Anda di halaman 1dari 4

Kelompok 1

Role Play: Gangguan Konsep Diri

Kasus:

Syamsu adalah seorang mahasiswa yang tidak populer, keterbatasan dalam segi ekonomi dan sosial
membuatnya mengalami kesulitan untuk bersosialisasi, terlebih ketika dia hendak bergabung
dengan sekelompok mahasiswa lain yang mempunyai latar belakang ekonomi dan sosial yang jauh
melebihinya. Alih-alih mendapat sambutan manis dirinya justru mendapat hinaan hingga
membuatnya “down”, merasa diabaikan membuatnya kehilangan nafsu makan sehingga dia harus
dilarikan ke rumah sakit, komplikasi antara gangguan psikososial dan gastritis yang menyerang
dirinya membuat Syamsu perlu mendapat penanganan khusus dari perawat disana. Mampukah
perawat menyelesaikan penyakit gastritis sekaligus gangguan psikologis yang menyerang Syamsu?

Peran-peran

1. Perawat 1 : Ira

2. Perawat 2 : Nirma

3. Perawat 3 : Fitri

4. Klien : Syamsu

5. Ibu : Ainun

6. Bapak :

7. Mahasiswa : Nopan, Awal dan Ridhal

Suatu hari disebuah kampus ada sekelompok geng yang sangat populer mereka dari kalangan kaya.
Ketua gengnya sangat dsukai para gadis namanya Awal dia putih dan tampan, hari itu dia dan
teman-temannya sedang berbincang-bincang di kelas. Lalu datanglah seorang mahasiswa yang
bukan anggota geng itu, dia yang ingin bergabung dengan geng itu, tapi anggota geng itu tidak
menerima karena anggota barunya itu tidak sesuai dengan kriteria geng tersebut.

Syamsu : “hai teman-teman boleh gabung gak?”

Awal : “siapa loe mau gabung sama kita?”

Nopan : “hahai ngaca dulu dong, gak liat kaya gimana?”

Awal : “eh loe punya duit gak?”

Syamsu : “gak, tapi aku bisa jadi teman kalian, aku mau ngelakuin apa aja buat kalian”

Ridhal : “mana bisa lah duit kaga punya, tampang apalagi jauh dari standar”

Nopan : “hooh...”
Ridhal : “kalo loe pengen jadi anggota geng kita, loe harus punya duit dan setidaknya harus kaya
bos kita. Ganteng, tinggi, banyak pacar dan gak kaya loe udah pendek, jelek, culun pula”

Nopan : “gini deh sekarang mending loe pulang, loe ngaca noh di rumah loe, pantes gak loe
gabung sama kita-kita? Jangan mimpi deh loe”

Mendengar semua ejekan tadi Syamsu pun merasa sangat dikucilkan. Dia menjadi anak pendiam,
dia tidak mau lagi berangkat kuliah, dia merasa sangat dikucilkan karena tidak punya teman dan
selalu dihina oleh teman yang lainnya.

Beberapa hari setelah kejadian itu..

Ibu : (Tok..tok..) “Nak, buka pintunya! Kamu sudah 2 hari ini gak makan, ibu kan jadi
hawatir, kalau kamu kenapa-napa bagaimana?”

Setelah beberapa saat pintu kamar tidak dibuka, ibu Syamsu mendapati ternyata pintunya tidak
dikunci. Dan betapa kagetnya ibu Syamsu ketika mendapati anaknya tengah terbujur lemah di
tempat tidurnya. Akhirnya orang tua Syamsu pun berinisiatif untuk membawanya ke Rumah Sakit.
Beberapa saat kemudian, di Rumah sakit Syamsu pun langsung dibawa ke tempat tidur di ruang A.

Tahap Pra-Interaksi

Perawat 1 : “Teh, pasien baru yang dikamar A belum ada data-datanya ya?”

Perawat 2 : “Oh, iya belum dilakukan pengkajian. Tadi saya lupa, sekarang saja tapi saya harus
mengantar pasien lain CT scan dulu”

Perawat 3 : “Ya sudah teh, biar saya saja yang mengkaji pasien tersebut. Kamar A bed 2 kan?”

Perawat 1 : “iya yang itu kang, jangan lupa rapihin bajunya kalau mau ketemu pasien”

Perawat 3 : “iya teh” (merapihkan pakaian)

Perawat 3 terlebih dahulu memprsiapkan diri sebelum pergi ke kamar A. Perawat 3 mempersiapkan
segala sesuatunya yang mungkin akan dibutuhkan pada saat menghadap pasien. Dan sesampainya
disana didapatkan klien sedang berbaring lemah.

Tahap Orientasi/Perkenalan

Perawat 3 : “Assalamualaikum..Ini keluarganya pasien?”

Bapak : “waalaikumsallam.. Ia pak benar”

Perawat 3 : “Perkenalkan dulu nama saya...Saya kebetulan perawat ruangan ini. Ibu bisa panggil
saya... Oya, ade namanya siapa?”

(Pasien hanya diam dan melirik dengan sinis)

Ibu : “Namanya Syamsu pak,..”

Perawat 3 : “Oh, ade namanya Syamsu. Bagaimana istirahatnya semalam?”


(Pasien tetap diam dan tak mau menjawab apa-apa)

Perawat 3 : “de bagaimana sekarang? Masih ada yang sakit?”

Bapak : “Ini pak, gak tahu saya juga, anak saya ini sudah 3 hari gak mau makan, tadi pagi saya
menemukannya sudah terbaring lemah di kamarnya, makanya saya dan ibunya langsung membawa
anak saya kesini”

Perawat 3 : “Ooh begitu, bapak, ibu supaya kita tahu masalah dan penyakit apa yang Syamsu
alami, bagaimana kalau nanti saya lakukan pemeriksaan?

Syamsu : “gak mau bu Syamsu takut, Syamsu mau pulang saja”

Perawat : “Ade gak usah takut, pemeriksaannya tidak akan menyakiti ade, kalau nanti tidak
diperiksa kami tidak bisa melakukan perawatan, nanti ade lama dirawatnya”

Ibu : “ya sudah pak saya setuju, sebaiknya periksa anak saya”

Perawat 3 : “baiklah bu kalau begitu sekarang saya akan kembali ke ruangan untuk
mempersiapkan alat-alatnya, nanti saya akan kembali lagi untuk melakukan pemeriksaan”

Tahap Kerja

Setelah melakukan kontrak perawat 3 pun kembali ke ruangan pasien untuk melakukan pengkajian
............................... (tindakan pemeriksaan fisik)

Setelah melakukan pengkajian perawat 3 pun kembali keruangan. Berdasarkan hasil pengkajian
perawat 3, perawat 3 pun menyimpulkan bahwa pasien memang benar mengalami gastritis. Pasien
pun mendapatkan perawatan sesuai dengan penyakitnya. Namun, Setelah beberapa hari dirawat,
kondisi klien tak kunjung membaik, malahan pasien terlihat semakin murung lalu perawat lainnya
ada yang berinisiatif untuk melakukan pengkajian ulang.

Perawat 1 : “Teh, kenapa kondisi klien diruang A gak menunjukkan tanda-tanda membaik,
malahan pasien terlihat semakin murung”

Perawat 2 : “Iya ya, gimana ini akang yang telah melakukan pengkajian?”

Perawat 3 : “Ya, saya juga gak tahu teh, yang saya laporkan itu berarti yang saya dapatkan”

Perawat 2 : “Ya sudah, biar nanti teteh (perawat 1) yang melakukan pengkajian lagi”

Lalu perawat 1 pun pergi ke kamar A untuk melakukan pengkajian ulang.

Perawat 1 : “Ade, wah lagi apa? Kenapa makanannya gak dimakan? Sini ya saya bantu?”

(Pasien hanya diam)

Ibu : “Iya bapak, saya juga sudah pusing. Anak saya mau kapan sembuhnya? Padahal sudah
lama dirawat.”

Perawat 1 : “Coba sok ade cerita, kenapa gak mau makan. Kalau sakit seperti ini kan gak enak?”
Akhirnya, setelah dilakukan pendekatan oleh perawat 1, pasien pun mau menceritakan masalah
yang dialaminya selama ini. Dan pasien dibantu oleh perawat dengan bekerja sama dengan
keluarga supaya selalu memberi dukungan dan motivasi kepada klien dengan cara memberi
semangat dan meningkatkan rasa percaya diri klien.

Perawat 1 : “Ini anaknya bukan sakit maag seperti biasa, sebenarnya dia punya masalah
dilingkungan kampusnya pak.”

Bapak : “Maksud ibu itu gimana? Anak saya kenapa?”

Perawat 1 : “Jadi begini bu, dia di sekolahnya sering mendapat perlakuan yang tidak
menyenangkan dari teman-temannya, sehingga mengganggu fikirannya dan sampai gak mau makan
sampai sakit seperti ini.”

Ibu : “Oh begitu..”

Perawat 1 : “Iya ibu, jadi diharapkan disini ibu dan bapak bisa membantu untuk kesembuhan
anak ibu. Dengan cara memberi semangat, motivasi dan mengembalikan rasa percaya dirinya lagi.”

Setelah selesai memberi penjelasan kepada keluarga, lalu perawat 1 kembali menanyakan kepada
klien perihal kondisi kesehatannya.

Perawat 1 : “Ade, gimana sekarang masih terasa sakit? Kalau misalkan masih terasa sakit, ade
bisa melakukan tekhnik relaksasi dengan nafas dalam seperti yang sudah pernah saya ajarkan.
Sepertinya, kemarin juga ade sudah bisa melakukannya sendiri.”

Syamsu : “Iya bu, nanti saya lakukan lagi”

Tahap Terminasi

perawat 1 : “yasudah kalau begitu sekarang saya akan kembali ke ruangan, nanti 15 menit lagi
saya akan kembali untuk melihat kondisi anak bapak dan ibu, kalau ada apa-apa bapak atau ibu bisa
menghubungi kami”

Lalu, Perawat 1 pun kembali ke ruangan perawat.

Ibu : “ya sudah nak, sekarang mah kamu gak usah mikirin pengen jadi temen siapa atau
harus temenan sama siapa. Masih banyak orang lain yang mau temenan sama kamu. Lebih baiknya
kamu mikirin kuliah kamu saat ini, tingkatkan prestasi dan buat ibu sama yang lainnya bangga.

Akhirnya, setelah diketahui penyebab sebenarnya mengapa pasien bisa sakit. Kondisi kesehatan
pasien sudah berangsur membaik dan sudah mau makan. Karena berkat bantuan dan motivasi dari
keluarga. Keadaan psikososial klien juga mulai kembali membaik.