Anda di halaman 1dari 12

Jurnal Kesehatan Tadulako Vol. 3 No.

2, Juli 2017 : 1-75

PERBANDINGAN EFEK ANTARA DEXMEDETOMIDIN DOSIS 0.25


MCG/KGBB DAN 0.5 MCG/KGBB INTRAVENA TERHADAP
DURASI BLOK ANESTESI SPINAL PADA
BEDAH EKTREMITAS BAWAH

Fahruddin, Imtihanah Amri*, Wahyudi

Bagian Anestesiologi, Perawatan Intensif dan Manajemen Nyeri, Fakultas Kedokteran


Universitas Hasanuddin, Makassar
Email: imtihanahamri@gmail.com

ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai perbadingan efek pemberian dexmedetomidin dosis 0.25
mcg/kgBB dan 0.5 mcg/kgBB secara inravena terhadap durasi blok sensorik, blok motorik dan kejadian
efek samping pada pasien yang menjalani bedah ekstremitas bawah dengan anestesi spinal. Penelitian ini
menggunakan metode eksperimental, dimana 40 pasien dewasa dengan kategori PS ASA I/II yang
direncanakan untuk menjalani bedah elektif pada ektremitas bawah dengan anestesi spinal secara acak
dibagi dalam dua kelompok. Setiap kelompok mendapatkan anestesi spinal dengan Bupivacain hiperbarik
0,5% 2,5 mL. kelompok D0,25 mandapatkan dexmedetomidin 0,25 mcg/kgBB dan kelompok D0,5
mendapatkan dexmedetomidine 0,5 mcg/kgBB yang diberikan intravena selama 10 menit, 30 menit setelah
anestesi spinal dilakukan. Waktu regresi 2 segmen, waktu regresi blok motorik dan angka kejadian efek
samping kemudian dicatat. Hasil menunjukkan durasi blok sensorik pada kelompok D0,5 lebih panjang
secara signfikan (145,90 ± 7,18) dibandingkan kelompok D0,25 (125,95 ± 6,93) (P = 0,000). Durasi blok
motorik pada kelompok D 0,5 lebih panjang secara signfikan (151,70 ± 12,63) dibandingkan dengan
kelompok D0,25 (141,85 ± 6,23) (P = 0,003). Tidak ada perbedaan angka kejadian efek samping pada
kedua kelompok ( P = 0,134). Pemberian dexmedetomidin dosis 0,5 mcg/kgBB intravena memperpanjang
durasi baik blok sensorik dan motorik dibandingkan dosis to 0,25 mcg/kgBB tanpa adanya perbedaan
kejadian efek samping.

Kata kunci: bupivacain, dexmedetomidin, anestesi spinal

ABSTRACT
The purpose of this study is to evaluate comparative effect of intravenous dexmedetomidine 0,25 mcg.kg-
1 and 0,5 mcg.kg-1 on duration of sensory, motor block and side effect of spinal anesthesia in patient
undergoing surgical procedure on the lower extremities. In this experimental study 40 adult patient ASA
I/II scheduled for elective surgical procedures on the lower extremities under spinal anesthesia were
randomized in two groups. Each patient received 0.5% hyperbaric bupivacaine 2.5 ml intrathecal spinal
anesthesia. The D0,25 group received dexmedetomidine 0,25 mcg.kg-1 and D0,5 group received
dexmedetomidine 0,5 mcg.kg-1 intravenously over 10 mins after 30 minutes of intrathecal spinal
anesthesia. The time of sensory regression of two segment and motor regression were recorded. Incident
of side effect were also recorded. The result showed that the duration of sensory blockade in D0,5 group
was significantly longer (145,90 ± 7,18) compared to D0,25 group (125,95 ± 6,93) (P = 0,000). Duration
of motor blockade in D0,5 group was significantly longer (151,70 ± 12,63) campared to D0,25 group
(141,85 ± 6,23) (P = 0,003). There was no significant difference in incidence of side effect between two
group ( P = 0,134). Intravenous dexmedetomidine 0,5 mcg.kg-1 prolong both sensory and motor blockade
compare to 0,25 mcg.kg-1 with similar side effects.

Key words: bupivacain, dexmedetomidine, spinal anesthesia

Healthy Tadulako Journal (Fahruddin, Imtihanah A., Wahyudi : 9-20) 9


Jurnal Kesehatan Tadulako Vol. 3 No. 2, Juli 2017 : 1-75

PENDAHULUAN α2 adrenergik, antagonis reseptor N-


Anestesi spinal merupakan salah methyl-D-aspartate (NMDA), agonis
satu teknik anestesi regional yang paling reseptor kolinergik, dan penghambat
sering digunakan terutama untuk asetilkolinesterase. Penggunaan opioid
prosedur bedah pada daerah abdomen serta obat lain sebagai adjuvan sering
bawah serta ekstremitas bagian bawah. kali menimbulkan efek samping yang
Banyak keuntungan yang diperoleh dari tidak diinginkan terutama depresi napas,
teknik anestesia regional terutama mual muntah, serta pruritus. Hal inilah
anestesia spinal, antara lain adalah yang memacu peneliti untuk meneliti
prosedur pelaksanaan yang lebih obat lain yang dapat digunakan sebagai
singkat, mula kerja cepat, kualitas obat adjuvan pada anestesia spinal. [2]
blokade sensorik dan motorik yang lebih Alfa-2 agonis memiliki efek
baik, mampu mencegah respons stres analgesia dan sedasi ketika digunakan
lebih sempurna, serta dapat menurunkan sebagai obat tambahan pada anestesi
perdarahan intraoperatif. Salah satu regional. Obat ini memiliki efek
kelemahan anestesia regional spinal potensiasi dengan anestesi lokal dengan
adalah lama kerja yang terbatas, memperpanjang durasi blok sensoris dan
sedangkan kita sering kali dihadapkan motorik serta analgesia postoperatif.
pada operasi yang membutuhkan waktu Klonidin salah satu obat dari golongan
yang lama. [1,2] alfa-2 agonis juga telah sering digunakan
Penggunaan agen bupivacaine baik secara intratekal maupun intravena
hiperbarik 0.5% dianggap cukup untuk setelah anestesi spinal untuk
prosedur pembedahan hingga 120 memperpanjang durasi blok tanpa
menit. Untuk memperpanjang durasi menyebabkan efek samping atau dengan
analgesia serta meningkatkan efektifitas efek samping yang minimal.
anestesi spinal, obat-obat tertentu dari Dexmedetomidin merupakan alfa-2
beberapa kelompok farmakologis telah agonis yang paling selektif, telah lama
dipelajari sebagai tambahan. digunakan sebagai premedikasi pada
Penambahan obat-obatan tersebut juga anestesi umum karena efek sedasi dan
bertujuan untuk mengurangi dosis obat analgesianya. Dexmedetomidin juga
anestesi lokal yang digunakan serta memperlihatkan efek kerja pada tingkat
meminimalisir efek samping kedua obat spinal dan supraspinal. Walaupun
tersebut. [2,3] interaksi yang sinergi antara
Selama ini sering dilakukan dexmedetomidin intratekal dan anestesi
penambahan adjuvan pada anestetik lokal intratekal telah banyak diteliti
lokal yang bertujuan untuk pada studi-studi sebelumnya, tetapi
memperpanjang durasi analgesia obat belum banyak data klinis tentang efek
anestesia lokal yang digunakan untuk pemberian dexmedetomidin intravena
anestesi spinal. Saat ini terdapat terhadap durasi blok sensoris dan
beberapa obat adjuvan yang dapat motoris pada anestesi spinal. [2,3,4]
dipergunakan pada anestesia spinal Dexmedetomidin intravena ketika
seperti epinefrin, opioid, agonis reseptor diberikan sebelum atau setelah

Healthy Tadulako Journal (Fahruddin, Imtihanah A., Wahyudi : 9-20) 10


Jurnal Kesehatan Tadulako Vol. 3 No. 2, Juli 2017 : 1-75

dilakukan anestesi spinal juga pemanjangan waktu regresi dua segmen


memberikan beberapa efek yang serta pemanjangan durasi blok sensorik
dinginkan, seperti sedasi, meningkatkan pada kelompok dexmedetomidin.
kenyamanan pasien selama operasi, Dengan skor sedasi yang lebih tinggi
durasi blok sensoris dan motoris yang tanpa disertai depresi napas. Hasil serupa
lebih lama, memperpanjang efek juga didapatkan pada pemelitian yang
analgesia postoperatif serta mengurangi dilakukan oleh Fatma NK dkk (2009)
angka kejadian menggigil post-anestesi. serta Vellayuda SR (2013). [6,7,8]
Dosis yang optimal untuk pada Penelitian yang dilakukan oleh
pemberian intravena dexmedetomidin Anbarasu A dkk (2013) yang
untuk anestesi spinal masih belum membandingkan dosis 1 mcg/kgBB
dipastikan secara resmi. Literatur terbaru yang diberikan 10 menit sebelum
memperlihatkan ceiling effect pada anestesi spinal dan 30 menit setelah
pemanjangan analgesia post spinal anestesi spinal, menemukan bahwa
setelah pemberian bolus 0.5 mcg/kgbb. terjadi pemanjangan blok sensoris,
Pemberian dosis lebih dai 0.5 mcg/kgbb pemanjangan waktu regresi dua segmen
akan menyebabkan efek samping yang serta waktu permintaan analgetik post
tidak diinginkan seperti bradikardi dan operatif pertama pada kedua kelompok
sedasi yang berlebihan.[2,3,5] dibandingkan kontrol. Walaupun secara
Penggunaan yang sering untuk statistik perbedaan keduanya tidak
dexmetomidine intravena biasanya bermakna, tetapi peneliti menganggap
diberikan secara bolus dosis tunggal pemberian 30 menit setelah anestesi
sebelum atau setelah anestesi spinal, spinal lebih ditoleransi dengan baik oleh
yang diikuti dengan pemberian infuse pasien karena angka kejadian efek
kontinyu. Akan tetapi pemberian samping seperti hipotensi, bradikardi
lanjutan dengan infus kontinyu dan mual yang lebih rendah pada
dilaporkan meningkatkan insiden kelompok pemberian 30 menit setalah
hipotensi dan bradikardi. Beberapa anestesi spinal.[9]
penelitian melaporkan efek Penelitian yang dilakukan Mi Hyeon
dexmedetomidin dosis tunggal pada L dkk (2014) yang membandingkan
kisaran 0,25-1 mcg/kgBB. Umumnya pemberian dexmedetomidin intravena
kelompok dosis ini dibandingkan dengan antara kelompok dosis 0.5 mcg/kgBB
dosis tunggal pada jumlah yang tetap. dan 1 mcg/kgBB yang diberikan 5 menit
Hanya sedikit studi yang sebelum anestesi spinal menemukan
membandingkan dengan jumlah dosis bahwa baik keduanya memperpanjang
dexmedetomidin yang berbeda.[4] waktu regresi sensoris dua segmen
Penelitian yang dilakukan oleh dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Kumkum G dkk (2014) yang menilai Akan tetapi tidak ada perbedaan yang
efek pemberian dexmedetomidin bermakna secara statistik yang diamati
intravena 0,5 mcg/kgBB pada pasien antara kelompok dosis 0,5 mg/kgBB dan
bedah subumbilikal dengan anestesi 1 mcg/kgBB.[4]
spinal, menemukan bahwa terjadi

Healthy Tadulako Journal (Fahruddin, Imtihanah A., Wahyudi : 9-20) 11


Jurnal Kesehatan Tadulako Vol. 3 No. 2, Juli 2017 : 1-75

Barbotage dilakukan dua kali yaitu


BAHAN DAN CARA ketika pertama kali obat akan
Penelitian ini dilakukan di RSUP dimasukkan dan pada sisa 1cc terakhir
Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar obat yang akan diinjeksikan intrathekal..
dan jejaringnya mulai Mei sampai Juni Pasien diposisikan supine dengan bantal
2016 atau sampai jumlah sampel di bawah kepala dan diberikan O2 lewat
terpenuhi. Penelitian ini merupakan nasal kanul 2-3 L/min.. Observasi
suatu penelitian yang bersifat double dilakukan setiap menit sampai blok
blind randomized clinical trial. sensoris telah mencapai level maksimal
Penderita yang memenuhi kriteria dan dicapai Bromage 3. Cara tes blok
penelitian menjalani prosedur persiapan sensorik dengan menggunakan pin prick
operasi yang berlaku. Dibagi 2 test dan cold test pada garis
kelompok yaitu kelompok dengan midklavikular kiri dan kanan setiap 1
pemberian Bupivakain 0,5% 12,5 mg menit.
intratekal + dexmedetomidine 0,25 30 menit setelah dilakukan anestesi
mcg/kgBB intravena selanjutnya disebut spinal, kelompok D 0,25 diberikan
sebagai kelompok D 0,25, dan kelompok dexmedetomidine intravena dosis 0,25
dengan pemberian Bupivakain 0,5% mcg/kgBB yang dilarutkan dalam NaCl
12,5 mg intratekal + dexmedetomidine 0,9% sebanyak 10 cc yang diberikan
0,5 mcg/kgBB intravena selanjutnya secara bolus perlahan dalam waktu 10
disebut sebagai kelompok D0,5. menit. Sedangkan pada kelompok D 0.5
Sebelum diberikan preloading diberikan dexmedetomidine intravena
cairan pada kedua kelompok, TAR dosis 0,5 mcg/kgBB yang dilarutkan
diukur secara non invasif dan laju dalam NaCl 0,9% sebanyak 10 cc yang
jantung dicatat sesuai dengan diberikan secara bolus perlahan dalam
electrocardiogram pada monitor. waktu 10 menit.
Preloding cairan RL 500ml dalam 15 1 jam setelah dicapai blok maksimal
menit sebelum injeksi spinal. Pasien tercapai mulai dilakukan evaluasi pin
secara acak dimasukkan dalam dua prick test, cold test serta Bromage tiap
kelompok dengan menggunakan metode menit untuk menentukan penurunan
pengundian. Sebelum diposisikan, dan waktu regresi 2 segmen blok sensorik.
dilakukan prosedur SAB standar. Pasien Bila terjadi hipotensi (TAR < 80% dari
dalam posisi LLD, desinfeksi dengan TAR awal), diberikan bolus cairan RL 2
betadin, skin wheel dengan lidokain 2% mL/kg. Maksimal diberikan tiga kali
40mg. Insersi jarum spinocain 25G pada bolus. Bila suplementasi cairan IV gagal
Interspace Vertebra Lumbal III-IV, untuk mengatasi hipotensi, diberikan
boleh dengan teknik midline maupun suatu dosis efedrin 5- 10 mg IV bolus.
paramedian approach hingga jarum Bila terjadi bradikardi (HR <50
menembus ruang subarachnoid hingga kali/menit) diatasi dengan diberikan
mengalir LCS. Kemudian pada kedua sulfat atropin 0,5 mg IV dengan dosis
kelompok diberikan Bupivakain 0,5% maksimum 2 mg. Pasien juga dimonitor
12,5 mg. untuk semua efek tambahan selama

Healthy Tadulako Journal (Fahruddin, Imtihanah A., Wahyudi : 9-20) 12


Jurnal Kesehatan Tadulako Vol. 3 No. 2, Juli 2017 : 1-75

pembedahan dicatat kejadian hipotensi, jenis kelamin, ASA PS, umur, dan IMT
bradikardi, menggigil, serta kejadian pada kedua kelompok dapat dilihat pada
mual muntah. tabel 1 dan tabel 2 berikut, terlihat bahwa
Emergency rescue system tidak ditemukan perbedaan yang
1. Bila terjadi mual-muntah pasca bermakna (P≥ 0,05) pada sebaran jenis
bedah diberikan ondansetron kelamin, ASA PS, umur, dan IMT pada
4mg/IV kedua kelompok sehingga data dapat
2. Bila terjadi menggigil diberikan
dinyatakan homogen secara statistik.
Onsensetron 4 mg
3. Bila terjadi hipotensi diberikan Frekuensi ASA PSdan jenis kelamin
suatu dosis efedrin 5-10 mg IV dianalisa dengan menggunakan uji
bolus Pearson Chi-Square, sedangkan data
4. Bila terjadi Bradikardi diberikan umur dan IMT dianalisa dengan
sulfat atropin 0,5 mg IV dengan menggunakan uji T tidak berpasangan di
dosis maksimum 2 mg mana (P< 0,05) dinyatakan bermakna.
HASIL
Karakteristik sampel penelitian
kedua kelompok yang meliputi sebaran

Tabel 1. Perbandingan sebaran jenis kelamin dan ASA PS pada kedua kelompok
KD 0,25 (n=20) KD 0,5 (n=20)
Variabel P*
n % N %
Jenis Kelamin
Laki-laki 10 50,0 10 50,0
1,000
Perempuan 10 50,0 10 50,0
ASA PS
I 8 40,0 9 45,0
0,749
II 12 60,0 11 55,0
*Uji Chi square, P< 0,05 dinyatakan bermakna.

Tabel 2. Perbandingan umur dan IMT kedua kelompok


KD 0,25 (n=20) KD 0,5 (n=20)
Variabe
Mea P*
l Min Maks SD Min Maks Mean SD
n
Umur 18 54 34,25 12,72 18 55 38,75 12,53 0,218
IMT 18,69 27,59 22,92 2,58 17,78 26,71 22,73 2,18 0,766
*Uji T tidak berpasangan, P< 0,05 dinyatakan bermakna.

Durasi blok sensorik dapat dilihat sensorik. Durasi blok sensorik ini diuji
pada Tabel 3 dan Grafik 1. Berdasarkan dengan menggunakan T tidak
Tabel 3, terlihat bahwa terdapat berpasangan dimana (P < 0,05)
perbedaan yang bermakna secara dinyatakan bermakna.
statistik (P < 0,05) pada durasi blok

Healthy Tadulako Journal (Fahruddin, Imtihanah A., Wahyudi : 9-20) 13


Jurnal Kesehatan Tadulako Vol. 3 No. 2, Juli 2017 : 1-75

Tabel 3. Perbandingan durasi blok sensorik kedua kelompok


KD 0,25 (n=20) KD 0,5 (n=20)
Dura
M M M S M M Me S P*
si (detik)
in aks ean D in aks an D
Blok 1 1 12 6, 1 1 145 7, 0,0
Sensorik 10 36 5,95 38 24 55 ,90 18 00
*Uji T tidak berpasangan, P< 0,05 dinyatakan bermakna.

200
Mean Durasi (Detik)

150

100
KD 0,25 mm/kgBB
125,95 145,9
50 KD 0,5 mm/kgBB

0
Durasi Blok Sensorik
Kelompok

Grafik 1. Perbandingan durasi blok sensorik kedua kelompok

Dari Grafik 1, terlihat bahwa mean Hal ini menunjukkan bahwa


durasi blok sensorik pada kelompok dexmedetomidin 0,25 mcg/kgBB
dexmedetomidin 0,25 mcg/kgBB, yaitu memiliki durasi blok sensorik yang lebih
sebesar 125,95 detik, lebih rendah cepat dibandingkan dengan
dibandingkan mean blok sensorik pada dexmedetomidin 0,5 mcg/kgBB, dengan
kelompok dexmedetomidin 0,5 perbandingan yang bermakna.
mcg/kgBB, yaitu sebesar 145,90 detik.

Tabel 4. Perbandingan durasi blok motorik kedua kelompok


Durasi KD 0,25 (n=20) KD 0,5 (n=20)
P*
(detik) Min Maks Mean SD Min Maks Mean SD
Blok
124 149 141,85 6,26 132 171 151,70 12,63 0,003
Motorik
*Uji T tidak berpasangan, P < 0,05 dinyatakan bermakna.

Durasi blok motorik dapat dilihat motorik. Durasi blok motorik ini diuji
pada Tabel 4 dan Grafik 2. Berdasarkan dengan menggunakan T tidak
Tabel 4, terlihat bahwa terdapat berpasangan dimana (P < 0,05)
perbedaan yang bermakna secara dinyatakan bermakna
statistik (P < 0,05) pada durasi blok

Healthy Tadulako Journal (Fahruddin, Imtihanah A., Wahyudi : 9-20) 14


Jurnal Kesehatan Tadulako Vol. 3 No. 2, Juli 2017 : 1-75

160
140

Mean Durasi (Detik)


120
100
80
141,85 151,7 KD 0,25 mm/kgBB
60
40 KD 0,5 mm/kgBB
20
0
Durasi Blok Motorik
Kelompok

Grafik 2. Perbandingan durasi blok motorik kedua kelompok

Dari Grafik 2, terlihat bahwa mean Hal ini menunjukkan bahwa


durasi blok motorik pada kelompok dexmedetomidin 0,25 mcg/kgBB
dexmedetomidin 0,25 mcg/kgBB yaitu memiliki durasi blok motorik yang lebih
sebesar 141,85 detik, lebih rendah cepat dibandingkan dengan
dibandingkan mean durasi blok motorik dexmedetomidin 0,5 mcg/kgBB, dengan
pada kelompok dexmedetomidin 0,5 perbandingan yang bermakna
mcg/kgBB, yaitu sebesar 151,70 detik.
.
Kejadian Efek Samping

Tabel 5. Perbandingan kejadianefek samping


Efek KD 0,25 (n=20) KD 0,5 (n=20)
P*
Samping n % n %
Hipotensi 2 10,0 6 30,0
Bradikardi 6 30,0 8 40,0
Menggigil - - - - 0,134
Mual - - - -
Muntah - - - -
*Uji Eksak Fisher, P < 0,05 dinyatakan bermakna

Berdasarkan Tabel 6, terlihat bahwa diuji dengan menggunakan uji eksak


tidak terdapat perbedaan yang bermakna fisher dimana (P < 0,05) dinyatakan
secara statistik (P ≥ 0,05) pada bermakna.
perbandingan kejadian efek samping.
Perbandingan kejadian efek samping ini

Healthy Tadulako Journal (Fahruddin, Imtihanah A., Wahyudi : 9-20) 15


Jurnal Kesehatan Tadulako Vol. 3 No. 2, Juli 2017 : 1-75

Jumlah Pasien (orang)


8
7
6
5
4
3
2 KD 0,25 mm/kgBB
1 KD 0,5 mm/kgBB
0

Efek Samping

Grafik 3. Perbandingan kejadianefek samping kedua kelompok.

Dari Grafik 3 terlihat bahwa jumlah


pasien yang mengalami efek samping PEMBAHASAN
hipotensi pada kelompok Penelitian ini bertujuan untuk
dexmedetomidin 0,25 mcg/kgBB, yaitu membandingkan efek penambahan
2 orang (10,0%), lebih sedikit dexmedetomidin intravena antara dosis
dibandingkan jumlah pasien yang 0,5 mcg/kgbb dan 0,25 mcg/kgbb pada
mengalami efek samping hipotensi pada pasien yang akan menjalani pembedahan
kelompok dexmedetomidin 0,5 ekstremitas bawah dengan anestesi
mcg/kgBB, yaitu 6 orang (30,0%). spinal. Dengan pemberian
Sedangkan jumlah pasien yang dexmedetomidin intravena ini
mengalami efek samping bradikardi diharapkan akan meningkatkan kualitas
pada kelompok dexmedetomidin 0,25 blok anestesi spinal dalam hal ini durasi
mcg/kgBB, yaitu 6 orang (30,0%), juga blok sensorik dan motorik.
lebih sedikit dibandingkan jumlah pasien
yang mengalami efek samping hipotensi Durasi Blok Sensorik
Interaksi sinergistik antara
pada kelompok dexmedetomidin 0,5
dexmedetomidin dan anestetik lokal
mcg/kgBB, yaitu 8 orang (40,0%).
sudah diamati pada penelitian yang
Sementara untuk kejadian efek samping
dilakukan oleh Memis dkk.28 Mereka
menggigil, mual, dan muntah, tidak
melaporkan penambahan
ditemukan baik pada kelompok
dexmedetomidin 0,5 mcg/kgBB pada
dexmedetomidin 0,25 mcg/kgBB,
lidokain untuk anestesi regional
maupun kelompok dexmedetomidin 0,5
intravena memperpendek onset blok
mcg/kgBB. Hal tersebut menunjukkan
sensorik dan motorik serta
bahwa dexmedetomidin 0,25 mcg/kgBB
memperpanjang durasi blok motorik dan
lebih unggul dalam menekan kejadian
sensorik tanpa menimbulkan efek
efek samping dibandingkan
samping.28
dexmedetomidin 0,5 mcg/kgBB,
Penelitian yang kami lakukan
walaupun dengan perbedaan yang tidak
menunjukkan adanya pemanjangan blok
bermakna.
sensorik yang signifikan lebih lama pada

Healthy Tadulako Journal (Fahruddin, Imtihanah A., Wahyudi : 9-20) 16


Jurnal Kesehatan Tadulako Vol. 3 No. 2, Juli 2017 : 1-75

kelompok D 0,5 dibandingkan dengan Analgesia yang dihasilkan oleh alfa-


dengan kelompok D 0,25. Seperti pada 2 agonis diduga disebabkan oleh kerja
penelitian-penelian sebelumnya dengan obat terebut pada level spinal,
penambahan dexmedetomidin akan supraspinal, analgesia langsung serta
memperpanjang durasi analgesia pada vasokonstriksi pada pembuluh darah.
pasien yang menjalani operasi dengan Locus ceruleus dan dorsal raphe nucleus
anestesi spinal. Sejumlah studi klinis merupakan struktur CNS yang penting
melaporkan efek pemberian tempat obat ini berkerja menghasilkan
dexmedetomidin intravena dosis tunggal sedasi dan analgesia. Kerja supraspinal
pada anestesi spinal bervariasi pada ini yang mungkin menjelaskan efek
kisarandosis 0,25 mcg/kgBB sampai 1 pemanjangan anestesi spinal setelah
mcg/kgBB.4 Penelitian yang dilakukan pemberian dexmdetomidin atau klonidin
Gupta K dkk (2014) yang intravena.1,29 Inervasi noradrenergik
membandingkan penambahan medula spinalis berasal dari nucleus
dexmedetomidin 0,5 mcg/kgBB noradrenergik di batang otak termasul
intravena dan salin pada operasi sub locus ceruleus dan nucleus
umbilicus dengan anestesi spinal, noradrenergik A5 dan A7. Neuron di
melaporkan adanya pemanjangan waktu locus ceruleus terhubung dengan nucleus
regresi dua segmen pada pasein yang noradrenergik di batang otak. Akson
mendapatkan dexmedetomidin6. terminal nucleus noracrenergik
Penelitian lain yang menggunakan mencapai lamina VII dan VIII di cornu
dosis 1 mcg/kgBB (Annamalaidkk., ventralis medula spinalis. Aktifitas di
2013) yang membandingkan neuron noradrenergik dihambat oleh
dexmedetomidin intravena dosis 1 aktifitas agonistik di reseptor α2-
mcg/kgBB dengan salin juga adrenergik di badan sel locus ceruleus.
melaporkan adanya pemanjangan durasi Selanjutnya penghambatan di locus
regresi sensorik dua segmen pada ceruleus ini akan menyebabkan
kelompok dexmedetomidin disinhibisi pada nucleus noradrenergik
dibandingkan dengan kelompok salin.10 yang selanjutnya akan menurunkan efek
Sedangkan penelitian yang inhibisi ini pada reseptor nososepsi di
dilakukanoleh Lee MH dkk (2014) yang medula spinalis.30
membandingkan dua kelompok dosis
yaitu dosis 0,5 mcg/kgBB dan 1 Durasi Blok Motorik
mcg/kgBB yang dibandingkan dengan Penelitian yang kami lakukan
kelompok kontrol (salin) menemukan menunjukkan adanya pemanjangan blok
bahwa pada kedua kelompok dosis motorik yang signifikan lebih lama pada
tersebut terjadi pemanjangan waktu kelompok D 0,5 dibandingkan dengan
regresi sensoris dua segmen dengan kelompok D 0,25. Seperti pada
dibandingkan dengan kelompok kontrol. penelitian-penelitian sebelumnya
Tetapi perbandingan pemanjangan dengan penambahan dexmedetomidin
antara kedua kelompok tersebut tidak akan memperpanjang durasi durasi blok
berbeda secara signifikan.4 motorik pada pasien yang menjalani

Healthy Tadulako Journal (Fahruddin, Imtihanah A., Wahyudi : 9-20) 17


Jurnal Kesehatan Tadulako Vol. 3 No. 2, Juli 2017 : 1-75

operasi dengan anestesi spinal. Pada spinalis. Ikatan tersebut akan


penelitian yang dilakukan oleh Ahmed menyebabkan penghambatan pelepasan
MS dkk (2014) yang membandingkan norepinefrin serta menekan aktifitas
dexmedetomidin dosis 0,5 mcg/kgBB simpatis.26,27
dengan salin, menemukan terjadi Pada penelitian ini kejadian efek
pemanjangan blok motorik pada samping yang ditemukan hanya
kelompok dexmedetomidin.24 Hasil bradikardi dan hipotensi. Hasil
serupa juga didapatkan pada penelitian penelitian ini, angka kejadian efek
yang dilakukan Kumkum G (2009) yang samping antara kedua kelompok dosis
membandingkan dosis 0,5 mcg/kgBB tidak berbeda secara signifikan (p>
dan salin.6 0,05). Penelitian yang dilakukan oleh
Pada penelitian yang dilakukan oleh MiHyeon Lee dkk (2014) yang
Mi Hyeon Lee dkk (2014) yang membandingkan dua dosis
membandingkan dexmedetomidin dosis dexmedetomidin 0,5 mcg/kgBB, 1
0,5 mcg/kgBB, 1 mcg/kgBB dan salin mcg/kgBB dan kontrol (salin) tidak
menumukan bahwa pada kedua menemukan adanya perbedaan
kelompok dexmedetomidin terjadi bermakna antara ketiga kelompok
pemanjangan durasi blok motorik tersebut dalam hal insiden kejadian efek
dibandingkan dengan kelompok salin. samping.4 Pada penelitian lain yang
Walaupun tidak ditemukan adanya dilakukan oleh Stevie JN dkk (2015)
perbedaan yang signifikan pada kedua yang membandingkan dexmedetomidin
kelompok tesebut.4 dosis 1 mcg/kgBB dan control
Mekanisme blokade motorik yang melaporkan angka kejadian efek
difasilitasi oleh α2-agonis ini belum samping yang secara signifikan lebih
jelas. Akan tetapi obat-obatan α2-agonis tinggi pada kelompok
25
disebakan oleh penghambatan langsung dexmedetomidine.
konduksi inmpuls serabut saraf Aα yang
bermielin. Konsetrasi efektif 50% KESIMPULAN DAN SARAN
(EC50%) yang diukur untuk blok saraf Durasi blok sensorik maupun
motorik empat kali lebih besar motorik pada kelompok
dibandingkan dengan serabut C yang dexmedetomidin dosis 0,5 mcg/kgBB
tidak bermielin.1 lebih panjang dibandingkan dosis 0,25
mcg/kgBB. Kejadian efek samping
Kejadian Efek Samping antara kelompok dexmedetomidin 0,5
Kejadian efek samping yang paling mcg/kgBB dan 0,25 mcg/kgBB tidak
sering didapatkan pada pemberian ditemukan adanya perbedaan.
dexmedetomidin intravena adalah Penambahan dexmedetomidin dosis
hipotensi dan bradikardi.Hal ini 0,5 mcg/kgBB dapat digunakan untuk
mungkin dapat dijelaskan akibat efek dalam praktik klinis sehari-hari untuk
ikatan dexmedetomidin dengan meningkatkan kualitas analgesia pada
reseptornya baik presinap dan postsinap pasien yang menjalani prosedur bedah
pada locus ceruleus dan medulla

Healthy Tadulako Journal (Fahruddin, Imtihanah A., Wahyudi : 9-20) 18


Jurnal Kesehatan Tadulako Vol. 3 No. 2, Juli 2017 : 1-75

ekstremitas bawah dengan anestesi 6. Gupta K, Tiwari V, Gupta P, Pandey


spinal. M, Agarwal S, Arora A.
Prolongation of subarachnoid block
by intravenous dexmedetomidine
UCAPAN TERIMAKASIH
for sub umbilical surgical
Peneliti mengucapkan terima kasih procaedures: A prospective control
kepada Kepala Instalasi Bedah Pusat study. Anesthesia: Essays and
RSUP Dr. Wahidin Sudorohusodo Researches. 2014;8(2):175.
Makassar, yang telah banyak membantu 7. Kaya F, Yavascaoglu B, Turker G,
dalam pelaksanaan penelitian ini. Yildirim A, Gurbet A, Mogol E et
al. Intravenous dexmedetomidine,
DAFTAR PUSTAKA but not midazolam, prolongs
bupivacaine spinal anesthesia. Can J
1. Reddy VS, et all. Intravenous
Anesth/J Can Anesth.
dexmedetomidine versus clonidine
2009;57(1):39-45.
for prolongation of bupivacaine
8. Niu XY, et all. Effects of
spinal anesthesia and analgesia: A
Intravenous and intrathecal
randomized double‑blind study.
dexmedetomidinein spinal
Anesthesia: Essays and Researches.
anesthesia: A meta-analysis. CNS
2014; 8(2); 56-63
Neuroscience & Therapeutics.
2. Ramli F,Tavianto D,Askoen TT.
2013;19(4): 897–904
Pengaruh penambahan klonidin 75
9. Shaik N, Donthu B, Sannala V,
mcg pada 12,5 mg levobupivakain
Jangam V. Intravenous
0,5% secara intratekal terhadap
dexmedetomidine versus clonidine
lama kerja blokade sensorik dan
for prolongation of bupivacaine
motorik untuk bedah ortopedi
spinal anesthesia and analgesia: A
ekstremitas bawah. Jurnal Anestesi
randomized double-blind study. J
Perioperatif JAP. 2015;3(1): 7-13
AnaesthesiolClinPharmacol.
3. Harsoor SS, Rani DD, Yalamuru B,
2013;29(3):342.
Sudheesh K, Nethra SS. Effect of
10. Annamalai A, Singh S, Singh A,
supplementation of low dose
Mahrous DE. Can Intravenous
intravenous dexmedetomidine on
dexmedetomidineprolong
characteristics of spinal anaesthesia
bupivacaine intrathecal spinal
with hyperbaric bupivacaine. Indian
anesthesia? J AnesthClin Res.
J Anaesth 2013;57:265-9
2012;4(12): 372-8.
4. Lee MH, et all. The effects of
11. Wong CA. Spinal and epidural
intravenous dexmedetomidine on
anesthesia. First Edition. New York:
spinal anesthesia: comparision of
McGraw Hill; 2007: 674-91
different dose of
Dexmedetomidine. Korean J 12. Conventry DM. Local anersthestic
Anesthesiol 2014 October 67(4): techniques. In: Aitkenhead AR,
252-257 Moppett IK, Thompson JP. Smith
5. Uphadhyay SP, et all. Intravenous and Aitkenhead’s Textbook of
dexmedetomidine on quality of Anaesthesia. Sixth Edition. London:
spinal block and duration of Elsevier Churchill Livingstone;
postoperative analgesia - A systemic 2013: 893-901
review and update. Int J 13. Warren DT, Liu SS. Neraxial
ClinAnesthesiol. 2015;3(1): 1045- anesthesia. In: Longnecker DE,
1051. Brown DL, Newman MF, Zapol

Healthy Tadulako Journal (Fahruddin, Imtihanah A., Wahyudi : 9-20) 19


Jurnal Kesehatan Tadulako Vol. 3 No. 2, Juli 2017 : 1-75

WM. Anesthesiology. Third Ed. 23. Abdallah FW, Abrishami A, Brull


New York: The McGraw-Hill R. The Facilitatory of intravenous
Companies; 2008: 1023-85 dexmedetomidine on the duration of
14. Fischer HB. Regional anesthesia spinal anesthesia: a systematic
and analgesia. In: Smith T, Pinnock review and meta-analysis.
C, Smith T. Fundamentals of Anasthesia& Analgesia.
Anaesthesia. Third Edition. 2013;116(20):1-8.
Cambridge: Cambridge University 24. Hamed AM, Talaat SM. Effect of
Press; 2009: 560-82 intravenous versus intratechal low
15. Madison SJ, Ilfeld BM. Regional dose dexmedetomidine on spinal
anesthesia and pain management. In block in lower limb surgery. Ain-
Butterworth JF, Mackey DC, Shams Anaesthesiology.
Wasnick JD. Morgan and 2014;3(1):205-210.
Mikhails’s Clinical Anesthesiology. 25. Sangma SJ, et all. Effect of
Fifth edition. New York: McGraw- intravenous dexmedetomidine on
Hill; 2013: bupivacaine spinal analgesia.
16. Local anesthetics. In Butterworth Journal of Medical Society.
JF, Mackey DC, Wasnick JD. 2015;29(2): 98-100.
Morgan and Mikhails’s Clinical
Anesthesiology. Fifth edition. New
York: McGraw-Hill; 2013: 871-89
17. Stoelting RK, Hillier SC.
Pharmacology and physiology in
anesthetic practice. Fourth edition.
Philadelphia: Lippincott Williams
&Wilkins; 2006:776-91
18. Berde CD, Strichartz GR. Local
anesthetics. In : Miller RD. Miller’s
Anesthesia. Seventh Edition. New
York: Elsevier Churchill
Livingstone; 2010: 1071-99
19. E Helge. Intravenous Anesthetics.
In Miller RD, Pardo MC. Basics of
Anesthesia. Sixth Edition.
Philadelphia : Elsevier Saunders;
2013: 1137-59
20. Alfonso J, Reis F.
Dexmedetomidine: current role in
anesthesia and intensive care.
RevistaBrasileira de Anestesiologia.
2012;62(1):118-133.
21. Kamibayashi T, Maze M. Clinical
use of α2-adenergic agonist.
Anesthesilogy. 2000;93(5): 1345-9.
22. Karam VG, Aouad MM.
Perioperative uses of
dexmedetomidine. MEJ Anesth.
2006;18(6):1043-58.

Healthy Tadulako Journal (Fahruddin, Imtihanah A., Wahyudi : 9-20) 20