Anda di halaman 1dari 23

VIBRASI KRISTAL

Dalam materi sebelumnya, telah dibahas bahwa kristal tersusun oleh


atom-atom yang “diam” pada posisinya di titik kisi. Sesungguhnya, atom-atom
tersebut tidaklah diam, tetapi bergetar pada posisi kesetimbangannya. Getaran
atom-atom pada suhu ruang adalah sebagai akibat dari energi termal, yaitu energi
panas yang dimiliki atom-atom pada suhu tersebut.
Getaran atom dapat pula disebabkan oleh gelombang yang merambat
pada kristal. Ditinjau dari panjang gelombang yang digunakan dan dibandingkan
dengan jarak antar atom dalam kristal, dapat dibedakan pendekatan
gelombang pendek dan pendekatan gelombang panjang. Disebut pendekatan
gelombang pendek apabila gelombang yang digunakan memiliki panjang
gelombang yang lebih kecil dari pada jarak antar atom. Dalam keadaan ini,
gelombang akan “melihat” kristal sebagai tersusun oleh atom-atom yang
diskrit,sehingga pendekatan ini sering disebut pendekatan kisi diskrit.
Sebaliknya, bila dipakai gelombang yang panjang gelombangnya lebih besar
dari jarak antar atom, kisi akan “nampak” malar (kontinyu) sebagai suatu
media perambatan gelombang. Oleh karena itu, pendekatan ini sering disebut
sebagai pendekatan kisi malar.

1. GELOMBANG ELASTIK DAN FONON


Dalam pendekatan gelombang panjang, tinjau sebuah batang
berpenampang A dengan rapat massa ρ, yang dirambati gelombang mekanik ke
arah memanjang batang x. Pada setiap titik x dalam batang terjadi perubahan
panjang u (x) sebagai akibat adanya tegangan σ(x) dari gelombang, lihat
gambar 1.

Pendahuluan fisika zat padat Page 1


Gambar 1

Tinjauan suatu gelombang longitudinal merambat pada sebuah balok yang


panjang simpangan gelombang tersebut pada titik x = u (x).
Dapat dituliskan regangan pada batang :
𝑑𝑢
∈= ........................................ (1)
𝑑𝑥

karena tegangan σ didefinisikan gaya persatuan luas (fungsi panjang x). yang
memenuhi hukum Hooke sebagai berikut :
σ = E ∈ ........................................ (2)
dengan E menyatakan Modulus elastik atau Modulus Young. Selanjutnya,
menurut hukum kedua Newton, tegangan yang bekerja pada elemen batang dx
menghasilkan gaya sebesar :
F = A { σ(x + dx) – σ (x) }......................................(3)
akan menyebabkan massa elemen batang tersebut (ρAdx) mendapatkan
𝜕2 𝑢
percepatan sebesar ( 𝜕𝑡 2 ), sehingga :
𝜕2 𝑢
ρAdx = A { σ(x + dx) – σ (x) }......................................(4)
𝜕𝑡 2

Perhatikan lebih lanjut ruas kanan persamaan (2.4), dapat dijabarkan :


𝜕𝜎
= dx
𝜕𝑥
𝜕𝜀
=E dx
𝜕𝑥
𝜕 𝑑𝑢
=E ( ) dx......................................(5)
𝜕𝑥 𝑑𝑥
𝑑2 𝑢
=E( ) dx
𝑑𝑥 2

Pendahuluan fisika zat padat Page 2


Masukkan kembali hasil (5) ke persamaan semula (4) memberikan :
𝜕2 𝑢 𝜕2 𝑢
ρAdx =E dx. A
𝜕𝑡 2 𝑥2

yang dapat disederhanakan menjadi :


𝜕2 𝑢 𝜌 𝜕2 𝑢
=( ) ......................................(6)
𝜕𝑥 2 𝐸 𝜕𝑡 2

yaitu persamaan gelombang elastik. Dan bila dibandingkan dengan persamaan


gelombang umum :
𝜕2 𝑢 1 𝜕2 𝑢
=
𝜕𝑥 2 𝑣𝑠 2 𝜕𝑡 2

akan diperoleh ungkapan bagi kecepatan gelombang elastik :


𝐸
𝑣𝑠 = ( )1/2 ......................................(7)
𝜌

Jelas bahwa kecepatan gelombang mekanik dalam batang (secara umum pada zat
padat) bergantung pada “besaran elastik” bahan tersebut, yakni modulus Young.
Karena perambatan gelombang tersebut bergantung pada besaran elastik maka
gelombang yang bersangkutan disebut gelombang elastik.
Bentuk penyelesaian dari persamaan gelombang, persamaan (6), dapat dipilih
solusi gelombang bidang :
u(x) = u0 exp (ikx - i𝜔𝑡) ......................................(8)
dengan k bilangan gelombang (= 2π/λ), ω frekuensi sudut dan λ panjang
gelombang. Bila hanya diperhatikan bergantung gelombang terhadap posisi (x),
dengan mengabaikan faktor waktu (t), maka fungsi gelombang bidang dapat ditulis :
u(x) = u0 exp (ikx) ......................................(9)
Dengan menganggap panjang batang L, fungsi gelombang harus memenuhi
syarat periodik, yaitu nilai pada ujung kiri (x = 0) harus sama dengan nilainya
pada ujung kanan (x = L), jadi :
u(x = 0) = u (x = L)
u0 = u0 exp (ikL) ......................................(10)
Ini berarti,

Pendahuluan fisika zat padat Page 3


exp((ikL) = 1
atau :
ikL = ln (2𝜋)

dan:
2𝜋
K = ( )n......................................(11)
𝐿

dengan n = 0, ±1, ±2, ......... Persamaan terakhir (2.11) mengungkapkan bahwa


gelombang dapat merambat dalam batang yang panjangnya L bilamana
bilangan gelombangnya memiliki harga kelipatan bulat (0, 1, 2, ......) dari 2π/L. Atau
dengan kata lain “bilangan gelombang kberharga diskrit”.
Keadaan di atas bila dituliskan dalam ruang –k (koordinat yang menyatakan bilangan
gelombang) akan terlihat seperti pada gambar 2a. Titik-titik dalam ruang – k
menyatakan ragam (moda) gelombang. Andaikan panjang batang cukup besar
(L>>), maka jarak 2π/L akan mendekati nol dan ini berarti titik-titik dalam ruang –
k makin berdekatan (ruang –k mendekati malar/kuasi kontinyu), lihat gambar 2b.

Gambar 2. Ruang –k satu dimensi : a. diskrit, dan b. malar

Pendahuluan fisika zat padat Page 4


Berdasarkan gambar 2 dapat didefinisikan jumlah ragam gelombang elastik yang
mempunyai bilangan gelombang antara k dan k + dk (dalam interval dk) adalah :
𝑑k 𝐿
2𝜋 = ( )dk......................................(12)
( ) 2𝜋
𝐿

Dengan:
2𝜋
K=
𝐿

Jumlah ragam gelombang seperti pada persamaan (2.2) untuk setiap satuan
volume disebut rapat keadaan atau ditulis g(k) dk. Rapat keadaan dapat juga
diungkapkan sebagai frekuensi sudutω, yaitu g(ω) dω; yang menyatakan jumlah
ragam gelombang elastik persatuan volume dengan frekuensi antara ω dan ω+dω
(dalam interval dω). Di pihak lain, k dan ω berhubungan satu sama lain melalui
hubungan dispersi, lihat gambar 3., yaitu bahwa ω berbanding lurus terhadap k untuk
kisi malar :
𝜔 = vs 2 ......................................(13)

Gambar 3. Hubungan dispersi linier untuk kisi malar (pendekatan gelombang


panjang)

Pendahuluan fisika zat padat Page 5


dengan vs adalah kecepatan gelombang pada medium yang bersangkutan.
Melalui hubungan ini g(ω) dapat ditentukan :
𝐿
g (𝜔)d𝜔 = 2 ( )dk
2𝜋
𝐿 𝑑k
g (𝜔) = ( ) ......................................(14)
𝜋 𝑑𝜔
𝐿
=
𝜋𝑣𝑠

Angka 2 pada persamaan tersebut muncul karena ragam gelombang meliputi 2 daerah
(positif dan negatif), yaitu berhubungan dengan gelombang yang merambat ke
arah kanan dan kiri.
Lebih lanjut, perubahan gelombang di atas dapat diperluas untuk kasus tiga-
dimensi. Dalam ruang tiga-dimensi, fungsi gelombang dengan mengabaikan faktor
waktu ditulis :
u(x, y, z) = u0 exp {𝑖 (k 𝑥 𝑥 + k 𝑦 𝑦 + k 𝑧 𝑧)} ......................................(15)
Syarat batas periodik menghasilkan :
Exp {𝑖𝐿 (k 𝑥 + k 𝑦 + k 𝑧 )} ………………………………(16)
Hal ini dapat dipenuhi oleh :
2𝜋 2𝜋 2𝜋
k 𝑥 = ( )𝑙; k 𝑦 = ( ) 𝑚; k 𝑧 = ( ) 𝑛
𝐿 𝐿 𝐿

𝑙, 𝑚, 𝑛 = 0,±1,±2, …
Setiap titik dalam ruang -q dinyatakan oleh :
K = (k 𝑥 , k 𝑦 , k 𝑧 )
2𝜋 2𝜋 2𝜋
=( 𝑙, 𝑚, 𝑛) ………………………………(17)
𝐿 𝐿 𝐿

yang merupakan saturagam gelombang. Pada gambar 4. dilukiskan ruang – k


tiga dimensi, proyeksi pada bidang ky – kz dan besarnya volume yang ditempati oleh
satu titik (k 𝑥 , k 𝑦, k 𝑧 ) dalam ruang –k tersebut.

Pendahuluan fisika zat padat Page 6


Gambar 4. Ruang –k tiga dimensi : a. ruang –k dalam kuadran I (kx,ky,kz›0); b.
proyeksi ruang –k pada bidang ky-kz; c. volume yang ditempati
oleh satu titik dalam ruang –k
Rapat keadaan g(ω) dalam ruang tiga-dimensi dari rambatan gelombang dapat
ditentukan berdasarkan gambar 4. Jumlah ragam gelombang (dalam bola
berjejari q) adalah perbandingan antara volume bola dan volume yang ditempati
oleh satu titik dalam ruang -k, jadi :
4 3
𝜋k 𝐿3
N= 3
2𝜋 3
=( ) k 3 ………………………………(18)
( ) 6𝜋 2
𝐿

Turunkan (diferensiasi) N terhadap q akan memberikan g(ω) dω :


𝐿3
dN = k 2 dk = g (𝜔)d𝜔
2𝜋 2

atau,
𝐿3 dk
g (𝜔) = k2
2𝜋 2 𝑑𝜔

Gunakan hubungan dispersi :


𝜔 dk 1
𝜔 = vs k; k 2 = ( )2 ; =
𝑣𝑠 𝑑𝜔 𝑣𝑠

Sehingga diperoleh :
𝑉
g (𝜔) = 𝜔2 ………………………………(19)
2𝜋 2 𝑣𝑠 3

Pendahuluan fisika zat padat Page 7


V = L3, yaitu volume medium apabila berbentuk kubus. Dengan hasil rumusan
terakhir, dapat diperluas hubungan antara jumlah ragam gelombang yang dinyatakan
oleh titiktitik dalam ruang -k. Dalam pengertian ini, satu titik (k 𝑥 , k 𝑦 , k 𝑧 )setara
dengan 3 (tiga) ragam gelombang dalam ruang (koordinat) tiga-dimensi. Anggap,
misalnya, gelombang merambat ke arah - x, maka ragam ke arah x ini menjadi
gelombang longitudinal (1 ragam) sedangkan ragam ke arah y dan z menjadi
gelombang tronsversal (2 ragam), sehingga:
( kz, ky, kx )→ -1 ragam longitudinal
-2 ragam transversal
Dalam kasus gelombang merambat ke arah sumbu x, maka ungkapan rapat
keadaan dapat dituliskan kembali berbentuk :
𝑉 1 1
g (𝜔) = 𝜔2 ( + ) ………………………………(20)
2𝜋 2 𝑣3 𝑠,𝐿 𝑣3 𝑠,𝑇

dengan vs,L dan vs,T adalah kecepatan gelombang longitudinal dan kecepatan
gelombang transversal.
Sampai sejauh ini, kita telah membahas rambatan gelombang elastik pada bahan
padat. Gelombang elastik pada zat padat ini dapat disebabkan baik oleh gelombang
mekanik (bunyi/ultrasonik) maupun oleh gelombang termal (inframerah). Kedua
gelombang tersebut dapat menyebabkan getaran kisi. Untuk selanjutnya, paket-paket
energi getarankisi disebut fonon. Fonon dapat dipandang sebagai “kuasi partikel”
seperti halnya foton pada gelombang cahaya/elektromagnet. Melalui konsep yang
mirip “dualisme partake-gelombang” ini, rambatan getaran kisi dalam zat padat
dapat dianggap sebagai aliran fonon.

Pendahuluan fisika zat padat Page 8


Beberapa konsep dualisme gelombang-pertikel ditunjukkan pada tabel 1.
Tabel 1. Beberapa eksitasi elementer pada zat padat.
GELOMBANG PARTIKEL

Gel. Elektromagnet Foton


Gel. Elastik/getaran Kisi Fonon
Gel. Elektron Kolektif Plasmon
Gel. Magnetisasi Magnon
Gel. Elektron + deformasi elastik Polaron
Gel. Polarisasi Eksiton

2. GETARAN KRISTAL YANG BERBASIS SATU ATOM (MONOATOMIK)


Kita mulai dengan kasus yang sederhana. Yaitu kasus yang melibatkan
getaran kristal akibat adanya gelombang elastis yang merambat dalam arah [1 0
0] ; [1 1 0] ; [1 1 1].

Pendahuluan fisika zat padat Page 9


⃗ ) terdapat 3 model getaran yaitu : 1 buah
Untuk setiap vektor gelombang (𝑘
longitudinal dan 2 buah transversal.

1 Buah Gelombang Longitudinal

2 Buah Gelombang Transversal

Pendahuluan fisika zat padat Page 10


Kita anggap bahwa kristal akan merespon

Gelombang elastik secara linier terhadap gaya. Artinya : gaya yang bekerja pada
bidang
kristal yang ke : s adalah sebanding dengan selisih simpangannya, Jadi:
Fs = c (Us+1 – Us) + c (Us-1 – Us)
Fs = c (Us+1 + Us-1 – 2Us) ………………………………(21)
Dengan :
Fs = gaya yang bekerja pada bidang kristal yang ke : s
C = tetapan elastisitas
Us = simpangan bidang kristal yang ke s
Us+1 = simpangan bidang kristal yang ke s+1
Us-1 = simpangan bidang kristal yang ke s-1
Persamaan gerak bidang kristal ke s adalah :
F = m. a = c. Δx
m. a = hukum newton
c. Δx = hukum hooke
𝑑2 𝑈𝑠
m. = c (Us+1 + Us-1 – 2Us) ………………………………(22)
𝑑𝑡 2

m = massa atom.
Solusi dari persamaan gerak ini tergantung pada waktu (t) yang dinyatakan oleh :
Us = 𝑒 −𝑖𝜔𝑡
Karena pers (22) merupakan turunan hanya terhadap waktu, maka :
𝑑 2 𝑈𝑠 𝑑2
= [𝑒 −𝑖𝜔𝑡 ] = −𝜔2 𝑒 −𝑖𝜔𝑡
𝑑𝑡 2 𝑑𝑡 2

Us = 𝑒 −𝑖𝜔𝑡

Pendahuluan fisika zat padat Page 11


𝑑 2 𝑈𝑠
= −𝜔2 Us
𝑑𝑡 2

Karena itu pers (22) dapat ditulis :


−𝝎𝟐 Us m = c (Us+1 + Us-1 – 2Us) ………………………………(23)
Solusi:
Us = 𝑒 −𝑖𝜔𝑡 dapat ditulis sebagai berikut :
Us = 𝑒 −𝑖𝜔𝑡 ≈ 𝑒 −𝑖2𝜋𝑣𝑡
= 𝑒 −𝑖2𝜋𝑣𝑡𝜆/𝜆
Us = 𝑒 −𝑖kx = 𝑒 −𝑖ksa
Secara lengkap Us dapat ditulis sebagai berikut:
Us = U 𝒆−𝒊𝐤𝐬𝐚 ………………………………(24)
U = amplitudo
Karena itu:
Us+1 = U 𝑒 −𝑖k(s+1)a = U 𝑒 −𝑖ksa U 𝑒 +𝑖ka
Us+1 = Us 𝑒 𝑖ka ………………………………(25)
Pers (25) → (23) didapat :
−𝜔2 Us m = c (Us 𝑒 𝑖ka + Us 𝑒 −𝑖ka – 2Us )
−𝝎𝟐 m = c (𝒆𝒊𝐤𝐚 + 𝒆−𝒊𝐤𝐚 – 2 ) ………………………………(26)
Karena 𝑒 + 𝑖𝜃 = cos θ + i sin θ maka Karena 𝑒 𝑖ka + 𝑒 −𝑖ka = 2 cos ka
Sehingga persamaan (26) menjadi:
𝜔2 m = -c (𝟐𝐜𝐨𝐬 ka – 2 )
2𝑐
𝜔2 = (1 − cos ka)
𝑚
2𝑐
𝜔=⌈ (1 − cos ka)⌉1/2 ………………………………(27)
𝑚

Dengan 1-cos ka = 2 sin2 (½ ka), Persamaan (27) menjadi :


2𝑐
𝜔2 = 2 𝑠𝑖𝑛2 (½ ka)
𝑚

Pendahuluan fisika zat padat Page 12


𝑐 1
𝜔 = 2 √ |sin ka| ………………………………(28)
𝑚 2

𝑐
2 √ = 𝐴 (amplitudo)
𝑚

Persamaan (28) merupakan Persamaan Dispersi. Persamaan (28) menyatakan


hubungan antara frekuensi sudut (ω) terhadap vektor gelombang (k). ω= f(k)
Bila dinyatakan dengan grafik

sin 𝜋⁄2 = sin 90° max =1


𝜋⁄
sin 2
= sin 45° = 1⁄2 √2
2
𝜋⁄
sin 3
= sin 30° = 1⁄2
2

Kecepatan grup (kecepatan kelompok) 𝑉𝑔


𝑑𝜔
𝑉𝑔 = gradien
𝑑k

𝑑 𝑐 1
= (2 √ |sin ka|)
𝑑k 𝑚 2

Pendahuluan fisika zat padat Page 13


𝑐
𝑉𝑔 = a√ cos 1⁄2 ka ………………………………(29)
𝑚

Pada saat :
2𝜋
Ka = 𝜋 a=𝜋 𝜆 = 2a
𝜆

𝑐
𝑽𝒈 = a√ cos 𝟏⁄𝟐 ka = 0 artinya : tidak ada gradien kemiringan
𝑚

(lihat di grafik)
2𝜋
Ka = 𝜋⁄2 a = 𝜋⁄2 𝜆 = 4a
𝜆

𝑐
𝑽𝒈 = a√ cos 𝝅⁄𝟒
𝑚

𝑐
= 0,74 a√ ada gradien kemiringan.
𝑚

3. VIBRASI KRISTAL DIATOMIK

Persamaan gerak :
F = m.a = c. Δx
Untuk
𝑑2 𝑈𝑠
𝑚1 𝑚1 = c {(𝑉𝑠 − 𝑈) + (𝑉𝑠−1 − 𝑈𝑠 )}
𝑑𝑡 2
𝑑2 𝑈𝑠
𝑚1 = c {𝑉𝑠 + 𝑉𝑠−1 − 2𝑈𝑠 } ………………………………(30)
𝑑𝑡 2

Untuk
𝑑2 𝑈𝑠
𝑚2 𝑚2 = c {(𝑈𝑠+1 − 𝑉𝑠 ) + (𝑈𝑠 − 𝑉𝑠 )}
𝑑𝑡 2

Pendahuluan fisika zat padat Page 14


𝑑2 𝑈𝑠
𝑚1 = c {𝑈𝑠+1 + 𝑈𝑠 − 2𝑉𝑠 } ………………………………(31)
𝑑𝑡 2

Solusinya :
𝑈𝑠 = U 𝑒 𝑖(ksa− ωt)
𝑉𝑠 = V 𝑒 𝑖(ksa− ωt)
𝑈𝑠+1 = U 𝑒 𝑖(ksa− ωt) 𝑒 𝑖ka
𝑉𝑠−1 = V 𝑒 𝑖(ksa− ωt) 𝑒 −𝑖ka ………………………………(32)
Persamaan (32) dimasukkan ke persamaan (30) diperoleh
𝑈𝑠 = U 𝑒 𝑖(ksa− ωt)
𝑑𝑈𝑠
= -iωU 𝑒 𝑖(ksa− ωt)
𝑑𝑡
𝑑2 𝑈𝑠
= −𝜔2 U 𝑒 𝑖(ksa− ωt)
𝑑𝑡 2

−𝑚1 U 𝜔2 𝑒 𝑖(ksa− ωt) = c {𝑈 𝑒 𝑖(ksa− ωt) + 𝑉 𝑒 𝑖(ksa− ωt) 𝑒 −𝑖ka − 2𝑈 𝑒 𝑖(ksa− ωt) }
−𝒎𝟏 U 𝝎𝟐 = c {𝑼 + 𝑽 𝒆−𝒊𝐤𝐚 − 𝟐𝑼 } ………………………………(33)
dengan cara yang sama bila persamaan (31) dimasukkan ke persamaan (30) didapat :
−𝒎𝟐 V 𝝎𝟐 = c 𝑼 (𝟏 + 𝒆𝒊𝐤𝐚 ) − 𝟐𝒄𝑽………………………………(34)
Dari persamaan (33) dan persamaan (34) bila dibuat determinant:

{(2𝑐 − 𝑚1 𝜔2 )(2𝑐 − 𝑚2 𝜔2 )} - {(−𝑐 )(1 + 𝑒 𝑖ka )(−𝑐)(1 + 𝑒 −𝑖ka ) } = 0


(m1m2)𝜔4 − {2𝑐(𝑚1 + 𝑚2 )}𝜔2 - 𝑐 2 (2 + 𝑒 𝑖ka + 𝑒 −𝑖ka ) = 0
Ingat

Pendahuluan fisika zat padat Page 15


𝑒 𝑖ka = cos ka + i sin ka
𝑒 𝑖ka + 𝑒 −𝑖ka = 2 cos ka
Maka
(m1m2)𝜔4 −{2𝑐(𝑚1 + 𝑚2 )}𝜔2 + 2 𝑐 2 (1 - cos ka) = 0
Rumus abc:
2𝑐(𝑚1 +𝑚2 ) ± √{2𝑐(𝑚1 +𝑚2 ) }2 − 4(𝑚1 𝑚2 )(2𝑐 2 ) (1 − cos ka)
(𝜔12 )2 =
2(𝑚1 𝑚2 )

Ingat
1-cos ka = sin2 ½ ka
Maka

1 1 1 1 2 4 ka
(𝜔1 )2=c( + )+c√( + ) − 𝑠𝑖𝑛2 ( ) …………………(35)
𝑚1 𝑚2 𝑚1 𝑚2 𝑚1 𝑚2 2

Persamaan (6) merupakan persamaan cabang optik (gelombang elektromagnetik)

1 1 1 1 2 4 ka
(𝜔2 )2= c ( + )- c √( + ) − 𝑠𝑖𝑛2 ( ) …………………(36)
𝑚1 𝑚2 𝑚1 𝑚2 𝑚1 𝑚2 2

Persamaan (36) merupakan persamaancabang akustik (bunyi)


⃗)
⃗ = f (k
Grafik: 𝜔
Untuk
1 1 1 1
K=0 𝜔2 𝑜𝑝 = (2c) ( + ) 𝜔0𝑝 = √(2𝑐) ( + )
𝑚1 𝑚2 𝑚1 𝑚2

1 1 1 1
𝜔2 𝑎k = c ( + )–c( + )=0
𝑚1 𝑚2 𝑚1 𝑚2

1 1 1 1 2 4
K = 𝜋⁄𝑎 𝜔2 𝑜𝑝 = c ( + ) + c √( + ) −
𝑚1 𝑚2 𝑚1 𝑚2 𝑚1 𝑚2

1 1 1 2 1 2 2 4
=c( + ) + c √( ) +( ) + −
𝑚1 𝑚2 𝑚1 𝑚2 𝑚1 𝑚2 𝑚1 𝑚2

1 1 1 2 1 2 2
=c ( + ) + c √( ) +( ) −
𝑚1 𝑚2 𝑚1 𝑚2 𝑚1 𝑚2

Pendahuluan fisika zat padat Page 16


1 1 1 2 1 2
=c( + ) + c √( ) −( )
𝑚1 𝑚2 𝑚1 𝑚2

1 1 1 1
=c( + )+c ( − )
𝑚1 𝑚2 𝑚1 𝑚2
2𝑐
𝜔2 𝑜𝑝 = ………………………………(37)
𝑚1

Dengan cara yang sama :


1 1 1 1
𝜔2 𝑎k = c ( + )–c( − )
𝑚1 𝑚2 𝑚1 𝑚2
2𝑐
𝜔2 𝑎k = ………………………………(38)
𝑚2

2𝑐 2𝑐
Bila 𝑚1 < 𝑚2 √𝑚 > √𝑚
1 2

2𝑐 2𝑐
Bila 𝑚1 > 𝑚2 √𝑚 < √𝑚
1 2

Yang terjadi adalah tidak ada celah terlarang yang artinya untuk setiap energi
selalu menghasilkan getaran

4. KUANTISASI GELOMBANG ELASTIK

Pendahuluan fisika zat padat Page 17


Menurut (Nisa isma, dkk), menyatakan bahwa Energi dari getaran kisi
terkuantisasi. Kuantum energi disebut fonon dalam analogi dengan foton dari
gelombang elektromagnetic. gelombang elastis dalam Kristal terdiri dari fonon.
getaran termal dalam Kristal termal fonon bersemangat, seperti foton termal
bersemangat-tubuh hitamradiasi elektromagnetik dalam sebuah rongga.
Frekuensi sudut ω dari energi mode elastis adalah
(39)

ketika mode sangat tertarik untuk bilangan kuantum n, yaitu ketika mode
ditempati oleh fonon n. 1/2 ħω panjang adalah energi titik nol dari mode. Hal ini
terjadi untuk kedua fonon dan foton sebagai konsekuensi dari kesetaraan mereka
untuk frekuensi osilator harmonik kuantum, dimana nilai eigen energi juga
sebesar (n +1/2) ħω.
Kita dapat dengan mudah menghitung rata – rata amplitudo Fonon.
Dengan mempertimbangkan modus gelombang berdiri dari amplitudo.
(40)
di sini u adalah jarak dari elemen volume dari posisi kesetimbangan pada x dalam
kristal.
Energi dalam mode ini, seperti halnya dalam osilator harmonik, adalah
setengah energi kinetik dan energi potensial setengah, ketika dirata – ratakan dari
1
waktu ke waktu . Kepadatan energi kinetik adalah 2 𝜌( 𝜕𝑢/𝜕𝑡)2, di mana ρ adalah

massa jenis. Dalam sebuah kristal volume V, volume integral dari energi kinetik
1
adalah 4 𝜌𝑉𝜔2 𝑢02 = sin 𝜔𝑡.

Energi kinetik rata-rata waktu


(41)

dan kuadrat amplitudo adalah

Pendahuluan fisika zat padat Page 18


(42)

Apa tanda ω? persamaan gerak seperti persamaan (22) adalah persamaan untuk
ω2, dan jika ini adalah benar maka ω dapat memiliki tanda, + atau -. Tapi energi
Fonon harus positif, sehingga sangat konvensional dan cocok untuk melihat ω
sebagai positif. (Untuk gelombang polarisasi sirkuler tanda keduanya sering
digunakan, untuk membedakan satu rasa rotasi dari yang lain). Jika struktur kristal
tidak stabil, atau menjadi tidak stabil melalui ketergantungan suhu yang tidak biasa
dan gayanya konstan, maka ω2 akan negatif dan ω akan imajiner.
Sebuah mode dengan imajiner ω akan menjadi tidak stabil, setidaknya jika
bagian nyata dari ω adalah negatif. Kristal ini akan mengubah secara spontan untuk
struktur yang lebih stabil. Sebuah modus optik dengan ω dekat ke nol disebut mode
lembut, dan ini sering terlibat dalam fase transisi, seperti pada kristal feroelektrik.

5. MOMENTUM FONON
Menurut (Nisa isma, dkk), menyatakan bahwa Sebuah fonon dari vektor
gelombang K akan berinteraksi dengan toton neutron, dan seolah-olah memiliki.
Bagaimanapun, fonon tidak membawa momentum fisik. Alasan bahwa fonon dalam
satu kisi tidak membawa momentum bahwa koordinat fonon melibatkan koordinat
relatif dari atom. Sehingga dalam molekul H2 koordinat getaran molekul terletak di
r1–r2, yang merupakan koordinat relative dan tidak membawa momentum linier,
koordinat pusat massa ½ (r1 + r2) sesuai dengan mode K= 0 dan dapat membawa
momentum linier.
Momentum fisik dari kristal adalah

(42)

ketika kristal membawa Fonon K,

Pendahuluan fisika zat padat Page 19


(43)

dimana s berjalan di atas N atom. Digunakanlah seri


(44)

2𝜋𝑟
Telah ditemukan bahwa nilai K = ± , dimana r adalah integer. Sehingga
𝑁𝛼

exp (iNK𝛼) = exp (±𝑖2𝜋𝑟) = 1 dan momentum kristal bernilai nol.

(45)

Semua sama, untuk tujuan praktik fonon bertindak seolah-olah momentum


adalah, dimana hal ini disebut momentum kristal. Dalam kristal terdapat aturan
seleksi vektor gelombang untuk memperbolehkan transisi antara keadaan kuantum.
Hamburan elastis dari foton sinar x oleh kristal diatur oleh aturan seleksi vector
gelombang.
(46)
Dimana G adalah vektor dalam kisi timbal balik, k adalah vektor gelombang
dari foton yang diamati, dan k’ adalah vektor gelombang dari foton tersebar. Dalam
proses refleksi kristal semua akan mengalami momentum, tetapi ini jarang dianggap
secara eksplisit.
Gelombang vektor total yang merupakan interaksi gelombang bersifat kekal
dalam kisi periodik, dengan penambahan yang mungkin dari vektor kisi resiprokal G.
Momentum keseluruhan selalu dijaga.
Jika hamburan foton bersifat inelastis, dengan membuat fonon dari vector
gelombang K, maka aturan seleksi vektor gelombang menjadi
(47)
Jika foton K yang diserap dalam proses, didapatkan persamaan

Pendahuluan fisika zat padat Page 20


(48)

Persamaan (48) menjadi hukum kekekalan momentum jika dikalikan dengan h.


ℎ𝑘 ′ = hk + hK + hG (49)

6. PENGHAMBURAN FONON TAK-ELASTIK


Tinjau suatu foton dengan frekuensi 𝛿 = 𝜔/2𝜋 yang merambat dalam
Kristal, jika Kristal dianggap sebagai medium malar dengan indeks bias n maka
vector gelombangnya bisa ditentuka jika hubungan:
𝑐𝑘 𝑐
𝜔 atau 𝜆𝛿 𝑛 (50)
𝑛

𝑐 = kecepatan cahaya momentum foton



𝑝 = h𝑘 (51)
Foton tersebut berinteraksi dengan fonon, hal ini terjadi karena regangan
elastis yang timbul pada Kristal akibat gelombang elastis (fonon) merubah
konsentrasi local atom-atom Kristal yang berarti merubah indeks biasnya.
Dengan demikian fonon memodulasi sifat elastis medium, sebaliknya medan
listrik foton memodulasi sifat elastis medium. “dalam Kristal foton dapat
menimbulkan atau menyerap fonon”. Foton akan terhambur dan vector
gelombangnya berubah dari k k’ dan frekuensi juga berubah dari 𝜔 𝜔′ .
⃗ dengan frekuensi
Misalnya fonon yang timbul mempunyai vector gelombang 𝑘
Ω, berdasarkan kinematika tumbukan antara foton dan fonon serta hokum
kekekalan tenaga:
h 𝜔 = h𝜔′ . + h Ω (52)
dan berdasarkan aturab seleksi
⃗ = ⃗⃗⃗
𝑘 ⃗
𝑘′ + 𝐾 (53)

Pendahuluan fisika zat padat Page 21


Berdasarkan pada persamaan (53) 𝐺 tidak dituliskan, karena difraksi bragg

belum diperhitungkan, jika kecepatan gelombang elastis konstan, maka : Ω= 𝑉𝑠 𝐾
karena 𝜆𝛿 = 𝑉𝑠 .
⃗,
⃗ yang seorde dengan vector gelombang 𝑘
Untuk vector gelombang fonon 𝐾
maka dengan menggubakan persamaan (52); (53) diperoleh 𝜔′ = 𝜔 ; k’ + k.
1
K≅ 2k sin 2 ∅ (54)
𝑛
Karena k = 𝜔 maka
𝑐
2𝑉𝑠 𝜔𝑛 1
𝑉𝑠 𝐾 = sin 2 ∅ (55)
𝑐

Karena Ω= 𝑉𝑠 𝐾. Maka frekuensi fono yang timbul karena hamburan foton datang jika
< ∅:
𝑛 1
Ω ≅ (2𝑉𝑠 𝜔 𝑐 ) sin 2 ∅ (56)

n = indeks bias kristal

Pendahuluan fisika zat padat Page 22


DAFTAR PUSTAKA

aa

Pendahuluan fisika zat padat Page 23