Anda di halaman 1dari 7

PENGARUH PERBEDAAN SUHU DAN WAKTU PENGERINGAN

TERHADAP KARAKTERISTIK IKAN BAGE LEMURU (Sardinella


Lemuru) DENGAN MENGGUNAKAN OVEN

PROPOSAL SKRIPSI

OLEH:
NAHARDIANSYAH
14.01.042.016

TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS TEKNOLOGI SUMBAWA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak
dikonsumsi masyarakat, mudah didapat, dan harganya murah. Namun ikan cepat
mengalami proses pembusukan dan penurunan mutu dikarenakan daging ikan
mempunyai kadar air yang tinggi, pH netral, teksturnya lunak, dan kandungan
gizinya tinggi sehingga menjadi medium yang sangat baik untuk pertumbuhan
bakteri.
Salah satu komoditas perikanan yang bernilai cukup tinggi serta digemari
oleh konsumen rumah tangga adalah ikan lemuru (sardinella lemuru). Ikan
lemuru merupakan ikan konsumsi dan juga sebagai sumber protein. Selain dijual
dalam keadaan segar di pasar, ikan sepat siam juga diawetkan dalam bentuk ikan
bage dan diperdagangkan di Sumbawa.
Daerah penyebaran ikan lemuru banyak ditemukan di timur Samudera
Hindia dan di barat Samudera Pasifik , di daerah yang membentang dari selatan
Jepang menuju Kepulauan Indonesia sampai ke barat Australia. Di perairan
Indonesia ikan ini banyak terdapat di perairan Selat Bali dan juga dapat ditemui di
perairan Sumbawa.
Pada saat musim timur, hasil tangkapan ikan lemuru akan melimpah dan
terjadi kelebihan produksi karena tidak mendapatkan penanganan sebagaimana
mestinya sehingga mengalami kerusakan dan pembusukan. Salah satu alternatif
yang dapat dilakukan untuk mengatasi masa lah ini adalah mengolah ikan lemuru
menjadi ikan bage. Pembuatan ikan bage merupakan yang paling sederhana. Ikan
bage merupakan produk ikan yang cukup mudah dalam pembuatannya. Jeroan
dan sisik ikan dibuang, kemudian dijemur atau dikeringkan dengan alat pengering.

Menurut Alim (2004), proses pengeringan ikan dapat dilakukan dengan


penjemuran di bawah sinar matahari atau dengan oven. Pengeringan dengan
menggunakan oven memiliki keuntungan yaitu suhu dan waktu pemanasan dapat
diatur. Dengan oven buatan sendiri, ikan asin dapat diproduksi dengan kapasitas
yang lebih banyak. Pengeringan menggunakan panas matahari selain biaya murah,
juga mempunyai daya tampung yang besar. Akan tetapi cara ini sangat tergantung
pada cuaca dan suhu pengeringan tidak dapat diatur.

Panas akan mudah diserap oleh ikan pada proses pengeringan, hal ini akan
mempengaruhi kualitas ikan bage kering yang dihasilkan. Kualitas ikan kering
juga akan bergantung pada hasil uji proksimat (kadar air, abu, protein, lemak, dan
karbohidrat) dan uji organoleptik (warna, tekstur, aroma dan rasa). Oleh karena itu
dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh perbedaan suhu dan waktu
pengeringan terhadap karakteristik ikan bage dengan menggunakan oven.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana cara mengetahui pengaruh perbedaan suhu dan waktu
pengeringan terhadap karakteristik ikan bage lemuru (sardinella lemuru) dengan
menggunakan oven.

1.3 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan suhu dan
waktu pengeringan terhadap karakteristik ikan bage lemuru (sardinella lemuru)
dengan menggunakan oven.

1.4 Hipotesis
Diduga dengan perlakuan perbedaan suhu dan waktu pengeringan akan
berpengaruh nyata terhadap karakteristik ikan bage lemuru yang dihasilkan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Taksonomi dan Morfologi Ikan Lemuru


2.1.1 Taksonomi

Saanin (1984) mengklasifikasikan ikan lemuru sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Pisces

Sub kelas : Teleostei

Ordo : Malacopterygii

Famili : Clupeidae

Sub famili : Clupeinae

Sub genus : Sardinella

Spesies : S. longiceps, S. lemuru, S. neglecta

Gambar 1. sardinella lemuru

Gambar 2. sardinella longiceps


Gambar 3. sardinella neglecta

2.1.2 Morfologi

S. Longiceps seperti lemuru tidak memiliki dorsal spines dan anal spine,
jumlah dorsal soft rays sama 13-21 dan anal soft rays yang sama 12-23. Terdapat
bintik keemasan di belakang bukaan insang dan warna keemasan pada garis
lateral. Hal yang membedakannya dengan S. neglecta dan S. Lemuru adalah gill
rakers yang lebih lebih rendah dan kepala yang lebih panjang.

S. Lemuru tidak memiliki dorsal spines, memiliki dorsal soft rays


sebanyak 13-21, tidak memiliki anal spines, memiliki anal soft rays sebanyaj 12-
23. Terdapat titik keemasan pada bukaan insang dan warna keemasan pada garis
lateral. Terdapat bintik hitam pada bagian belakang penutup insang. Tubuhnya
memanjang dan sub silindris. Ciri yang membedakannya dengan clupeids lainnya
yang berada di timur perairan Samudera Hindia dan di barat Samudera Pasifik
adalah pelvic fin ray yang berjumlah 8. (Fishbase.org)

S. neglecta memilki anatomi yang sama dengan S. lemuru dan S. longiceps


yang mana tidak memiliki dorsal spines dan anal spines, dan memiliki jumlah
dorsal soft rays (13-21) dan anal soft rays (12-23) yang sama dengan S. lemuru
dan S. longiceps. S. neglecta sangat mirip dengan S. longiceps tetapi kepalanya
lebih pendek dan gill rakers lebih rendah dan lebih sedikit/. (Fishabase.org)

Weber dan de Beafort (1965) yang diacu oleh Damarjati (2001),


menyebutkan lemuru mempunyai rumus sirip punggung D.16-18, sirip dubur
A.13-16, sirip dada P.15-16, dan sirip perut V.8-9. Tipe sisik lemuru adalah
sikloid, sisik garis rusuk L1.45 dan sisik melintang Ltr.12-13. Bentuk tubuh
memanjang, cembung dan memundar pada bagian perut. Panjang badan 4-41/2
diameter mata. Sub operkulum membentuk segi empat dengan bagian bawah
melengkung. Sirip punggung lebih dekat ke ekor daripada ke moncong,
permulaan sirip depan perut berada di belakang pertengahan sirip punggung.

Gigi tumbuh pada langit-langit mulut sambungan tulang rahang bawah dan
lidah. Tapis insang di bagian belakang mata berjumlah 120 lembar, lebarnya
kurang dari setengah tinggi operkulum. Sisik-sisiknya lembut dan bertumpuk
tidak teratur, jumlah sisik di depan sirip punggung 13-15. Scute atau sisik duri
terdapat di depan sirip perut 18 dan 14 lainnya di belakang sirip perut. Lemuru
berwarna biru kehijauan pada bagian punggung dan putih keperakan pada bagian
lambung, serta mempunyai sirip-sirip transparan. Panjang tubuh dapat mencapai
23 cm, tetapi pada umumnya hanya 10-15 cm (Chan, 1965 yang diacu oleh
Damarjati, 2001).

2.2 Habitat dan Penyebaran Ikan lemuru

Lemuru tersebar di Lautan India bagian timur yaitu Phikat, Thailand, di


pantai-pantai Selatan Jawa dan Bali, Australia di sebelah barat dan Lautan Pasifik
sebelah barat (Laut Jawa ke utara sampai dengan Filipina, Hongkong, Taiwan
sampai dengan Jepan bagian selatan) (Whitehead, 1985 yang dicu oleh
Hosniyanto, 2003). Penyebaran S. longiceps, adalah suatu spesies yang paling
dekat dengan ikan lemuru terdapat di Lautan India (hanya di bagian utara dan
barat saja, Teluk Aden, Teluk Oman (tetapi tidak ada di Laut Merah), ke arah
timur di bagian selatan India, di pantai timur Andhra mungkin hingga ke
Andaman), sedangkan S. neglecta hanya terdapat di Lautan India sebelah barat
(pantai-pantai Kenya dan Tazmania).

Di Indonesia selain di Perairan Selat Bali dan sekitarnya, lemuru juga


terdapat di selatan Ternate, Selat Madura, Selat Sunda dan Teluk Jakarta. Pada
waktu-waktu tetentu juga tertangkap di Laut Jawa di luar pantai Jawa Tengah
(Soedjodinoto, 1960 yang diacu oleh Hosniyanto, 2003).
Ikan lemuru tinggal di daerah laut dekat pesisir, bersifat pelagis dan hidup
dalam populasi yang besar. Ikan lemuru memangsa fitoplankton, zooplankton
(terutama copepod). Pemijahan di perairan Bali terjadi pada akhir musim hujan,
migrasi menuju Selat Bali terjadi pada bulan September sampai Februari dan
mencapai puncaknya pada bulan Desember dan Januari, namun lokasi pemijahan
belum diketahui. Pemijahan dan migrasi besar-besaran dipengaruhi oleh kondisi
hidrologis terutama temperatur perairan. Pemijahan di Laut Tiongkok Timur
mencapai puncaknya pada akhir bulan Maret sampai Mei dan berlanjut sampai
Agustus (Whitehead, 1985).

Ditinjau dari segi lingkungan, di perairan Selat Bali terjadi proses


penaikan air pada Musim Timur, sehingga perairan ini menjadi kaya akan bahan
makanan yang sangat dibutuhkan oleh ikan-ikan lemuru. Jenis ikan lemuru ini
biasanya mendiami daerah-daerah dimana terjadi proses penaikan air, sehingga
dapat mencapai biomassa yang tinggi. Oleh karena itu, ikan lemuru tergantung
sekali kepada perubahan-perubahan lingkungan peraira (Wudianto, 2001).