Anda di halaman 1dari 47

BAB 2

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Konsep Dasar Penyakit

Konsep dasar penyakit akan membahas tentang definisi Skizofrenia,

faktor risiko skizofrenia, etiologi skizofrenia, psikopatologi skizofrenia,

perjalanan klinis skizofrenia, tanda dan gejala skizofrenia, jenis-jenis

skizofrenia, pengertian halusinasi, etiologi halusinasi, jenis-jenis halusinasi,

tahap terjadinya halusinasi, dan penatalaksanaan medis pada skizofrenia.

2.1.1 Definisi Skizofrenia

Menurut Hawari (2009), Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu “Skizo”

yang artinya retak, dan “frenia” yang artinya jiwa. Dengan demikian

Skizofrenia adalah orang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan

kepribadian (splitting of personality). Skizofrenia merupakan gangguan

kejiwaan dan kondisi medis yang mempengaruhi fungsi otak manusia,

memperngaruhi fungsi normal kognitif, mempengaruhi emosional dan

tingkah laku (Depkes RI, 2015)

Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang bersifat kronis ditandai

dengan terdapatnya perpecahan antara pikiran, emosi serta perilaku pasien.

Perpecahan pada pasien digambarkan dengan adanya gejala primer spesifik,

yaitu gangguan pikiran yang ditandai dengan gangguan asosiasi, khususnya

kelonggaran asosiasi. Gejala primer lainnya adalah gangguan afektif,


autisme, dan ambivalensi. Sedangkan gejala sekundernya adalah waham dan

halusinasi (Stuart, 2013 dalam Rahayu, 2016).

2.1.2 Faktor Risiko

Faktor risiko kejadian Skizofrenia menurut Handayani, Febriani, Rahmadani,

dan Saufi (2015) dalam penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Grhasia

Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebagai berikut:

1) Faktor Keturunan

Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya hubungan antara faktor

keturunan dengan kejadian skizofrenia pada pasien rawat inap di RSJ

Grhasia DIY. Di katakan bahwa orang yang memiliki faktor keturunan

berisiko 1,195 kali lebih besar terkena skizofrenia dibandingkan dengan

orang yang tidak memiliki faktor keturunan.

2) Masalah Hubungan Interpersonal

Hasil uji statistik yang dilakukan mengatakan bahwa ada hubungan

antara stresor psikososial dari masalah hubungan interpersonal dengan

kejadian skizofrenia. Orang yang memiliki stresor psikososial dari masalah

hubungan interpersonal berisiko 1,257 kali lebih besar terkena skizofrenia

dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki stresor psikososial dari

masalah hubungan interpersonal.

3) Faktor Keluarga

Orang dengan stresor psikososial dari keluarga berisiko 1,366 kali lebih

besar terkena skizofrenia dibandingkan dengan orang yang tidak dengan

faktor keluarga. Konflik keluarga sangat mempengaruhi perkembangan


psikopatologis anak. Konflik dalam keluarga yang berlarut-larut dapat

mengganggu perkembangan mental seseorang. Menurut Hawari (2014)

dalam Handayani dkk (2015), faktor keluarga merupakan faktor stres yang

dialami oleh anak dan remaja yang disebabkan oleh karena kondisi keluarga

yang tidak baik.

Menurut Halter (2017) faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan

Skizofrenia adalah sebagai berikut:

1) Genetik

Kelainan pada penderita Skizofrenia adalah penyakit yang diturunkan.

80% faktor risiko penyebab Skizofrenia adalah faktor genetik dan

epigenetik (faktor-faktor seperti toksin atau trauma psikologis yang

mempengaruhi gen).

2) Kelaianan Struktur Otak

Kelainan struktural dapat menyebabkan terganggunya komunikasi di

dalam otak. Perbedaan struktural bisa disebabkan oleh kesalahan dalam

perkembangan saraf yang terjadi pada akhir masa remaja dan awal masa

dewasa. Peradangan atau neurotoksik dari faktor-faktor seperti stres

oksidatif, infeksi, atau disfungsi autoimun juga dapat mengubah struktur

otak.

3) Faktor Psikologi dan Lingkungan

Kerentanan genetik, jika di kombinasikan dengan faktor pemicu lain

seperti faktor biologis, kimia dan lingkungan diyakini dapat menimbulkan

skizofrenia.
4) Masalah Kehamilan

Infeksi selama masa kehamilan dapa meningkatkan risiko terkena

penyakit mental pada anak. Faktor lain yang terkait dengan meningkatnya

risiko skizofrenia pada anak adalah bila ayah berumur 35 tahun ke atas saat

terjadi pembuahan, dan bila anak lahir pada akhir musim dingin atau awaal

musim semi.

5) Stres psikologi

Stres meningkatkan jumlah kortisol, menghambat perkembangan

hipotalamus dan menyebabkan perubahan lain yang dapat memicu penyakit

pada individu yang rentan. Stresor sosial, psikologis, dan fisik memegang

peran penting dalam tingkat keparahan, kelainan dan kualitas hidup

seseorang.

Faktor risiko lainnya adalah pelecehan seksual masa kecil yang

berdampak pada kesulitan sosial, migrasi atau tumbuh dalam budaya asing,

dan terpapar trauma psikologis atau kekalahan sosial. Faktor-faktor ini

dapat menyebabkan perubahan struktural di otak melalui perubahan

epigenetik pada genom. Bahkan trauma psikologis pada orang tua atau

kakek-nenek mungkin menyebabkan perubahan epigenetik yang

meningkatkan kerentanan, dan peningkatan risiko ini dapat diwariskan pada

keturunannya.
2.1.3 Etiologi

Menurut Prabowo (2017) belum ditemukan etiologi yang pasti mengenai

skizofrenia. Dibawah ini merupakan beberapa penyebab skizofrenia:

1) Biologi

Tidak ada gangguan fungsional dan struktur yang patognomonik

yang ditemukan pada penderita skizofrenia. Meskipun demikian,

beberapa gangguan oraganik dapat terlihat pada sub populasi pasien.

Gangguan yang paling banyak dijumpai yaitu pelebaran ventrikel 3 dan

lateral yang stabil dan terkadang sudah terlihat sebelum awitan penyakit,

atrofi bilateral lobus temporal medial dan lebih spesifik pada girus

parahipocampus, hipocampus dan amygdala, disorientasi spasial sel

piramid hipocampus dan penurunan volume korteks prefrontal dorso

lateral. Beberapa penelitian melaporkan bahwa semua perubahan ini statis

dan telah dibawa sejak lahir dan beberapa kasus perjalanannya progresif.

Lokasinya menunjukkan gangguan perilaku yang ditemui gangguan

skizofrenia, misalnnya gangguan hipocampus dikaian dengan infermen

negatif skizofenia.

2) Biokimia

Etiologi biokimia belum diketahui. Hipotesis paling banyak yakni

adanya gangguan neurotransmitter sentral di mana terjadi peningkatan

aktivitas dopamin sentral (hipotesis dopamine). Hipotesis ini dibuat

berdasarkan 3 penemuan utama:


(1) Efektifitas obat-obat neuroleptik pada skizofrenia yang bekerja memblok

reseptor dopamine paska sinap.

(2) Terjadinya psikosis akibat penggunaan amfetamin. Amfetamin

melepaskan dopamine sentral. Selain itu amfetamin juga memperburuk

skizofrenia.

(3) Adanya peningkatan jumlah reseptor D2 di nukleus kaudatus, nukleus

akumben, dan putamen pada skizofrenia.

3) Genetika

Skizofrenia mempunyai komponen yang diturunkan secara

bermakna, kompleks dan poligen. Sesuai dengan penelitian hubungan

darah, skizofrenia adalah gangguan yang bersifat familial, semakin dekat

hubungan kekerabatan semakin tinggi risiko terjadinya skizofrenia. Pada

penelitian adopsi, anak yang mempunyai orang tua skizofrenia namun

diadopsi dan diasuh oleh keluarga normal maka peningkatan angka

sakitnya sama dengan bila anak tersebut diasuh sendiri oleh orang tuanya

yang skizofrenia. Frekuensi kejadian gangguan non psikotik meningkat

pada keluarga skizofrenia serta secara genetik dikaitkan dengan gangguan

kepribadian ambang dan skizotipal, gangguan obsesif-kompulsif, dan

kemungkinan dihubungkan dengan gangguan kepribadian paranoid dan

antisosial.

4) Faktor Keluarga

Kekacauan dan dinamika keluarga memegang peranan penting dalam

menimbulkan kekambuhan dan mempertahankan remisi. Pasien yang


pulang ke rumah akan sering kambuh pada tahun berikutnya bila

dibandingkan dengan pasien yang ditempatkan di panti penitipan. Pasien

yang berisiko adalah pasien yang tinggal bersama keluarga yang tidak

harmonis, memperlihatkan kecemasan berlebihan, sangat protektif,

terlalu ikut campur, sangat mengkritik, dan sering tidak dibebaskan oleh

keluarganya. Beberapa peneliti mengidentifikasi suatu cara komunikasi

yang patologis dan aneh pada keluarga-keluarga skizofrenia. Komunikasi

sering samar-samar atau tidak jelas dan sedikit tidak logis.


2.1.4 Psikopatologi Skizofrenia

Psikopatologi Skizofrenia menurut Nurarif dan Kusum (2015):

Gambar 2.1 Psikopatologi Skizofrenia

Gangguan Fungsi

- Fungsi pekerjaan
- Fungsi sosial, atau
- Penderitaan diri

Kepribadian yang
sangat kaku dan sulit
menyesuaikan diri
sepanjang masa
dewasa

YA TIDAK

Riwayat
Gangguan jiwa yang lain penggunaan zat
secara patologik

Gangguan kepribadian Gangguan


penggunaan zat

Aneh/aksentrik Dramatik emosional Kawatir/takut

Gangguan
Gangguan Gangguan kepribadian
kepribadian kepribadian menghindar,
schizoid, histrionic, narsistik, dependen,
skizotipal, ambang dan anti anankastik, dan
paranoid sosial pasif agresif

Risiko gangguan Risiko perilaku Risiko


identitas pribadi kekerasan perlemahan
ketidakefektifan terhadap diri dan martabat
koping orang lain
2.1.5 Perjalanan Klinis Skizofrenia

Kirkpatrick (2005) dalam Prabowo (2016), Perjalanan klinis gangguan

skizofrenia berlangsung secara perlahan-lahan meliputi beberapa fase,

dimulai dengan keadaan premorbid (sebelum sakit), prodormal (awal sakit),

fase aktif, dan keadaan residual (sisa).

1) Fase premorbid

Riwayat premorbid tipikal pada skizofrenia adalah mereka sebelum

sakit memiliki ciri atau gangguan kepribadian tertentu yakni skizoid,

skizotipal, paranoid, dan ambang.

2) Fase prodormal

Fase prodormal adalah tanda dan gejala awal suatu penyakit. Untuk

kepentingan deteksi dini, pemahaman pada fase prodormal menjadi

sangat penting karena dapat memberi kesempatan atau peluang yang

lebih besar untuk mencegah berlarutnya gangguan, disabilitas dan

memberi kemungkinan kesembuhan yang lebih besar jika diberi terapi

yang tepat. Tanda dan gejala prodormal skizofrenia berupa cemas,

depresi, keluhan somatik, perubahan perilaku dan timbulnya minat baru

yang tidak lazim. Gejala prodormal tersebut dapat berlangsung beberapa

bulan atau beberapa tahun sebelum diagnosis pasti skizofrenia

ditegakkan. Keluhan kecemasan dapat berupa perasaan khawatir, was-

was, tidak berani sendiri, takut keluar rumah, dan merasa di teror.

Keluhan somatik dapat berupa nyeri kepala, nyeri punggung, kelemahan

dan gangguan pencernaan. Perubahan minat, kebiasaan dan perilaku


dapat berupa pasien mengembangkan gagasan abstrak, filsafat dan

keagamaan. Munculnya gejala prodormal ini dapat terjadi dengan atau

tanpa pencetus, misalnya trauma emosi, frustasi karena permintaannya

tidak terpenuhi, penyalahgunaan zat, berpisah dengan orang yang dicintai.

3) Fase aktif

Fase aktif skizofrenia ditandai dengan gangguan jiwa yang nyata

secara klinis yakni kekacauan alam pikir, perasaan dan perilaku. Penilaian

pasien terhadap realita mulai terganggu dan pemahaman dirinya buruk

atau bahkan tidak ada. Pada pasien ini diagnosis skizofrenia dapat

ditegakkan, biasanya terdapat waham, halusinasi, serta gangguan alam

pikiran, perasaan dan perilaku.

4) Fase residual

Pada fase residual ditandai dengan menghilangnya beberapa gejala

klinis skizofrenia, hanya tersisa beberapa gejala sisa, misalnya berupa

penarikan diri, perilaku aneh, afek tumpul afek datar, merasa mampu

meramal, ide atau gagasan aneh, tidak masuk akal.

2.1.6 Tanda dan Gejala Skizofrenia

Menurut Keltner dan Steele (2015), perilaku obyektif dan subyektif pada

penderita skizofrenia adalah sebagai berikut.

1) Data obyektif

(1) Perubahan dalam hubungan pribadi meliputi; penurunan perhatian

pada penampilan dan fasilitas sosial terkait introspeksi dan autisme,


komunikasi yang tidak memadai atau tidak tepat, permusuhan, dan

penarikan diri dari lingkungan.

(2) Perubahan aktivitas, meliputi; kekakuan katatonik, echopraxia

(gerakan berulang), stereotypy (pengulangan kata-kata)

2) Data subyektif

(1) Perubahan persepsi; halusinasi, ilusi, paranoid

(2) Perubahan berfikir; autisme, pemblokiran, asosiasi longgar, delusi,

kemiskinan kata, sifat bisu

(3) Perubahan kesadaran; bingung, inkoheren. (Keltner & Steele, 2015)

Durand dan Barlow (2008) membagi gejala skizofrenia dalam 3 kategori

1) Gejala positif

Delusi atau disorder of thought countent adalah keyakinan yang oleh

kebanyakan orang dianggap sebagai misinterpretasi terhadap realitas.

Delusi pernah disebut sebagai “the basic characteristic of madness” atau

ciri dasar kegilaan. Media sering menggambarkan penderita skizofrenia

sebagai orang-orang yang percaya bahwa dirinya adalah orang terkenal

atau orang penting (misalnya merasa dirinya Napoleon atau Yesus

Kristus). Delusi mungkin merupakan maksud yang disengaja oleh

penderita skizofrenia untuk mengatasi keresahan akibat terjadinya

perubahan dalam diri mereka.

Halusinasi merupakan pengalaman kejadian sensorik tanpa input dari

lingkungan sekitar. Bagi penderita skizofrenia, persepsi tersebut tampak

benar-benar nyata dan terjadi secara teratur. Penelitian di London dengan


melakukan teknik brain-imaging dengan menggunakan single photon

emission computed tomography (SPECT) untuk mempelajari aliran darah

serebral pada penderita skizofrenia dan mereka menyimpulkan, orang-

orang yang mengalami halusinasi tidak mendengar suara-suara orang lain

tetapi mendengar pikiran atau suaranya sendiri dan tidak dapat mengenali

perbedaannya.

2) Gejala-gejala negatif

Gejala-gejala negatif biasanya menunjukkan ketiadaan atau tidak

mencukupinya perilaku normal. Gejala-gejala ini termasuk menarik diri

secara emosional maupun sosial, apatis, miskin pembicaraan atau

pemikiran.

(1) Avolisi. Avolisi berarti ketidakmampuan untuk memulai atau

mempertahankan berbagai macam kegiatan. Penderita gejala ini

menunjukkan minat yang rendah untuk melakukan sesuatu, bahkan

fungsi-fungsi dasar sehari-hari, termasuk kesehatan pribadi.

(2) Alogi. Alogia mengacu pada relatif ketiadaan pembicaraan. Orang

dengan alogia mungkin merespon pertanyaan dengan jawaban-

jawaban pendek yang isinya terbatas dan mungkin tampak tidak

tertarik untuk bercakap-cakap.

(3) Anhedonia. Adalah ketiadaan perasaan senang yang dialami oleh

sebagian penderita skizofrenia.

(4) Pendataran afek. Kira-kira seperempat penderita skizofrenia

memperlihatkan apa yang disebut afek datar. Mereka seperti orang


yang mengenakan topeng karena tidak memperlihatkan emosi pada

saat mereka mestinya memperlihatkannya.

2.1.7 Jenis-jenis Skizofrenia

Maramis (2009) membagi skizofrenia menjadi beberapa jenis. Penderita

digolongkan kedalam salah satu jenis menurut gejala utama yang terdapat padanya.

Akan tetapi batas-batas golongan-golongan ini tidak jelas, gejala-gejala dapat

berganti-ganti atau mungkin seorang penderita tidak dapat digolongkan kedalam

satu jenis. Pembagiannya adalah sebagai berikut:

1) Skizofrenia Paranoid

Jenis skizofrenia ini sering mulai sesudah mulai 30 tahun. Pada

mulanya sub akut, tetapi mungkin juga akut. Kepribadian penderita

sebelum sakit sering dapat digolongkan schizoid. Mereka mudah

tersinggung, suka menyendiri, agak congkak dan kurang percaya pada orang

lain. Gejala-gejala yang mencolok adalah waham primer, disertai dengan

waham-waham sekunder dan halusinasi. Pada pemeriksaan ternyata ada

juga gangguan proses berpikir, gangguan afek, emosi, dan kemauan.

2) Skizofrenia Hebefrenik

Permulaanya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa

remaja atau antara 15 – 25 tahun. Gejala yang mencolok adalah gangguan

proses berpikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi atau

kepribadian ganda. Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme

atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada skizofrenia

heberfrenik, waham dan halusinasinya banyak sekali.


3) Skizofrenia Katatonik

Timbulnya pertama kali antara usia 15 sampai 30 tahun, dan biasanya

akut serta sering didahului oleh stres emosional. Mungkin terjadi gaduh

gelisah katatonik atau stupor katatonik. Gejala yang penting adalah gejala

psikomotor seperti:

(1) Mutisme, kadang-kadang dengan mata tertutup, muka tanpa mimik,

seperti topeng, stupor penderita tidak bergerak sama sekali untuk waktu

yang sangat lama, beberapa hari, bahkan kadang-kadang beberapa

bulan.

(2) Bila diganti posisinya penderita menentang

(3) Makanan ditolak, air ludah tidak ditelan sehingga terkumpul di dalam

mulut dan meleleh keluar, air seni dan feses ditahan.

(4) Terdapat grimas dan katalepsi

4) Skizofrenia Simplex

Sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada jenis

simplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan

proses berpikir biasanya sukar ditemukan. Waham dan halusinasi jarang

sekali ditemukan.

5) Skizofrenia Residual

Jenis ini adalah keadaan kronis dari skizofrenia dengan riwayat

sedikitnya satu episode psikotik yang jelas dan gejala-gejala berkembang ke

arah gejala negatif yang lebih menonjol. Gejala negatif terdiri dari

kelambatan psikomotor, penurunan aktivitas, penumpukan afek, pasif dan


tidak ada inisiatif, kemiskinan pembicaraan, ekspresi nonverbal yang

menurun, serta buruknya perawatan diri dan fungsi sosial.

2.1.8 Pengertian Halusinasi

Menurut Stuart dan Laraia (2009) dalam Nurhalimah (2016) halusinasi

merupakan suatu tanggapan dari panca indera tanpa adanya rangsangan

(stimulus) eksternal. Halusinasi adalah gangguan persepsi dimana pasien

mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi.

Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa di mana klien

mengalami perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa

suara, penglihatan, pengecapan, perabaan atau penghiduan. Klien merasakan

stimulus yang sebetulnya tidak ada (Damaiyanti, 2008).

Halusinasi adalah persepsi yang tanpa dijumpai adanya rangsangan dari

luar. Walaupun tampak sebagai sesuatu “khayal”, halusinasi sebenarnya

merupakan bagian dari kehidupan mental penderita yang “teresepsi” (Yosep,

2010).

2.1.9 Etiologi Halusinasi

Faktor penyebab yang mendukung terjadinya halusinasi diantaranya

adalah:

1) Faktor predisposisi menurut Muhith (2011) dalam Cahyaningkrum (2016)

Faktor predisposisi adalah faktor yang memperngaruhi jenis dan jumlah

sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stres.

Faktor-faktor ini diperoleh baik dari klien maupun keluarganya, mengenai


faktor perkembangan sosial kultural, biokimia, psikologis, dan genetik

yaitu faktor risiko yang memperngaruhi henis dan jumlah sumber yang

dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stres. Beberapa faktor

predisposisi yang berkontribusi pada munculnya respon neurobiologi

seperti pada halusinasi antara lain:

(1) Faktor genetik: Tidak diketahui bahwa genetik skizofrenia diturunkan

melalui kromosom-kromosom tertentu. Namun demikian, kromosom

yang keberapa menjadi faktor penentu gangguan ini sampai sekarang

masih dalam tahap peneliatian.

(2) Faktor perkembangan: Jika tugas perkembangan mengalami

hambatan dan hubungan interpersonal terganggu, maka individu akan

mengalami stres dan kecemasan.

(3) Faktor neurobiologi: Ditemukan bahwa kortex pre frontal dan kortex

limbic pada klien dengan skizofrenia tidak pernah berkembang penuh.

Ditemukan juga pada klien skizofrenia terjadi penurunan volume dan

fungsi otak yang abnormal.

(4) Faktor neurotransmiter: Skizofrenia diduga juga disebabkan oleh

adanya ketidakseimbangan neurotransmiter serta dopamine

berlebihan, tidak seimbang dengan kadar serotinin.

(5) Faktor biokimia: Faktor ini mempunyai pengaruh besar terhadap

gangguan jiwa. Dengan adanya stres yang berlebihan yang dialami

seseorang, maka tubuh akan menghasilkan suatu zat yang dapat


bersifat halusiogenik neurokimia seperti Buffofenon dan

Dimetytranferase.

(6) Teori virus: Paparan virus influenza pada trimester ke-3 kehamilan

dapat menjadi faktor predisposisi skizofrenia.

(7) Psikologis: Beberapa kondisi psikologis yang menjadi faktor

predisposisi skizofrenia, antara lain anak yang diperlakukan oleh ibu

yangh pencemas, terlalu melindungi, dingin dan tidak berperasaan,

sementara ayah yang mengambil jarak dengan anaknya.

(8) Faktor sosiokultural: Berbagai faktor di masyarakat dapat

menyebabkan seorang merasa disingkirkan oleh kesepian terhadap

lingkungan tempat klien dibesarkan.

2) Faktor presipitasi

Faktor presipitasi yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu

sebagai tantangan, ancaman, atau tuntutan yang memerlukan energi

ekstra untuk menghadapinya. Adanya rangsangan dari lingkungan, dan

juga suasana sepi atau terisolasi sering menjadi pencetus terjadinya

halusinasi. Hal tersebut dapat meningkatkan stres dan kecemasan yang

merangsang tubuh mengeluarkan zat halusinogenik.

2.1.10 Jenis-jenis Halusinasi

Yusuf, Fitryasari dan Nuhayati (2014) mengklasifikasikan halusinasi ke

dalam 5 jenis, yaitu:


Tabel 2.1 Jenis-jenis Halusinasi

Jenis
Data Obyektif Data Subyektif
Halusinasi
Halusinasi  Bicara atau tertawa  Mendengar suara-suara
Pendengaran sendiri. atau kegaduhan.
 Marah marah tanpa sebab.  Mendengar suara yang
 Mengarahkan telinga ke mengajak bercakap-cakap
arah tertentu.  Mendengar suara
 Menutup telinga. menyuruh melakukan
sesuatu yang berbahaya
Halusinasi  Menunjuk-nunjuk ke arah  Melihat bayangan, sinar,
penglihatan tertentu. bentuk geometris, bentuk
 Ketakutan pada sesuatu kartun, melihat hantu, atau
yang tidak jelas. monster.
Halusinasi  Mencium seperti sedang  Membaui bau-bauan
penciuman membaui bau-bauan seperti bau darah, urine,
tertentu. feses, dan kadang-kadang
 Menutup hidung. bau itu menyenangkan.
Halusinasi  Sering meludah  Merasakan rasa seperti
pengecapan  Muntah darah, urine, atau feses.
Halusinasi  Menggaruk-garuk  Mengatakan ada serangga
perabaan permukaan kulit. di permukaan kulit.
 Merasa seperti tersengat
listrik

2.1.11 Tahapan Terjadinya Halusinasi

Menurut Nurhalimah (2016) dan Yosep (2016) Halusinasi yang dialami

pasien memiliki tahapan sebagai berikut:


1) Tahap 1 Sleep Disorder: Fase awal seseorang sebelum muncul halusinasi.

Tingkat ansietas pasien sedang. Pada tahap ini halusinasi secara umum

menyenangkan.

Karakteristik: Tahap ini ditandai dengan adanya perasaan bersalah dalam

diri pasien dan timbul perasaan takut. Pada tahap ini, pasien mencoba

menenangkan pikiran untuk mengurangi ansietas. Individu mengetahui

bahwa pikiran dan sensori yang dialaminya dapat dikendalikan dan bisa

diatasi (non psikotik). Klien menganggap lamunan-lamunan awal tersebut

sebagai pemecah masalah.

Perilaku yang Teramati:

(1) Menyeringai/ tertawa yang tidak sesuai

(2) Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara

(3) Respon verbal yang lambat

(4) Diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikan.

2) Tahap II Comforting Moderate level of anxiety: Halusinasi secara umum

diterima sebagai sesuatu yang alami. Pasien mengalami ansietas tingkat

berat dan halusinasi bersifat menjijikkan untuk pasien.

Karakteristik: Pengalaman sensori yang dialami pasien bersifat

menjijikkan dan menakutkan, pasien yang mengalami halusinasi mulai

merasa kehilangan kendali, pasien berusaha untuk menjauhkan dirinya

dari sumber yang dipersepsikan, pasien merasa malu karena pengalaman

sensorinya dan menarik diri dari orang lain (non psikotik).

Perilaku yang teramati:


(1) Peningkatan kerja susunan saraf otonom yang menunjukkan

timbulnya ansietas seperti peningkatan nadi, tekanan darah dan

pernafasan.

(2) Kemampuan konsentrasi menyempit.

(3) Dipenuhi dengan pengalaman sensori, mungkin kehilangan

kemampuan untuk membedakan antara halusinasi dan realita.

3) Tahap III Condemning Severe level of anxiety: Secara umum halusiansi

sering mendatangi klien. Pada tahap ini, halusinasi mulai mengendalikan

perilaku pasien, pasien berada pada tingkat ansietas berat. Pengalaman

sensori menjadi menguasai pasien.

Karakteristik: Pasien yang berhalusinasi pada tahap ini menyerah untuk

melawan pengalaman halusinasi dan membiarkan halusinasi menguasai

dirinya. Isi halusinasi dapat berupa permohonan, individu mungkin

mengalami kesepian jika pengalaman tersebut berakhir (Psikotik)

Perilaku yang teramati:

(1) Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh

halusinasinya daripada menolak.

(2) Kesulitan berhubungan dengan orang lain.

(3) Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik, gejala fisik

dari ansietas berat seperti: berkeringat, tremor, ketidakmampuan

mengikuti petunjuk.

4) Tahap IV Controlling Severe level of anxiety: Fungsi sensori menjadi

tidak relevan dengan kenyataan. Halusinasi pada saat ini, sudah sangat
menaklukkan dan tingkat ansietas berada pada tingkat panik. Secara

umum halusinasi menjadi lebih rumit dan saling terkait dengan delusi.

Dari sinilah dimulai fase gangguan Psychotic.

Karakteristik: Pengalaman sensori menakutkan jika individu tidak

mengikuti perintah halusinasinya. Halusinasi bisa berlangsung dalam

beberapa jam atau hari apabila tidak diintervensi (psikotik).

Perilaku yang teramati:

(1) Perilaku menyerang – teror seperti panik.

(2) Sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang

lain.

(3) Amuk, agitasi dan menarik diri.

(4) Tidak mampu berespon terhadap petunjuka yang komplek.

(5) Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang.

5) Tahap V Conquering Panic level of anxiety: Klien mengalami gangguan

dalam menilai lingkungannya. Pengalaman sensorinya terganggu, klien

mulai merasa terancam dengan datangnya suara-suara terutama bila klien

tidak dapat menuruti ancaman atau perintah yang ia dengar dari

halusinasinya. Halusinasi dapat berlangsung selama minimal 4 jam atau

seharian bila klien tidak mendapatkan komunikasi terapeutik.

2.1.12 Penatalaksanaan Secara Medis

Nurarif dan Kusuma (2015) menyatakan bahwa ada 5 jenis

penatalaksanaan untuk penderita skizofrenia:


1) Pengunaan Obat Antipsikosis

Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati skizofrenia disebut

antipsikotik. Antipsikotik bekerja mengontrol halusinasi, delusi dan

perubahan pola pikir yang terjadi pada skizofrenia. Klien mungkin dapat

mencoba beberapa jenis antipsikotik sebelum mendapatkan obat atau

kombinasi obat antipsikotik yang benar-benar cocok bagi klien. Terdapat

3 kategori obat antipsikotik yang dikenal saat ini, yaitu:

(1) Antipsikotik konvensional

Obat antipsikotik yang paling lama penggunaannya disebut

antipsikotik konvensional. Walaupun sangat efektif, antipsikotik

konvensional sering menimbulkan efek samping yang serius. Contoh

obat antipsikotik konvensional antara lain; Haldol (Haloperidol),

Stelazine (Trifluoperazin), Mellaril (Thioridazine), Thorazine

(Chlorpromazine), Trilafon (Perphenazine), dan Prolixin

(Fluphenazine). Akibat berbagai efek samping yang dapat

ditimbulkan oleh antipsikotik konvensional, banyak ahli lebih

merekomendasikan penggunaan newer atypical antipsycotic. Ada 2

pengecualian (harus dengan antipsikotik konvensional). Pertama,

pada pasien yang sudah mengalami perbaikan (kemajuan) yang pesat

menggunakan antipsikotik konvensional tanpa efek samping yang

berarti. Kedua, bila pasien mengalami kesuliatan minum pil secara

reguler.
(2) Newer atypical antipsycotics

Obat-obat yang tergolong kelompok ini disebut atipikal karena

prinsip kerjanya berbeda, serta sedikit menimbulkan efek samping

bila kerjanya berbeda, serta sedikit menimbulkan efek samping bila

dibandingkan dengan anstipsikotik konvensional. Beberapa contoh

newer atypical antipsycotic yang tersedia, antara lain: Rispedal

(Risperidone), Seroquel (Quetiapine), dan Zyprexa (Olanzopine).

(3) Clozaril (Clozapine)

Clozaril memiliki efek samping yang jarang tapi sungguh serius

dimana pada kesus-kasus yang jarang (1%), Clozaril dapat

menurunkan jumlah sel darah putih karena berguna untuk melawan

infeksi. Ini artinya, pasien yang mendapat Clozaril harus

memeriksakan kadar sel darah putihnya secara reguler. Para ahli

merekomendasikan penggunaan Clozaril bila paling sedikit 2 dari

obat antipsikotik yang lebih amna tidak berhasil.

2) Terapi Elektrokonvulsif (ECT)

3) Pembedahan bagian otak

4) Perawatan di Rumah Sakit

5) Psikoterapi

(1) Terapi Psikoanalisa

Terapi psikoanalisa adalah metode terapi berdasarkan konsep Freud.

Tujuan psikoanalisis adalah menyadarkan individu akan konflik yang

tidak disadarinya dan mekanisme pertahanan yang digunakannya


untuk mengendalikan kecemasannya. Hal yang paling penting pada

terapi ini adalah untuk mengatasi hal-hal yang di-repress oleh

penderita.

(2) Terapi Perilaku (Behavioristik)

Pada dasarnya, terap perilaku menekankan prinsip pengkondisian

klasik dan operan, karena terapi ini berkaitan dengan perilaku nyata.

Para terapist mencoba menentukan stimulus yang mengawali respon

malasuai dan kondisi lingkungan yang menguatkan atau

mempertahankan perilaku itu dalam masyarakat. Paul dan Lentz

menggunakan dua bentuk program psikososial untuk meningkatkan

fungsi kemandirian; Social Learning Program yang menolong

penderita skizofrenia untuk mempelajari perilaku-perilaku yang

sesuai, dan Social Skills Training yang melatih penderita mengenai

ketrampilan atau keahlian sosial.

(3) Terapi Humanistik

Yang termasuk di dalam jenis terapi ini adalah terapi kelompok dan

terapi keluarga.

2.2 Proses Keperawatan

Standar praktek profesional di Indonesia telah dijabarkan oleh PPNI.

Standar praktek profesional tersebut juga mengacu pada proses keperawatan

jiwa terdiri dari lima tahap standar yaitu: Pengkajian, Diagnosis,


Perencanaan, Pelaksanaan (Implementasi), dan Evaluasi (PPNI, 2009 dalam

Asuhan keperawatan jiwa, 2014)

2.2.1 Pengkajian

Pengkajian keperawatan merupakan aspek penting dalam proses

keperawatan yang bertujuan untuk menetapkan data dasar tentang tingkat

kesehatan klien yang digunakan untuk merumuskan masalah klien dan

rencana tindakan. PPNI (2009) menyatakan bahwa pengumpulan data

dilakukan dengan cara wawancara, obeservasi, pemeriksaan fisik dan

mempelajari data penunjang (hasil pemeriksaan laboratorium dan uji

diagnostik, serta mempelajari catatan lain). Sumber data adalah klien,

keluarga atau orang terdekat, tim kesehatan serta catatan lain. Klien

berpartisipasi dalam proses pengumpulan data. Data yang dikumpulkan,

difokuskan untuk mengidentifikasi: Status kesehatan saat ini, status kesehatan

masa lalu, status biologis (fisiologis), status psikologi (pola koping), status

sosiokultural, status spiritual, respon terhadap terapi, harapan terhadap

tingkat kesehatan yang optimal, dan respon masalah potensial.

Menurut Damaiyanti dan Iskandar (2012) petunjuk untuk melakukan

pengkajian adalah sebagai berikut:

1) Identitas

Isilah nama, alamat, status pernikahan, usia, pekerjaan, pendidikan

terakhir, nomor rekam medis dan ruang perawatan klien.


2) Alasan masuk

Tanyakan kepada klien atau keluarga, apa yang menyebabkan klien

atau keluarga datang ke rumah sakit ini? Apa yang sudah dilakukan oleh

keluarga untuk mengatasi masalah ini? Bagaimana hasilnya?

3) Faktor predisposisi

Tanyakan kepada klien atau keluarga apakah klien pernah mengalami

gangguan jiwa di masa lalu. Apabila jawabannya “ya” maka tanyakan

bagaimana hasil pengobatan sebelumnya, apabila dia dapat beradaptasi di

masyarakat tanpa gejala-gejala gangguan jiwa maka lingkari “berhasil”,

apabila dia dapat beradaptasi tapi masih ada gejala-gejala sisa maka

lingkari “kurang berhasil”, apabila tidak ada kemajuan atau gejala-gejala

bertambah atau menetap maka lingkari “tidak berhasil”.

Tanyakan pada klien apakah klien pernah melakukan dan atau

mengalami dan atau menyaksikan penganiayaan fisik, seksual, penolakan

dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan kriminal. Tandai

sesuai dengan jawaban klien.

Tanyakan kepada klien/keluarga apakah ada anggota keluarga

lainnya yang mengalami gangguan jiwa. Bila jawabannya “ya” tanyakan

apa gejala yang dialami serta riwayat pengobatan dan perawatan yang

pernah dberikan pada anggota keluarga tersebut.

Tanyakan pada klien/keluarga tentang pengalaman yang tidak

menyenangkan (kegagalan, kehilangan/perpisahan/kematian, trauma

selama tumbuh kembang) yang pernah dialami klien di masa lalu.


4) Fisik

Pengkajian fisik difokuskan pada sistem dan fungsi organ. Ukur TTV,

tinggi badan dan berat badan. Tanyakan apakah ada keluhan fisik yang

dirasakan klien. Kaji lebih lanjut sesuai keluhan yang ada.

5) Psikososial

(1) Genogram: Buatlah genogram minimal 3 generasi. Jelaskan masalah

yang terkait dengan komunikasi, pengambilan keputusan dan pola

asuh.

(2) Gambaran diri: Tanyakan persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian

tubuh yang disukai dan tidak disukai.

(3) Identitas diri: Tanyakan tentang status dan posisi klien sebelum

dirawat, kepuasan klien terhadap status dan posisinya (sekolah,

tempat kerja, kelompok), dan kepuasan klien sebagai laki-

laki/permpuan.

(4) Peran: Tanyakan tugas/peran yang diemban dalam

keluarga/kelompok/masyarakat, tanyakan juga kemampuan klien

dalam melaksanakan tugas/peran tersebut.

(5) Ideal diri: Tanyakan harapan klien terhadap tubuh, posisi, status,

tugas/peran, harapan klien terhadap lingkungan (keluarga, sekolah,

tempat kerja, masyarakat), harapan klien terhadap penyakitnya.

(6) Harga diri: Tanyakan hubungan klien dengan orang lain, penilaian/

penghargaan orang lain terhadap diri dan kehidupannya.


(7) Hubungan sosial: Tanyakan pada klien siapa orang yang berarti dalam

kehidupannya, tempat mengadu, tempat bicara, minta bantuan atau

sokongan. Tanyakan pada klien kelompok apa saja yang diikuti dalam

masyarakat. Tanyakan pada klien sejauh mana ia terlibat dalam

kelompok di masyarakat.

(8) Spiritual: Tanyakan pandangan dan keyakinan, terhadap gangguan

jiwa sesuai dengan norma budaya dan agama yang dianut. Tanyakan

pandangan masyarakat setempat tentang gangguan jiwa. Tanyakan

tentang kegiatan ibadah dirumah secara individu maupun kelompok,

serta endapat klien/keluarga tentang kegiatan ibadah .

6) Status Mental

(1) Penampilan: Penggunaan pakaian tidak sesuai misalnya pakaian

dalam dipakai diluar baju. Cara berpakaian tidak seperti biasanya jika

penggunaan pakaian tidak tepat (waktu, tempat, identitas,

situasi/kondisi). Penampilan yang tidak rapih misalnya; rambut acak-

acakan, kancing baju tidak tepat, resleting tidak dikunci, baju terbaik,

baju tidak di kancing, baju tidak diganti-ganti.

(2) Pembicaraan: Amati pembicaraan yang ditemukan pada klien, apakah

cepat, keras, gagap, membisu, apatis dan atau lambat. Jelaskan hal-hal

yang tidak tercantum.

(3) Aktivitas motorik: Data ini didapat melalui hasil observasi

perawat/keluarga. (lesu, tegang, gelisah, tik: gerakan-gerakan kecil

pada otot muka yang tidak terkontrol; grimasen: gerakan otot muka
yang berubah-ubah yang tidak dapat dikontrol klien; tremor: jari-jari

yang tampak gemetar ketika klien menjulurkan tangan; kompulsif:

kegiatan yang dilakukan berulang-ulang. Jelaskan aktivitas yang

ditampilkan klien dan kondisi lain yang tidak tercantum.

(4) Alam perasaan: Data ini didapatkan melalui observasi

perawat/keluarga. Sedih, putus asa, gembira, ketakutan, khawatir,

jelaskan kondisi klien yang tidak tercantum. Masalah keperawatan

ditulis sesuai data.

(5) Afek: Lakukan observasi untuk mendapatkan data ini. Datar: tidak ada

perubahan roman muka; tumpul: hanya bereaksi apabila ada stimulus

emosi yang kuat; labil: emosi yang cepat berubah-ubah; tidak sesuai:

emosi yang tidak sesuai atau bertentangan dengan stimulus yang ada.

Jelaskan hal-hal yang tidak tercantum, catat masalah keperawatan.

(6) Interaksi selama wawancara: Data ini didapat melalui hasil

wawancara. Bermusuhan, tidak kooperatif, mudah tersinggung,

kontak mata kurang, defensif: selalu mempertahankan pendapat dan

kebenaran dirinya; curiga. Jelaskan hal-hal yang tidak tercantum.

(7) Persepsi: Jenis-jenis halusinasi, jelaskan isi, frekuensi gejala yang

tampak pada saat klien berhalusinasi.

(8) Proses pikir: Data ini diperoleh dari observasi dan saat wawancara.

Sirkumstansial: pembicaraan yang berbelit-belit tapi sampai ke tujuan

pembicaraan; tangensial: pembicaraan yang berbeli-belit dan tidak

sampai ke tujuan; kehilangan asosiasi: pembicaraan tak ada hubungan


antara satu kalimat dengan kalimat lainnya, dan klien tidak

menyadarinya; flight of ideas: pembicaraan yang meloncat dari satu

topik ke topik lainnya; bloking: pembicaraan terhenti tiba-tiba tanpa

gangguan eksternal kemudian dilanjutkan kembali; perseverasi:

pembicaraan yang di ulang berkali-kali. jelaskan apa yang dikatakan

oleh klien saat wawancara, catat masalah keperawatan sesuai data.

(9) Isi pikir: Data yang di dapat melalui wawancara. Obsesi: pikiran yang

selalu muncul walaupun klien berusaha menghilangkannya; fobia:

ketakutan yang patologis/tidak logis terhadap objek/situasi tertentu;

hipokondria: keyakinan terhadap adanya gangguan organ dalam tubuh

yang sebenarnya tidak ada; depersonalisasi: perasaan klien yang asing

terhadap diri sendiri, orang atau lingkungan; pikiran magis: keyakinan

klien tentang kemampuannya melakukan hal-hal yang mustahil.

(10) Waham: Data di dapat berdasarkan hasil observasi dan wawancara.

Agama: keyakinan klien terhadap suatu agama secara berlebihan;

somatik: klien mempunyai keyakinan tentang tubuhnya; kebesaran:

klien mempunyai keyakinan yang berlebihan terhadap

kemampuannya yang disampaikan secara berulang-ulang; curiga:

klien mempunyai keyakinan bahwa ada seseorang atau kelompok

yang berusaha merugikan atau mencurigai dirinya; nihilistik: klien

yakin bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/meninggal. Waham

yang bizar: sisip pikir, klien yakin ada ide pikiran orang lain yang

disisipkan di dalam pikirannya. Siar pikir, klien yakin bahwa orang


lain mengetahui apa yang dia pikirkan walaupun dia tidak menyatakan

kepada orang tersebut. Kontrol pikir: klien yakin pikirannya dikontrol

oleh kekuatan dari luar.

(11) Tingkat kesadaran: Data tentang diperoleh melalui wawancara dan

observasi. Bingung, sedasi: mengatakan merasa melayang-layang

antara sadar atau tidak sadar. Stupor: gangguan motorik seperti

kekakuan, gerakan-gerakan yang diulang. Orientasi waktu, tempat,

dan orang. Jelaskan data obyektif dan subyektif yang terkait.

(12) Memori: Data di dapat melalui wawancara. Gangguan daya ingat

jangka panjang, gangguan daya ingat jangka pendek, gangguan daya

ingat saat ini, konfabulasi: pembicaraan tidak sesuai dengan

kenyataan dan klien memasukkan cerita yang tidak benar untuk

menutupi gangguan daya ingatnya.

(13) Tingkat konsentrasi dan berhitung: Data diperoleh melalui

wawancara. Mudah dialihkan, tidak mampu berkonsentrasi, tidak

mampu berhitung.

(14) Kemampuan penilaian: Gangguan kemampuan penilaian ringan,

dapat mengambil keputusan yang sederhan dengan bantuan orang

lain. Gangguan kemampuan penilaian bermakna, tidak mampu

mengambil keputusan walaupun dibantu orang lain.

(15) Daya tilik diri: Data diperoleh melalui wawancara. Klien

mengingkari penyakit yang diderita, atau menyalahkan hal-hal di luar

dirinya. Jelaskan dengan data terkait.


7) Kebutuhan Persiapan Pulang

(1) Makan: Observasi dan tanyakan tentang frekuensi, jumlah, variasi,

dan cara makan.

(2) BAB/BAK: Observasi kemampuan klien, pergi dan menggunakan

WC, membersihkan diri dan merapikan pakaian.

(3) Mandi: Observasi dan tanyakan tentang frekuensi, cara mandi,

menyikat gigi, cuci rambut, gunting kuku, mencukur, serta observasi

kebersihan tubuh dan bau badan.

(4) Berpakaian: Observasi kemampuan klien dalam mengambil, memilih

dan mengenakan pakaian dan alas kaki.

(5) Istirahat dan tidur: Observasi dan tanyakan tentang lama dan waktu

tidur siang/tidur malam, ersiapan sebelum tidur seperti menyikat gigi,

cuci kaki, dan berdoa, kegiatan sesudah tidur seperti merapikan

tempat tidur, mandi/cuci muka dan menyikat gigi.

(6) Penggunaan obat: Observasi dan tanyakan kepada klien dan keluarga

tentang penggunaan obat, frekuensi, jenis, dosis, waktu dan cara, serta

reaksi obat.

(7) Kegiatan di dalam rumah: Tanyakan kemampuan klien dalam

merencanakan, mengolah dan menyajikan makanan, merapikan

rumah, mencuci pakaian sendiri, mengatur kebutuhan biaya sehari-

hari.
(8) Kegiatan di luar rumah: Tanyakan kemampuan klien saat belanja

untuk keperluan sehari-hari, melakukan perjalanan secara mandiri,

kegiatan lain yang dilakukan klien diluar rumah seperti bayar listrik,

pergi ke kantor pos ataupun bank.

8) Mekanisme Koping

Data di dapat melalui wawancara pada klien atau keluarganya. Beri tanda

sesuai koping yang dimiliki klien, baik adaptif maupun maladaptif.

9) Masalah Psikososial dan Lingkungan

Data di dapat melalui wawancara pada klien dan keluarga. Beri uraian

spesifik, singkat dan jelas.

10) Pengetahuan

Data di dapat melalui wawancara pada klien. Pada tiap item yang dimiliki

oleh klien, simpulkan dalam masalah.

11) Aspek Medik

Tuliskan diagnosa medik klien yang telah dirumuskan oleh dokter yang

merawat. Tuliskan obat-obatan klien saat ini, baik obat fisik,

psikofarmaka dan terapi lain.

12) Analisa Data

13) Masalah Keperawatan

Data didapatkan sesuai dengan hasil pengkajian yang sudah

dikelompokkan dianalisa data.

Pada akhir pengkajian, tulis tempat dan tanggal pengkajian serta tanda

tngan dan nama jelas perawat.


Nurhalimah (2016) menuliskan beberapa pertanyaan yang dapat

ditanyakan kepada klien halusinasi pada saat melakukan wawancara.

1) Dari pengamatan saya sejak tadi, Bapak/Ibu tampak bercakap-cakap sendiri

apa yang sedang Bapak/Ibu lihat/dengar?

2) Apakah Bapak/Ibu melihat bayangan-bayangan yg menakutkan?

3) Apakah Bapak/Ibu mencium bau tertentu yang menjijikkan?

4) Apakah Bapak/Ibu merasakan sesuatu yang menjalar di tubuh?

5) Apakah Bapak/Ibu merasakan sesuatu yang menjijikkan dan tidak

mengenakkan?

6) Seberapa sering Bapak/Ibu mendengar suara atau melihat bayangan?

7) Kapan Bapak/Ibu mendengar suara atau melihat bayangan?

8) Bagaimana perasaan Bapak/Ibu saat mendengar suara atau melihat

bayangan?

Muhith (2015) menyatakan bahwa pengkajian pada klien halusinasi difokuskan

pada:

1) Faktor psikologis: Klien biasanya mudah kecewa, mudah putus asa,

kecemasan tinggi, ideal diri tinggi, harga diri tidak jelas, krisis peran,

gambaran diri negatif, dan koping dekstruktif

2) Faktor biologis: Adanya kejadian terhadap fisik, berupa atrofi otak,

pembesaran ventrikel, perubahan besar, dan bentuk perubahan sel korteks

dan limbik.

3) Faktor sosial budaya: Isolasi sosial pada usia lanjut, cacat, sakit kronis,

tuntutan lingkungan yang terlalu tinggi.


4) Faktor genetik: Adanya pengeruh herediter berupa anggota keluarga

terdahulu yang mengalami gannguan bipolar monozigot.

5) Perilaku: Perilaku yang sering tampak pada klien halusinasi antara lain:

bibir komat-kamit, tertawa sendiri, bicara sendiri, kapala mengangguk-

angguk seperti mendengar sesuatu, tiba-tiba menutup telinga, gelisah,

bergerak seperti mengambil atau membuang sesuatu, tiba-tiba marah dan

menyerang, duduk terpaku, memandang ke satu arah, menarik diri.

6) Fisik: Nutrisi tidak adekuat bila halusinasi memerintahkan tidak makan,

tidur terganggu karena ketakutan, kurang kebersihan diri atau tidak mandi,

tidak mampu berpartisipasi dalam kegiatan aktifitas fisik, agitasi, kegiatan

ganjil.

7) Fungsi sistem tubuh: Perubahan berat badan, hipertermia, neurogical

perubahan mood, disorientasi, ketidakefektifan endokrin oleh peningkatan

temperatur.

8) Status emosi: Afek tidak sesuai, perasaan bersalah atau malu, sikap negatif

dan bermusuhan, kecemasan berat atau panik, suka berkelahi.

9) Status intelektual: Gangguan persepsii, pendengaran, penglihatan,

penciuman, perabaan dan kecap, isi pikir tidak realistis, tidak logis, dan

sukar diikuti atau kaku, kurang motivasi, koping regresi, denial dan sedikit

bicara.

10) Status sosial: Putus asa, menurunnya kualitas kehidupan, ketidakmampuan

mengatasi stres dan kecemasan.


2.2.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah interpretasi ilmiah dari data pengkajian yang

digunakan untuk mengarahkan perencanaan, implementasi, dan evaluasi

keperawatan. Landasan untuk pemberian asuhan keperawatan kesehatan jiwa

adalah pengenalan dan pengidentifikasian pola respon terhadap masalah kesehatan

jiwa atau penyakit psikiatri yang aktual atau potensial.

Ada tiga tipe diagnosa keperawatan, sebagai berikut:

1) Diagnosa keperawatan aktual yaitu respon klien terhadap masalah

kesehatan atau proses kehidupan yang didukung oleh sekelompok

karakteristik/tanda dan gejala.

2) Diagnosa keperawatan risiko yaitu klien yang dapat timbul dan

ditunjang oleh faktor risiko yang memberikan kontribusi untuk

terjadinya diagnosa keperawatan tersebut apabila tidak diantispasi.

3) Diagnosa keperawatan kesejahteraan yaitu respon klien terhadap tingkat

kesehatan yang mempunyai potensi terhadap peningkatan derajat

kesehatan yang lebih tinggi dasar pikiran ilmiah mendasari diagnose

keperawatan. (Damaiyanti & Iskandar, 2012)

Menurut Yosep (2016) diagnosa yang sering muncul pada klien halusinasi

adalah:

1) Risiko tinggi perilaku kekerasan

2) Perubahan persepsi sensori

3) Isolasi sosial

4) Harga diri rendah kronis


2.2.3 Perencanaan Keperawatan

Perawat membuat rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah

kesehatan dan meningkatkan kesehatan lain (PPNI, 2009 dalam Muhith, 2014).

Rencana tindakan keperawatan terdiri dari: Tujuan umum, tujuan khusus dan

rencana tindakan keperawatan. Perencanaan menggambarkan tindakan yang

akan dilakukan. (Putri, Rahayuningsih, & Erwina, 2013).

Rencana asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan perseps sensori:

halusinasi pendengaran dapat dilihat pada tabel 2.3.


Tabel 2.3 Rencana Asuhan Keperawatan

Nama Klien: Tn. E Usia: 25 tahun Ruang: Perkutut No.RM: 064102

Tgl Diagnosa Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional Implementasi Evaluasi


22/ Gangguan Setelah Ekspresi wajah - Bina hubungan saling -Hubungan saling @08.00 SP 1 @12.30
11/ persepsi dilakukan bersahabat, percaya dengan percaya -Memperkenalkan S:
17 sensori: asuhan menunjukkan rasa mengungkapkan prinsip merupakan dasar diri pada klien dan -Klien
halusinasi keperawata senang, ada kontak komunikasi terapeutik; untuk kelancaran membina hubungan mengatakan
pendengaran selama minimal mata, mau berjabat sapa klien dengan ramah hubungan saling percaya senang
satu kali tangan, mau baik verbal maupun interaksi dengan klien. berkenalan
pertemuan, menyebutkan nama, nonverbal, perkenalkan selanjutnya. -membuat kontrak dengan perawat.
diharapkan SP1 mau menjawab salam, diri dengan sopan, dengan klien untuk -Klien
tercapai, klien klien mau duduk tanyakan nama lengkap berbincang-bincang mengatakan
dapat membina berdampingan dengan klien dan nama dan mengenal “Saya suka
hubungan saling perawat, mau panggilan yang disukai halusinasinya mendengar suara
percaya mengutarakan masalah klien, jelaskan tujuan bisikan seseorang,
yang dihadapi. pertemuan, jujur dan tapi saya tidak
menepati janji, mengenali suara
tunjukkan sikap empati itu, Suara-suara
dan menerima klien apa itu muncul
adanya, berii perhatian kadang-kadang 2
pada klien dan kali dalam 1 hari
perhatikan kebutuhan biasanya muncul
dasar klien. kalau saya lagi
menyendiri dan
melamun, lama
suara itu ± 7
menit
Lanjutan Tabel 2.3 Rencana Asuhan Keperawatan

Tgl Diagnosa Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional Implementasi Evaluasi


Setelah - Klien dapat - Adakan kontak sering - Kontak sering @09.00 saya merasa cemas
dilakukan menyebutkan waktu, dan singkat secara tapi singkat dan takut kalau
asuhan isi, frekuensi bertahap. selain membina suara-suara itu “
keperawatan timbulnya hubungan saling -Klien mengatakan
minimal satu halusinasi. percaya, juga bersedia
kali pertemuan, - Klien dapat dapat memasukan cara
diharapkan SP1 mengungkapkan memutuskan yang telah dilatih
tercapai: Klien perasaan terhadap halusinasi. kedalam jadwal
dapat mengenal halusinasi. - Bantu klien mengenali - Mengenal -Mengidentifikasi harian.
halusinasinya. halusinasinya; halusinasi halusinasi yang O:
memungkinkan dialami klien -klien kooperatif
klien untuk (jenis, isi, saat diajak
menghindarkan frekuensi, waktu, interaksi.
faktor pencetus situasi, dan -Klien mau
timbulnya respon). membina hubungan
halusinasi. saling percaya
dengan penulis.
-Kontak mata
klien ada saat
interaksi.
Lanjutan Tabel 2.3 Rencana Asuhan Keperawatan

Tgl Diagnosa Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional Implementasi Evaluasi


Setelah Klien mampu - Latih mengontrol Memberi -Melatih klien cara -Klien mau
dilakukan memperagakan halusinasi dengan cara kesempatan pada mengontrol halusinasi menjawab
asuhan cara mengontrol menghardik: klien agar dengan cara yang pertanyaan.
keperawatan halusinasi a. Jelaskan cara mengetahui cara pertama yaitu -Klien mau
selama satu kali menghardik. menghardik. menghardik halusinasi. menceritakan
pertemuan, b. Peragakan cara -Memberikan masalahnya .
diharapkan SP1 menghardik. kesempatan kepada -Klien mau
tercapai: c. Minta klien klien untuk melakukan memperhatikan
-Klien dapat memperagakan cara yang sudah cara menghardik
mengontrol kembali. diajarkan. yang diajarkan dan
halusinasi -Melakukan Evaluasi mau
dengan cara -evaluasi perasaan klien -untuk mengetahui terhadap perasaan klien mempraktekkannya
menghardik. setelah latihan perasaan klien setelah latihan dengan benar.
-Klien dapat mengontrol halusinasi mengontrol halusinasi A:
memasukkan dengan cara menghardik dengan cara -hubungan saling
cara menghardik menghardik. percaya tercipta
halusinasi dalam -masukkan latihan -agar klien dapat -Memasukan latihan -SP 1 tercapai
jadwal kegiatan menghardik halusinasi latihan teratur menghardik halusinasi P:
hariannya. dalam jadwal kegiatan dalam mengontrol dalam jadwal kegiatan -Motivasi klien untuk
harian klien. halusinasi harian klien. melakukan
menghardik
halusinasi jika suara-
suara itu datang lagi
-lanjutkan ke SP 2
Lanjutan Tabel 2.3 Rencana Asuhan Keperawatan

Setelah dilakukan - Klien dapat - Evaluasi SP1 - Mengetahui cara klien @08.00 @11.30
asuhan memperagakan dalam menjalankan - Mengevaluasi cara S:
keperawatan cara bercakap- SP1 mengontrol halusinasi -Klien mengatakan
dengan cara pertama perasaanya hari ini
selama satu kali cakap dengan
yang sudah diajarkan senang bertemu lagi
pertemuan, orang lain dan mengevaluasi jadwal dengan penulis.
diharapkan SP 2 kegiatan harian klien. -Klien mengatakan
tercapai: Klien - Latih bercakap- - Agar klien -Melatih klien “Saya masih suka
dapat cakap dengan orang mengetahui cara mengontrol halusinasi mendengar suara bisikan
mengendalikan lain saat halusinasi mengendali kan dengan cara yang kedua itu kalau habis makan
halusinasi dengan muncul. halusinasi yang yaitu bercakap-cakap siang, waktu saya lagi
bersama orang lain. baring-baring di tempat
bercakap-cakap kedua.
tidur.
dengan orang -Klien mengatakan
lain. kalau kemarin sudah
Klien dapat - Beri pujian atas - Meningkatkan -memberi pujian atas diajarkan bagaimana
memasukkan keberhasilan klien. percaya diri keberhasilan klien cara untuk menghardik
kegiatan - Tanyakan perasaan - Mengetahui perasaan -menanyakan perasaan halusinasi.
bercakap-cakap klien setelah klien -Klien mengatakan
klien
setelah menghardik
kedalam jadwal bercakap-cakap,
suara-suara yang
harian. apakah halusinasinya didengarnya itu hilang.
berkurang? -Klien mengatakan mau
- masukkan kedalam - agar klien dapat diajari cara mengontrol
jadwal harian latihan teratur halusinasi dengan men
emui orang lain untuk
Lanjutan Tabel 2.3 Rencana Asuhan Keperawatan
Setelah - Klien mampu - Evaluasi SP1 dan SP2. Mengetahui @08.00
dilakukan menyebutkan kegiatan kemajuan klien - Mengevaluasi
asuhan yang sudah di dalam melakukan SP cara mengontrol
keperawatan lakukan. 1 dan 2. halusinasi dengan
selama satu - Klien mampu cara pertama dan
kali mengontrol halusinasi kedua yang sudah
pertemuan, dengan melakukan diajarkan serta
diharapkan aktivitas yang biasa di mengevaluasi
SP5 tercapai: lakukan di rumah. jadwal kegiatan
Klien mampu harian klien.
mengontrol - Diskusikan dengan - Melibatkan klien -Melatih klien
halusinasi klien tentang kegiatan dalam melakukan mengontrol
dengan yang biasa di lakukan, aktivitasnya halusinasi dengan
melakukan jelaskan pentingnya cara yang ketiga
aktivitas yang aktivitas yang teratur yaitu dengan
biasa di untuk mengatasi melakukan aktifitas
lakukan di halusinasi. terjadwal yang
rumah. biasa dilakukan.
- Tanyakan bagaimana - Mengetahui -menanyakan
perasaan klien setelah perasan dan perasaan klien
melakukan kegiatan perkembangan
harian. Apakah klien.
halusinasinya
berkurang?
- Masukkan SP 3  Agar klien dapat - Memasukkan SP 3
kedalam jadwal harian berlatih secara kedalam jadwal
teratur harian
Lanjutan Tabel 2.3 Rencana Asuhan Keperawatan

Tgl Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional Implementasi Evaluasi


Setelah dilakukan Klien dapat - Mengevaluasi SP - Mengetahui @08.00 -
asuhan keperawatan menyebutkan 1,2, 3 kemajuan klien - Mengevaluasi cara
selama satu kali manfaat, dosis, dan dalam melaksanakan mengontrol halusinasi
pertemuan, SP 4 efek samping obat. SP 1,2 dan 3 dengan cara pertama, kedua
tercapai: Klien mampu Klien dapat - Mengajarkan - Mengetahui manfaat dan ketiga yang sudah
mengontrol halusinasi, mendemonstrasikan pendidikan dan jenis obat yang diajarkan serta mengevaluasi
dan mengikuti program penggunaan obat kesehatan dikonsumsi. jadwal kegiatan harian klien.
pengobatan secara secara benar. menggunakan obat
optimal. secara teratur (jenis -Mengajarkan klien
obat yang mengontrol halusinasi
diminum, nama dengan mengikuti
obat, warna, waktu pengobatan secara optimal
minum obat, dan tepat
prinsip 5 benar). - Mengetahui akibat
minum obat tidak -Memberitahu klien tentang
- Menjelaskan teratur. manfaat minum obat
tentang akibat -Mengajarkan kepada klien
minum obat yang - Meningkatkan prinsip 5 benar penggunaan
tidak teratur. pengetahuan klien obat (benar
tentang kepatuhan
- Memasukan dalam minum obat sesuai
jadwal harian. jadwal
2.2.4 Implementasi Keperawatan

Tindakan keperawatan merupakan standar dari standar asuhan yang

berhubungan dengan aktivitas keperawatan profesional yang dilakukan oleh

perawat, di mana implementasi dilakukan pada pasien, keluarga dan komunitas

berdasarkan rencana keperawatan yang dibuat (Damaiyanti dan Iskandar,

2012).

Nurhalima (2016) Saat melakukan pelayanan kesehatan, perawat harus

menemui keluarga terlebih dahulu sebelum menemui klien Bersama keluarga,

perawat mengidentifikasi masalah yang dialami klien dan keluarga.

Tindakan keperawatan untuk pasien gangguan persepsi sensori halusinasi,

yaitu:

1) Membina hubungan saling percaya

(1) Mengucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan pasien

(2) Berkenalan dengan klien: perkenalkan nama dan nama panggilan yang

perawat sukai, serta tanyakan nama dan nama panggilan yang disukai

klien.

(3) Menanyakan perasaan dan keluhan klien saat ini.

(4) Buat kontrak asuhan apa yang perawat akan lakukan bersama klien,

berapa lam akan dikerjakan, dan tempat pelaksanaan asuhan

keperawatan.

(5) Jelaskan bahwa perawat akan merahasiakan informasi yang diperoleh

untuk kepentingan terapi.


(6) Setiap saat, tunjukkan sikap empati terhadap klien.

(7) Penuhi kebutuhan dasar klien bila memungkinkan

2) Mengenal halusinasi

(1) Tanyakan pendapat klien tentang halusinasi yang dialaminya: tanpa

mendukung, dan menyangkal halusinasinya.

(2) Mengidentifikasi isi, frekuensi, waktu terjadinya, situasi pencetus,

perasaan, respon, dan upaya yang sudah dilakukan klien untuk

menghilangkan atau mengontrol halusinasi.

3) Mengontrol halusinasi dengan menghardik, enam benar minum obat,

bercakap-cakap, dan dengan melakukan aktifitas sehari-hari

(1) Jelaskan cara mengontrol halusinasi dengan menghardik, ajarkan 6

benar minum obat, bercakap-cakap dan melakukan kegiatan dirumah

seperti membereskan kamar, merapihkan tempat tidur serta mencuci

baju.

(2) Berikan contoh cara menghardik, ajarkan 6 benar minum obat,

bercakap-cakap dan melakukan kegiatan dirumah seperti membereskan

kamar, merapihkan tempat tidur serta mencuci baju.

(3) Berikan kesempatan klien mempraktekkan cara menghardik, ajarkan 6

benar minum obat, bercakap-cakap dan melakukan kegiatan dirumah

seperti membereskan kamar, merapihkan tempat tidur serta mencuci

baju yang dilakukan di hadapan perawat.

(4) Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan oleh

klien.
(5) Siap mendengarkan ekspresi perasaan pasien setelah melakukan

tindakan keperawatan untuk mengontrol halusinasi. Mungkin pasien

akan mengungkapkan keberhasilan atau kegagalannya. Beri dorongan

terus menerus agar klien tetap semangat meningkatkan latihannya.

2.2.5 Evaluasi Keperawatan

Menurut Damaiyanti dan Iskandar (2012) Perawat kesehatan jiwa

mengevaluasi perkembangan klien dalam mencapai hasil yang diharapkan asuhan

keperawatan adalah proses dinamik yang melibatkan perubahan dalam status

kesehatan klien sepanjang waktu, pemicu kebutuhan terhadap data baru, berbagai

diagnosa keperawatan, dan modifikasi rencana asuhan keperawatan, dan modifikasi

rencana asuhan sesuai dengan kondisi klien.

Semua tindakan keperawatan yang telah dilakukan oleh perawat

didokumentasikan dalam format implementasi dan dievaluasi dengan

menggunakan pendekatan subyektif, obyektif, analisis, dan perencanaan (SOAP).

Klien dan keluarga berperan serta dalam mengevaluasi proses keperawatan.

1) Kriteria Proses

(1) Mencari keabsahan, saran, dan informasi baru yang up to date

(2) Mengevaluasi hasil observasi, penilikan, dan data bersama dengan

teman sejawat

(3) Mencatat hasil evaluasi asuhan keperawatan


2) Kriteria Hasil

(1) Kemampuan klien secara afektif, kognitif, dan psikomotor dicatat untuk

mengetahui kemajuan secara individu dan kemampuan klien dalam

mendapatkan dukungan dari keluarga.

(2) Respons keluarga terhadap tindakan keperawatan dicatat untuk

memastikan kembali kebutuhan keluarga akan pengetahuan, sikap, dan

perawatan klien baik selama dirawat maupun setelah di rumah.

(3) Rencana dan kegiatan keperawatan diperbaiki sesuai dengan hasil

evaluasi yang diperoleh.

(4) Hasil evaluasi dicatat untuk meningkatkan dan memperkaya teori dan

wawasan keperawatan kesehatan jiwa.