana mestinya. Dalam penulisan hukum ini penulis akan membahas

penyalahgunaan terhadap electronic liquid vaporizer yang mengandung narkotika

1
https://kbbi.web.id/salah%20guna.menyalahgunakan, diakses pada tanggal 17 Januari 2017, pukul 20.00

1
dimana hal ini menjadi ancaman bagi Bangsa Indonesia terutama pada kalangan

generasi muda karena narkotika merupakan zat alami ataupun sintetis yang sangat

berbahaya jika disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Untuk

pembahasan berikutnya penulis akan terlebih dahulu menjelaskan apa itu vaporizer dan

electronic liquid vaporizer.

2.2 Vaporizer

Vaporizer adalah alat hisap yang memiliki komponen elektrik didalamnya dan

bekerja mengubah liquid yang disebut electronic liquid vaporizer menjadi uap air

dengan cara dihisap oleh si pengguna. Vaporizer merupakan salah satu jenis rokok

elektonik yang sudah dimodifikasi dengan lebih kompleks. Rokok

Elektronik (Elecronic Nicotine Delivery Systems atau e-Cigarette) adalah sebuah

inovasi dari bentuk rokok konvensional menjadi rokok modern. Rokok elektronik

pertama kali dikembangkan pada tahun 2003 oleh SBT Co Ltd, sebuah perusahaan

yang berbasis Beijing, RRC, yang sekarang dikuasai oleh Golden Dragon Group Ltd

Pada tahun 2004, Ruyan mengambil alih proyek untuk mengembangkan teknologi

yang muncul. Diserap secara resmi Ruyan SBT Co Ltd dan nama mereka diubah

menjadi SBT RUYAN Technology & Development Co, Ltd.2 Pada awalnya rokok

elektronik ditujukan untuk menggantikan rokok biasa atau rokok konvensional bagi

para pecandu rokok sebagai alat terapi untuk berhenti merokok. Cochrane Review

melakukan penelitian terhadap manfaat rokok elektrik yang dapat membuat pecandu

2
https://id.wikipedia.org/wiki/Rokok_elektronik, diakses pada tanggal 17 Januari 2017, pukul 20.40

2
rokok biasa dapat mengurangi konsumsi rokok. Hasilnya mereka menyimpulakn

bahwa rokok elektrik dapat mengurangi konsumsi rokok.

Penelitian ini juga membuktikan tidak ada efek samping yang berarti yang

ditemukan pada pengguna rokok elektrik. Efek samping yang terjadi hanya berupa

iritasi tenggorokan dan mulut. Meski begitu, peneliti menyebutkan masih butuh waktu

lama untuk melihat apakah rokok elektrik benar-benar tidak menimbulkan efek

samping serius. Ada penelitian lain yang dilakukan University College London yang

menganalisis tren berhenti merokok terbaru di Inggris, termasuk pengaruh penggunaan

perangkat rokok elektrik bagi perokok. Pihak University College London menemukan

hasil bahwa rokok elektrik tidak memiliki dampak langsung untuk angka kesuksesan

berhenti merokok. Ditemukan bahwa meski tak memiliki dampak langsung, ada

pengaruh rokok elektrik dalam angka kesuksesan berhenti merokok.

Hasil penelitian ini menyebutkan penggunaan rokok elektrik tidak serta merta

meningkatkan kemauan seseorang untuk mencoba berhenti merokok. Namun di sisi

lain, semakin tingginya angka pengguna rokok elektrik di Inggris, semakin tinggi pula

angka kesuksesan perokok untuk berhenti.3

Menurut laporan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, ada tiga jenis

generasi rokok elektrik, yakni generasi pertama, kedua dan ketiga. Ada tiga elemen

utama yang membentuk struktur dasar dari rokok elektik itu sendiri yakni baterai,

atomizer atau pemanas logam dan cartridge yang berisi cairan atau liquid yang terbuat

dari zat kimia. Struktur inilah yang terus berubah mengikuti teknologi yang

berkembang.

3
https://health.detik.com/read/2016/09/15/093103/3298355/763/dua-studi-ini-buktikan-manfaat-
rokok-elektrik-untuk-berhenti-merokok, diakses pada tanggal 17 Januari 2017, pukul 21.07

3
Generasi pertama bentuk rokok elektrik sama dengan bentuk rokok konvensional

dan sekali pakai. Generasi kedua bentuknya seperti pena atau obeng, dengan variasi

warna dan model cartridge, serta dengan kapasitas besar. Sementara generasi ketiga

adalah yang saat ini sedang marak digunakan. Seperti menggunakan sistem tangki,

komponen terpisah sehingga mudah dimodifikasi dan dilengkapi USB port dan

Bluetooth yang bisa terintegrasi dengan smartphone atau ponsel pintar.4

Vaporizer itu sendiri terdiri atas beberapa bagian yakni :

1. Tube - konsol utama vaporizer;

2. Baterai - sumber listrik biasanya diisi melalui USB;

3. Cartridge - komponen tempat menyimpan e-liquid;

4. Atomizer - memanaskan e-liquid / e-juice dan menciptakan uap yang dihirup

dan dihembuskan;

5. Cartomizer - kombinasi dari alat penyemprot dan cartridge dalam satu.

2.2.1 Electronic Liquid Vaporizer

E - Juice / E - Liquid / Electronic Liquid Vaporizer adalah cairan berbasis air yang

mengandung non- nikotin dan nikotin serta memiliki berbagai rasa yang mempunyai

empat bahan utama yaitu Propylene glycol, Vegetable gliserin, nikotin dan penyedap

rasa. Berikut adalah penjelasan mengenai empat bahan utama yang terkandung di

dalam electronic liquid vaporizer :

4
http://jogja.tribunnews.com/2016/10/10/lipsus-evolusi-vapor-mulai-dari-mirip-rokok-hingga-seperti-
gadget, diakses pada tanggal 17 Januari 2017, pukul 21.35

4
1. Propylene glycol adalah senyawa organik sintetis dengan rumus kimia

C3H8O2. Ini adalah cairan berwarna kental yang hampir tidak berbau

namun memiliki sedikit rasa manis. Secara kimiawi C3H8O2

dikelompokkan sebagai diol dan dapat dicampur dengan pelarut yang luas,

termasuk air, aseton, dan kloroform. C3H8O2 diproduksi dalam skala besar

terutama digunakan dalam produksi polimer, tetapi juga melihat

penggunaan dalam pengolahan makanan, dan sebagai fluida proses dalam

aplikasi pertukaran panas dengan suhu rendah.5

2. Vegetable gliserin adalah bahan kimia berbentuk cairan yang tidak

berwarna hingga kuning, tidak berbau, berasa manis, bertekstur kental,

bersifat higroskopis dengan pH netral dan larut dalam air, alkohol, etil

asetat, dan eter namun tidak larut dalam benzen, kloroform, karbon

tetraklorida, karbon disulfida, petroleum eter, dan minyak.6

3. Nikotin adalah zat, atau bahan senyawa pirrolidin yang terdapat dalam

Nicotiana Tabacum, Nicotiana rustica dan spesies lainnya atau sentetisnya

yang bersifat adiktif dan dapat mengakibatkan ketergantungan.7

4. Penyedap rasa adalah bahan tambahan makanan yang memberikan rasa

pada bahan tertentu, sehingga suatu makanan dapat bertambah manis, asam,

dan sebagainya. Umumnya penyedap rasa diberikan kepada makanan yang

tidak atau kurang memiliki rasa sehingga disukai konsumen.

5
https://en.wikipedia.org/wiki/Propylene_glycol, diakses pada tanggal 17 Januari 2017, pukul 22.00
6
http://apotekeranda.com/bahaya-vegetable-glycerin-rokok-elektrik/, diakses pada tanggal 17 Januari 2017,
pukul 22.35
7
Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 1999 Tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan dalam BAB I
Ketentuan Umum Pasal 1 butir 3.

5
Terdapat tiga jenis penyedap rasa antara lain:8

1. Penyedap rasa alami adalah penyedap rasa yang didapatkan dari

tumbuhan dan hewan secara langsung atau melalui proses fisik,

mikrobiologi, atau enzimatis. Dapat dikonsumsi secara langsung atau

diproses terlebih dahulu.

2. Penyedap rasa identik alami adalah penyedap rasa yang didapatkan dari

sintesis atau isolasi secara proses kimiawi dan memiliki komposisi,

struktur, dan sifat yang mirip dengan penyedap rasa alami secara

kimiawi maupun organoleptik.

3. Penyedap rasa sintetis adalah penyedap rasa yang tidak terdapat di

alam, didapatkan dari proses kimiawi dengan bahan baku dari alam

maupun hasil tambang.

2.3 Narkotika

Secara umum, yang dimaksud dengan narkotika adalah sejenis zat yang dapat

menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu bagi orang-orang yang menggunakannya,

yaitu dengan cara memasukkan ke dalam tubuh. 9 Istilah narkotika yang digunakan

disini bukanlah ”narcotics”pada farmasi, melainkan sama artinya dengan “drug”,

8
Australian Food Standards Guidelines
http://web.archive.org/web/20031218011706/http://www.foodstandards.gov.au/_srcfiles/flavourings_user_
guide_0802.pdf yang diakses pada 17 Januari 2017, pukul 23.20
9
Taufik Makaro, dkk, Tindak Pidana Narkotika, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), hlm. 16.

6
yaitu sejenis zat yang apabila dipergunakan akan membawa efek dan pengaruh-

pengaruh tertentu pada tubuh si pemakai, yaitu :10

a. Mempengaruhi kesadaran;

b. Memberikan dorongan yang dapat berpengaruh terhadap perilaku

manusia;

c. Pengaruh-pengaruh tersebut dapat berupa

1. Penenang;

2. Perangsang (bukan rangsangan sex);

3. menimbulkan halusinasi (pemakainya tidak mampu membedakan

antara khayalan dan kenyataan, kehilangan kesadaran akan waktu

dan tempat).

Pada mulanya zat narkotika ditemukan orang yang penggunaannya ditujukan

untuk kepentingan umat manusia, khususnya di bidang pengobatan. Narkotika sendiri

berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis. Dengan

berkembang pesat industri obat-obatan dewasa ini, maka kategori jenis zat-zat

narkotika semakin meluas pula. Selain itu dengan berkembangnya ilmu pengetahuan

dan teknologi maka narkotika semakin berkembang pula cara pengolahannya.

Tentunya perkembangan dalam cara mengolah narkotika ini menjadi faktor tersendiri

bertambahnya jumlah penyalahgunaan dari waktu ke waktu. Disamping itu

perkembangan zaman dan mobilitas kehidupan membuat narkotika menjadi bagian

gaya hidup. Di Indonesia sendiri narkotika digolongkan dalam hukum pidana khusus

10
Ibid, hlm. 17.

7
sehingga tidak diatur secara lengkap di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

dan merupakan tindak pidana yang diatur di luar Kitab Undang-Undang Hukum

Pidana.

Untuk mengetahui bagaimana narkotika dapat digolongkan dalam tindak pidana

khusus, maka penulis akan memberikan penjelasan terlebih dahulu tentang apa yang

dimaksud hukum pidana khusus menurut beberapa ahli. Pendapat para ahli tersebut

antara lain:

1. Jan Remelink

Hukum pidana khusus menurut Jan Remelink secara sederhana

disebut delicti propria. Suatu delik yang dilakukan oleh seseorang

dengan kualitas

atau kualifikasi tertentu.11

2. Azis Syamsudin

Hukum pidana khusus adalah perundang-undangan di bidang

tertentu yang bersanksi pidana, atau tindak pidana yang diatur

dalam undang-undang khusus.12

Sebagai suatu aturan khusus yang bersifat khsusus peraturan di luar Kitab Undang-

Undang Hukum Pidana tersebut harus tetap dan berada dalam batas-batas yang

diperkenankan oleh hukum pidana formil dan materiil. Menurut Bagir Manan, sebagai

lex specialis harus memenuhi beberapa syarat, antara lain:13

11
Hariman Satria, Anatomi Hukum Pidana Khusus, Yogyakarta: UII Press, 2004, hlm. 8.
12
Azis Syamsuddin, Tindak Pidana Khusus, Jakarta: Sinar Grafika, 2011, hlm. 9.
13
Bagir Manan, Sistem Peradilan Berwibawa Suatu Pencarian, Yogyakarta: FH UII Press, 2005, hlm. 90.

8
1. Prinsip bahwa semua kaidah umum berlaku kecuali secara khusus

diatur berbeda;

2. Dalam pengertian lex specialis termasuk juga asas dan kaidah-

kaidah yang menambahkan kaidah umum yang diterapkan secara

kumulatif antara kaidah umum dan kaidah khusus dan bukan

hanya mengatur penyimpangan;

3. Dalam lex specialis bermaksud menyimpangi atau mengatur

berbeda dengan lex generalis harus dengan motif lebih

memperkuat asas dan kaidah-kaidah umum bukan untuk

memperlemah kaidah umum, selain itu harus dapat di-tunjukan

pula suatu kebutuhan khusus yang hendak dicapai yang tidak

cukup memadai hanya mempergunakan kaidah umum;

4. Semua kaidah lex specialis harus diatur secara spesifik sebagai

kaidah (norma) bukan sesuatu yang sekedar dilandaskan pada

asas-asas umum atau kesimpulan umum belaka; dan

5. Semua kaidah lex specialis harus berada dalam regim hukum yang

sama dan diatur dalam per-tingkatan perundang-undangan yang

sederajat dengan kaidah-kaidah lex generalis.

Tidak ada pendefisian Tindak Pidana Khusus secara baku. Berdasarkan pasal 103

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, istilah “Pidana Khusus” dapat diartikan sebagai

perbuatan pidana yang ditentukan dalam perundangan tertentu di luar Kitab Undang-

Undang Hukum Pidana. Rochmat Soemitro, mendefinisikan tindak pidana khusus

9
sebagai tindak pidana yang diatur tersendiri dalam undang-undang khusus, yang

memberikan peraturan khusus tentang tata cara penyidikannya, tuntutannya,

pemeriksaanya, maupun sanksinya yang menyimpang dari ketentuan yang dimuat

dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.14 T. N. Syamsah berpendapat bahwa

pengertian tindak pidana khusus harus dibedakan dari pengertian ketentuan pidana

khusus. Pidana khusus pada umumnya mengatur tentang tindak pidana yang dilakukan

di dalam bidang tertentu atau khusus (di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana)

contohnya seperti dalam bidang perpajakan, imigrasi dan perbankan yang tidak diatur

secara umum dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau yang diatur

menyimpang dari ketentuan pidana umum. Sedangkan, tindak pidana khusus adalah

tindak pidana yang diatur tersendiri dalam undang-undang khusus, yang memberikan

peraturan khusus tentang cara penyidikannya, tuntutannya, pemeriksaannya maupun

sanksinya yang menyimpang dari ketentuan yang dimuat dalam Kitab Undang-Undang

Hukum Pidana yang lebih ketat atau lebih berat. Tetapi, jika tidak diberikan ketentuan

yang menyimpang, ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana umum tetap

berlaku.15

Tindak pidana khusus itu sangat merugikan masyarakat dan negara, maka perlu

diadakan tindakan cepat dan perlu diberi wewenang yang lebih luas kepada penyidik

dan penuntut umum, hal ini agar dapat mencegah kerugian yang lebih besar. Macam-

macam tindak pidana khusus antara lain seperti tindak pidana ekonomi, tindak pidana

korupsi serta tindak pidana HAM berat.16

14
Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana I, Jakarta: Rajawali Pers, 2013, hlm. 13.
15
T.N. Syamsah, Tindak Pidana Perpajakan, Bandung: Alumni, 2011, hlm. 51.
16
Ibid, hlm. 52

10
Selanjutnya kriteria tindak pidana khusus antara lain :

1. Mengatur perbuatan tertentu atau berlaku terhadap orang tertentu

yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain selain orang tertentu;

2. Dilihat dari substansi dan berlaku bagi siapapun;

3. Penyimpangan ketentuan hukum pidana dan;

4. Undang-Undang tersendiri.

Setelah kemerdekaan tentunya pemerintah Indonesia sudah berdaulat penuh

dalam pembentukan aturan Perundang-Undangan, Dalam upaya memberantas

kejahatan narkotika pemerintah sudah membentuk aturan-aturan dalam bentuk

Undang-Undang yang merupakan pemenuhan dari asas lex specialis derogate legi

generalis yang menjadi asas dari hukum pidana di Indonesia terhadap tindak pidana

khusus yang harus diatur diluar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana sebagai

ketentuan-ketentuan umum Hukum Pidana Indonesia. Oleh karena itu tindak pidana

narkotika sebagai tindak pidana khusus sudah dibentuk Undang-Undangnya di

Indonesia antara lain:

1. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Pengesahan Konvensi

Tunggal Narkotika 1961 beserta Protokol Tahun 1972 yang mengubahnya

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1976 Nomor 36, Tambahan

Lembaran Negara Nomor 3085);

2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997 tentang Pengesahan United

Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and

Psychotropic Substances, 1988 (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa

11
tentang Pemberantasa Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika,

1988) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 17,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3673);

3. Pengaturan Narkotika Menurut Undang-Undang No. 22 Tahun 1997; dan

4. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Pada saat ini di dalam masa berlakunya Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009

tentang Narkotika terdapat penggolongan Narkotika yang terbagi menjadi tiga

golongan. Pada sub-bab selanjutnya penulis akan menjelaskan jenis-jenis narkotika

yang terdapat di dalam tiga golongan tersbut, namun penulis akan memfokuskan

terhadap jenis narkotika yang perlu diketahui dalam kehidupan sehari-hari karena

mempunyai dampak yang sangat berbahaya jika disalahgunakan.

2.3.1 Narkotika Alam

2.3.1.1 Candu

Candu berasal dari tumbuh-tumbuhan yang dinamakan Papaver Somniferum.

Candu memiliki nama lain yaitu madat, di Jepang disebut “ikkanshu” di Cina

dinamakan “Japien” yang banyak ditemukan di negara-negara seperti Yunani, Turki,

Irak, Iran, India, Mesir dan Thailand. Bagian yang dapat dipergunakan dari tanaman

ini adalah getahnya yang diambil dari buahnya, narkotika jenis candu atau opium

termasuk jenis depressants yang mempunyai pengaruh hypnotics. Pepaver Somniferum

diberi nama oleh Linnaeus pada tahun 1753. Selain itu, pohon ini juga mempunyai

12
nama lain, seperti Pepaver Ningrum dan Pavot Somnifere. Candu ini adalah merupakan

jenis tanaman keras, yang dapat ditanam serta dipelihara diperkebunan. Tanaman

Candu ini berasal dari Timur Tengah, Yunani, Romawi Kuno, karena dibawa oleh para

pedagang. Sampai pada akhirnya tanaman ini menyebar di India dan Cina. Tanaman

ini sudah lama dikenal, dan biasanya digunakan untuk bersenang-senang. Tanaman ini

mulai masuk di India pada abad ke delapan. Pada awalnya, Opium ini digunakan

sebagai tanaman yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit. Namun sampai pada

masa dimana seorang Kaisar Cina mengeluarkan peraturan untuk merokok. Sejak saat

itu banyak pengguna rokok yang beralih menggunakan Opium sebagai subtitusi rokok

atau tembakau. Pepaver Somniferum ini memiliki buah yang berbentuk tabung gong

serta tangkai yang besar dan berbunga serta berbuah. Jika bunganya mulai panen,

maka buahnya akan berjatuhan. Setelah itu dalam kurun waktu dua minggu maka

buahnya akan matang. Pada bagian buahnya, bila digoreskan menggunakan pisau maka

akan keluar getah berwarna putih yang kemudian membeku. Getah beku inilah yang

merupakan bahan mentah candu (raw opium).

2.3.1.2 Morfin

Morfin adalah zat utama yang berkhasiat narkotika yang terdapat pada candu

mentah, diperoleh dengan jalan mengolah secara kimia. Morfin termasuk jenis

narkotika yang membahayakan dan memiliki daya eskalasi yang relative cepat, dimana

seorang pecandu untuk memperoleh rangsangan yang diingini selalu memerlukan

penambahan dosis yang lambat laun membahayakan jiwa.17

17
Ibid, hlm. 23.

13
Menurut Pharmatologic Principles of Medical Practice by John C. Kranz dan

Jeleff Carr, bahwa sebagai obat, morfin berguna untuk hal berikut:18

1. Menawarkan (menghilangkan) penderitaan sakit nyer, hanya cukup

dengan 10 gram;

2. Menolak penyakit diare;

3. Menyembuhkan batuk kering;

4. Dipakai sebelum diadakan pembedahan;

5. Dipakai dalam pembedahan dimana banyak mengeluarkan darah karena

morfin mengurangi tekanan darah sehingga dapat meminimalisir

pendarahan; dan

6. Sebagai obat tidur bila rasa sakit menghalang-halangi kemampuan

untuk tidur.

2.3.1.3 Heroin

Heroin berasal dari tumbuhan papaver somniferum, tanaman ini menghasilkan

codeine, morfin dan opium. Heroin disebut juga dengan sebutan putau. Heroin berasal

dari Bahasa Jerman yakni kata “hero” yang artinya pahlawan. Heroin berfungsi untuk

melegakan batuk (antitusif), penghilang rasa sakit (analgesik), menekan aktivitas

depresi dalam syaraf, melegakan nafas, dan jantung. Disamping itu heroin juga dapat

melancarkan pencernaan serta membesarkan pembuluh darah. Heroin juga disebut

dengan sebutan putau, zat ini sangat berbahaya jika dikonsumsi dengan dosis yang

berlebih sehingga dapat menyebabkan kematian.19

18
Ibid.
19
Ibid, hlm. 24.

14
2.3.1.4 Cocaine

Berasal dari tumbuh-tumbuhan yang disebut erythroxylon coca. Cocaine

diperoleh dengan cara memetic daun coca yang kemudian dikeringkan dan diolah di

pabrik dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Serbuk cocaine berwarna putih,

rasanya pahit dan lama-lama serbuk bisa menjadi basah. Ciri-ciri cocaine antara lain

adalah;20

a. Termasuk golongan tanaman perdu atau belukar;

b. Di Indonesia, dapat tumbuh di daerah Malang dan sekitaran Jawa Timur;

c. Tumbuh sangat tinggi berkisar dua (2) meter;

d. Tidak berduri, tidak bertangkai, berhelai daun satu, tumbuh satu-satu pada

cabang atau tangkai; dan

e. Buahnya berbentuk lonjong berwarna kuning-merah atau merah saja

apabila sudah dimasak.

2.3.1.5 Ganja

Berasal dari tumbuhan cannabis sativa, yang memiliki nama lain yaitu Mariyuana

Ganja dapat tumbuh hampir di mana saja dan tidak memerlukan perawatan khusus. Daerah

yang beriklim sub-tropis merupakan tempat yang baik untuk ganja dikarenakan iklim

tersebut dapat membuat ganja tumbuh subur, oleh karena itu ganja dapat tumbuh hampir

di seluruh belahan dunia. Di Indonesia ganja dapat tumbuh subur di daerah Jawa dan

Sumatra. Ganja terbaik di Indonesia berasal dari daerah Aceh Tenggara, di Blengkejeren.

20
Ibid.

15
Pada daerah itu, ganja yang dihasilkan lebih lengkap dalam artian terdapat daun, buah,

tangkai, bunga, dan bijinya. Bahkan ada beberapa sumber mangatakan bahwa kualitas

ganja Aceh melebihi kualitas ganja yang berasal dari Katmandhu. Ganja termasuk tanaman

perdu yang mempunyai ketinggian antara 1,5 meter sampai 2,5 meter dan umumnya pada

usia enam bulan sudah mulai berbunga. Selain itu daun ganja memiliki tangkai dan jumlah

helai yang ganjil antara lima sampai tujuh bahkan sembilan helai. Daun ganja mengandung

zat tetra-hydro-cannabinol yaitu suatu zat sebagai elemen aktif yang oleh para ahli

dianggap sebagai hallucinogenio substance atau zat yang dapat menyebabkan halusinasi.21

Kadar tertinggi dari tetra-hydro-cannabin dapat ditemukan pada bagian bunga ganja yang

mulai mekar. Ganja terbagi dalam dua jenis yaitu ada jenis ganja jantan dimana jenis seperti

ini kurang bermanfaat, yang diambil hanya seratnya saja untuk pembuatan tali, lalu jenis

yang kedua adalah jenis ganja betina dimana jenis ini dapat berbunga dan berbuah,

biasanya digunakan untuk pembuatan rokok ganja.22

Ganja pada dunia kedokteran memang tidak mempunyai fungsi menyembuhkan

apapun, namun menurut hemat penulis ganja ini dapat digunakan bagi orang-orang yang

mengalami gangguan jiwa. Dalam situasi ini, Ganja diberikan sebagai obat penenang

dengan dosis yang rendah. Dengan menggunakan ganja, dapat dirasakan efek-efek seperti

gembira, tertawa tanpa sebab, banyak bicara, dan masih banyak lagi. Selain itu Efek ganja

juga akan dirasakan oleh batang otak. Batang otak mengendalikan fungsi dasar tubuh,

termasuk refleks muntah, tekanan darah, denyut jantung, sensasi nyeri, serta otot dan

21
Juliana Lisa dkk., Narkoba, Psikotropika dan Gangguan Jiwa Tinjauan Kesehatan dan Hukum, Yogyakarta:
Nuha Medika, 2013, hlm. 8.
22
Ibid.

16
gerakan.23

Berikut merupakan bentuk-bentuk ganja:

1. Berbentuk Rokok lintingan yang disebut Reefer;

2. Berbentuk campuran, dicampur tembako untuk dirokok;

3. Berbentuk campuran daun, tangkai, dan biji untuk dirokok;

4. Berbentuk bubuk dan damar yang dapat dihisap melalui hidung;

5. Berbentuk Damar Hashish berwarna coklat kehitam-hitaman seperti makjum.

2.3.2 Narkotika Sintetis

Adalah sejenis narkotika yang dihasilkan melalui proses kimia secara farmakologi

yang sering disebut dengan istilah Napza, yaitu kependekan dari Narkotika Alkohol

Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya. Napza tergolong zat psikoaktif, yaitu zat yang

terutama berpengaruh pada otak sehingga menimbulkan perubahan pada perilaku,

perasaan, pikiran, persepsi dan kesadaran.24 Brikut adalaj jenis-jenis narkotika sintetis

menurut reaksi pada pemakainya.

2.3.2.1 Depressants

Depressants atau depresif, yaitu mempunyai efek mengurangi kegiatan dari

susunan syaraf pusat, sehingga dipakai untuk menenangkan syaraf seseorang atau

mempermudah orang untuk tidur. Yang termasuk zat adiktif dalam golongan depressants

23
http://health.kompas.com/read/2016/09/21/195100823/beginilah.efek.samping.ganja.pada.otak,diakses
pada hari Kamis, 18 Januari 2018, Pukul 17.34 WIB.
24
Opcit, hlm. 25.

17
adalah sebagai berikut:25

a. Sedativa atau Hinotika (Obat penghilang rasa sakit);

b. Tranguilizers (Obat penenang);

c. Mandrax;

d. Ativan;

e. Valium 5;

f. Metalium;

g. Rohypnol;

h. Nitrazepam; dan

i. Megadon.

Pemakai obat-obatan ini akan menjadi delirium, bicara tidak jelas, ilusi yang salah, tidak

mampu mengambil keputusan yang cepat dan tepat.

2.3.2.2 Stimulants

Yaitu merangsang sistem syaraf simpatis dan berefek kebalikan dengan

depressants, yaitu menyebabkan peningkatan kesiagaan, frekuensi denyut jantung

bertambah atau berdebar, merasa lebih tahan bekerja, merasa gembira, sukar tidur dan tidak

merasa lapar. Obat-obatan yang tergolong stimulantsadalah sebagai berikut:26

a. Amfetamine atau ectacy;

b. Meth-Amphetamine atau Shabu-shabu;

c. Kafein;

25
Taufik Makaro, dkk, Tindak Pidana Narkotika, Bogor: Ghalia Indonesia, 2005, hlm. 25.
26
Ibid, hlm. 26.

18
d. Kokain;

e. Khat; dan

f. Nikotin.

Obat-pbatan ini khusus digunakan dalam jangka waktu singkat guna mengurangi nafsu

makan, mempercepat metabolism tubuh, menaikkan tekanan darah, memperkeras

denyut jantung, serta menstimulir bagian-bagian syaraf dari otak yang mengatur

semangat dan kewaspadaan.

2.3.2.3 Hallucinogens/halusinasi

Zat semacam halusinasi dapat menimbulkan perasaan-perasaan yang tidak nyata

sehingga meningkatkan khayalan atau halusinasi-halusinasi karena presepsi yang salah,

artinya pemakai tidak dapat membedakan apakah itu nyata atau hanya ilusi saja. Yang

termasuk dalam golongan obat ini adalah sebagi berikut:27

a. L.S.D (Lysergic Acid Diethylamide);

b. P.C.D (Phencylidine);

c. D.M.T (Demithyltrytamine);

d. D.O.M (Illict Forms of STP);

e. Psilacybe Mushrooms; dan

f. Peyote Cavtus, Buttons dan Ground Buttons.

27
Ibid, hlm.26-27.

19
2.4 Dijual Bebas di Indonesia

Bahwa secara yuridis formal pengertian mengenai perbuatan hukum mengadakan

jual beli diatur dalam Buku Ketiga Bab Kelima Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

tentang Jual Beli, yaitu pada Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Pengertian jual beli secara yuridis diatur dalam Pasal 1457 Kitab Undang-Undang

Hukum Perdata adalah sebagai berikut :

“Jual beli adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu

mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan dan pihak yang

lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan”28

Sesuai dengan pengertian dalam Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata di atas, maka ada tiga makna pokok dari jual beli yaitu :

1. Kesepakatan mengenai jenis dan bentuk benda yang dijual;

2. Kesepakatan mengenai harga benda yang dijual;

3. Penyerahan benda, yaitu mengalihkan hak kepemilikan atas

kebendaan yang telah dijual; dan

4. Adanya kewajiban pihak pembeli untuk membayar harga yang

telah dijanjikan.

Sementara itu ada pengertian lain tentang jual beli yaitu merupakan suatu perjanjian

tukar-menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara sukarela diantara kedua

belah pihak, yang satu menerima benda-benda dan pihak yang lain menerimanya sesuai

28
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Buku Ketiga Bab Kelima tentang Jual Beli pada bagian 1
Ketentuan-ketentuan Umum Pasal 1457.

20
dengan perjanjian atau ketentuan yang telah disepakati.29 Bahwa pada hakikatnya

disamping perbuatan atau tindakan hukum menyangkut perpindahan hak atas suatu

kebendaan, jual beli juga merupakan suatu perjanjian, oleh karenanya secara yuridis

pelaksanaan jual beli harus merujuk pada ketentuan umum mengenai perjanjian,

sebagaimana diatur dalam Buku Ketiga Bab Kedua Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata mengenai perikatan-perikatan yang dilahirkan dari kontrak atau perjanjian,

khususnya memperhatikan ketentuan pasal-pasal sebagai berikut :

Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dimana untuk sahnya

perjanjian-perjanjian diperlukan empat syarat :

1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;

2. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian;

3. Suatu hal tertentu; dan

4. Suatu sebab yang halal.

Setelah membahas pengertian tentang jual beli, penulis mengaitkan jual beli dengan

suatu pernyataan “dijual bebas di Indonesia” Pernyataan dijual bebas di Indonesia yang

dimaksud dalam penelitian ini yaitu vaporizer dan electronic liquid vaporizer telah

dijual tanpa adanya ketentuan, aturan maupun batasan yang mengatur secara jelas dan

tidak ada pihak yang mampu bertanggung jawab secara hukum apabila vaporizer dan

electronic liquid vaporizer disalahgunakan sehingga membahayakan Bangsa

Indonesia. Berbeda jika dijual dengan adanya ketentuan-ketentuan yang jelas karena

adanya pengawasan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta

29
Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), hlm. 69.

21
standarisasi nasional untuk suatu produk dari vaporizer dan electronic liquid vaporizer

sehingga memberikan rasa aman untuk dikonsumsi.

22