Anda di halaman 1dari 19

KEBUTUHAN ELIMINASI URINE

Disusun oleh:

Disusun oleh :

Putu Arix Wijayanti (10.321.0778)

Ni Kadek Sri Wahyu Astiti (10.321.0764)

Ni Made Dwi Damayanti (10.321.0766)

Kurnia Sari (10.321.0757)

I Wayan Kusuma Antara (10.321.0749)

Ni Putu Sumertini (10.321.0777)

Kelas : A4-B

STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

TAHUN AJARAN 2010/2011


KATA PENGANTAR

Puji syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena dengan limpahan
rahmat-Nya kami sebagai penulis sangat bahagia sehingga penyusunan makalah
ini dapat terselesaikan dengan judul “Kebutuhan Eliminasi Urin”. Serta tidak
lupa pula ucapan terimakasih kami ucapakan kepada pihak-pihak yang telah
membantu kami demi lancarnya penulisan makalah kami.

Sebagai penulis kami sadar bahwa dalam pembuatan dan penyusunan


makalah ini masih banyak terdapat kesalahan, untuk itu kami mengharapkan
kepada pemirsa yang telah membaca makalah kami ini kiranya dapat memberikan
sumbangsihnya berupa kritik dan sarannya demi makalah kami yang terbaik.

Denpasar,18 Maret 2011

Pennyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Manusia merupakan salah satu makhluk hidup. Dikatakan sebagai


makhluk hidup karena manusia memiliki cirri-ciri diantaranya: dapat bernafas,
berkembangbiak, tumbuh, beradaptasi, memerlukan makan, dan megeluarkan sisa
metabolisme tubuh (eliminasi). Setiap kegiatan yang dilakukan tubuh dikarenakan
peranan masing-masing organ. Membuang urine dan alvi (eliminasi) merupakan
salah satu aktivitas pokok yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Karena
apabila eliminasi tidak dilakukan setiap manusia akan menimbulkan berbagai
macam gangguan seperti retensi urine, inkontinensia urine, enuresis, perubahan
pola eliminasi urine, konstipasi, diare dan kembung. Selain berbagai macam yang
telah disebutkan diatas akan menimbulkan dampak pada system organ lainnya
seperti: system pencernaan, ekskresi, dll.

a.Tujuan Penulisan

Mahasiswa mampu memahami tentang kebutuhan eliminasi urine

b.Tujuan Khusus

a) Mahasiswa dapat mengetahui fisiologi eliminasi urine

b) Mahasiswa dapat mengetahui faktor yang mempengaruhi urine

c) Mahasiswa dapat mengetahui perubahan dalam eliminasi urine

d) Mahasiswa mampu memahami proses keperawatan masalah


urinarius
BAB II

PEMBAHASAN

1. Fisiologi Eliminasi Urine

Eliminasi adalah proses pembuangan sisa metabolisme tubuh baik berupa


urine atau alvi (buang air besar). Kebutuhan eliminasi terdiri dari atas dua, yakni
eliminasi urine (kebutuhan buang air kecil) dan eliminasi alvi (kebutuhan buang
air besar). Eliminasi urine normalnya adalah pengeluaran cairan.Proses
pengeluaran ini sangat bergantung pada fungsi-fungsi organ eliminasi urine
seperti ginjal,ureter,bladder,dan uretra.Ginjal memindahkan air dari darah dalam
bentuk urine.Ureter mengalirkan urine ke bladder.Dalam bladder urine di tamping
sampai mencapai batas yang kemudian dikeluarkan melalui uretra.

Anatomi dan fisiolagi

a. Ginjal

Giinjal adalah organ berbentuk kacang berwarna merah tua, panjangnya 12,5
cm. Beratnya kurang lebih 125 sampai 175 gram pada laki-laki dan 115 sampai
155 gram pada wanita.

Ginjal terletak di bagian belakang rongga abdomen bagian atas setinggi


vetebrata thorakal 11 ddan 12. Ginjal di lindungi oleh otot-otot abdomen, jaringan
lemak atau kapsul adipose.

Nefron merupakan unit struktur dan fungsional ginjal.Satu ginjal mengandung


1 sampai 4 juta nefron yang merupakan unit pembentuk urine. Proses filtrasi
absorpsi dan skresi dilakukan oleh nefron. Filtrasi terjadi di glomerulus yang
merupakan gulungan kapiler dan dikelilingi kapsul epitel berdinding ganda yang
disebut kapsul Bawman.Filtrasi glomerular adalah perpindahan cairan dan zat
terlarut dari kapiler glomerulel. Glomerulel Filtrasi Rate (GFR) adalah jumlah
filtrate yang terbentuk per menit dari semua nefron pada ke dua ginjal.GFR
merupakan indikasi jumlah filtrasi yang terjadi. Rata-rata GFR normal pada
orang dewasa adalah 125 ml per menit atau 180 liter per 24 jam. Darah sampai di
ginjal melalui arteri renal yang merupakan cabang dari aorta abdomen. Kira-kira
darah akan masuk ke ginjal 20-25% dari kardiak output.Dalam glomerulus ginjal
difiltrasi air dan zat-zat lain seperti glukosa, asam amino, urea, kretinin, dan
elektrolit. Glomerulus akan memfiltrasi kira-kira 125 ml/menit. Tidak semua hasil
filtrasi akan dikeluarkan sebagai urine, tetapi sebagai zat seperti glukosa, asam
amino, uric acid, sodium dan potassium kembali ke plasma. Pengeluaran urine
tergantung pada intake cairan. Pada orang dewasa normal pengeluaran urine
antara 1,2 sampai 1,5 liter per hari selebihnya hasil filtrasi diabsorpsi kembali
yang menjadi fungsi dari tubulus ginjal di antaranya adalah air, elektrolit, glukosa.
Komposisi urine 95% air, 5% komponen lain seperti elektrolit, zat organic.
Produksi urine 50 ml/jam. Sedangkan jumlah produksi urine tergantung dari factor
sirkulasi, cairan yang masuk, penyaklit metabolic seperti diabetes, penyakit
outimum seperti glomerolonefritis, penggunaan obat-obatan diurentik. Jika
pengeluaran urine kurang dari 30 ml/menit kemungkinan bakal terjadi gagal
ginjal.

Ginjal menghasilkan hormone eritropoin yang berfungsi merangsang produksi


eritropoitisetin yang merupakan bahan baku sel darh merah pada sumsum tulang.
Hormon ini dirangsang oleh adanya kekurangan aliran darah (hypoksia) pada
ginjal. Di samping eritropotin ginjal juga menghasilkan hormone rennin yang
berrfungsi sebagai pengatur aliran darah ginjal pada saat terjadi ischemia. Renin
dihasilkan pada sel juxtaglomerulus pada apparatus kuxtaglomerulus di nefron.
Renin berfungsi sebagai enzim yang berfungsi mengubah agiotensinogen
(dihasilkan di hati) menjadi angiotensin II dan angiotesin III. Angiotesin II
berefek pada vasokontraksi dan menstimulus aldosteron untuk menahan/meretensi
air dan meninggalkan volume darah.

Fungsi Utama Ginjal

 Mengeluarkan sisa nitrogen, toksin, ion, dan obat-obatan.


 Mengeluarkan jumlah zat-zat kimia dalam tubuh.
 Mempertahankan keseimbangan antara air dan garam-garam
serta asam dan basa.
 Menghasilkan rennin, enzim untuk membantu pengaturan
tekanan darah.
 Menghasilkan hormone eritropoitin yang menstimulasi
pembentukan sel-sel darah merah di suumsum tulang.
 Membantu dalam pembentukan vitamin D.

b. Ureter

Setelah ureter terbentuk kemudian akan terbentuk kemudian akan dialirkan ke


pelvis ginjal lalu ke bladder melalui ureter. Panjang ureter pada orang dewasa
antara 26 sampai 30 cm dengan diameter 4 sampai 6 mm. Setelah
meninggalkanginjal ureter ke bawah di belakang peritoneum ke dinding bagian
belakang kandung kemih. Lapisan tengah ureter terdiri atas otot-otot yang
distimulus oleh transmisi implus elektrik berasal dari saraf otonom. Akibat
gerakan peristaltic ureter maka urine didorong ke belakang kandung kemih.

c. Kandung kemih

Kandung kemih merupakan tempat penampungan urine. Terletak di dasar


panggul pada daerah retroperitoneal dan terdiri atas otot-otot yang dapat mengecil.
Kandung kemih terdiri atas 2 bagian yaitu bagian fondus atau body yang
merupakan otot lingkar, tersusun dari otot detrusor dan bagian leher yang
berhubungan langsung dengan uretra. Pada leher kandung kemih terdapat spiner
intera. Spiner ini dikontrol oleh system saraf otonom. Kandung kemih dapat
menampung 300 sampai 400 ml urine.

d. Uretra

Merupakan saluran pembuangan urin yang langsung keluar dari tubuh.


Kontrol pengeluaran urin terjadi karena adanya spinter kedua yanitu spinter
external yang dapoatt dikontrol oleh kesadaran kita.

Panjang uretra wanita lebih pendek yaitu 3,7 cm sedangkan peria


panjangnya 20 cm. Sehinga pada wanita lebih beresiko terjadinya infeksi saluran
kemih. Bagian paling luar dari urethra disebut meutus urinari. Pada wanita meutus
urinary terletak antara labio minora, di bawah klitoris dan di atas vegina.
2. Faktor yang Mempengaruhi Urine

Faktor yang Memengaruhi Eliminasi Urine

a) Diet dan asupan

Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang memengaruhi


output urine (jumlah urine). Protein dan natrium dapat menentukan jumlah urine
yang dibentuk.selain itu, minum kopi juga dapat meningkatkan pembentukan
urine.

b) Respon keinginan awal untuk berkemih

Kebiasaan mengabaikan keinginan awal utnuk berkemih dapat


menyebabkan urin banyak tertahan di vesika urinaria, sehingga memengaruhi
ukuran vesika urinaria dan jumlah pengeluaran urine

c) Gaya hidup

Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan


eliminasi. Hal ini terkait dengan tersedianya fasilitas toilet.

d) Stress psikologis

Meningkatkan stres dapat meningkatkan frekuensi keinginan berkemih.


Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk keinginan berkemih dan jumlah
urine yang diproduksi.

e) Tingkat aktivitas

Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinearia yang baik untuk
fungsi sphincter. Kemampuan tonus otot di dapatkan dengan beraktivitas.
Hilangnya tonus otot vesika urinearia dapt menyebabkan

f) Tingkat perkembangan

Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga dapat memengaruhi pola


berkemih. Hal tersebut dapat ditemukan pada anak, yang lebih mengalami
mengalami kesulitan untuk mengontrol buang air kecil. Namun kemampuan
dalam mengontrol buang air kecil meningkat dengan bertambahnya usia

g) Kondisi penyakit

Kondisi penyakit dapat memengaruhi produksi urine, seperti diabetes


mellitus.

h) Sosiokultural

Budaya dapat memegaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine, seperti


adanya kultur pada pada masyarakat tertentu yang melarang untuk buang air kecil
di tempat tertentu.

i) Kebiasaan seseorang

Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemh di toilet, biasanya


mengalami kesulitan untuk berkemih dengan melalui urineal/pot urine bila dalam
keadaan sakit.

j) Tonus otot

Tonus otot yang berperan penting dlam membantu proses berkemih adalah
otot kandung kemih, otot abdomen, dan pelvis. Ketiganya sangat berperan dalam
kontraksi sebagai pengontrolan pengeluaran urine

k) Pembedahan

Pembedahan berefek menurunkan filtrasi glomerulus sebagai dampak dari


pemberian obat anestesi sehingga menyebabkan penurunan jumlah produksi urine.

l) Pengobatan

Pemberian tindakan pengobatan dapat berdampak pada terjadinya


peningkatan atau penurunan proses perkemihan.
m) Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan diagnostik ini juga dapat memengaruhi kebutuhan eliminasi


urine, khususnya prosedur-prosedur yang berhubungan dengan tindakan
pemeriksaan saluran kemih seperti intra venus pyelogram (IVP).

3. Perubahan Dalam Eliminasi Urine

 Frekuensi:
Meningkatnya frekuensi berkemih tanpa intake cairan yang meningkat,
biasanya terjadi pada cystitis, stres, dan wanita hamil.
 Urgency:
Perasaan ingin segera berkemih dan biasanya terjadi pada anak-anak
karena kemampuan spinter untuk mengontrol berkurang.
 Dysuria:
Rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih misalnya pada infeksi saluran
kemih, trauma, dan striktur uretra.
 Polyuria (Diuresis):
Produksi urine melebihi normal, tanpa peningkatan intake cairan
misalnyapada pasien DM.
 Urinary Suppression:
Keadaan di mana ginjal tidak memproduksi urine secara tiba-tiba. Anuria
(urine kurang dari 100ml/24 jam), olyguria (urine berkisar 100-500ml/24 jam)

4. Proses Keperawatan Masalah Urinarius

Pengkajian
1. Riwayat Keperawatan
a. Pola berkemih.
b. Gejala dari perubahan berkemih
c. Faktor yang memengaruhi berkemih

2. Pemeriksaan Fisik
a. Abdomen
Pembesaran, pelebaran pembuluh darah vena, distensi bladder,
pembesaran ginjal, nyeri tekan, tenderness, bising usus.
b. Genetalia wanita
Inflamasi, nodul, lesi, adanya sekret dari meatus, keadaan antropi
jaringan vagina.
c. Genetalia laki-laki
Kebersihan, adanya lesi, tenderness, adanya pembesaran skrotum.

3. Intake dan output cairan


a) Kaji intake dan output cairan dalam sehari (24 jam).
b) Kebiasaan minum di rumah.
c) Intake: cairan infuse, oral, makanan, NGT.
d) Kaji perubahan volume urine untuk mengetahui
ketidakseimbangan cairan.
e) Output urine dari urinal, cateter bag, drainage ureterostomy,
sistostomi.
f) Karakteristik urine: warna, kejernihan, bau, kepekatan.

4. Pemeriksaan diagnostic
a. Pemeriksaan urine (urinalisis):
 Warna (N: jernih kekuningan)
 Penampilan (N:jernih)
 Bau (N:beraroma)
 pH (N:4,5-8,0)
 Berat jenis (N:1,005-1,030)
 Glukosa (N:negatif)
 Keton (N:negatif)
b. Kultur urine (N: kuman patogen negattif)

Diagnosa Keperawatan dan Intervensi

1. Gangguan pola eliminasi urine: inkontinensia


Definisi: Kondisi di mana seseorang tidak mampu mengendalikan
pengeluaran urine.
Kemungkinan berhubungan dengan:
a) Gangguan neuromuskuler.
b) Spasme bladder.
c) Trauma pelvic.
d) Infeksi saluran kemih.
e) Trauma medulla spinaslis.

Kemungkinan data yang ditemukan:


a) Inkontinensia.
b) Keinginan berkemih yang segera.
c) Sering ke toilet.
d) Menghindari minum.
e) Spasme bladder.
f) Setiap berkemih kurang dari 100 ml atau lebih dari 550 ml.

Tujuan yang diharapkan:

a) Klien dapat mengontrol pengeluaran urine setiap 4 jam.


b) Tidak ada tanda-tanda retensi dan inkontinensia urine.
c) Klien berkemih dalam keadaan rileks.

INTERVENSI RASIONAL

1.Monitor keadaan bladder setiap 2 1.Membantu mencegah distensi atau


jam komplikasi

2. Tingkatkan aktivitas dengan 2. Meningkatkan kekuatan otot ginjal


kolaborasi dokter/ fisioterapi dan fungsi bladder

3. Kolaborasi dalam bladder training 3. Menguatkan otot dasar pelvis

4. Hindari faktor pencetus 4. Mengurangi / menghindari


inkontinesia urine seperti cemas inkontinesia

5. Kolaborasi dengan dokter dalam 5. Mengatasi faktor penyebab


pengobatan dan kateterias
6. Meningkatkan pengetahuan dan
6. Jelaskan tentang: diharapkan pasien lebih kooperatif

 Pengobatan

 Karakter

 Penyebab
 Tindakan lainnya

2. Retensi Urine

Definisi:Kondisi dimana seseorang tidak mampu mengosongkan bladder


secara tuntas

Kemungkinan berhubungan dengan :

a. Obstruksi mekanik

b. Pembesaran prostat

c. Trauma

d. Pembedahan

e. Kehamilan

Kemungkinan data yang ditemukan

a. Tidak tuntasnya pengeluaran urine

b. Distensi urine

c. Hippertropi urine

d. Kanker
e. Infeksi saluran kemih

f. Pembedahan besar abdomen

INTERVENSI RASIONAL
1.Monitor keadaan setiap 2 jam 1. Menentukan masalah

2. Ukur intake dan output cairan 2. Memonitor keseimbangan cairan


setiap 4 jam
3. Menjaga defisit cairan
3.Berikan cairaan 2.000 ml/hari
4. Mencegah nokturia
dengan kolaborasi
5. Membantu memonitor
4. Kurangi minum setelah jam 6 sore
keseimbangan cairan
5. Kaji dan monitor analisis urine
6. Meningkatkan fungsi ginjal dan
elektrolit dan berat badan
bladder
6. Lakukan latihan pergerakan
7. Relaksasi pikiran dapat
7. Lakukan relaksasi ketika duduk dan meningkatkan kemampuan berkemih
berkemih
8. Menguatkan otot pelvis
8. Ajarkan teknik latihan dengan
9. Mengeluarkan urine
kolaborasi dokter/ fisioterapi

9.kolaborasi dalam pemasangan


karakter

Tujuan yang diharapkan:

a. Pasien dapt mengontrol pengeluaran bladder setiap 4 jam

b. Tanda dan gejala retensi urine tidak ada

Implementasi
 Pengumpulan Urine untuk Bahan Pemeriksaan

Mengingat tujuan pemeriksaan dengan bahan urine berbeda-beda, maka


pengambilan atau pengumpulan urine juga dibedakan sesuai dengan
tujuannya, Cara pengambilan urine tersebut antara lain: pengambilan urine
biasa, pengambilan urine steril, dan pengumpulan selama 24 jam.

1. Pengambilan urine biasa merupakan pengambilan urine dengan cara


mengeluarkan urine secara biasa, yaitu buang air kecil. Penngambilan
urine biasa ini biasanya digunakan untuk memeriksa gula atau kehamilan.

2. Pengambilan urine steril merupakan pengambiilan urine dengan


menggunakan alat steril, dilakukan dengan carra kateterisasi atau fungsi
supra pubis. Pengambilan urine steril bertujuan untuk mengetahui adanya
infeksi pada uretra, ginjal, atau saluran kemihnya.

3. Pengambilan urine slama 24 jam merupakan penggambilan urine yang


dikumpulkan dalam waktu 24jam, bertujuan untuk mengetahui jumlah
urine selama 24 jam dan mengukur berat jenis, asupan dan pengeluaran,
serta mengetahui fungsi ginjal.

 Menolong Buang Air Kecil dengan Menggunakan Urinal

Menolong buang air kecil dengan menggunakan urinal merupakan tindakan


keperawatan dengan membantu pasien yang tidak mampu buang air kecil
sendiri di kamar kecil menggunakan alat penampung (urinal) dengan tujuan
menampung urine (air kemih) dan mengetahui kelainan dari urine (warna &
jumlah)

 Melakukan Kateterisasi

Kateterisasi merupakan tindakan keperawatan dengan cara memasukkan


kateter kedalam kandungan kemih melalui uretra yang bertujuan membantu
memenuhi kebutuhan leminasi dan sebagai pengambilan bahan pemeriksaan.
Pelaksanaan kateterisasi dapat dilakukan melalui dua cara: intermiten (straight
kateter) dan indwelling (foley kateter).
Indikasi:

Tipe intermiten

 Tidak mampu berkemih 8-12 jam setelah operasi.

 Retensi akut setelah trauma uretra.

 Tidak mampu berkemih akibat obat sedatif atau analgesik.

 Cedera pada tulang belakang.

 Degenerasi neoromuskular secara progresif.

 Pengeluran urine residual.

Tipe Indwelling

 Obstruksi aliran urine.

 Pascaoperasi uretra dan struktur di sekitarnya (TUR-P).

 Obstruksi uretra.

 Inkontinensia dan disorientasi berat.

 Menggunakan Kondom Kateter

Menggunakan kondom kateter merupakan tindakan keperawatan dengan cara


memberikan kondom kateter pada pasien yang tidak mampu mengontrol
berkemih. Cara ini bertujuan agar pasien dapat berkemih.

Evaluasi
1. Miksi secara normal ditunjukkan dengan kemampuan pasien berkemih
sesuai dengan asupan cairan dan pasien mampu berkemih tanpa
menggunakan obat, komprresi pada kandung kemih, atau kateter.
2. Mengosongkan kandung kemih, ditunjukkan dengan berkurangnya
distensi, volume urin residu, dan lancarnya kepatenan drainase.
3. Mencegah infeksi, ditunjukkan dengan tidak adanya tanda infeksi, tidak
ditemukan adanya disuria, urgensi, frekuensi, dan rasa terbakar.
4. Mempertahankan integritas kulit, ditunjukkan dengan adanya parineal
kering tanpa inflamasi dan kulit sekitar ureterostomi kering.
5. Memberikan rasa nyaman, ditunjukkan dengan berkurangnya disuria, tidak
ditemukan adanya distensi pada kkandung kemih, dan adanya ekspresi
senang mengenai perasaan.
6. Melakukan bladder training, ditunjukkan dengan berkurangnya frekuensi
inkontinensia dan mampu berkemih di saatt ingin berkemih.

KESIMPULAN
Eliminasi adalah proses pembuangan sisia metabolisme tubuh baik berupa
urine atau alvi (buang air besar). Kebutuhan eliminasi terdiri dari atas dua, yakni
eliminasi urine (kebutuhan buang air kecil) dan eliminasi alvi (kebutuhan buang
air besar). Eliminasi urine normalnya adalah pengeluaran cairan.Proses
pengeluaran ini sangat bergantung pada fungsi-fungsi organ eliminasi urine
seperti ginjal,ureter,bladder,dan uretra.Ginjal memindahkan air dari darah dalam
bentuk urine.Ureter mengalirkan urine ke bladder.Dalam bladder urine di tamping
sampai mencapai batas yang kemudian dikeluarkan melalui uretra.

Daftar Pustaka
Perry, Potter. 2006. Fundamental Keperawatan.Edisi 4. Jakarta : EGC

Wartonah.Tarwanto.2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses


Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika.