Anda di halaman 1dari 31

PARENTIN

G
Latih Anak Jaga Perasaan Orang Lain
Menjadi ‘aktor’ atau ‘aktris’ di tempat bermain berarti mengetahui jenis emosi yang dapat ditunjukkan
dan emosi yang lebih baik disimpan sendiri, untuk dikeluarkan kemudian.

Dengan kata lain, mereka sebaiknya belajar untuk tidak terlalu jujur demi menjaga perasaan orang lain.
Contoh sederhana adalah mengajarkan si kecil berterimakasih pada Eyangnya karena membelikan
hadiah kaos kaki, padahal sebenarnya ia menginginkan hadiah lain. Walaupun si kecil kecewa, ia bisa
berujar, “Terima kasih, Eyang. Kaos kaki ini bagus sekali,”. Ini disebut bersikap sopan. Prinsip yang
sama dapat diterapkan ketika si kecil berurusan dengan anaklain, kata Rich.

Untuk anak yang lebih kecil: Pada usia ini, belajar menjadi sopan adalah upaya si kecil untuk
mengendalikan dorongan. Berikan dia contoh cara berlaku sopan dengan jelas, kata Schiller.
Misalnya, “Kapan pun kamu dapat hadiah, Mama ingin kamu bilang ‘terima kasih’ walaupun kamu tak
menyukainya”. Jangan hanya berkata, “Baik-baik dong, ke Eyang?” karena bisa jadi itu tidak cukup
jelas baginya.

Setelah Eyangnya pergi, jelaskan kepada si kecil mengapa menyimpan perasaannya itu penting
(“Eyang ‘kan berusaha keras untuk memberi kamu barang yang mungkin kamu akan suka”).
Sesudahnya, biarkan ia mengomel apa pun yang ia mau tentang kaos kaki itu.

Untuk anak yang lebih besar: Jelaskan mengapa “akting” bisa menguntungkan dia. Misalnya, “Semua
orang kadang diganggu, tapi kalau kamu nggakmenunjukkan padanya bahwa kamu kesal, dia akan
berhenti. Daripada kamu kelihatan kesal, lebih baik terlihat cuek dan jalan pergi.”

Di usia ini, penting untuk membantu si kecil membedakan antara berbohonguntuk tujuan yang benar
dan tujuan yang salah. Ketika ia ditanya “Apa pendapatmu tentang rambutku?”, akan menyakiti
perasaan si penanya jika ia menjawab “Jelek!” Tetapi saat Anda bertanya padanya “Apakah PR kamu
sudah selesai?”, berkata ‘ya’ walaupun ia belum selesai adalah jenis kebohongan yang salah.
4 things parents do that cause their children to secretly cry in the night

Sometimes parents don't realize the impact certain behaviors have on their children.
Loving parents don't want to harm their children physically or psychologically, but if
you're not careful it can happen. These actions can cause those precious little souls you
love so much to cry in the night, unbeknownst to you.

1. You allow your small children to see distressing news

Children don't have the experience to process news-reported tragedies. Everything


becomes very real, like it happened next door or could happen right in their own
house. Even if it could, little children should not be burdened by the possibility of it.
They can be frightened to their very core. Watch what your children see on TV news
and what you talk about in their presence.

One woman shared her experience as a little child. She was 5 years old when a
prominent family's only child was kidnapped. Every day it was the topic of discussion
everywhere. Because the young child had been stolen from his bed during the night,
she went to bed fearing she would be next, and many nights cried herself to sleep over
the fear. Her parents had no idea of the depth of her anxiety.

Little ones often don't know how to talk about it. Encourage them to tell you if they
are afraid. Parents must be sensitive to this and guard them from being over exposed
to catastrophic news.

A guest psychologist on a TV talk show told how this very thing happened with kids
when terrorists attacked the World Trade Center in 2001. You may remember that it
was shown over and over, all day for several days, even weeks. She explained that a
child seeing this thinks it's happening again and again, not that it's a repeated report of
that one attack. They can be frightened far beyond what you may imagine. She
cautioned parents to guard their children from this type of news.

READ MORE: Handling and explaining global tragedies to your kids


2. You fight with your spouse

At times it seems like parents take to heart the tongue-in-cheek advice of Phyllis
Diller: "Never go to bed mad. Stay up and fight." What makes you think your children
can't hear you through the thin walls of your home? They can, and they hate it. If they
hear you fighting they think something terrible is going to happen to their family.
Don't put that burden on them.

Children can't ferret out whether or not your loud arguing is serious or not. It all
sounds serious to them. Calm down and talk quietly as you discuss problems with
your spouse. Or, go for a walk or a drive where there is no chance of the kids hearing
your conflict. That isn't to say kids shouldn't hear their parents having differing
opinions and talking it out. That can actually be good for a child. It's the fighting, the
screaming, the loud talking that hurts them and causes them to bury their heads in
their pillows and cry because they don't often see the conflict resolution.

3. You divorce your spouse

This is the ultimate sorrow for a child. There is hardly any way to lessen the blow.
There are times when divorce needs to happen, but they are few and far between. If
you think this won't hurt your children, please know it will. Some of you may say,
"We just can't get along. It will be better for our kids." That's simply not true.

In the New York Times bestseller, The Unexpected Legacy of Divorce, the authors
stated, "For children, divorce is a watershed that permanently alters their lives. The
world is newly perceived as a far less reliable, more dangerous place because the
closest relationships in their lives can no longer be expected to hold firm. More than
anything else, this new anxiety represents the end of childhood."

When a friend announced that she was divorcing her husband she was quick to say,
"Oh, it won't hurt the kids. They're strong. They'll get over it." Three years after the
divorce the eldest of the four children said, "She had no idea what we were going
through and still are. Many nights we just held each other and cried. We were afraid to
cry in front of her because she would be disappointed in us. It's still very painful. I
still don't think she has any idea how this divorce has affected us. We can't help but
ask ourselves, why didn't they work it out for our sakes?"

If you are considering divorce, we urge you to do everything in your power to mend
your marriage. Keep it strong for your children's sakes. Don't be the cause of their
cries in the night.

READ: A child of divorce writes a powerful letter to parents


4. You call your children insulting names and sometimes even hit them

That old saying that "sticks and stones may break my bones but names will never hurt
me," isn't true. Insulting your children by calling them lazy, no good, worthless bums,
can cut to the heart. Examine yourself and see if you are using insulting names when
you reprimand your children. If so, stop it! It hurts them far more than you may
realize. It won't inspire them to be better. If anything, it will have the opposite effect.

If you're hitting your children you are teaching them that hitting is acceptable
behavior. It's not, from you or them! You can be firm in your discipline without
hurting your children. Set boundaries with your kids by being kind, gentle, respectful
and firm. The results will be much more positive and they won't end up crying
themselves to sleep.

Give your children the love they deserve. Tell them you love them with words and
caring behavior. They will love you for it forever.

http://familyshare.com/Parenting/4-things-parents-do-that-cause-their-children-to-
secretly-cry-in-the-night
37 kebiasaan orangtua yang menghasilkan perilaku buruk anak

Mengapa oh mengapa?

 Apakah anda mulai merasa kesulitan mengendalikan perilaku anak


anda?
 Apakah anda dan pasangan sering nggak sepaham dalam mendidik
anak anak?
 Apakah anak anda sering merengek dan maksa untuk dituruti
kemauannya?
 Apakah anak anda sering berantem satu sama lain?
 Apakah anda kesulitan karena anak anda selalu nonton tv atau maen
ps?
Jika anda menjawab ya dari salah satu pertanyaan diatas, maka ada baiknya
baca tips tips dibawah ini. Berikut ini adalah tips tips dari buku Ayah Edy ini.

1. Raja yang Tak Pernah Salah

Sewaktu anak kita masih kecil dan belajar jalan tidak jarang tanpa sengaja
mereka menabrak kursi atau meja. Lalu mereka menangis. Umumnya, yang
dilakukan oleh orang tua supaya tangisan anak berhenti adalah dengan
memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja mereka tabrak. Sambil
mengatakan, “Siapa yang nakal ya? Ini sudah Papa/Mama pukul
kursi/mejanya…sudah cup….cup…diem ya..Akhirnya si anak pun terdiam.

Ketika proses pemukulan terhadap benda benda yang mereka tabrak terjadi,
sebenarnya kita telah mengajarkan kepada anak kita bahwa ia tidak pernah
bersalah.

Yang salah orang atau benda lain. Pemikiran ini akan terus terbawa hingga
ia dewasa. Akibatnya, setiap ia mengalami suatu peristiwa dan terjadi suatu
kekeliruan, maka yang keliru atau salah adalah orang lain, dan dirinya selalu
benar. Akibat lebih lanjut, yang pantas untuk diberi peringatan sanksi, atau
hukuman adalah orang lain yang tidak melakukan suatu kekeliruan atau
kesalahan.

Kita sebagai orang tua baru menyadari hal tersebut ketika si anak sudah
mulai melawan pada kita. Perilaku melawan ini terbangun sejak kecil karena
tanpa sadar kita telah mengajarkan untuk tidak pernah merasa bersalah.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika si anak yang baru
berjalan menabrak sesuatu sehingga membuatnya
menangis?
Yang sebaiknya kita lakukan adalah ajarilah ia untuk bertanggung jawab
atas apa yang terjadi; katakanlah padanya (sambil mengusap bagian yang
menurutnya terasa sakit): ” Sayang, kamu terbentur ya. Sakit ya? Lain kali
hati-hati ya, jalannya pelan-pelan saja dulu supaya tidak membentur lagi.”

2. Berbohong Kecil

Awalnya anak-anak kita adalah anak yang selalu mendengarkan kata-kata


orang tuanya, Mengapa? KArena mereka percaya sepenuhnya pada orang
tuanya. Namun, ketika anak beranjak besar, ia sudah tidak menuruti
perkataan atau permintaan kita? Apa yang terjadi? Apakah anak kita sudah
tidak percaya lagi dengan perkataan atau ucapan-ucapan kita lagi?

Tanpa sadar kita sebagai orang tua setiap hari sering membohongi anak
untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-
buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak
berkeliling perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya
dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan
mengalihkan perhatian si kecil ke tempat lain, setelah itu kita buru-buru
pergi? Atau yang ekstrem kita mengatakan, “Papa/Mama hanya sebentar
kok, hanya ke depan saja ya, sebentaaar saja ya, Sayang.” Tapi ternyata,
kita pulang malam. Contah lain yang sering kita lakukan ketika kita sedang
menyuapi makan anak kita, “Kalo maemnya susah, nanti Papa?Mama tidak
ajak jalan-jalan loh.” Padahal secara logika antara jalan-jalan dan
cara/pola makan anak, tidak ada hubungannya sama sekali.

Dari beberapa contah di atas, jika kita berbohong ringan atau sering kita
istilahkan “bohong kecil”, dampaknya ternyata besar. Anak tidak percaya
lagi dengan kita sebagai orang tua. Anak tidak dapat membedakan
pernyataan kita yang bisa dipercaya atau tidak. akibat lebih lanjut, anak
menganggap semua yang diucapkan oleh orang tuanya itu selalu bohong,
anak mulai tidak menuruti segala perkataan kita.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan penuh kasih dan
pengertian:

“Sayang, Papa/Mama mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo
Papa/Mama ke kebun binatang, kamu bisa ikut.”

Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan
ini. Pastinya membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada
anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum
memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari.
Kita harus bersabar dan lakukan pengertian kepada mereka secara terus
menerus. Perlahan anak akan memahami keadaan mengapa orang tuanya
selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.
Sebaliknya bila pergi ke tempat selain kantor, anak pasti diajak orang
tuanya. Pastikan kita selalu jujur dalam mengatakan sesuatu. Anak akan
mampu memahami dan menuruti apa yang kita katakan.

3. Banyak Mengancam
“Adik, jangan naik ke atas meja! nanti jatuh dan nggak ada yang mau
menolong!”
“Jangan ganggu adik, nanti Mama/Papa marah!”

Dari sisi anak pernyataan yang sifatnya melarang atau perintah dan
dilakukan dengan cara berteriak tanpa kita beranjak dari tempat duduk atau
tanpa kita menghentikan suatu aktivitas, pernyataan itu sudah termasuk
ancaman. Terlebih ada kalimat tambahan “….nanti Mama/Papa marah!”

Seorang anak adalah makhluk yang sangat pandai dalam mempelajari pola
orang tuanya; dia tidak hanya bisa mengetahui pola orang tuanya mendidik,
tapi dapat membelokkan pola atau malah mengendalikan pola orang tuanya.
Hal ini terjadi bila kita sering menggunakan ancaman dengan kata-
kata,namun setelah itu tidak ada tindak lanjut atau mungkin kita sudah lupa
dengan ancaman-ancaman yang pernah kita ucapkan

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Kita tidak perlu berteriak-teriak seperti itu. Dekati si anak, hadapkan
seluruh tubuh dan perhatian kita padanya. tatap matanya dengan lembut,
namum perlihatkan ekspresi kita tidak senang dengan tindakan yang mereka
lakukan. Sikap itu juga dipertegas dengan kata-kata, “Sayang, Papa/Mama
mohon supaya kamu boleh meminjamkan mainan ini pada adikmu.
Papa/Mama akan makin sayang sama kamu.” Tidak perlu dengan ancaman
atau teriaka-teriakan. Atau kita bisa juga menyatakan suatu pernyataan
yang menjelaskan suatu konsekuensi, misal “Sayang, bila kamu tidak
meminjamkan mainan in ke adikmu,Papa/Mama akan menyimpan mainan ini
dan kalian berdua tidak bisa bermain. MAinan akan Papa/Mama keluarkan,
bila kamu mau pinjamkan mainan itu ke adikmu. Tepati pernyataan kita
dengan tindakan.

4. Bicara Tidak Tepat Sasaran

Pernahkah kita menghardik anak dengan kalimat seperti, “Papa/Mama tidak


suka bila kamu begini/begitu!” atau “Papa/Mama tidak mau kamu berbuat
seperti itu lagi!” Namun kita lupa menjelaskan secara rinci dan dengan baik,
hal2 atau tindakan apa saja yang kita inginkan. Anak tidak pernah tahu apa
yang diinginkan atai dibutuhkan oleh orang tuanya dalam hal berperilaku.
Akibatnya anak terus mencoba sesuatu yang baru.
Dari sekian banyak percobaan yang dilakukannya, ternyata selalu dikatakan
salah oleh orang tuanya. Hal ini mengakibatkan mereka berbalik untuk
dengan sengaja melakukan hal2 yang tidak disukai orang tuanya. Tujuannya
untuk mrmbuat orang tuanya kesal sebagia bentuk kekesalan yang juga ia
alami (tindakannya selalu salah di hadapan orang tua).

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Sampaikanlah hal2 atau tindakan2 yang kita inginkan atau butuhkan pada
saat kita menegur mereka terhadap perilaku atau hal yang tidak kita
sukai.Komnikasikan secara intensif hal atau perilaku yang kita inginkan atau
butuhkan. Dan pada waktunya, ketika mereka sudah megalami dan
melakukan segala hal atau perilaku yang kita inginkan atau butuhkan ,
ucapkanlah terimakasih dengan tulus dan penuh kasih sayang atas segala
usahanya untuk berubah.

5. Menekankan pada Hal-hal yang salah

Kebiasaan ini hampir sama dengan kebiasaan di atas. Banyak orang tua yang
sering mengeluhkan tentang anak2nya tidak akur, suka bertengkar. Pada
saat anak kita bertengkar, perhatian kita tertuju pada mereka, kita
mencoba melerai atau bahkan memarahi. Tapi apakah kita sebagai orang
tua memperhatikan mereka pada saat mereka bermain dengan akur? Kita
seringkali menganggapnya tidak perlu menyapa mereka karena mereka
sedang akur. Pemikiran tersebut keliru, karena hak itu akan memicu mereka
untuk bertengkar agar bisa menarik perhatian orang tuanya,

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Berilah pujian setiap kali mereka bermain sengan asyik dan rukun, setiap
kali mereka berbagi di antara mereka dengan kalimat sederhana dan mudah
dipahami, misal: ”Nah, gitu donk kalau main. Yang rukun.” Peluklah mereka
sebagai ungkapan senang dan sayang.

6. Merendahkan Diri Sendiri

Apa yang anda lakukan kalau melihat anak anda bermain Playstation lebih
dari belajar? Mungkin yang sering kita ucapkan pada mereka, “Woy… mati in
tuh PS nya, ntar dimarahin loh sama papa kalo pulang kerja!” Atau kita
ungkapkan dengan pernyataan lain, namun tetap dengan figur yang mungkin
ditakuti oleh anak pada saat itu. Contoh pernyataan ancaman diatas adalah
ketika yang ditakuti adalah figur Papa.

Perhatikanlah kalimat ancaman tersebut. Kita tidak sadar bahwa kita telah
mengajarkan pada anak bahwa yang mampu untuk menghentikan mereka
maen ps adalah bapaknya, artinya figure yang hanya ditakuti adalah sang
bapak. Maka jangan heran kalau jika anak tidak mengindahkan perkataan
kita karena kita tidak mampu menghentikan mereka maen ps.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Siapkanlah aturan main sebelum kita bicara; setelah siap, dekati anak, tatap
matanya, dan katakan dengan nada serius bahwa kita ingin ia berhenti main
sekarang atau berikan pilihan, misal “Sayang, Papa/Mama ingin kamu
mandi. Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi?” bila jawabannya
“lima menit lagi Pa/Ma”. Kita jawab kembali, “Baik, kita sepakat setelah
lima menit kamu mandi ya. Tapi jika tidak berhenti setelah lima menit,
dengan terpaksa papa/mama akan simpan PS nya di lemari sampai lusa”.
Nah, persis setelah lima menit, dekati si anak, tatap matanya dan katakan
sudah lima menit, tanpa tawar menawar atau kompromi lagi. Jika sang anak
tidak nurut, segera laksanakan konsekuensinya.

7. Papa dan Mama Tidak Kompak

Mendidik abak bukan hanya tanggung jawab para ibu atau bapak saja, tapi
keduanya. Orang tua harus memiliki kata sepakat dalam mendidik anak2nya.
Anak dapat dengan mudah menangkap rasa yang menyenangkan dan tidak
menyenangkan bagi dirinya. Misal, seorang Ibu melarang anaknya menonton
TV dan memintanya untuk mengerjakan PR, namun pada saat yang
bersamaan, si bapak membela si anak dengan dalih tidak mengapa nonton
TV terus agar anak tidak stress.

Jika hal ini terjadi, anak akan menilai ibunya jahat dan bapaknya baik,
akibatnya setiap kali ibunya memberi perintah, ia akan mulai melawan
dengan berlindung di balik pembelaan bapaknya. Demikian juga pada kasus
sebaliknya. Oleh karena itu, orang tua harus kompak dalam mendidik anak.
Di hadapan anak, jangan sampai berbeda pendapat untuk hal2 yang
berhubungan langsung dengan persoalan mendidik anak. Pada saat salah
satu dari kita sedang mendidik anak, maka pasangan kita harus
mendukungnya. Contoh, ketika si Ibu mendidik anaknya untuk berlaku baik
terhadap si Kakak, dan si Ayah mengatakan ,”Kakak juga sih yang mulai
duluan buat gara2…”. Idealnya, si Ayah mendukung pernyataan, “Betul kata
Mama, Dik. Kakak juga perlu kamu sayang dan hormati….”

8. Campur Tangan Kakek, Nenek, Tante, atau Pihak Lain

Pada saat kita sebagai orang tua sudah berusaha untuk kompak dan sepaham satu
sama lain dalam mendidik anak-anak kita, tiba-tiba ada pihak ke-3 yang muncul dan
cenderung membela si anak. Pihak ke-3 yang dimaksud seperti kakek, nenek, om,
tante, atau pihak lain di luar keluarga inti.

Seperti pada kebiasaan ke-7 (Papa dan Mama tidak Kompak), dampak ke anak tetap
negatif bila dalam satu rumah terdapat pihak di luar keluarga inti yang ikut mendidik
pada saat keluarga inti mendidik; Anak akan cenderung berlindung di balik orang
yang membelanya. Anak juga cenderung melawan orang tuanya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Pastikan dan yakinkan kepada siapa pun yang tinggal di rumah kita untuk
memiliki kesepakatan dalam mendidik dan tidak ikut campur pada saat
proses pendidikan sedang dilakukan oleh kita sebagai orang tua si anak.
Berikan pengertian sedemikian rupa dengan bahasa yang bisa diterima
dengan baik oleh para pihak ke-3.

9. Menakuti Anak
Kebiasaan ini lazim dilakukan oleh para orang tua pada saat anak menangis
dan berusaha untuk menenangkannya. Kita juga terbiasa mengancam anak
untuk mengalihkan perhatiannya, “Awas ada Pak Satpam, ga boleh beli
mainan itu!” Hasilnya memang anak sering kali berhenti merengek atau
menangis, namun secara tidak sadar kita telah menanamkan rasa takut atau
benci pada institusi atau pihak yang kita sebutkan.

Sebaiknya, berkatalah jujur dan berikan pengertian pada anak seperti kita
memberi pengertian kepada orang dewasa karena sesungguhnya anak2 juga
mampu berpikir dewasa. Jika anak tetap memaksa, katakanlah dengan
penuh pengertian dan tataplah matanya, “Kamu boleh menangis, tapi
Papa/Mama tetap tidak akan membelikan permen.” Biarkan anak kita yang
memaksa tadi menangis hingga diam dengan sendirinya.

10. Ucapan dan Tindakan Tidak Sesuai

Berlaku konsisten mutlak diperlukan dalam mendidk anak. Konsisten


merupakan keseuaian antara yang dinyatakan dan tidakan. Anak memiliki
ingatan yang tajam terhadap suatu janji, dan ia sanga menghormati orang-
orang yang menepati janji baik untuk beri hadiah atau janji untuk memberi
sanksi. So, jangan pernah mengumbar janji ada anak dengan tujuan untuk
merayunya, agar ia mengikuti permintaan kita seperti segera mandi, selalu
belajar, tidak menonton televisi.

Pikirlah terlebih dahulu sebelum berjanji apakah kita benar-benar bisa


memenuhi janji tersebut. Jika ada janji yang tidak bisa terpenuhi segeralah
minta maaf, berikan alasan yang jujur dan minta dia untuk menentukan apa
yang kita bisa lakukan bersama anak untuk mengganti janji itu.

11. Hadiah untuk Perilaku Buruk Anak

Acapkali kita tidak konsisten dengan pernyataan yang pernah kita nyatakan.
Bila hal ini terjadi, tanpa kita sadari kita telah mengajari anak untuk
melawan kita. Contoh klasik dan sering terjadi adalah pada saat kita
bersama anak di tempat umum, anak merengek meminta sesuatu dan
rengekennya menjadi teriakan dan ada gerak perlawanan. Anak terus
mencari akal agar keinginnanya dikabulkan, bahkan seringkali membuat kita
sebagai orang tua malu. Pada saat inilah kita seringkali luluh karena tidak
sabar lagi dengan rengekan anak kita. Akhirnya kita mengiyakan keinginan si
Anak. “Ya sudah;kamu ambil satu permennya. Satu saja ya!”

Pernyataan tersebut adalah sebagai hadiah bagi perilaku buruk si Anak. Anak
akan mempelajarinya dna menerapkannya pada kesempatan lain bahkan
mungkin dengan cara yang lebih heboh lagi.
Menghadapi kondisi seperti ini, tetaplah konsisten; tidak perlu malu atau
takut dikatakan sebagai orang tua yang kikir atau tega. Orang beefikir
demikian belum membaca buku tentang ini dan mengalami masalah yang
sama dengan kita. Ingatlah selalu bahwa kita sedang mendidik anak, Sekali
kite konsisten anak tak akan pernah mencobanya lagi. Tetaplah KONSISTEN
dan pantang menyerah! Apapun alasannya, jangang pernah memberi hadiah
pada perilaku buruk si anak.

12. Merasa Bersalah Karena Tidak Bisa Memberikan yang Terbaik

Kehidupan metropolitan telah memaksa sebagian besar orang tua banyak


menghabiskan waktu di kantor dan di jalan raya daripada bersama anak.
Terbatasnya waktu inilah yang menyebabkan banyak orang tua merasa
bersalah atas situasi ini. Akibat dari perasaan bersalah ini, kita, para orang
tua menyetujui perilaku buruk anaknya dengan ungkapan yang sering
dilontarkan, “Biarlah dia seperti ini mungkin karena saya juga yang jarang
bertemu dengannya…”

Semakin kita merasa bersalah terhadap keadaan, semakin banyak kita


menyemai perilaku buruk anak kita. Semakin kita memaklumi perilaku buruk
yang diperbuat anak, akan semakin sering ia melakukannya. Sebagian besar
perilaku anak bermasalah yang pernah saya (penulis) hadapi banyak
bersumber dari cara berpikir orang tuanya yang seperti ini.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Apa pun yang bisa kita berikan secara benar pada anak kita adalah hal yang
terbaik. Kita tidak bisa membandingkan kondisi sosial ekonomi dan waktu
kita dengan orang lain. Tiap keluarga memiliki masalah yang unik, tidak
sama. Ada orang yang punya kelebihan pada sapek finansial tapi miskin
waktu bertemu dengan anak, dan sebaliknya. Jangan pernah memaklumi hal
yang tidak baik. Lakukanlah pendekatan kualitas jika kita hanya punya
sedikit waktu; gunakan waktu yang minim itu untuk bisa berbagi rasa
sepenuhnya antara sisa2 tenaga kita, memang tidak mudah. Tapi lakukanlah
demi mereka dan keluarga kita, anak akan terbiasa.

13. Mudah menyerah dan pasrah

Setiap manusia memiliki watak yang berbeda-beda, ada yang lembut dan
ada yang keras. Dominan flegmatis adalah ciri atak yang dimiliki oleh
sebagian orang tua yang kurang tegas, mudah menyerah, selalu takut salah
dan cenderung mengalah, pasrah. Konflik ini biasanya terjadi bila seorang
yang flegmatis mempunyai anak yang berwatak keras.

Dalam kondisi kita sebagai orang tua yang tidak tegas dan mudah menyerah,
si anak justru keras dan lebih tegas. Akibatnya dalam banyak hal, si anak
jauh lebih dominan dan mengatur orang tuanya. Akibat lebih lanjut, orang
tua sulit mengendalikan perilaku anaknya dan cenderung pasrah. Saya
[penulis] sering mendengar ucapan dari para orang tua yang Dominan
Flegmatis, “Duh… anak saya itu memang keras betul… saya sudah nggak
sanggup lagi mengaturnya.” Atau “Biar sajalah apa maunya, saya sudah
nggak sanggup lagi mendidiknya.”.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Belajarlah dan berusahalah dengan keras untuk menjadi lebih tegas dalam
mengambil keputusan, tingkatkan watak keteguhan hati dan pantang
menyerah. Jiak perlu ambil orang orang yang kita anggap tegas untuk jadi
penasihat harian kita.

14. Marah Yang Berlebihan

Kita seringkali menyamakan antara mendidik dengan memarahi. Perlu untuk


selalu diingat, memarahi adalah salah satu cara mendidik yang paling buruk.
Pada saat memarahi anak, kita tidak sedang mendidik mereka, melainkan
melampiaskan tumpukan kekesalan kita karena kita tidak bisa mengatasi
masalah dengan baik. Marah juga seringkali hanya berupa upaya untuk
melemparkan kesalahan pada pihak lain [dan biasanya yang lebih lemah,
kalo ama yang lebih kuat ya takut].

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Jangan pernah bicara pada saat marah! Jadi tahanlah dengan cara yang
nyaman untuk kita lakukan seperti masuk kamar mandi atau pergi
menghindar sehingga amarah mereda. Yang perlu dilakukan adalah bicara
“tegas” bukan bicara “keras”. Bicara yang tegas adalah dengan nada yang
datar, dengan serius dan menatap wajah serta matanya dalam dalam. Bicara
tegas adalah bicara pada saat pikiran kita rasional, sedangkan bicara keras
adalah pada saat pikiran kita dikuasai emosi.

Satu contoh lagi yang kurang baik, pada saat marah biasanya kita emosi dan
mengucapkan/melakukan hal hal yang kelak kita sesali, setelah ini terjadi,
biasanya kita akan menyesal dan berusaha memperbaikinya dengan
memberikan dispensasi atau membolehkan hal hal yang sebelumnya kita
larang. Bila hal ini berlangsung berulang kali, maka anak kita akan selalu
berusaha memancing amarah kita, yang ujung ujungnya si anak menikmati
hasilnya. Anak yang sering dimarahi cenderung tidak jadi lebih baik kok.
15. Gengsi untuk Menyapa
Kita pasti pernah mengalami bahwa kita terlanjur marah besar pada anak,
biasanya amarah terbawa lebih dari sehari, akibat dari rasa kesal yang masih
tersisa dan rasa gengsi, kita enggan menyapa anak kita. Masing masing pihak
menunggu untuk memulai kembali hubungan yang normal.

Apa yang harus kita lakukan agar komunikasi mencair kembali? Siapa yang
seharusnya memulai? Kita sebagai orangtua lah yang seharusnya memulai
saat anak mulai menunjukkan tanda tanda perdamaian dan mengikuti
keinginan kita. Dengan cara ini kita dapat menunjukkan pada anak bahwa
kita tidak suka pada sikap sang anak, bukan pada pribadinya.

16. Memaklumi yang tidak pada tempatnya


Ini biasanya terjadi pada kebanyakan orang tua konservatif. Misalnya
melihat anak laki laki yang suka usil, nakal banget dan suka ngacak, orang
tuanya cenderung mengatakan, “Yah… anak cowo emang harus bandel” atau
saat melihat kakak adik lagi jambak jambakan, mamanya bilang
“maklumlah… namanya juga anak anak”. Atau bahkan ketika si anak
memukul teman atau mbaknya, orang tua masih juga sempat berkelit
dengan mengatakan “ya begitu deh, maklumlah namanya juga anak anak.
Nggak sengaja…”

Bila kita selalu memaklumi tindakan keliru yang dilakukan anak anak,
otomatis si anak berpikir perilakunya sudah benar, dan akan jadi sangat
buruk kalau terbawa sampai ke dewasa.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Kita tidak perlu memaklumi hal yang tidak perlu dimaklumi kok, kita harus
mendidik setiap anak tanpa kecuali sesuai dengan sifat dasarnya. Setiap
anak bisa dididik dengan tegas[ingat: bukan keras] sejak usia 2 tahun.
Semakin dini usianya, semakin mudah untuk dikelola dan diajak kerja sama.
Anak kita akan mau bekerja sama selama kita selalu mengajaknya dialog
dari hati ke hati, tegas, dan konsisten. Ingat, tidak perlu menunggu hingga
usianya beranjak dewasa, karena semakin bertambah usia, semakin tinggi
tingkat kesulitan untuk mengubah perilaku buruknya.

17. Penggunaan istilah yang tidak jelas maksudnya


Seberapa sering kita sebagai orang tua mengungkapkan pernyataan seperti
“Awas ya, kalau kamu mau diajak sama mama/papa, tidak boleh nakal!”
atau, “awas ya, kalau nanti diajak sama mama/papa, jangan bikin malu
mama”, bisa juga terungkap, “kalo mau jalan jalan ke taman bermain,
jangan macam macam ya”.

Nah, tanpa disadari kita seringkali menggunakan istilah istilah yang sulit
dimengerti ataupun bermakna ganda. Istilah ini akan membingungkan anak
kita. dalam benak mereka bertanya apa yang dimaksud dengan nakal,
tingkah laku apa yang termasuk dalam kategori nakal, begitu pula dengan
istilah “jangan macam macam”, perilaku apa yang termasuk kategori
“macam macam”. Selain bingung, mereka juga akan menebak nebak arti
dari istilah istilah tersebut.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Bicaralah dengan jelas dan spesifik, misalnya “Sayang, kalau kamu mau ikut
mama/papa, tidak boleh minta mainan, permen, dan tidak boleh berteriak
teriak di kasir seperti kemarin ya”. Hal ini penting agar anak mengetahui
batasan batasan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta jangan
lupa menyepakati apa konsekuensinya bila kesepakatan ini dilanggar.

18. Mengharap perubahan instan


Kita terbiasa hidup dalam budaya yang serba instant, seperti mie instant,
susu instant, teh instant. Sehingga kita anak berbuat salah, kita sering ingin
sebuah perubahan yang instant pula, misal ketika biasa terlambat bangun,
nggak beresin tempat tidur, sulit dimandikan, kita ingin agar anak kita
berubah total dalan jangka waktu sehari.

Apabila kita sering memaksakan perubahan pada anak kita dalam waku
singkat tanpa tahapan yang wajar, kemungkinan besar anak sulit
memenuhinya. Dan ketika ia gagal dalam memenuhi keinginan kita, ia akan
frustasi dan tidak yakin bisa melakukanannya lagi. Akibatnya ia memilih
untuk melakukan perlawanan seperti banyak bikin alasan, acuh tak acuh,
atau marah marah pada adiknya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Jika kita mengharapkan perubahan kebiasaaan pada anak, berikanlah waktu
untuk tahapan tahapan perubahan yang rasional untuk bisa dicapainya.
Hindari target perubahan yang tidak mungkin bisa dicapainya. Bila mungkin,
ajaklah ia untuk melakukan perubahan dari hal yang paling mudah.
Biarkanlah ia memilih hal yang paling mudah menurutnya untuk diubah.
Keberhasilannya untuk melakukan perubahan tersebut memotivasi anak
untuk melakukan perubahan lainnya yang lebih sulit. Puji dan jika perlu
rayakan keberhasilan yang dicapainya, sekecil dan sesederhana apapun
perubahan itu. Hal ini untuk menunjukkan betapa seriusnya perhatian kita
terhadap usaha yang telah dilakukannya. Pusatkan perhatian dan pujian kita
pada usahanya, bukan pada hasilnya.

19. Pendengar yang buruk


Sebagian besar orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak anaknya.
Benarkah? Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orang tua lebih
suka menyela, langsung menasehati tanpa mau bertanya permasalahannya
serta asal usul kejadiannya.

Sebagai contoh, anak kita baru saja pulang sekolah yang mestinya pulangnya
siang, dia datang di sore hari. Kita tidak mendapat keterangan apapun
darinya atas keterlambatan tersebut. Tentu saja kita kesal menunggu dan
sekaligus khawatir. Lalu pada saat anak kita sampai dan masih lelah, kita
langsung menyambutnya dengan serentetan pertanyaan dan omelan. Bahkan
setiap kali anak hendak bicara, kita selalu memotongnya. Akibatnya ia
amalah tidak mau bicara dan marah pada kita.

Bila kita tidak berusaha mendengarkan mereka, maka mereka pun akan
bersikap seperti itu pada kita dan akan belajar mengabaikan kita.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Jika kita tidak menghendaki hal ini terjadi, maka mulai saat ini jadilah
pendengar yang baik. Perhatikan setiap ucapannya. Ajukan pertanyaan
pertanyaan untuk menunjukkan ketertarikan kita akan persoalan yang
dihadapinya.

20. Selalu menuruti permintaan anak.


Apakah anak kita adalah anak semata wayang? Atau anak laki laki yang
ditunggu tunggu dari beberapa anak perempuan kakak-kakaknya? Atau
mungkin anak yang sudah bertahun tahun ditunggu tunggu? Fenomena ini
seringkali menjadikan orang tua teramat sayang pada anaknya sehingga ia
menerapkan pola asuh open bar, atau mo apa aja boleh atau dituruti.

Seperti Radja Ketjil, semakin hari tuntutannya semakin aneh dan kuat, jika
ini sudah menjadi kebiasaan akan sulit sekali membendungnya. Anak yang
dididik dengan cara ini akan menjadi anak yang super egois, tidak kenal
toleransi, dan tidak bisa bersosialisasi.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Betapapun sayangnya kita pada anak, jangan lah pernah memberlakukan
pola asuh seperti ini. Rasa sayang tidak harus di tunjukkan dengan menuruti
segala kemauannya. Jika kita benar sayang, maka kita harus mengajarinya
tentang nilai baik dan buruk, yang benar dan yang salah, yang boleh dan
yang nggak. Jika tidak, rasa sayang kita akan membuat membuatnya jadi
anak yang egois dan ‘semau gue’. Inilah yang dalam bahasa awam sering
disebut anak manja.

21. Terlalu Banyak Larangan


Ini adalah kebalikan dari kebiasaan di atas. Bila Kita termasuk orang tua
yang berkombinasi Melankolis dan Koleris, kita mesti berhati2 karena
biasanya kombinasi ini menghasilkan jenis orang tua yang “Perfectionist”.
Orang tua jenis ini cenderung ingin menjadikan anak kita seperti apa yang
kita inginkan secara SEMPURNA, kita cenderung membentuk anak kita sesuai
dengan keinginan kita; anak kita harus begini tidak boleh begitu; dilarang
melakukan ini dan itu.

Pada saatnya anak tidak tahan lagi dengan cara kita. Ia pun akan melakukan
perlawanan, baik dengan cara menyakiti diri (jika anak kita tipe sensitive)
atau dengan perlawanan tersembunyi (jika anak kita tipe keras) atau dengan
perang terbuka (jika anak kita tipe ekspresif keras). Oleh karena itu,
kurangilah sifat perfeksionis kita, Berilah izin kepada anak untuk melakukan
banyak hal yang baik dan positif. Berlatihlah untuk selalu berdialog agar kita
bisa melihat dan memahami sudut pandang orang lain. Bangunlah situasi
saling mempercayai antara anak dan kita. Kurangilah jumlah larangan yang
berlebihan dengan meminta pertimbangan pada pasangan kita. Gunakan
kesepakatan2 untuk memberikan batas yang lebih baik. Misal, kamu boleh
keluar tapi jam 9 malam harus sudah tiba di rumah. Jika kemungkinan
pulang terlambat, segera beri tahu Papa/Mama.

22. Terlalu Cepat Menyimpulkan


Ini adalah gejala lanjutan jika kita sebagai orang tua yang mempunyai
kebiasaan menjadi pendengar yang buruk. Kita cenderung memotong
pembicaraan pada saat anak kita sedang memberi penjelasan, dan segera
menentukan kesimpulan akhir yang biasanya cenderung memojokkan anak
kita. Padahal kesimpulan kita belum tentu benar, dan bahan seandainya
benar, cara seperti ini akan menyakitkan hati anak kita.

Seperti contoh anak yang pulang terlambat. Pada saat anak kita pulag
terlambat dan hendak menjelaskan penyebabnya, kita memotong
pembicaraannya dengan ungkapan, “Sudah! Nggak pake banyak alesan.”
Atau “Ah, Papa/Mama tahu, kamu pasti maen ke tempat itu lagi kan?!”.

Jika kita emlakukan kebiasaan ini terus menerus, anak akan berpikir kita
adalah orang tua ST 001 [alias Sok Tau Nomor Satu], yang tidak mau
memahami keadaan dan menyebalkan. Lalu mereka tidak mau bercerita
atau berbicara lagi, dan akibat selanjutnya sang anak akan benar benar
melakukan hal hal yang kita tuduhkan padanya. Ia tidak mau mendengarkan
nasehat kita lagi, dan pada tahapan terburuk, dia akan pergi pada saat kita
sedang berbicara padanya. Pernahkah anda mengalami hal ini?

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Jangan pernah memotong pembicaraan dan mengambil kesimpulan terlalu
dini. Tak seorang pun yang suka bila pembicaraannya dipotong, apalagi
ceritanya disimpulkan oleh orang lain.

Dengarkan, dengarkan, dan dengarkan sambil memberikan tanggapan positif


dan antusias. Ada saatnya kita akan diminta bicara, tentunya setelah anak
kita selesai dengan ceritanya. Bila anak sudah membuka pertanyaan,
“menurut Papa/Mama bagaimana?” artinya ia sudah siap untuk
mendengarkan penuturan atau komentar kita.

23. Mengungkit kesalahan masa lalu


Kebiasan menjadi pendengar yang buruk dan terlalu cepat menyimpulkan
akan dilanjutkan dengan penutup yang tidak kalah menyakitkan hati anak
kita, yakni dengan mengungkit ungkit catatan kesalahan yang pernah dibuat
anak kita. Contohnya, “Tuh kan Papa/Mama bilang apa? Kamu tidak pernah
mau dengerin sih, sekarang kejadian kan. Makanya dengerin kalau orang tua
ngomong. Dasar kamu emang anak bodo sih.”

Kiat berharap dengan mengungkit kejadian masa lalu, anak akan belajar dari
masalah. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, ia akan sakit hati dan
berusaha mengulangi kesalahannya sebagai tindakan balasan dari sakit
hatinya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Jika kita tidak ingin anak berperilaku buruk lagi, jangan lah diungkit ungkit
masa lalunya. Cukup dengan tatapan mata, jika perlu rangkullah ia. Ikutlah
berempati sampai dia mengakui kesalahan dan kekeliruannya. Ucapkan
pernyataan seperti “manusia itu tempatnya salah dan lupa, semoga ini
menjadi pelajaran berharga buat kamu”, atau “Papa/mama bangga kamu
bisa menemukan hikmah positif dari kejadian ini”. Jika ini yang kita
lakukan, maka selanjutnya dia akan lebih mendengar nasehat kita. Coba dan
buktikanlah!.

24. Suka Membandingkan


Hal yang paling menyebalkan adalah saat kita dibandingkan dengan orang
lain. Bila kita sedang berada di suatu acara dan bertemu dengan orang yang
berpakaian hampir sama atau berwarna sama, kita merasa tidak nyaman
untuk berdekatan. Apalagi jiak disbanding bandingkan [FTR, saya tidak
merasa seperti ini lho!]

Secara psikologis, kita sangat tdiak suka bila keberadaan kita baik secara
fisik atau sifat sifat kita dibandingkan dengan orang lain. Coba ingat
ingatlah pengalaman kita saat ada orang yang membandingkan kita,
bagaimana perasaan kita saat itu?

Tetapi anehnya, kebanyakan orang tua entah kenapa justru sering


melakukan hal ini pada anaknya. Misal membandingkan anak yang malas
dengan yang rajin. Anak yang rapi dengan yang gedabrus. Anak yang cekatan
dengan anak yang lamban. Terutama juga anak yang mendapat nilai tinggi di
sekolah dengan anak yang nilainya rendah. Ungkapan yang sering terdengar
biasanya seperti, “Coba kamu mau rajin belajar kayak adik mu, maka pasti
nilai kamu tidak seperti ini!”.

Jika kita tetap melakukan kebiasaan ini, maka ada beberapa akibat yang
langsung kita rasakan; anak kita makin tidak menukai kita. anak yang
dibandingkan akan iri dan dengki dengan si pembanding. Anak pembanding
akan merasa arogan dan tinggi hati.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Tiap manusia terlahir dengan karakter dan sifat yang unik. Maka jangan
sekali kali membandingkan satu dengan yang lainnya. Catatlah perubahan
perilaku masing masing anak. Jika ingin membandingkan, bandingkanlah
dengan perilaku mereka di masa lalu, ataupun dengan nilai nilai ideal yang
ingin mereka capai. Misalnya, “Eh, biasanya anak papa/mama suka
merapikan tempat tidur, kenapa hari ini nggak ya?”

25. Paling benar dan paling tahu segalanya


Egosentris adalah masa alamiah yang terjadi pada anak usia 1-3 tahun. Usia
tersebut adalah masa ketika anak merasa paling benar dan memaksakan
kehendaknya. Tapi entah mengapa ternyata sifat ini terbawa dan masih
banyak dimiliki oleh para orang tua. Contoh ungkapan orang tua, “ah kamu
ini anak bau kencur, tau apa kamu soal hidup.” Atau, “kamu tau nggak, kalo
papa/mama ini sudah banyak makan asam garam kehidupan, jadi nggak
pake kamu nasehatin papa/mama!”.

Jika kita memiliki kebiasaan semacam ini, maka kita membuat proses
komunikasi dengan anak mengalami jalan buntu. Meskipun maksud kita
adalah untuk menunjukkan superioritas kita di depan anak, tapi yang
ditangkap anak adalah semacam kesombongan yang luar biasa, dan tentu
saja tak seorang pun mau mendengarkan nasehat orang yang sombong.

Apa yang seharusnya kita lakukan?


Seringkali usia dijadikan acuan tentang banyaknya pengetahuan juga
banyaknya pengalaman. Pada zaman dulu hal ini bisa jadi benar, namun
untuk saat ini, kondisi itu tidak berlaku lagi. Siapa yang lebih banyak
mendapatkan informasi dan mengikuti kegiatan kegiatan, maka dialah yang
lebih banyak tahu dan berpengalaman.

Jadi janganlah merasa menjadi orang yang paling tahu, paling hebat, paling
alim. Dengarkanlah setiap masukan yang datang dari anak kita.

26. Saling melempar tanggung jawab


Mendidik anak terutama menjadi tanggung jawab orang tua, yaitu ayah dan
ibu. Bila kedua belah pihak merasa kurang bertanggung jawab, maka proses
pendidikan anak akan terasa timpang dan jauh dari berhasil. Celakanya lagi,
bila orang tua sudah mulai merasakan dampak perlawanan dari anak
anaknya, yang sering terjadi malah saling menyalahkan satu sama lain.

Pernyataan yang kerap muncul adalah, “kamu emang nggak becus ngedidik
anak”, dan kemudian dibalas “enak aja lo ngomong begitu, nah kamu
sendiri, selama ini kemana aja?!”. Jika cara ini yang dipertahankan di
keluarga, akankah menyelesaikan masalah? Tunggu saja hasilnya, pasti
orang tua lah yang akan menuai hasilnya, sang anak akan merasa perilaku
buruknya adalah bukan karena kesalahannya, tapi karena ketidak becusan
salah satu dari orang tuanya. Jelas anak kita akan merasa terbela dan
semakin berperilaku buruk.

Apa yang seharusnya kita lakukan?


Hentikan saling menyalahkan. Ambillah tanggung jawab kita selaku orang
tua secara berimbang.keberhasilan pendidikan ada di tangan orang tua.
Pendidikan adalah kerja sama tim, da bukan individu. Jangan pakai alasan
tidak ada waktu, semua orang sama sama memiliki waktu 24 jam sehari,
jadi aturlah waktu kita dengan berbagai macam cara dan kompaklah selalu
dengan pasangan kita.

Selalu lakukan introspeksi diri sebelum introspeksi orang lain.

27. Kakak harus selalu mengalah


Di negeri ini terdapat kebiasaan bahwa anak yang lebih tua harus selalu
mengalah pada saudaranya yang lebih muda. Tampaknya hal itu sudah
menjadi budaya. Tapi sebenarnya, adakah dasar logikanya dan dimana
prinsip keadilannya?

Ada satu contoh nyata seperti berikut:

Ada seorang kakak beradik, kakak bernama Dita dan adik bernama Rafiq.
Neneknya selaku pengasuh utama selalu memarahi Dita ketika Rafiq
menangis. Tanpa mengetahui duduk persoalan serta siapa yang salah dan
benar, si Nenek selalu membela si adik dan melimpahkan kesalahan pada
kakaknya. “Kamu ini gimana sih? Sudah besar kok tidak mau mengalah ama
adiknya.” Begitulah ucapan yang keluar dari mulut si Nenek. Terkadang
dibumbui dengan cubitan pada kakaknya.

Apa yang terjadi selanjutnya? Dita menjadi anak yang tidak memiliki rasa
percaya diri. Ia pun mulai membenci adiknya. Lama kelamaan Dita mulai
banyak melawan atas ketidak adilan ini, dan yang terjadi kemudian adalah
kedua bersaudara ini makin sering bertengkar. Sementara Rafiq yang selalu
dibela bela menjadi makin egois dan makin berani menyakiti kakaknya,
selalu merasa benar dan memberaontak. Sang nenek perlahan lahan
menobatkan Radja Ketjil yang lalim di tengah keluarga ini.

Apa yang seharusnya kita lakukan?


Anak harus diajari untuk memahami nilai benar dan salah atas perbuatannya
terlepas dari apakah dia lebih muda atau lebih tua. Nilai benar dan salah
tidak mengenal konteks usia. Benar selalu benar dan salah selalu salah
berapapun usia pelakunya.
Berlakulah adil. Ketahuilah informasi secara lengkap sebelum mengambil
keputusan. Jelaskan nilai benar dan salah pada masing masing anak, buat
aturan main yang jelas yang mudah dipahami oleh anak anak anda.

28. Menghukum secara fisik


Dalam kondisi emosi, kita cenderung sensitif oleh perilaku anak, dimulai
dengan suara keras, dan kemudian meningkat menjadi tindakan fisik yang
menyakiti anak.

Jika kita terbiasa dengan keadaan ini, kita telah mendidiknya menjadi anak
yang kejam dan trengginas, suka menyakiti orang lain dan membangkang
secara destruktif. Perhatikan jika mereka bergaul dengan teman sebayanya.
Percaya atau tidak, anak akan meniru tindakan kita yang suka memukul.
Anak yang suka memukul temannya pada umumnya adalah anak yang sering
dipukuli di rumahnya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Jangan pernah sekalipun menggunakan hukuman fisik kepada anak,
mencubit, memukul, atau menampar bahkan ada juga yang pakai alat
seperti cambuk, sabuk, rotan, atau sabetan.

Gunakanlah kata kata dan dialog, dan jika cara dialog tidak berhasil maka
cobalah evaluasi diri kita. Temukanlah jenis kebiasaan yang keliru yang
selama ini telah kita lakukan dan menyebabkan anak kita berperilaku seperti
ini.

29. Menunda atau membatalkan hukuman


Kita semua tahu bahaya yang luar biasa dari merokok, mulai dari kanker,
impotensi, sampai gangguan kehamilan dan janin. Tapi mengapa masih
banyak yang tidak peduli dan tetap membandel untuk terus menjadi ahli
hisap? Jelas karena akibat dari rokok itu terjadi kemudian dan bukan
seketika itu juga.

Begitu juga dengan anak kita. Jika anda menjanjikan sebuah konsekuensi
hukuman atau sanksi bila anak berperilaku buruk, jangan menunggu waktu
yang terlalu lama, menunda, atau bahkan membatalkan karena alasan lupa
atau kasihan.

Bila telah terjadi kesepakatan antara kita dan anak seperti tidak boleh
minta minta dibelikan permen atau mainan dan ternyata anak mencoba
coba untuk merengek, kita ingatkan kembali pada kepadanya tentang
kesepakatan yang kita buat bersama. Anak biasanya akan berhenti
merengek. Namun sayangnya kietika anak berhenti merengek , kita
menganggap masalah susah selesai dan akhirnya kita menunda atau bahkan
membatalkan hukuman entah karena lupa atau kasihan. Apa akibatnya?
Anak akan mempunya anggapan bahwa kita hanya omong doang, maka
mereka akan mempunya tendensi untuk melanggar kesepakatan karena
hukuman tidak dilaksanakan.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Jila kita sudah mempunyai kesepakatan dan anak melanggarnya, maka
sanksi harus dilaksanakan, jika kita kasihan, kita bisa mengurangi sanksinya,
dan usahakan hukumanya jangan bersifat fisik, tapi seperti pengurangan
bobot kesukaan mereka seperti jam bermain, menonton tv, ataupun
bermain video game.

30. Terpancing Emosi


Jika ada keinginannya yang tidak terpenhi anak sering kali rewel atau
merengak, menagis, berguling dsb, dengan tujuan memancing emosi kita
yang apda kahirnya kita marah atau malah mengalah. Jika kita terpancing
oleh emosi anak, anak akan merasa menang, dan merasa bisa megendalikan
orang tuanya. Anak akan terus berusaha mengulanginya pada kesempatan
lain dengan pancingan emosi yang lebih besar la gi.

Apa yang seharusnya kita lakukan?


Yang terbaik adalah diam, tidak bicara, dan tidak menanggapi. Jangan
pedulikan ulah anak kita. Bila anak menangis katakan padanya bahwa
tangisannya tidak akan mengubah keputusan kita. Bila anak tidak menangis
tapi tetap berulah, kita katakan saja bahwa kita akan mempertimbangkan
keputusan kita dengan catatan si anak tidak berulah lagi. Setelah
pernyataan itu kita keluarkan, lakukan aksi diam. Cukup tatap dengan mata
pada anak kita yang berulah, hingga ia berhenti berulah, Bila proses ini
membutuhkan waktu lebih dari 30 menit tabahlah untuk melakukannya.
Dalam proses ini kita jangan malu pada orang yang memperhatikan kita; dan
jangan pula ada orang lain yang berusaha menolong anak kita yang sedang
berulah tadi… SEKALI KITA BERHASIL MEMBUAT ANAK KITA MENGALAH, MAKA
SELANJUTNYA DIA TIDAK AKAN MENGULANGI UNTUK YANG KEDUA KALINYA.

31. Menghukum Anak Saat Kita Marah


Hal yang perlu kita perhatikan dan selalu ingat adalah jangan pernah
memberikan sanksi atau hukuman apa pun pada anak ketika emosi kita
sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar
dari mulut kita, baik dalam bentuk kata2 maupun hukuman akan cenderung
menyakiti dan menghakimi dan tidak menjadikan anak lebih baik. Kejadin
tersebut akan membekas meski ia telah beranjak dewasa. Anak juga bisa
mendendam pada orang tuanya karena sering mendapatkan perlakuan di
luar batas.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
 Bila kita sedang sangat marah segeralah menjauh dari anak. Pilihlah
cara yang tepat untuk bisa menurunkan amarah kita dengan segera.
 Saat marah kita cenderung memberikan hukuman yang seberat2ya
pada anak kita, dan hanya akan menimbulkan perlawanan baru yang lebih
kuat dari anak kita, sementara tujuan pemberian sanksi adalah untuk
menyadarkan anak supaya ia memahami perilaku buruknya. Setelah emosi
reda, barulah kita memberikan hukuman yang mendidik dan tepat dengan
konteks kesalahan yang diperbuat. Ingat, prinsip hukuman adalah untuk
mendidik bukan menyakiti. Pilihlah bentuk sanksi atau hukuman yang
mengurangi aktivitas yang disukainya, seperti mengurangi waktu main game,
atau bermain sepeda.

32. Mengejek
Orang tua yang biasa menggoda anaknya, seringkali secara tidak sadar telah
membuat anak menjadi kesal. Dan ketika anak memohon kepada kita untuk
tidak menggodanya, kita malah semakin senang telah berhasil membuatnya
kesal atau malu. Hal ini akan membangun ketidaksukaan anak pada kita dan
yang sering terjadi anak tidak menghargai kita lagi. Mengapa? Karena ia
menganggap kita juga seperti teman2nya yang suka menggodanya,

Apa yang seharusnya kita lakukan?


Jika ingin bercanda dengan anak kita, pilihlan materi bercanda yang tidak
membuatnya malu atau yang merendahkan dirinya. Akan jauh lebih baik jika
seolah-olah kitalah yang jadi badut untuk ditertawakan. Anak kita tetap aka
n menghormati kita sesudah acara canda selesai. Jagalah batas2 dan hindari
bercanda yang bisa membuat anak kesal apalagi malu. Bagimana caranya?
Lihat ekspresi anak kita. Apakah kesal dan meminta kita segera
menghentikannya? Bila ya, segeralah hentikan dan jika perlu meminta
maaflah ayas kejadian yang baru terjadi. Katakan bahwa kita tidak
bermaksud merendahkannya dan kita berjanji tidak akan mengulanginya
lagi.

33. Menyindir
Terkadang karena saking marahnya orang tua sering mengungkapkannya
dengan kata2 singkat yang pedas dengan maksud menyindir, seperti,
“Tumben hari gini sudah pulang”, atau “Sering2 aja pulang malem!”
atau”Memang kamu pikir Mama/Papa in satpam yang jaga pintu tiap
malam?”.

Kebiasaan ini tidak akan membuat anak kita menyadari akan perilaku
buruknya tapi malah sebaliknya akan mebuat ia semakin menjadi-jadi dan
menjaga jarak dengan kita. Kita telah menyakiti hatinya dan membuatnya
tidak ingin berkomunikasi dengan kita.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Katakanlah secara langsung apa yang kita inginkan dengan kalimat yang
tidak menyinggung perasaan, memojokkan bahkan menyakiti hatinya.
Katakan saja, “Sayang, Papa/Mama khawatir akan keselamatan kamu lho
kalo kamu pulang terlalu malam”. Dan sejenisnya.

34. Memberi julukan yang buruk


Kebiasaan memberikan julukan yang buruk pada anak bisa mengakibatkan
rasa rendah diri, tidak percaya diri/mimder, kebencian juga perlawanan.
Adakalanya anak ingin membuktikan kehebatan julukan atau gelar tersebut
pada orang tuanya.

Solusinya
Mengganti julukan buruk dengan yang baik, seperti, anak baik, anak hebat,
anak bijaksana. Jika tidak bisa menemukannya cukup dengan panggil dengan
nama kesukaannya saja.

35. Mengumpan Anak yang Rewel


Pada saat anak marah, merengek atau menangis, meminta sesuatu de ngan
memaksa, kita biasanya mengalihkan perhatiannya kepada hal atau barang
lain. Hal ini dimaksudkan supaya anak tidak merengek lagi. Namun yang
terjadi malah sebaliknya, rengekan anak semakin menjadi-jadi. Contohnya,
anak menangis karena ia minta dibelikan mainan, Kemusian kita berusaha
membuatnya diam dengan berusaha mengalihkan perhatiannya seperi, ” Tuh
lihat tuh ada kakak pake baju warna apa tuh…”atau” Lihat ini lihat, gambar
apa ya lucu banget?”

Ingatlah selalu, pada saat anak kita sedang fokus pada apa yang
diinginkannya, ia akan memancing emosi kita dan emosinya sendiri akan
menjadi sensitif. Anak kita pada umumnya adalah anak yang cerdas. ia tidak
ingin diakihkan ke hal lain jika masalah ini belum ada kata sepakat
penyelesaiannya. Semakin kita berusaha mengalihkan ke hal lain, semakin
marah lah anak kita.

Apa yang sebaiknya dilakukan?


Selesaikan apa yang diinginkan oleh anak kita dengan membicarakannya dan
membuat kesepakatan di tempat, jika kita belum sempat membuat
kesepakatan di rumah. Katakan secara langsung apa yang kita inginkan
terhadap permintaan anak tesebut, seperti “Papa/Mama belum bisa
membelikan mainan itu saat ini. Jika kamu mau harus menabung lebih
dahulu. Nanti Papa/Mama ajari cara menabung. Bila kamu terus merengak
kita tidak jadi jalan-jalan dan langsung pulang.” Jika kalimat ini yang kita
katakan dan anak kita tetap merengek, segeralah kita pulang meski urusan
belanja belum selesai, Untuk urusan belanja kita masih bisa menundanya.
Tapi jangan sekali-kali menunda dalam mendidik anak.
36. Televisi sebagai agen Pendidikan Anak
Perilaku anak terbentuk karena 4 hal:

 Berdasar kepada siapa yang lebih dulu mengajarkan kepadanya: kita


atau TV?
 Oleh siapa yang dia percaya: apakah anak percaya pada kata2 kita
atau ketepatan wakyu program2 TV?
 Oleh siapa yang meyampaikannya lebih menyenangkan: apakah kita
menasehatinya dengan cara menyenangkan atau program2 TV yang lebih
menyenangkan?
 Oleh siapa yang sering menemaninya: kita atau TV?
Apa yang seharusnya kita lakukan?
 Bangun komunikasi dan kedekatan dengan mengevaluasi 4 hal
tersebut yang menjadi faktor pembentuk perilaku anak kita.
 Menggantinya dengan kegiatan di rumah atau di luar rumah yang
padat bagi anak2nya.
 Gantilah program TV dengan film2 pengetahuan yang lebih mendidik
dan menantang mulai dari kartun hingga CD dalam bentuk permainan
edukatif.

37. Mengajari Anak untuk Membalas


Sebagian anak ada yang memiliki kecenderungan suka memukul dan
sebagian lagi menjadi objek penderita dengan lebih banyak menerima
pukulan dari rekan sebayanya. Sebagian orang tua biasanya tidak sabar
melihat anak kita disakiti dan memprovokasi anak kita unutuk membalasnya.
Hal ini secara tidak langsung mengajari anak balas dendam. Sebab pada saat
itu emosi anak sedang sensitif dan apa yang kita ajarkan saat itu akan
membekas. Jangan kaget bila anak kita sering membalas atau membalikkan
apa yang kita sampaikan kepadanya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?:


 Mengajarkan anak untuk menghindari teman-teman yang suka
menyakiti.
 Menyampaikan pada orang tua yang bersangkutan bahwa anak kita
sering mendapat perlakuan buruk dari anaknya.
 Ajaklah orang tua anak yang suka memukul untuk mengikuti program
parenting baik di radio atau media lainnya.

Kalau berminat bisa langsung membelinya di toko buku terdekat.


Sumber: http://tjokroaminoto360.wordpress.com/ toktokwow.com/ syabab
Indonesia

9 Langkah Menanamkan Kebiasaan Makan Sehat


Pada Anak
Kebiasaan makan sehat yang diajarkan sejak kecil, akan membantu
menjaga kesehatan anak hingga dewasa nanti, dan mereka pun akan
mengajarkan saat punya anak di kemudian hari. Oleh karena itu,
penting bagi orangtua untuk menanamkan kebiasaan makan yang benar
pada anak, karena hal ini akan menentukan kesehatan mereka untuk
seterusnya. Menerapkan pola makan sehat pada si kecil memang tidak
mudah. Tapi Anda dapat mengikuti beberapa langkah ini, seperti dikutip
dari Health Me Up.
1. Buat Waktu Makan Lebih Menyenangkan
Buat waktu makan menjadi lebih menyenangkan dengan melibatkan
seluruh keluarga, setidaknya satu kali dalam sehari. Dorong anak Anda
untuk makan secara perlahan, karena perlu waktu 20 menit bagi otak
untuk menyadari bahwa perut sudah penuh. Selain itu, rasa dari
makanan yang dinikmati akan lebih terasa bila dimakan perlahan-lahan.
Jangan makan terburu-buru di depan anak Anda, duduklah dan sisihkan
beberapa menit untuk makan dan anak Anda akan meniru Anda.
2. Hindari Makan Berlebihan
Anak-anak dalam masa pertumbuhan memang memerlukan gizi lengkap
dan nutrisi tinggi. Tapi bukan berarti si kecil boleh makan apapun
sebanyak yang dia mau. Jangan biarkan anak Anda makan berlebihan
karena bisa menyebabkan obesitas atau diabetes di kemudian hari. Beri
anak makanan ringan tiap 2-3 jam untuk mencegahnya makan porsi
berlebihan saat jam makan utama. Camilan yang dikonsumsi harus
tetap sehat, seperti kacang-kacangan dan biji-bijian, buah-buahan segar
atau biskuit gandum. Akan menjadi strategi yang baik apabila Anda
melibatkan anak dalam berbelanja, sehingga mereka dapat memilih
makanan ringan yang menarik bagi mereka. Hal ini juga merupakan
waktu yang tepat bagi Anda untuk mengajari mereka untuk membaca
label dan memilih makanan yang sehat.
3. Perlakukan Anak dengan Baik
Jangan hancurkan kesenangan masa kanak-kanak mereka, perlakukan
mereka sehingga bisa merasakan bagian terbaik menjadi seorang anak.
Kita memang perlu menanamkan kebiasaan makan yang sehat dan baik
pada anak-anak, tetapi sesekali memperlakukan anak dengan
memberikan mereka permen dan makanan manis lainnya tidak akan
merugikan mereka selama itu tidak sering dilakukan.
4. Jangan Paksa Anak
Anda sebaiknya tidak memaksa atau mendorong anak Anda untuk
makan banyak ketika ia sesekali memutuskan untuk makan lebih
sedikit. Tentu saja, makan dengan takaran yang lebih sedikit akan
mengurangi nutrisi/vitamin penting yang dibutuhkan oleh tubuh. Tetapi
dengan dukungan dan didikan Anda, anak dapat memutuskan kapan dan
berapa banyak ia harus makan. Sertakan berbagai macam sayuran
dalam berbagai warna, buah-buahan, susu, sereal dan kacang-
kacangan, sehingga anak Anda tidak akan pernah merasa kekurangan.
Kebiasan makan yang tidak berlebihan ini akan terus berlanjut bahkan
hingga mereka dewasa.
5. Jauhkan Anak dari Pengaruh Media
Kita bisa melihat bahwa sekarang anak-anak dapat dengan mudah
dipengaruhi oleh media, ada beberapa iklan yang dapat mempengaruhi
pilihan anak-anak. Sebaiknya, cobalah memberikan alasan kepada anak
dan bantu mereka dalam memilih produk yang sehat. Penalaran yang
logis akan membantu anak Anda dalam membuat pilihan untuk
memakan makanan yang sehat.
6. Say No To Junk Food
Dengan banyaknya produk-produk camilan dan bahan olahan sekarang
ini, membuat anak cenderung mengonsumsi makanan cepat saji seperti
nugget, sosis, keripik, fried chicken, dan sebagainya. Sistem
pencernaan akan merasa kesulitan untuk memproses makanan dalam
jumlah besar sehingga dapat menyebabkan kenaikan berat badan.
Sebaiknya jangan terlalu sering mengajak anak ke restoran cepat saji
atau ke bagian makanan beku saat ke supermarket. Ada baiknya
membiasakan anak untuk ikut Anda berbelanja di pasar tradisional atau
toko buah.
7. Resep Baru
Variasi adalah bumbu dalam kehidupan. Mencoba resep baru dan
libatkan anak Anda dalam proses memasak. Ini juga merupakan salah
satu jalan terbaik untuk mengedukasi mereka tentang berbagai macam
nutrisi makanan.
8. Aktivitas Fisik
Libatkan anak Anda dengan beberapa aktivitas yang melibatkan fisik
setidaknya satu jam dalam sehari. Ajak mereka ke taman, jogging, main
bola atau kegiatan out door lainnya. Anda juga bisa memasukkan
mereka ke kelas dansa ataupun kelas olahraga yang mereka sukai,
seperti sepakbola atau balet. Hal ini nantinya bisa membantu mereka
dalam menghilangkan stres dan mereka akan memiliki kesehatan yang
prima.
9. Jangan Memanjakan Anak
Jangan terlalu memanjakan anak Anda dalam mengonsumsi makanan.
Anda dapat memberikan mereka keleluasaan dalam mengonsumsi
makanan selama sehari dalam seminggu. Hal ini dapat memastikan
mereka untuk mengembangkan hubungan yang sehat dan
menyenangkan dengan makanan, mereka pun akan lebih menghargai
makanan.
Sumber : Wolipop.com

7 Kesalahan Orang Tua Saat Ngobrol dengan Anak


Kita sebagai orangtua sering melakukan hal yang keliru saat ngobrol,
berbincang dengan anak. Sehingga malah bikin anak jadi tidak nyaman.
Apa sajakah kesalahan itu?
1. Mengomel
Sarapan pagi harusnya menjadi suasana yang menyenangkan di pagi
hari. Sambil menikmati menu sarapan, Anda bisa mengajak anak bicara.
Tapi sayangnya, kebanyakan dari Anda bukan memanfaatkan momen
sarapan sebagai kegiatan yang menarik bagi anak, karena Anda sering
kali mengomel di meja makan. Biasanya, Anda akan mengomel untuk
anak menghabiskan sarapan dengan tergesa-gesa. Nah, Bu, kalau Anda
ingin anak tidak meninggalkan momen sarapan pagi, mulailah
mengurangi kebiasan ngomel di pagi hari ya.
2. Sering Memerintah
Banyak orangtua yang tidak sadar kalau mereka lebih banyak
memerintah atau menyuruh anak daripada mengarahkan anak untuk
melakukan sesuatu. Biasanya Anda akan melontarkan kalimat seperti
ini, “Lakukan seperti yang Ibu katakan ya!”. Bagi anak, kebiasaan
memerintah membuat anak tidak menjadi kreatif karena mereka
terpatok melakukan yang sesuai dengan perintah orangtua. Seringkali,
Anda lupa untuk menjelaskan alasan kenapa Anda meminta anak
melakukan hal tersebut.
3. Sikap Meremehkan
Tanpa disadari, Anda sering berkomunikasi dengan anak dengan bahasa
bayi. Anda lupa bahwa anak seiring dengan bertambah usia akan
semakin pintar dan mampu menyerap kata dengan baik. Jadi jangan
membiasakan anak untuk berkomunikasi seakan-akan anak masih bayi.
Karena dengan mengajak anak bicara dengan bahasa yang baik dan
benar , maka kosa kata akan akan bertambah banyak.
4. Terlalu Sibuk
Bagaimana perasaan Anda, ketika saat berbicara, si lawan bicara Anda
sibuk dengan smartphone? Tentu Anda merasa kesal bukan? Begitu
juga dengan anak, ketika anak meminta waktu Anda untuk
mendengarkan ceritanya, sebaiknya Anda tidak sambil asyik “bermain”
smartphone atau membaca majalah. Dengan memperhatikan dan
menyimak cerita si kecil maka Anda juga sedang mengajarkan kepada
anak untuk menghargai lawan bicaranya.
5. Mengancam
“Kalau tidak mau makan sayur, nanti Ibu panggilkan polisi ya!” Kalimat
yang mengancam seringkali diucapkan oleh orangtua. Meski tujuan dari
ancaman tersebut untuk membuat anak patuh, tetapi ternyata
mengancam anak tidak membuat anak berperilaku seperti yang Anda
inginkan. Bahkan dengan mengancam anak bisa membuat anak merasa
tidak nyaman dan takut. Saran untuk Anda, hindari untuk mengucapkan
kalimat yang bernada mengancam anak, lebih baik Anda menjelaskan
dampak jika anak tidak berperilaku positif. Misal, kalau anak tidak
menghabiskan makanan, Anda bisa memberikan pengertian bahwa
sayur akan membantu agar anak sehat.
6. Berbicara Terlalu Banyak
Menurut penelitian, anak hanya mampu mengingat 5-9 kata saat Anda
bicara. Tidak heran kalau Anda terlalu banyak bicara, anak tidak bisa
mengingat banyak yang Anda perintahkan. Nah, sebaiknya Anda mulai
belajar untuk memahami kemampuan mengingat pada anak dengan
tidak terlalu banyak bicara. Berikan kesempatan pada anak untuk
menyerap apa yang Anda sampaikan dan biarkan anak memiliki waktu
untuk bertanya ya, Bu.

7. Menanamkan Rasa Bersalah


Jangan membuat anak sebagai obyek penderita, yang membuat anak
jadi oknum yang bersalah, saat Anda berbicara dengannya. Sebab,
kebanyakan dari Anda sering melontarkan kalimat negatif, misal, “Gara-
gara kakak, mainannya jadi rusak”. Dengan kalimat negatif tersebut,
anak beranggapan Anda memposisikan anak sebagai pihak yang
bersalah. Padahal menurut psychcentral, sebagai orangtua tidak bisa
memaksa anak melihat dari cara pandang orang dewasa. Tetapi, anak
belajar empati dari perilaku orangtua dalam kesehariannya.
sumber : Fimela.com
Trik Dekat Dengan Anak untuk Ibu Bekerja

Bagi ibu bekerja, walaupun harus berkutat hampir seharian penuh di kantor,
Anda tetap bisa melakukan bonding dengan Si Kecil melalui banyak cara.
Ingat, kebersamaan Anda dan Si Kecil untuk menciptakan bonding tidak
dilihat dari seberapa lama waktu yang dihabiskan, melainkan kualitas dari
kebersamaan itu sendiri. Saat Si Kecil merasa dicintai dan aman, ia pun akan
lebih dekat dan terikat dengan Anda. Dilansir dari sumber Babyzone, inilah
beberapa cara yang bisa para ibu bekerja lakukan supaya semakin dekat
dengan Sang buah hati.

Ikut Bermain Bersama


Luangkan waktu Anda, meski hanya sebentar, untuk duduk bersama Si Kecil
di lantai dan bermain bersamanya. Ini akan memberikan kesempatan kepada
Anda untuk bersenang-senang serta lebih dekat kepadanya.
Selalu Ada
Jam berapapun Anda berangkat atau pulang kerja, selalu sediakan waktu
untuk berinteraksi dengan Si Kecil tanpa terganggu hal lain, misalnya televisi
ataugadget. Dengan begitu, kepercayaan di dalam dirinya terhadap Anda
akan tumbuh dan ia pun bisa menjalin bonding dengan Anda. Walau hanya 10
menit saja dalam sehari, hal tersebut tetap dapat menggantikan waktu selama
ia tidak bertemu Anda.

Membaca Buku Bersama


Membaca bersama Si Kecil merupakan salah satu kegiatan berkualitas antara
ibu dan anak. Sisipkan kegiatan ini setiap Anda memiliki kesempatan. Ia akan
merasa lebih dekat saat fokus mendengarkan suara dan melihat gerakan jari
ibunya ketika menunjukkan gambar-gambar di buku cerita.

Memandikan Si Kecil
Waktu mandi mampu meningkatkan bonding Anda dan Si Kecil. Bukan hanya
itu, memandikan sambil bermain air bersama Si Kecil juga bisa menjadi sesi
seru penuh tawa.

Bermanja-manja
Berikan pelukan dan ciuman, serta berbaring di samping Si Kecil sebanyak
yang Anda bisa. Bayi dan anak-anak sangat merespons sentuhan, terutama
dari ibunya. Oleh karena itu, luangkan waktu selama lima menit dalam sehari
untuk memeluk, berbaring bersama, atau mengusap-usap rambutnya.

Seru Bersama Si Kecil


Lupakan kalau Anda sudah bukan anak kecil lagi dan lakukan hal-hal seru
bersamanya! Menari, bermain peran, menggelitik atau membuat ekspresi lucu
di depan cermin hingga Anda dan Si Kecil tertawa lepas. Tunjukkan padanya
kalau Anda memiliki selera humor dan bisa diajak bergembira, selelah apapun
Anda dengan rutinitas pekerjaan yang dijalani.

Akhir Minggu Hanya Bagi Si Kecil


Pada hari kerja sangat sedikit kemungkinan Anda pergi keluar dan
bereksplorasi bersama Si Kecil. Tidak perlu khawatir, sebab Anda bisa
melakukannya di akhir minggu. Pergi bukan berarti harus ke tempat yang
jauh, cukup piknik ke taman bisa menjadi alternatif bagi Anda dan dirinya
membangun bonding sambil menikmati hangat sinar matahari dan hijaunya
rumput. (Sagar/DT/Dok. M&B)
http://www.motherandbaby.co.id/article/2014/8/35/2414/Trik-Dekat-Dengan-Anak-
untuk-Ibu-Bekerja