Anda di halaman 1dari 24

TUGAS BEDAH VETERINER

TUGAS MATA KULIAH

ILMU BEDAH VETERINER

( ANESTESI )

MEKANISME KERJA ANESTESI LOKAL

I KOMANG BARDA BAGASKARA PUTRA

1209005094

LABORATORIUM BEDAH VETERINER

FAKULTAS KEDOK\TERAN HEWAN

UNIVERSITAS UDAYANA

TAHUN 2015
RINGKASAN

Anestesi regional semakin berkembang dan meluas pemakaiannya, mengingat berbagai


keuntungan yang ditawarkan, diantaranya relatif lebih murah, pengaruh sistemik yang minimal,
menghasilkan analgesi yang adekuat dan kemampuan mencegah respon stress secara lebih
sempurna.
Secara kimiawi obat anestesi lokal dibagi dalam dua golongan besar, yaitu golongan ester
dan golongan amide. Perbedaan kimia ini direfleksikan dalam perbedaan tempat metabolisme,
dimana golongan ester terutama dimetabolisme oleh enzimpseudo-kolinesterase di plasma
sedangkan golongan amide terutama melalui degradasi enzimatis di hati. Perbedaan ini juga
berkaitan dengan besarnya kemungkinan terjadinya alergi, dimana golongan ester turunan dari p-
aminobenzoic acid memiliki frekwensi kecenderungan alergi lebih besar. Obat anestesi lokal
yang lazim dipakai di negara kita untuk golongan ester adalah prokain, sedangkan golongan
amide adalah lidokain dan bupivakain.
Mekanisme kerja obat anestesi local mencegah transmisi impuls saraf (blockade
konduksi) dengan menghambat pengiriman ion natrium melalui gerbang ion natrium selektif
pada membrane saraf. Kegagalan permeabilitas gerbang ion natrium untuk meningkatkan
perlambatan kecepatan depolarisasi seperti ambang batas potensial tidak tercapai sehingga
potensial aksi tidak disebarkan. Obat anestesi lokal tidak mengubah potensial istirahat
transmembran atau ambang batas potensial.
Farmakokinetik obat meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Komplikasi
obat anestesi lokal yaitu efek samping lokal pada tempat suntikan dapat timbul hematom dan
abses sedangkan efek samping sistemik antara lain neurologis pada Susunan Saraf Pusat,
respirasi, kardiovaskuler, imunologi, muskuloskeletal dan hematologi. Beberapa interaksi obat
anestesi local antara lain pemberian bersamaan dapat meningkatkan potensi masing-masing obat.
penurunan metabolisme dari anestesilokal serta meningkatkan potensi intoksikasi.

ii
SUMMARY

Regional anesthesia is growing and expanding its use, given the wide range of benefits
offered, including relatively cheap, minimal systemic effect, adequate analgesia and the ability to
prevent the stress response is more perfect.

Local anesthetic chemically divided into two major categories, namely class ester and amide
groups. The difference is reflected in the different chemical metabolism place, where the ester
group is mainly metabolized by enzimpseudo-cholinesterase in plasma while the amide group
primarily through enzymatic degradation in the liver. This difference is also related to the
magnitude of the possibility of allergies, wherein the ester groups derived from p-aminobenzoic
acid has a greater frequency of allergic tendencies. Local anesthetic commonly used in our
country for the ester group is procaine, while the amide group is lidocaine and bupivacaine.

Mechanism of action of local anesthetics prevent the transmission of nerve impulses


(conduction blockade) by inhibiting the delivery of sodium ions through the gate of a sodium ion
selective membrane of the nerve. The failure of the sodium ion permeability gate to increase the
speed deceleration threshold depolarization such potential is not reached so that no action
potential propagated. Local anesthetic does not change the resting potential or threshold
transmembrane potential.

Pharmacokinetic drug include absorption, distribution, metabolism and excretion.


Complications of local anesthetic is local side effects at the injection site hematoma and abscess
can arise while systemic side effects include neurological CNS, respiratory, cardiovascular,
immunological, musculoskeletal and hematologic. Some local anesthetic drug interactions
include coadministration may increase the potency of each drug. decrease the metabolism of
anestesilokal and increase the potential for intoxication.

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur telah penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga
penulis dapat menyelesaikan tugas Ilmu Bedah veteriner ini, denagn judul “ Mekanisme Kerja
Anestesi Lokal “
Maksud dan tujuan dari penulisan paper ini adalah agar pembaca dapat lebih mengerti,
dan memahami tentang obat anestesi Lokal.
Penulis menyadari bahwa Tugas ini masih dalam ketidak sempurnaan. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang bersifat membangun akan senantiasa penulis harapkan dalam upaya
penyempurnaan Tugas ini. Akhirnya penulis berharap, Tugas paper ini dapat bermanfaat bagi
penulis dan pembaca dalam kegiatan belajar mengajar.

Denpasar,16 Maret 2015

Penulis

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i


RINGKASAN..................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................ iv
DAFTAR ISI....................................................................................................... v
DAFTAR TABEL .............................................................................................. vi
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Tujuan dan Manfaat .................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 3
2.1 Pengertian .................................................................................................. 3
2.2 Karakteristik Obat Anastetik Lokal…………………………………… 4
2.3 Penggolongan Obat Anestesi Lokal .......................................................... 5
2.4 Hubungan struktur aktivitas ..................................................................... 6
2.5 Mekanisme kerja ....................................................................................... 9
2.6 Farmakologi klinis ................................................................................... 9
2.6.1 Farmakokinetik………………………………………………… 9
2.7 Komplikasi Obat Anestesi lokal ...............................................................11
2.7.1 Efek Samping .............................................................................11
2.7.2 Pengaruh Pada Sistem Organ …………………………………..12
2.8 Interaksi Obat……………………………………………………………15
BAB III PENUTUP ............................................................................................16
3.1 Kesimpulan ...............................................................................................16
3.2 Saran ..........................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................17

v
DAPTAR TABEL

Tabel 1. Jenis Anestesi Lokal……………………………………………………… 6

Vi
DAPTAR GAMBAR

Gambar 1………………………………………………………………………… 7
Gambar 2………………………………………………………………………… 7.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anestesi regional semakin berkembang dan meluas pemakaiannya, mengingat berbagai
keuntungan yang ditawarkan, diantaranya relatif lebih murah, pengaruh sistemik yang minimal,
menghasilkan analgesi yang adekuat dan kemampuan mencegah respon stress secara lebih
sempurna. Namun demikian bukan berarti bahwa tindakan anestesi lokal tidak ada bahayanya.
Hasil yang baik akan dicapai apabila selain persiapan yang optimal seperti halnya anestesi umum
juga disertai pengetahuan tentang farmakologi obat anestesi lokal.
Carl Koller (1884), seorang ahli mata telah memperkenalkan untuk yang pertama kali
penggunaan kokain secara topikal pada operasi mata. Gaedicke (1885) mendapatkan kokain
dalam bentuk ester asam benzoat yang diisolasi dari tumbuhan koka (erythroxylon coca) yang
banyak tumbuh di pegunungan Andes. Kemudian olah Albert Naiman (1860) dalam bentuk
ekstrak. William Halsted (1884), seorang ahli bedah telah menggunakan kokain intradermal dan
blok saraf fasialis, pudendal, tibialis posterior dan plexus brachialis. Selanjutnya August Bier
(1898), menggunakan 3 ml kokain 0,5% intratekal untuk anestesi spinal dan pada 1908
memperkenalkan anestesi regional intravena (Bier Block). Alfred Einhorn (1904) mensintesa
prokain dan pada tahun yang sama digunakan untuk anestesi local oleh Heinrich Braun.
Penambahan epinefrin untuk memperpanjang aksi anestetik lokal dilakukan pertama kali
oleh Heinrich Braun. 1,2,3 Ferdinand Cathelin dan Jean Sicard (1901) memperkenalkan anestesi
epidural kaudal dan Frigel Pages (1921) memperkenalkan anestesi epidural lumbal yang diikuti
oleh Achille Doglioti (1931).
Selanjutnya Lofgren (1943) mensintesa anestesi lokal amide, yaitu lidokain yang
menghasilkan blokade konduksi lebih kuat daripada Prokain dan menjadi pembanding semua
anestesi lokal. Penggunaan klinis lidokain sejak 1947. Sebelumnya dibukain (1930), tetrakain
(1932) dan sesudah itu kloroprokain (1955), mepivakain (1957), prilokain (1960), bupivakain
(1963), etidokain (1972). Ropivakain dan levobupivakain adalah obat baru dengan aksi durasi
hampir sama seperti bupivacain tetapi kardio dan neurotoksisitasnya lebih kecil.

1
1.2 Tujuan dan Manfaat

1. Memahami tentang anestesi local

2. Mampu membedakan anestesi local dengan anestesi umum.

3. Mampu mengetahui mekaisme kerja anestesi local.

4. Dapat mengetahui jenis obat-obat dan local.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN
Anestetik lokal adalah obat yang menghasilkan blokade konduksi atau blockade lorong
natrium pada dinding saraf secara sementara terhadap rangsangtransmisi sepanjang saraf, jika
digunakan pada saraf sentral atau perifir. Prinsipkerjanya adalah menghilangkan keterangsangan
dari organ akhir yangmenghantarkan nyeri dan menghilangkan kemungkinan penghantaran dari
serabutsaraf sensibel secara bolak-balik pada tempat tertentu, sebagai akibatnya rasa(sensasi)
nyeri untuk sementara hilang.Anastesi Lokal adalah obat yang diberikan secara oral (topikal
atausuntikan) dalam kadar yang cukup dapat menghambatan hantaran implus padasyaraf yang
dikenal oleh obat tersebut .Obat-obat ini menghilangkan rasa/sensasinyeri (pada konsentrasi
tinggi dapat mengurangi aktivitas motorik) terbatas padadaerah tubuh yang dikenai tanpa
menghilangi kesadaran.
Kebanyakan obat anestesilokal adalah suatu ester atau amida dari derivat benzen
sederhana . Secara Kimia,obat-obat anestesi lokal terdiri dari golongan senyawa kimia yang
mirip dengansenyawa yang memblok kanal Na pada membran sel syaraf yang
mudahdirangsang .Tipe ikatan ini menentukan sifat farmakologi obat anestesi lokal,terutama
anestesi lokal golongan ester (yang mempunyai ikatan ester) umumnyakurang stabil dan mudah
dimetabolisme karena pada degredasi dan inaktif didalamtubuh , gugus tersebut akan
dihidrolisis.Anestetik lokal menghilangkan penghantaran saraf ketika digunakan secaralokal
pada jaringan saraf dengan konsentrasi tepat. Bekerja pada sebagian SistemSaraf Pusat (SSP)
dan setiap serabut saraf. Kerja anestetik lokal pada ujung saraf sensorik tidak spesifik. Hanya
kepekaan berbagai struktur yang dapat dirangsang berbeda. Serabut saraf motorik mempunyai
diameter yang lebih besar daripadaserabut sensorik. Oleh karena itu, efek anestetika lokal
menurun dengan kenaikandiameter serabut saraf, maka mula-mula serabut saraf sensorik
dihambat dan baru pada dosis lebih besar serabut saraf motorik dihambat.

3
Anestesi regional semakin berkembang dan meluas pemakaiannya, mengingat berbagai
keuntungan yang ditawarkan, diantaranya relatif lebih murah, pengaruh sistemik yang minimal,
menghasilkan analgesi yang adekuat dan kemampuan mencegah respon stress secara lebih
sempurna.
Secara kimiawi obat anestesi lokal dibagi dalam dua golongan besar, yaitu golongan ester
dan golongan amide. Perbedaan kimia ini direfleksikan dalam perbedaan tempat metabolisme,
dimana golongan ester terutama dimetabolisme oleh enzim pseudokolinesterase di plasma
sedangkan golongan amide terutama melalui degradasi enzimatis di hati. Perbedaan ini juga
berkaitan dengan besarnya kemungkinan terjadinya alergi, dimana golongan ester turunan dari p-
amino-benzoic acid memiliki frekwensi kecenderungan alergi lebih besar. Obat anestesi lokal
yang lazim dipakai di negara kita untuk golongan ester adalah prokain, sedangkan golongan
amide adalah lidokain dan bupivakain.
Mekanisme kerja obat anestesi local mencegah transmisi impuls saraf (blokade konduksi)
dengan menghambat pengiriman ion natrium melalui gerbang ion natrium selektif pada
membrane saraf. Kegagalan permeabilitas gerbang ion natrium untuk meningkatkan perlambatan
kecepatan depolarisasi seperti ambang batas potensial tidak tercapai sehingga potensial aksi tidak
disebarkan. Obat anestesi lokal tidak mengubah potensial istirahat transmembran atau ambang
batas potensial. Farmakokinetik obat meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi.
Komplikasi obat anestesi lokal yaitu efek samping lokal pada tempat suntikan dapat timbul
hematom dan abses sedangkan efek samping sistemik antara lain neurologis pada Susunan Saraf
Pusat, respirasi, kardiovaskuler, imunologi ,muskuloskeletal dan hematologi Beberapa interaksi
obat anestesi lokal antara lain pemberian bersamaan dapat meningkatkan potensi masing-masing
obat. penurunan metabolisme dari anestesi local serta meningkatkan potensi intoksikasi.

2.2 KAREKTERISTIK OBAT ANESTESTIK LOKAL


Anestetik lokal ialah gabungan dari garam yang larut dalam air danalkaloid yang larut
dalam lemak yang terdiri dari bagian kepala cincin aromatik Tak jenuh bersifat lipofilik (paba
para amino benzoic acid), bagian badan sebagaiPenghubung terdiri dari cincin hidrocarbon dan
bagian ekor yang terdiri dariAsam amino tersier bersifat hidrofilik.Dalam bentuk basa bebas,
anestetik lokal hanya sedikit larut dan tidak stabil dalam bentuk larutan. Oleh karena itu
4
diperdagangkan dalam bentuk garamyang mudah larut dalam air, biasanya garam hidroklori.
Anestetik lokal seringdikombinasikan dengan vasokonstriktor dengan maksud memperpanjang
danmemperkuat kerja anestetik lokal dan juga mengurangi kecepatan absorpsianestetik lokal
sehingga akan mengurangi toksisitas sistemiknya. Vasokonstriktor yang digunakan epinefrin (1
dalam 200.000 bagian) dan norepinefrin (1 dalam100.000 bagian).Dosis toksik obat anestesi
lokal, dipengaruhi oleh:
1. Jenis (sifat toksik inheren dan efek vasodilatasi) obat AL
2. Konsentrasi obat AL
3. Injeksi intravaskuler
4. Kecepatan injeksi
5. Vaskularisasi jaringan
6. Berat badan penderita
7. Kecepatan metabolisme dan ekskresi obat
8. Dosis toksik juga sangat dipengaruhi oleh apakah digunakan dengan campuran vas
okontriktor atau tidak

2.3 PENGGOLONGAN OBAT ANESTESI LOKAL


Secara kimiawi obat anestesi lokal dibagi dalam dua golongan besar, yaitu golongan ester
dan golongan amide. Perbedaan kimia ini direfleksikan dalam perbedaan tempat metabolisme,
dimana golongan ester terutama dimetabolisme oleh enzim pseudo-kolinesterase di plasma
sedangkan golongan amide terutama melalui degradasi enzimatis di hati.1,2,3,4 Perbedaan ini
juga berkaitan dengan besarnya kemungkinan terjadinya alergi, dimana golongan ester turunan
dari pamino- benzoic acid memiliki frekuensi kecenderungan alergi lebih besar.3 Untuk
kepentingan klinis, anestesi lokaldibedakan berdasarkan potensi dan lama kerjanya menjadi 3
group. Group I meliputi prokain dan kloroprokain yang memiliki potensi lemah dengan lama
kerja singkat. Group II meliputi lidokain, mepivakain dan prilokain yang memiliki potensi dan
lama kerja sedang. Group III meliputi tetrakain, bupivakain dan etidokain yang memiliki potensi
kuat dengan lama kerja panjang.2,3 Anestesi lokal juga dibedakan berdasar pada mula kerjanya.

5
Kloroprokain, lidokain, mepevakain, prilokain dan etidokain memiliki mula kerja yang relatif
cepat. Bupivakain memiliki mula kerja sedang, sedangkan prokain dan tetrakain bermula kerja
lambat.3 Obat anestesi lokal yang lazim dipakai di negara kita untuk golongan ester adalah
prokain, sedangkan golongan amide adalah lidokain dan bupivakain. Secara garis besar ketiga
obat ini dapat dibedakan sebagai berikut :

2.4 HUBUNGAN STRUKTUR AKTIVITAS


Anestesi lokal terdiri dari kelompok lipofilik—biasanya dengan cincin bezene—dibedakan dari
kelompok hidrofilik—biasanya amin tersier— berdasarkan rantai intermediat yang memiliki
cabang ester atau amida. ). Kelompok hidrofilik biasanya amine tersier, seperti dietilamine,
dimana bagian lipofilik biasanya merupakan cincin aromatic tak jenuh, seperti asam
paraaminobenzoat. Bagian lipofilik penting untuk aktivitas obat anestesi, dan secara terapeutik
sangat berguna untuk obat anestesi local yang membutuhkan keseimbangan yang bagus antara
kelarutan lipid dan kelarutan air. Pada hampir semua contoh, ikatan ester (-CO-)
atau amide (-NHC-) menghubungkan rantai hidrokarbon dengan rantai aromatic lipofilik. Sifat
dasar ikatan ini adalah dasar untuk mengklasifikasikan obat yangmenghasilkan blockade
konduksi impuls saraf seperti obat anestesi local ester atau obat anestesi amide (Gambar 2).
Perbedaan penting antara obat anestesi lokal ester dan amide berkaitan dengan tempat
metabolisme dan kemapuan menyebabkan reaksi alergi.

6
Gambar 1. Obat anestesi local terdiri dari bagian
lipofilik dan hidrofilik yang dihubungkan dengan
ikaran rantai hidrokarbon.

Gambar 2. Obat anestesi local ester dan amide.


Mepivacaine, bupivacaine dan ropivacaine adalah
obat khiral karena molekulnya memiliki atom
karbon asimetris.
7
Potensi berkorelasi dengan kelarutan lemak, karena itu merupakan kemampuan anestesi
lokal untuk menembus membran, lingkungan yang hidrofobik. Secara umum, potensi dan
kelarutan lemak meningkat dengan meningkatnya jumlah total atom karbon pada molekul. Onset
dari kerja obat bergantung dari banyak faktor, termasuk kelarutan lemak dan konsentrasi relatif
bentuk larut-lemak tidak-terionisasi (B) dan bentuk larut-air terionisasi (BH+), diekspresikan
oleh pKa. Pengukurannya adalah pH dimana jumlah obat yang terionisasi dan yang tidak
terionisasi sama. Obat dengan kelarutan lemak yang lebih rendah biasanya memiliki onset yang
lebih cepat.
Anestesi lokal dengan pKa yangmendekati pH fisiologis akan memiliki
konsentrasi basa tak-terionisasi lebih tinggi yang dapat melewati membran sel saraf, dan
umumnya memiliki onset yang lebih cepat. Onset dari kerja anestesi local dalam serat saraf yang
terisolasi secara langsung berkorelasi dengan pKa. Onset klinis dari kerja anestesi lokal dengan
pKa yang sama tidak identik. Faktor-faktor lain, seperti kemudahan berdifusi melalui jaringan
ikat, dapat mempengaruhi onset kerja in vivo. Lebih lagi, tidak semua anestesi lokal berubah
menjadi bentuk terionisasi (contoh: benzocaine) anestesi ini kemungkinan beraksi dengan
mekanisme yang bergantian (contoh: memperlebar membran lipid).2,4 Hal yang penting dari
bentuk ionisasi dan tak-terionisasi adalah implikasi klinisnya. Larutan anestesi lokal
dipersiapkan secara komersial dalam bentuk garam hidroklorida yang larut-air (pH 6-7). Karena
epinefrin tidak stabil dalam suasana alkali, maka larutan anestesi local yang tersedia, yang
mengandung epinefrin, dibuat dalam suasana asam (pH 4-5). Sebagai konsekuensi langsung,
sediaan ini memiliki konsentrasi basa bebas yang lebih rendah dan onset yang lebih lambat
dibanding dengan epinefrin yang ditambahkan oleh klinisi saat akan digunakan. Hal yang sama,
rasio basakation ekstraselular diturunkan dan onset dihambat sewaktu anestesi lokal diinjeksi ke
dalam jaringan yang bersifat asam (misal: jaringan yang terinfeksi). Walaupun masih merupakan
kontroversi, beberapa peneliti melaporkan bahwa alkalinisasi larutan anestesi local (biasanya
sediaan komersial, yang mengandung epinefrin) dengan menambahkan sodium bikarbonat
(misal, 1 mL 8,4% sodium bikarbonat dalam tiap 10 mL lidokain) akan mempercepat onset,
memperbaiki kualitas dari blokade dan memperpanjang durasi blokade dengan meningkatkan
jumlah basa bebas yang tersedia.

8
Yang menarik, alkalinisasi juga menurunkan nyeri saat dilakukan infiltrasi pada jaringan. Durasi
kerja umumnya berkorelasi dengan kelarutan lemak. Anestesi lokal dengan kelarutan lemak
tinggi memiliki durasi yang lebih panjang, diperkirakan karena lebih lama dibersihkan dari
dalam darah.

2.5 MEKANISME KERJA


Obat anestesi local mencegah transmisi impuls saraf (blokade konduksi) dengan
menghambat pengiriman ion natrium melalui gerbang ion natrium selektif pada membrane saraf
(Butterworth dan Strichartz, 1990). Gerbang natrium sendiri adalah reseptor spesifik molekul
obat anestesi local. Penyumbaatn gerbang ion yang terbuka dengan molekul obat anestesi local
berkontribusi sedikit sampai hampir keseluruhan dalam inhibisi permeabilitas natrium.
Kegagalan permeabilitas gerbang ion natrium untuk meningkatkan perlambatan kecepatan
depolarisasi seperti ambang batas potensial tidak tercapai sehingga potensial aksi tidak
disebarkan. Obat anestesi local tidak mengubah potensial istirahat transmembran atau ambang
batas potensial.
Lokal anestesi juga memblok kanal kalsium dan potasium dan reseptor Nmethyl-D-
aspartat (NMDA) dengan derajat yang berbeda-beda. Beberapa golongan obat lain, seperti
antidepresan trisiklik (amytriptiline), meperidine, anestesi inhalasi, dan ketamin juga memiliki
efek memblok kanal sodium. Tidak semua serat saraf dipengaruhi sama oleh obat anestesi lokal.
Sensitivitas terhadap blokade ditentukan dari diameter aksonal, derajat mielinisasi, dan berbagai
faktor anatomi dan fisiologi lain. Diameter yang kecil dan banyaknya myelin meningkatkan
sensitivitas terhadap anestesi lokal. Dengan demikian, sensitivitas saraf spinalis terhadap anestesi
lokal: autonom > sensorik > motorik.

2.6 FARMAKOLOGI KLINIS


2.6.1 Farmakokinetik
Karena anestesi lokal biasanya diinjeksikan atau diaplikasikan sangat
dekat dengan lokasi kerja maka farmakokinetik dari obat umumnya lebih dipentingkan tentang
eliminasi dan toksisitas obat dibanding dengan efek klinis yang diharapkan.

9
A. ABSORPSI
Sebagian besar membran mukosa memiliki barier yang lemah terhadap penetrasi anestesi lokal,
sehingga menyebabkan onset kerja yang cepat. Kulit yang utuh membutuhkan anestesi
lokal larut-lemak dengan konsentrasi tinggi untuk menghasilkan efek analgesia. 2 Absorpsi
sitemik dari anestesi lokal yang diinjeksi bergantung pada aliran darah, yang ditentukan dari
beberapa faktor dibawah ini :
1. Lokasi injeksi—laju absorpsi sistemik proporsional dengan vaskularisasi lokasi injeksi :
intravena > trakeal > intercostal > caudal > paraservikal > epidural > pleksus brakhialis >
ischiadikus > subkutaneus.
2. Adanya vasokonstriksi—penambahan epinefrin—atau yang lebih jarang fenilefrin—
menyebabkan vasokonstriksi pada tempat pemberian anestesi. Sebabkan penurunan
absorpsi dan peningkatan pengambilan neuronal, sehingga meningkatkan kualitas
analgesia, memperpanjang durasi, dan meminimalkan efek toksik. Efek vasokonstriksi
yang digunakan biasanya dari obat yang memiliki masa kerja pendek. Epinefrin juga
dapat meningkatkan kualitas analgesia dan memperlama kerja lewat aktivitasnya
terhadap resptor adrenergik.
3. Agen anestesi lokal—anestesi lokal yang terikat kuat dengan jaringan lebih lambat
terjadi absorpsi. Dan agen ini bervariasi dalam vasodilator intrinsik yang dimilikinya.

B. DISTRIBUSI
Distribusi tergantung dari ambilan organ, yang ditentukan oleh faktor-faktor di bawah ini:
1. Perfusi jaringan-organ dengan perfusi jaringan yang tinggi (otak, paru, hepar, ginjal, dan
jantung) bertanggung jawab terhadap ambilan awal yang cepat (fase α), yang diikuti
redistribusi yang lebih lambat (fase β) sampai perfusi jaringan moderat (otot dan saluran
cerna
2. Koefisien partisi jaringan/darahikatan protein plasma yang kuat cenderung
mempertahankan obat anestesi di dalam darah, dimana kelarutan lemak yang tinggi
memfasilitasi ambilan jaringan.

10
3. Massa jaringan—otot merupakan reservoar paling besar untuk anestesi lokal karena
massa dari otot yang besar. Metabolisme dan Ekskresi Metabolisme dan ekskresi dari
local anestesi dibedakan berdasarkan strukturnya :
1. Ester-anestesi lokal ester dominan dimetabolisme oleh pseudokolinesterase
(kolinesterase palsma atau butyrylcholinesterase). Hidrolisa ester sangat cepat, dan
metabolitnya yang larut-air diekskresikan ke dalam urin. Procaine dan benzocaine
dimetabolisme menjadi asam paminobenzoiz (PABA), yang dikaitkan dengan reaksi
alergi. Pasien yang secara genetic memiliki pseudokolinesterase yang abnormal
memiliki resiko intoksikasi, karena metabolism dari ester yang menjadi lambat.
2. Amida-anestesi lokal amida dimetabolisme(N-dealkilasi dan hidroksilasi) oleh enzim
mikrosomal P-450 di hepar. Laju metabolisme amida tergantung dari agent yang
spesifik (prilocine > lidocaine > mepivacaine > ropivacaine > bupivacaine), namun
secara keseluruhan jauh lebih lambat dari hidrolisis ester. Penurunan fungsi hepar
(misal pada sirosis hepatis) atau gangguan alirandarah ke hepar (misal gagal jantung
kongestif, vasopresor, atau blokade reseptor H2) akan menurunkan laju metabolism
dan merupakan predisposisi terjadi intoksikasi sistemik. Sangat sedikit obat yang
diekskresikan tetap oleh ginjal, walaupun metabolitnya bergantung pada bersihan
ginjal.

2.7 KOMPLIKASI OBAT ANESTESI LOKAL

2.7.1 Efek samping local


Pada tempat suntikan, apabila saat penyuntikan tertusuk pembuluh darah yang cukup besar,
atau apabila penderita mendapat terapi anti koagulan atau ada gangguan pembekuan darah, maka
akan dapat timbul hematom. Hematom ini bila terinfeksi akan dapat membentuk abses Apabila
tidak infeksi mungkin saja terbentuk infiltrat dan akan diabsorbsi tanpa meninggalkan bekas.
Tindakan yang perlu adalah konservatif dengan kompres hangat, atau insisi apabila telah terjadi
abses disertai pemberian antibiotika yang sesuai. Apabila suatu organ end arteri dilakukan
anestesi lokal dengan campuran adrenalin, dapat saja terjadi nekrosis yang memerlukan tindakan
nekrotomi, disertai dengan antibiotika yang sesuai.
11
2.7.2 Pengaruh Pada Sistem Organ
Karena blokade kanal sodium mempengaruhi bangkitan aksi potensial di seluruh tubuh,
sehingga bukan hal yang mengejutkan jika anestesi lokal dapat menyebabkan intoksikasi
sistemik.
A. Neurologis
Sistem saraf pusat merupakan bagian yang paling rentan terjadi intoksikasi dari anestesi
lokal dan merupakan sistem yang dimonitoring awal dari gejala overdosis pada pasien yang
sadar. Gejala awal adalah rasa kebas, parestesi lidah, dan pusing. Keluhan sensorik dapat berupa
tinitus, dan penglihatan yang kabur. Tanda eksitasi (kurang istirahat, agitasi, gelisah, paranoid)
sering menunjukkan adanya depresi sistem saraf pusat (misal, bicara tidak jelas/pelo, mudah
mengantuk, dan tidak sadar). Kontraksi otot yang cepat,
kecil dan spontan mengawali adanya kejang tonik-klonik. Biasanya diikuti dengan gagal nafas.
Reaksi eksitasi merupakan hasil dari blokade selektif pada jalur inhibitor. Anestesi lokal dengan
kelarutan lemak tinggi dan pontensi tinggi menyebabkan kejang pada konsentrasi obat lebih
rendah dalam darah disbanding agen anestesi dengan potensi yang lebih rendah. Dengan
menurunkan aliran darah otak dan pemaparan obat, benzodiazepine dan hiperventilasi
meningkatkan batas ambang terjadinya kejang karena anestesi lokal. Thiopental (1-2 mg/kg)
dengan cepat dan tepat menghentikan kejang. Ventilasi dan oksigenasi yang baik harus tetap
dipertahankan. Lidokain intravena (1,5 mg/kg) menurunkan aliran darah otak dan menurunkan
peningkatan tekanan intrakranial yang biasanya timbul padaintubasi pasien dengan penurunan
komplians intrakranial. Lidokain dan prokain infus selama ini digunakan sebagai tambahan
dalam teknik anestesi umum, karena kemampuannya
menurunkan MAC dari anestesi inhalasi sampai 40%. Dosis lidokain berulang 5% dan 0,5%
tetracaine dapat menjadi penyebab dari neurotoksik (sindroma kauda ekuina) setelah dilakukan
infus kontinu melalui keteter bore-kecil pada anestesi spinal. Hal in terjadi mungkin karena
adannya pooling obat di kauda ekuina, yang sebabkan peningkatan konsentrasi obat dan
kerusakan saraf yang permanen. Penelitian pada hewan menunjukkan
neurotoksisitas pada pemberian berulang melalui intratekal bahwa lidokain = tetracaine >
bupivacaine > ropivacaine.

12
Gejala neurologis transien, yang terdiri dari disestesia, nyeri terbakar, dan nyeri pada ekstremitas
dan bokong pernah dilaporkan setelah dilakukan anestesi spinal dengan berbagai agent anestesi.
Penyebab dari gejala ini dikaitkan dengan adanya iritasi pada radiks, dan gejala ini biasanya
menghilang dalam 1 minggu. Faktor resikonya adalah penggunaan lidokain, posisi litotomi,
obesitas, dan kondisi pasien.

B. Respirasi
Lidokain mendepresi respon hipoksia.
Paralisis dari nervus interkostalis dan nervus phrenicus atau depresi dari pusat respirasi dapat
mengakibatkan apneu setelah pemaparan langsung anestesi lokal. Anestesi lokal merelaksasikan
ototpolos bronkhus. Lidokain intravena (1,5mg.kg) terkadang mungkin efektif untuk memblok
refleks bronkokonstriksi saat dilakukan intubasi. Lidokain diberikan sebagai aerosol dapat
sebabkan bronkospasme pada beberapa pasien yang menderita penyakit saluran nafas reaktif.

C. Kardiovaskular
Umumnya, semua anestesi local mendepresi automatisasi miokard (depolarisasi spontan
fase IV) dan menurunkan durasi dari periode refraktori.Kontraktilitas miokard dan
kecepatankonduksi juga terdepresi dalamkonsentrasi yang lebih tinggi. Pengaruhini
menyebabkan perubahan membran ototjantung dan inhibisi sistem saraf autonom.Semua anestesi
lokal, kecuali cocaine,merelaksasikan otot polos, yang sebabkan vasodilatasi arteriolar.
Kombinasi yangterjadi, yaitu bradikardi, blokade jantung, dan hipotensi dapat
mengkulminasiterjadinya henti jantung. Intoksikasi pada jantung mayor biasanya
membutuhkankonsentrasi tiga kali lipat dari konsentrasi yang dapat sebabkan kejang.
Injeksiintravaskular bupivicaine yang tidak disengaja selama anestesi regionalmengakibatkan
reaksi kardiotoksik yangberat, termasuk hipotensi, blok atrioventrikular, irama idioventrikular
dan aritmia yang dapat mengancam nyawa seperti takikardi ventrikular dan fibrilasi. Kehamilan,
hipoksemia, dan adisosis respiratorik merupakan factor predisposisi. Ropivacaine memiliki
banyak kesamaan dalam psikokimia dengan bupivacaine kecuali bahwa sebagian dari
ropivacaineadalah larut-lemak.

13
Waktu onset dan durasi kerja sama, namun ropivacaine memblok motorik lebih rendah,
yangsebabkan potensi lebih rendah, ditunjukkan dalam beberapa penelitian.
Yang paling menjadi perhatian, ropivacaine memiliki index terapi yang besar karena 70% lebih
sedikit menyebabkan intoksikasi kardia dibandingkan dengan bupivacaine. Ropivacain dikatakan
memiliki toleransi terhadap sistem saraf pusat yang lebih besar. Keamanan dari ropivacaine ini
mungkin disebabkan karena kelarutan lemaknya yang rendah atau availibilitasnya sebagai isomer
S(-) yang murni, yang bertolak belakang dengan struktur dari bupivacaine. Levobupivacaine,
merupakan isomer S(-) dari bupivacain, yang tidak lagi tersedia di Amerika Serikat, dilaporkan
memiliki efek samping terhadap cardiovaskular dan serebral yang lebih kecil dari pada struktur
campuran; penelitian mengatakan bahwa efeknya terhadap kardiovaskular hamper menyerupai
efek ropivacaine.

D. Imunologi
Reaksi hipersensitivitas murni terhadap agent anestesi lokal—yang bukan intoksikasi
sistemik karena konsentrasi plasma yang berlebihan—merupakan hal yang jarang. Ester
memiliki kecenderungan menginduksi reaksi alergi karena adanya derivat ester yaitu asam
paminobenzoic, yang merupakan suatu alergen. Sediaan komersial multidosis dari
amida biasanya mengandung methylparaben, yang memiliki struktur kimia mirip dengan PABA.
Bahantambahan ini yang bertanggung jawab terhadap sebagian besar reaksi alergi.
Anestesi lokal dapat membantumengurangi respon inflamasi karena pembedahan dengan cara
menghambat pengaruh asam lysophosphatidic dalam mengaktivasi neutrofil.

E. Muskuloskeletal
Saat diinjeksikan langsung ke dalam otot skeletal (trigger-point injeksi), anestesi lokal
adalah miotoksik (bupivacaine >lidocaine > procaine). Secara histologi, hiperkontraksi miofibril
menyebabkan degenarasi litik, edema, dan nekrosis. Regenerasi biasanya timbul setelah 3-4
minggu. Steroid tambahan atau injeksi epinefrin memperburuk nekrosis otot. Data penelitian
hewan menunjukkan bahwa ropivacaine menghasilkan kerusakan otot yang tidak terlalu berat
dibanding bupivacaine.

14
F. Hematologi
Telah dibuktikan bahwa lidokain menurunkan koagulasi (mencegah trombosis dan
menurunkan agregasi platelet) dan meningkatkan fibrinolisis dalam darah yang diukur dengan
thromboelastography. Pengaruh ini mungkin berhubungan dengan penurunan efikasi autolog
epidural setelah pemberian anestesi lokal dan insidensi terjadinya emboli yang lebih rendah pada
pasien yang mendapatkan anestesi epidural.

2.8 INTERAKSI OBAT


Anestesi lokal meningkatkan potensi blokade otot non-depolarisasi. Suksinil kolin dan
anestesi lokal ester bergantungpada pseudokolinesterase untuk metabolismenya. Pemberian
bersamaan dapat meningkatkan potensi masingmasing obat. Dibucaine, anestesi lokal amida,
menghambat pseudokolinesterase dan digunakan untuk mendeteksi kelainan genetik enzim.
Inhibitor pseudokolinaesterase dapat menyebaban penurunan metabolisme dari anestesi lokal
ester. Cimetidine dan propanolol menurunkan aliran darah hepatik dan bersihan lidokain. Level
lidokain yang lebih tinggi dalam darah meningkatkan potensi intoksikasi. Opioid (misal, fentanil,
morfin) dan agonis adrenergik α2 (contoh: epinefrin, klonidin) meningkatkan potensi penghilang
rasa nyeri anestesi lokal. Kloroprokain epidural dapat mempengaruhi
kerja analgesik dari morfin intraspinal

15
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Anestesi local menghambat implus konduksi secara revesibel sepanjang akson saraf dan
membrane eksitabel lainnya yang mengunakan saluran natrium sebagai alat utama pembangkit
potensi aksi. Secara klinik, kerja ini dimamfaatkan untuk menghambat sensasi sakit dari-atau
impuls vasokontstriktor simpatis ke-bagian tubuh tertentu. Kokain, obat anestesi pertama, yang
diisolasi oleh niemann pada tahun 1860.

Kimiawi
Umumnya obat anestesis lokal terdiri dari sebuah gugus lipolifit (biasanya sebuah cincin
aromatik) yang diberikatan dengan sebuah rantai perantara (umumnya termasuk suatu ester atau
sebuah amida) yang terikat pada satu gugus terionisasi. Aktivitas optimal memerlukan
keseimbangan yang tepat antara gugus lipofilik dan kekuatan hidrofilik.

Farmakokinetik
Anestesi lokal biasanya diberikan secara suntikan ke dalam daerah serabut saraf yang
akan menghamba. Oleh karena itu, penyerapan dan distribusi tidak terlalu penting dalam
memantau mula kerja efek dalam menentukan mula kerja anestesi dan halnya mula kerja
anestesis umum terhadap SPP dan toksisitasnya pada jantung.

Farmakokinetik
Anestesi lokal biasanya diberikan secara suntikan ke dalam daerah serabut saraf yang
akan menghamba. Oleh karena itu, penyerapan dan distribusi tidak terlalu penting dalam
memantau

3.2 SARAN
Sebaiknya pemilihan obat anestesi local maupun umum menyesuaikan dengankondisi
pasien (berat badan, penyakit yang diderita), jenis obat anestesi dan efek sampingnya

16
DAPTAR PUSTAKA
http://ejournal.undip.ac.id/index.php/janesti/article/view/6454
https://www.academia.edu/5420364/Jurnal_Anestesiologi_Indonesia
https://www.ejournal.unsrat.ac.id/index.php/egigi/