Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

“GANGGUAN TINGKAH LAKU”


Disusun untuk memenuhi tugas keperawatan jiwa II

OLEH :

1. HAVIPAH HUZAIMAH (7310011)


2. ULFA ROHMAWATI (7310022)
3. MOH. IBNU MALIK (7310031)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM
JOMBANG
2013

1
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat
menyelesaikan makalah dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN JIWA GANGGUAN
TINGKAH LAKU ” secara lancar tanpa hambatan suatu apapun.
Ucapan terimakasih penulis persembahkan kepada pihak-pihak yang secara langsung maupun
tidak langsung telah membantu terselesaikannya askep ini, antara lain berterimakasih pada :
1. Bapak Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA selakuRektor UNIPDU Jombang.
2. Bapak Dr. H. M. ZulfikarAs’ad, MMR, selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
UNIPDU Jombang.
3. Bapak M. Rajin, S. Kep. Ners, M. Kes selaku Kaprodi S1 Ilmu Keperawatan
UNIPDU Jombang.
4. Ibu Indah Mukarromah S.Kep.Ners, selaku koordinator pelajaran.
5.Teman-teman dan sahabat-sahabat yang telah banyak membantu dalam penulisan
askep ini.
Penulis menyadari bahwa pembuatan askep ini jauh dari sempurna.Oleh karena itu, penulis
mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca demi penyempurnaan askep ini.
Demikianlah laporan ini kami buat.Semoga bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca
padaumumnya.

Jombang, 06 maret 2013

Penulis

2
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………….….…………1
KATA PENGANTAR ………………………………………………………….……..………2
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………….……3
LEMBAR PENGESAHAN……………………………………………………..….…….……5
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………….….……6
1.1 Latar Belakang……………………………………………………………….……6
1.2 Tujuan Umum……………………………………………………….…………..…6
1.3 Manfaaat Penulisan…………………………………………………….……….…7

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………...……….…8

2.1 Definisi……………………………………...……………………….……………8
2.2 Tanda dan gejala gangguan tingkah laku…………………………………………8
2.3 Etiologi………………………………………………………...………..…………9
2.4 Nursing Pathway………………………………………...……….………………11
2.5 Manifestasi Klinis……………………………………...…………………………12
2.6 Penatalaksanaan…………………………………….……………………………13
2.7 Pemeriksaan Penunjang……………………………..……………………………13
2.8 Penyuluhan Klien dengan Keluarga……………………………..………………14
2.9 Pertimbangan Budaya…………………………………...…………..……………15

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN TINGKAH LAKU……………………..……16

Pengkajian……………………………………………………………………………16
Analisis data dan perencanaan……………………………………………….………18
Identifikasi Hasil…………………………………………………………..…………18
Intervensi Untuk gangguan Tingkah Laku………………………………..…………19
Evaluasi………………………………………………………………………………19
Perawatan Berbasis Masyarakat…………………………………………..…………19

BAB III PENUTUP……………………………………………………………….…………21

3.1 Kesimpulan………………………………………………………………………21
3.2 Saran…………………………………………………………………..…………21

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….…………………22

3
KEGIATAN KELOMPOK…………………………………………………...……………24

GLOSARIUM…………………………………………………………………...………..…24

4
LEMBAR PENGESAHAN

Lembar pengesahan ini kami buat sebagai bukti bahwa kami telah membuat Asuhan
Keperawatan Jiwa 2 “Gangguan Sosialitas (Autisme)” pada :

Hari/Tanggal :

Jam :

Tempat :

Dosen Pembimbing

Indah Mukarromah,S.Kep.,Ns.

5
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Individu yang mengalami gangguan tingkah laku mempunyai sedikit rasa empati terhadap
orang lain; mereka mempunyai harga diri rendah, toleransi frustasi yang buruk, dan marah
yang meledak-ledak.

Gangguan tingkah laku sering kali dihubungkan dengan awitan dini perilaku seksual, minum
alkohol, merokok, menggunakan zat terlarang, dan perilaku ceroboh atau perilaku berisiko
lainnya. Gangguan ini terjadi tiga kali lebih sering pada anak laki-laki daripada anak
perempuan, dan sebanyak 30% hingga 50% anak-anak tersebut didiagnosis mengalami
gangguan kepribadian antisosial saat dewasa.

Ganggaun tingkah laku merupakan perilaku antisosial yang persisten pada anak dan remaja
yang secara signifikan mengganggu kemampuan mereka untuk melakukan fungsi dibidang
sosial, akademik, atau pekarjaan. Gejalanya dikelompokkan kedalam empat area : agresi
terhadap orang dan binatang, perusakan barang-barang, kecurangan dan pencurian, dan
pelanggaran peraturan yang serius (Sheila L. Videbeck. 2008)

1.2 TUJUAN UMUM


a. TujuanUmum
Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperwatan jiwa gangguan tingkah laku
b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam makalah ini , mahasiswa mengetahui :
1. Definisi
2. tanda dan gejala
3. Etiologi
4. pohon masalah
5. penatalaksanaan
6. manifestasi klinis
7. pemeriksaan penunjang
8. asuhan keperawatan gangguan tingkah laku

6
1.3 MANFAAT PENULISAN
a. BagiInstitusiPendidikan
dengan adanya makalah ini Institusi pendidikan berhasil menjadikan mahasiswa yang lebih
mandiri dalam membuat suatu karya tulis dan menambah wawasan pengetahuan para
mahasiswa.
b. Bagi Mahasiswa
Dengan adanya makalah ini, dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mahasiswa
serta dapat memandirikan mahasiswa dalam mempelajari Keperawatan Anak I.

7
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI

Gangguan tingkah laku adalah perilaku antisosial yang persisten pada anak dan remaja yang
secara signifikan mengganggu kemampuan mereka untuk melakukan fungsi di bidang sosial,
akademik, atau pekerjaan.(Sheila L. Videbeck. 2008).Gangguan tingkah laku dapat
didefinisikan dari berbagai disiplin ilmu sesuai dengan keperluan profesionalnya, adapun
pengertian dari gangguan tingkah laku daribeberapa ahli yakni :

a. Kauffman : 1977
Anak yang mengalami gangguan tingkah laku merupakan anak yang secara nyatadan
menahun merespon lingkungan tanpa adanya kepuasan pribadi namun masih dapatdiajarkan
perilaku-perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat dan dapat memuaskan kpribadiannya.

b. Nelson ; 1981
Tingkah laku seseorang dapat dikatakan menyimpang atau mengalami gangguanjika :
1. menyimpang dari perilaku yang oleh orang dewasa dianggap normal menurut usia dan
jenis kelaminnya.
2. penyimpangan terjadi dengan frekuensi dan intensitas yang tinggi
3. penyimpangan berlangsung dalam waktu yang relatif lama (Nelson, 1999)

2.2 TANDA DAN GEJALA GANGGUAN TINGKAH LAKU

 Agresif kepada orang dan binatang


 Menganggu, mengancam, atau mengintimidasi orang lain
 Perkelahian
 Penggunaan senjata
 Pemaksaan kegiatan seksual
 Kekejaman kepada orang atau binatang
 Perusakan barang-barang
 Menyebabkan kebakaran
 Vandalisme
 Sengaja merusak barang-barang

8
 Kecurangan dan pencurian
 Berbohong
 Mencuri di toko
 Mendobrak rumah, gedung, atau mobil
 Menipu orang lain untuk menghindari tanggung jawab
 Pelanggaran peraturan yang serius
 Keluar sepanjang malam tanpa izin orang tua
 Melarikan diri dari rumah sepanjang malam
 Bolos sekolah. (Sheila L. Videbeck. 2008)

2.3 ETIOLOGI

Secara umum diterima bahwa kerentanan genetik, kesulitan dilingkungan, dan faktor-faktor
seperti koping yang buruk saling mempengaruhi untuk menyebabkan gangguan. Faktor risiko
mencakup pengasuhan yang buruk, prestasi akademik yang rendah, hubungan teman sebaya
yang buruk, dan harga diri rendah; faktor pelindung mencakup ketabahan, dukungan
keluarga, hubungan teman sebaya yang positif, dan kesehatan yang baik.

Terdapat risiko genetik untuk gangguan tingkah laku meskipun tidak ada penanda gen
spesiviks yang teridentifikasi. Gangguan ini lebih sering terjadi pada anak yang mempunyai
saudara kandung dengan gangguan tingkah laku atau orang tua yang mengalami gangguan
kepribadian antisosial, penyalahgunaan zat, gangguan mood, skizofrenia, atau ADHD (DSM-
IV-TR, 2000).

Kurangnya reaktivitas sistem saraf otonom ditemukan pada anak yang mengalami gangguan
tingkah laku, sama dengan orang dewasa ang mengalami gangguan kepribadian antisosial.
Abnormalitas ini dapat menyebabkan lebih banyak agresi pada hubungan sosial sebagai
akibat berkurangnya sikap menghindar yang normal atau inhibisi sosial. Riset tentang peran
neurotranmiter adalah bidang yang menjanjikan.

Fungsi keluarga yang buruk, ketidakharmonisan perkawinan, pengasuhan yang buruk, dan
riwayat penyalah gunaan zat pada keluarga serta masalah psikiatri berhubungan dengan
perkembangan gangguan tingkah laku. Penganiayaan anak adalah faktor risiko yang sangat
penting. Pola pengasuhan spesifik yang dianggap tidak efektif adalah respons orang tua yang

9
tidak konsisten terhadap permintaan anak, dan memberikan sesuai permintaan ketika perilaku
anak berlebihan.

Pajanan terhadap kekerasan di media dan di masyarakat adalah faktor yang berkontribusi
pada anak yang berisiko di daerah lain. Ketidakberuntungan pada bidang sosioekonomi
seperti tempat tinggal yang tidak adekuat, kondisi penuh sesak, dan kemiskinan juga
meningkatkan kemungkinan gangguan tingkah laku pada anak yang berisiko.

Prestasi akademik yang rendah, ketidakmampuan belajar, hiperaktivitas, dan masalah dengan
rentang perhatian berhubungan dengan gangguan tingkah laku. Anak yang mengalami
gangguan tingkah laku sulit melakukan fungsi dalam situasi sosial. Mereka kurang mampu
berespons terhadap orang lain secara tepat atau mengatasi konflik, dan mereka kehilangan
kemampuan untuk mengendalikan diri saat tertekan secara emosional. Mereka sering kali
hanya diterima oleh teman sebaya yang mengalami masalah yang sama (Sheila L. Videbeck,
2008)

10
2.4 NURSING PATHWAY
GENETIK FUNGSI KELUARGA YANG PAJANAN TERHADAP
BURUK, KETIDAK KEKERASAN DIMEDIA DAN
HARMONISAN PERKAWINAN, MASYARAKAT
TIDAK ADA GENSPESIFIK PENGASUHAN YANG BURUK.

KOPING YANG NEGATIF


GANGGUAN KEPRIBADIAN
PENYALAHGUNAAN ZAT, GANGGUAN
SAUDARA KANDUNG TINGKAH LAKU PENGANIAYAAN ANAK
DENGAN GANGGUAN
TINGKAH LAKU

TIDAK DAPAT PRESTASI AKADEMIK


MENGENDALIKAN DIRI RENDAH, KETIDAK
MAMPUAN BELAJAR,
HIPERAKTIFITAS DAN
MASALAH DENGAN
KESULITAN RENTANG PERHATIAN B/D
DILINGKUNGAN GANGGUAN TINGKAH
LAKU

GANGGUAN HUBUNGAN
TEMAN SEBAYA
TIDAK MAMPU BERESPON TERHADAP
ORANG LAIN SECARA TEPAT/
MENGATASI KONFLIK DAN MEREKA
KEHILANGAN KEMAMPUAN UNTUK
HARGA DIRI DENDAH
MENGENDALIKAN DIRI SAAT TERTEKAN
SECARA EMOSIONAL

ANSIETAS

11
2.5 MANIFESTASI KLINIS

Dua subtipe gangguan tingkah laku didasarkan pada usia saat awitan. Tipe masa awitan
kanak-kanak mencakup gejala-gejala yang terjadi sebelum usia 10 tahun, termasuk agresi
fisik terhadap orang lain dan gangguan hubungan teman sebaya. Anak tersebut lebih mungkin
mengalami gangguan tingkah laku yang persisten dan berkembang menjadi gangguan
kepribadian antisosial saat dewasa.

Tipe awitan remaja didefinisikan sebagai tidak adanya gangguan tingkah laku sampai usia 10
tahun. Remaja tersebut sedikit kemungkinannya menjadi agresif, dan mereka mempunai
hubungan dengan teman sebaya yang lebih normal. Mereka sedikit kemungkinannya untuk
mengalami gangguan tingkah laku yang persisten atau gangguan kepribadian antisosial saat
dewasa (DSM-IV-TR,2000).

Gangguan tingkah laku dapat diklasifikasikan menjadi ringan, sedang, atau berat (DSM-IV-
TR,2000):

 Ringan : individu mengalami sedikit masalah tingkah laku yang menyebabkan


bahaya terhadap orang lain yang relatif ringan, seperti berbohong, bolos
sekolah, atau keluar rumah tanpa izin.
 Sedang : jumlah masalah tingkah laku meningkat, sepereti halnya jumlah
bahaya terhadap orang lain, seperti vandalisme atau pencurian.
 Berat : ada banyak masalah tingkah laku, dan ada bahaya yang besar terhadap
orang lain, seperti seks yang dipaksa, kekejaman terhadap binatang,
penggunaan senjata, pencurian, atau perampokan.

Proses gangguan tingkah laku bervariasi. Individu yang mengalami tipe awitan remaja dan
masalah yang sedikit atau lebih ringan dapat mencapai hubungan sosial yang adekuat dan
keberhasilan akademik atau pekerjaan ketika dewasa. Mereka yang mengalami tipe awitan
masa kanak-kanak dan perilaku bermasalah yang lebih berat kemungkinan besar berkembang
menjadi gangguan kepribadian antisosial ketika dewasa.

Hanya sekitar 40% individu yang mengalami gangguan tingkah laku terus berkembang
menjadi gangguan kepribadian antisosial, tetapi bahkan mereka yang tidak berkembang
menjadi gangguan kepribadian antisosial dapat mengalami kehidupan yang bermasalah,
kesulitan dalam hubungan interpersonal, gaya hidup yang tidak sehat, dan ketidakmampuan
untuk mendukung diri mereka sendiri (Sheila L.Videbeck, 2008)
12
2.6 PENATALAKSANAAN

Anak mungkin secara tidak sadar memakai strategi pasif agresif untuk berbagai motif, untuk
mendapatkan kebebasan sementara mempertahankan ketergantungan, untuk menutupi dasar
rasa harga diri yang rendah, untuk mempertahankan control dan autonomi ketika terancam
oleh kecemasan dan membalas dendam. Anak tersebut takut terhadap ekspresi langsung dari
kesombongan, agresi dan permusuhan.

Gaya orang tuanya dalam membesarkan anak sering menakut-nakuti, kritis, dan tidak
konsisten atau sebaliknya, sangat sabar dan suka memberikan kebebasan (permisif). Baik
anak maupun orang tua sering menemui kesulitan untuk meredam amarah secara langsung.

Orang tua harus diberi semangat untuk menangani perilaku pasif-agresif dengan menentukan
batas dan harapan yang yang tegas pada anak orang tua dan anak harus memperoleh
persesuain tentang apa yang mereka anggap merupakan tugas-tugas penting dan tanggung
jawab anak. Masalah-masalah paling penting perlu ditangani pertama. Ketegasan dan
kemandirian sesuai usia harus dikembangkan dan dihargai. Semakin banyak kasus yang sukar
disembuhkan semakin sering memerlukan intervensi psikiatrik.(Nelson, 1999)

2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Berbagai macam terapi telah dilakukan untuk gangguan tingkah laku dengan keefektifan
yang terbatas. Intervensi dini lebih efektif, dan pencegahan lebih efektif daripada terapi.
Intervensi yang dramatis seperti “latihan militer” atau inkarserasi tidak terbukti efektif dan
bahkan dapat memperburuk situasi (Steiner, 2000). Terapi harus disesuaikan dengan usia
perkembangan klien; tidak ada satupun tipe terapi yang cocok untuk segala usia. Program
taman kanak-kanak seperti Head Start menghasilkan angka perilaku jahat dan gangguan
tingkah laku yang lebih rendah melalui pemberian penyuluhan kepada orang tua tentang
pertumbuhan dan perkembangan yang normal, stimulasi untuk anak, dan dukungan orang tua
selama krisis.

Anak, keluarga, dan lingkungan sekolah adalah fokus terapi untuk anak usia sekolah yang
mengalami gangguan tingkah laku. Penyuluhan tentang pengasuhan, pelatihan keterampilan
sosial untuk memperbaiki hubungan dengan teman sebaya, dan upaya memperbaiki
penampilan akademik dan meningkatan kemampuan anak untuk memenuhi permintaan dari
figur yang berwenang termasuk dalam fokus terapi. Terapi keluarga dianggap penting untuk
anak pada kelompok usia ini (Steiner, 2000)

13
Remaja kurang mengandalkan orang tua mereka dan lebih percaya pada teman sebaya
sehingga terapi untuk kelompok usia ini adalah terapi individu. Banyak klien pada kelompok
usia ini mempunyai keterlibatan dengan sistem hukum karena perilaku kriminal, dan sebagai
akibatnya kebebasan mereka mungkin dibatasi. Penggunaan alkohol dan obat-obatan lainnya
memainkan peran yang sangat penting untuk kelompok usia ini dan harus dimasukan dalam
setiap rencana terapi. Pendekatan terapi yang paling menjanjikan adalah menjaga klien
dilingkungannya, dengan keluarga dan terapi individu. Penyelesaian konflik, manajemen
marah, dan mengajarkan keterampilan sosial sering dimasukan dalam rencana terapi.

Obat-obatan tanpa disertai tindakan lain mempunyai sedikit pengaruh, tetapi mungkin
digunakan bersama dengan terapi untuk gejala-gejala yang spesifik. Misalnya, klien yang
mengalami mood yang labil dapat memperoleh manfaat dari litium atau penstabil mood
lainnya, seperti karbamazepin (Tegretol) atau asam valproat (Depakote) (Sheila L. Videbeck,
2008)

2.8 PENYULUHAN KLIEN DAN KELUARGA

Orang tua klien mungkin juga memerlukan bantuan dalam mempelajari keterampilan social,
menyelesaikan maslah, dan berperilaku dengan tepat. Orang tua sering kali mempunyai
masalah sendiri dan mereka mengalami kesulitan dengan klien dalam waktu yang lama
sebelum terapi dilakukan. Pola lama dalam mengasuh, seperti berteriak, memukul, atau
benar-benar mengabaikan perilaku klien, perlu diganti dengan strategi yang lebih efektif.
Perawat dapat mengajarkan orang tua tentang aktivitas dan harapan yang sesuai dengan usia
klien, seperti pengadaan jam malam yang beralasan, tanggung jawab dalam rumah tangga,
dan perilaku yang dpat diterima. Orang tua mungkin perlu mempelajari penetapan batasan
yang efektif dengan konsekuensi ang tepat.

Orang tua sering kali perlu mempelajari cara menampaikan perasaan dan harapan mereka
dengan jelas dan langsung kepada klien. Beberapa orang tua mungkin perlu membiarkan
klien mengalami konsekuensi atas perilakunya, bukan membantu klien. Misalnya, jika klien
ditilang, orang tua seharusnya tidak membayar denda untuk klien. Jika klien menyebabkan
gangguan disekolah dan mendapatkan detensi, orang tua dapat mendukung tindakan guru dari
pada menyalahkan guru atau sekolah atas situasi tersebut. (Sheila L.Videbeck, 2008)

14
2.9 PERTIMBANGAN BUDAYA

Masalah muncul saat anak yang “sulit” mungkin salah ditetapkan sebagai anak yang
mengalami gangguan tingkah laku. Penting untuk mengetahui riwayat dan keadaan klien
untuk membuat diagnosis yang akurat. Di daerah yang mempunyai angka kriminal yang
tinggi, perilaku agresif mungkin sebagai perlindungan dan mungkin tidak menunjukkan suatu
gangguan tingkah laku. Pada imigran dari Negara yang hancur karena perang, perilaku
agresif mungkin menjadi pertahanan, dan mereka tidak boleh didiagnosis dengan gangguan
tingkah laku(DSM-IV-TR,2000).(Sheila L. Videbeck, 2008)

15
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN TINGKAH LAKU

PENGKAJIAN

RIWAYAT
Anak yang mengalami gangguan tingkah laku memiliki riwayat gangguan hubungan
dengan teman sebaya, agresi terhadap orang atau binatang, merusak barang-barang,
kecurangan atau pencurian, dan pelanggaran peraturan yang serius seperti bolos,
melarikan diri dari rumah, dan keluar rumah sepanjang malam tanpa izin. Perilaku
dan masalah yang terjadi mungkin ringan sampai berat.( Sheila L. Videbeck, 2008)

PENAMPILAN UMUM DAN PERILAKU MOTORIK


Penampilan, bicara, dan perilaku motorik klien biasana normal untuk kelompok
seusianya, tetapi dapat sedikit ekstrem (dalam hal tindikan pada tubuh, tato, gaya
rambut, dan cara berpakaian). Klien sering kali membungkuk di kursi dan murung
serta tidak mau diwawancara. Ia dapat mengucapkan kata-kata kotor, menghina
perawat atau dokter, dan mengucapkan kata-kata hinaan tentang orang tua, guru,
polisi, dan figur yang berwenang lainnya. (Sheila L. Videbeck, 2008)

MOOD DAN AFEK


Klien mungkin tenang dan enggan berbicara atau mungkin menunjukan marah atau
bermusuhan secara terang-terangan. Sikap klien mungkin tidak hormat terhadap orang
tua, perawat, atau setiap orang yang dianggap berada pada posisi yang berwenang.
Iritabilitas, frustasi, dan marah-marah biasa terjadi. Klien mungkin tidak mau
menjawab pertanyaan atau bekerjasama saat wawancara, dengan meyakini bahwa ia
tidak membutuhkan bantuan atau terapi. Jika klien mempunai masalah hukum, ia
dapat mengungkapkan perasaan bersalah atau menyesal yang dangkal, tetapi perasaan
tersebut tidak mungkin tulus. (Sheila L. Videbeck, 2008)

PROSES DAN ISI PIKIR


Proses pikir klien biasanya utuh-yakni, ia memiliki kapasitas berpikir logis dan
rasional. Akan tetapi, klien sering kali merasa dunia menjadi agresifdan mengancam
dan klien berespons dengan cara yang sama. Klien mungkin mengalami preokupasi
dengan kewaspadaan untuk dirinya sendiri, dengan berperilaku seolah-olahsetiap

16
orang “berusaha menangkap saya” pikiran atau fantasi tentang kematian atau
kekerasan biasa terjadi.( Sheila L. Videbeck, 2008)

SENSORIUS DAN PROSES INTELEKTUAL


Klien waspada dan terorientasi, memorinya utuh, dan tidak ada perubahan sensori-
persepsi. Kapasitas intelektualna tidak terganggu, tetapi biasana klien mempunyai
nilai yang jelek karena prestasi akademik yang rendah, masalah perilaku disekolah,
atau tidak masuk sekolah, tidak menyelesaikan tugas, dan sebagainya. (Sheila L.
Videbeck, 2008)

PENILAIAN DAN GAYA TILIK


Penilaian dan daya tilik klien terbatas meskipun tahap perkembangan klien
dipertimbangkan. Klien terus-menerus melanggar peraturan tanpa memerhatikan
konsekuensinya. Prilaku mencari tantangan atau perilaku yang berisiko biasa terjadi,
seperti penggunaan obat-obatan atau alkohol, mengemudi ugal-ugalan, aktivitas
seksual, dan aktivitas yang melanggar hokum seperti mencuri. Klien kurang daya
tilik, biasanya dengan menalahkan orang lain atau masarakat atas masalahna; klien
jarang akin bahwa perilakunya menyebabkan kesulitan.(( Sheila L. Videbeck, 2008)

KONSEP DIRI
Harga diri klien rendah meskipun mereka biasana mencoba untuk tampak kuat.
Mereka tidak menilai diri mereka sebagai orang yang nilaina lebih dari orang lain.
Identitas mereka berhubungan dengan jenis perilaku yang mereka tunjukan, seperti
menjadi tenang jika mereka mendapatkan banak pengalaman seksual atau menjadi
penting jika mereka mencuri barang-barang yang mahal atau dikeluarkan dari
sekolah. (Sheila L. Videbeck, 2008)

PERAN DAN HUBUNGAN


Hubungan dengan orang lain terganggu dan bahkan dapat menjadi kekerasan,
terutama dengan mereka yang berwenang. Hal ini mencakup orang tua, guru, polisi,
dan sebagian besar orang dewasa lainnya yang mereka temui. Agresi fisik dan ferbal
biasa terjadi. Saudara kandung mungkin menjadi target ejekan atau agresi klien.
Hubungan dengan teman sebaya terbatas pada orang lain yang menunjukan perilaku
yang sama dengan klien; teman sebaya disekolah dipandang sebagai orang yang
17
dungu atau takut jika mereka mengikuti peraturan. Klien biasanya mendapatkan nilai
ang jelek disekolah atau dikeluarkan dari sekolah atau berhenti sekolah. Klien tidak
mungkin mendapatkan pekerjaan (jika cukup umur) karena ia lebih senang mencuri
apa yang ia butuhkan. Ide klien untuk melaksanakan peran adalah berhenti sekolah,
melanggar peraturan, dan mengambil keuntungan dari orang lain.( Sheila L.
Videbeck, 2008)

PERTIMBANGANFISIOLOGISDANPERAWATANDIRI
klien sering kali berisiko terhadap kehamilan yang tidak direncanakan dan penakit
menular seksual karena perilaku seksual mereka yang dini dan sering. Penggunaan
obat-obatan dan alkohol merupakan risiko tambahan untuk kesehatan. Klien yang
mengalami gangguan tingkah laku terlibat dalam agresi fisik dan perilaku kekerasan,
termasuk penggunaan senjata; hal ini mengakibatkan lebih banyak cedera dan
kematian dari pada orang lain ang seusia dengan klien.( Sheila L. Videbeck, 2008)

ANALISIS DATA DAN PERENCANAAN

Diagnosis keperawatan yang biasanya digunakan untuk klien yang mengalami gangguan
tingkah laku adalah :

 Risiko perilaku kekerasan


 Ketidak patuhan
 Ketidak efektifan koping individu
 Hambatan interaksi sosial
 Gangguan harga diri (Sheila L. Videbeck, 2008)

IDENTIFIKASI HASIL

kriteria hasil untuk klien yang mengalami gangguan tingkah laku adalah;
1. Klien tidak akan melukai orang lain atau merusak barang.
2. Klien akan berpartisipasi dalam terapi.
3. Klien akan mempelajari keterampilan penyelesaian masalah dan
koping yang efektif.
4. Klien akan berinteraksi dengan orang lain dengan menggunakan
perilaku yang sesuai dengan usianya dan dapat diterima.

18
5. Klien akan mengungkapkan pernataan positive tentang dirinya ang
sesuai dengan usianya. (Sheila L. Videbeck, 2008)

INTERVENSI UNTUK GANGGUAN TINGKAH LAKU

 Mengurangi perilaku kekerasan dan meningkatkan kepatuhan terhadap terapi


 Lindungi orang lain dari agresi dan manipulasi klien.
 Tetapkan batasan untuk perilaku yang tidak dapat diterima.
 Lakukan rencana terapi klien dengan konsisten.
 Gunakan kontrak prilaku.
 Lakukan times-out
 Berikan jadwal rutin aktivitas sehari-hari.
 Meningkatkan keterampilan koping dan harga diri
 Tunjukan penerimaan terhadap individu, tidak selalu perilakunya.
 Dorong klien untuk mempunyai buku harian.
 Ajarkan dan latih keterampilan penyelesaian masalah.
 Meningkatkan interaksi social
 Ajarkan keterampilan social ang sesuai dengan usia.
 Berikan model peran dan latih keterampilan social.
 Berikan umpan balik positive untuk perilaku yang dpata diterima.
 Penuluhan klien dan keluarga (Sheila L. Videbeck, 2008)

EVALUASI

Terpai dinilai efektif jika klien berhenti berperilaku agresif atau melanggar hokum, masuk
sekolah, dan mematuhi peraturan dan harapan yang beralasan dirumah. Klien tidak akan
menjadi anak teladan dalam waktu singkat; sebaliknya, ia mungkin membuat cukup
kemajuan denagn beberapa kemunduran selama ini.( Sheila L. Videbeck, 2008)

PERAWATAN BERBASIS MASYARAKAT

Klien yang mengalami gangguan tingkah laku ditemui pada lingkungan perawat akut hanya
ketika perilaku mereka semakin parah, dan stabil hanya dalam waktu singkat. Sebagian besar
kegiatan yang dalam waktu lama terjadi disekolah dan dirumah atau lingkungan masyarakat

19
lainnya. Beberaoa klien tidak ditempatkan dirumah orang tua mereka dalam waktu singkat
atau lama. Group home, halfway house, dan lingkungan terapi residential, dibuat untuk
memberikan lingkungan yang aman dan terstruktur serta pengawasan ang adekuat jika hal
tersebut tidak dapat diberikan di rumah klien. Klien yang mengalami masalah hokum dapat
ditempatkan difasilitas detensi, penjara, atau program pengaliahn penjara.( Sheila L.
Videbeck, 2008)

20
BAB III
PENUTUP
3.3 KESIMPULAN
Gangguan tingkah laku adalah perilaku antisosial yang persisten pada anak dan
remaja yang secara signifikan mengganggu kemampuan mereka untuk melakukan
fungsi di bidang sosial, akademik, atau pekerjaan.(Sheila L. Videbeck. 2008)

Secara umum diterima bahwa kerentanan genetik, kesulitan dilingkungan, dan faktor-
faktor seperti koping yang buruk saling mempengaruhi untuk menyebabkan
gangguan. Faktor risiko mencakup pengasuhan yang buruk, prestasi akademik yang
rendah, hubungan teman sebaya yang buruk, dan harga diri rendah; faktor pelindung
mencakup ketabahan, dukungan keluarga, hubungan teman sebaya yang positif, dan
kesehatan yang baik (Steiner, 2000).

Dua subtipe gangguan tingkah laku didasarkan pada usia saat awitan. Tipe masa
awitan kanak-kanak mencakup gejala-gejala yang teradi sebelum usia 10 tahun,
termasuk agresi fisik terhadap orang lain dan gangguan hubungan teman sebaya.

3.4 SARAN
1. Bagi Institusi Pendidikan
Institus ipendidikan harus menambah lagi referensi – referensi buku tentang
Keperawatan Jiwa II, agar mempermudahkan mahasiswa agar lebih mudah dalam
membuat suatu karya tulis, serta menambah ilmu pengetahuan dan wawasan
para mahasiswa.
2. BagiMahasiswa
Mahasiswa tidak boleh mudah merasa puas dengan mendapatkan ilmu
pengetahuan dan wawasan dari hasil diskusi dan penjelasan dosen saja, selain itu
mahasiswa harus lebih aktif dalam menambah ilmu pengetahuan dan wawasannya
secara mandiri dan tidak hanya pada mata kuliah Keperawatan Jiwa II saja tetapi
mata kuliah lainnya, agar ilmu pengetahuan dan wawasannya lebih luas

21
DAFTAR PUSTAKA

 Behrman Richard E, DKK, 1999, Ilmu Kesehatan AnakNelson Vol I, Jakarta :


EGC
 Sheila L. Videbeck, 2008, Buku Ajar Keprawatan Jiwa, Jakarta : EGC

22
KEGIATAN KELOMPOK

Tgl Jam Nama Anggota Kegiatan Yang Dilakukan


Kelompok
28 08.30- Havipah huzaimah Mencari literatur diperpustakaan
febr13 10.00 Ulfa rohmawati
Moh. Ibnu malik
2 mar 12.00- Havipah huzaimah Mengambil dan menyusun materi asuhan
13 14.00 Ulfa rohmawati keperawatan gangguan tingkah laku dari
Moh. Ibnu malik literatrur
3 mar 10.00- Havipah huzaimah Melanjutkan penyusunan tugas asuhan
13 12.00 Ulfa rohmawati keperawatan gangguan tingkah laku
Moh. Ibnu malik
4 mar 13.00- Havipah huzaimah Melanjutkan penyusunan tugas asuhan
13 14.00 Ulfa rohmawati keperawatan gangguan tingkah laku
Moh. Ibnu malik
5 mar 08.00- Havipah huzaimah Konsultasi I asuhan keperawatan gangguan
13 10.00 Ulfa rohmawati tingkah laku dan merevisi ulang tugas yang
Moh. Ibnu malik kurang benar dalam asuhan keperawatan
gangguan tingkah laku
6 mar 08.00- Havipah huzaimah Konsultasi II asuhan keperawatan gangguan
13 10.00 Ulfa rohmawati tingkah laku
Moh. Ibnu malik

23
GLOSARIUM

 Vandalisme : perbuatan yang merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan
barang berharga lainnya (keindahan alam dsb).
 Agresi : penyerangan terhadap suatu Negara terhadap Negara lain, prasaan marah atau
tindakan kasar akibat kekecewaan atau kegagalan dulu mencapai pemuasan atau
tujuan yang dapat diarahkan kepada orang atau benda
 Incarsrasi : penahanan

24