Anda di halaman 1dari 5

DIVERGENSI PERSELISIHAN DAN PERTENGKARAN

SEBAGAI ALASAN PERCERAIAN

(Sebuah observasi kronologis-hipotetis terhadap munculnya terminologi syiqaq di


Peradilan Agama)

Oleh : Ahmad Mufid Bisri S.H.I.*

Syiqaq adalah puncak perselisihan antara suami dan istri yang dikhawatirkan
dapat memunculkan entitas kemadharatan apabila perkawinan mereka diteruskan.
Sedangkan dalam penjelasan pasal 76 ayat (1) UU. No.7 tahun 1989 tentang
Peradilan Agama, syiqaq diartikan sebagai perselisihan yang tajam dan terus
menerus antara suami dan istri.

Di lingkungan Peradilan Agama, diskursus mengenai perselisihan dan


pertengkaran sebagai salah satu alasan perceraian yang kemudian dinisbahkan
dengan syiqaq rasanya belum selesai. Ada yang berpendapat keduanya harus
dipisahkan melalui separasi (qarinah) berupa dharar pada perkara syiqaq, namun
tidak sedikit pula yang menilai secara kategoris, bahwa syiqaq sudah termasuk
bagian dalam perselisihan dan pertengkaran.

Perbedaan pendapat tersebut paling tidak ditengarai oleh persepsi --sebagai


output dari interpretasi-- yang berbeda terhadap konotasi syiqaq. Memang, beberapa
intelektual muslim telah sejak dulu memberikan deskripsi tentang syiqaq secara
variatif.

Perdebatan tentang situasi ini menjadi begitu penting dan menarik ketika
faktor terjadinya perceraian di Pengadilan Agama didominasi oleh pasal 19
Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 tahun 1974
tentang Perkawinan atau pasal 116 Kompilasi Hukum Islam (KHI) poin (f), yakni
antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada
harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga. Pada saat yang sama, perkara syiqaq
menjadi sangat langka.

Selama perbedaan pendapat ini masih terjadi, maka penerimaan perkara


perceraian di Pengadilan Agama dengan alasan perselisihan dan pertengkaran akan
mengalami divergensi, yakni apakah include di dalamnya perkara syiqaq atau tidak.
Padahal, jika dianalisa melalui kronologi lahirnya peraturan terkait alasan
percaraian, maka kita akan menjumpai fenomena sebagai berikut :

Pada tahun 1974, lahir UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Dalam UU
yang belaku global bagi seluruh masyarakat Indonesia secara multi-religi tersebut

1|Page
tidak dijumpai alasan perceraian. Alasan perceraian kemudian terpapar dalam
Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 tahun 1974
tentang Perkawinan. Dalam pasal 19 Peraturan Pemerintah tersebut, disebutkan
terdapat 6 (enam) alasan perceraian yang mana salah satunya adalah “antara suami
dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan
hidup rukun lagi dalam rumah tangga” (dalam poin f). Kata syiqaq tidak dapat dijumpai
pada pasal tersebut. Hal ini sangat wajar karena Peraturan Pemerintah tersebut
berfungsi sebagai pelaksana Undang-Undang Perkawinan, oleh karenanya juga
harus bersifat multi-religi, sedangkan term syiqaq sangat identik dengan Hukum
Islam. Jika term syiqaq masuk dalam Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975,
tentulah akan mendapat penolakan dari berbagai kalangan karena Peraturan
Pemerintah tersebut bisa dianggap diskriminatif. Maka alasan perceraian yang
dapat mengakomodir syiqaq hanyalah poin f di atas.

Selanjutnya, pada tahun 1989 lahir UU No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan
Agama. Ada yang menarik dalam Undang-Undang tersebut. Pada pasal 76
diketengahkan kata syiqaq yang secara implisit termasuk sebagai alasan perceraian.
Hal ini wajar pula karena Peradilan Agama berdasarkan asas personalitas keislaman
bertindak sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan
yang beragama Islam dan menjadikan Hukum Islam sebagai pondasi konstruktif
dalam pembuatan putusan bagi para hakimnya. Namun, dalam penjelasan pasal
tersebut syiqaq masih diartikan sama dengan pasal 19 poin f Peraturan Pemerintah
No. 9 tahun 1975.

Kemudian, pada tahun 1991 Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi


Presiden No. 1 tahun 1991 tentang penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam (KHI).
Dalam KHI, alasan perceraian tidak lagi 6 (enam) poin sebagaimana pasal 19 PP.
No. 5 tahun 1975, melainkan 8 (delapan) poin dengan tambahan pelanggaran taklik
talak oleh suami dan murtad. Sayangnya, syiqaq tidak dimasukkan dan ditambahkan
dalam alasan perceraian tersebut. Padahal jika syiqaq dimaknai berbeda dan berdiri
sendiri dari alasan perselisihan dan pertengkaran, seharusnya syiqaq dapat
ditambahkan dalam pasal tersebut karena sebelumnya istilah syiqaq sudah
“disinggung” dalam UU No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

Selain pasal 76 Undang-Undang No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama,


syiqaq sebagai salah satu alasan perceraian juga terdapat dalam Buku II Pedoman
Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Peradilan Agama yang diterbitkan oleh
Direktorat Jendral Badan Peradilan Agama pada tahun 2010 (edisi revisi). Dalam
buku tersebut syiqaq secara lebih tegas dan jelas merupakan alasan tersendiri dalam
perkara perceraian. Tata cara pemeriksaan perkara syiqaq juga dibedakan. Hanya
saja dalam beberapa elaborasinya, perkara syiqaq masih mengacu pada alasan
perceraian poin f dan pasal 76 Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan

2|Page
Agama di atas. Amar putusan perkara syiqaq pun tidak jauh berbeda dengan perkara
poin f.

Penelusuran di atas kemudian melahirkan hipotesis yang mengarah pada


kesimpulan secara komprehensif, bahwa syiqaq sudah termasuk dan terkandung
dalam alasan perceraian di mana “antara suami dan isteri terus-menerus terjadi
perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah
tangga” (poin f). Kesimpulan tersebut paling tidak berdasarkan pertimbangan
berikut :

Pertama, independensi syiqaq dari poin f melalui qarinah berupa dharar tidak
serta merta dapat diaplikasikan karena belum ada barometer yang jelas sejauh mana
ketentuan yang menuju kepada kondisi dharar tersebut. Selain itu, kondisi sebuah
rumah tangga dapat sewaktu-waktu berubah sehingga kondisi dalam kategori dharar semakin
tidak dapat dipastikan.

Kedua, sampai hari ini, peraturan yang secara eksplisit menyebutkan alasan
perceraian hanya ada dua, yaitu Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 (pasal 19)
dan Kompilasi Hukum Islam (pasal 116). Pada kedua peraturan tersebut, term syiqaq
sama sekali tidak ditemukan.

Ketiga, telah ternyata bahwa syiqaq yang hanya dikenal dalam Hukum Islam
tidak dimasukkan sebagai alasan perceraian dalam pasal 116 KHI. Padahal, lahirnya
KHI melalui Inpres No. 1 tahun 1991 disinyalir sebagai salah satu proses akomodasi
secara esensial Hukum Islam sebagai hukum positif melalui Peradilan Agama
dengan asas personalitas keislamannya, berbeda dengan alasan perceraian dalam
Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 yang lebih bersifat plural.

Keempat, konsiderasi syiqaq pertama kali muncul pada pasal 76 ayat (1) UU No.
7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama, namun dalam penjelasan pasal tersebut
pengertian syiqaq secara substantif masih senada dengan pasal 19 huruf (f) Peraturan
Pemerintah No. 9 tahun 1975 sebagai salah satu alasan perceraian tanpa perbedaan
yang signifikan. Unsur dharar sama sekali tidak muncul dalam penjelasan pasal
tersebut, hanya terdapat kata “tajam” yang masih multi-tafsir. Apakah “tajam”
dalam arti perselisihan yang dapat menimbulkan bahaya (baca : dharar), ataukah
“tajam” dalam arti perselisihan yang terus menerus (tidak sekadar “sering”) yang
kemudian dikonfirmasi oleh kalimat berikutnya. Ketika UU No. 7 tahun 1989 dua
kali mengalami perubahan, pasal tentang syiqaq pun tidak tersentuh sama sekali.

Kelima, titik tekan pasal 76 UU No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama
sebenarnya bukanlah syiqaq itu sendiri sebagai salah satu alasan perceraian,
melainkan keharusan mendengarkan saksi keluarga sekaligus kewenangan
Pengadilan Agama untuk menghadirkan hakam dalam perkara perceraian yang

3|Page
disebabkan perselisihan dan pertengkaran yang kemudian diistilahkan sebagai
syiqaq.

Lahirnya KHI sejatinya memberikan oportunitas terhadap formalisasi Hukum


Islam ke dalam ranah Hukum Nasional. Hal ini akan sangat membantu hakim
pengadilan agama. Namun sebagai mana kita ketahui, dalam pasal 116 KHI alasan
perceraian sama dengan pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 yang
kemudian ditambah dua poin, yakni Suami melanggar taklik talak (poin g) dan
peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah
tangga (poin h). Jika syiqaq harus dimaknai terpisah dari perselisihan dan
pertengkaran (poin f), sudah semestinya syiqaq juga dimasukkan sebagai poin
tersendiri sebagaimana dua poin sebelumnya. Kenyataannya tidak. Wallahu a’lam.

* Calon Hakim Angkatan II Program Pendidikan dan Pelatihan Calon Hakim Terpadu (PPC
Terpadu) MA-RI. Satker: Pengadilan Agama Kab. Kediri

4|Page
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata Di Lingkungan Peradilan Agama,


Kencana, Jakarta, 2008.

Ahmad, Amrullah, dkk, Dimensi Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Nasional :
Menjelang 65 Tahun Prof. H. Bustanul Arifin, SH, Gema Insani Press, Jakarta,
1996.

Erfani el Islamiy, SYIQAQ TAK HARUS BER’DHARAR’ (Sebuah Rekonstruksi-


Etimologis Makna Syiqaq sebagai Alasan Perceraian di Peradilan Agama),
www.badilag.net/artikel, 03 Oktober 2013.

MA-RI Dirjen Badan Peradilan Agama, Buku II, Pedoman Pelaksanaan Tugas dan
Administrasi Peradilan Agama, edisi revisi 2010, Jakarta, 2010.

Peraturan perundang-undangan :

Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan

Undang-undang No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama

Undang-undang No. 3 tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor


7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama

Undang-undang No. 50 tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang


Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 Tentang


Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991

Kompilasi Hukum Islam

5|Page