Anda di halaman 1dari 44

MAKALAH TOKSIKOLOGI

PESTISIDA

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK LIMA TINGKAT IIA

ADE BUYUNG RAMADHAN P07234016001


DIAH PUTRI AZHARI P07234016008
MONICA PUDJI ASTUTI P07234016017
N’LY CELLINE VIRGINITHA P07234016022
NUR MASYITAH P07234016025
PUTRI DIYAH UTAMI P07234016027

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmatnya kami dapat menyelesaikan tugas makalah toksikologi dengan judul
pestisida.

Terima kasih kepada ibu Eka Farpina dan teman-teman yang telah turut
membantu, membimbing, kerja sama dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga
tugas ini dapat terselesaikan. Semoga materi ini dapat bermanfaat menjadi
sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan. Khususnya bagi penulis
sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.Dalam penulisan makalah ini kami
merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun
materi. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat diharapkan demi
penyempurnaan isi makalah ini.

Akhirnya kami berharap semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan


imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan dan dapat
menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah. Aminn.

Samarinda, 06 April 2018

Tim Penyusun,

i
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii
DAFTAR BAGAN ............................................................................................................iv
DAFTAR TABEL ............................................................................................................. v
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ...................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 2
C. Tujuan .................................................................................................................... 2
D. Manfaat .................................................................................................................. 2
BAB II ISI .......................................................................................................................... 4
A. Pengertian Pestisida .............................................................................................. 4
B. Peranan Pestisida .................................................................................................. 5
C. Klasifikasi Pestisida .............................................................................................. 5
D. Dampak Penggunaan Pestisida ............................................................................ 7
1. Dampak Negatif .................................................................................................. 7
2. Dampak Positif.................................................................................................. 12
E. Keracunan pestisida............................................................................................ 12
1. Definisi .............................................................................................................. 12
2. Sifat ................................................................................................................... 13
3. Sumber .............................................................................................................. 14
4. Gejala ................................................................................................................ 15
F. Mekanisme Keracunan Pestisida ....................................................................... 22
1. Cara masuk pestisida ke dalam tubuh ............................................................... 22
2. Patofisiologi paparan pestisida.......................................................................... 23
G. Faktor Resiko Keracunan Pestisida .............................................................. 26
H. Diagnosis Keracunan Pestisida ...................................................................... 27
I. Pengendalian Keracunan Pestisida ................................................................... 27
1. Pencegahan Keracunan Pestisida ...................................................................... 27
2. Penanganan Keracunan Pestisida ...................................................................... 28
J. Penanggulangan Pencemaran Pestisida ............................................................ 29
K. Penyimpanan Pestisida ................................................................................... 34

ii
L. Kasus Keracunan Pestisida ................................................................................ 36
BAB III PENUTUP ......................................................................................................... 37
A. Kesimpulan .......................................................................................................... 37
B. Saran .................................................................................................................... 37
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 38

iii
DAFTAR BAGAN
Bagan 1 Dampak Penggunaan Pestisida Pertanian ................................................. 9

iv
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Klasifikasi Pestisida ................................................................................... 6
Tabel 2 Gejala pestisida ........................................................................................ 15
Tabel 3 Karakteristik arang aktif tempurung kelapa dan sekam padi ................... 30

v
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pestisida merupakan golongan bahan kimia yang umum digunakan untuk


membasmi hama dan gulma atau tanaman penganggu. Hama seperti jamur,
serangga, siput, dan hewan pengerat adalah organisme target pestisida.
Pestisida digunakan di berbagai bidang atau kegiatan, mulai dari rumah
tangga, kesehatan, pertanian, dan lain- lain. Disamping manfaatnya, pestisida
juga berpotensi juga meracuni dan membasmi makhluk hidup lainnya,
termasuk tanaman dan serangga yang berguna, binatang serta manusia. Hal ini
dikarenakan kebanyakan bahan aktif dalam pestisida tidak memiliki efek
toksisitas yang spesifik, sehingga mempengaruhi baik organisme target, non
target, manusia maupun lingkungan dan ekosistem secara keseluruhan (Costa,
2008; Sodiq, 2000; Sexton, et al., 2004).
WHO (2014) mencatat 1-5 juta kasus keracunan terjadi tiap tahun
khususnya pada pekerja pertanian. Dari besaran tersebut, 80% terjadi di negara
berkembang dengan mortality rate sebesar 5,5% atau sekitar 220.000 jiwa.
Jenni, et al. (2014) dalam studi kasusnya menyebutkan bahwa 95,8% petani
sayur dan buah di kota Batu, Malang Jawa Timur mengalami keracunan
pestisida berdasarkan pengukuran kadar kolinesterase dalam darahnya.
Keracunan massal juga pernah terjadi dalam kecelakaan kerja skala, isosianat
sebagai salah satu komponen pembentuk karbamat, pestisida organofosfat
yang digunakan untuk membasmi serangga, menyebabkan kematian onsite 16
ribu jiwa. Dampak insiden masih tetap dirasakan hingga 30 tahun pasca
kejadian dengan banyaknya kelahiran cacat dan kasus gagal organ. Pajanan
ringan jangka pendek, mungkin hanya menyebabkan iritasi pada selaput mata
atau kulit, namun pajanan ringan jangka panjang berpotensi menimbulkan
berbagai dampak kesehatan, seperti gangguan terhadap sistem hormon,
kegagalan organ dan kematian.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pestisida?
2. Apa peranan pestisida dalam kehidupan?
3. Bagaimana klasifikasi mengenai pestisida?
4. Bagaimana dampak dari penggunaan pestisida?
5. Bagaimana pestisida dapat menimbulkan racun?
6. Bagaimana mekanisme atau patofisiologi keracunan pestisida?
7. Bagaimana faktor resiko keracunan pestisida?
8. Bagaimana cara diagnosis keracunan pestisida?
9. Bagaimana cara pengendalian keracunan pestisida?
10. Bagaimana cara penanggulangan pencemaran pestisida?
11. Bagaimana cara penyimpanan pestisida?
12. Apa contoh kasus keracunan pestisida?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian pestisida
2. Untuk mengetahui peranan pestisida
3. Untuk mengetahui klasifikasi pestisida
4. Untuk mengetahui dampak dari penggunaan pestisida
5. Untuk mengetahui bagaimana pestisida dapat menimbulkan racun
6. Untuk mengetahui mekanisme atau patofisiologi keracunan pestisida
7. Untuk mengetahui faktor resiko keracunan pestisida
8. Untuk mengetahui bagaimana diagnosis keracunan pestisida
9. Untuk mengetahui bagaimana pengendalian keracunan pestisida
10. Untuk mengetahui bagaimana penanggulangan pencemaran pestisida
11. Untuk mengetahui bagaimana cara penyimpanan pestisida
12. Untuk mengetahui bagaimana kasus keracunan pestisida
D. Manfaat
1. Mahasiswa mengetahui pengertian pestisida
2. Mahasiswa mengetahui peranan pestisida
3. Mahasiswa mengetahui klasifikasi pestisida
4. Mahasiswa mengetahui dampak dari penggunaan pestisida

2
5. Mahasiswa mengetahui bagaimana pestisida dapat menimbulkan racun
6. Mahasiswa mengetahui mekanisme atau patofisiologi keracunan pestisida
7. Mahasiswa mengetahui faktor resiko keracunan pestisida
8. Mahasiswa mengetahui bagaimana diagnosis keracunan pestisida
9. Mahasiswa mengetahui bagaimana pengendalian keracunan pestisida
10. Mahasiswa mengetahui bagaimana penanggulangan pencemaran pestisda
11. Mahasiswa mengetahui bagaimana cara penyimpanan pestisida
12. Mahasiswa mengetahui bagaimana kasus keracunan pestisida

3
BAB II

ISI
A. Pengertian Pestisida
Pestisida merupakan golongan bahan kimia yang umum digunakan untuk
membasmi hama dan gulma atau tanaman penganggu hama seperti jamur,
serangga, siput dan hewan pengerat. Pestisida digunakan di berbagai bidang
atau kegiatan, mulai dari rumah tangga ,kesehatan, pertanian dan lain-lain.
Disamping manfaatnya, pestisida juga berpotensi meracuni dan membasmi
mahluk hidup lainya, termasuk tanaman dan serangga yang berguna, binatang
serta manusia. Hal ini dikarenakan kebanyakan bahan aktif dalam pestisida
tidak memiliki efek toksisitas yang spesifik,sehingga mempengaruhi baik
organisme target dan non target,manusia maupun lingkungan dan ekosistem
secara keseluruhan. ( Costa 2008,sexton,et al,2004 ).
WHO (2014 ) mencatat 1-5 juta kasus keracnan terjadi tiap tahun khususnya
pada pekerja pertanian dan besaran tersebut 80% terjadi di negara berkembang
dengan mortality rate sebesar 5,5% atau sekitar 220.000 jiwa. Jenni, et al (2014
) dalam studi kasusnya menyebutkan bahwa 95,8% petani sayur dan buah di
kota batu, malang, jawa timur mengalami keracunan pestisida berdasarkan
pengukuran kadar kolinesterase dalam darahnya. Keracunan massal pernah
terjadi dalam kecelakaan kerja skala, isosinat, salah satu pembentuk karbamat,
pestisida organofosfat yang digunakan untuk membasmi serangga,
menyebabkan kematian onsite 16 ribu jiwa. Dampak insiden masih dapat
dirasakan hingga 30 tahun pasca kejadian dengan banyaknya kelahiran cacat
dan kasus gagal organ dalam.

4
B. Peranan Pestisida
Peran Pestisida atau pembasmi hama adalah bahan yang digunakan untuk
mengendalikan, menolak, atau membasmi organisme penganggu, juga
digunakan untuk mengendalikan keberadaan hama yang diyakini
membahayakan. Pestisidan juga berperan dalam pengawetan makanan, seperti
mencegah jamur pada bahan pertanian dan mencegah serta membunuh tikus
yang biasa memakan hasil pertanian.

Cara penggunaan pestisida

o 75% aplikasi dengan disemprotkan, bercampur dengan udara, terbang


bersama angin.
o 60 – 99% akan mencapai target, tapi jika dalam bentuk serbuk hanya 10 -
40% mencapai target.
o Semakin kecil butiran, semakin jauh terbawa angin.

C. Klasifikasi Pestisida
1. Menurut asal/cara pembuatannya :
a. Pestisida sintesis
b. Pestisida nabati
2. Menurut susunan kimianya :
a. Pestisida anorganik ( HgCL, S )
b. Pestisida organik ( sintesis & nabati )
3. Menurut jenis sasaran :
Herbisida, insektisida, larvasida, rodentisida, fungisida dan lain lain.

5
Tabel 1 Klasifikasi Pestisida

Kelompok Pengertian Contoh/senyawa


Paration, diklorfos, diazinon,
Insektisida Pembunuh serangga
malation
Pembunuh gulma Klorofenoksi, klorakne,
Herbisida
(tanaman penganggu ) parakuat.
Dimetiltiokarbamat, ftamilida,
fungsida Pembunuh jamur
pentaklorofenol
Pembunuh hewan
Rodentisida Warfarin, tiourea, striknin
pengerat
Bentuk gas, cairan Akrinonitril, kloropikrin,
Fumigan
mudah menguap . etilendibromida

4. Klasifikasi pestisida kimiawi organik sintesis


a. Golongan Organochlorine (OC) :
1) Toksisitas tinggi: Endrin (Hexadrine)
2) Toksisitas sedang: Aldrin, Dieldrin, DDT, BHC dan lain lain.
b. Golongan Organophosphate (OP):
1) Toksisitas tinggi: Phorate, parathion, TEPP, azodrine,
phosphamidon, metahidophos dan lain-lain
2) Toksisitas sedang: Chlorpyrifos, Diazinon,Dimethoate, Malathion
dan lain-lain.
c. Golongan Carbamate ( C ):
1) Toksisitas tinggi: Temik, Carbofuran, methonyl dan lain-lain.
2) Toksisitas sedang: Baygon, Landrin, Carbaryl dan lain-lain.
5. Klasifikasi berdasarkan cara berkerjanya racun/cara masuknya
a. Racun perut (stomach poisons)
racun diberikan dengan umpan karena bersifat penarik (attractant)
b. Racun pernafasan (respiratory poisons)
racun dengan bahan kimia yang berbentuk fumigan.
c. Racun kontak (contact poisons)

6
residu (residual poisons) yang racun disemprotkan.
d. Debu dessikan (dessicants)
racun berbentuk debu hydroscopik yang dapat menyerap cairan tubuh
serangga.

D. Dampak Penggunaan Pestisida


1. Dampak Negatif
Dampak penggunaan pestisida lebih banyak pada negatifnya dibanding
positifnya jika penggunaannya tidak tepat. Pestisida merupakan bahan kimia,
campuran bahan kimia, atau bahan-bahan lain yang bersifat bioaktif. Pada
dasarnya, pestisida itu bersifat racun. Oleh sebab sifatnya sebagai racun itulah
pestisida dibuat, dijual, dan digunakan untuk meracuni OPT. Setiap racun
berpotensi mengandung bahaya. Oleh karena itu, ketidakbijaksanaan dalam
penggunaan pestisida bisa menimbulkan dampak negatif. Beberapa dampak
negatif dari penggunaan pestisida dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Dampak Bagi Keselamatan Pengguna
Penggunaan pestisida bisa mengkontaminasi pengguna secara
langsung sehingga mengakibatkan keracunan. Dalam hal ini, keracunan bisa
dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu keracunan akut ringan, akut
berat, dan kronis. Keracunan akut ringan menimbulkan pusing, sakit kepala,
iritasi kulit ringan, badan terasa sakit, dan diare. Keracunan akut berat
menimbulkan gejala mual, menggigil, kejang perut, sulit bernafas, keluar
air liur, pupil mata mengecil, dan denyut nadi meningkat. Selanjutnya,
keracunan yang sangat berat dapat mengakibatkan pingsan, kejang-kejang,
bahkan bisa mengakibatkan kematian.
Keracunan kronis lebih sulit dideteksi karena tidak segera terasa dan
tidak menimbulkan gejala serta tanda yang spesifik. Namun, keracunan
kronis dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan gangguan kesehatan.
Beberapa gangguan kesehatan yang sering dihubungkan dengan
penggunaan pestisida diantaranya adalah iritasi mata dan kulit, kanker,

7
keguguran, cacat pada bayi, serta gangguan saraf, hati, ginjal dan
pernapasan.
b. Dampak Bagi Konsumen
Dampak pestisida bagi konsumen umumnya berbentuk keracunan
kronis yang tidak segera terasa. Namun, dalam jangka waktu lama mungkin
bisa menimbulkan gangguan kesehatan. Meskipun sangat jarang, pestisida
dapat pula menyebabkan keracunan akut, misalnya dalam hal konsumen
mengonsumsi produk pertanian yang mengandung residu dalam jumlah
besar.
c. Dampak Bagi Kelestarian Lingkungan
Dampak penggunaan pestisida bagi lingkungan, bisa
dikelompokkan menjadi dua kategori:
1) Bagi Lingkungan Umum
a) Pencemaran lingkungan (air, tanah, dan udara).
b) Terbunuhnya organisme non-target karena terpapar secara langsung.
c) Terbunuhnya organisme non-target karena pestisida memasuki
rantai makanan.
d) Menumpuknya pestisida dalam jaringan tubuh organisme melalui
rantai makanan (bioakumulasi).
e) Pada kasus pestisida yang persisten (bertahan lama), konsentrasi
pestisida dalam tingkat trofik rantai makanan semakin ke atas akan
semakin tinggi (biomagnifikasi).
f) Penyederhanaan rantai makanan alami.
g) Penyederhanaan keragaman hayati.
h) Menimbulkan efek negatif terhadap manusia secara tidak langsung
melalui rantai makanan.
2) Bagi Lingkungan Pertanian (Agro-ekosistem)
a) OPT menjadi kebal terhadap suatu pestisida (timbul resistensi OPT
terhadap pestisida).
b) Meningkatnya populasi hama setelah penggunaan pestisida
(resurjensi hama).

8
c) Timbulnya hama baru, bisa hama yang selama ini dianggap tidak
penting maupun hama yang sama sekali baru.
d) Terbunuhnya musuh alami hama.
e) Perubahan flora, khusus pada penggunaan herbisida

d. Dampak Sosial Ekonomi


Penggunaan pestisida yang tidak terkendali menyebabkan biaya
produksi menjadi tinggi.
a) Timbulnya hambatan perdagangan, misalnya tidak bisa ekspor
karena residu pestisida tinggi.
b) Timbulnya biaya sosial, misalnya biaya pengobatan dan hilangnya
hari kerja jika terjadi keracunan.
c) Publikasi negatif di media massa

Bagan 1 Dampak Penggunaan Pestisida Pertanian

Selain dampak yang sudah disebutkan diatas, Komisi Pestisida juga telah
mengidentifikasi berbagai kemungkinan yang timbul sebagai akibat penggunaan
pestisida. Dampak yang mungkin timbul adalah:
1. Keracunan terhadap ternak dan hewan piaraan

9
Keracunan pada ternak maupun hewan piaraan dapat terjadi secara
langsung maupun tidak langsung. Secara langsung mungkin pestisida
digunakan untuk melawan penyakit pada ternak, sedangkan secara tidak
langsung mungkin pestisida digunakan untuk melawan serangga hama atau
hama yang lainnya, karena kelalaiannya dapat menyebabkan hewan ternak
mati karena memakan bahan yang mengandung racun.
2. Keracunan terhadap ikan
Penggunaan pestisida pada padi sawah atau lingkungan perairan
lainnya dapat mengakibatkan kematian pada ikan yang dipelihara di sawah
atau di kolam ikan liar.
3. Keracunan terhadap satwa liar
Penggunaan pestisida yang tidak bijaksana dapat menimbulkan
keracunan yang berakibat kematian pada satwa liar seperti burung, lebah,
serangga penyerbuk dan satwa liar lainnya. keracunan tesebut dapat terjadi
secara langsung karena kontak dengan pestisida, maupun tidak secara
langsung karena melalui rantai makanan.
4. Keracunan terhadap tanaman
Beberapa insektisida dan fungisida yang langsung digunakan pada
tanaman dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman yang diperlakukan.
Hal ini terjadi karena penggunaan formulasi pestisida yang mengandung
bahan aktif tertentu, dosis yang berlebihan atau mungkin pada saat
penyemprotan suhu atau cuaca terlalu panas terutama pada siang hari.
5. Kematian musuh alami jasad pengganggu
Penggunaan pestisida terutama yang berspektrum luas dapat
menyebabkan terjadinya kematian parasit dan predator (pemangsa) jasad
pengganggu. Kematian musuh alami tersebut dapat terjadi karena kontak
langsung dengan pestisida atau secara tidak langsung karena memakan
hama yang mati dan mengandung pestisida.
6. Kenaikan populasi jasad pengganggu
Sebagai akibat kematian musuh alami tersebut, maka jasad
pengganggu dapat lebih leluasa untuk berkembang, karena tidak adanya

10
pengendalian dari musuh alami. Pengurangan musuh alami diantaranya
disebabkan oleh:
a. Serangga-serangga herbivora (pemakan tumbuhan yang telah teracun
oleh insektisida menjadi lebih tersedia dan terbuka bagi predator
dibandingkan dengan serangga-serangga yang tidak teracun. Dengan
demikian predator memakan dosis insektisida yang lebih tinggi.
b. Karena predator lebih aktif bergerak mencari mangsa, maka mereka
berada di tempat yang lebih terbuka terhadap insektisida sehingga lebih
banyak yang terbunuh oleh perlakuan insektisida dibanding dengan
hamanya sendiri.
c. Predator memakan banyak mangsa yang konsentrasi insektisidanya
lebih tinggi dibanding mangsanya. Sehingga konsentrasi insektisida
pada predator lebih pekat.
7. Resistensi jasad pengganggu
Penggunaan pestisida terhadap jasad pengganggu tertentu
menyebabkan timbulnya resistensi, yang merupakan akibat tekanan seleksi
oleh pestisida terhadap populasi jasad penganggu. Resistensi berarti bahwa
jumlah individu yang mati sedikit sekali atau tidak ada yang mati, meskipun
telah disemprot dengan pestisida dosis normal atau dosis lebih tinggi
sekalipun.
8. Meninggalkan residu
Penggunaan pestisida khusunya pada tanaman akan meninggalkan
residu pada produk pertanian. Bahkan untuk pestisida tertentu masih dapat
ditemukan sampai saat produk pertanian tersebut diproses untuk
pemanfaatan selanjutya maupun saat dikonsumsi. Besarnya residu pestisida
yang tertinggal dalam produk pertanian tersebut tergantung pada dosis,
banyaknya dan interval aplikasi, faktor-faktor lingkungan fisik yang
mempengaruhi pengurangan residu, jenis tanaman yang diperlakukan,
formulasi pertisida dan cara aplikasinya, jenis bahan aktif dan potensinya
serta saat aplikasi terakhir sebelum produk pertanian dipanen. Pentingnya
residu pestisida dalam produk pertanian di samping ditentukan oleh

11
besarnya residu juga ditentukan oleh daya racun baik akut maupun kronik.
Sehubungan dengan hal tersebut, dalam usaha melindungi konsumen telah
ditetapkan tingkat residu yang aman untuk tiap jenis pestisida pada tiap jenis
hasil tanaman yang dikonsumsi.
2. Dampak Positif
a. Dapat diaplikasikan dengan mudah.
b. Mudah diperoleh
c. Membantu membasmi mikroorganisme penganggu tanaman.
E. Keracunan pestisida
1. Definisi
Bahaya keracunan pestisida sangat besar. Walaupun pestisida ini
mempunyai manfaat yang cukup besar pada masyarakat, namun dapat pula
memberikan dampak negatif pada manusia dan lingkungan. Pada manusia
pestisida dapat menimbulkan keracunan yang dapat mengancam jiwa manusia
ataupun menimbulkan penyakit/cacat (Munaf, 1997). Keracunan pestisida
adalah masuknya bahan-bahan kimia kedalam tubuh manusia melalui kontak
langsung, inhalasi, ingesti dan absorpsi sehingga menimbulkan dampak negatif
bagi tubuh.
Perbedaan kualitas paparan menimbulkan perbedaan dampak toksisitas.
Pemaparan kadar rendah dalam jangka panjang atau pemaparan dalam waktu
yang singkat dengan akibat kronis. Keracunan akut terjadi apabila efek
keracunan pestisida langsung pada saat dilakukan aplikasi atau seketika setelah
aplikasi pestisida. Berikut adalah beberapa gejala yang ditimbulkan dari
berbagai keracunan pestisida:
a. Keracunan akut ringan : menimbulkan pusing, sakit kepala, iritasi kulit
ringan, badan terasa sakit dan diare.
b. Keracunan akut berat : menimbulkan gejala mual, menggigil, kejang perut,
sulit bernafas, keluar air liur, pupil mata mengecil, denyut nadi meningkat
dan pingsan.
c. Keracunan kronis : iritasi mata dan kulit, kanker, keguguran, cacat pada
bayi, serta gangguan saraf, hati, ginjal dan pernafasan. Keracunan kronis

12
lebih sulit dideteksi karena tidak segera terasa dan menimbulkan gangguan
kesehatan.
2. Sifat
a. Berdasarkan fungsinya
1) Memberantas atau mencegah hama penyakit yang merusak tanaman,
bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian.
2) Memberantas gulma.
3) Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan.
4) Mengatur atau merangsang tanaman atau bagian dari tanaman.
5) Memberantas atau mencegah hama luar pada hewan peliharaan.
6) Memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah
tangga.

b. Berdasarkan struktur kimiawinya


1) Organophospat
Organophospat adalah insektisida yang paling toksik diantara
jenis pestisida lainnya dan sering menyebabkan keracunan pada
orang. Termakan hanya dalam jumlah sedikit saja dapat
menyebabkan kematian, tetapi diperlukan lebih dari beberapa mg
untuk dapat menyebabkan kematian pada orang dewasa.
Organophospat menghambat aksi pseudokholinesterase dalam
plasma dan kholineterase dalam sel darah merah dan pada
sinapsisnya. Enzim tersebut secara normal menghidrolisis
asetylcholin menjadi asetat dan kholin. Pada saat enzim dihambat,
mengakibatkan jumlah asetylcholin meningkat dan berikatan
dengan reseptor muskarinik dan nikotinik pada sistem saraf pusat
dan perifer. Hal tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan
yang berpengaruh pada seluruh bagian tubuh.
2) Carbamate
Insektisida karbamat telah berkembang setalah organofosfat.
Insektisida ini biasanya daya toksisitasnya rendah terhadap manusia

13
dibandingkan dengan organofosfat, tetapi sangat efektif untuk
membunuh insekta. Struktur karbamate seperti physostigmin,
ditemukan secara alamia dalam kacang Calabar. Bentuk carbaryl
telah secara luas dipakai sebagai insektisida dengan komponen
aktifnya adalah Sevine mekanisme toksisitas dari karbamate adalah
sama dengan organofosfat, dimana enzim achE dihambat dan
mengalami karbamilasi.
3) Organochlorin
Organoklorin atau disebut “Chlorinated hydrocarbon” terdiri
dari beberapa kelompok yang diklasifikasi menurut bentuk
kimianya. Yang paling populer dan pertama kali disintesis adalah
“Dichloro-diphenyl-trichloroethan” atau disebut DDT. Mekanisme
toksisitas dari DDT masih dalam perdebatan, walaupun komponen
kimia ini sudah disintesis sejak tahun 1874. Tetapi pada dasarnya
pengaruh toksiknya terfokus pada neurotoksin dan pada otak. Saraf
sensorik dan serabut saraf motorik serta kortek motorik adalah
merupakan target toksisitas tersebut. Dilain pihak bila terjadi efek
keracunan perubahan patologiknya tidaklah nyata. Bila seseorang
menelan DDT sekitar 10 mg/kg akan dapat menyebabkan
keracunan, hal tersebut terjadi dalam waktu beberapa jam. Perkiraan
LD50 untuk manusia adalah 300-500 mg/kg.
3. Sumber
Secara tidak langsung personal hygiene yang tidak tepat dapat
menimbulkan keracunan pestisida, sumber keracunan pestisida antara lain
adalah sebagai berikut:
a. Sayuran dan buah-buahan yang tidak dicuci terlebih dahulu sebelum
dikonsumsi.
b. Semprotan pestisida yang tidak sengaja terkena kulit, rambut, dan
pakaian.
c. Tidak menggunakan alat pelindung diri pada saat menggunakan
pestisida.

14
d. Pestisida mengenai kulit yang terluka karena pestisida dapat terserap
melalui luka.
e. Semprotan pestisida yang tidak sengaja terhirup.
f. Menggunakan peralatan yang sebelumnya telah terkontaminasi
pestisida tanpa dibersihkan dan dicuci terlebih dahulu.
4. Gejala
Berikut adalah tabel gejala-gejala yang ditimbulkan oleh beberapa
jenis golongan pestisida insektisida, herbisida, fungisida, rodentisida dan
fumigan

Tabel 2 Gejala pestisida

No Jenis Pestisida Gejala dan Tanda Keterangan


1. Insektisida:
Oganoklorin Mual, muntah, gelisah, Tidak ada
pusing, lemah, rasa geli antidot langsung
atau menusuk pada kulit, untuk mengatasi
kejang otot, hilang keracunan. Obat
koordinasi, tidak sadar. yang diberikan
hanya
mengurangi
gejala seperti
anti konvulsi dan
pernafasan
buatan.
Oraganofosfat dan Lelah, sakit kepala, pusing, Gejala
karbamat hilang selera makan, mual, keracunan
kejang perut, diare, karbamat cepat
penglihatan kabur, keluar muncul namun
air mata, keringat, air liur cepat hilang jika
berlebih, tremor, pupil dibandingkan
mengecil, denyut jantung

15
lambat, kejang otot, tidak dengan
sanggup berjalan, rasa organofosfat.
tidak nyaman dan sesak, Antidot: atropin
buang air besar dan kecil atau pralidoksin.
tidak terkontrol,
inkontinensi, tidak sadar
dan kejang-kejang.
Piretroid sintetik Iritasi kulit: pedih, rasa Jarang terjadi
terbakar, gatal-gatal, rasa keracunan,
geli, mati rasa, karena
inkoordinasi, tremor, kecepatan
salivasi, muntah, diare, absorpsi melalui
iritasi pada pendengaran kulit rendah dan
dan perasa piretroid cepat
hilang.
Piretroid derivat Alergi, iritasi kulit, dan Pada umumnya
tanaman: piretrum asma. efek muncul 1-2
dan piretrin jam setelah
paparan dan
hilangdalam 24
jam. Piretrin
lebih ringan
daripada
piretrum tetapi
bersifat iritasi
pada orang yang
peka.
Insektisida Iritasi kulit: kulit
anorganik Asam kemerahan, pengelupasan,
borat dan borat gatal-gatal pada kaki,

16
bokong, dan kemaluan,
iritasi saluran pernafasan
dan sesak nafas.
Insektisida Radang saluran
mikroba: Bacillus pencernaan.
thuringiensis
Iritasi kulit, kulit
kemerahan, melepuh
DEET repellent
hingga nyeri, iritasi mata,
pusing, perubahan emosi.
2. Herbisida Iritasi pada kulit, mata,
saluran pencernaan.
Herbisida biperidil Pertumbuhan abnormal Akumulasi
Parakuat pada: paru, lensa dan selama 24-72
kornea mata, mukosa jam,
hidung, kerusakan paru- menimbulkan
paru, ginjal, hati, dan otak. kematian.
Dikuat Gangguan lensa mata dan Lebih ringan
dinding saluran usus, daripada
gelisah, mengurangi parakuat.
sensitivitas terhadap
rangsangan.
Dikuat atau Iritasi pada membran Dosis tinggi.
parakuat mukosa mulut,
kerongkongan dan perut,
muntah, iritasi kulit dan
rasa terbakar, mimisan,
radang pada mulut dan
saluran pernafasan atas.

17
Klorfenoksi Iritasi tingkat sedang pada Kontak dalam
herbisida kulit dan membran jangka lama
mukosa, rasa terbakar pada akan
hidung, sinus dan dada, menghilangkan
batuk, diare, pusing, pigmen kulit.
bingung, bizar, tidak sadar. Dalam tubuh
ganya tingal
dalam waktu
singkat.
Herbisida arsenik: Pertumbuhan berlebih pada Oral.
Ansar dan motar epidermis, pengelupasan
kulit, produksi cairan Keracunan berat:
berlebih pada muka, bau bawang
kelopak mata dan putih pada
pergelangan kaki, garis pernafasan dan
putih pada kuku, feses.
kehilangan kuku, rambut
rontok, bercak merah pada Gejala mulai
membran mukosa. muncul 1-3 jam
sejak paparan.
Kerusakan saluran
pencernaan: radang mulut Kematian terjadi
dan kerongkongan, perut setelah 1-3 hari
rasa nyeri terbakar, haus, kemudian
muntah, diare berdarah. biasanya akibat
kegagalan sistem
Kerusakan sistem saraf sirkulasi.
pusat: pusing, sakit kepala,
lemah, kejang otot, suhu
tubuh turun, lamban,

18
mengigau, koma, kejang-
kejang.

Kerusakan hati: kulit


kuning.

Kerusakan darah:
pengurangan sel darah
merah, putih, dan platelet
darah.
3. Fungisida Iritasi pada membran Dermal, inhalasi,
mukosa. oral.
Pengawet kayu Iritasi kulit hingga Oral.
Kreosot (coal tar) dermatitis, iritasi mata dan
saluran pernafasan,
kerusakan hati parah.
Sakit kepala, pusing, mual, Dermal.
muntah, timbul bercak biru
kehitaman-hijau
kecoklatan pada kulit.
Pentaklorofenol Iritasi kulit, mata dan Dermal.
saluran pernafasan
menimbulkan rasa kaku
pada hidung, tenggorokan,
gatal, keluar air mata,
berjerawat.

Demam, sakit kepala, Oral.


mual, berkeringat banyak,
hilangnya kordinasi,

19
kejang-kejang, demam
tinggi, kejang otot dan
tremor, sulit bernafas,
konstriksi dada, nyeri perut
dan muntah, gelisah,
eksitasi dan bingung, haus
hebat, kolaps.
Arsenik Mual, sakit kepala, diare, Berdampak pada
nyeri perut, pusing, kejang sistem saraf
otot, mengigau, kejang- pusat, paru-paru,
kejang. jantung dan hati.
Gejala muncul
beberapa jam
setelah paparan.
Kematian terjadi
setelah 1-3 hari
setelah paparan
(tergantung
dosis).
4. Rodentisida
Kumarin Kronis: sakit kepala
menetap, sakit perut,
salivasi, demam iritasi
saluran pernafasan atas.
Perdarahan pada hidung,
gusi, kencing berdarah,
feses berlendir, timbul
bercak biru kehitaman-
hijau kecoklatan pada kulit.

20
Indadion Kerusakan saraf, jantung,
dan sistem sirkulasi,
hemoragi, kematian pada
hewan. Pada manusia
belum ada dampak yang
dilaporkan.
Seng sulfat Diare, nyeri perut, mual,
muntah, sesak, tereksitasi,
rasa dingin, hilang
kesadaran, edema paru,
iritasi hebat, kerusakan
paru-paru, hati, ginjal, dan
sistem saraf pusat, koma
kematian.
Strikhnin Kerusakan sistem saraf
dalam 20-30 menit,
kejang-kejang hebat,
kesulitan pernafasan,
meninggal.
5. Fumigan Sakit kepala, pusing, mual,
muntah.
Sulfur florida Depresi, sempoyongan,
gagap, mual, muntah, nyeri
lambung, gelisah, mati
rasa, kedutan, kejang-
kejang, nyeri dan rasa
dingin di kulit, kelumpuhan
pernafasan.
Fosfin Rasa dingin, nyeri dada,
diare, muntah, batuk, dada

21
sesak, sukar bernafas,
lemas, haus dan gelisah,
nyeri lambung, hilangnya
koordinasi, kulit kebiruan,
nyeri tungkai, perbesaran
pupil, timbul cairan pada
paru-paru, pingsan, kejang-
kejang, koma dan
kematian.
Halokarbon Kulit kemerahan,
melepuhm dan pecah-
pecah menimbulkan kulit
kasar dan luka.
Nyeri perut, lemah, gagap,
bingung, treomor, kejang-
kejang seperti epilepsi.

F. Mekanisme Keracunan Pestisida


1. Cara masuk pestisida ke dalam tubuh
Kontaminasi lewat kulit merupakan kontaminasi yang paling sering
terjadi, meskipun tidak seluruhnya berakhir dengan keracunan akut. Lebih
dari 90% kasus keracunan diseluruh dunia disebabkan oleh kontaminasi
lewat kulit. Faktor risiko kontaminasi lewat kulit dipengaruhi oleh daya
toksisitas dermal, konsentrasi, formulasi, bagian kulit yang terpapar dan
luasannya, serta kondisi fisik individu yang terpapar. Risiko keracunan
semakin besar jika nilai lethal dose 50 (LD50) semakin kecil, konsentrasi
pestisida yang menempel pada kulit semakin pekat, formulasi pestisida
dalam bentuk yang mudah diserap, kulit yang terpapar lebih mudah
menyerap seperti punggung tangan, area yang terpapar luas serta jika
kondisi sistem kekebalan individu sedang lemah. Pekerjaan- pekerjaan yang

22
menimbulkan risiko kontaminasi lewat kulit umumnya adalah
penyemprotan, pencampuran pestisida dan proses pencucuian alat-alat
kontak pestisida.
Keracunan pestisida karena partikel pestisida terhisap lewat hidung
merupakan yang terbanyak kedua sesudah kontaminasi kulit. Gas dan
partikel semprotan yang sangat halus (misalnya, kabut asap dari fogging)
dapat masuk kedalam paru-paru, sedangkan partikel yang lebih besar akan
menempel di selaput lendir hidung atau di kerongkongan. Bahaya
penghirupan pestisida lewat saluran pernapasan juga dipengaruhi oleh LD
50 pestisida yang terhirup dan ukuran partikel dan bentuk fisik pestisida.
Pestisida berbentuk gas yang masuk ke dalam paru-paru dan sangat
berbahaya. Partikel atau droplet yang berukuran kurang dari 10 mikron
dapat mencapai paru-paru, namun droplet yang berukuran lebih dari 50
mikron mungkin tidak mencapai paru-paru, tetapi dapat menimbulkan
gangguan pada selaput lendir hidung dan kerongkongan. Toksisitas
droplet/gas pestisida yang terhisap ditentukan oleh konsentrasinya di dalam
ruangan atau di udara, lamanya paparan dan kondisi fisik individu yang
terpapar. Pekerjaan yang menyebabkan terjadinya kontaminasi lewat
saluran pernafasan umumnya pekerjaan yang terkait dengan penyemprotan
lahan pertanian, fogging atau alat pembasmi serangga domestik.
Cara yang ketiga adalah intake lewat mulut (oral). Peristiwa
keracunan lewat mulut sebenarnya tidak sering terjadi dibandingkan
kontaminasi kulit atau keracunan karena terhirup. Contoh oral intake
misalnya kasus bunuh diri, makan minum merokok ketika bekerja dengan
pestisida, menyeka keringat dengan sarung tangan atau kain yang
terkontaminasi pestisida, drift atau butiran pestisida yang terbawa angin
masuk ke mulut, meniup nozzle yang tersumbat dengan mulut, makanan dan
minuman terkontaminasi pestisida.
2. Patofisiologi paparan pestisida
Pestisida masuk kedalam tubuh melalui beberapa cara, diantaranya
absorpsi melalui kulit, melalui oral baik disengaja atau kecelakaan, dan

23
melalui pernafasan. Absorbsi lewat kulit atau subkutan dapat terjadi jika
substansi toksik menetap di kulit dalam waktu lama. Intake melalui saluran
pernafasan terjadi jika pemaparan berasal dari droplet, uap atau serbuk
halus. Pestisida meracuni manusia melalui berbagai mekanisme kerja.
a. Mempengaruhi kerja enzim dan hormon. Bahan racun yang masuk
kedalam tubuh dapat menonaktifkan aktivator sehingga enzim atau
hormon tidak dapat bekerja. Pestisida tergolong sebagai endocrine
disrupting chemicals (EDCs), yaitu bahan kimia yang dapat
mengganggu sintesis, sekresi, transport, metabolisme, pengikatan dan
eliminasi hormon-hormon dalam tubuh yang berfungsi menjaga
homeostasis, reproduksi dan proses tumbuh kembang.
b. Merusak jaringan. Masuknya pestisida menginduksi produksi
serotonin dan histamin, hormon ini memicu reaksi alergi dan dapat
menimbulkan senyawa baru yang lebih toksik (Bolognesi, 2003).
Beberapa sumber juga mengatakan patofisiologi pestisida:
a. Organoklorin
Pestisida organoklorin, seperti DDT , Aldrin , dan dieldrin sangat
kuat dan terakumulasi dalam jaringan lemak. Melalui proses
bioakumulasi (jumlah yang lebih rendah di lingkungan bertambah
besar berurutan naik seiring rantai makanan), sejumlah besar
organoklorin dapat terakumulasi dalam spesies atas seperti manusia.
Ada bukti substansial yang menunjukkan bahwa DDT, dan perusahaan
metabolit DDE mengganggu fungsi hormon estrogen, testosteron, dan
hormon steroid lainnya.
b. Anticholinesterase compounds
Beberapa jenis organofosfat tertentu telah lama diketahui memiliki
efek toksisitas delayed onset pada sel-sel saraf, yang sering kali
bersifat ireversibel. Beberapa studi telah menunjukkan defisit terus-
menerus dalam fungsi kognitif pada pekerja terpajan terhadap
pestisida. Bukti Baru menunjukkan bahwa pestisida dapat
menyebabkan neurotoksisitas perkembangan pada dosis yang lebih

24
rendah dan tanpa depresi kadar cholinesterase di plasma. Pestisida
dapat masuk kedalam tubuh manusia melalui berbagai cara yakni
melalui kontaminasi memalui kulit (dermal Contamination), terhisap
masuk kedalam saluran pernafasan (inhalation) dan masuk melalui
saluran pencernaan makanan lewat mulut (oral).
Senyawa-senyawa OK (organokhlorin, chlorinated hydrocarbons)
sebagian besar menyebabkan kerusakan pada komponen-komponen
selubung sel syaraf (Schwanncells) sehingga fungsi syaraf terganggu.
Keracunan dapat menyebabkan kematian atau pulih kembali.
Kepulihan bukan disebabkan karena senyawa OK telah keluar dari
tubuh tetapi karena disimpan dalam lemak tubuh. Semua insektisida
OK sukar terurai oleh faktor-faktor lingkungan dan bersifat persisten,
Mereka cenderung menempel pada lemak dan partikel tanah sehingga
dalam tubuh jasad hidup dapat terjadi akumulasi, demikian pula di
dalam tanah. Akibat keracunan biasanya terasa setelah waktu yang
lama, terutama bila dosis kematian (lethal dose) telah tercapai. Hal
inilah yang menyebabkan sehingga penggunaan OK pada saat ini
semakin berkurang dan dibatasi.
Efek lain adalah biomagnifikasi, yaitu peningkatan keracunan
lingkungan yang terjadi karena efek biomagnifikasi (peningkatan
biologis) yaitu peningkatan daya racun suatu zat terjadi dalam tubuh
jasad hidup, karena reaksi hayati tertentu. Semua senyawa
OF(organofosfat,o rganophospates) dan KB (karbamat,carbamates)
bersifat perintang ChE (ensimcho line esterase), ensim yang berperan
dalam penerusan rangsangan syaraf. Keracunan dapat terjadi karena
gangguan dalam fungsi susunan syaraf yang akan menyebabkan
kematian atau dapat pulih kembali. waktu residu dari OF dan KB ini
tidak berlangsung lama sehingga keracunan kronis terhadap
lingkungan cenderung tidak terjadi karena faktor-faktor lingkungan
mudah menguraikan senyawa-senyawa OF dan KB menjadi
komponen yang tidak beracun. Walaupun demikian senyawa ini

25
merupakan racun akut sehingga dalam penggunaannya faktor-faktor
keamanan sangat perlu diperhatikan. Karena bahaya yang
ditimbulkannya dalam lingkungan hidup tidak berlangsung lama,
sebagian besar insektisida dan sebagian fungisida yang digunakan saat
ini adalah dari golongan OF dan KB.
Parameter yang digunakan untuk menilai efek keracunan pestisida
terhadap mamalia dan manusia adalah nilai LD50 (lethal dose 50 %)
yang menunjukkan banyaknya pestisida dalam miligram (mg) untuk
tiap kilogram (kg) berat seekor binatang-uji, yang dapat membunuh 50
ekor binatang sejenis dari antara 100 ekor yang diberidose tersebut.
Yang perlu diketahui dalam praktek adalah LD50 akut oral (termakan)
dan LD50 akut dermal (terserap kulit). Nilai-nilai LD50 diperoleh dari
percobaan-percobaan dengan tikus putih. Nilai LD50 yang tinggi (di
atas 1000) menunjukkan bahwa pestisida yang bersangkutan tidak
begitu berbahaya bagi manusia. LD50 yang rendah (di bawah 100)
menunjukkan hal sebaliknya.
G. Faktor Resiko Keracunan Pestisida
Faktor yang berhubungan dengan kejadian keracunan pestisida
organofosfat antara lain:
1. Umur
2. Jenis Kelamin
3. Pengetahuan
4. Pengalaman
5. Keterampilan
6. Pendidikan
7. Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD)
8. Status gizi dan praktek penanganan pestisida
9. Penggunaan pestisida
10. Pasca penggunaan pestisida

26
H. Diagnosis Keracunan Pestisida
Sebagian penyakit terkait pestisida memiliki tanda dan gejala yang mirip
dengan kondisi medis umum (seperti pada gejala keracunan yang dijelaskan
sebelumnya), sehingga riwayat lingkungan dan pekerjaan yang lengkap dan
rinci sangat penting untuk mendiagnosis dengan benar sebuah keadaan
keracunan pestisida. Pertanyaan skrining tambahan tentang pekerjaan pasien
dan lingkungan rumah juga dapat menunjukkan apakah ada potensi keracunan
pestisida (Reigart, J.R. and Roberts, J.R. (1999).
Jika seseorang terpapar secara teratur menggunakan pestisida karbamat dan
organofosfat, penting untuk dilakukan pengujian kadar enzim Cholinesterase
sebagai data awal. Cholinesterase adalah enzim yang penting dari sistem saraf.
Dan terdapat kelompok-kelompok kimia yang mampu membunuh hama juga
berpotensi berbahaya atau bahkan dapat membunuh manusia melalui
mekanisme penghambat enzim cholinesterase, salah satunya adalah golongan
pestisida. Jika seseorang telah memiliki tes awal dan kemudian tersangka
keracunan, kita dapat mengidentifikasi tingkat masalah dengan perbandingan
tingkat cholinesterase saat ini dengan kadar cholinesterase pada data awal. Hal
ini sangat bermanfaat untuk mendiagnosis keracunan pestisida terkait kerja
pada pekerja beresiko.
Umumnya gejala keracunan organofosfat atau karbamat baru akan dilihat
jika aktivitas kolinestrase darah menurun sampai 30%. Namun penurunan
sampai 50% pada pengguna pstisida diambil sebagai batas, dan disarankan agar
penderita menghentikan pekerjaan yang berhubungan dengan pestisida.
I. Pengendalian Keracunan Pestisida
1. Pencegahan Keracunan Pestisida
Sayur-sayuran memang diperlukan tubuh untuk mencukupi
kebutuhan kita akan berbagai mineral dan vitamin penting. Tetapi, karena
di sana ada bahaya, kehati-hatian sangatlah dituntut dalam hal ini. Berikut
adalah upaya untuk mencegah dampak negatif dari pemakaian pestisida :

27
a. Ada baiknya kita mengetahui dari mana sayur itu dihasilkan. Tetapi
paling aman pastilah kalau kita menghasilkan sayuran sendiri, dengan
memanfaatkan pekarangan rumah, dengan pot sekalipun.
b. Karena pestisida tidak hanya beracun bagi hama, tetapi dapat juga
mematikan organisme yang berguna, ternak piaraan, dan bahkan
manusia, maka agar terhindar dari dampak negatif yang timbul,
penyimpanan dan penggunaannya harus dilakukan secara hati-hati dan
dilakukan sesuai petunjuk.
c. Ketahui dan pahami dengan yakin tentang kegunaan suatu pestisida.
Jangan sampai salah berantas. Misalnya, herbisida jangan digunakan
untuk membasmi serangga. Hasilnya, serangga yang dimaksud belum
tentu mati, sedangkan tanah dan tanaman telah terlanjur tercemar.
d. Ikuti petunjuk-petunjuk mengenai aturan pakai dan dosis yang
dianjurkan pabrik atau petugas penyuluh.
e. Jangan terlalu tergesa-gesa menggunakan pestisida. Tanyakan terlebih
dahulu pada penyuluh. Jangan telat memberantas hama, bila penyuluh
telah menganjurkan menggunakannya.
f. Jangan salah pakai pestisida. Lihat faktor lainnya seperti jenis hama dan
kadang-kadang usia tanaman juga diperhatikan.
g. Gunakan tempat khusus untuk pelarutan pestisida dan jangan sampai
tercecer.
2. Penanganan Keracunan Pestisida
Setiap orang yang pekerjaannya seringberhubungan dengan
pestisida seperti petani, buruh penyemprot dan lain lain harus mengenali
gejal dan tanda keracunan pestisida dengan baik. Tindakan pencegehan
lebih baik dilakukan untuk menghindari keracunan pestisida. Setiap orang
yang berhubungan dengan pestisida harus memperhatikan hal-hal berikut:
a. Kenali gejala dan tanda keracunan pestisida dari pestisida yang sering
digunkan
b. Jika diduga keracunan, korban segera dibawa kerumah sakit atau dokter
terdekat

28
c. Identifikasi pestisida yang memapari korban, berikan informasi ini pada
rumah sakit atau dokter yang merawat.
d. Bawa label kemasan pestisida tersebut. Pada label tertulis informasi
pertolongan pertama pennganan korban
e. Tindakan darurat dapat dilakukan sampai pertolongan datang atau
korban dibawa kerumah sakit.

Pertolongan pertama yang dilakukan:

a. Hentikan paparan dengan memindahkan korban dari sumber paparnan,


lepaskan pakaian korban dan cuci atau mandikan korban.
b. Jika terjadi kesulitan pernafasan maka korban diberi pernafasan buatan
atau bantuan. Korban diinstruksikan agar tetap tenang. Dampak serius
tidak terjadi segera, ada waktu untuk menolong korban.
c. Korban segera dibawa kerumah sakit atau dokter terdekat. Berikan
informasi tentang pestisida yang memapari korban dengan membawa
label kemasan pestisida
d. Keluarga seharusnya diberi pengetahuan atau penyuluhan tentang
pestisida sehingga jika terjadi keracunan maka keluarga dapat
memberikan pertolongan pertama dengan cepat dan tepat.
J. Penanggulangan Pencemaran Pestisida
1. Arang aktif
Dalam bidang pertanian pestisida merupakan sarana untuk
membunuh jasad pengganggu tanaman. Penerapan usaha intensifikasi
pertanian yang menerapkan berbagai teknologi, seperti penggunaan pupuk,
varietas unggul, perbaikan pengairan, pola tanam serta usaha pembukaan
lahan baru akan membawa perubahan pada ekosistem yang sering kali
diikuti dengan timbulnya masalah serangan jasad penganggu.
Cara lain untuk mengatasi jasad penganggu selain menggunakan
pestisida kadang-kadang memerlukan waktu, biaya dan tenaga yang besar
dan hanya dapat dilakukan pada kondisi tertentu.Dari aplikasi pestisida pada
suatu tanaman di lahan pertanian, maka kurang lebih 60% pestisida akan

29
jatuh ke tanah. Pestisida yang jatuh ke tanah tersebut kemudian menjadi
permasalahan besar bagi kualitas lingkungan, karena akan terbawa aliran air
dan akhirnya akan masuk ke sungai sehingga akan berpotensi
membahayakan hewan ternak bahkan manusia. Agar residu pestisida di
dalam tanah tersebut tidak terbawa aliran air maka residu tersebut perlu
ditahan dengan suatu bahan yang dapat menyerap (imobilisasi).
Bahan tersebut adalah arang aktif yang memiliki kemampuan
menyerap polutan. Arang aktif dapat dibuat dari limbah pertanian yang
melimpah yaitu sekam padi atau tempurung kelapa atau limbah pertanian
lainnya melalui proses pemanasan 500°C selama 5 jam dan aktivasi pada
tungku listrik dengan suhu 900°C selama 60 menit. Berdasarkan hasil
penelitian (Asep, 2008), menunjukkan bahwa arang aktif yang berasal dari
sekam padi dan tempurung kelapa memiliki daya serap yang tinggi (yang
diekspresikan dengan angka Iod) terhadap residu pestisida masing-masing
sebesar. 460,4 dan 1191,8 mg/g.

Tabel 3 Karakteristik arang aktif tempurung kelapa dan sekam padi

Parameter Arang Aktif


Tempurung Kelapa Sekam Padi
pH
H2O 10,1 9,6
HCl 8,0 7,8
Bahan organic
C (%) 6,5 2,3
N (%) 0,1 0,3
C/N 47 7
Nilai Tukar Kation
Ca (me/100g) 0,7 1,7
Mg (me/100g) 0,6 0,5

30
Teknologi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian Kementerian
Pertanian ini bisa mengurangi kandungan residu pestisida hingga 50 persen.
Melalui serangkaian kegiatan penelitian yang telah dilakukan di Lab.
Residu Bahan Agrokimia (Lab RBA), Balai Penelitian Lingkungan
Pertanian di Bogor pada periode 2007-2009 telah didapatkan suatu bahan
amelioran arang aktif yang terbuat dari limbah pertanian yang diketahui
memiliki daya serap tinggi dan mampu menyerap/mengikat pencemar
residu pestisida.
Arang aktif tersebut adalah arang aktif tempurung kelapa, sekam
padi, tongkol jagung dan tandan kosong kelapa sawit. Arang aktif tersebut
kemudian digunakan sebagai bahan pelapis pupuk urea dengan
perbandingan (80 : 20) dan sebagai bahan pengisi/penyerap pada alat Fio
(Filter pada inlet dan outlet) di lahan sawah.
Produk teknologi pemanfaatan limbah pertanian menjadi arang aktif
yang mampu menyerap residu pestisida di lahan pertanian, teknologi
pelapisan pupuk urea dengan arang aktif, dan alat filter residu pestisida pada
saluran inlet dan outlet di lahan sawah telah didaftarkan hak patennya ke
Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual pada tahun 2009 dengan
nomor pendaftaran masing-masing S00200900254, P00200900630 dan
S00200900253.
Pada tahun 2010, Lab RBA, Balai Penelitian Lingkungan Pertanian
bekerjasama dengan PT. Delta Bumi Jaya (pemilik pupuk kombinasi urea
dan zeolit - two in one) mengembangkan pupuk tersebut menjadi pupuk
three in one (urea-zeolit-arang aktif) yang memiliki kemampuan untuk
menangkap dan mendegradasi pencemar residu pestisida.
Berdasarkan hasil uji coba lapangan terlihat bahwa penggunaan urea
berlapis arang aktif (berasal dari tempurung kelapa) dan urea berlapis arang
aktif dan Fio serta penggunaan zeolit di rumah kaca dan lahan sawah
menunjukkan bahwa bahan-bahan tersebut mampu menurunkan kadar
residu pestisida klorpirifos (organofosfat) dan lindan (organoklorin) hingga
> 50 %.

31
Residu insektisida telah ditemukan di berbagai komponen
lingkungan pertanian (tanah, air dan tanaman) di berbagai lokasi sentra
produksi padi dan sayuran di Pulau Jawa. Tidak menutup kemungkinan hal
serupa terjadi di sentra produksi padi dan sayuran di daerah lainnya. Residu
pestisida sebagian besar akan terikat di tanah, dikarenakan sebanyak 60 %
dari pestisida yang disemprotkan ke tanaman akan jatuh ke tanah yang
selanjutnya menjadi residu pestisida, dan tentunya hal ini akan
membahayakan kehidupan biota sungai bilamana residu tersebut terbawa
aliran air permukaan. Untuk itu, maka diperlukan suatu strategi untuk
mengikat/ imobilisasi residu pestisida agar tidak terbawa aliran air
permukaan.
Ada 2 (dua) strategi yang diterapkan untuk mengikat residu pestisida
tersebut, yaitu :
a. Pengikatan residu pestisida di tengah petakan oleh arang aktif yang
dilapiskan pada pupuk urea.
b. Pengikatan residu pestisida oleh alat Fio yang ditempatkan pada posisi
inlet dan outlet di petakan sawah.
Dengan dua strategi tersebut diharapkan efek residu pestisida
terhadap produk pertanian dan lingkungan dapat diminimalisir. Atas dasar
pemikiran inilah Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian telah
menemukan teknologi pengendali residu pestisida ini. Manfaat Pupuk Urea
Berlapis Arang Aktif (+ Zeolit) yaitu:
a. Pupuk urea berlapis arang aktif dan zeolit akan bersifat slow release.
b. Zeolitnya akan berfungsi mengikat pupuk N dan K serta meningkatkan
KTK tanah.
c. Pupuk urea akan tidak mudah menguap dan tidak mudah tercuci.
d. Arang aktifnya akan berfungsi untuk mengikat (imobilisasi) pencemar
residu pestisida.
e. Arang aktif akan disenangi oleh mikroba pendegradasi residu pestisida
sebagai "rumah tinggalnya" sehingga populasinya meningkat.
2. Biokatalis Amobil

32
Biokatalisis adalah proses yang menggunakan katalis alami
(biokatalis), seperti protein enzim, untuk melakukan transformasi kimia
pada senyawa organik. Enzim yang digunakan dalam biokatalisis dapat
berupa enzim yang telah diisolasi atau enzim yang masih terdapat dalam sel
hidup. Biokatalisis merupakan teknologi yang relatif ramah lingkungan
karena reaksi enzimatis dapat berlangsung dalam pelarut air pada suhu
ruangan, pH netral, tidak membutuhkan tekanan tinggi dan kondisi yang
sangat khusus.
Kekhususan enzim dalam struktur molekul dan gugus-gugus kimia
spesifiknya memungkinkan berlangsungnya reaksi yang bersih karena
reaksi samping dapat diperkecil. Katalis yang digunakan dalam biokatalisis
dapat berupa enzim, sel utuh mikroba hidup yang bermetabolisme secara
aktif, atau berupa sel yang telah mati. Sel hidup digunakan bila reaksi yang
dilakukan adalah reaksi oksidoreduktasi yang membutuhkan adanya daur
ulang kofaktor yang relatif mahal. Dari kedua jenis sumber enzim di atas,
biokatalis dapat digunakan dalam bentuk amobil atau dalam bentuk bebas.
Enzim amobil adalah enzim yang secara fisik dijerap pada atau
terlokalisasi dalam suatu bahan penyangga dengan tetap dipertahankannya
aktivitas katalitik, dan dapat digunakan berulangkali ataupun secara terus
menerus. Bahan penyangga akan menahan enzim, tetapi masih dapat
membiarkan substrat, produk, dan kofaktor menembusnya.
Amobilisasi enzim dapat mencegah terbukanya lipatan-lipatan
protein enzim yang dapat berakibat pada penurunan aktivitas enzim.
Dengan kata lain amobilisasi enzim meningkatkan kestabilan struktur enzim
sehingga enzim dapat dipakai berulangkali. Amobilisasi juga memudahkan
pemisahan biokatalis dari produk. Kemudahan memisahkan enzim dapat
membantu proses ekstraksi produk dan menghasilkan produk yang lebih
baik kualitasnya.

3. Cara Alami

33
Ada beberapa langkah untuk mengurangi residu yang menempel pada
sayuran, antara lain :
a. Mencucinya secara bersih dengan menggunakan air yang mengalir,
bukan dengan air diam. Jika yang kita gunakan air diam (direndam)
justru sangat memungkinkan racun yang telah larut menempel kembali
ke sayuran. Berbagai percobaan menunjukkan bahwa pencucian bisa
menurunkan residu sebanyak 70% untuk jenis pestisida karbaril dan
hampir 50% untuk DDT. Mencuci sayur sebaiknya jangan lupa
membersihkan bagian-bagian yang terlindung mengingat bagian ini pun
tak luput dari semprotan petani. Untuk kubis misalnya, lazim kita lihat
petani mengarahkan belalai alat semprot ke arah krop (bagian bulat dari
kubis yang dimakan) sehingga memungkinkan pestisida masuk ke
bagian dalam krop.
b. Perendaman dalam air panas (blanching) juga dapat menurunkan residu.
Ada baiknya kita mengurangi konsumsi sayur yang masih mentah
karena diperkirakan mengandung residu lebih tinggi dibanding kalau
sudah dimasak terlebih dulu. Pemasakan atau pengolahan baik dalam
skala rumah tangga atau industri terbukti dapat menekan tekanan
kandungan residu pestisida pada sayuran.
c. Untuk mengurangi dampak penggunaan pestisida dapat pula dilakukan
dengan cara menggunakan pestisida alami atau pestisida yang berasal
dari tumbuhan (biopestisida). Biopestisida tidak mencemari lingkungan
karena bersifat mudah terurai (biodegradable) sehingga relatif aman
bagi ternak peliharaan dan manusia. Sebagai contoh adalah air rebusan
dari batang dan daun tomat dapat digunakan untuk memberantas ulat
dan lalat hijau. Kita juga dapat menggunakan air rebusan daun kemanggi
untuk memberantas serangga. Selain tumbuhan tersebut, masih banyak
tumbuhan lain yang mengandung bioaktif pestisida seperti tanaman
mindi, bunga mentega, rumput mala, tuba, kunir, kucai, dan lain-lain.
K. Penyimpanan Pestisida

34
1. Bahan pestisida dan pestisida idealnya harus segera di simpan di tempat
yang seuai denga sifat bahan kimia, serta jangan meletakkan bahan kimia
yang mudah di jangkau oleh anak – anak
2. Memiliki tempat khusus untuk penyimpanan pestisida yang tidak dicampur
dengan barang ataupun bahan yang lain. Gudang penyimpanan harus
mempunyai ventilasi udara yang cukup serta harus memiliki tanda larangan
agar tidak tidak sembarang orang bisa menjangkau.
3. Pestisida yang akan di simpan harus ada data khusus dan memiliki buku
yang memuat catatan kapan digunakan, dosis berapa dan sisa bahan kimia
pestisida masih berapa.
4. Jangan pernah memindahkan bahan kimia dari kemasan asli, apalagi di
tempat (wadah) yang tidak ada identitas serta label yang jelas. Jangan
pernah menyimpan pestisida pertanian dalam bekas wadah makanan atau
minuman
5. Jangan menyimpan Bahan kimia pestisida ( pestisida ) di tempat yang sama,
karena keduanya mempuyai karakter yang berbeda
6. Hindari penyimpanan bahan kimia Pestisida dalam jumlah yang berlebih,
karena pestisida mudah sekali berubah dan sering kali menguap kalau
kemasan bahan kurang bagus dan kuat
7. Pengontrolan bahan kimia Pestisida pertanian perlu di lakukan secara rutin
dan berkala, kalau perlu bila dalam jumlah banyak disiapkan tenaga kerja
khusus untuk pengecekan.
8. Bahan–bahan kemasan pestisida pertanian harus kedap cahaya karena akan
menyebabkan perubahan kimia pestisida
9. Gudang tempat penyimpanan senantiasa harus terkunci rapat sehingga tidak
mudah di jangkau orang – orang yang tidak berkepentingan

35
L. Kasus Keracunan Pestisida

36
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Pestisida merupakan salah satu bahan atau zat kimia yang dimanfaatkan
untuk membunuh hama, baik dimanfaatkan untuk membunuh hama berupa
tumbuhan serangga maupun membunuh hewan lain yang terdapat di lingkungan
sekitar kita. Pestisida dapat digolongkan menjadi insektisida, fumigan,
fungisida, herbisida dan rodentisida. Penyebab seseorang keracunan pestisida
bisa karena tertelan melalui mulut masuk ke dalam kulit serta terhirup saluran
pernapasan. Bagi seseorang yang mengalami keracunan pestisida biasanya akan
menimbulkan respon atau menimbulkan gejala yang berbeda-beda. Seseorang
yang dicurigai terkena paparan pestisida harus segera dilakukan pemeriksaan di
laboratorium dengan memperhatikan pengambilan, penyimpanan, dan
pengiriman sampel sehingga pasien segera mendapatkan pengobatan yang
sesuai.
B. Saran
Melalui makalah ini kami berharap agar pembaca senantiasa
memperhatikan bahaya-bahaya yang ada di sekeliling lingkungan tempat
tinggal maupun lingkungan tempat kerja. Contohnya saja mengetahui penyebab
dari faktor resiko yang disebabkan oleh paparan pestisida yang dapat
mempengaruhi kesehatan kita. Serta mengetahui penyakit yang bisa
ditimbulkan karena terpapar pestisida yang berlebihan.

37
DAFTAR PUSTAKA

Djojosumarto, Panut. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. Jakarta: AgroMedia


Pustaka

Raini, Mariana. 2007. Toksikologi Pestisida dan Penanganan Akibat Keracunan


Pestisida. Media Litbang Kesehatan. 17(3): 10-18

Sudarmo, Subiyakto. 2007. Pestisida. Yogyakarta: Kanisius

LMGA AGRO. 2015. Cara Penyimpanan Pestisida yang Baik dan Benar.

Keluarga Alumni Analis Kimia. 2014. Makalah Pencemaran Pestisida.


Bandung: Politeknik Negeri Bandung.

Oktofa, Setia pamungkas. 2016. Bahaya paparan pestisida terhadap kesehatan


manusia. Semarang: Universitas Diponegoro Semarang.

38