Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PARASITOLOGI

IDENTIFIKASI PARASIT
PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio)

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas laporan akhir praktikum
mata kuliah Parasit dan Penyakit Ikan semester genap

Disusun oleh :
Mukhammad Rifqi Almumtaz 230110140057
Tanti Yunita Lemansari 230110140059
Anwar Muhammad Syahidin 230110140066

Kelas :
Perikanan A/ Kelompok 9

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT., berkat rahmat dan karunia-
Nya kami dapat menyelesaikan Laporan Akhir Praktikum Parasit dan Penyakit Ikan
dengan judul ‘’Identifikasi Parasit pada Ikan Mas (Cyprinus carpio)’’. Shalawat
serta salam tak lupa kami panjatkan pada nabi Nabi Muhammad SAW.
Penulis menyadari bahwa dalam pengerjaan laporan akhir praktikum ini
terdapat kelemahan dan kekurangan dalam segi materi yang menunjangnya maupun
data hasil praktikum, seperti pepatah “Tiada gading yang tak retak”. Maka dari itu
kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan sebagai acuan untuk melahirkan
karya-karya tulis yang lebih baik lagi.
Semoga apa yang ada didalam laporan ini dapat memberikan pengetahuan
tentang biologi perikanan yang berkaitan dengan analisis aspek biologi pada ikan
khususnya. Akhirul kalam, terima kasih atas segala perhatian dari para pembaca.

Jatinangor, Mei 2016

Penyusun

i
DAFTAR ISI

BAB Halaman
DAFTAR TABEL ................................................................................. iv
DAFTAR GAMBAR ............................................................................. v
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................... vi
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Tujuan ........................................................................................... 1
1.3 Manfaat ......................................................................................... 1

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ikan Mas ........................................................................................ 2
2.1.1 Klasifikasi .....................................................................................
2.1.2 Biologi dan Morfologi Ikan Mas ..................................................
2.2 Parasit Ikan ....................................................................................
2.2.1 Ektoparasit.....................................................................................
2.2.2 Endoparasit ....................................................................................
2.3 Pemeriksaan Parasit Ikan ..............................................................
2.3.1 Pemeriksaan Bagian Kulit, Sisik, dan Sirip ..................................
2.3.2 Pemeriksaan Parasit pada Insang ..................................................
2.3.3 Pemeriksaan Parasit pada Usus .....................................................
2.3.4 Pemeriksaan Parasit pada Otot Daging .........................................

III METODOLOGI PRAKTIKUM


3.1 Waktu dan Tempat ........................................................................
3.2 Alat dan Bahan ..............................................................................
3.2.1 Alat ................................................................................................
3.2.2 Bahan ............................................................................................
3.3 Prosedur Kerja ...............................................................................

IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil ..............................................................................................
4.1.1 Data Kelompok .............................................................................
4.1.2 Data Angkatan ...............................................................................
4.2 Pembahasan ...................................................................................

V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ...................................................................................
5.2 Saran ..............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................


LAMPIRAN .............................................................................................

iii
DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman


1 Hasil Pemeriksaan Parasit pada Ikan Mas .........................................
2 Hasil Pemeriksaan Parasit (Ektoparasit) pada Ikan Mas ...................
3 Hasil Pemeriksaan Parasit (Endoparasit) pada Ikan Mas ...................
4 Prevalensi Parasit pada Ikan Mas .......................................................
5 Intensitas Parasit pada Ikan Mas ........................................................

iv
DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman


1 Morfologi Ikan Mas ...........................................................................
2 Grafik Prevalensi Parasit pada Ikan Mas per Spesies Parasit ............
3 Diagram Prevalensi Ektoparasit dan Endoparasit pada Ikan Mas .....
4 Grafik Intensitas Parasit pada Ikan Mas per Spesies Parasit..............
5 Diagram Intensitas Ektoparasit dan Endoparasit pada Ikan Mas .......

v
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman


1 Dokumentasi Alat yang Digunakan ...................................................
2 Dokumentasi Ikan Uji yang Digunakan .............................................
3 Prosedur Praktikum ............................................................................
4 Hasil Identifikasi Parasit pada Ikan Mas ............................................

vi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Waduk Cirata yang luasnya 6200 Ha merupakan salah satu dari 800 waduk di
Indonesia yang memiliki 2 fungsi sangat esensial, yaitu (1) fungsi ekonomi yakni
sebagai sumber Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) bagi Jawa dan Bali. Dengan
volume air 2,160,000,000 m3. Waduk Cirata diharapkan mampu memproduksi daya
listrik 1008 MW, dan sumber air baku bagi Jakarta serta sebagai sumber air untuk
pengairan sawah bagi daerah Karawang, Purwakarta, dan Bekasi; (2) fungsi ekologi,
sebagai pengatur tata air dan iklim mikro di wilayah sekitar waduk.
Ikan Mas adalah salah satu jenis ikan budidaya air tawar yang paling banyak
dibudidayakan petani baik budidaya pembenihan, pembesaran di kolam pekarangan
ataupun air deras. Produksi ikan Mas dapat mencapai diatas rcta-tata ikan konsumsi
lainnya. Di kalangan petani maupun masyarakat, ikan Mas telam dikenal dan disukai
sehingga pemasarannya tidaklah sulit. Selain itu sebagai ikan budidaya ikan Mas
memiliki keunggulan, yaitu dapat dikembangbiakkan hanya dengan perbaikan
lingkungan atau manipulasi lingkungan dan kawin suntik (Hipofisasi).

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum Identifikasi Parasit ini yaitu :
1. Untuk mengetahui seberapa banyak parasit yang terdapat pada ikan mas.
2. Untuk mengetahui jenis parasit yang menyerang pada ikan mas.

1.3 Manfaat
1. Mahasiswa dapat mengetahui jenis parasit yang terdapat pada ikan mas baik itu
ektoparasit atau endoparasit.
2. Mahasiswa dapat mengetahui cara pengambilan sampel pada organ ikan mas
yang terinfeksi oleh parasit.

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Ikan Mas


Ikan mas merupakan ikan yang sudah umum di pelihara menurut ahli perikanan
Dr. A.L Buschkiel dalam RO. Ardiwinata (1981) menggolongkan jenis ikan mas
menjadi dua golongan, yakni pertama, jenis-jenis mas yang bersisik normal dan kedua,
jenis kumpai yang memiliki ukuran sisrip memanjang. Golongan pertama yakni yang
bersisik normal dikelompokkan lagi menjadi dua yakni pertama kelompok ikan mas
yang bersisik biasa dan kedua, bersisik kecil. Sedangkan Djoko Suseno (2000)
mengemukakan, berdasarkan fungsinya, ras-ras ikan mas yang ada di Indonesia dapat
digolongkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama merupakan ras - ras ikan
konsumsi dan kelompok kedua adalah ras-ras ikan hias. Ikan mas sebagai ikan
konsumsi dibagi menjadi dua kelompok yakni ras ikan mas bersisik penuh dan ras ikan
mas bersisik sedikit. Kelompok ras ikan mas yang bersisik penuh adalah ras-ras ikan
mas yang memiliki sisik normal, tersusun teratur dan menyelimuti seluruh tubuh. Ras
ikan mas yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah ikan mas majalaya, ikan mas
punten, ikan mas si nyonya dan ikan mas merah. Sedangkan yang tergolong dalam ras
karper bersisik sedikit adalah ikan karper kaca yang oleh petani di Tabanan biasa
disebut dengan nama karper gajah. Untuk kelompok ras ikan karper hias, beberapa di
antaranya adalah karper kumpay, kaca, mas merah dan koi.

2.1.1 Klasifikasi
Klasifikasi ikan mas menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Class : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio Gambar 1. Ikan mas (Cyprinus carpio)
(Sumber : Dokumentasi pribadi)

8
2.1.2 Biologi dan Morfologi Ikan Mas
Tubuh ikan mas (Cyprinus carpio) dilengkapi dengan sirip. Sirip punggung
(dorsal) berukuran relatif panjang dengan bagian belakang berjari-jari keras dan sirip
terakhir yaitu sirip ketiga dan keempat, bergerigi. Letak antara sirip punggung dan
perut berseberangan. Sirip pada pectoral terletak dibelakang tutup insang (overculum).
Sisik ikan mas berukuran relatif lebih besar dan digolongkan kedalam tipe sisik sikloid
linea lateralis (gurat sisi), terletak dipertengahan tubuh, melintang dari tutup insang
sampai keujung belakang pangkal ekor. Pharynreal teeth (gigi kerongkongan) terdiri
dari tiga baris yang berbentuk gigi geraham (Suseno, 2003).
Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan ikan pemakan segala (omnivora).
Kebiasaan makan ikan mas (Cyprinus carpio) yaitu sering mangaduk-ngaduk dasar
kolam, termasuk dasar pematang untuk mencari jasad-jasad organik. Karna kebiasaan
makannya seperti ini, ikan mas (Cyprinus carpio) dijuluki sebagai bottom feeder atau
pemakan dasar. Di alam, danau atau sungai tempat hidupnya, ikan ini hidup menepi
sambil mengincar makanan berupa binatang-binatang kecil yang biasanya hidup
dilapisan lumpur tepi danau atau sungai (Susanto,2004).
Menurut Susanto (2004), ikan mas (Cyprinus carpio) mempunyai telur yang
sifatnya merekat/menempel atau adhesif. Kebiasaan sebelum melakukan pemijahan di
alam adalah mencari tempat yang rimbun dengan tanaman air atau rumput-rumputan
yang menutupi permukaan perairan. Perkembangan seksual ikan mas (Cyprinus carpio)
yaitu ovivar dimana perkembangbiakan seksual yang ditandai dengan pelepasan sel
telur jantan dan 6 betina, dimana spermatozoa diluar tubuh dan fertilisasi terjadi diluar
tubuh. Ciri-ciri lain adalah sel telur berukuran besar karena banyak mengandung
kuning telur yang dapat menjadi bekal bagi anak-anaknya dalam mengawali hidupnya
diluar tubuh (Susanto,2004).
Huet, (1971) menyatakan habitat ikan mas hidup pada kolam-kolam air tawar
dan danau-danau serta perairan umum lainnya. Dalam perkembangannya ikan ini
sangat peka terhadap perubahan kualitas lingkungan. Ikan mas merupakan salah satu

9
ikan yang hidup di perairan tawar yang tidak terlalu dalam dan aliran air tidak terlalu
deras. Ikan mas dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian 150-600 meter di atas
permukaan air laut dan pada suhu 25-30°C. Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan
mas kadang-kadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai yang bersalinitas
25-30 ppt.
Ikan mas dan mas koi adalah jenis ikan air tawar yang berkerabat sangat sangat
dekat karena merupakan spesies yang sama tetapi berbeda ras atau strain, begitu juga
dalam siklus hidupnya sama dengan ikan mas. Perkembangan di dalam gonad yakni
ovarium pada ikan betina yang menghasilkan telur, dan testis pada ikan jantan yang
menghasilkan sperma (Amri dan Khairuman, 2002).
Embrio akan tumbuh dalam telur yang telah dibuahi oleh spermatozoa. Dua
sampai tiga hari telur akan menetas dan tumbuh menjadi larva dengan ukuran berkisar
antara 0,5-0,6 mm dengan bobot antara 18-20 mg. Larva kemudian akan berubah
menjadi kebul (larva stadia akhir) dalam waktu 4-5 hari, setelah 2-3 minggu kebul akan
menjadi burayak (stadia benih) yamg mempunyai ukuran panjang 1-3 cm dan bobot
0,1-0,5 gram. Dalam waktu 2-3 minggu kemudian burayak tumbuh menjadi putihan
(benih besar) yang mempunyai ukuran panjang 3-5 cm dengan bobot 0,5-2,5 gram, dan
dalam waktu tiga bulan putihan akan tumbuh menjadi gelondongan (ikan remaja) yang
mempunyai bobot 100 gram dan gelondongan tersebut akan tumbuh terus sampai
menjadi induk.

2.2 Parasit Ikan


Penyakit pada organisme perairan didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat
mengganggu proses kehidupan ikan sehingga pertumbuhan menjadi tidak normal.
Secara umum penyakit dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu penyakit infeksi dan non
infeksi. Penyakit infeksi disebabkan oleh organisme hidup seperti parasit, jamur,
bakteri, dan virus dan penyakit non infeksi disebabkan oleh faktor non hidup seperti
pakan, lingkungan, keturunan dan penanganan. Kabata (1985) menyatakan bahwa
penyakit pada ikan dapat terjadi akibat adanya interaksi yang tidak seimbang antara

10
lingkungan, ikan dan agen penyakit. Interaksi tersebut dapat menyebabkan ikan
menjadi stres dan mekanisme pertahanan tubuhnya melemah, sehingga mudah
terserang penyakit (Kordi, 2004). Parasit merupakan organisme yang hidup pada
organisme lain yang mengambil makanan dari tubuh organisme tersebut, sehingga
inang akan mengalami kerugian. Parasitisme adalah hubungan dengan salah satu
spesies parasit dimana inangnya sebagai habitat dan merupakan tempat untuk
memperoleh makanan atau nutrisi, tubuh inang adalah lingkungan utama dari parasit
sedangkan lingkungan sekitarnya merupakan lingkungan keduanya (Kabata, 1985).
Penyakit akibat infeksi parasit menjadi ancaman utama keberhasilan akuakultur.
Karena menurut Santoso (1993), pada semua tahap budidaya ditemui serangan
penyakit, salah satunya adalah parasit. Pemeliharaan ikan dalam jumlah besar dan
padat tebar tinggi pada area yang terbatas, menyebabkan kondisi lingkungan tersebut
sangat mendukung perkembangan dan penyebaran penyakit infeksi. Kondisi dengan
padat tebar tinggi akan menyebabkan ikan mudah stres sehingga menyebabkan ikan
menjadi mudah terserang penyakit, selain itu kualitas air, volume air dan alirannya
berpengaruh terhadap berkembangnya suatu penyakit.
Populasi yang tinggi akan mempermudah penularan karena meningkatnya
kemungkinan kontak antara ikan yang sakit dengan ikan yang sehat. Selain itu, kolam
yang tidak terawat dengan baik juga merupakan tempat yang baik bagi organisme
penyebab infeksi penyakit. Hal tersebut dapat terjadi karena sebelumnya penyakit
sudah ada pada kolam atau dapat berasal dari luar kolam (Rokhmani, 2009). Akan
tetapi, selama kolam terjaga dengan baik serta lingkungan yang selalu mendapat
perhatian, parasit dalam kolam maupun yang dari luar tidak akan mampu menimbulkan
infeksi.

2.2.1 Ektoparasit
Ektoparasit adalah parasit yang menyerang bagian luar kulit, sisik, lendir, dan
insang. Parasit yang menyerang akan mempengaruhi hidup ikan dengan menghambat
pertumbuhan. Pengaruh yang muncul diawali dengan terganggunya sistem

11
metabolisme tubuh inang sampai merusak organ. Pakan yang dikonsumsi ikan dan
digunakan untuk pertumbuhan dimanfaatkan oleh parasit yang terdapat pada tubuh
inang (ikan) sehingga tubuh inang kekurangan nutrien. Pengaruh tersebut terjadi mulai
parasit menempel dan tumbuh pada organ inang sampai dengan yang merusak organ
sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan bahkan kematian inang. Daur hidup
parasit yang mengganggu ikan budidaya dapat diketahui melalui hubungan antara
inang, yaitu ikan budidaya, parasit serta lingkungan tempat inang tersebut hidup
sehingga para petani dapat mengantisipasi keadaan yang timbul akibat parasit tersebut
(Hadiroseyani et al., 2006).
Menurut Silsilia (2000) menyebutkan ektoparasit menginveksi inangnya pada
bagian yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan nutrien untuk kelangsungan
hidupnya. Selanjutnya Alifuddin et al. (2002) menyatakan bahawa parasit dapat
menyebabkan terhambatnya pertumbuhan bahkan kematian, sehingga menyebabkan
penurunan produksi dan kualitas ikan yang mengakibatkan kerugian ekonomi bagi
pembudidayanya. Menurut Arnott et al. (2000) bahwa umumnya ektoparasit pada ikan
adalah golongan crustacea, cacing (trematoda, nematoda dan cestoda) dan protozoa.
Ektoparasit ini menginfeksi sirip, sisik, operkulum dan insang ikan.
Penyakit ikan dapat disebabkan oleh agen infeksi seperti parasit, bakteri dan
virus, serta agen non infeksi seperti kualitas pakan yang jelek, maupun kondisi
lingkungan yang kurang menunjang bagi kehidupan ikan (Purwaningsih, 2013).
Organisme penyebab penyakit sangatlah beragam, salah satunya adalah ektoparasit
(Bhakti et al., 2011). Beberapa faktor yang berperan terhadap serangan penyakit pada
ikan adalah kepadatan ikan yang dibudidayakan, budidaya secara monokultur dan
stress, selanjutnya faktor biotik dan abiotik yaitu, faktor fisika dan kimia air serta
berbagai organisme patogen (Winaruddin dan Eliawardani, 2007).
Dogiel et al. (1970) menyatakan, bahwa meningkatnya keberadaan beberapa
ektoparasit misalnya Trichodina sp. dan Cylodonella cyprini tidak ditentukan oleh
umur. Sementara Nobel et al. (1989), menyebutkan bahwa pada beberapa spesies ikan,
semakin meningkat umur ikan maka intensitas ektoparasitnya cenderung semakin

12
berkurang. Namun menurut Kennedy (1975), semakin tua ikan, berarti semakin lama
waktu yang dimiliki ikan untuk kontak dengan ektoparasit, sehingga prevalensi dan
intensitas ektoparasit meningkat sesuai dengan umur ikan. Tubuh inang merupakan
tempat untuk kolonisasi ektoparasit. Semakin luas permukaan tubuh ikan, maka koloni
ektoparasit juga bertambah, sehingga nilai intensitas dan prevalensi ektoparasit
meningkat.
Beberapa parasit memiliki inang spesifik tertentu. Hal ini dapat ditunjukan
dengan adanya beberapa jenis ikan yang hanya terinfeksi oleh satu jenis ektoparasit
saja (species spesifik), atau hanya satu organ saja yang terinfeksi oleh ektoparasit
tersebut (organ spesifik), selain itu masih ada beberapa spesifitas lainnya seperti
spesifitas geografi dan spesifitas ekologi (Grabda 1981). Hubungan spesifik antara
inang dengan ektoparasit tersebut ditentukan oleh keberhasilan ektoparasit dalam
menginfeksi, menempati dan berkembang biak pada habitat tertentu pada bagian tubuh
inang (Olsen 1974). Pengelolaan kesehatan yang dilakukan melalui tindak sanitain dan
desinfeksi akan menurunkan tingkat dan kejadian infeksi (Alifuddin 2000). Menurut
Kabata (1985) ektoparasit ini banyak menyerang insang dan kulit ikan yang dapat
menyebabkan gangguan pernapasan.
Grabda (1991) mendefenisikan, parasitisme sebagai hubungan antara satu
species ektoparasit yang menggunakan organisme lain sebagai inang habitatnya dan
sumber makanan. Setiap jenis ektoparasit mempunyai habitat tertentu pada inang
sebagai tempat hidupnya (Noga, 1996). Lom (1995) menyatakan bahwa penyakit pada
ikan dapat terjadi karena adanya interaksi yang tidak serasi, antara lain agen penyakit
dan lingkungan. Interaksi tersebut dapat menyebabkan ikan menjadi stres sehingga
mekanisme pertahanan dirinya menjadi lemah dan mudah untuk diserang penyakit
(Afrianto, 1992).

2.2.2 Endoparasit
Endoparasit adalah parasit yang menyerang bagian dalam pada tubuh ikan
(Grabda, 1991). Endoparasit dapat ditemukan pada otot daging, organ internal, usus,

13
lumen dan rongga tubuh inang. Endoparasit ikan meliputi protozoa dan cacing.
Kelimpahan, keaneka ragaman dan sensifitasnya mungkin berbeda antara jenis ikan.
Dari organ tersebut dapat dilihat adanya kelainan yang tampak makroskopik yang
mungin disebabkan oleh adanya kista protozoa (terutama myxosporea atau microspora)
maupun kista parasit cacing. Parasit cacing pada usus dapat terlihat dengan mata
telanjang, sedangkan parasit usus protozoa tidak terlihat secara makroskopik
(Hadioetomo,1993).

2.3 Pemeriksaan Parasit Ikan


Pemeriksaan parasit didasarkan pada keberdaan dan identifikasi parasit yang
mengidentifikasi organ-organ tubuh ikan. Pemeriksaan dilakukan identifikasi parasit
jugadilakukan untuk mengetauhui jenis parasit yang menginfeksi dan menentukan.
Pembedahan ikan berguna untuk mengetahui perbedaan ikan yang terinfeksi
bakteri dengan yang tidak terinfeksi bakteri baik pada organ luar maupun organ dalam
pada dalam ikan. Penyakit tidak hanya menyerang organ dalam ikan tetapi juga
menyerang organ dalm ikan, Sehingga perlu dilakukan pembedahan ikan untuk
mengetahui penyakit yang menyerang organ dalam ikan dengan melakukan
pembedahan ini kita bisa melakukan pencegahan perkembangan biakan parasit dan
bakteri yang menyerang organ dalam ikan.
Penyakit didefinisikan sebagai gangguan fungi fisiologis atau penyimpangan
bentuk anatomi organ tubuh, kelainan darah dan kimiawi cairan tubuh ikan. Fisiologi
ikan mencakup proses osmoregulasi, seistem respirasi biogenetik dan metebolisme,
pencernaan, organ-organ sensor sistem saraf sistem endokin dan reproduksi (Fujaya,
2008).
Pada saat pemeriksaan ikan , atau mengamati ikan, ikan yang gunakan sebagai
sampel, harus selalu dalam keadaan ikan hidup (masih segar), karena apabila ikan yang
digunakan sebagai sampel sudah mati atau dalam keadaan ikan yang sudah mati , maka
parasite akan meninggalkan inangnya terutama yang sangat jelas terlihat pada parasite
yang berada di insang, kulit dan ekor ikan atau yang disebut ektoparasit , dan pada

14
endoparasit masih dapat diperiksa prasitnya , tetapi lebih sulit untuk di cari karena
kadar air pada tubuh ikan mulai habis .Pemeriksaan parasite dapat dilakukan secara
langsung (natif) dan dengan bantuan alat , contohnya seperti lup, dan mikroskop,
tergantung parasit yang ingin diteliti .

2.3.1 Pemeriksaan Bagian Kulit, Sisik, dan Sirip


Pemeriksaan parasit pada bagian ini biasanya terdapat parasit jenis ektoprasit ,
biasanya parasit yang terdapat pada kulit, sisik, dan sirip ini diteliti dengan
menggunakan mikroskop dan secara langsung. Pengambilan sampel dari kulit, sisik,
dan sirip ini di lakukan dengan cara mengeruk bagian kulit, sisik, dan sirip dengan
menggunakan pisau lalu di amati di bawah mikroskop.

2.3.2 Pemeriksaan Parasit Pada Insang


Pemeriksaan parasit yang terdapat pada insang biasanya menggunakan
mikroskop karena ukuran parasit yang mikroskopis , dan parasit yang terdapat pada
insang yaitu gyrodactylus sp, cara mengeluarkan insang dengan cara memotong pada
operculum nya dan di ambil insang dengan menggunakan pinset.

2.3.3 Pemeriksaan Parasit Pada Usus


Pemeriksaan parasi pada usus ini biasanya endoparasit karena terdapat di dalam
usus dan untuk melihat parasit dapat menggunakan alat mikroskop karena sebelum
diteliti bagian usus harus di keluarkan terlebih dahulu isi usus dan dicacah terlebih
dahulu sebelum di lihat di bawah mikroskop.

2.3.4 Pemeriksaan Parasit Pada Otot Daging


Pemeriksaan parasit pada otot daging dapat dilakukan dengan menyayat tipis atau
mencacah daging ikan terlebih dahulu, parasit yang terdapat pada otot daging
merupakan endoparasit dan untuk diamati harus menggunakan bantuan alat mikroskop
atau lup.

15
BAB III
METEDEOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Parasit dan Penyakit Pada Ikan mengenai Identifikasi Parasit pada
Ikan Mas (Cyprinus carpio) ini dilaksanakan pada hari Kamis, 19 Mei 2016 pada pukul
08.00 – 10.00 WIB yang bertempat di Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
1. Timbangan, untuk mengukur berat ikan
2. Pinset, untuk membantu proses pembedahan dan pengambilan organ
3. Pisau, untuk melakukan pembedahan
4. Gunting, untuk melakukan pembedahan
5. Cawan petri, untuk menyimpan sampel
6. Mikroskop, untuk melihat parasit pada sampel
7. Penggaris, untuk mengukur panjang ikan
8. Sonde, untuk mematikan ikan
9. Object Glass, untuk meletakkan suatu objek yang akan diamati dengan
mikroskop

3.2.2 Bahan
1. Ikan uji

3.3 Prosedur Kerja


1. Diambil ikan Mas
2. Dimatikan ikan mas dengan cara ditusuk bagian otaknya
3. Diukur dan ditimbang ikan mas
4. Dicatat hasil pengukuran ikan mas

16
5. Dibersihkan sisik ikan mas
6. Diambil sampel sisik ikan mas
7. Diamati parasit pada sisik ikan mas dengan mikroskop
8. Diambil sampel kulit pada ikan mas
9. Diamati sampel kulit dibawah mikroskop
10. Diambil sampel sirip pada ikan mas
11. Diamati sampel sirip dibawah mikroskop
12. Diambil sampel insang dari ikan mas
13. Diamati sampel insang dibawah mikroskop
14. Dibedah ikan pada bagian perutnya
15. Diambil usus ikan
16. Dicacah usus ikan
17. Diamati usus dibawah mikroskop
18. Diambil sampel daging ikan
19. Diamati sampel daging dibawah mikroskop
20. Diambil sampel darah ikan dari pembuluh darah
21. Diamati sampel darah dibawah mikroskop
22. Dicatat hasil pengamatan

17
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Hasil Pengamatan Identifikasi Parasit Kelompok
Kelompok/LAB : 21/MSP
Hari/Tanggal : Kamis, 19 Mei 2016
Spesies Ikan : Ikan Mas
Asal Ikan : Cirata
Berdasarkan hasil pengamatan identifikasi parasit kelompok 21
Table 1. Data Identifikasi Kelompok 21
Ektoparasit Endoparasit
Jenis Parasit
Kulit Sisik Insang Sirip Otot Usus Darah
Dactylogyrus sp 6

4.1.2 Hasil Pengamatan Identifikasi Parasit Angkatan


Tabel 2. Hasil Pengamatan Parasit (Ektoparasit) pada Ikan Mas
Ektoparasit
Kulit / Lendir / Sisik
Ichtyopthirius multifilis
Bobot (gram)

Transversotrema sp.
Trichodinella carpi
Haplometrana sp.
Trichodinella sp.

Clinostomum sp.
Gyrodactylus sp.

Dactylogyrus sp.

Ophistorchis sp.
Cleidodiscus sp.
TL (mm)

Camallanus sp.

Trichodina sp.
Myxobolus sp.

Anisakis sp.

Argulus sp.

Epystilis sp
Lernea sp.

Kel-

3A 127 210 77 3 - - - - - - - - - - - - - - -
4A 103 182 - 1 - - - - - - - - - - - - - - -
5A 94 175 - - 1 - - - - - - - - - - - - - -

18
Ektoparasit
Kulit / Lendir / Sisik

Ichtyopthirius multifilis
Bobot (gram)

Transversotrema sp.
Trichodinella carpi
Haplometrana sp.
Trichodinella sp.

Clinostomum sp.
Gyrodactylus sp.

Dactylogyrus sp.

Ophistorchis sp.
Cleidodiscus sp.
TL (mm)

Camallanus sp.

Trichodina sp.
Myxobolus sp.

Anisakis sp.

Argulus sp.

Epystilis sp
Lernea sp.
Kel-

11A 96,68 182 - - - 1 - - - - - - - - - - - - -


12A 97,47 175 - - - - 3 - - - - - - - - - - - -
16A 81,06 181 - 1 - - - 5 - - - - - - - - - - -
2B 107 185 - - - - 1 - 1 - - - - - - - - - -
3B 103 195 - - - - - - - - 1 - - - - - - - -
4B 118 207 - - - - - - - - - 1 - - - - - - -
5B 128 200 - - - - - 15 - - - - - - - - - - -
6B 92 193 - 1 - - - 1 - 2 - - - - - - - - -
7B 118 190 - - - - 3 - - - - - - - - - - - -
8B 112,3 192 - - - - - - - - - - 19 - - - - - -
9B 113,6 183 - - - - - 1 - - - - - - - - - - -
10B 71,75 162 - - - - 1 12 - - - - - - - - - - -
11B 142 190 - - - - - - - - - - - 2 1 - - - -
12B 129,4 190 - - - 2 6 - - - 1 - - - - - - - -
15B 96,45 165 - - - 1 - - - - - - - - - - - - -
16B 116 200 - - - 3 4 - - 2 - - - - - - - - -
17B 100,2 182 - - - 1 - 1 - - - - - - - - - - -
20B 169 215 - - - 1 - 1 - - - - - - - - - - -
21B 94,76 173 - - - 6 - 3 - 1 - - - - - - - - -
22B 128,8 200 - - - 4 - - - - - - - - - - - - -
23B 95,43 180 - - - 1 - - - - - - - - - - - - -
1C 77 175 - - - - 1 - - - - - - - - 1 - - -
2C 92 175 - - - - - - - - - 1 - - - - 1 - -
3C 114 180 - - - - - 1 - - - - - - - - - - -
4C 111 185 - 1 - - - - - - - - - - - - - - -

19
Trichodinella sp

-
Transversotrema sp.
1
1

2
-
-
-
-
-
-

Dactylogyrus sp.

-
Sirip
112

100

296

Gyrodactylus sp.
83

-
Epystilis sp
1
-
-

-
-

Argulus sp.

-
Ophistorchis sp.
5

6
-
-
-
-
-
-

-
-

Transversotrema sp.

-
Lernea sp.
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-

Ophistorchis sp.

-
Ichtyopthirius multifilis
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-

Rhabditis sp.

-
Trichodinella carpi 2
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Haplometrana sp.

-
19
Haplometrana sp.
Kulit / Lendir / Sisik

-
-
-
-
-
-
-
-
-
Trichodinella carpi

-
Ektoparasit

Argulus sp.

Ektoparasit
2
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Trichodinella sp

-
Cleidodiscus sp.

2
Cleidodiscus sp.
-
-
-
-
-
-
-
-
-

-
Insang
Dactylogyrus sp. Trichodina sp

-
5
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Clinostomum sp.

-
Clinostomum sp.

1
-
-
-
-
-
-
-
-
-

20
Myxobolus koi

-
119
23

45
Gyrodactylus sp. 1

9
-

-
-

-
Diplozoon sp.

-
29
Trichodinella sp.

1
2

2
-

-
-

-
Dactylogyrus cyprini

-
29
Trichodina sp.

6
1
-
-

-
-
-

-
Camallanus sp.

-
Anisakis sp.

1
-
-
-
-
-
-
-
-
-

13
Dactylogyrus sp.

2
Camallanus sp.

7
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Gyrodactylus sp.

-
85
Myxobolus sp.

8
-
-
-
-

-
-
-
-

190

150

210
TL (mm)

4058 6950
180
96,22 183
160
83,38 160
220
88,39 160
188,7 265
124,9 200
104,2 200
TL (mm)

169
98

76
Bobot (gram)

105

127
53
Bobot (gram)

Jumlah
Kel-

10C
11C
13C
14C
16C
5C
6C
7C
8C

Kel-

1A

2A

3A
Ektoparasit

Insang Sirip
Bobot (gram)

Dactylogyrus cyprini

Transversotrema sp.
TL (mm)

Trichodinella carpi

Haplometrana sp.
Clinostomum sp.
Gyrodactylus sp.

Dactylogyrus sp.

Gyrodactylus sp.

Dactylogyrus sp.
Trichodinella sp

Trichodinella sp
Ophistorchis sp.
Cleidodiscus sp.
Camallanus sp.

Myxobolus koi

Trichodina sp
Diplozoon sp.

Rhabditis sp.

Argulus sp.
Kel-

4A 103 182 - 1 - - - - 1 - - - - - - - - - - - -

5A 94 175 - 3 - - - - - - 1 - - - - - - - - - -

6A 95 170 - 7 - - - - - - - - - - - - - - - - -

7A 100 185 - 8 - - - - - - - - - - - - - - - - -

8A 112,38 185 - 6 - - - - - - - - - - - - - - - - -

9A 123,21 205 1 22 - - - - - - - - - - - - - - - - -

10A 126,03 195 1 - - 7 - 2 - - - - - - - - - - - - -

11A 96,68 182 1 6 - - - - - - - - - - - - - - - - -

12A 97,47 175 3 1 - - - - - - - - - - - - - - - - -

13A 100,66 192 - - - - 1 - - - - - - - - - - - - - -

14A 146,32 200 - 25 - - - - - - - - - - - - - - - - -

15A 138 180 - 11 9 - - - - - - - - - - - - - - - -

16A 81,06 181 8 - - - - - - - - - - - - - - - - - -

17A 127,629 185 10 3 - - - - - - - - - - - - - - - - -

18A 74,12 161 - 1 - - - - - 10 - - - - - - - - - - -

19A 121,82 170 1 2 - - 1 - - - - 1 - - - - - - - - -

20A 92,16 175 - 5 - - - - - - - - - - - - - - - - -

21A 133,16 210 - 6 - - - - - - - - - - - - - - - - -

22A 11,508 195 - 4 - - - - - - - - - - - - - - - - -

1B 132 200 - 12 - - - - - - - - - - - - - - - - -

2B 107 185 2 6 - - - - - - - - - - - - - - - - -

3B 103 195 - - - - - - - - 1 - - - - - - - - - -

5B 128 200 - 1 - - - - - - - - - - - - - - - - -

6B 92 193 - - - - - - - - - 4 - - - - - - - - -

8B 112,28 192 - 28 - - - - - - - - - - - - - - - - -

9B 113,64 183 - 1 - - - - - - - - - - - - - - - - -

10B 71,75 162 - 13 - - - - - - - - - - - - - - - - -

21
Ektoparasit

Insang Sirip
Bobot (gram)

Dactylogyrus cyprini

Transversotrema sp.
TL (mm)

Trichodinella carpi

Haplometrana sp.
Clinostomum sp.
Gyrodactylus sp.

Dactylogyrus sp.

Gyrodactylus sp.

Dactylogyrus sp.
Trichodinella sp

Trichodinella sp
Ophistorchis sp.
Cleidodiscus sp.
Camallanus sp.

Myxobolus koi

Trichodina sp
Diplozoon sp.

Rhabditis sp.

Argulus sp.
Kel-

11B 141,98 190 - - - 3 - - - - - - 15 - - - - - - - -

12B 129,35 190 - 2 - - - - - - - - - - - - - - - - -

13B 118,14 204 - 4 - - - - - - - - - - - - - - - - -

14B 83,05 155 - 2 - - - - - - - - - - - - - - - - -

15B 96,45 165 - 4 - - - - - - - - - - - - - - - - -

16B 116,01 200 - 3 - - - - - 2 - 7 - - - - - - - - -

17B 100,18 182 - 1 - - - - - - - - - - - - - - - - -

18B 145,38 180 - 2 - - - - - - - - - - - - - - - - -

19B 100,96 188 - 3 - - - - - - - - - - - - - - - - -

20B 169 215 - 23 - - - - - - - 12 - - - - - - - - -

21B 94,76 173 3 - - - - - - 2 - 3 - - - - - - - - -

22B 128,82 200 - 1 - - - - - 5 - - - - - - - - - - -

23B 95,43 180 - 4 - - - - - - - - - - - - - - - - -

1C 77 175 2 - - - - - - - - - - - - - - - - - -

2C 92 175 - 2 - - - - - - - - - - - - - - - - -

3C 114 180 - 2 - - - - - - - - - - - - - - - 2 -

4C 111 185 - - - - - - - - - - - 2 - - - - - - -

5C 98 180 - 2 - - - - - - - - - - - - - - 1 - -

6C 96,22 183 - 16 - - - - - - - - - - - - - - - 5 3

7C 76 160 - 15 - - 1 - - - - - - - - - - - - - -

8C 83,38 160 - 19 - - - - - - - 6 - - - - - - 1 - -

9C 120,6 180 - 6 - - - - - - - - - - 1 - - - - - -

10C 169 220 2 6 - - - - - - - - - - - - - - - - -

11C 88,39 160 - 2 - - - - - - - - - - - - - - 3 - -

12C 97,47 175 1 2 - - - - - - - 1 - - - 1 - - - - -

13C 188,73 265 - 12 - - - - - - - 1 - - - - 1 - 5 - -

14C 124,86 200 2 8 - - - - 1 - - 7 - - - - - 1 - - -

22
Ektoparasit

Insang Sirip
Bobot (gram)

Dactylogyrus cyprini

Transversotrema sp.
TL (mm)

Trichodinella carpi

Haplometrana sp.
Clinostomum sp.
Gyrodactylus sp.

Dactylogyrus sp.

Gyrodactylus sp.

Dactylogyrus sp.
Trichodinella sp

Trichodinella sp
Ophistorchis sp.
Cleidodiscus sp.
Camallanus sp.

Myxobolus koi

Trichodina sp
Diplozoon sp.

Rhabditis sp.

Argulus sp.
Kel-

15C 104,24 200 - 8 - - - - - 1 - - - - - - - - 1 - -

16C 104,24 200 - 10 - - - - - - 2 - - - - 5 - - - - -

17C 86,57 182 - 2 - - - - - - 2 - - - - - - - - - -

Jumlah 6470,087 11165 39 352 10 10 3 2 2 20 6 42 15 2 1 6 1 1 11 7 3

Tabel 3. Hasil Pemeriksaan Parasit (Endoparasit) pada Ikan Mas


Endoparasit
Otot Usus Darah
Bobot (gram)

Clinostomum sp.
Dactylogyrus sp.

Dactylogyrus sp.
TL (mm)

Rhabditis sp.

Rhabditis sp.

Kel-

18A 74,12 161 - - 7 - -


8B 112,28 192 - - - 1 -
11C 88,39 160 7 - - - -
13C 188,73 265 - 2 - - -
15C 104,24 200 - - - - 1
17C 86,57 182 - 2 - - -
Jumlah 654,33 1160 7 4 7 1 1

Tabel 4. Prevalensi Parasit pada Ikan Mas


Prevalensi
No Jenis Parasit Jumlah Parasit yang ditemukan (ekor) Jumlah Ikan yang terinfeksi (ekor) Jumlah Ikan yang diperiksa (ekor)
(%)
1 Gyrodactylus sp. 191 28 62 45,16

23
Prevalensi
No Jenis Parasit Jumlah Parasit yang ditemukan (ekor) Jumlah Ikan yang terinfeksi (ekor) Jumlah Ikan yang diperiksa (ekor)
(%)
2 Dactylogyrus sp. 359 55 62 88,71
3 Trichodina sp. 49 14 62 22,58
4 Trichodinella sp. 75 16 62 25,81
5 Camallanus sp. 17 7 62 11,29
6 Ichthyopthirius multifilis 1 1 62 1,61
7 Clinostomum sp. 3 3 62 4,84
8 Myxobolus sp. 85 2 62 3,23
9 Cleidodiscus sp. 10 7 62 11,29
10 Anisakis sp. 1 1 62 1,61
11 Dactylogyrus cyprini 7 1 62 1,61
12 Myxobolus koi 2 1 62 1,61
13 Diplozoon sp. 3 3 62 4,84
14 Argulus sp. 3 3 62 4,84
15 Haplometrana sp. 21 2 62 3,23
16 Trichodinella carpi 17 1 62 1,61
17 Lernea sp. 1 1 62 1,61
18 Ophistorchis sp. 12 5 62 8,06
19 Epystilis sp. 296 4 62 6,45
20 Transversotrema sp 2 2 62 3,23
21 Rhabditis sp. 6 4 62 6,45
22 Clinostomum sp. 7 1 62 1,61

24
Prevalensi Parasit Per Spesies
100.00
88.71
90.00
80.00
70.00
60.00
50.00 45.16
40.00
25.81
30.00 22.58
20.00 11.29
11.291.61 4.844.84
3.23 1…1.618.066.453.23 6.451.61
10.00 1.614.843.23 1.611.61
0.00

Tabel 5. Intensitas Parasit pada Ikan Mas


No Jenis Parasit Jumlah Parasit yang ditemukan (ekor) Jumlah Ikan yang terinfeksi (ekor) Intensitas
1 Gyrodactylus sp. 191 28 6,821428571
2 Dactylogyrus sp. 359 55 6,527272727
3 Trichodina sp. 49 14 3,5
4 Trichodinella sp. 75 16 4,6875
5 Camallanus sp. 17 7 2,428571429
Ichthyopthirius
6 1 1 1
multifilis
7 Clinostomum sp. 3 3 1
8 Myxobolus sp. 85 2 42,5
9 Cleidodiscus sp. 10 7 1,428571429
10 Anisakis sp. 1 1 1
11 Dactylogyrus cyprini 7 1 7
12 Myxobolus koi 2 1 2
13 Diplozoon sp. 3 3 1

25
No Jenis Parasit Jumlah Parasit yang ditemukan (ekor) Jumlah Ikan yang terinfeksi (ekor) Intensitas
14 Argulus sp. 3 3 1
15 Haplometrana sp. 21 2 10,5
16 Trichodinella carpi 17 1 17
17 Lernea sp. 1 1 1
18 Ophistorchis sp. 12 5 2,4
19 Epystilis sp. 296 4 74
20 Transversotrema sp 2 2 1
21 Rhabditis sp. 6 4 1,5
22 Clinostomum sp. 7 1 7

Intensitas Parasit Per Spesies


80 74
70

60

50 42.5
40

30

206.821428571 10.5
17
6.5272727274.6875 1 1.428571429 7
10 1 7 1 1 1 1.5
2.428571429 1 2 1 2.4
3.5
0

26
DAFTAR PUSTAKA
Afriyanto, E dan E, Liviawati, 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Penerbit
Kanisius. Jakarta.
Buchanan, R.E dan N.E. Gibson, 1974. Bergey’s Manual of Determinative
bacteriology. Eight Edition. The Williams and Wilkins Company. Baltimore
dalam Prajitno, A.1996. Penggunaan Vaksin Aeromonas hydrophila Terhadap
Benih Ikan Mas Koki. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang.
Bullock, G.L, D.A. Canroy and S.F. Sniezko. 1971. The Identification Of Fish
Pathogenic Bacteria. Book 28. In Sniezko and Azelord. Disease Of Fish. T. F.
H. Publication. England.
Cahyono, B. 2004. Budidaya Ikan Air Tawar. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Djarijah Siregar, A. 2005. Pembenihan Ikan Mas. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Dwidjoseputro, D. 1987. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Ghufran, M dan Kordi. 2004. Hama dan Penyakit Ikan Kakap. Penerbit Kanisius.
Jakarta.
Jangkaru, Z. 2000. Memelihara Ikan di Kolam Tadah Hujan. Penerbit Penebar
Swadaya. Jakarta.
Khairuman, A. 2000. Menanggulangi Penyakit Pada Ikan Mas dan Koi. Penerbit
Agromedia Pustaka. Jakarta.

27
Khairuman, A dan Sudenda, D. 2002. Pembesaran Ikan Mas di Kolam Air Deras.
Penerbit Agromedia Pustaka. Jakarta.
Khairuman, A dan Sudenda, D. 2002. Budidaya Ikan Mas Secara Intensif. Penerbit
Agromedia Pustaka. Jakarta.
Lay, W, B dan Hastowo, S. 1992. Mikrobiologi. Penerbit Rajawali Press. Jakarta.
Lingga, P dan Susanto, H. 1997. Ikan Hias Air Tawar. Penerbit Penebar Swadaya.
Jakarta.
x
Lingga, P. 1999. Benih Ikan Mas Kolam air Deras. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.
Lukman dan Silitonga. 1985. Temulawak, Khasiat dan Kegunaan. LPHH. Bogor.
Dalam Setyaningsih. 1999. Pengaruh Kurkuminoid Temulawak (Curcuma
xanthorriza) Terhadap Ransum Ayam Pedaging. Fakultas Peternakan Universitas
Muhammadiyah Malang.
Muhlisah, F. 1999. Temu-Temuan dan Empon-Empon Budidaya dan Manfaatnya.
Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Paperna, I. 1980. Parasites Infection and Disease of Fish in Africa. Food and Agricultur
Organization of United Nation.
Pelczar, M.J. and J.R. Reid. 1972. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Alih bahasa: R. S.
Hadioetomo, T. Imas, S.S, Tjitrosomo dan S. L. Angka. Penerbit Universitas
Indonesia. Jakarta.
Pelczar, M,j. dan E,C,S, Chan. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi II. Alih bahasa: R,S,
Hadioetomo, T, Imas, S.S, Tjitrosomo dan S. L. Angka. Penerbit Universitas
Indonesia. Jakarta.
Poerwanti, E, U dan Rofieq, A. 1994. Metodologi Penelitian. Universitas
Muhammadiyah Malang.
Prajitno, A. 2003. Pengobatan Penyakit Aeromonas hydrophila Pada Benih Ikan
Gurami Menggunakan Kunyit. Jurnal Penelitian Perikanan. Volume 6, Juni 2003,
hlm. 72

28
Rismunandar. 1988. Rempah-Rempah Komoditi Ekspor Indonesia. Penerbit Sinar
Baru. Bandung.
Robert, R, J. 1978. Fish Pathology. Abaillere Tindall. London.
Rochdianto, A. 1994. Budidaya Ikan di Jaring Terapung. Penerbit Penebar Swadaya.
Jakarta.
Rofieg, A. 2002. Metodologi Penelitian. Modul Mahasiswa Biologi. Universitas
Muhammadiyah Malang.
Rukmana, R. 2003. Temulawak Tanaman Obat dan Rempah. Penerbit Kanisius,
Yogyakarta.
Saanin. 1984. Taksonomi dan kunci Identifikasi Ikan. Penerbit Bina Cipta. Bogor.
xi
Sudjana. 1992. Metode Statistika. Penerbit Tarsito. Bandung.
Susanto, H dan Rochdianto, A. 2000. Kiat Budidaya Ikan di Lahan Kritis. Penerbit
Penebar Swadaya. Jakarta.
Suseno, D. 1996. Pengelolaan Usaha Pembenihan Ikan Mas. Penerbit Penebar
Swadaya. Jakarta.
Sutjiati, M. 1990. Penyakit Ikan. Fakultas Perikanan. Universitas Brawijaya Malang.
Volk, W, A and M, F, Wheeler. 1988. Mikrobiologi Dasar. Alih bahasa: Markham.
Penerbit Erlangga. Jakarta

29
LAMPIRAN

30
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Alat yang Digunakan

Pipet Pinset

Pisau Bedah Cawan Petri

Object glass Sonda

31
Gunting Penggaris

Timbangan Mikroskop

Lampiran 2. Ikan Uji yang Digunakan

Ikan Mas (Ciprino carpio)

32
Lampiran 3. Prosedur Praktikum

Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakam

Diambil ikan yang akan diuji lalu dtimbang

Diukur panjang Sl, Fl dan TL ikan uji

Diambil lendir pada bagian permukaan tubuh ikan lalu disimpan pada
object glass

Diamati lendir tersebut pada mikroskop

Diicatat spesies dan jumlah parasit yang didapat

Diambil sisik lalu diamati pada mikrokop

Dicatat spesies dan jumlah parasit yang didapat

33
Diambil insang lalu diamati pada
mikroskop

Dicatat spesies dan jumlah parasit


yang didapat

Dipotong salah satu sirip lalu


diamati pada mikroskop

Dicatat spesies dan jumlah parasit


yang didapat

Ikan dimatikan dengan ditusuk pada


bagian otak ikan

Ikan dibedah lalu diambil ususnya,


dan diamati pad mikroskop

Dicatat spesies dan jumlah parasit


yang didapat

Diambil sedikit bagian otot ikan


lalu diamati pada mikroskop

Dicatat spesies dan jumlah parasit


yang didapat

34
Lampiran 4. Hasil Identifikasi

Parasit Sirip Parasit Lendir

Parasit Sisik Parasit Insang

35
Parasit Otot Parasit Sisik

Parasit Sirip Parasit Sirip

36