Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanaman kakao (Theobroma cacao L) merupakan salah satu tanaman perkebunan

yang berperan penting dalam peningkatan sumber devisa negara dari sektor nonmigas. Kakao

mempunyai potensi yang besar untuk mendorong pertumbuhan dan distribusi pendapatan

petani dan sangat menjanjikan dalam industri pertanian. Hal ini dapat dilihat dari

pertumbuhan laju nilai ekspor yang mencapai 10% per tahun. Saat ini penjualan kakao

dilakukan dalam bentuk biji dan serbuk coklat. Permintaan biji kakao terus meningkat,

terutama dari Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat (Rubiyo dan Siswanto, 2012).

Volume ekspor kakao Indonesia selama rentang waktu lima tahun fluktuatif dimana

pada tahun 2009 volume ekspor kakao mencapai 535.200 ton, lalu pada tahun 2010

meningkat menjadi 552.000 ton dan menurun pada tahun 2011 dan 2012 yang masing-masing

410.200 ton dan 387.700 ton. Pada tahun 2013 meningkat menjadi 414.400 ton. Penurunan

ekspor pada tahun 2011-2012 diduga akibat konversi lahan besar-besaran yang terjadi pada

tahun 2011 sampai 2013. Volume ekspor tersebut juga diikuti oleh fluktuatifnya nilai ekspor

kakao yang pada tahun 2009 sebesar 1.413.500 US$, lalu pada tahun 2010 meningkat

menjadi 1.643.700 US$ dan menurun drastis pada tahun 2011 dan 2012 yang masing-masing

menghasilkan 1.172.000 US$ dan 1.053.500 US$. Pada tahun 2013 meningkat menjadi

1.151.500 US$ (Direktorat Jendral Perkebunan, 2014). Berdasarkan volume ekspor dan nilai

ekspor pada tahun 2013 mendorong Indonesia menjadi produsen kakao terbesar kedua

setelah Pantai Gading (Food Association Organization, 2014).

Peluang ekspor biji kakao yang tinggi belum diikuti oleh produksi biji kakao

Indonesia. Produksi biji kering kakao di Indonesia masih tergolong rendah, yaitu rata-rata
897 kg/ha/tahun. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan potensi yang bisa mencapai 2.000

kg/ha/tahun. Rendahnya produktivitas tanaman kakao di Indonesia disebabkan beberapa

faktor seperti, penggunaan bahan tanaman yang kurang optimal, pembuahan yang tidak

optimal, umur tanaman, serangan hama dan penyakit, serta teknologi budidaya yang

digunakan kurang baik (Wahyudi dkk., 2008).

Peningkatan produktivitas kakao dapat dilakukan dengan pengoptimalan proses

pembuahan pada budidaya kakao. Permasalahan yang selama ini dijumpai pada pembuahan

kakao adalah layu pentil (Cherelle wilt) (Hartati dkk., 2007). Pada tahap pembungaan,

tanaman kakao dapat menghasilkan sebanyak 5.000-10.000 bunga per tahun, namun 70%

sampai 90% dari bunga yang terbentuk mengalami layu pentil yang akhirnya hanya 100 buah

dari pentil yang dipanen dari setiap tanaman kakao (McKelvie, 1957).

Layu pentil terjadi akibat kurangnya kemampuan buah muda (pentil) untuk

menerima pasokan nutrisi secara optimal. Hal tersebut diduga karena pentil tidak mampu

bersaing dengan daun muda (flush) dalam penggunaan hasil fotosintesis (Hartati dkk., 2007).

Peningkatan pertumbuhan flush kakao dapat terjadi akibat pemangkasan yang meningkatkan

kandungan sitokinin yang dapat memacu pembelahan sel dan pembentukan tunas muda

(Salisbury dan Ross, 1995). Layu pentil pada kakao juga diduga berkaitan dengan

fitohormon, menurut McKelvie (1957) menduga bahwa terjadinya layu pentil akibat

kurangnya zat pengatur tumbuh yang dibentuk dalam endosperma. Kekurangan zat pengatur

tumbuh mengakibatkan kurangnya kemampuan buah dalam menyerap air dan hara, sehingga

buah menjadi layu.

Usaha yang dapat ditempuh untuk meminimalkan layu pentil pada proses

pembuahan pada kakao adalah dengan pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT). ZPT yang

diberikan dapat berupa zat yang dapat memacu pertumbuhan reproduktif melalui penekanan

pertumbuhan fase vegetatif dan pengalihan asimilat (Santoso dan Rahmawan, 2002). Zat
pengatur tumbuh yang dapat digunakan untuk menekan pertumbuhan vegetatif adalah

paclobutrazol. Paclobutrazol tergolong dalam zat penghambat tumbuh (growth retardant)

yang dapat menghambat/menekan pertumbuhan vegetatif, meningkatkan warna hijau daun,

meningkatkan produksi tanpa menyebabkan pertumbuhan abnormal (Chaney, 2004 dikutip

Runtunuwu, dkk.,2011).

Prinsip kerja paclobutrazol adalah menghambat biosintesis giberelin di dalam

tanaman dan juga paclobutrazol berpengaruh nyata menghambat pertumbuhan pucuk,

menekan persentase layu pentil dan meningkatkan daya hasil kakao (Winarsih, 1990).

Pemberian paclobutrazol pada dosis yang tepat akan menekan pertumbuhan vegetatif

sehingga pertumbuhan bunga dapat maksimal. Pemberian paclobtrazol dengan dosis yang

terlalu tinggi dapat menimbulkan efek ketidakseimbangan hormon yang dapat mengganggu

proses pertumbuhan kakao.

Pemangkasan merupakan usaha pemeliharaan yang diberikan untuk menjaga

keberlangsungan proses budidaya. Pemangkasan memacu tumbuhnya tunas dan daun-daun

baru, akibatnya terjadi peningkatan hormon sitokinin (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao,

2004). Pertumbuhan tunas muda ini akan mempengaruhi paclobutrazol dalam menekan layu

pentil. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian tentang pemberian paclobutrazol dan

berbagai perlakuan pemangakasan dalam menekan layu pentil.

Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari Ringga (2015) yang bertujuan

untuk mengetahui pengaruh pemberian paclobutrazol dalam menekan layu pentil dan

meningkatkan produksi kakao. Hasil dari penelitian sebelumnya tidak menunjukkan

perbedaan nyata terhadap semua variabel yang di ukur, dikarena pemberian pupuk anorganik

majemuk dan pemangkasan yang dilakukan sebelum pemberian paclobutrazol. Dalam

penelitian tersebut diharapkan adanya penelitian lanjutan dengan pengaplikasian

paclobutrazol dengan konsentrasi 7,5 mL L-1 setelah dilakukan pemangkasan produksi.


1.2 Identifikasi Masalah

1. Apakah terdapat pengaruh interaksi antara pemberian paclobutrazol dan pemangkasan

dalam menekan layu pentil pada kakao.

2. Pada perlakuan pemangkasan mana yang dapat menekan tingkat layu pentil pada

tanaman kakao

3. Pada pemberian konsentrasi paclobutrazol berapa yang dapat menekan layu pentil pada

tanaman kakao

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi paclobutrazol dan

perlakuan pemangkasan yang tepat dalam menekan layu pentil buah kakao (Theobroma

cacao L.).

1.4 Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan informasi dalam

usaha mengembangkan dan meningkatkan produksi kakao. Penelitian ini juga diharapkan

dapat digunakan sebagai acuan tentang paclobutrazol sebagai zat pengatur tumbuh untuk

menekan tingkat layu pentil pada kakao.

1.5 Kerangka Pemikiran

Pembungaan pada kakao merupakan fase yang krusial dimana dari sejumlah bunga

yang terbentuk hanya 5% yang akan menjadi buah. Hal ini dapat berdampak buruk terhadap

produktivitas dan usaha budidaya tanaman kakao. Layu pentil merupakan penyebab dari

kurangnya jumlah buah hasil penyerbukan. Layu pentil (Cherelle wilt) terjadi akibat

ketidakmampuan buah muda atau pentil berkompetisi dengan pertumbuhan tunas dalam

menyerap hasil fotosintesis. Ketidakmampuan ini diduga akibat kadar hormon auksin,

giberelin atau sitokinin rendah, atau kadar asam absisat yang tinggi (Sugiharti, 1986).
Pemangkasan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi rasio atau perbandingan

hormon tersebut sehingga perkembangan vegetatif dan generatif tidak seimbang (Susilowati,

2006)

Layu pentil kakao dapat terjadi pada setiap pentil yang umurnya kurang dari 85

hari, dan stadium yang paling peka adalah sewaktu pentil berada dalam periode umur ± 5 hari

sejak terjadinya pembuahan. Buah yang mampu tumbuh sampai umur 70 hari mempunyai

peluang besar untuk tumbuh terus sampai masak, dengan catatan tidak rusak oleh sebab lain

seperti serangan hama atau penyakit. Ukuran buah yang berumur sekitar 70 hari bervariasi

tergantung dari tipe tanaman kakao, periode pembentukan buah, dan tingkat kesuburan tanah

di tempat tumbuh tanaman tersebut. Pada kakao tipe Forastero, buah sehat yang berumur 70

hari berukuran panjang sekitar 10 cm, sedangkan pada kakao tipe Trinitario ukuran panjang

buah berkisar antara 11 cm sampai 15 cm. (Wahyudi dkk., 2008).

Layu pentil pada kakao dapat ditekan dengan menggunakan zat pengatur tumbuh

(ZPT) yang berfungsi sebagai penghambatan atau retardant pertumbuhan vegetatif salah

satunya adalah paclobutrazol. Hasil penelitian Santoso dan Rahmawan (2002), pemberian

Vegetative Growth Retardant (VGR) 50 ppm dengan penambahan larutan buffer pH 4,5

untuk mempertahankan pH larutan pada saat terjadi reaksi kimia berpengaruh terhadap

penurunan tingkat layu pentil kakao yang mulai terjadi pada satu minggu setelah pengamatan,

dan tertinggi pada minggu ketiga dengan tingkat layu pentil 18,8%. Hal tersebut disebabkan

pemakaian VGR dapat memberikan pengaruh fisiologis langsung terhadap tanaman dalam

penghambatan pertumbuhan vegetatif melalui penghambatan biosintesis asam giberelat (GA).

Pemberian VGR 50 ppm dengan penambahan larutan buffer pH 4,5 dapat menghambat

aktivitas enzim tersebut sehingga menyebabkan turunnya kadar GA di dalam sel yang pada

akhirnya proses pemanjangan sel dan jaringan juga berlangsung lebih lambat sehingga

fotosintat yang perlu dialokasikan ke jaringan vegetatif menjadi lebih sedikit, konsekuensinya
aliran fotosintat ke arah pertumbuhan reproduktif atau buah menjadi lebih banyak sehingga

realokasi ini menyebabkan pertumbuhan buah kakao menjadi optimum (Santoso dan

Rahmawan 2002).

Penelitian Oktaviani (2008) menunjukkan pemberian paclobutrazol berpengaruh

nyata terhadap jumlah kumulatif pentil kakao sehat pada umur 18 minggu setelah perlakuan

(MSP), yaitu meningkatkan pembentukan pentil kakao sehat. Pemberian paclobutrazol

cenderung menekan pembentukan pentil layu pada umur 8 MSP. Pada umur 2, 4, 6 dan 10

MSP pemberian paclobutrazol dengan konsentrasi 7,5 ml L-1 air cenderung menekan jumlah

kumulatif pentil kakao terbentuk rata-rata sebesar 87,84 %.

Pemberian paclobutrazol 5000 ppm memberikan pengaruh yang positif dalam

menekan intensistas pembentukan pucuk pada 4, 5, 17, 18 dan 19 MSP dengan rerata sebesar

67,65 % dibandingkan dengan kontrol. Pemberian paclobutrazol cenderung menekan tingkat

kumulatif pentil kakao terbentuk pada umur 10 MSP sebesar 35,85 % lebih rendah

dibandingkan dengan kontrol yang mempunyai rerata 2 pentil (Toatin 2006).

Hasil penelitian Kasran (1994) pengaruh pemberian paclobutrazol dengan

konsentrasi 0,375 g bahan aktif (b.a.)/L air) sangat baik untuk meningkatkan hasil tanaman

kakao klon KKM 22 yang berumur 1,5 tahun. Peningkatan konsentrasi paclobutrazol dari

0,375 menjadi 0,625 g b.a. L-1 dapat mengurangi tinggi tanaman, diameter batang, ukuran

daun, dan indeks keluasan daun. Hal ini mengakibatkan jumlah bunga dan buah meningkat,

hal ini tentu dapat mengurangi pemangkasan. Pemberian konsentrasi 0,625 g b.a. L-1 dapat

menekan laju pertumbuhan vegetatif sehingga fotosintat dapat terfokus sebagai bahan

pembentukan buah.

Penelitian Valle et al (1991) menyatakan bahwa pemberian paclobutrazol 60 ppm

pada pembibitan kakao dapat menekan pertumbuhan diameter batang, tinggi tanaman, jumlah

flush dan luas daun. Penurunan luas daun yang terjadi sekitar 70 % dan penurunan jumlah
daun yang terbentuk adalah 40 %. Hal ini dikarenakan asimilat yang awalnya digunakan

untuk pertumbuhan vegetatif diubah untuk menunjang pertumbuhan akar.

Produktivitas kakao juga dipengaruhi oleh pemangkasan. Hasil penelitian

Ramadasan et al, (1978) menunjukkan bahwa pemangkasan bentuk dan pemangkasan

produksi pada tanaman asal okulasi mata plagiotrop berpengaruh nyata terhadap diameter

batang dan produktivitas. Bentuk dan dan jumlah cabang mempengaruhi penangkapan cahaya

oleh tajuk tanaman. Oleh sebab itu, pemangkasan yang tidak seimbang akan mengurangi

pertumbuhan generatif dan memacu pertumbuhan pucuk.

Paclobutrazol memiliki potensi yang besar untuk digunakan sebagai zat penghambat

pertumbuhan vegetatif pada tanaman kakao yang bertujuan untuk menekan tingkat layu pentil

pada proses pembuahan tanaman kakao berumur 10 tahun. Perlakuan tanpa pemangkasan

diharapkan akan meningkatkan keberhasilan paclobutrazol dalam menekan layu pentil kakao.

1.6 Hipotesis

1. Terdapat pengaruh interaksi antara pemberian konsentrasi paclobutrazol dan pemangkasan

dalam menekan tingkat layu pentil pada kakao.

2. Perlakuan tanpa pemangkasan memberikan pengaruh terbaik dalam menekan tingkat layu

pentil.

3. Pemberian konsentrasi paclobutrazol 7,5 mL L-1 memberikan pengaruh terbaik dalam

menekan tingkat layu pentil pada kakao.