Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PENGARUH TERJADINYA PRODUK HILANG DALAM PROSES


TERHADAP PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI

Disusun Oleh :
Kelompok III
Nama : 1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Prodi :
Semester :

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE)


BUKIT ZAITUN SORONG PAPUA BARAT
TAHUN 2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Umumnya setiap perusahaan dalam menjalankan aktivitas usahanya selalu
menginginkan supaya usaha berhasil dalam mencapai tujuan yang ditetapkan, yaitu
memperoleh laba yang maksimal. Untuk mencapai tujuan tersebut , perusahaan harus
dapat memperoleh dan memanfaatkan sumber ekonomi yang di milikinya secara efisien.
Tujuan ekonomi perusahaan adalah meningkatkan pertumbuhan dan pangsa pasar yang
luas serta kelangsungan perusahaandalam jangka panjang.
Akuntansi secara garis besar di bagi menjadi dua tipe, yaitu akuntansi keuangan
dan akuntansi manajemen. Dua tipe akuntansi ini mempunyai fungsi sebagai penyedia
informasi keuangan yang dapat bermanfaat bagi seseorang untuk pengambilan keputusan
bagi suatu perusahaan. Akuntansi biaya merupakan bagian dari akuntansi keuangan dan
akuntansi manjemen. Akuntansi biaya digunakan oleh perusahaan industri/manufaktur
(Pabrikan) maupun non manufaktur
Perusahaan industri (Pabrikan) mempunyai aktivitas utama, yaitu membeli barang
untuk diproses lebih lanjut untuk menjadi produk jadi (Finish Good), kemudian produk
jadi tersebut di jual. Dalam menentukan harga jual perusahaan harus menetapkan biaya
produksi (Cost of Production) yang terdiri dari :
1. Biaya bahan baku,
2. Upah tenaga kerja, dan
3. Biaya produksi tidak langsung
Cara pengumpulan biaya produksi tergantung pada sifat produk yang diproses,
karena pembuatan produk yang ada didasarkan pada pesanan tertentu jadi jenis dan
bentuk produk disesuaikan dengan spesifikasi pesanan konsumen.
Selain berdasarkan pesanan, pembuatan produk ada yang didasarkan pada
permintaan pasar. Dalam metode ini, biaya produksi dikumpulkan untuk setiap proses
selama jangka waktu tertentu. Pada akhir proses diadakan klasifikasi produksi yaitu
produk jadi dan produk masih dalam proses.
Pada proses produksi, dalam mengelola bahan baku atau bahan setengah jadi
menjadi produk jadi sering terjadi kehilangan produk, baik pada awal proses atau akhir
proses. Hal ini dapat terjadi karena pemborosan, kebocoran, penyusutan atau faktor lain.
Produk hilang ini dapat mengakibatkan kerugian baik pada batas normal atau abnormal.
Kerugian dianggap normal apabila kerugian tidak dapat dihindarkan sehingga dianggap
berada dalam batas toleransi yang wajar. Kerugian dianggap abnormal apabila kerugian
itu seharusnya dapat dihindarkan dan telah diperkirakan tidak akan terjadi dalam kodisi
operasi.
Berdasarkan dari uraian di atas, penulis tertarik untuk mengambil judul “Pengaruh
Produk Hilang Pada Akhir Proses Terhadap Perhitungan Harga Pokok Produksi”.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, permasalahan yang akan dibahas adalah
“Bagaimana Pengaruh Terjadinya Produk Hilang dalam Proses Terhadap Perhitungan
Harga Pokok Produksi”.

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh produk hilang pada akhir
proses terhadap perhitungan harga pokok produksi.
BAB II
KERANGKA TEORI

A. Pengertian Produk Hilang


Produk dapat hilang pada awal proses, sepanjang proses atau akhir proses. Untuk
kepentingan perhitungan harga pokok per satuan, produk yang hilang sepanjang proses
harus dapat ditentukan pada tingkat penyelesaian berapa produk yang hilang tersebut
terjadi. Atau untuk menyederhanakan perhitungan harga pokok produksi per satuan,
produk yang hilang sepanjang proses diperlakukan sebagai produk yang hilang pada
awal atau akhir proses.

B. Metode Perhitungan Produk Hilang


Produk yang hilang pada akhir proses, menurut Mulyadi (2000: 93) sudah ikut
menyerap biaya produksi yang dikeluarkan dalam departemen yang bersangkutan,
sehingga harus diperhitungkan dalam penentuan unit ekuivalen produk yang dihasilkan
oleh departemen tersebut. Baik dalam departemen produksi pertama atau departemen
produksi setelah departemen produksi pertama, harga pokok produk yang hilang pada
akhir proses harus dihitung dan harga pokok ini diperlakukan sebagai tambahan harga
pokok produk selesai yang ditransfer ke dapartemen produksi berikutnya ke gudang.
Kondisi ini akan mengakibatkan harga pokok per satuan selasai yang ditransfer ke
dapartemen berikutnya atau ke gudang menjadi lebih tinggi.
Selama proses produksi berlangsung, ada kemungkinan terjadi produk hilang yaitu
apabila jumlah unit yang dimasukkan dalam proses tidak sesuai dengan yang dihasilkan.
Misalnya: Masuk proses 1000 unit, jadi 900 unit dan masih dalam proses 50 unit. Maka
ada yang hilang 50 unit.
Produk yang hilang dalam proses didalam laporan harga pokok produksi harus
disertakan sebagai pertanggungjawaban (kapan hilangnya).
Untuk mempermudah penyusunan laporan harga pokok produksi, ada 2 asumsi
yang dipakai:
1. Produk Hilang pada Awal Proses
Untuk produk hilang pada awal proses, maka dalam penyusunan laporan Harga
Pokok Produksi:
a. Unit produk yang hilang tidak dibebani harga pokok karena belum menikmati
biaya produksi.
b. Tidak diperhitungkan dalam perhitungan unit ekuivalen
c. Untuk yang hilang di departemen berikutnya, maka harus ada penyesuaian biaya
per unit pada departemen berikutnya tersebut.
Contoh:
PT. ABC mengolah produknya melalui dua departemen Produksi I dan II. Kegiatan
selama bulan Februari th 2000 adalah sebagai berikut:
Dept. I Dept. II
Masuk proses: 1.500 unit 1.250 unit
 Selesai 1.250 unit 1.100 unit
 Dalam proses 100 unit 100 unit
 Hilang awal proses 150 unit 50 unit
BBB Rp. 1.485.000 -
BTKL Rp. 2.640.000 Rp. 2.052.000
BOP Rp. 1.170.000 Rp. 1.044.000
Tk. Penyl BDP  BB 100% -
TK 70% 40%
BOP 50% 60%
Diminta, buat laporan harga pokok produksi Dept. I & Dept. II
Jawab:
1. Perhitungan harga pokok produksi per unit Dept. I
Biaya Jumlah Ekuivalen Unit HP per Unit
BBB Rp.1.485.000 1.250 +(100 x 100%) = 1.350 Rp. 1.100
BTKL Rp.2.640.000 1.250 +(100 x 70%) = 1.320 Rp. 2.000
BOP Rp.1.170.000 1.250 +(100 x 50%) = 1.300 Rp. 900
Jml Rp.5.295.000 Rp. 4.000
2. Perhitungan harga pokok barang jadi Dept. I yang ditransfer ke Dept. II &
barang dalam proses Dept. I
HP Brg jadi Dept. I yang ditransfer ke Dept. II
1.250 x Rp. 4.000 Rp.5.000.000
H.P Barang dalam proses Dept. I
- BBB = 100 x 100% x Rp. 1.100 = Rp.110.000
- BTKL = 100 x 70% x Rp. 2.000 = Rp.140.000

- BOP = 100 x 50% x Rp. 900 = Rp. 45.000 Rp. 295.000


Jumlah biaya produksi bulan Februari Rp. 5.295.000
3. Laporan H.P Produksi Dept. I
PT. ABC
Lap. H.P Produksi Dept. I
Bln Februari th 2.000

Data Produksi
- Masuk proses 1.500 unit
- Barang jadi ditransfer ke Dept. II 1.250 unit
- Barang dalam proses 100 unit
- Hilang (awal proses) 150 unit
1.500 unit
Pembebanan Biaya Dept. I
Biaya Jumlah Per Unit
- BBB Rp. 1.485.000 Rp. 1.100
- BTKL Rp. 2.640.000 Rp. 2.000
- BOP Rp. 1.170.000 Rp. 900
Jumlah Rp. 5.295.000 Rp. 4.000

Perhitungan Biaya
HP Brg jadi Dept. I yang ditransfer ke Dept. II
1.250 x Rp. 4.000 Rp. 5.000.000
H.P Barang dalam proses Dept. I
- BBB = 100 x 100% x Rp. 1.100= Rp. 110.000
- BTKL = 100 x 70% x Rp. 2.000 = Rp. 140.000
- BOP = 100 x 50% x Rp. 900 = Rp. 45.000 Rp. 295.000
Jumlah biaya produksi Dept. I Rp. 5.295.000

DEPT. II
1. Penyesuaian perhitungan H.P per unit produk yang berasal dari Dept. I
H.P per unit produk yang berasal dari Dept. I
Rp. 5.000.000 : 1.250 Rp.4.000
H.P per unit produk yang berasal dari Dept. I
Setelah adanya produk yang berasal dari Dept. I
Sebanyak 50 unit adalah Rp. 5.000.000: (1.250 – 50) Rp.4.166,67
Penysn H.P per unit produk yang berasal dari Dept. I Rp. 166,67
2. Perhitungan harga pokok produksi per unit Dept. II (yang ditambah)
Jenis bi Jumlah Ek. Unit H.P per unit
- BTKL Rp. 2.052.000 1.100 + (100 x 40%) = 1.140 Rp. 1.800
- BOP Rp. 1.044.000 1.100 + (100 x 60%) = 1.160 Rp. 900
Jumlah Rp. 3.096.000 Rp.2.700
3. Perhitungan H.P barang jadi dari Dept. II yang ditransfer ke gudang & H.P
barang dalam proses akhir periode Dept. II
Harga barang jadi yang ditransfer ke gudang
- H.P dari Dept. I : Rp. 4.166,67 x 1.100 Rp. 4.583.337
- Ditambah H.P di Dept. II : Rp. 2700 x 1.100 Rp. 2.970.000
H.P barang jadi Rp. 7.553.337
H.P barang dalam proses Dept. II
- H.P dari Dept. I : 100 x Rp. 4.166,67 = Rp. 416.667
- Ditambah biaya di Dept. II
BTKL = 100 x 40% x Rp. 1.800 = Rp. 72.000
BOP = 100 x 60% x Rp. 900 = Rp. 54.000 Rp. 542.667
Jml biaya komulatif Dept. II Rp. 8.096.004
4. Laporan H.P Produksi Dept. II
PT. ABC
Lap. H.P Produksi Dept. II
Data Produksi
- Menerima dari Dept. I 1.250 unit
- Ditransfer ke gudang 1.100 unit
- BDP akhir 100 unit
- Hilang (awal proses) 50 unit
1.250 unit
Biaya Yang Dibebankan di Dept. II
Biaya Jumlah Per Unit
- H.P dari Dept. I (1250) Rp. 5.000.000 Rp. 4.000
- Penyusn. H.P/unit karena
adanya prod. hilang pada
awal proses Rp. 166,67
Rp. 5.000.000 Rp.4.166,67
Biaya yang ditambah di Dept. II
- BTKL Rp. 2.052.000 Rp. 1.800
- BOP Rp. 1.044.000 Rp. 900
Jumlah Rp. 8.096.000 Rp. 6.866,67
Perhitungan Biaya
- H.P barang jadi yang ditransfer ke gudang
Rp. 6.866,67 x 1.100 Rp. 7.553.337
- H.P barang dalam proses akhir
H.P dari Dept. I : 100 x Rp. 4.166,67 =Rp 416.667
- Biaya tambahan di Dept. II
BTKL = 100 x 40% x Rp. 1800 = Rp 72.000
BOP = 100 x 60% x Rp. 900 = Rp 54.000 Rp. 542.667
Jumlah biaya komulatif di Dept. II Rp. 8.096.004

2. Produk Hilang Akhir Proses


Asumsi : a. Dianggap sudah menikmati biaya produksi
b. Diperhitungkan sebagai bagian dari unit ekuivalen
c. Unit yang hilang akan menjadi beban produk jadi
d. Tidak diperlukan adjustment
Contoh : PT. ABC mengolah produknya melalui dua departemen Produksi I dan II.
Kegiatan selama bulan Februari th 2000 adalah sebagai berikut:
Dept. I Dept. II
Masuk proses 1.500 unit 1.250 unit
Selesai 1.250 unit 1.100 unit
Dalam proses 100 unit 100 unit
Hilang akhir proses 150 unit 50 unit
BBB Rp. 1.485.000 -
BTKL Rp. 2.640.000 Rp. 2.052.000
BOP Rp. 1.170.000 Rp. 1.044.000
Tk. Penyl BDP  BB 100% -
TK 70% 40%
BOP 50% 60%
Diminta, buat laporan harga pokok produksi Dept. I & Dept. II
Jawab :
1. Perhitungan harga pokok produksi per unit
Biaya Jumlah(Rp) Ekuivalen Unit HP/Unit
BBB 1.485.000 1.250 + (100x100%) + 150 = 1.500 990
BTKL 2.640.000 1.250 + (100x70%) + 150 = 1.470 1.795,92
BOP 1.170.000 1.250 + (100x50%) + 150 = 1.450 900,90
Jumlah 5.295.000 3.592,82
2. Perkiraan harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Dept. II dan BDP
H.P barang jadi yang ditransfer ke Dept. II
1.250 x Rp. 3.592,82 = Rp. 4.491.025
Penyesuaian harga pokok produk hilang akhir proses
150 x Rp. 3.592,82 = Rp. 538.923
H.P produk selesai setelah disesuaikan :
1250 x Rp. 4.023,95 = Rp. 5.029.948
H.P BDP akhir periode :
- BBB : 100 x 100% x Rp. 990 = Rp. 99.000
- BTKL: 100 x 70% x Rp. 1.795,92 = Rp. 125.714,4
- BOP : 100 x 50% x Rp. 806,90 = Rp. 40.345 = Rp. 265.059,4
= Rp. 5.295.007,4
3.
PT. ABC
Lap. H.P Produksi Dept. II
Data Produksi
Masuk proses 1.500 unit
Produk jadi yang ditransfer ke Dep. II 1.250 unit
BDP akhir bulan 100 unit
Produk hilang akhir proses 150 unit
Jadi produk yang dihasilkan Dept. I 1.500 unit

Biaya Yang Dibebankan di Dept. II


Jenis Biaya Jumlah Per Unit
- BBB Rp. 1.485.000 Rp. 990
- BTKL Rp. 2.640.000 Rp. 1.795,92
- BOP Rp. 1.170.000 Rp. 806,90
Jumlah Rp. 5.295.000 Rp. 3.592,82

Perhitungan Biaya
H.P produk selesai yang ditransfer ke Dept. II
1.250 x Rp. 3.592,82 = Rp. 4.491.025
Penyesuaian H.P produk hilang akhir produk
150 x Rp. 3.592,82 = Rp. 538.923
H.P produk selesai yang ditransfer ke Dept. II = Rp. 5.029.948
(1.250 x 4.023,95)
H.P produk BDP akhir = BBB Rp. 99.000
= BTK Rp.125.714,4
= BOP Rp. 40.345 Rp. 265.054,4
Jumlah produksi Dept. I Rp.5.295.007,4

1. Perhitungan H.P per unit Dept. II


Biaya Jumlah(Rp) Ekuivalen Unit HP/Unit
BBB 2.052.000 1.100 + (100 x 40%) + 50 = 1.190 Rp 1.724,37
BOP 1.044.000 1.100 + (100 x 60%) + 50 = 1.210 Rp 862,81
Jumlah 3.096.000 Rp 2.587,18
2. Perhitungan H.P produk selesai yang ditransfer ke gudang dan BDP akhir
H.P produk selesai yang ditransfer ke gudang
H.P dari Dept. I = Rp. 4.023,95 x 1.100 Rp. 4.426.345
H.P yang ditambah di Dept. II : Rp. 2.587,18 x 1.100 Rp. 2.845.898
H.P produk hilang akhir proses
50 x (Rp. 4.023,95 + Rp. 2.587,18) Rp. 330.556,5
H.P produk selesai yang ditransfer ke gudang Rp. 7.602.799,5
H.P persediaan BDP akhir
H.P dari Dept. I : 100 x Rp. 4.023,95 = Rp. 402.395
Biaya tambahan Dept. II
BTKL : 100 x 40% x Rp. 1.724,37 = Rp. 68.975
BOP : 100 x 60% x Rp. 862,81 = Rp. 51.768,6 = Rp. 523.138,6
Jumlah biaya produksi di Dept. II =Rp. 8.125.938,1

3. PT. ABC
Lap. H.P Produksi Dept. II
Data Produksi
Diterima dari Dept. II 1.250 unit
Produk jadi yang ditransfer ke gudang 1.100 unit
BDP akhir 100 unit
Produk hilang akhir proses 50 unit
1.250 unit
Biaya Yang Dibebankan di Dept. II
Keterangan Jumlah Per Unit
H.P dari Dept. I (1.250) Rp. 5.029.948 Rp. 4.023,95
Biaya tambah di Dept. II
- BTKL Rp. 2.052.000 Rp. 1.724,37
- BOP Rp. 1.044.000 Rp. 862,81
Jumlah Rp. 8.125.948 Rp. 6.611,13
Perhitungan Biaya
H.P barang jadi yang ditransfer ke gudang
1.100 x Rp. 6.611,13 = Rp. 7.272.243
H.P produk hilang 50 x Rp. 6.611,13 = Rp. 330.556,5
H.P BDP akhir :
- H.P dari Dept. I = Rp. 4.023,95 x 100= Rp. 402.395
- Biaya tambah di Dept. II
BTKL = Rp. 68.975
BOP = Rp. 51.768,6= Rp. 523.138,6
Jumlah biaya produksi di Dept. II = Rp. 8.125.938,1
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari uraian yang telah dipaparkan pada bab-bab terdahulu, maka dapat
disimpulkan bahwa :
1. Dalam menentukan harga pokok proses perlu diperhitungkan terlebih dahulu biaya
produksi per satuan produk yang dihasilkan oleh suatu departemen. Untuk
menghitung biaya produksi per satuan produk yang dihasilkan suatu departemen,
perlu ditentukan unit ekuivalensi.
2. Produk hilang pada akhir proses akan sangat mempengaruhi perhitungan hanga pokok
produksi, karena bahan baku awal, upah dan biaya tidak langsung yang dihasilkan dari
proses produksi tersebut tidak sesuai dengan jumlah unit yang dianggarkan. Akibatnya
antara biaya dan manfaat yang terjadi, lebih besar biaya.
3. Pengaruh produk hilang pada akhir proses terhadap perhitungan harga pokok produk
adalah dapat mengakibatkan harga pokok per satuan produk selesai yang ditransfer ke
departemen berikutnya atau ke gudang menjadi lebih tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Carter dan Usry. 2002. Akuntansi Biaya. Edisi revisi ke-13 jilid ke-1. penerbit Salemba
Empat, Jakarta.

Mulyadi, 2000, Akuntansi Biaya, Edisi ke-5, Penerbit Aditya Media, Yogyakarta.

Rayburn, Micheal, 1999, Akuntansi Biaya, Jilid 1, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Usry, Milton F, 1991, Akuntansi Biaya, Edisi ke-10, Penerbit Erlangga, Jakarta.