Anda di halaman 1dari 9

2.

1 Pentingnya Komunikasi Bisnis Lintas Budaya

Komunikasi bisnis lintas budaya adalah proses mengirim dan menerima pesan
bisnis antarindividu yang berbeda budaya. Dalam materi sebelumnya telah diuraikan
bahwa perbedaan budaya merupakan salah satu hambatan komunikasi yang paling sulit
diatasi. Namun, berkomunikasi dengan seseorang yang berbeda budayanya tidak mungkin
dihindari, terlebih lagi dalam era globalisasi ini.
Perusahaan keluarga atau tertutup telah banyak berubah menjadi perusahaan
terbuka (public company). Perusahaan lokal dan nasional telah berkembang menjadi
Multinational Company (MNC) yang berskala internasional. Misalnya, Unilever, P&G,
IBM, dan Coca-Cola membuka cabangnya di berbagai negara atau berafiliasi dengan
perusahaan asing. Meningkatnya kerja sama perdagangan dan berkurangnya halangan
untuk memasuki pasar akan memperluas arena perdagangan internasional. Contoh kerja
sama perdagangan global adalah WTO, AFTA, dan NAFTA.
Operasi global akan meningkatkan kebutuhan untuk berkomunikasi dengan
budaya asing. Baik berada di negara sendiri maupun di negara asing, tetap ada
kemungkinan untuk berkomunikasi dengan seseorang dengan berbagai latar belakang
budaya dan bahasa. Interaksi lintas budaya terjadi dalam komunikasi internal maupun
eksternal perusahaan. Dalam komunikasi internal akan terjadi interaksi antarpekerja yang
berasal dari berbagai bangsa. Sementara dalam komunikasi eksternal, perusahaan akan
berhadapan dengan pelanggan, pemasok, investor, dan pesaing dari berbagai negara.
Untuk mempermudah komunikasi, pekerja tidak hanya dituntut mampu menggunakan
bahasa yang berlaku secara internasional, tetapi juga meningkatkan pemahaman terhadap
budaya asing.

2.2 Memahami Budaya, dan Hambatan Utama dalam Komunikasi Bisnis Lintas
Budaya
2.2.1 Definisi Budaya

Budaya adalah simbol, keyakinan, sikap, nilai, harapan, dan norma tingkah laku
yang dimiliki bersama (Bovee dan Thill, 2003:68). Budaya juga diartikan sebagai
konvensi-konvensi kebiasaan, sikap, perilaku sekelompok orang (Heart, 2004:125).
Semua anggota suatu budaya memilki asumsi serupa mengenai bagaimana seharusnya
berpikir, bertingkah laku, dan berkomunikasi. Mereka bertindak cenderung dengan cara
yang serupa sesuai asumsi dianut.
Beberapa budaya terdiri atas beberapa kelompok budaya yang beragam dan
berbeda. Kelompok budaya utama terdiri atas beberarapa kelompok budaya yang
cenderung homogen. Kelompok budaya yang cenderung homogen yang ada dalam suatu
budaya utama disebut subbudaya. Misalnya, budaya Indonesia terdiri atas beberapa
subbudaya etnik Jawa, Sunda, Bali, Betawi, Dayak , Sasak, dan lain-lain. Selain itu,
terdapat kelompok-kelompok masyarakat yang tidak memenuhi kriteria sebagai
subbudaya, tetapi memiliki ciri-ciri yang mencolok. Kelompok itu sering disebut
subkelompok yang menyimpang (deviant subculture). Contoh kelompok itu adalah kaum
homoseks, waria, pecandu obat bius, dan penganut sekte agama yang dilarang.
Budaya dimiliki oleh seluruh manusia, hanya saja terdapat persamaan dan
perbedaan dalam aspek-aspek tertentu. Setiap manusia menganut budayanya sendiri-
sendiri. Budaya memenuhi seseorang sejak dalam kandungan sampai meninggal dunia,
bahkan perlakuan setelah meninggal dunia pun dipengaruhi oleh budaya.
Komunikasi lintas budaya terjadi dalam berbagai situasi, yang berkisar dari
interaksi antara orang-orang yang budayanya berbeda secara ekstrim hingga dalam
interaksi dalam orang-orang yang budayanya sama, tetapi subbudaya atau subkelompok
budayanya berbeda. Besarnya perbedaan antara budaya yang satu dengan yang lain
tergantung pada tingkat keunikan masing-masing.
Mengakui dan mengakomodasi perbedaan budaya tanpa mengharapkan orang dari
budaya mana pun untuk meninggalkan identitas merupakan langkah penting ke arah
komunikasi lintas budaya yang efektif. Komunikasi lintas budaya yang efektif bergantung
pada pemahaman terhadap perbedaan budaya. Selain mempermudah hubungan bisnis,
pemahaman terhadap perbedaan budaya sekaligus juga meningkatkan reputasi
perusahaan.

2.2.2 Mengenali Perbedaan Budaya

Ketika seseorang berkomunikasi, pada umumnya terdapat kecenderungan untuk


menggunakan asumsi budayanya sendiri dan menganggap orang lain memiliki budaya,
bahasa, dan persepsi seperti dirinya. Perbedaan budaya yang semakin besar akan
berakibat pada semakin besarnya perbedaan persepsi.
Perbedaan budaya muncul dalam nilai-nilai sosial, gagasan mengenai status,
kebiasaan membuat keputusan, sikap terhaddap waktu, penggunaan ruang, konteks
budaya, bahasa tubuh, sopan, santun, dan tingkah laku etis (Bovee dan Thill 2003:69).
a. Nilai-nilai sosial

Pada umumnya, penduduk Amerika Serikat menjunjung tinggi kerja keras dan
menyelesaikan tugas-tugas secara efisien. Penggunaan dua pekerja dengan metode kerja
modern dianggap lebih baik daripada menggunakan empat pekerja, tetapi dengan metode
kerja tradisional. Sementara itu, di negara-negara yang angka penganggurannya tinggi,
seperti India dan Pakistan, menciptakan pekerja lebih penting dibandingkan dengan
bekerja secara efisien. Oleh karena itu, para eksekutif di negara tersebut lebih suka
memperkerjakan empat orang daripada dua orang. Nilai-nilai sosial memengaruhi
tindakan seseorang.

b. Peran dan status

Di banyak negara, wanita belum memainkan peran yang menonjol dalam bisnis.
Apabila ada eksekutif muda yang berkunjung ke negara tersebut, bisa jadi itu disepelekan
atau dianggap tidak serius.
Budaya juga menetukan cara seseorang dalam menunjukkan rasa hormat kepada
atasan. Misalnya, atasan disapa “Mr. Robert” atau “Mr. Black” di Amerika Serikat.
Namun di Cina, digunakan gelar jabatan untuk menyapa seseorang, misalnya “Direktur
Ho” atau “Manajer Han”.
Konsep status juga berbeda-beda. Misalnya, manajer puuncak di Amerika Serikat
memiliki ruang kerja khusus, karpet tebal, meja paling mahal, dan asesoris paling mewah.
Namun di Prancis, manajer puncak bekerja di ruang terbuka dan dikelilingi para manajer
menengah. Apabila eksekutif Jepang menginap di hotel, manajer senior harus
ditempatkan di lantai yang lebih tinggi dari manajer menengah.

c. Adat pembuatan keputusan

Di Amerika Serikat dan Kanada, pelaku bisnis berusaha mencapai keputusan


secepat dan seefisien mungkin. Manajer puncak cukup memikirkan hal pokok saja,
sedangkan rincian diserahkan kepada bawahan. Tidak demikian halnya di Yunani.
Mengabaikan rincian dianggap sebagai sikap menghindar dan tidak dapat dipercaya.
Di Pakistan, mengambil keputusan cukup dilakukan oleh eksekutif tinggi. Di Cina
dan Jepang, pengambilan keputusan dilakukan secara konsensus melalui proses yang
rumit dan waktu yang panjang. Persetujuan harus lengkap tidak ada aturan mayoritas.

d. Konsep mengenai waktu


Perbedaan konsep mengenai waktu dapat menimbulkan salah pengertian. Bagi
eksekutif Amerika Seikat dan Jerman, waktu menjadi penentu rencana kerja agar bisa
efisien dan fokus pada satu kegiatan pada periode tertentu. Pengaturan berbagai aktivitas
dibatasi oleh waktu. Bagi eksekutif di Asia, membangun fondasi hubungan bisnis jauh
lebih penting daripada menepati batas waktu atau jadwal yg ketat. Waktu yang diperlukan
untuk saling mengenal dan menjajagi latar belakang relasi bisnis cukup fleksibel.

e. Konsep ruang pribadi

Ruang memiliki arti yang berbeda dalam budaya yang berbeda. Orang Kanada dan
Amerika Serikat biasanya berdiri terpisah sekitar lima kaki ketika berbicara mengenai
bisnis. Jarak tersebut terlalu dekat bagi orang Jerman dan Jepang. Akan tetapi, bagi orang
Arab dana Amerika Latin, jarak tersebut tidak nyaman karena terlalu jauh. Bagaimana
bila orang Jerman dan Arab berbicara bisnis? Akan terjadi dansa budaya, dimana orang
Jerman akan selalu bergerak menjauh dan orang Arab selalu bergerak mendekat.
Akibatnya, orang Jerman merasa tidak nyaman karena selalu didakti dan orang Arab
merasa tersinggung karena selalu dijauhi.

f. Konteks budaya

Salah satu cara yang digunakan seseorang untuk memberikan arti pada sebuah
pesan adalah menuruti konteks budayanya. Konteks budaya merupakan petunjuk fisik dan
pemahaman implisit yang yang menyertai makna di antara mereka yang berkomunikasi.
Antropolog Edwars T. Hall (dalam Quible, 1996:409) membagi konteks budaya menjadi
dua tingkat, yaitu budaya konteks tinggi (high context culture) dan budaya konteks
rendah (low context culture). Budaya konteks tinggi (misalnya, Korea dan Taiwan)
cenderung lebih memperhatikan petunjuk yang bersifat nonverbal (ekspresi muka, bahasa
tubuh) daripada verbal. Sebaliknya, budaya konteks rendah (misalnya, Amerika dan
Eropa) lebih memperhatikan pesan yang diungkapkan secara verbal. Oleh karena itu, bagi
budaya konteks rendah, persetujuan tertulis dianggap lebih mengikat karena memiliki
dasar hukum yang kuat. Sebaliknya, bagi budaya konteks tinggi, jaminan dan
kepercayaan pribadi lebih penting daripada kontrak dan pandangan terhadap hukum yang
lebih fleksibel. Komunikasi yang terjadi antara orang-orang yang berasal dari kelompok
budaya yang sama akan berlangsung lebih lancar dan mudah.

g. Bahasa tubuh
Bahasa tubuh bisa dipergunakan untuk membantu menjelaskan pesan yang
membingungkan. Namun, bahsa tubuh juga bisa menjadi penyebab adanya salah
pengertian antarbudaya. Menguasai bahasa suatu budaya tidak berarti juga menguasai
bahasa tubuhnya. Orang-orang dari budaya berbeda kadang-kadang salah membaca tanda
yang dikirimkan oleh bahasa tubuh. Misalnya, untuk menyatakan “tidak”, orang Amerika
Serikat dan Kanada akan menggeleng, orang Bulgaria mengangguk, orang Jepamng
mengangkat tangan kanan, dan orang Sisilia mengangkat dagunya.
Ucapan selamat datang disampaikan oleh orang Indonesia dengan cara
bersalaman. Sedangkan suku Indian mengucapkan selamat datang dengan menjulurkan
lidah. Bagi orang Amerika Serikat, menjulurkan lidah merupakan suatu ejekan.

h. Tingkah laku sosial dan sopan santun

Sesuatu yang dianggpa sopan oleh suatu budaya mungki8n dianggap kasar oleh
budaya lain. Aturan mengenai tingkah laku sopan bervariasi antara negara satu dengan
negara yang lain. Memberi hadiah kepada istri orang lain dianggap tidak sopan oleh orang
Arab. Menaikkan kaki ke atas meja dan memberikan sesuatu dengan tangan kiri dianggap
biasa oleh orang Amerika Serikat, tetapi dianggap sebagai penghinaan oleh orang Mesir.
Di Spanyol, jabatan tangan berlangsung lima sampai tujuh kali ayunan, dan menarik
tangan terlalu cepat bisa diartikan sebagai penolakan. Sementara di Prancis, orang lebih
suka berjabat tangan hanya dengan sekali ayunan. Tuan rumah di negara-negara Arab
akan merasa dipermalukan apabila tamunya menolak makanan, minuman, dan
keramahtamahan dalam bentuk apapun.

i. Tingkah laku legal dan etnis

Di beberapa negara, perusahaaan sering memberi bayaran ekstra kepada


pemerintah untuk mendapatkan kontrak pemerintah. Hal itu suudah menjadi kebisaan
yang rutin dan tidak dianggap ilegal. Namun, di Amerika Serikat hal ini dipandang
sebagai suap, ilegal, dan tidak etis. Perusahaan yang berdiri di Amerika Serikat dilarang
membayar ekstra kepda pegawai negeri di mana pun. Di Inggris dan Amerika Serikat,
seseorang dianggap tidak bersalah hingga terbukti memang bersalah. Di Meksiko dan
Turki, seseorang dianggap tidak bersalah hingga bisa membuktikan tidak bersalah.
Perbedaan itu sangat penting bagi perusahaan yang terlibat perselisihan legal di negara
lain.
j. Budaya perusahaan

Budaya perusahaan adalah cara perusahaan melakukan sesuatu. Budaya


membentuk perasaan orag mengenai perusahaan dan pekerjaan yang dilakukan, cara
menginterpretasikan dan mengartikan tindakan yang dilakukan orang lain, harapan yang
menyangkut perubahan dalam bisnis, dan bagaimana cara pandang terhadap perubahan
tersebut. Lebih dari separuh kemitraan perusahaan gagal karena adanya benturan budaya
perusahaan.

2.2.3 Menghadapi Hambatan Bahasa

Bahasa merupakan hambatan utama dalam komunikasi lintas budaya. Bahasa


Inggris adalah bahasa yang paling lazim dipergunakan dalam bisnis internasional. Namun
begitu, merupakan kesalahan bila menganggap semua orang memahaminya. Setelah
bahasa Inggris, Spanyol secara mencolok merupakan bahasa yang paling banyak
digunakan, menyusul bahasa Prancis, Jerman, Italia, dan Cina. Proses perpindahan
penduduk bisa menyebabkan suatu bahasa digunakan di negara lain. Misalnya, penduduk
New Meksiko lebih banyak menggunakan bahasa Spanyol. Di Michigan (AS) banyak
penduduk berbahasa Arab, dan penduduk Singapura banyak menggunakan bahasa
Mandarin. Dalam komunikasi lintas bahasa, pesan yang disampaikan banyak dikacaukan
oleh bahasa idiom (ungkapan), gaul (slang), dan aksen setempat.
Bahasa tidak diterjemahkan dari bahasa satu ke bahasa lain atas dasar kata-kata.
Bahasa bersifat idomatik, yang artinya disusun dengan ungkapan dan pengelompokan
kata yang dapat bertentangan dengan pola umum dari kerangka bahasa itu dan dapat
memiliki arti yang jauh berbeda dari komponen individual apabila diterjemahkan secara
harfiah (Bovee dan Thill 2003:76). Misalnya, slogan Pepsi yang berbunyi “Come alive
with Pepsi” (hidup ceria dengan Pepsi) diterjemahkan oleh orang Jerman dengan “Come
out of the grave” (keluar dari kuburan) dan oleh orang Thailand sebagai “Bring your
ancester back from the dead” (membangkitkan kembali nenek moyang).
Jika seseorang dari Inggri berbicara dengan rekan bisnisnya dari Indonesia dengan
bahasa Inggris, mungkin akan terjadi kesulitan karena perbedaan pengucapan dan aksen.
Sekelompok karyawan Toyota Jepang yang di[indahkan ke AS mengikuti kelas khusus
untuk belajar mengatakan “Jeat yet?” yang berarti “Did you eat yet?” dan Cannahepya”
yang berarti “Can i help you?” perbedaan dalam lafal, perubahan vokal, dan kosakata
dapat menimbulkan masalah dalam komunikasi lintas budaya.
Orang dari Timur Tengan cenderung berbicara lebih keras dibandingkan dengan
orang Barat dan karenanya dianggap keliru secara emosional. Sebaliknya, orang Jepang
berbicara lembut, karakteristik yang mencerminkan kesopanan atau rendah hati bagi
pendengar orang Barat.
Apabila berhubungan dengan orang yang sama sekali tidak mengerti bahasa kita,
ada tiga pilihan yang dapat dilakukan, yaitu mempelajari bahasa orang itu, menggunakan
perantara atau penerjemah, atau mengajarkan kepada mereka bahasa kita. Jika memiliki
hibungan bisnis jangka panjang dengan orang dari budaya lain, mempelajari budaya dan
bahasa mereka akan lebih bermanfaat. Namun, perlu diingat bahwa untuk mempelajari
bahasa asing diperlukan komitmen yang kuat.

2.3 Mengembangkan Keterampilan Komunikasi Lintas Budaya

Mempelajari apa yang dapat dilakukan oleh seseorang tentang budaya tertentu
sebenarnya merupakan suatu cara yang baik untuk menemukan bagaimana mengirim dan
menerima pesan-pesan lintas budaya secara efektif. Namun, perlu diingat dua hal penting,
yaitu pertama, jangan terlalu yakin bahwa seseorang akan dapat memahami budaya orang
lain secara utuh atau sempurna. Kedua, jangan mudah terbawa kepada pola generalisasi
terhadap perilaku seseorang dari budaya yang berbeda. Mempelajari keterampilan
komunikasi lintas budaya pada umumnya akan membantu seseorang beradaptasi dalam
setiap budaya, khususnya jika seseorang berhubungan dengan orang lain yang memiliki
budaya berbeda.
Berikut ini adalah beberapa petunjuk atau tips yang diperlukan seseorang ketika
berhubungan dengan orang lain yang memiliki budaya berbeda.
a. Asumsikan berbeda hingga suatu persamaan telah terbukti. Jangan berasumsi
bahwa orang lain memiliki pandangan sama sampai benar-benar menjadi
kenyataan.
b. Berani mengambil tanggung jawab saat berkomunikasi. Jangan berasumsi bahwa
ini adalah pekerjaan orang lain untuk berkomunikasi dengan orang lain.
c. Tidak memberi pendapat. Belajar mendengar suatu cerita yang utuh dan terimalah
perbedaan dengan tanpa memberikan pendapat atau penilaian tentang mereka.
d. Tunjukkan suatu penghargaan. Belajar bagaimana suatu penghargaan itu
dikomunikasikan melalui suatu gerak isyarat, kontak mata, dan sejenisnya dalam
berbagai budaya yang berbeda.
e. Empati. Sebelum menyampaikan suatu pesan, cobalah untuk membayangkan
perasaan orang lain bagaimana dan mengapa berkomunikasi.
f. Menahan sikap ambiguitas/mendua. Belajar untuk mengendalikan kekecewaan
pada situasi yang membingungkan.
g. Jangan melihat sesuatu yang superfisial. Jangan diganggu dengan sesuatu seperti
pakaian, penampilan, atau ketidaknyamanan lingkungan.
h. Sabar dan tekun. Ketika seseorang berkomunikasi dengan orang lain yang
memiliki budaya berbeda, jangan mudah menyerah.
i. Mengenal bias budaya Anda sendiri. Belajar untuk mengidentifikasi ketika asumsi
Anda berbeda dengan orang lain.
j. Fleksibel/luwes. Siap mengubah kebiasaan atau sikap Anda ketika berkomunikasi
dengan orang yang memiliki budaya berbeda.
k. Tekankan hal-hal yang biasa. Carilah kesamaan untuk menjalin suatu kerja sama.
l. Mengirim pesan yang jelas. Membuat sinyal verbal dan nonverbal yang jelas dan
konsisten.
m. Tingkatkan kepekaan budaya Anda. Belajar tentang berbagai kebiasaan dan
praktik, sehingga seseorang perlu waspada terhadap potensi munculnya salah
komunikasi.
n. Bersifat individual. Berkomunikasi dengan setiap orang sebagai individu bukanlah
mewakili kelompok lain.
o. Belajar secara langsung. Investigasi setiap budaya, sehingga Anda tahu kapan
mengirim suatu pesan dengan cara langsung atau tidak langsung.
p. Memperlakukan tafsiran Anda sebagai hipotesis kerja. Saat Anda memahami
budaya asing, berhati-hatilah terhadap umpan balik yang dilakukan si penerima
pesan.
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Sutrisna. 2007. Komunikasi Bisnis. Yogyakarta: Andi

Purwanti, Djoko.2006. Komunikasi Bisnis. Edisi Ketiga. Jakarta. Penerbit: Erlangga.