Anda di halaman 1dari 5

Pembahasan

Dalam praktikum ini, dilakukan identifikasi senyawa marker aktif serta


penetapan kadar senyawa marker (piperin) dalam simplisia cabe jawa (Piper
retrofractum Vahl). Identifikasi dan uji kualitas bahan baku tanaman merupakan
syarat penting yang harus dilakukan oleh industri ketika berurusan dengan obat
herbal. Dan perlu diperhitungkan pula bahwa tanaman yang akan diuji memiliki
komposisi yang kompleks dan tidak konsisten berdasarkan kandungan metabolit
sekundernya. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) banyak digunakan sebagai metode
analisis cepat dan sederhana untuk berbagai bahan kimia organic seperti obat-
obatan, produk bahan alam, dan biomolekul (Kim et al., 2010 dalam Dwitya,
2014).
Kontrol kualitas obat herbal, dalam beberapa kasus, memungkinkan untuk
melakukan identifikasi senyawa spesifik, yang biasa disebut senyawa marker.
Senyawa marker adalah senyawa atau golongan senyawa yang dapat digunakan
untuk mengontrol konsisten tiap batch produk jadi tanpa harus mengetahui adanya
aktiftitas atau tidak senyawa tersebut.
Senyawa marker diklasifikasikan menjadi dua, yang pertama adalah
senyawa marker aktif, yaitu senyawa atau golongan senyawa yang diketahui
secara umum mempunyai kontribusi dalam aktifitas terapetik. Yang kedua adalah
senyawa marker analisis yaitu senyawa atau golongan senyawa yang digunakan
untuk tujuan analisis tanpa perlu mengetahui adanya kontribusi adanya aktifitas
terapetik atau tidak (Natural Health Product Directorate’s Canada, 2012 dalam
Dwitya, 2014).
Pada praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa dan kadar
senyawa piperin pada simplisia buah cabe jawa. Cabe jawa (Piper retrofractum
Vahl) termasuk 1ystem Piperaceae, yang tumbuh memanjat dan merupakan salah
satu jenis tanaman obat yang banyak digunakan di Indonesia. Di Indonesia cabe
jawa banyak ditemukan terutama di Jawa, Sumatera, Bali, Nusatenggara dan
Kalimantan. Daerah sentra produksi utamanya adalah di Madura (Bangkalan,
Sampang, Pamekasan, Sumenep), Lamongan dan Lampung. Sampai saat ini
belum diketahui apakah karakteristik tanaman cabe jawa yang dibudidayakan
tersebut sama atau tidak (Wawan, 2009).
Taksonomi cabe jawa :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoiophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Magnolidae
Ordo : Peperales
Famili : Piperaceae
Genus : Piper
Species : Piper retrofractum Vahl
Nama umum : Cabe jawa
Nama daerah : Lada panjang (melayu), cabe jawa (melayu, jawa), cabi solah
(madura)

Cabe jawa merupakan salah satu tanaman yang diketahui memiliki efek
stimulan terhadap sel saraf sehingga mampu meningkatkan stamina tubuh. Efek
hormonal dari tanaman ini dikenal sebagai afrodisiaka. Bagian yang dimanfaatkan
sebagai afrodisiaka adalah buahnya dan diduga senyawa aktif yang berkhasiat
afrodisiaka di dalam buahnya adalah senyawa piperineBerbagai hasil penelitian
sebelumnya menunjukan bahwa ekstrak cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.),
mempunyai efek androgenik dan meningkatkan kadar hormon testosteron tikus
percobaan serta sudah diketahui karakterisasinya baik sebagai simplisia maupun
ekstrak etanol 95% serta cukup aman (Nukman, 2010).

Pertama dilakukan ekstraksi piperin dengan memasukkan 2 gram serbuk


simplisia dan ditambahkan etanol 96% 50 mL ke dalam erlenmeyer 100 mL.
Dipilih pelarut etanol karena etanol dapat digunakan untuk menyari zat yang
kepolaran relatif tinggi sampai relatif rendah, karena etanol merupakan pelarut
universal, etanol tidak meyebabkan pembengkakan membran sel, dapat
memperbaiki stabilitas bahan obat yang terlarut dan juga efektif dalam
menghasilkan jumlah bahan aktif yang optimal. Dipilih etanol konsentrasi 96%
karena etanol 96% merupakan pelarut dimana kadar alkoholnya lebih kecil atau
sedikit dibandingkan dengan kadar airnya, sehingga lebih mudah atau lebih cepat
menguap. Kemudian dipanaskan ini bertujuan agar kandungan yang terdapat pada
simplisia dapat semuanya keluar terutama piperin, serta diaduk selama 30 menit
ini bertujuan agar interaksi simplisia dengan pelarut lebih banyak sehingga piperin
yang terinteraksi semakin banyak lalu disaring menggunakan kertas saring.
Kemudian filtrat ditampung di erlenmeyer sebagai sampel uji.
Ekstraksi ini adalah penyarian zat-zat aktif dari bagian tanaman obat.
Adapun tujuan dari ekstraksi, yaitu untuk menarik komponn kimia yang terdapat
dalam simplisia. Ekstraksi ini didasarkan pada perpindahan massa komponen zat
padat ke dalam pelarut dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan lapisan
antar muka, kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut. Proses pengekstraksian
komponen kimia dalam sel tanaman yaitu pelarut organik akan menembus dinding
sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut
dalam pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel
dan proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi
cairan zat aktif di dalam dan di luar sel (Sudjadi, 1986).
Kedua, dilakukan persiapan larutan standar dengan membuat larutan
pembanding piperin dengan menimbang 25 mg standar piperin dan dilarutkan
dengan etanol 96% ad tanda dalam labu ukur 25 Ml. Kemudian larutan
pembanding piperin tersebut dipipet sebanyak 0,5 Ml lalu diencerkan hingga 500
Ml oleh etanol hingga didapat larutan induk dengan konsentrasi 1 ppm.
Ketiga, dilakukan penetapan kadar piperin menggunakan metode
spektrofotometri dengan memasukkan 10 Ml filtrat sampel uji ke dalam labu takar
100 Ml ad etanol 100 Ml lalu kocok hingga homogen. Kemudian diambil 0,5 Ml
di ad 25 Ml hingga diperoleh absorbansi antara 0,2-0,8. Kemudian larutan standar
piperin dan filtrat yang telah diencerkan dicari panjang gelombang maksimum
dengan cara scanning larutan standar dengan spektrofotometer UV.
Spektrofotometri Sinar Tampak (UV-Vis) adalah pengukuran energy
cahaya oleh suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu (Day, 2002).
Sinar ultraviolet (UV) mempunyai panjang gelombang 200-400 nm dan sinar
tampak (visible) mempunyai panjang gelombang 400-750 nm. Spektromotometri
digunakan untuk mengukur besarnya energi yang diabsorbsi atau diteruskan. Sinar
radiasi monokromatik akan melewati larutan yang mengandung zat yang dapat
menyerap sinar radiasi tersebut (Harmita, 2006). Pengukuran spektrofotometri
menggunakan alat spektrofotometer yang melibatkan energi elektronik yang
cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometer UV-Vis
lebih banyak dipakai untuk analisi kuantitatif dibandingkan kualitatif. Spectrum
UV-Vis sangat berguna untuk pengukuran secara kuantitatif. Konsntrasi dari
analit di dalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorban pada panjang
gelombag tertentu dengan menggunakan hokum Lambert-Beer (Rohman, 2007).
Adapun prinsip kerja spektrofotometri, yaitu cahaya yang berasal dari
lampu deuterium maupun wolfram yang bersifat polikromatis diteruskan melalui
lensa menuju ke monokromator pada spektrofotometer dan filter cahaya pada
fotometer. Monokromator kemudian akan mengubah cahaya polikromatis menjadi
cahaya monokromatis (tunggal). Berkas-berkas cahaya dengan panjang tertentu
kemudian akan dilewatkan pada sampel yang mengandung suatu zat dalam
konsentrasi tertentu. Oleh karena itu, terdapat cahaya yang diserap (diabsorbsi)
dan ada ada pula yang dilewatkan. Cahaya yang dilewatkan ini kemudian diterima
oleh detector. Detector kemudian akan menghitung cahaya yang diterima dan
mengetahui cahaya yang diserap sebanding dengan konsentrasi zat yang
terkandung dalam sampel sehingga akan diketahui konsentrasi zat dalam sampel
secara kuantitatif (Triyati, 1985).
Dari percobaan yang dilakukan didapatkan hasil, yaitu konsentrasi larutan
sampel adalah 367,47 dan kadar piperin adalah 0,918%. Dengan panjang
gelombang maksimum nya adalah 340,5 nm dan absorbansinya 0,513, ini
menunjukan bahwa nilai absorbansi simplisia cabe jawa masuk antara rentang 0,2-
0,8.
Kadar piperin yang di didapatkan dari simplisia buah cabe jawa adalah
sebesar 0,918%. Hal ini tidak sesuai dengan ketentuan dalam Farmakope Herbal
Indonesia (FHI) yang menyatakan bahwa kadar piperin dari simplisia buah cabe
jawa harus tidak kurang dari 1,1 % ( Depkes RI, 2008).

DAFTAR PUSTAKA

Dwitya, M. Rezki. 2014. Skripsi Pengembangan Metode Analisis Senyawa


Marker Spesifik Piper Retrofractum Vahl Dan Piper Nigrum L. dalam
Campuran Menggunakan KLT-Densitometri Dan Visualizer. Surabaya:
Fakultas Farmasi Universitas Airlangga.

Wawan Haryudin dan Otih Rostiana. 2009. Karakteristik Morfologi Tanaman


Cabe Jawa (Piper Retrofractum. Vahl) Di Beberapa Sentra Produksi. Bul.
Littro. Vol. 20 No. 1, 2009, 1 – 10

Nukman Moeloek, Silvia W. Lestari,Yurnadi, dan Bambang Wahjoedi. 2010. Uji


Klinik Ekstrak Cabe Jawa (Piper Retrofractum Vahl) sebagai Fitofarmaka
Androgenik pada Laki-laki Hipogonad. Maj Kedokt Indon, Volum: 60,
Nomor: 6, Juni 2010

Sudjadi. 1986. Metode Pemisahan. UGM Press: Yogyakarta.

Harmita. 2006. Buku Ajar Fisikokimia. Jakarta. Universitas Indonesia.

Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Triyati, E. 1985. Spektrofotometri Ultra-Violet Dan Sinar Tampak Serta


Aplikasinya Dalam Oseanologi, Jurnal Oseana, Vol. X, No. 1, ISSN :
0216-1877. Jakarta.