Anda di halaman 1dari 69

 

U
UNIVERSI
ITAS IND
DONESIA

HUBUNG
GAN WAR
RNA GIG
GI INSISIF
F SENTRA
AL RAHA
ANG ATA
AS
DENGAN USIIA, JENIS KELAMIIN DAN W
WARNA KULIT
K
(Analisis Value Menggunakaan Spektroofotometerr)

TESIS

HEN
NNY SUSA
ANTY

1
100.6785.6
641

F
FAKULTA S KEDOKT
TERAN GIG
GI
PROGRAM
M PENDIDIIKAN DOK
KTER GIGII SPESIALIIS
D
DEPARTEM
MEN PROS
STODONSIIA
JAKARTA
A
JUNI 2014
4

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


U
UNIVERSI
ITAS IND
DONESIA
A

HUBUN
NGAN WA
ARNA GIIGI INSIS
SIF SENTR
RAL RAH
HANG
ATAS
S DENGAN USIA, JJENIS KE
ELAMIN DAN
D WAR
RNA
KULIT
(A
Analisis Value
V Menggunakan
n Spektroffotometer))

TESIS
Diajuka
an sebagai salah
s satu syyarat untuk
k memperolleh gelar Sp
pesialis
Prostodonsiaa

HALA
AMAN JUD
DUL 
HENN
NY SUSAN
NTY
1000.6785.641

FA
AKULTAS KEDOKTE
ERAN GIGI
PROGRAM
P PENDIDIK
KAN DOKT
TER GIGI S
SPESIALIS
S
DE
EPARTEM
MEN PROST
TODONSIA
A
JJAKARTA
J
JUNI 2014

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014
Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014
 
 

KATA PENGANTAR 
 

Hanya oleh kasih dan karuniaMu, penulis dapat menyelesaikan tesis ini serta
seluruh persyaratan untuk menyelesaikan program pendidikan dokter gigi
spesialis dibidang prostodonsia. Sekalipun tesis ini ditulis dalam waktu yang
cukup singkat, tetapi penulis belajar dan mendapatkan banyak hal baru yang
nantinya kelak akan berguna bagi penulis baik sebagai profesional maupun
manusia biasa. Penulisan tesis ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu
syarat untuk menyelesaikan program pendidikan dokter gigi spesialis bagian
Prostodonsia di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Penulis
menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, saya tidak
akan dapat menyelesaikan penulisan tesis ini dengan baik. Untuk itu, pada
kesempatan ini Penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada :
1. drg. Farisza Gita, Sp. Pros (K) sebagai pembimbing pertama, Ketua Program
Studi spesialis Prostodonsia dan Pembimbing Akademis yang dengan
kesabaran selalu memberikan motivasi serta meluangkan waktu untuk
membimbing penulisan tesis ini dan yang membantu penulis dalam
menyelesaikan tugas akademis sehingga dapat menyelesaikan dengan baik.
2. Prof. Dr.Lindawati Kusdhany, drg., Sp. Pros (K) sebagai pembimbing kedua
dan pembimbing metodelogi penulisan dan analisa statistik yang telah
membimbing, memotivasi serta sabar dalam membimbing penulisan tesis ini.
3. drg. Roselani W. Odang, Sp. Pros (K) sebagai ketua tim penguji yang telah
memberikan pengarahan, kritik dan saran untuk memperbaiki dan
mengembangkan tesis ini.
4. drg.Chaidar Masulili, Sp. Pros (K) sebagai anggota tim penguji yang telah
memberikan pengarahan, kritik dan tanggapan untuk memperbaiki dan
mengembangkan tesis ini.

iv 
 
 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 

5. drg. Muslita Indrasari, M.Kes, Sp. Pros (K) sebagai Kepala Departemen
Prostodonsia FKG UI dan anggota tim penguji yang memberikan arahan,
tanggapan dan kritik untuk menyempurnakan hasil tesis ini.
6. drg. Henni Koesmaningati, Sp. Pros (K) sebagai Sekretaris Departemen
Prostodonsia FKG UI.
7. drg. Sitti Fardaniah, Sp. Pros (K) yang menyemangati penulis selama
mengikuti Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Prostodonsia.
8. Seluruh staf pengajar Departemen Prostodonsia FKG UI yang tidak dapat
disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam melaksanakan studi, baik
dalam membuka wawasan maupun pengenalan teori dan teknik dalam masa
pendidikan spesialis prostodonsia yang penulis jalani.
9. Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia yang telah
memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti Program Pendidikan
Dokter Gigi Spesialis Prostodonsia.
10. Rekan-rekan PPDGS Prostodonsia angkatan 2010 : Ami, Anggia, Astari,
Pinta, David, Dony, Siwan, dan Syahrial yang telah menyemangati, membantu
penulis selama menjalankan pendidikan.
11. Kepala Perpustakaan FKG UI beserta seluruh karyawan yang telah membantu
mendapatkan kepustakaan yang dibutuhkan dalam penulisan tesis serta
mengizinkan dalam menggunakan fasilitas perpustakaan.
12. Seluruh anggota staf dan klinik Prostodonsia, yaitu pak Suroto, Bapak Rapin,
mas Jarot, mbak Titin serta Mas Fadil yang telah membantu selama
menjalankan pendidikan.
13. Papa, Mama, yang tercinta Rene dan Jessica, Reni, Chandra, Ferdi, Gina, dan
keponakan Fei dan Stefy yang telah memberikan cinta, dukungan, kesabaran,
serta doa yang tulus dalam kehidupan penulis selama ini sehingga dapat
menyelesaikan tesis dan pendidikan.
14. Rekan klinik Eric, Arie, Monique, Dita, Ika, Devi, Sari, Zai, Enno, Ina, Fahmi,
Riri yang selalu menyemangati dan mendoakan penulis selama menjalankan
pendidikan.
15. Ms. Felicia Kor, Bu Susyana Suwadie dan tim M3i yang telah mendukung
penulis untuk menjalankan progam pendidikan spesialis.


 
 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 

Dalam kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
tidak dapat disebutkan satu persatu.
Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa membalas kebaikan
semua pihak yang membantu. Penulis berharap semoga tesis ini dapat menjadi
berguna bagi ilmu kedokteran gigi khususnya dalam bidang Prostodonsia. Dengan
demikian kita sebagai profesi dokter gigi dapat lebih meningkat hasil perawatan.

Jakarta, 3 Juni 2014

Henny Susanty

vi 
 
 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014
 
 

ABSTRAK 
 

Nama : Henny Susanty


Program studi : Prostodonsia
Judul : Hubungan Warna Gigi Insisif Sentral Rahang Atas dengan Usia,
Jenis Kelamin dan Warna Kulit (Analisis Value Menggunakan
Spektrofotometer)

Latar belakang: Meningkatnya kebutuhan estetik pasien edentulous terutama


untuk mendapatkan hasil warna elemen gigi tiruan yang akurat merupakan suatu
tantangan bagi dokter gigi, khususnya prosthodontis. Namun belum ada data
mengenai ketiga gigi anterior untuk pemilihan warna gigi yang lebih estetis.
Terbatasnya informasi tentang penentuan warna gigi berdasarkan usia, jenis
kelamin dan warna kulit menyulitkan untuk memilih warna elemen gigi tiruan
pada pasien yang tidak bergigi.
Tujuan: Menganalisis perbedaan warna antara ketiga geligi anterior atas dan
menganalisis hubungan warna gigi insisif sentral rahang atas dengan kelompok
usia, jenis kelamin dan warna kulit
Metode: Cross sectional pada 84 subjek dengan penentuan warna gigi
menggunakan spektrofotometer pada gigi insisif sentral, insisif lateral dan kaninus
rahang atas. Warna kulit dicocokkan dengan Wardah compact shade guide
powder sesuai klasifikasi warna kulit Fitzpatrick.
Hasil: Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan terdapat perbedaan warna yang
bermakna antara gigi insisif sentral, insisif lateral dan kaninus (p < 0,05). Hasil
Uji Chi-Square mendapatkan hasil yang bermakna warna gigi berdasarkan usia (p
< 0,05) namun tidak bermakna pada perbedaan jenis kelamin dan warna kulit (p >
0,05).
Kesimpulan: Terdapat perbedaan warna antara ketiga geligi anterior atas. Faktor
usia mempengaruhi warna gigi namun jenis kelamin dan warna kulit tidak
mempengaruhi warna gigi.

Kata kunci: Warna gigi, spektrofotometer, usia, jenis kelamin, warna kulit
   

viii 
Universitas Indonesia 
 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 

ABSTRACT 
 

Name : Henny Susanty


Department : Prosthodontic
Title : Relationship between Shades of Maxillary Central Incisor with
Age, Gender and Skin Tone (Spectrophotometry value
measurement)
 

Background: Esthetic demands for fully edentulous patients to get a natural


tooth colour of denture treatment has been increasing and become a challenge for
dentist, especially prosthodontist There is presently no available data about
anterior maxillary tooth shades and limited information in relationship between
tooth shades with age, gender and skin tone has made difficulties for edentulous
patients on their complete denture.
Objective: To analyze the shade differences of maxillary anterior teeth and also
to analyze the relationship between shades of maxillary central incisor with age,
gender and skin tone.
Methods: Cross sectional study was performed towards 84 subjects using
spectrophotometer on maxillary central incisor, lateral incisor and canine.
Wardah compact powder shade guide were used to examine skin type according
Fitzpatrick’s classification.
Result: Kruskal Wallis test showed there was a significant shades difference
between maxillary central incisor, lateral incisor and canine (p<0,05). Chi-Square
test showed there was a significancy relationship maxillary central incisors shade
with age (p<0,05) but no significancy different in relation with gender and skin
tone (p>0,05).
Conclusion: there is a shade differences between maxillary anterior teeth. Age
factor has influence of tooth shade determination but there is no relation between
tooth shade with gender and skin tone.

Keywords: Tooth Shade, Spectrophotometer, Age, Gender, Skin Tone

ix 
Universitas Indonesia 
 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………… i 


HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ………………....………………. ii 
HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………………….. iii
KATA PENGANTAR …………………………………………………………….. iv 
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH …………………. vii 
ABSTRAK ……………………………………………………………………… viii 
DAFTAR ISI ............................................................................................................ x 
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. xii
DAFTAR TABEL ..................................................................................................... xiii 
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................. xiv 
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1 
1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................................. 1 
1.2 Rumusan Masalah Penelitian .......................................................................... 3
1.2.1 Pertanyaan Umum.................................................................................... 3 
1.2.2 Pertanyaan Khusus.................................................................................... 3 
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................................. 4
1.3.1 Tujuan Penelitian Umum.......................................................................... 4 
1.3.2 Tujuan Penelitian Khusus......................................................................... 4
1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................................... 4 
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................ 6 
2.1 Warna................................................................................................................ 6
2.2 Warna Gigi.......................................................………………………………. 7 
2.3 Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Warna Gigi........................................ 9
2.3.1 Usia........................................................................................................... 9 
2.3.2 Warna Kulit............................................................................................... 11 
2.3.3 Jenis Kelamin..............................................................................…….… 12
2.4 Shade Guide...................................................................................................... 12 
2.4.1 Standard shade guide................................................................................ 13 
2.4.2 Shade guide 3 dimensi............................................................................. 13 
2.4.3 Spektrofotometer....................................................................................... 14 
2.5 Warna elemen Gigi Tiruan Akrilik.................................................................... 16
2.6 Kerangka Teori ………………………………………..…………………….. 18 
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS ............................................... 19 
3.1 Kerangka Konsep …………………………………………….…………….. 19 
3.2 Hipotesis ……………………………………………………………………. 19 
3.2.1 Hipotesis Mayor....................................................................................... 19
3.2.2 Hipotesis Minor........................................................................................ 19 
3.3 Definisi Operasional Variabel............................................................................ 20 
3.3.1 Variabel Independen.................................................................................. 20
3.3.2 Variabel Dependen..................................................................................... 21 

  x    Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
BAB IV METODE PENELITIAN ……………………………………………….... 22
4.1 Jenis Penelitian …………………………………………………………….… 22 
4.2 Lokasi Penelitian..................…………………………………………........... 22 
4.3 Subjek Penelitian..............………………………………………….…………. 22 
4.4 Alat dan Bahan......………………………………………................................ 23 
4.5 Cara Kerja.........................………………………………...………………….. 23
4.6 Analisis Data.......................................…………………...…………………… 24 
4.7 Alur Penelitian ………………………………………………………….......... 24 
4.8 Uji Lolos Etik..........………………………………………..………….……… 25
BAB V HASIL............................………………………………...………………..... 26 
BAB VI PEMBAHASAN …………………………………………..……………… 33
BAB VII KESIMPULAN …………………………………………….……………. 37 
7.1 Kesimpulan........................................................................................................ 37 
7.2 Saran................................................................................................................... 37
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………… 39 
Lampiran..................................................................................................................... 41

 
 

  xi    Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
DAFTAR GAMBAR
 

Gambar 2.1 Munsell’s color wheel...................................................................... 7

Gambar 2.2 Klasifikasi tipe kulit oleh Fitzpatrick................................................ 11

Gambar 2.3 Penentuan value shade guide 3 dimensi............................................ 14

Gambar 2.4 Value shade guide 3 dimensi............................................................. 14

Gambar 2.5 Layar hasil penentuan warna spektrofotometer................................ 15

Gambar 2.6 Alat digital spektrofotometer............................................................ 16

Gambar 2.7 Shade conversion chart.................................................................... 17

Gambar 5.1 Distribusi warna gigi berdasarkan kelompok usia............................ 26

Gambar 5.2 Distribusi warna gigi berdasarkan jenis kelamin.............................. 27

Gambar 5.3 Distribusi warna gigi berdasarkan warna kulit.................................. 27

Gambar 5.4 Distribusi warna gigi insisif sentral, insisif lateral dan kaninus
berdasarkan value............................................................................. 28

Gambar 5.5 Kartu penentuan elemen warna gigi tiruan penuh berdasarkan
usia............. 31

 
 

  xii    Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
DAFTAR TABEL 
 

Tabel 5.1 Sebaran data variabel......................................................................... 25

Tabel 5.2 Perbedaan warna gigi anterior berdasarkan kelompok usia, jenis
kelamin dan warna kulit..................................................................... 29

Tabel 5.3 Tabel konversi untuk pemilihan warna gigi


tiruan.................................................................................................... 30

  xiii    Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 

DAFTAR LAMPIRAN 

Lampiran 1.Surat Keterangan Lolos Etik..............................................................41

Lampiran 2. Informed Consent Subjek Penelitian ................................................42

Lampiran 3. Distribusi Frekuensi…………….......................................................45

Lampiran 4. Uji Kruskal Wallis ............................................................................51

Lampiran 5. Uji Chi-Square…………..……….....................................................52

  xiv    Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Meningkatnya kebutuhan estetik restorasi gigi untuk mendapatkan warna
yang akurat menjadi suatu tantangan bagi dokter gigi terutama prostodontis.
Pemilihan warna yang tepat sangat penting untuk restorasi gigi agar tampak
alami.1

Tooth shade guide sangat penting untuk menyamakan warna gigi asli yang
hilang dengan restorasi yang akan digantikan. Metode yang biasa digunakan
untuk menyesuaikan warna dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu
metode visual (konvensional) dan alat digital.2, 3 Sebelumnya untuk menentukan
warna gigi dilakukan dengan menyamakan warna pada shade guide dengan warna
gigi. Penggunaan shade guide konvensional yang tidak sempurna untuk
menentukan warna gigi dapat mengakibatkan penentuan warna yang tidak
konsisten.2, 4 Menurut Chu, et al. penggunaan shade guide dengan metode visual
mempunyai kekurangan yaitu adanya subyektifitas penglihatan manusia, kedua
mata menerima warna yang sedikit berbeda.5 Faktor lain yaitu umur, jenis
kelamin, pengalaman operator, kelelahan mata operator, adanya defek penglihatan
warna dari operator, sumber cahaya yang digunakan, posisi pasien dan latar
belakang warna.1 Pengembangan terkini alat penentuan warna telah
mengeliminasi subyektifitas dari penyesuaian warna secara visual.
Spektrofotometer adalah alat untuk evaluasi penentuan warna. Alat digital ini
yaitu dengan mengukur jumlah cahaya yang terefleksi oleh objek pada jarak 1
sampai 25 nm sehingga dapat menghasilkan penentuan warna secara akurat dan
mengurangi subyektifitas penyesuaian warna yang ditentukan secara visual.4
Menurut penelitian Chen, et al. setelah mengevaluasi 26 penelitian tentang
perbedaan metode untuk mendapatkan, warna gigi didapatkan hasil bahwa
spektrofotometer adalah alat yang paling akurat untuk mendapatkan warna gigi.4
  1    Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014



 
Pada penelitian yang dilakukan oleh Judeh dan Al-Wahadni (2009) menyatakan
bahwa spektrofotometer menghasilkan lima kali lebih mirip dalam penentuan
warna gigi bila dibandingkan dengan metode visual.6

Dalam penentuan warna gigi biasanya dokter gigi akan mencocokkan


dengan gigi yang ada. Pada pasien yang kehilangan seluruh gigi geligi dan akan
dibuatkan gigi tiruan penuh, merupakan tantangan bagi dokter gigi, khususnya
prostodontis saat menentukan warna gigi.7, 8 Pemilihan warna gigi menjadi sulit
ketika apabila tidak terdapat data gigi yang ada.1 Warna gigi sangat
mempengaruhi segi estetik dan penting untuk meningkatkan kembali kepercayaan
diri pasien sehingga dengan pemakaian gigi tiruan yang tampak alami mereka
dapat bersosialisasi kembali.9-11

Penelitian tentang panduan pemilihan warna gigi dan faktor yang


mempengaruhi warna gigi, selalu hanya menggunakan insisif sentral saja atau
dengan gigi kaninus. Sampai saat ini masih belum ada penelitian yang dilakukan
untuk mengetahui adakah perbedaan warna pada insisif sentral, lateral dan
kaninus. Diharapkan dengan diketahuinya ketiga warna gigi tersebut maka akan
diperoleh warna elemen gigi yang lebih estetis.

Menurut Sharma, et al., Herekar, et al. dan Jahangiri, et al., faktor usia,
jenis kelamin dan warna kulit menjadi pertimbangan dalam penentuan warna
elemen gigi tiruan terutama pada daerah anterior yang membutuhkan estetika
yang lebih baik.11, 12 Informasi mengenai hubungan antara warna gigi dan faktor
usia, jenis kelamin serta warna kulit masih terbatas. Persepsi di antara dokter gigi
menyatakan bahwa individu yang berkulit gelap mempunyai gigi berwarna
terang.9, 11-13
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa proses menua
mempengaruhi warna gigi yaitu menjadi lebih gelap. Sedangkan wanita
mempunyai warna gigi lebih terang dibandingkan pria.9, 11, 12, 14, 15 Namun pada
umumnya pada penelitian-penelitian tersebut menggunakan penentuan warna
gigi-gigi dengan shade guide konvensional, belum ada yang menggunakan
spektrofotometer.

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014



 
Dalam penelitian ini peneliti hendak mengetahui warna dari ketiga gigi
anterior rahang atas gigi insisif sentral, insisif lateral dan kaninus serta
mengetahui hubungan warna gigi dengan usia, jenis kelamin dan warna kulit
menggunakan alat ukur spektrofotometer. Peneliti juga ingin memperoleh
panduan untuk pemilihan warna elemen gigi tiruan berdasarkan usia, jenis
kelamin dan warna kulit.

1.2 Rumusan Masalah Penelitian

Meningkatnya kebutuhan estetik dari perawatan dengan gigi tiruan untuk


mendapatkan hasil warna yang akurat menjadi suatu tantangan bagi dokter gigi
khususnya prostodontis, terutama pada pasien yang edentulous. Penelitian lain
umumnya menggunakan hanya gigi insisif sentral atau dengan tambahan gigi
kaninus. Belum ada data mengenai ketiga gigi anterior untuk pemilihan warna
gigi yang lebih estetis untuk gigi insisif sentral, insisif lateral dan kaninus.
Penelitian terdahulu juga menyatakan faktor usia, jenis kelamin dan warna kulit
mempunyai pengaruh dalam memilih warna gigi tiruan namun informasinya
masih terbatas dan kebanyakan menggunakan shade guide konvensional.
Terbatasnya informasi tentang penentuan warna gigi berdasarkan usia, jenis
kelamin dan warna kulit dan belum adanya panduan untuk memilih warna
menyulitkan dokter gigi dan khususnya prostodontis untuk memilih warna elemen
gigi tiruan pada pasien yang tidak bergigi.

1.2.1 Pertanyaan Umum

1. Apakah ada perbedaan warna antara insisif sentral, insisif lateral dan
kaninus rahang atas?
2. Bagaimana hubungan warna gigi insisif sentral rahang atas berdasarkan
kelompok usia, jenis kelamin dan warna kulit?
1.2.2 Pertanyaan Khusus
1. Apakah ada hubungan warna gigi insisif sentral rahang atas antar
kelompok usia?

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014



 
2. Apakah ada hubungan warna gigi insisif sentral rahang atas berdasarkan
jenis kelamin?
3. Apakah ada hubungan warna gigi insisif sentral rahang atas antar
kelompok warna kulit yang berbeda?
4. Apakah dapat diperoleh panduan pemilihan warna gigi berdasarkan usia,
jenis kelamin dan warna kulit?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian Umum

1. Menganalisis adanya perbedaan warna insisif sentral, insisif lateral dan


kaninus rahang atas
2. Menganalisis hubungan warna gigi insisif sentral rahang atas dengan
kelompok usia, jenis kelamin dan warna kulit.

1.3.2 Tujuan Penelitian Khusus

1. Menganalisis adanya perbedaan warna gigi insisif sentral rahang atas


berdasarkan kelompok usia
2. Menganalisis adanya perbedaan warna gigi insisif sentral rahang atas
berdasarkan jenis kelamin.
3. Menganalisis adanya perbedaan warna gigi insisif sentral rahang atas
berdasarkan warna kulit
4. Mendapatkan panduan pemilihan warna gigi berdasarkan usia, jenis
kelamin dan warna kulit.

1.4 Manfaat Penelitian

 Untuk Pengembangan Ilmu


Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan penentuan
warna gigi tiruan khususnya yang berhubungan dengan usia, jenis kelamin
dan warna kulit.
      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014



 
 Untuk Dokter gigi dan Prostodontis
Data yang diperoleh dapat digunakan sebagai panduan dalam pemilihan
warna gigi yang sesuai dengan usia, jenis kelamin dan warna kulit
 Untuk Peningkatan Kualitas Pelayanan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran pentingnya
penentuan warna gigi sesuai dengan usia, jenis kelamin dan warna kulit
sehingga tercapai estetik yang diharapkan
 Untuk masyarakat
Diharapkan masyarakat akan mendapatkan kualitas gigi tiruan yang sesuai
dengan tuntutan estetika.

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Warna

Warna menurut Glossary of prosthodontic terms adalah fenomena cahaya


atau persepsi visual yang membedakan antara suatu objek dengan objek lainnya.16
Warna dari suatu objek ditentukan dari cahaya yang masuk ke mata
manusia.Warna yang dilihat merupakan hasil dari sumber cahaya, objek dan hasil
interpretasi oleh sistem penglihatan manusia.

Objek dengan tekstur dan komposisi yang berbeda akan menyerap dan
memantulkan sinar dalam derajat tertentu. Pertama kali Issac Newton
mendapatkan gambaran bahwa dengan melewatkan sinar tunggal cahaya putih
yang melalui prisma akan terpecah menjadi variasi warna yaitu biru murni, merah
murni dan kuning murni dengan gradasi diantaranya yang disebut spektrum.17

Pada dunia kedokteran gigi kita harus mengetahui tentang pigmen warna
untuk mendapatkan restorasi yang estetik. Warna primer adalah warna yang tidak
akan didapat dengan mencampurkan warna lain. Yang termasuk warna primer
adalah merah kuning dan biru.18 Warna sekunder didapatkan dengan mencampur
dua warna primer. Contoh pencampuran dari warna primer merah dengan warna
primer kuning akan menghasilkan warna jingga.18 Bila warna primer dan
sekunder disusun pada suatu bentuk roda warna atau lingkaran maka warna yang
secara langsung berlawanan satu sama lain dalam roda warna disebut warna
komplemen.19

  6    Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014



 
2.2 Warna Gigi

Anatomi gigi dan banyaknya karakteristik optik pada gigi dapat


memperluas kompleksitas dari penentuan warna gigi di bidang kedokteran gigi.
Warna gigi manusia bersifat polikromatik dengan transisi warna dari bagian
gingiva ke bagian insisal atau oklusal, bagian mesial ke bagian distal dan bagian
labial atau bukal ke bagian lingual. Transisi ini berasal dari perbedaan ketebalan
enamel dan dentin dengan adanya karakteristik optik seperti translusensi.5

Munsell pada awal tahun 1905 memperkenalkan visual color order


system untuk menggambarkan warna dari gigi yang sampai sekarang masih
digunakan berdasarkan warna tiga dimensi. Tiga dimensi ini dikenal sebagai hue,
chroma dan value.9, 20
Dengan alasan untuk efisiensi, penyerderhanaan, dan
konsistensi, Munsell Color Order sistem digunakan sebagai dasar penentuan
warna di dunia kedokteran gigi. Sebenarnya masih ada beberapa karakteristik
optik lain yang sangat penting seperti translusensi, fluorescence dan
opalescence.17

Gambar 2.1 Munsell’s color wheel.5

Hue adalah apa yang umum disebut kualitas warna yang membedakan
warna satu dengan yang lain.9 Hue berhubungan erat dengan panjang gelombang
fisik cahaya. Warna gigi biasanya mempunyai hue pada kisaran kuning dan

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014



 
kuning-merah. Hue dikenal dengan lambang A,B,C dan D pada standard shade
guide17

Chroma merupakan saturasi, intensitas dan kekuatan dari warna yang


dapat membedakan warna yang kuat dan yang lemah, dengan kata lain merupakan
perbedaan derajat keabuan warna pada tingkat kecerahan yang sama.9 Chroma
disebut juga sebagai kemurnian suatu warna. Chroma memiliki hubungan terbalik
dengan value, semakin besar nilai chroma maka warna akan terlihat semakin
gelap valuenya.9, 17

Value adalah tingkat kecerahan warna yang membedakan antara warna


terang dengan warna gelap. Value ini menyatakan berapa banyak cahaya yang
direfleksikan dari objek. Hal ini juga dipengaruhi oleh jarak antara objek dan
sumber cahaya. Kecerahan ataupun kegelapan suatu warna merupakan suatu seri
keabuan dari kisaran putih hingga hitam. 9, 17

Opalescence adalah fenomena dimana suatu warna gigi terlihat berbeda


ketika cahaya dipantulkan dari permukaannya dan berwarna lain ketika cahaya
ditransmisikan melalui bahan tersebut. Pada gigi, efek opalescence didapat
dengan adanya aqueous disilicate yang memecah transmisi cahaya menjadi
komponen spektrumnya melalui refleksi cahaya. Kristal hidroksi apatit (HA)
bersifat seperti prisma sehingga ketika di transmisikan cahaya maka akan tampak
warna merah dan transmisi warna biru dalam badannya. Efek opalescence
menyebabkan enamel terlihat kebiruan walaupun sebenarnya tidak berwarna.17

Fluorencence merupakan emisi cahaya yang tampak ketika suatu bahan


diberikan cahaya fluoresen. Karakteristik fluorescence suatu restorasi akan terlihat
lebih cerah dan hidup. Pada gigi asli fluoresensi lebih banyak terjadi pada dentin
maka chromanya akan menurun.17

Translusensi adalah kisaran diantara transparan dan opak. Translusensi


enamel sangat bervariasi dan bergantung pada sudut pencahayaan, tekstur
permukaan dan panjang gelombang. Umumnya dengan meningkatkan

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014



 
translusensi, suatu restorasi akan bertambah gelap atau valuenya gelap akibat
semakin sedikit cahaya yang kembali ke pengamat.13

Pada gigi anterior biasanya sedikit terlihat ada perbedaan warna karena
posisi pada lengkung rahang lebih kedepan. Gigi insisif sentral berwarna lebih
terang dibandingkan gigi kaninus yang terlihat lebih kemerahan, kekuningan
dengan chroma warna yang lebih tinggi.21

Pada warna gigi juga terdapat gradasi dari daerah servikal ke arah insisal.
Warna pada servikal dipengaruhi dari pantulan cahaya gingiva sedangkan warna
pada insisal yang lebih translusen dapat dipengaruhi cahaya dari latar belakang
rongga mulut. Oleh karena itu untuk penelitian maka direkomendasikan oleh
beberapa peneliti bahwa bagian sepertiga tengah gigi dianggap dapat mewakili
warna gigi. 9, 13, 21

Dalam penentuan warna gigi secara konvensional maka perlu diperhatikan


adanya metamerisme. Metamerisme adalah suatu fenomena warna yang terlihat
sama d ibawah satu kondisi sumber cahaya tetapi terlihat berbeda di bawah
sumber cahaya yang lain. Hal yang perlu diperhatikan adalah cahaya pada ruang
klinik gigi harus sama dengan cahaya yang digunakan pada laboratorium teknik
gigi.

2.3 Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Warna Gigi

2.3.1 Usia

Faktor usia secara fisiologis dapat mempengaruhi warna gigi normal.


Seiring bertambahnya usia maka kamar pulpa menjadi lebih sempit karena
deposisi dari sekunder dentin yang membuat gigi berwarna lebih opak.11
Pembagian karakteristik gigi berdasarkan kisaran usia dikelompokkan menurut
Hegenbarth (1990) yang membagi menjadi tiga kisaran usia, yaitu dewasa muda
(antara 15 hingga 30 tahun), dewasa (30-50 tahun) dan usia lanjut (lebih dari 50
tahun).22 
      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


10 
 
 Usia dewasa muda 
o Untuk gigi usia dewasa muda, warna gigi akan terlihat lebih terang
dibandingkan dengan gigi asli pada orang usia lanjut. Hal tersebut
karena enamel masih cukup tebal, warna dentin masih cukup
terang dan kurang opak, translusensi enamel masih rendah
sehingga refleksi warna dentin belum terlalu terlihat melalui
permukaan labial enamel, dan belum banyak staining pada gigi
akibat kebiasaan buruk. Selain itu warna gigi usia dewasa muda
kurang mengkilat dibandingkan gigi orang usia lanjut karena gigi
pada usia dewasa muda belum banyak abrasi akibat pemakaian.
Oleh karena faktor-faktor tersebut, warna gigi pada usia muda
masih memiliki warna yang putih dengan value yang tinggi.22, 23
 Usia Dewasa
o Dentin menjadi lebih opak dan gelap dibandingkan pada usia
dewasa muda sehingga warna dentin terefleksi melalui enamel
yang menipis. Penipisan terlihat dari insisal dan tekstur permukaan
gigi. Bukti adanya atrisi terlihat pada cusp kaninus yang menjadi
rata. 23, 24
 Usia lanjut
o Seiring bertambahnya usia, warna gigi akan mengalami perubahan.
Misalnya orang usia lanjut (lebih dari 50 tahun) memiliki warna
gigi gelap dan opak karena dentin menjadi lebih opak, lebih gelap
dan enamel lebih tipis sehingga dentin akan lebih terlihat. Struktur
dentin terlihat jelas di bawah pertemuan dentin-enamel dan dentin
cenderung terekspos sehingga dapat menyerap stain ekstrinsik.
Anatomi garis servikal dan permukaan akar terlihat karena resesi
gingiva. Sudut insisal membulat karena abrasi dan atrisi. Selain itu,
permukaan gigi menjadi lebih halus (datar) karena abrasi oleh sikat
gigi dan terdapat garis retak pada enamel.23, 24
Pembagian kelompok usia di Indonesia menurut Depkes RI (2009):25
 1. Masa balita = 0 - 5 tahun,

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


11 
 
 2. Masa kanak-kanak = 5 - 11 tahun.
 3. Masa remaja Awal =12 - 1 6 tahun.
 4. Masa remaja Akhir =17 - 25 tahun.
 5. Masa dewasa Awal =26- 35 tahun.
 6. Masa dewasa Akhir =36- 45 tahun.
 7. Masa Lansia Awal = 46- 55 tahun.
 8. Masa Lansia Akhir = 56 - 65 tahun.
 9. Masa Manula = 65 - sampai atas

2.3.2 Warna kulit

Klasifikasi tipe kulit Fitzpatrick dikembangkan sejak tahun 1975, sistem ini
mengklasifikasikan 6 warna kulit.1

 Tipe 1: putih pucat


 Tipe 2: putih
 Tipe 3: coklat muda
 Tipe 4: coklat
 Tipe 5: coklat tua
 Tipe 6: hitam

Gambar 2.2 Klasifikasi tipe kulit oleh Fitzpatrick.1

Warna kulit merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan


penentuan warna gigi. Menurut Jahangiri, et al. ada hubungan antara warna gigi
      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


12 
 
dengan warna kulit, subjek dengan warna kulit sedang dan gelap mempunyai
warna gigi dengan value terang dibandingkan subjek dengan warna kulit yang
terang dan agak terang.9 Penelitian tersebut menggunakan L’oreal compact make
up yang membagi warna kulit menjadi 4 kelompok yaitu terang, agak terang,
sedang dan gelap. Penelitian lain yang dilakukan Sharma, et al. mendapatkan
adanya perbedaan warna gigi berdasarkan warna kulit. Subjek dengan kulit
sedang ke gelap mempunyai warna gigi dengan value yang lebih terang dan
subjek dengan warna kulit yang terang mempunyai gigi dengan value yang gelap.
Penelitian tersebut menggunakan Revlon foundation shade guide dan warna kulit
dibagi menjadi 3 kelompok yaitu terang, sedang dan gelap.11

2.3.3 Jenis kelamin

Untuk jenis kelamin menurut Jahangiri, et al., Herekar, et al.dan Sharma et al.
ditemukan bahwa wanita mempunyai warna gigi lebih terang dibandingkan pria.9,
11, 12, 15

2.4 Shade guide

Penentuan warna gigi sering dilakukan dengan bantuan dental shade


guide. Metode yang biasa digunakan untuk menyesuaikan warna dapat
diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu visual (konvensional) dan alat digital.

Secara visual penentuan warna gigi dilakukan dengan membandingkan


warna gigi dengan shade guide gigi, sampai sekarang metode ini paling banyak
digunakan. Cara penentuan warna gigi secara visual adalah cara yang paling
subyektif karena banyak variabel yang mempengaruhi seperti kondisi
pencahayaan ruangan, pengalaman operator, umur operator dan kelelahan mata
operator. Penggunaan shade guide secara visual dilakukan dengan urutan
penentuan value terlebih dahulu kemudian hue dan chroma.

Penentuan warna gigi dengan alat digital spektrofotometer dengan cara


pengukuran panjang gelombang dari transmisi dan refleksi warna dari gigi. Alat
      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


13 
 
ini mempunyai pencahayaan sendiri sehingga dapat menghindari subyektifitas
dari operator.4 

2.4.1 Standard shade guide

Standard shade guide untuk penentuan warna gigi yang diperkenalkan


pada tahun 1956 oleh Vita Zahnfabrik yang terdiri dari 16 warna. Pada shade
guide ini warna disusun berdasarkan hue A ,B, C, D sedangkan chroma dan value
ditampilkan dalam bentuk angka yaitu angka 1 untuk gigi yang mempunyai
chroma rendah tetapi value terang dan angka 4 untuk warna gigi yang paling
rendah valuenya dan paling tinggi chromanya.5

Shade tabs dapat disusun berdasarkan value dari terang ke gelap dengan urutan:
B1, A1, B2, D2, A2,C1, C2, D4, A3, D3, B3, A3,5, B4, C3, A4, C4. Walaupun
banyak yang menggunakan shade guide ini namun beberapa penelitian
menunjukkan hasil yang tidak konsisten dari penggunaan skala value karena
jumlah warna shade guide tidak mencukupi untuk penentuan warna gigi asli.5, 21

2.4.2 Shade guide 3 dimensi

Masalah yang dihadapi standard shade guide adalah kurang


terdistribusinya warna secara sistematis dalam ruang warna padahal shade guide
tersebut tidak mencakup keseluruhan spektrum warna gigi yang ada. Apabila
jumlah warna dalam shade guide diperbanyak, maka jumlah yang harus
dibandingkan menjadi tidak praktis sedangkan mata manusia cepat mengalami
kelelahan sehingga hasilnya tidak akurat. Masalah tersebut kini telah dapat
diminimalkan dengan penggunaan shade guide 3 dimensi. Shade guide 3 dimensi
memiliki 5 tingkat value, dalam satu grup value yang berbeda yaitu intensitas
warna (chroma) dan hue.

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


14
 

Gambaar 2.3 Penentuuan value shadee guide 3 dimeensi.26

G
Gambar 2.4 Vaalue shade guidde 3 dimensi.26

Padaa shade guidde 3 dimensii terdapat 266 shade tabss. Cara mem
mbaca hasil
p
pada penenttuan warna yaitu
y angka pertama padda kode shadde guide meenunjukkan
v
value, makin tinggi nillai tersebut maka warnaa pada shadde guide maakin gelap.
K
Kode huruff menunjuk
kkan hue, L berarti berwarna
b kuuning, M merupakan
m
p
pertengahan
n warna kun
ning dan meerah sedanggkan R adallah warna kemerahan.
k
A
Angka terak
khir pada shaade tab menuunjukkan chhroma, makiin tinggi nilaainya maka
m
makin tinggii chroma.26

2
2.4.3 Spektrrofotometer

Spekktrofotometeer adalah alaat penentuan warna giggi yang palling akurat


d
dalam bidanng kedokteraan gigi. Alaat ini menguukur banyakknya energi sinar yang
d
dipantulkan dari objek pada
p kisarann 1-25 nm paanjang spekttrum. Spektrrofotometer
    Universitas
s Indonesia

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


15
 
m
mempunyai sumber reerata dari sinar yang menyebar,, sistem opptik untuk
p
pengukuran,
, dan detek
ktor yang aakan merubbah sinar ke
k sinyal yang
y dapat
d
dianalisis. Data
D yang didapat
d dari spektrofotoometer serinng dikonverrsi menjadi
w
warna dentaal shade guidde yang terseedia.27

Anallisis dengan spektrofotoometer berdasarkan pannjang gelom


mbang yang
t
terefleksi oleh gigi. Sinaar yang terefleksi tersebbut ditangkapp oleh instru
umen optik
k
kemudian diiukur dan diisamakan deengan databaase shade guuide. Spektrrofotometer
m
mengukur b
banyak titik sepanjang spektrum yang
y terlihatt dan dapat digunakan
u
untuk menentukan valuue. Spektrofootometer meerupakan allat digital yang
y akurat
d tidak teergantung pada sumberr cahaya ataau filter. Haasil penguku
dan uran warna
d
dengan spektrofotometeer merupakkan warna yang
y sama dengan shhade guide
k al.28
konvensiona

2 Layar hasil penentuan warrna spektrofotoometer29


Gambar 2.5

Alat spektrofotoometer komppak dan mu


udah digunaakan untuk penentuan
w
warna gigi. Alat ini meempunyai unnit sentral dengan
d sinarr LED dan layar yang
d
disambungk
kan ke termiinal dan sennsor pada ujung
uj alat diigital. Dari layar akan
t
terlihat hasiil skala pennentuan warnna sesuai dengan
d standdard shade guide dan
s
shade guide 3 dimensi.277

Peranngkat terseebut meruppakan seperrangkat fibreoptic proobe untuk


m
mentransmis
si dan menerrima cahaya dari gigi. Untuk
U menceggah kontamiinasi silang
a
antar pasien, ujung probbe dapat dituttup dengan pelapis
p polyuurethane khuusus.30

    Universitas
s Indonesia

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


16 
 

Gambar 2.6 Alat digital spektrofotometer.29

Spektrofotometer merupakan alat yang terdiri dari 3 elemen utama, yakni


sumber cahaya, alat untuk mengarahkan sumber cahaya ke objek dan menerima
cahaya yang terpantulkan ataupun dikembalikan dari objek. Spektrofotometer
menggunakan sumber cahaya lampu halogen 20 Watt berfilamen tungsten, dengan
temperatur warna 3350K yang merupakan sumber cahaya yang mencakup
keseluruhan spektrum cahaya dan infra merah. Umur rata-rata lampu sekitar 100
jam dan memerlukan waktu sekitar 15 detik untuk pemanasan dan stabilisasi. 30

2.5 Warna Elemen Gigi Tiruan Akrilik

Untuk Indonesia,nama dagang dari elemen gigi tiruan akrilik yang umum
dijumpai di pasaran yaitu Ortolux, New Ace dan Ivostar. Warna yang tersedia dari
Ortolux adalah A1, A2, A3, A3,5, A4, B2, B4, C1, C2, D4 sedangkan warna
yang tersedia pada New Ace dan Ivostar tersedia 16 warna lengkap standard.

Untuk menyamakan warna antara shade guide gigi tiruan shade guide 3
dimensi maka diperlukan adanya tabel konversi dari Vita.26 Tabel konversi Vita
berguna untuk menyamakan warna antara berbagai macam shade guide. Konversi
dilakukan dengan melihat baris dari tabel sesuai warna shade guide awal yang di
pakai, misalnya bila dengan shade guide 3 dimensi didapatkan hasil warna 2M2
maka sama dengan warna A2 pada standard shade guide.

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


17 
 

Gambar 2.7 Shade conversion chart.31

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


18 
 
2.6 Kerangka Teori

1,2,4,5,6,7,8,10,11
Pasien tidak bergigi 
Pasien bergigi 

Usia 11,12,14,15,22,23,24

   Spektrofotometer 
4,5, 26 ,27,28,29
Jenis Kelamin  9, 11,12,14,15

1,9, 11,12,13
Warna kulit 

Warna gigi asli 
7,9,10,11,12,25,30
Warna elemen gigi tiruan 
17,18,19,20,21,

Hue, Chroma, Value 

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep

Variabel independen Variabel dependen

Usia  Warna geligi anterior atas 
(diwakili gigi Insisif sentral) 
Jenis Kelamin 
ditentukan dengan 
Warna Kulit  spektrofotometer 
 

Kerangka konsep pada penelitian ini adalah faktor usia, jenis kelamin dan
warna kulit dapat mempengaruhi penentuan warna gigi. Eratnya kaitan warna
dengan estetik maka diwakili dengan gigi insisif rahang atas.

3.2 Hipotesis

3.2.1 Hipotesis Mayor

1. Terdapat perbedaan warna antara insisif sentral, insisif lateral dan kaninus
rahang atas.
2. Terdapat hubungan warna gigi insisif sentral rahang atas berdasarkan
kelompok usia, jenis kelamin dan warna kulit.

3.2.2 Hipotesis Minor

1. Terdapat hubungan warna gigi insisif sentral rahang atas berdasarkan


kelompok usia.

  19    Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


20 
 
2. Terdapat hubungan warna gigi insisif sentral rahang atas berdasarkan jenis
kelamin.
3. Terdapat hubungan warna gigi insisif sentral rahang atas berdasarkan
warna kulit.
4. Diperoleh panduan pemilihan warna gigi tiruan berdasarkan usia, jenis
kelamin dan warna kulit.

3.3 Definisi Operasional Variabel

3.3.1 Variabel Independen

Variabel Batasan Skala Nilai Cara


Operasional Pengukuran
Usia Usia pasien Ordinal 1: Remaja Wawancara
dihitung dari (17 sampai 25 tahun)
ulang tahun 2: Dewasa
terakhir.25 (26 sampai 45 tahun)
3: Pralansia dan
lansia
(>45 tahun)

Jenis Nominal 0: wanita Wawancara


Kelamin 1: Pria

Warna Kulit Warna punggung Ordinal 1: Tipe 1 Fitzpatrick Mengamati


tangan 2: Tipe 2 Fitzpatrick hasil
dikelompokkan 3: Tipe 3 Fitzpatrick penentuan
sesuai dengan 4: Tipe 4 Fitzpatrick warna kulit
pembagian warna 5: Tipe 5 Fitzpatrick
kulit berdasarkan 6: Tipe 6 Fitzpatrick
Fitzpatrick yang
dicocokkan
dengan Wardah
compact shade
guide.1

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


21 
 
3.3.2 Variabel Dependen

Variabel Batasan Skala Nilai Cara Pengukuran


Operasional
Warna gigi Warna gigi insisif Ordinal A1, A2, A3, Ditentukan
sentral. ...dan seterusnya berdasarkan
spektrofotometer
Skala penentuan
warna vita
classical.

Warna gigi insisif Ordinal 1M1, 1M2, Ditentukan


sentral, insisif 2L1,5, 2L2,5, berdasarkan
lateral dan kaninus 2M1, 2M2, spektrofotometer
2M3..dan Skala penentuan
seterusnya warna vita 3D
master

Ordinal 1(paling terang): Didapat dari baris


value 1 kotak shade tab
2 (terang): value 2 spektrofotometer
3 (agak terang) : yang pertama,
value 3 misal 2M1 maka
4 (gelap): value 4 value adalah 2.
5 (paling gelap):
value 5

Ordinal 1: terang: value 1 Untuk keperluan


dan 2 analisis dibagi
2: gelap: value menjadi 2
3,4,5 kelompok

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian adalah penelitian cross sectional (potong lintang)

4.2 Lokasi Penelitian


Penelitian dilakukan pada tahun 2014 di:

 Acara bakti sosial Gereja Ignatius Jakarta


 Center of Ageing Studies Universitas Indonesia
 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

4.3 Subjek Penelitian


Besar subjek untuk penelitian ini yaitu kesalahan tipe I ditetapkan sebesar 5 %,
hipotesis satu arah, sehingga Z α = 1,96 dan kesalahan tipe II ditetapkan sebesar
20 %, maka Zß = 0,84. Proporsi dari kelompok P2 = 0,7 sehingga Q2 = 1 – 0,7 =
0,3. Selisih minimal yang dianggap bermakna P1 - P2 = 0,2

Dengan demikian,

Zα Ѵ2PQ+ Zß ѴP1Q1 +P2Q2 2

n=
P1 – P2

n= 1,96 Ѵ 2x0,8x0,2+ 0,84 Ѵ 0,9x0,1+0,7x0,3 2


= 61,53=62
0,9 – 0,7

Kriteria Inklusi
 Berusia 18 tahun ke atas
  22    Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


23 
 
 Mempunyai geligi anterior rahang atas lengkap
 Pada geligi anterior rahang atas tersebut tidak terdapat restorasi yang
merubah warna gigi, tidak terdapat crown, anomali perkembangan,
fluorosis, tetrasiklin stain
 Tidak pernah dilakukan bleaching
 Tidak mempunyai kebiasaan merokok
 Tidak mempunyai pekerjaan ataupun hobi yang banyak menghabiskan
waktu di luar ruangan yang banyak terpapar sinar matahari
 Tidak sedang dalam perawatan orthodonsi
 OHIS

Kriteria Eksklusi

 Tidak bersedia menandatangani Informed Consent

4.4 Alat dan Bahan

 Spektrofotometer Vita Easy Shade Compact


 Kaca mulut steril no.4
 Alkohol 70%
 Pasta profilaksis dan brush dengan kecepatan rendah
 Low speed micromotor
 Wardah compact shade guide

4.5 Cara Kerja

Sebelum dilakukan pengukuran warna gigi, gigi subjek dibersihkan


giginya dengan pasta profilaksis dan brush. Subjek diminta duduk pada posisi
tegak lurus, bibir atas diretraksi dengan kaca mulut kemudian dilakukan
observasi. Dilakukan pengukuran menggunakan spektrofotometer Vita Easy
Shade Compact dengan cara menempelkan ujung spektrofotometer pada gigi yang
akan diukur dengan posisi 90⁰ terhadap permukaan gigi. Ditunggu sampai
terdengar bunyi ‘beep’, sehingga hasil pengukuran terlihat pada layar LCD.
      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


24 
 
Untuk menentukan warna kulit dilakukan pada punggung tangan pasien
dengan tujuan supaya tidak ada bekas make up atau residu. Warna kulit punggung
tangan dicocokkan dengan Wardah compact shade guide. Peneliti dibantu oleh 2
operator yang sudah dikalibrasi untuk melakukan penentuan warna kulit dengan
Wardah compact shade guide. Shade guide tersebut dipakai karena mempunyai 6
warna sesuai Fitzpatrick skin classification.

4.6 Analis data

Data yang didapat dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak


SPSS versi 17 dan diinterpretasikan. Untuk menunjukkan analisis sebagai
pembuktian hipotesis maka dilakukan tahap analisis data meliputi:

Analisis Univariat, untuk mengetahui distribusi kelompok usia, jenis kelamin dan
warna kulit, dan juga hasil penentuan warna gigi dengan menggunakan
spektrofotometer.

Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui adanya perbedaan warna gigi insisif
sentral, insisif lateral dan kaninus serta untuk mengevaluasi hubungan usia, jenis
kelamin, warna kulit dengan warna gigi.

4.7 Alur Penelitian

Menentukan Subjek sesuai kriteria inklusi


Menjelaskan tahap penelitian yang akan dilakukan


Meminta kesediaan subjek untuk mengikuti penelitian dengan menandatangani
informed consent dan mengisi data pribadi

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


25 
 
Mempersiapkan posisi subjek yang akan mengikuti penelitian

Membersihkan gigi anterior subjek menggunakan pasta profilaksis dan brush

Melakukan pengamatan dan penentuan warna pada gigi insisif sentral, gigi insisif
lateral dan kaninus dengan spektrofotometer

Melakukan pengamatan dan penentuan warna kulit dengan Wardah compact
shade guide

Analisis data

4.8 Uji Lolos Etik

Penelitian ini telah diajukan ke komisi etik dan telah disetujui pada tanggal
2 Januari 2014 dengan nomor 2/Ethical Clearence/FKGUI/IV/2014.

Sebelum memulai penelitian dilakukan kaji etik sesuai prosedur yang


berlaku. Pada penelitian ini subjek dilakukan penentuan warna gigi insisif sentral,
insisif lateral dan kaninus dan penentuan warna kulit yang mungkin menyebabkan
rasa tidak nyaman.

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
BAB 5

HASIL

Penelitian dilakukan dengan jumlah subjek penelitian yang memenuhi


kriteria inklusi sebanyak 84 orang dari 92 subjek yang diperiksa. Subjek dibagi
menjadi 3 kelompok usia, kemudian subjek dibagi berdasarkan jenis kelamin dan
2 tipe warna kulit yang dapat dilihat pada tabel 5.1

Tabel 5.1 Sebaran data variabel.

Variabel Frekuensi (n = 84) Persen

Kelompok usia

Remaja 15 17,9

Dewasa 29 34.5

Pralansia dan Lansia 40 47,6

Jenis kelamin

Perempuan 42 50

Laki-laki 42 50

Warna kulit

Tipe 3 34 40,5

Tipe 4 50 59,5

  26    Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


27 
 

40 35,7% 35,7%
34,5%
30
24,4%
20,7%
20 17,1%

10
0
A1 A2 A3 A4 B1 B2 B3 C1 C2 C3 D2 D3 D4
Remaja Dewasa Pralansia dan lansia
Gambar 5.1 Distribusi warna gigi berdasarkan kelompok usia.
Untuk kelompok usia remaja didapatkan distribusi warna yang terbanyak
adalah pada value terang yaitu pada warna A1 dan B2 sebanyak 35,7 persen. Pada
gambar 5.1 terlihat distribusi warna gigi hanya ada di A1, A2, A3 dan B2

Untuk kelompok usia dewasa didapatkan distribusi warna yang terbanyak


adalah pada value terang yaitu pada warna A1 sebanyak 34,5 persen dan warna
B2 sebanyak 20,7 persen. Pada gambar 5.1 terlihat distribusi warna gigi dewasa
lebih luas dibandingkan kelompok usia remaja.
Pada kelompok usia pralansia dan lansia didapatkan distribusi warna yang
terbanyak adalah pada value gelap yaitu pada warna A3 sebanyak 24,4 persen
diikuti dengan warna C3 sebanyak 17,1 persen.

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


28
 

40 33,,3%
28,6%
30
19% 19%
20 Perem
mpuan
10 Laki‐laaki

0
A1
A A3 B1 B3 C2 D2
2 D4
Gambar 5.2 Distribusi w
warna gigi berd
dasarkan jenis kkelamin.
Untuuk jenis kelamin perem
mpuan didap
patkan hasil distribusi warna
w gigi
y
yang terbany
yak adalah warna
w A1 sebbanyak 33,3 persen dan warna B2 seebanyak 19
p
persen. .

Dari hasil penenntuan warna pada jenis kelamin lakki-laki didapatkan hasil
d
distribusi waarna gigi yaang terbanyaak adalah waarna B2 sebaanyak 28,6 persen dan
w
warna A3 seebanyak 19 persen.
p

80

70

60

50

40 Gigi I1
34,5 32,1%
30 Gigi I2
26,2%
% Gigi C
20

10

0
paling 
1 ( p 2 (tterang) 3
3 ( agak  4
4 (gelap) 5 ( paling 
terrang) tterang) gelap)

Gambar 5.3
5 Distribusi warna gigi berrdasarkan warnna kulit.

    Universitas
s Indonesia

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


29 
 
Pada subjek dengan warna kulit tipe 3 didapatkan distribusi warna yang
terbanyak adalah B2 sebanyak 28,1 persen dan kemudian warna A3 sebanyak
21,9 persen.
Pada subjek dengan warna kulit tipe 4 didapatkan distribusi warna yang
terbanyak adalah pada value terang yaitu pada warna A1 sebanyak 32,7 persen
dan B2 sebanyak 20,4 persen.

Penelitian ini menggunakan alat spektrofotometer pada gigi insisif sentral,


insisif lateral dan kaninus untuk mengetahui apakah ada perbedaan diantara ketiga
gigi anterior tersebut pada setiap subjek. Pada layar hasil pengukuran dari
spektrofotometer dibaca hasil sesuai dengan skala vita 3D Master dan oleh
karena jumlah shade lebih banyak yaitu 24 shades maka dibagi menjadi 5
kelompok berdasarkan kelompok value.

80

70

60

50

40 Gigi I1

30 Gigi I2
Gigi C
20

10

0
1 ( paling  2 (terang) 3 ( agak terang) 4 (gelap) 5 ( paling gelap)
terang)

Gambar 5.4 Distribusi warna gigi Insisif sentral, insisif lateral dan kaninus berdasarkan value.

Pada gambar 5.4 terlihat gambaran distribusi warna gigi insisif sentral,
insisif lateral dan kaninus yang diukur dengan menggunakan spektrofotometer.
Dari 84 subjek terlihat hasil yang menunjukkan bahwa kecenderungan warna
gigi insisif sentral didapatkan dari paling terang 6% dan yang terbanyak adalah
warna terang sebanyak 66,7%. Pada warna insisif lateral tidak terdapat warna
paling terang, warna paling banyak didapatkan adalah warna terang sebanyak

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


30 
 
58,3% dan agak terang sebanyak 26,2%. Sedangkan pada warna gigi kaninus
didapatkan kecenderungan warna yang paling banyak adalah agak terang
sebanyak 34,5% dan gelap 32,1%.

Pada setiap subjek penelitian kemudian dilihat hasil pengukuran warna


antara gigi insisif sentral, insisif lateral dan kaninus. Setelah dianalisis
menggunakan uji Kruskal wallis maka didapatkan hasil p< 0,005 (p 0,00) yang
menunjukkan dimana terdapat perbedaan warna yang bermakna antara gigi insisif
sentral, insisif lateral dan kaninus.

Setelah itu pada penentuan warna gigi yang terdapat 5 value dibuat
menjadi 2 kelompok warna gigi (terang dan gelap) untuk analisis bivariat, warna
gigi dengan value 1 dan 2 menjadi value terang sedangkan warna gigi dengan
value 3 sampai 5 menjadi kategori value gelap.

Tabel 5.2 Perbedaan warna gigi anterior berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin dan warna
kulit

Hasil Penentuan Warna Gigi

Terang Gelap N p

Kelompok Usia

Remaja 11 4 15 0,024*

Dewasa 26 3 29

Pra-lansia dan 24 16 40
lansia

Jenis kelamin

Perempuan 31 11 42 0,807

Laki-laki 30 12 42

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


31 
 
Warna kulit

Tipe 3 21 13 34 0,066

Tipe 4 40 10 50

Keterangan:
*Bermakna (p<0.05)

Pada tabel 5.2, pada penentuan warna gigi berdasarkan usia didapatkan
hasil p 0,024 dimana p<0,05 yang menunjukkan adanya hubungan yang bermakna
antara usia dengan perbedaan warna gigi. Pada kelompok remaja warna gigi
banyak pada kategori terang yaitu pada value 1 dan 2 sedangkan pada lansia
terjadi peningkatan pada warna gigi kategori gelap yaitu pada value 3,4 dan 5.

Hasil penelitian pada jenis kelamin perempuan yang berwarna gigi terang
31 dari 42 yaitu sekitar 73,8 persen sedangkan pada jenis kelamin laki-laki yang
berwarna gigi terang sekitar 30 orang dari 42 yaitu sekitar 71,4 persen. Dari hasil
uji chi-square didapatkan p 0,807 dimana p> 0,005 yang menunjukkan tidak ada
hubungan antara jenis kelamin terhadap penentuan warna gigi.

Pada tabel 5.2 terlihat subjek dengan warna kulit tipe 4 yang mempunyai
gigi dengan value yang terang sebanyak 40 subjek yaitu sebesar 80 persen lebih
banyak dari warna kulit tipe 3 dengan gigi yang mempunyai value terang
sebanyak 21 subjek yaitu sebesar 61,7 persen. Namun dari hasil uji Chi-Square
didapatkan p 0,066 dimana p>0,05 yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan
warna kulit dalam penentuan warna gigi.

Tabel 5.3 tabel konversi untuk pemilihan warna gigi tiruan.

Terang (value 1,2) Gelap (value 3,4,5)


A1 A3
A2 A3,5
B1 A4
B2 B3
      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


32 
 
B4
C1
C2
C3
C4
D3
D4

Tabel 5.3 menunjukkan konversi dari value hasil pengukuran


spektrofotometer ke warna gigi tiruan yang menggunakan A-D shades. Untuk
faktor usia pemilihan warna usia remaja dan dewasa pemilihan warna gigi tiruan
pada value terang, sedangkan untuk usia pralansia dan lansia pemilihan warna gigi
tiruan pada value gelap.
Berdasarkan gambar 5.1 maka didapatkan hasil pada usia remaja dan
dewasa untuk penentuan warna gigi yang didapatkan sesuai distribusi warna gigi
yang terbanyak pada usia itu adalah value terang A1 dan B2. Pada gambar 5.1
menunjukkan hasil penentuan warna gigi untuk usia pralansia dan lansia
didapatkan sesuai distribusi warna gigi yang terbanyak adalah value gelap A3 dan
C3. Dari hasil penelitian ini dibuat kartu pedoman penentuan warna gigi tiruan
penuh berdasarkan usia sebagai berikut:

Gambar 5.5 Kartu penentuan elemen warna gigi tiruan penuh berdasarkan usia. 
      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
BAB VI

PEMBAHASAN

Penentuan warna gigi pada pasien edentulous merupakan suatu tantangan


bagi dokter gigi khususnya prostodontis. Terdapat dua macam alat bantu shade
guide yaitu dengan metode visual atau konvensional dan dengan alat digital
seperti spektrofotometer. Pada beberapa penelitian menyatakan bahwa
penggunaan spektrofotometer lebih baik untuk mengurangi subyektifitas shade
guide konvensional.

Pada penelitian ini didapatkan perbedaan distribusi warna gigi insisif


sentral, insisif lateral dan kaninus. Diperoleh warna gigi insisif sentral paling
terang dengan value 1 dan yang terbanyak adalah warna terang dengan value 2.
Pada gigi insisif lateral warna yang paling banyak didapatkan adalah warna
terang dengan value 2 dan agak terang dengan value 3. Sedangkan pada gigi
kaninus didapatkan yang paling banyak adalah warna agak terang dengan value 3
dan gelap dengan value 4. Warna gigi insisif lateral dan gigi kaninus tidak
terdapat value 1 (paling terang).

` Pada penelitian ini terdapat perbedaan warna gigi yang bermakna antara
gigi insisif sentral, insisif lateral dan kaninus. Sampai saat ini warna satu set
elemen gigi tiruan akrilik yang dijual tidak berbeda antara gigi geligi satu dengan
yang lain. Untuk didapatkan hasil gigi tiruan penuh yang tampak lebih alami
diharapkan warna gigi dapat lebih disesuaikan terutama pada bagian anterior.

Pengambilan subjek dengan rentang usia yang besar kemudian


dikelompokkan menjadi 3 kelompok usia karena peneliti ingin mengetahui adanya
hubungan usia apakah mempengaruhi warna gigi saat dilakukan pemeriksaan
dengan spektrofotometer.

Karena penelitian ini bertujuan untuk pemilihan warna gigi pada pasien
tidak bergigi dimana gigi tiruan biasanya mempunyai warna yang sama maka gigi

  33    Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


34 
 
yang dihubungkan untuk penentuan warna dengan kelompok usia, jenis kelamin
dan warna kulit adalah gigi insisif sentral. Gigi insisif sentral letaknya paling
depan pada lengkung rahang sehingga warna yang didapat paling terang dan
mempunyai bidang yang lebih luas bila dibandingkan dengan insisif lateral
sehingga memudahkan pada saat pengukuran warna. Untuk gigi kaninus selain
letaknya di sudut mulut menyebabkan kesulitan untuk pengambilan warna namun
pada umumnya warna gigi kaninus lebih gelap.9, 13, 21 Pada penelitian ini warna
diambil pada satu titik di bagian sepertiga tengah yang direkomendasi peneliti lain
untuk menggambarkan warna gigi karena adanya gradasi warna gigi dari servikal
ke insisal.21

Pada penelitian ini, penentuan warna gigi berdasarkan usia didapatkan


hasil yang menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara usia dengan
perbedaan warna gigi. Hasil ini menunjukkan semakin bertambah umur orang
mempunyai kecenderungan mempunyai warna gigi yang lebih gelap. Pada
penelitian yang dilakukan oleh Herekar, et al. (2010) dilakukan penentuan warna
dengan 2 macam shade guide yaitu vita lumin dan chromascop pada gigi insisif
sentral rahang atas dan bawah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa proses
menua berpengaruh terhadap warna gigi menjadi lebih gelap.9, 12, 14, 15

Penelitian dengan menggunakan spektrofotometer didapatkan perempuan


yang berwarna gigi terang sebanyak 31 subjek dari 42 subjek yaitu sekitar 73,8
persen sedangkan pada laki-laki yang berwarna gigi terang sekitar 30 subjek dari
42 subjek yaitu sekitar 71,4 persen. Menunjukkan tidak ada hubungan jenis
kelamin terhadap penentuan warna gigi (p 0,807). Untuk jenis kelamin menurut
penelitian yang dilakukan oleh Jahangiri et al, Herekar et al. dan Sharma et al.
ditemukan bahwa perempuan mempunyai warna gigi lebih terang dibandingkan
pria. Namun dari penelitian Jahangiri, et al. menggunakan shade guide vita
classical pada gigi insisif lateral sehingga sulit untuk menggambarkan value,
penelitian Herekar, et al. menggunakan shade guide vita classical dan chromascop
pada gigi insisif sentral rahang atas dan bawah menyatakan ada hubungan
bermakna antar jenis kelamin dengan warna gigi.9, 11, 12, 15

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


35 
 
Warna kulit mengikuti klasifikasi umum yaitu klasifikasi Fitzpatrick, dan
dalam penelitian ini alasan untuk memilih Wardah compact shade guide untuk
mencocokkan warna kulit karena sesuai dengan warna kulit orang Indonesia.
Namun dari klasifikasi warna kulit, penelitian ini hanya mendapatkan warna kulit
tipe 3 dan tipe 4 dimana pada penelitian lain tipe 3 dan 4 menjadi satu kelompok
dalan kategori medium. Hasil warna kulit tipe 4 yang mempunyai gigi dengan
value yang terang sebesar 80 persen lebih banyak dari warna kulit tipe 3 dengan
gigi yang mempunyai value terang sebesar 61,7 persen. Namun dari hasil uji
analisis didapatkan p 0,066 yang menunjukkan bahwa hubungan warna kulit
dalam penentuan warna gigi lemah.

Jahangiri, et al. (2002) membahas persepsi di antara dokter gigi


menunjukkan individu yang mempunyai warna kulit gelap mempunyai gigi
berwarna terang.9, 11-13
Penelitian Jahangiri, et al. menggunakan L’oreal true
Illusion compact make up dan membagi menjadi 4 tipe kulit tetapi pada penelitian
ini tidak mempunyai shade guide untuk warna gelap dan untuk pemeriksaan
warna gigi dengan menggunakan vita classical. Penelitian yang dilakukan oleh
Sharma (2010) menggunakan Revlon make up untuk shade guide dan membagi 3
kelompok tipe kulit.11 Semua penelitian di atas masih menggunakan shade guide
konvensional. Penggunaan shade guide konvensional untuk menentukan spektrum
warna gigi dapat mengakibatkan penentuan warna yang tidak konsisten.2, 4

Hasil dari penelitian ini untuk bidang kedokteran gigi khususnya


prostodonti dapat digunakan sebagai data untuk memilih elemen gigi tiruan guna
mencapai hasil yang lebih estetis dengan gigi insisif sentral, insisif lateral dan
kaninus mempunyai warna yang berbeda. Pada gigi insisif sentral biasanya
mempunyai warna lebih terang kemudian diikuti dengan insisif lateral yang dapat
sama atau lebih gelap dibandingkan insisif sentral dan gigi kaninus dengan warna
yang lebih gelap. Untuk faktor yang mempengaruhi penentuan warna gigi
diharapkan lebih memperhatikan faktor usia dengan usia remaja dan dewasa
pemilihan gigi lebih ke value terang yaitu value 1 dan 2 sedangkan untuk pra
lansia dan lansia yang merupakan usia yang umum dibuatkan gigi tiruan penuh,
pemilihan gigi berada di value gelap yaitu value 3,4 dan 5.
      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


36 
 
Dari hasil konversi tabel vita ke warna gigi tiruan didapatkan value terang
pada warna gigi tiruan A1, A2, B1, B2 sedangkan value gelap A3, A3,5, A4, B3,
B4, C1, C2, C3, C4,D3, D4. Kemudian bila dilihat dari frekuensi warna gigi yang
paling banyak untuk usia remaja dan dewasa adalah warna A1 dan B2 sedangkan
pada usia pralansia dan lansia adalah warna A3 dan C3.

Untuk aplikasi klinis dari hasil penelitian ini dibuat kartu pedoman untuk
penentuan warna gigi tiruan penuh berdasarkan usia, dengan cara menentukan 2
pilihan warna gigi berdasarkan usia. Pada pasien diperlihatkan dua pilihan warna
dengan shade guide atau dapat juga dengan menyusun elemen gigi anterior yang
dibagi menjadi dua pilihan warna yang berbeda sesuai dengan usia. Setelah pasien
mencoba gigi tiruan malamnya, pasien dapat memilih warna elemen gigi tiruan
sesuai keinginan pasien dari dua warna tersebut.

Kelemahan pada penelitian ini adalah kurang banyaknya jumlah subjek


yang didapat sehingga peneliti tidak dapat membagi pengelompokan warna gigi
berdasarkan 5 kelompok value warna gigi tetapi hanya menjadi dapat menjadi 2
kelompok value yaitu terang dan gelap, sedangkan kelemahan lain adalah untuk
warna kulit untuk pemeriksaan di adalah kebanyakan tipe 3 dan 4 sehingga kurang
mendapatkan hasil yang baik dan tidak adanya shade guide khusus warna kulit
untuk penelitian ini.

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
BAB VII

KESIMPULAN

7.1 Kesimpulan
1. Terlihat gambaran distribusi warna gigi insisif sentral, insisif lateral dan
kaninus yang diukur dengan menggunakan spektrofotometer.
Kecenderungan value warna gigi insisif sentral dimulai dari warna paling
terang dengan yang terbanyak adalah warna terang. Sebaliknya gigi insisif
lateral warna yang paling banyak didapatkan adalah warna terang dan
diikuti dengan agak terang. Sedangkan pada warna gigi kaninus
didapatkan kecenderungan warna yang paling banyak adalah agak terang.
2. Adanya hubungan yang bermakna antara usia dengan perbedaan warna
gigi. Pada kelompok remaja warna gigi lebih banyak pada kategori terang
sedangkan pada lansia terjadi peningkatan pada warna gigi kategori gelap.
3. Terdapat perbedaan yang bermakna antara warna gigi insisif sentral,
insisif lateral dan kaninus. Sedangkan berdasarkan jenis kelamin
menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap warna gigi.
4. Pada penelitian ini terlihat subjek dengan warna kulit tipe 4 mempunyai
value yang terang lebih banyak dari warna kulit tipe 3, namun tidak ada
hubungan warna kulit dalam warna gigi.
5. Panduan dalam pemilihan warna gigi tiruan usia remaja dan dewasa adalah
A1, B2, untuk usia pralansia dan lansia adalah A3, C3

7.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan oleh peneliti untuk penelitian selanjutnya
yaitu

 Data hasil penelitian berguna untuk panduan pemilihan warna gigi tiruan
yang tersedia di pasaran dalam pembuatan gigi tiruan penuh sehingga
mendapatkan hasil yang estetis.

  37    Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


38 
 
 Data hasil penelitian ini berguna untuk komunikasi antara dokter gigi dan
lab dalam hal penentuan warna
 Data hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai data awal dalam
menganalisis warna gigi dengan spektrofotometer untuk melakukan
penelitian lebih lanjut dengan memperhitungkan faktor lain yang
mempengaruhi warna gigi.
 Untuk peneliti yang akan melanjutkan penelitian ini disarankan untuk
menambah besar sampel yang lebih merata pada tiap kelompok.

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
DAFTAR PUSTAKA

1. Tuncdemir ARR, Gungor AY, Kahraman B. The Relationship of Some


Patients Factors with Shade of Their Teeth Measured by
Spectrophotometry in Turkish people. Park J Med Sci 2012;28(1):67-70.
2. Dosari AF. Reability of Tooth Shade Perception by Dental Professional
and Patients. Pakistan Oral & Dental journal 2010;30(1):244-9.
3. Todorovic A, Todorovic A, Gostovic AS, Lazic V, Milicic B, Djurisic S.
Reability of conventional shade guides in teeth color determintation.
Vojnosanit Pregl 2013;70(10):929-34.
4. Chen H, Dong X, Qian J, He J, Qu X, Lu E. A Systemic Review of Visual
and Instrumental Measurements for Tooth Shade Matching. Quintessence
Asia pacific Edition 2012;1(3):46-56.
5. Chu Sj, Devigus A, Mieleszko AJ. Fundamentals of Color: Shade
Matching and Communication in Esthetic Dentistry. 2 ed: Quintessence
Publising Co, Inc; 2010: 3-4,28-30,34,38-42
6. Judeh A, Al-Wahadni A. A comparison between conventional visual and
spectrophotometric methods for shade selection. Quintessence
International 2009;40(9):69-79.
7. Dosumu OO, Dosumu EB. Relationship between Tooth Colour, Skin
Colour and Age: An Observational Study in Patients at Ibadan Dental
School. Afr. J. Biomed. Res 2010;13(1):9-14.
8. Diaz DG, Johnston WM, Wee AG. Estimating the Color of Maxillary
Central Incisors Based on Age and Gender. The Journal of Prosthetic
Dentistry 2008;100:93-8.
9. Jahangiri L, Reinhardt SB, Mehra RV, Matheson PB. Relationship
between Tooth Shade and Skin Color: An Observational Study. The
Journal of Prosthetic Dentistry 2002;87(2):149-52.
10. Esan TA, Olusile AO, Akeredolu PA. Factors Influencing Tooth Shade
Selection for Completely Edentulous Patients. The Journal of
Contemporary Dental Practice 2006;7(5):80-7.
11. Sharma V, Punia V, Khandelwal M, Punia S, B RL. A Study of
Relationship between Skin Color and Tooth Shade Value in Population of
Udaipur, Rajasthan. International Journal of Dental Clinics 2010;2(4):26-
29.
12. Zarb GA, Borlender CL, Hickey JC, Carlson GE. Boucher's Prosthodontic
Treatment foe Edentulous Patients. St. Louis: The CV Mosby Co;
1990:338-40
13. Ahmad S, Habib SR, Azad AA. Scientific and Artistic Principles of Tooth
Shade Selection: A Review. Pakistan Oral & Dental journal
2011;31(1):222-6.
14. Azad AA, Ahmad S, Zia M, Sharif M. Relationship of Age, Gender and
Skin Tone to Shades of Permanent Maxillary Central Incisors. Pakistan
Oral & Dental journal 2007;27(1):119-26.

  39    Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
15. Herekar M, Fernandes A, Mangalvedhekar M. The Most Prevalent Tooth
Shade in a Particular Population: A Survey. JIDA 2010;4(12):499-502.
16. Hickey JC. The Glossary of Prosthodontic Terms. J Prosthet Dent
2005;94:24.
17. Fondriest J. Shade Matching in Restorative Dentistry: The Science &
Strategies. Estetics;3:1-56.
18. Gurel G, editor. The Science and Art of Porcelain Laminate Veneers.
German: Quintessence books; 2003:157
19. Goodacre CJ, Sagel PA. Dental esthetics in Practice: Part3- Understanding
Color & Shade Selection. http://media.dentalcare.com/media/en-
us/education/ce1003/ce1003.pdf. 11 Desember 2013
20. Krasniqi TP, Pustina B. The correlation of the color in maxillary central
incisors. Digital Dental News 2012;6:6-11.
21. Joiner A. Tooth colour: a review of the literature. Journal of Dentistry
2003;32:3-12.
22. Hegenbarth EA. Creative Ceramic Color: A Practical System. Chicago:
Quintessence Publishing Co. Ltd; 1990
23. Nallaswamy, Deepak. Text Book of Prosthodontics. New Delhi: Jaype
Brothers; 2003:176-7,440
24. Kataoka S, Nishimura Y. Nature's Morphology: An Atlas of Tooth Shape
and form. Tokyo: Quintessence Publishing Co, Inc.; 2002.
25. http://ilmu-kesehatan-masyarakat.blogspot.com. 11 Desember 2013
26. http://vident.com/wp-content/uploads/2011/07/en_3050315.pdf. 10
Februari 2014
27. Liena C, Lozano E, Amengual J, Forner L. Reability of Two Color
selection Devices in Matching and Measuring Tooth Color. The Journal of
Contemporary Dental Practice 2011;12(1):19-23.
28. Jivanescu A, Marcauteanu C, Pop D, Goguta L, Bratu D. Conventional
Versus Spectrophotometric Shade Taking for the Upper Central Incisor: A
Clinical Comparative Study. TMJ 2010;60(4):274-9.
29. http://vident.com/files/2011/09/Vita-Easyshade-Compact-Instruction-for-
Use_1506E.pdf. 10 Februari 2014
30. Corciolani G. A study of dental color matching, color selection and color
reproduction Siena: University of Siena; 2009:8-15
31. http://vident.com/wp-content/uploads/2012/03/Shade-Conversion-Chart-
2012.pdf. 10 Februari 2014

  40    Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
Lampiran 1

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
Lampiran 2

Surat Permohonan Kesediaan Berpartisipasi dalam Penelitian kepada


Subyek Penelitian

Kepada Yth,
Bapak/Ibu/Sdr.
Di tempat

Bersama ini saya mohon kesediaan Bapak/Ibu/Sdr untuk berpartisipasi sebagai


subyek penelitian saya yang berjudul: Hubungan antara warna Gigi Insisif Rahang
Atas dengan Usia, Jenis Kelamin dan warna Kulit

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh model untuk memprediksikan


warna gigi berdasarkan usia, jenis kelamin dan warna kulit.

Dalam penelitian tersebut Bapak/Ibu/Sdr akan dilakukan:

1. Pencatatan Nama, Usia, Jenis Kelamin dan Pekerjaan.


2. Pembersihan gigi depan atas dengan pasta profilaksis
3. Penentuan warna gigi depan atas dengan Spektrofotometer dan
penentuan warna kulit dengan compat powder Wardah
4. Lama pemeriksaan kira-kira 15 hingga 20 menit.

Keuntungan menjadi subyek penelitian ini antara lain:

1. Bapak/Ibu/Sdr dapat mengetahui apa warna gigi sekarang sehingga


apabila Bapak/Ibu/Sdr dibutuhkan pembuatan gigi tiruan kelak sudah
mempunyai data.
2. Bapak/Ibu/Sdr telah berpartisipasi dalam pengembangan ilmu
pengetahuan, terutama dalam bidang kedokteran gigi

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
Kerugian menjadi subyek penelitian ini antara lain:

1. Ketidaknyamanan pada saat pemeriksaan


2. Pemeriksaan membutuhkan waktu.

Jika Bapak/Ibu/Sdr bersedia, Surat Pernyataan Kesediaan Menjadi Subyek


Penelitian terlampir harap ditandatangani dan dikirimkan kembali kepada Henny
Susanty, drg di klinik Spesialis Prosthodonsia RSGM-P FKG UI.

Perlu Bapak/Ibu/Sdr ketahui bahwa surat kesediaan tersebut tidak mengikat dan
Bapak/Ibu/Sdr dapat mengundurkan diri dari penelitian ini kapan saja selama
penelitian berlangsung.

Demikian, mudah-mudahan keterangan saya diatas dapat dimengerti dan atas


kesediaan Bapak/Ibu/Sdr untuk berpartisipasi dalam penelitian ini saya ucapkan
terimakasih.

Jakarta, ____________2014

Henny Susanty

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI SUBYEK PENELITIAN

Setelah membaca dan mendengar semua keterangan tentang resiko, keuntungan,


dan hak-hak saya sebagai subyek penelitian yang berjudul Hubungan antara
Warna Gigi Insisif Rahang Atas dengan Usia, Jenis Kelamin dan Warna Kulit atas
nama Henny Susanty.

Saya dengan sadar dan tanpa paksaan bersedia berpartisipasi dalam penelitan
tersebut di atas.

Jakarta, __________2014

Tanda tangan subyek (nama)

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
Lampiran 3
Distribusi Frekuensi
Kelompok usia

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Remaja 15 17.9 17.9 17.9

Dewasa 29 34.5 34.5 52.4

Pra Lansia dan lansia 40 47.6 47.6 100.0

Total 84 100.0 100.0

Jenis Kelamin

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid perempuan 42 50.0 50.0 50.0

laki-laki 42 50.0 50.0 100.0

Total 84 100.0 100.0

Warna Kulit

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid tipe 3 34 40.5 40.5 40.5

tipe 4 50 59.5 59.5 100.0

Total 84 100.0 100.0

   

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
Warna gigi I1

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid paling terang 5 6.0 6.0 6.0

terang 56 66.7 66.7 72.6

agak terang 17 20.2 20.2 92.9

gelap 4 4.8 4.8 97.6

paling gelap 2 2.4 2.4 100.0

Total 84 100.0 100.0

Warna gigi I2

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid terang 49 58.3 58.3 58.3

agak terang 22 26.2 26.2 84.5

gelap 10 11.9 11.9 96.4

paling gelap 3 3.6 3.6 100.0

Total 84 100.0 100.0

Warna gigi C

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid terang 15 17.9 17.9 17.9

agak terang 29 34.5 34.5 52.4

gelap 27 32.1 32.1 84.5

paling gelap 13 15.5 15.5 100.0

Total 84 100.0 100.0

   

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
Warna gigi I1 pada usia remaja

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid A1 5 35.7 35.7 35.7

A2 2 14.3 14.3 50.0

A3 2 14.3 14.3 64.3

B2 5 35.7 35.7 100.0

Total 14 100.0 100.0

Warna gigi I1 pada usia dewasa

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid A1 10 34.5 34.5 34.5

A2 4 13.8 13.8 48.3

A3 2 6.9 6.9 55.2

B1 1 3.4 3.4 58.6

B2 6 20.7 20.7 79.3

B3 1 3.4 3.4 82.8

C1 1 3.4 3.4 86.2

C2 2 6.9 6.9 93.1

D2 2 6.9 6.9 100.0

Total 29 100.0 100.0

   

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
Warna gigi I1 pada usia pralansia dan lansia

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid A1 6 14.6 14.6 14.6

A2 1 2.4 2.4 17.1

A3 10 24.4 24.4 41.5

A4 1 2.4 2.4 43.9

B2 6 14.6 14.6 58.5

B3 1 2.4 2.4 61.0

C1 4 9.8 9.8 70.7

C2 1 2.4 2.4 73.2

C3 7 17.1 17.1 90.2

D2 1 2.4 2.4 92.7

D3 1 2.4 2.4 95.1

D4 2 4.9 4.9 100.0

Total 41 100.0 100.0

   

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
Warna gigi I1 pada perempuan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid A1 14 33.3 33.3 33.3
A2 3 7.1 7.1 40.5
A3 4 9.5 9.5 50.0
B2 8 19.0 19.0 69.0
B3 1 2.4 2.4 71.4
C1 4 9.5 9.5 81.0
C2 3 7.1 7.1 88.1
C3 2 4.8 4.8 92.9
D2 1 2.4 2.4 95.2
D3 1 2.4 2.4 97.6
D4 1 2.4 2.4 100.0
Total 42 100.0 100.0

Warna gigi I1 pada laki-laki


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid A1 7 16.7 16.7 16.7
A2 4 9.5 9.5 26.2
A3 8 19.0 19.0 45.2
A4 1 2.4 2.4 47.6
B1 1 2.4 2.4 50.0
B2 12 28.6 28.6 78.6
B3 1 2.4 2.4 81.0
C1 1 2.4 2.4 83.3
C3 4 9.5 9.5 92.9
D2 2 4.8 4.8 97.6
D4 1 2.4 2.4 100.0
Total 42 100.0 100.0

   

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
Warna gigi I1 pd warna kulit tipe3
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid A1 3 9.4 9.4 9.4
A2 1 3.1 3.1 12.5
A3 7 21.9 21.9 34.4
A4 1 3.1 3.1 37.5
B2 9 28.1 28.1 65.6
B3 1 3.1 3.1 68.8
C1 4 12.5 12.5 81.3
C3 4 12.5 12.5 93.8
D2 1 3.1 3.1 96.9
D4 1 3.1 3.1 100.0
Total 32 100.0 100.0

Warna gigi I1 pada warna kulit tipe 4


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
A1 16 32.7 32.7 32.7
Valid
A2 6 12.2 12.2 44.9
A3 5 10.2 10.2 55.1
B1 1 2.0 2.0 57.1
B2 10 20.4 20.4 77.6
B3 1 2.0 2.0 79.6
C1 1 2.0 2.0 81.6
C2 3 6.1 6.1 87.8
C3 2 4.1 4.1 91.8
D2 2 4.1 4.1 95.9
D3 1 2.0 2.0 98.0
D4 1 2.0 2.0 100.0
Total 49 100.0 100.0

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
Lampiran 4

Uji Kruskal-Wallis

Ranks

Value N Mean Rank

Gigi paling terang 5 42.50

terang 120 97.80

agak terang 68 141.32

gelap 41 173.62

paling gelap 18 177.83

Total 252

a,b
Test Statistics

Gigi

Chi-Square 60.883

df 4

Asymp. Sig. .000

a. Kruskal Wallis Test

b. Grouping Variable:
Value

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
Lampiran 5

Uji Chi-Square

Kelompok usia dengan value warna gigi I1

Crosstab

value warna I1

terang gelap Total

Kelompok usia Remaja Count 11 4 15

Expected Count 10.9 4.1 15.0

Dewasa Count 26 3 29

Expected Count 21.1 7.9 29.0

Pra Lansia dan lansia Count 24 16 40

Expected Count 29.0 11.0 40.0

Total Count 61 23 84

Expected Count 61.0 23.0 84.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 7.440 2 .024

Likelihood Ratio 8.089 2 .018

Linear-by-Linear Association 2.776 1 .096

N of Valid Cases 84

a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is 4,11.

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
Jenis Kelamin dengan value warna gigi I1

Crosstab

value warna I1

terang gelap Total

Jenis Kelamin perempuan Count 31 11 42

Expected Count 30.5 11.5 42.0

laki-laki Count 30 12 42

Expected Count 30.5 11.5 42.0

Total Count 61 23 84

Expected Count 61.0 23.0 84.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square .060a 1 .807


b
Continuity Correction .000 1 1.000

Likelihood Ratio .060 1 .807

Fisher's Exact Test 1.000 .500

Linear-by-Linear Association .059 1 .808

N of Valid Cases 84

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 11,50.

b. Computed only for a 2x2 table

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014


 
 
Warna Kulit dengan value warna gigi I1

Crosstab

value warna I1

terang gelap Total

Warna Kulit tipe 3 Count 21 13 34

Expected Count 24.7 9.3 34.0

tipe 4 Count 40 10 50

Expected Count 36.3 13.7 50.0

Total Count 61 23 84

Expected Count 61.0 23.0 84.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 3.385a 1 .066


b
Continuity Correction 2.530 1 .112

Likelihood Ratio 3.344 1 .067

Fisher's Exact Test .083 .057

Linear-by-Linear Association 3.344 1 .067

N of Valid Cases 84

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9,31.

b. Computed only for a 2x2 table

      Universitas Indonesia 

Hubungan warna ..., Henny Susanty, FKG UI, 2014