Anda di halaman 1dari 99

ANALISIS PERMINTAAN DAN SURPLUS KONSUMEN TAMAN WISATA ALAM SITU GUNUNG DENGAN METODE BIAYA PERJALANAN

RANI APRILIAN

SITU GUNUNG DENGAN METODE BIAYA PERJALANAN RANI APRILIAN DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

RINGKASAN

RANI APRILIAN. Analisis Permintaan dan Surplus Konsumen Taman Wisata Alam Situ Gunung dengan Metode Biaya Perjalanan. Dibimbing Oleh AHYAR ISMAIL.

Krisis ekonomi global saat ini mulai mengancam beberapa negara di dunia. Sebagai upaya dalam mengatasi krisis ekonomi tersebut, Indonesia memacu laju pertumbuhan ekonominya melalui berbagai sektor. Pariwisata merupakan salah satu sektor yang berperan besar dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Terlebih lagi, kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia dapat menjadi modal dalam mendukung pertumbuhan ekonominya. Seiring dengan semakin meningkatnya permintaan masyarakat terhadap wisata saat ini, pemerintah mulai menyadari bahwa sektor pariwisata dapat memberikan keuntungan jangka panjang jika pengelolaan yang dilakukan menerapkan prinsip- prinsip keberlanjutan dan berwawasan lingkungan. Taman Wisata Alam (TWA) Situ Gunung merupakan tempat wisata yang menawarkan objek rekreasi yang tergolong pada sumberdaya yang bersifat barang publik dimana manfaat ekonomi yang diberikan bersifat intangible, yaitu manfaat ekonomi yang tidak dapat dihitung secara riil karena belum memiliki nilai pasar. Adapun salah satu pendekatan untuk menilai barang-barang non pasar ini adalah Metode Biaya Perjalanan (Travel Cost Method). Penelitian ini memiliki tiga tujuan yaitu: (1) mengidentifikasi karakteristik pengunjung TWA Situ Gunung, (2) mengkaji fungsi permintaan wisata dengan metode biaya perjalanan dan (3) menduga nilai manfaat ekonomi dari tempat wisata tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan kuisioner. Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari pengelola TWA Situ Gunung dan studi literatur atau referensi lainnya yang berupa jurnal, artikel, serta penyusuran data melalui internet. Analisis menggunakan Metode Biaya Perjalanan dengan alat pengolah data Stata 9 dan pendugaan surplus konsumen untuk mengetahui nilai manfaat ekonomi diolah dengan Microsoft Excel 2003. Hasil pengolahan data menunjukkan terdapat beberapa variabel yang berpengaruh terhadap jumlah kunjungan secara signifikan. Adapun variabel- variabel tersebut yaitu :biaya perjalanan, tingkat pendapatan, lama mengetahui TWA Situ Gunung, umur, jenis kelamin pengunjung, waktu tempuh dan daya tarik wisata. Nilai koefisien variabel menentukan kecenderungan dalam meningkatkan atau menurunkan jumlah kunjungan wisata. Guna menentukan nilai manfaat ekonomi total dari TWA Situ Gunung, surplus konsumen diestimasi berdasarkan fungsi permintaan rekreasi yang telah terbentuk sebelumnya. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai surplus konsumen per kunjungan per individu sebesar Rp 46.847,00. Surplus konsumen merupakan proxy dari Willingness To Pay dari tempat rekreasi yang dikunjungi. Nilai manfaat ekonomi merupakan agregat atau penjumlahan Willingness To Pay sehingga dapat diperoleh dengan mengalikan nilai surplus konsumen yang telah didapat sebelumnya dengan total kunjungan periode Mei 2008-April 2009, saat penelitian berlangsung. Berdasarkan perhitungan tersebut maka diperoleh nilai manfaat ekonomi lokasi sebesar Rp 1.340.709.910.

ANALISIS PERMINTAAN DAN SURPLUS KONSUMEN TAMAN WISATA ALAM SITU GUNUNG DENGAN METODE BIAYA PERJALANAN

RANI APRILIAN

H44052011

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL

“ANALISIS PERMINTAAN DAN SURPLUS KONSUMEN TAMAN WISATA

ALAM

SITU

GUNUNG

DENGAN

METODE

BIAYA

PERJALANAN”

BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU

LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR

AKADEMIK

TERTENTU.

SAYA

JUGA

MENYATAKAN

SKRIPSI

INI

BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG

BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH

PIHAK

LAIN

KECUALI

SEBAGAI

DINYATAKAN DALAM NASKAH.

BAHAN

RUJUKAN

YANG

Bogor, September 2009

Rani Aprilian

H44052011

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sukabumi pada tanggal 8 April 1987. Penulis

merupakan anak kedua dari lima bersaudara pasangan Dayat Hidayat, BA dan

Aan Hasanah Spd. Penulis menyelesaikan pendidikan di TK Kenari pada tahun

1993, kemudian melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Dasar Negeri Cisaat

Gadis. Pada Tahun 1999, penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Lanjutan

Tingkat

Pertama

Negeri

Menengah

Umum

Negeri

1

1

Cisaat,

lalu

Sukabumi

melanjutkan

pendidikan

selama

1

semester

yang

di

Sekolah

kemudian

melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Umum Negeri 1 Bogor dan masuk

dalam program IPA pada tahun 2004. Pada tahun 2005, penulis diterima di Institut

Pertanian Bogor melalui jalur USMI di Departemen Ekonomi Sumberdaya dan

Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif di kegiatan kemahasiswaan

sebagai staf divisi Study Research and Development Resources Environmental

and Economic Student Association (REESA) periode 2007/2008. Selain itu,

penulis juga pernah menjabat sebagai Bendahara II dari Unit Kegiatan Mahasiswa

Music Agriculture Expression (MAX!!) periode 2007/2008.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya

sehingga penulis

dapat

menyelesaikan penyusunan

skripsi

ini

dengan

baik.

Shalawat dan salam penulis kirimkan kepada Nabi Muhammad SAW. Adapun

skripsi ini dibuat sebagai suatu syarat untuk menyelesaikan studi dan memperoleh

gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian

Bogor.

Skripsi ini berjudul Analisis Permintaan dan Surplus Konsumen Taman

Wisata Alam Situ Gunung dengan Metode Biaya Perjalanan. Penelitian ini

memberi gambaran mengenai karakteristik pengunjung dan penilaian mereka

terhadap Taman Wisata Alam Situ Gunung, mengkaji fungsi permintaan wisata

serta

menduga

nilai

manfaat

ekonomi

dari

tempat

wisata

tersebut

melalui

pendugaan surplus konsumen dari pengunjung Taman Wisata Alam Situ Gunung.

Penulis

mengucapkan

terima

kasih

kepada

semua

pihak

yang

telah

membantu dalam proses penyusunan skripsi ini. Penulis menyadari masih terdapat

banyak kekurangan dari skripsi ini baik dari segi isi maupun teknik penulisan

sehingga kritik dan saran sangat penulis harapkan. Akhir kata, dengan segala

keterbatasannya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua

pihak.

Bogor, September 2009

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH

Penyusunan skripsi ini banyak dibantu oleh berbagai pihak baik secara

moril maupun materil. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada:

1. Allah SWT atas segala ridho dan Rahmat-Nya sehingga skripsi ini dapat

terselesaikan.

2. Dr. Ir. Ahyar Ismail, M.Agr sebagai dosen pembimbing yang telah banyak

meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, saran, motivasi dan

pengarahan kepada penulis.

3. Bapak Dr. Ir. Aceng Hidayat, M.T sebagai dosen penguji utama.

4. Ibu Pini Wijayanti, SP Msi. sebagai dosen penguji wakil departemen.

5. Pengelola objek wisata Taman Wisata Alam Situ Gunung yang telah

memberikan informasi dalam skripsi ini.

6. Seluruh

staf

pengajar

dan

karyawan/wati

Sumberdaya dan Lingkungan, FEM IPB.

7. Ibunda,

Ayahanda,

kakak

serta

adik-adikku

di

Departemen

Ekonomi

yang

telah

memberikan

curahan kasih sayang, inspirasi hidup dan do’a yang tulus.

8. Sahabat-sahabatku, Ani, Meita, Danti, Asri, Gita, Gian, Ade, Hans, Rendy,

Pram, Andita, Tri F, Gusty, Mutiara, Buja, Sahata serta teman-teman

seperjuangan di Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan 42

untuk kebersamaannya selama ini.

9. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini yang tidak

dapat

saya

sebutkan

kebaikannya.

satu

per

satu.

Semoga

Allah

SWT

membalas

DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN

i

RIWAYAT HIDUP

v

KATA PENGANTAR

vi

DAFTAR ISI

viii

DAFTAR TABEL

x

DAFTAR GAMBAR

xi

DAFTAR LAMPIRAN

xiii

I. PENDAHULUAN

1

1.1. Latar Belakang

1

1.2. Perumusan Masalah

5

1.3. Tujuan

7

1.4. Manfaat Penelitian

7

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

8

II. TINJAUAN PUSTAKA

9

2.1. Pariwisata

9

2.2. Rekreasi

10

2.3. Bentuk-Bentuk Pariwisata

11

2.4. Taman Wisata Alam

13

2.5. Barang Publik

14

2.6. Penilaian Manfaat Ekonomi

15

2.7. Permintaan Wisata

16

2.8. Willingness To Pay

20

2.9. Regresi Poisson

21

2.10. Pendugaan Surplus Konsumen

22

2.11. Penelitian Terdahulu

24

III. KERANGKA PEMIKIRAN

26

3.1. Objek pariwisata merupakan barang publik

26

3.2. Permintaan Wisata

26

3.3. Metode Biaya perjalanan

28

3.4. Nilai Manfaat Ekonomi atau Surplus Konsumen

29

3.5. Kerangka Operasional

29

IV. METODE PENELITIAN

34

4.1 Tempat dan Waktu Penelitian

34

4.2 Metode Pengambilan Contoh

34

4.3 Pengolahan Data

35

4.4 Pendugaan Surplus Konsumen

37

V. GAMBARAN UMUM

39

 

5.1 Lokasi dan Kondisi Geografis

39

5.2 Latar Belakang Taman Wisata Alam Situ Gunung

41

5.3 Sejarah Taman Wisata Alam Situ Gunung

42

5.4 Potensi Biotik Kawasan

43

5.5 Obyek Wisata

44

VI.

KARAKTERISTIK PENGUNJUNG TAMAN WISATA ALAM SITU GUNUNG

45

6.1 Karakteristik Responden

45

6.1.1 Umur

45

6.1.2 Daerah Asal

46

6.1.3 Tingkat Pendidikan

47

6.1.4 Pekerjaan

47

6.1.5 Tingkat Pendapatan

48

6.1.6 Cara Kedatangan

49

6.1.7 Jumlah Rombongan

50

6.1.8 Alat Transportasi

51

6.1.9 Sumber Informasi Lokasi

52

6.1.10 Lama Mengetahui Lokasi

53

6.1.11 Tujuan Wisata

54

6.1.12 Lama Kunjungan

54

6.1.13 Jarak Tempuh dan Waktu Tempuh

55

6.2 Persepsi Pengunjung

57

6.2.1 Keamanan

57

6.2.2 Penyediaan Fasilitas Rekreasi

58

6.2.3 Pelayanan Pengelola

59

6.2.4 Penyediaan Sarana Informasi

60

6.2.5 Aksesibilitas

61

6.2.6 Kebersihan Tempat Wisata

62

6.2.7 Kualitas Udara

63

6.2.8 Tingkat Kebisingan

64

VII. FUNGSI PERMINTAAN WISATA DAN SURPLUS KONSUMEN

65

 

7.1 Fungsi Permintaan Wisata dan Interpretasi Model

65

7.1.1 Fungsi Permintaan Wisata

65

7.1.2 Interpretasi Model

68

7.2 Surplus Konsumen

74

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

78

 

8.1 Kesimpulan

78

8.2 Saran

79

IX.

DAFTAR PUSTAKA

81

Nomor

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Penerimaan Devisa Negara Indonesia Tahun 1999-2002 (dalam persen)

3

2. Keterkaitan antara Tujuan, Jenis Data, Metode Pengambilan Sampel dan Metode Analisis Data

38

3. Jumlah Kunjungan di TWA Situ Gunung Periode Mei 2008 -April 2009

41

4. Hasil Analisis Regresi Poisson

66

5. Perhitungan Surplus Konsumen

75

6. Total Surplus Konsumen Periode Mei 2008-April 2009

76

Nomor

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Penerimaan Devisa Pariwisata, Tahun 2003-2007

2

2. Klasifikasi valuasi non-market

16

3. Kurva Permintaan Wisata

17

4. Faktor –Faktor yang Mempengaruhi Kegiatan Wisata

20

5. Total Surplus Konsumen

23

6. Surplus Konsumen

29

7. Alur Kerangka Pemikiran

33

8. Sebaran Umur Responden Pengunjung TWA Situ Gunung Tahun 2009

45

9. Sebaran Derah Asal Responden Pengunjung TWA Situ Gunung Tahun 2009

46

10. Sebaran Pendidikan Akhir Responden Pengunjung TWA Situ Gunung Tahun 2009

47

11. Sebaran Jenis Pekerjaan Responden Pengunjung TWA Situ Gunung Tahun 2009

48

12. Sebaran Pendapatan Responden Pengunjung TWA Situ Gunung Tahun 2009

49

13. Sebaran Cara Kedatangan Responden Pengunjung TWA Situ Gunung Tahun 2009

50

14. Sebaran Jumlah Rombongan Pengunjung TWA Situ Gunung Tahun 2009

51

15. Sebaran Alat Transportasi yang digunakan Responden Pengunjung TWA Situ Gunung Tahun 2009

52

16. Sebaran Sumber Informasi Lokasi Pengunjung TWA Situ Gunung Tahun 2009

53

17. Sebaran Lama Mengetahui Lokasi Pengunjung TWA Situ Gunung Tahun 2009

53

18. Sebaran Tujuan Wisata Responden Pengunjung TWA Situ Gunung Tahun 2009

54

19. Sebaran Lama Kunjungan Wisata Responden Pengunjung TWA Situ Gunung Tahun 2009

55

20. Sebaran Jarak Tempuh Menuju Lokasi Pengunjung TWA Situ Gunung Tahun 2009

56

21. Sebaran Waktu Tempuh Menuju Lokasi Pengunjung TWA Situ Gunung Tahun 2009

57

22. Penilaian Responden Pengunjung TWA Situ Gunung Mengenai Keamanan Tahun 2009

58

23. Penilaian Responden Pengunjung TWA Situ Gunung Mengenai Fasilitas Wisata Tahun 2009

58

24. Fasilitas Wisata di TWA Situ Gunung

59

25. Penilaian Responden Pengunjung TWA Situ Gunung Mengenai Pelayanan Pengelola Tahun 2009

60

26. Penilaian Responden Pengunjung TWA Situ Gunung Mengenai Penyediaan Informasi Tahun 2009

61

27. Penilaian Responden Pengunjung TWA Situ Gunung Mengenai Aksesibilitas Tahun 2009

62

28. Penilaian Responden Pengunjung TWA Situ Gunung Mengenai Kebersihan Tahun 2009

63

29. Penilaian Responden Pengunjung TWA Situ Gunung Mengenai Kualitas Udara Tahun 2009

64

30. Penilaian Responden Pengunjung TWA Situ Gunung Mengenai Tingkat Kebisingan Tahun 2009

64

Nomor

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Hasil Olah Data Tanpa Pengujian Variabel

85

2. Hasil Olah Data Setelah Pengujian Variabel

87

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Krisis ekonomi global saat ini mulai mengancam beberapa negara. Kondisi

tersebut mengharuskan setiap negara tidak terkecuali Indonesia untuk dapat

memacu laju pertumbuhan ekonominya sebagai upaya antisipasi terhadap krisis

ekonomi tersebut. Dalam rangka peningkatan pertumbuhan ekonomi, Indonesia

diharapkan mampu mendorong perkembangan di berbagai sektor.

Pariwisata merupakan salah satu sektor yang cukup berperan besar dalam

pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Hal ini dikarenakan sektor tersebut mampu

meningkatkan cadangan devisa negara, meningkatkan perekonomian masyarakat

di sekitar tempat wisata serta memperluas lapangan kerja. Apabila dikembangkan

dengan baik diharapkan sektor pariwisata dapat membantu sebagai katalisator

pembangunan di Indonesia (Yoeti, 2008).

Pada tahun 1960an sampai dengan 1970an pariwisata mulai berperan

sebagai salah satu sumber utama penerimaan devisa. Pada tahun 1980an sampai

dengan 1990an pariwisata mulai menjadi perhatian karena dampak positifnya

dalam perekonomian baik langsung maupun tidak langsung terhadap penerimaan

pemerintah, pendapatan nasional dan tenaga kerja. Secara umum pariwisata

merupakan

sektor

yang

tumbuh

secara

pesat

di

negara

berkembang

yang

mempunyai dampak multidimensi (Lumaksono, 2009). Menurut Yoeti (2008),

dengan melihat pertumbuhan kunjungan wisatawan dan perolehan devisa, cukup

meyakinkan

bahwa

sektor

pariwisata

tetap

memberikan

yang

terbaik

bagi

perekonomian di indonesia. Berikut merupakan data perolehan devisa dari sektor

pariwisata.

Juta US $

6000

5000

4000

3000

2000

1000

0

5345.98 4797.9 4521.9 4447.98 4037.32
5345.98
4797.9 4521.9
4447.98
4037.32

2003

2004

2005

Tahun

2006

2007

Devisa

Gambar 1. Penerimaan Devisa Pariwisata, Tahun 2003-2007

Sumber : Badan Pusat Statistik (2008)

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2009) mengenai

perkembangan

pariwisata

dan

transportasi

nasional,

secara

keseluruhan

jumlah

wisatawan

mancanegara yang datang ke Indonesia pada tahun 2008 mencapai 6,23 juta orang

atau meningkat 13,24 persen jika dibanding jumlah wisatawan mancanegara tahun

2007

sebesar

5,51

juta. Selanjutnya, penerimaan devisa tahun 2008 mencapai

US$ 7,5 milyar atau naik 41,5 persen jika dibanding dengan tahun sebelumnya

yang

mencapai

US$

5,3

milyar.

Kenaikan

ini

disebabkan

karena

meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara dan pengeluaran per kunjungan,

sedangkan jumlah wisatawan dalam negeri jumlahnya lebih besar lagi dan

kelompok ini merupakan penggerak utama dari perekonomian nasional (Santosa,

2002).

Aktivitas sektor pariwisata telah didorong dan ditanggapi secara positif

oleh pemerintah dengan harapan dapat menggantikan sektor migas yang selama

ini menjadi primadona dalam penerimaan devisa negara.

Sektor pariwisata

memang cukup menjanjikan untuk turut membantu menaikkan cadangan devisa

dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Situasi nasional yang kini

mulai memperlihatkan perkembangan ke arah kestabilan khususnya dalam bidang

politik dan keamanan akan memberikan jaminan kepercayaan kepada wisatawan

asing untuk masuk ke wilayah Indonesia. Berikut merupakan tabel mengenai

besarnya pendapatan Indonesia dari berbagai sektor.

Tabel 1.

Penerimaan Devisa Negara Indonesia Tahun 1999-2002 (dalam persen)

Sumber devisa

1999

2000

2001

2002

Migas

40,8

47,2

45,8

46,8

Pariwisata

19,6

18,9

19,6

19,5

Tekstil

14,3

11,9

11,6

11,9

Garmen

15,9

15,4

16,2

15,0

Kayu Lapis

9,4

6,5

6,8

6,8

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2005

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Kondisi

ini memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan

masyarakat

dengan

mengembangkan

potensi

yang

dimilikinya.

Beragam

sumberdaya alam yang ada dapat menjadi modal dalam mendukung pertumbuhan

ekonomi di Indonesia.

Seiring dengan semakin meningkatnya permintaan masyarakat terhadap

wisata saat ini, pemerintah mulai menyadari bahwa sektor pariwisata dapat

memberikan

keuntungan

jangka

panjang

jika

pengelolaan

yang

dilakukan

menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dan berwawasan lingkungan. Sebagai

upaya pencapaian kondisi tersebut, diperlukan suatu kerja sama dan koordinasi

yang baik antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah yang berperan

langsung

dalam

menangani

pengelolaan

sumberdaya

alam

yang

ada

di

wilayahnya.

Terlebih

lagi

dengan

adanya

kebijakan

otonomi

daerah

yang

memberikan kewenangan pada pemerintah di daerah untuk dapat meningkatkan

kesejahteraan warganya dengan menggali dan mengelola sumberdaya alam yang

dimilikinya.

Pengelolaan sumberdaya yang optimal ditunjukkan melalui kesesuaian

tarif masuk dengan nilai manfaat yang sebenarnya dirasakan wisatawan termasuk

biaya pemeliharaan tempat wisata. Selain itu, sebagai bahan pertimbangan dalam

pengambilan keputusan pengelolaan dan pengembangan potensi lain yang dimiliki

suatu tempat wisata, maka penting untuk mengetahui faktor apa saja yang

mempengaruhi nilai manfaat ekonomi dari suatu objek wisata, serta karakteristik

dari pengunjung dan respon yang timbul jika terdapat perubahan tarif masuk dari

tempat wisata tersebut.

Kabupaten Sukabumi berpotensi cukup besar untuk dikelola menjadi

daerah tujuan wisata karena terdapat beragam sumberdaya alam menarik di

dalamnya. Posisi wilayahnya yang berada di dataran tinggi memberikan nilai

tambah

untuk

menghasilkan

suasana

sejuk

yang

alami.

Selain

itu,

akses

transportasi terhadap tempat wisata relatif mudah dijangkau. Salah satu obyek

wisata di daerah Sukabumi yang potensial menarik perhatian wisatawan domestik

adalah Taman Wisata Alam Situ Gunung.

Taman Wisata Alam (TWA) Situ Gunung merupakan suatu tempat wisata

yang menawarkan objek rekreasi dan daya tarik yang beragam seperti panorama

alam yang indah, danau atau situ, air terjun, flora dan fauna serta sejuknya udara

pegunungan.

Objek

rekreasi

yang

terdapat

di

TWA

Situ

Gunung

tersebut

tergolong pada sumberdaya yang bersifat barang publik dimana konsumsi yang

dilakukan seseorang terhadapnya, tidak akan mengurangi konsumsi orang lain

terhadap barang tersebut. Selain itu, barang publik memberikan manfaat ekonomi

yang intangible, yaitu manfaat ekonomi yang tidak dapat dihitung secara riil

karena belum memiliki nilai pasar seperti rasa nyaman, pemandangan yang indah,

udara yang sejuk dan lain sejenisnya.

1.2. Perumusan Masalah

Pariwisata merupakan sektor yang berperan besar terhadap penerimaan

negara. Hal tesebut mendorong pemerintah untuk mengembangkan berbagai

potensi

wisata

yang

ada,

dimana

mencakup

beragam

sumberdaya

alam

di

Indonesia. Pengembangan sektor wisata melalui peningkatan kualitas pengelolaan

serta

pendugaan

nilai

manfaat

ekonomi

dari

suatu

sumberdaya

alam

yang

dijadikan objek rekreasi menjadi penting untuk dilakukan.

Indonesia memiliki sumber daya alam beranekaragam serta kehidupan

sosial budaya yang jarang ditemui di negara lain. Potensi ini menjadikan daya

tarik tersendiri bagi wisatawan, sehingga prospek perkembangan pariwisata di

Indonesia khususnya untuk wisatawan mancanegara akan berkembang secara

positif sejalan dengan upaya pemerintah untuk membenahi unsur-unsur yang

berkaitan dengan pariwisata. Guna mendukung hal tersebut, diperlukan peran

serta dari berbagai lapisan baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun

masyarakat

sekitar

tempat

wisata

untuk

menjaga,

mengembangkan

dan

melestarikan potensi wisata yang dimilikinya.

Ratusan potensi ekowisata di Jawa Barat hingga kini belum tergarap

optimal menjadi obyek kunjungan yang bernilai ekonomi tinggi. Padahal, prospek

pengembangan wisata berbasis alam di provinsi ini merupakan yang terbesar

dibandingkan dengan daerah lain di Pulau Jawa. Jika potensi obyek wisata

berbasis alam dikelola optimal, maka akan berpeluang meningkatkan pendapatan

daerah 1 .

Pada umumnya potensi wisata yang dimiliki di berbagai daerah merupakan

wisata berbasis alam dan lingkungan. Seperti halnya TWA Situ Gunung yang

terdapat

di

Kecamatan

Kadudampit,

Kabupaten

Sukabumi.

Tempat

wisata

tersebut menawarkan beragam sumberdaya alam yang potensial untuk dijadikan

suatu objek wisata.

Sebagian besar jasa lingkungan yang ditawarkan tidak memiliki nilai pasar

sehingga

penentuan

tarif

masuk

kawasan

wisata

belum

menunjukkan

nilai

ekonomi yang sebenarnya dari jasa lingkungan yang didapat. Oleh karena itu,

perlu adanya suatu pendekatan untuk menentukan nilai manfaat ekonomi dari jasa

lingkungan yang ditawarkan dalam suatu kawasan wisata alam yang nantinya

akan dijadikan pertimbangan dalam pengembangan kawasan wisata lebih lanjut.

Pendekatan terhadap harga ini kemudian digunakan untuk mengestimasi

besarnya permintaan, surplus konsumen maupun nilai manfaat ekonomi. Adapun

salah satu pendekatan untuk menilai barang-barang non pasar ini adalah Metode

Biaya Perjalanan (Travel Cost Method). Permintaan rekreasi berupa frekwensi

kunjungan yang dilakukan wisatawan dalam periode tertentu terhadap TWA Situ

Gunung tersebut diduga dapat dipengaruhi oleh pendapatan, tingkat pendidikan,

umur, jenis kelamin dan berbagai variabel sosial ekonomi lainnya.

Nilai

manfaat

ekonomi

yang

diperoleh

penting

untuk

mengestimasi

manfaat

yang diterima dan biaya

yang dikeluarkan. Nilai manfaat

tersebut

1 Kompas. 2009. Ratusan Potensi Belum Tergarap Optimal .http://perumperhutani.blogspot.com/2009/06/ratusan-potensi-belum-tergarap optimal.html. Diakses: 4 September, 2009

meliputi surplus konsumen yang berguna untuk pengambilan keputusan dan bahan

pertimbangan pengembangan tempat wisata sehingga pengelolaan yang dilakukan

mendukung tercapainya alokasi sumberdaya optimum.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka muncul beberapa pertanyaan

penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimanakah karakteristik dari pengunjung Taman Wisata Alam Situ

Gunung?

2. Faktor-faktor sosial ekonomi apa saja yang mempengaruhi permintaan

wisata terhadap TWA Situ Gunung?

3. Berapakah nilai manfaat ekonomi TWA Situ Gunung yang bersifat barang

publik?

1.3. Tujuan

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :

1. Mengidentifikasi karakteristik wisatawan yang berkunjung ke TWA Situ

Gunung.

2.

Mengkaji

fungsi

permintaan

wisata

TWA

Situ

Gunung

dengan

menggunakan metode biaya perjalanan.

 

3.

Menduga nilai manfaat ekonomi yang dihasilkan TWA Situ Gunung

berdasarkan

nilai

surplus

konsumen

yang

diperoleh

pengunjung

berdasarkan metode biaya perjalanan.

 

1.4.

Manfaat Penelitian

 

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain

sebagai berikut :

1.

Menambah

wawasan

terhadap

aplikasi

metode

kuantitatif

dalam

menentukan nilai manfaat ekonomi dari suatu sumberdaya alam yang

belum memiliki nilai pasar.

 

2.

Bahan

pertimbangan

bagi

pengelola

dalam

menentukan

upaya

pengembangan lebih lanjut potensi TWA Situ Gunung.

3.

Hasil dari penilaian manfaat ekonomi diharapkan dapat menjadi dasar

dalam menentukan alokasi sumberdaya yang optimum.

 

4.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan informasi bagi pihak-pihak

yang terkait dalam pengembangan sumberdaya dan lingkungan.

 

1.5.

Ruang Lingkup Penelitian

 

1.

Penelitian ini membahas mengenai pengukuran nilai manfaat ekonomi dari

TWA Situ Gunung berdasarkan metode biaya perjalanan (Travel Cost

Method).

 

2.

Penelitian

ini

membahas

satu

lokasi

wisata

dengan

karakteristik

sumberdaya alam yang dimilikinya.

 

3.

Permintaan manfaat rekreasi merupakan jumlah kunjungan rekreasi selama

periode tertentu.

 

4.

Pengunjung pada tahun berjalan dianggap mempunyai distribusi yang

sama dengan pengunjung pada saat penelitian.

 

5.

TWA

Situ

Gunung

dianggap

menjadi

satu-satunya

tujuan

wisata

responden.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Pariwisata

Definisi pariwisata berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 tahun 1990

tentang kepariwisataan Bab I pasal 1 yaitu:

1. Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut

yang dilakukan dengan sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati

obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di dalamnya.

2. Wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata.

3. Pariwisata

adalah

segala

sesuatu

yang

berhubungan

dengan

wisata,

termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang

terkait di bidang tersebut.

4. Kepariwisataan

adalah

segala

sesuatu

yang

berhubungan

dengan

penyelenggaraan pariwisata.

 

Pengertian

pariwisata

yang

dikemukakan

oleh

Wahab

(1992)

yaitu

pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu mempercepat

pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan,

standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktif lainnya. Menurut Sabda

(2003) faktor

penting

yang terdapat

dalam

konsep

pariwisata

adalah

:

(1)

dilakukan hanya untuk sementara waktu, (2) dilakukan dari satu tempat ketempat

lain, (3) walaupun ada bentuknya, harus selalu dikaitkan dengan pertamasyaan

atau rekreasi dan (4) orang yang melakukan perjalanan tersebut tidak mencari

nafkah atau mendapatkan penghasilan dan semata-mata sebagai konsumen di

tempat yang dikunjungi.

Pengertian objek dan daya tarik wisata menurut Undang-undang Nomor 9

Tahun 1990 yaitu yang menjadi sasaran perjalanan wisata meliputi :

1.

Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang berwujud keadaan alam serta flora

dan fauna, seperti : pemandangan alam, panorama indah, hutan rimba

dengan tumbuhan hutan tropis, serta binatang-binatang langka.

 

2.

Karya

manusia

yang

berwujud

peninggalan

purbakala,

peninggalan

sejarah, seni budaya, wisata agro (pertanian), wisata tirta (air), wisata

petualangan, taman rekreasi, dan tempat hiburan.

 

3.

Sasaran wisata minat khusus, seperti : berburu, mendaki gunung, gua,

industri dan kerajinan, tempat perbelanjaan, sungai air deras, tempat-

tempat ibadah, tempat-tempat ziarah dan lain-lain.

 

2.2.

Rekreasi

Menurut

Kamus

Besar

Bahasa

Indonesia

(2000),

rekreasi

adalah

penyegaran kembali badan dan pikiran; sesuatu yang menggembirakan hati dan

menyegarkan seperti hiburan dan piknik. Adapun ciri-ciri dari rekreasi antara lain

sebagai berikut (Pangemanan, 1993):

1. aktivitas rekreasi tidak mempunyai bentuk dan macam tertentu. Semua

kegiatan

manusia

dapat

dijadikan

sebagai

aktivitas

rekreasi

asalkan

dilakukan dalam waktu senggang dan memenuhi tujuan dan maksud

positif dari rekreasi.

2. rekreasi bersifat luwes, ini berarti bahwa rekreasi tidak dibatasi oleh

tempat, dapat berupa rekreasi di dalam ruangan (indoor recreation) dan

rekreasi di alam terbuka (outdoor recreation), dimana saja sesuai dengan

macam dan bentuk kegiatan yang dapat dilakukan.

3.

rekreasi dapat dilakukan oleh perorangan maupun kelompok orang.

4.

rekreasi bersifat universal, tidak terbatas oleh umur, bangsa, jenis kelamin,

pangkat dan kedudukan sosial.

2.3.

Bentuk-bentuk Pariwisata

Menurut Wahab (1992), kepariwisataan tidak menggejala sebagai bentuk

tunggal.

Istilah

ini

umum

sifatnya

yang

menggambarkan

beberapa

bentuk

perjalanan dan penginapan sesuai dengan motivasi yang mendasari kepergian

tersebut. Orang melakukan perjalanan untuk memperoleh berbagai tujuan dan

memuaskan bermacam-macam keinginan. Sebenarnya pariwisata sebagai suatu

gejala, terwujud dalam beberapa bentuk yang antara lain sebagai berikut :

1. menurut jumlah orang yang bepergian

a. pariwisata individu, yakni hanya seorang atau satu keluarga yang

bepergian.

b. pariwisata rombongan, yakni sekelompok orang yang biasanya terikat

hubungan-hubungan

tertentu

kemudian

melakukan

perjalanan

bersama-sama misalnya klub, sekolah atau suatu tour yang diorganisir

oleh suatu usaha perjalanan, dan biasanya rombongan ini didampingi

oleh seorang pemimpin perjalanan. Jumlah peserta rombongan itu

boleh bervariasi tetapi biasanya lebih dari 15 atau 20 orang peserta.

2. menurut maksud bepergian

a. pariwisata rekreasi atau pariwisata santai, maksud kepergian untuk

memulihkan kemampuan fisik dan mental setiap peserta wisata dan

memberikan

kesempatan

rileks

bagi

mereka

dari

kebosanan

dan

keletihan kerja selama di tempat rekreasi.

b. pariwisata

budaya,

bermaksud

untuk

memperkaya

informasi

dan

pengetahuan tentang negara lain dan untuk memuaskan kebutuhan

hiburan. Dalam hal ini termasuk pula kunjungan ke pameran-pameran

(fair),

perayaan-perayaan

adat,

purbakala, dan lain-lain.

tempat-tempat

cagar

alam,

cagar

c. pariwisata pulih sehat, yang memuaskan kebutuhan perawatan medis

di daerah atau tempat lain dengan fasilitas penyembuhan, misalnya

sumber air panas, tempat-tempat kubangan lumpur yang berkhasiat,

perawatan dengan air mineral yang berkhasiat, penyembuhan secara

khusus, perawatan dengan pasir hangat, dan lain-lain. Pariwisata ini

memerlukan

persyaratan-persyaratan

tertentu

seperti

misalnya

kebersihan, ketenangan dan taraf hidup yang pantas.

d. pariwisata sport, yang akan memuaskan hobi orang-orang seperti

mengail ikan, berburu binatang liar, menyelam ke dasar laut, bermain

ski dan mendaki gunung.

e. pariwisata temu wicara, pariwisata konvensi mencakup pertemuan-

pertemuan ilmiah, seprofesi dan bahkan politik. Pariwisata jenis ini

memerlukan tersedianya fasilitas pertemuan di negara tujuan dan

faktor-faktor lain yang penting seperti letak strategis, tersedianya

transportasi yang mudah, iklim yang cerah dan sebagainya. Seseorang

yang berperan serta dalam konferensi akan meminta fasilitas wisata

yang

lain

misalnya

tour

dalam

cenderamata dan lain-lain.

dan

luar

kota,

tempat

membeli

3.

menurut alat transportasi

a. pariwisata darat (bis mobil pribadi, kereta api)

b. pariwisata tirta (laut, sungai, danau)

c. pariwisata dirgantara

4.

menurut letak geografis

 

a. pariwisata

domestik

nasional,

menunjukkan

arus

wisata

yang

dilakukan oleh warga dan penduduk asing yang bertugas di sana, yang

terbatas dalam suatu negara tertentu.

 

b. pariwisata regional, yakni kepergian wisatawan terbatas pada beberapa

negara

yang

membentuk

suatu

kawasan

pariwisata,

misalnya

perjalanan wisatawan di negara-negara Eropa Barat

 

c. pariwisata internasional, yang meliputi gerak wisatawan dari satu

negara ke negara lain di dunia.

 

5.

menurut

umur,

dibedakan

menjadi

pariwisata

remaja

dan

pariwisata

dewasa.

6.

menurut jenis kelamin, pariwisata dibedakan menjadi pariwisata pria dan

pariwisata wanita.

 

7.

menurut tingkat harga dan tingkat sosial, jenis pariwisata terdiri dari

pariwisata taraf lux, pariwisata taraf menengah dan pariwisata taraf jelata.

2.4.

Taman Wisata Alam

 

Pengertian Taman Wisata Alam (TWA) berdasarkan Peraturan Pemerintah

Republik Indonesia (PP) Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam

dan Kawasan Pelestarian Alam, dalam pasal 1 dijelaskan bahwa yang dimaksud

dengan Taman Wisata Alam adalah Kawasan Pelestarian Alam dengan tujuan

utama

untuk

dimanfaatkan

bagi

kepentingan

pariwisata

dan

rekreasi

alam.

Pengertian Kawasan Alam itu sendiri adalah kawasan dengan ciri khas tertentu,

baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem

penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa,

serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Pada pasal 33 dalam PP RI Nomor 68 Tahun 1998 tersebut dijelaskan pula

bahwa suatu kawasan ditetapkan sebagai Kawasan Taman Wisata Alam, apabila

telah memenuhi kriteria sebagai berikut :

1.

mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau ekosistem gejala

alam serta formasi geologi yang menarik,

 

2.

mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelestarian fungsi potensi

dan daya tarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam,

3.

kondisi

lingkungan

di

sekitarnya

mendukung

upaya

pengembangan

pariwisata alam.

 

2.5.

Barang Publik

Suatu barang publik merupakan barang-barang yang tidak dapat dibatasi

siapa penggunanya dan sebisa mungkin seseorang tidak perlu mengeluarkan biaya

untuk mendapatkannya. Barang publik (public goods) adalah barang yang apabila

dikonsumsi oleh individu tertentu tidak akan mengurangi konsumsi orang lain

akan barang tersebut. Selanjutnya, barang publik sempurna (pure public goods)

didefinisikan sebagai barang yang harus disediakan dalam jumlah dan kualitas

yang sama terhadap seluruh anggota masyarakat (Aristo, 2005).

Selanjutnya Aristo (2005) menyatakan bahwa barang publik memiliki dua

sifat atau dua aspek yang terkait dengan penggunaannya, yaitu :

Non-rivalry.

 

Non-rivalry dalam penggunaan barang publik berarti bahwa penggunaan

satu

konsumen

terhadap

suatu

barang

tidak

akan

mengurangi

kesempatan

konsumen lain untuk juga mengkonsumsi barang tersebut. Setiap orang dapat

mengambil manfaat dari barang tersebut tanpa mempengaruhi manfaat yang

diperoleh orang lain.

Non-excludable.

Sifat non-excludable barang publik ini berarti bahwa apabila suatu barang

publik tersedia, tidak ada yang dapat menghalangi siapapun untuk memperoleh

manfaat dari barang tersebut, dengan kata lain setiap orang memiliki akses ke

barang tersebut. Dalam konteks pasar, maka baik mereka yang membayar maupun

tidak membayar dapat menikmati barang tersebut. Sebuah barang publik disebut

sebagai pure public goods atau barang publik murni apabila memiliki dua sifat ini

secara absolut.

2.6. Penilaian Ekonomi

Penilaian ekonomi atau economic valuation adalah sebuah upaya untuk

memberikan

nilai

kuantitatif

terhadap

barang

dan

jasa

yang

dihasilkan

sumberdaya alam dan lingkungan terlepas dari apakah nilai pasar tersedia bagi

barang dan jasa tersebut. Secara umum, teknik valuasi ekonomi sumberdaya yang

tidak dapat dipasarkan (non-market valuation) dapat digolongkan ke dalam dua

kelompok. Kelompok pertama adalah teknik valuasi yang mengandalkan harga

implisit

dimana

Willingness

to

Pay

(WTP)

terungkap

melalui

model

yang

dikembangkan. Teknik ini sering disebut teknik yang mengandalkan revealed

WTP. Beberapa teknik yang termasuk ke dalam kelompok pertama ini adalah

Travel

Cost

Method,

Hedonic

Pricing

dan

teknik

Random

Utility

Model.

Kelompok kedua adalah teknik valuasi yang didasarkan pada survei dimana

keinginan membayar atau WTP diperoleh langsung dari responden, yang langsung

diungkapkannya secara lisan maupun tertulis. Salah satu teknik yang populer

dalam kelompok ini adalah yang disebut dengan Contingent Valuation Method

(CVM) dan Discrete Choice Method (Fauzi, 2006). Secara skematis, teknik

valuasi non-market tersebut dapat dilihat pada tampilan berikut :

VALUASI NON-MARKET

Tidak Langsung

(Revealed WTP)

Langsung

(Expressed WTP)

Travel Cost Method,

Hedonic Pricing

Random Utility Model

Contingent Valuation

Contingent Choice

Random Utility Model

Gambar 2. Klasifikasi Valuasi Non-market

Sumber : Fauzi, 2006

2.7. Permintaan Wisata

Definisi permintaan wisata berdasarkan beberapa ahli antara lain 2 :

1. Ekonomi,

dimana

permintaan

pariwisata

menggunakan

pendekatan

elastisitas permintaan atau pendapatan dalam menggambarkan hubungan

antara

permintaan

dengan

tingkat

harap

ataukah

permintaan

dengan

variabel lainnya. Hal ini dapat diterangkan dalam kurva sebagai berikut :

2 Ariyanto, E. 2004. Ekonomi Pariwisata. http://www.geocities.com/ariyanto_eks79/home.htm . Diakses: 8 February, 2009.

P P P 1 P 1 P 2 P 2 P 1 X X X
P
P
P 1
P 1
P 2
P 2
P 1
X
X
X 1
X 2
X 1
X 2
a.Faktor Harga terhadap Permintaan
b.Faktor Nonharga terhadap Permintaan

Gambar 3. Kurva Permintaan Wisata

Sumber: Ariyanto, 2004

Gambar

tersebut

menunjukkan

perubahan

yang

permintaan. Pada panel a, perubahan

sepanjang

terjadi

kurva

pada

kurva

permintaan

berlaku

apabila

harga

barang yang diminta menjadi makin tinggi atau

makin menurun. Sedangkan pada panel b, kurva

permintaan

akan

bergerak

ke kanan

atau

ke kiri

apabila

terdapat perubahan–perubahan

terhadap permintaan yang ditimbulkan oleh faktor- faktor bukan harga.

Seperti

jika harga barang lain, pendapatan para pembeli dan

berbagai

faktor bukan harga lainnya mengalami perubahan, maka perubahan itu

akan menyebabkan kurva permintaan berpindah ke kanan atau ke kiri.

2. Geografi, menafsirkan permintaan dengan lebih luas dari sekedar pengaruh

harga, sebagai penentu permintaan karena termasuk yang telah melakukan

perjalanan maupun yang belum mampu melakukan wisata karena suatu

alasan tertentu.

3. Psikologi, lebih dalam melihat permintaan pariwisata, termasuk interaksi

antara kepribadian calon wisatawan, lingkungan dan dorongan dari dalam

jiwanya untuk melakukan kepariwisataan.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan pariwisata adalah 3 :

1. Harga, dimana dengan harga yang tinggi pada suatu daerah tujuan wisata

maka akan memberikan imbas atau timbal balik pada wisatawan yang

akan bepergian atau calon wisatawan, sehingga permintaan wisatapun

akan berkurang, begitupula sebaliknya.

2. Pendapatan, apabila pendapatan suatu negara tinggi maka kecenderungan

untuk memilih daerah tujuan wisata sebagai tempat berlibur akan semakin

tinggi dan bisa jadi mereka membuat sebuah usaha pada daerah tujuan

wisata jika dianggap menguntungkan.

3. Sosial Budaya, dengan adanya sosial budaya yang unik dan bercirikan atau

dengan kata lain berbeda dari apa yang ada di negara calon wisatawan

berasal, maka peningkatan permintaan terhadap wisata akan tinggi. Hal ini

akan membuat sebuah keingintahuan dan penggalian informasi sebagai

khasanah kekayaan pola pikir budaya mereka.

4. Sosial Politik, dampak sosial politik belum terlihat apabila keadaan daerah

tujuan wisata dalam situasi aman dan tentram, tetapi apabila hal tersebut

berseberangan dengan kenyataan, maka sosial politik akan terasa dampak

atau pengaruhnya dalam terjadinya permintaan.

5. Intensitas Keluarga, banyak atau sedikitnya keluarga juga berperan serta

dalam permintaan wisata. Hal ini dapat diratifikasi bahwa jumlah keluarga

yang banyak maka keinginan untuk berlibur tersebut akan semakin besar,

hal ini dapat dilihat dari kepentingan wisata itu sendiri.

3 Ariyanto, E. 2004. Ekonomi Pariwisata. http://www.geocities.com/ariyanto_eks79/home.htm . Diakses: 8 February, 2009.

6.

Harga barang Substitusi, disamping kelima aspek tersebut, harga barang

pengganti juga termasuk dalam aspek permintaan, dimana barang-barang

pengganti

dimisalkan

sebagai

pengganti

daerah

tujuan

wisata

yang

dijadikan cadangan dalam berwisata, seperti: Bali sebagai tujuan wisata

utama

di

Indonesia,

akibat

suatu

hal

Bali

tidak

dapat

memberikan

kemampuan dalam memenuhi syarat-syarat daerah tujuan wisata sehingga

secara tidak langsung wisatawan akan mengubah tujuannya ke daerah

terdekat seperti Malaysia (Kuala Lumpur dan Singapura).

7. Harga barang Komplementer, merupakan sebuah barang

yang saling

membantu dengan kata lain barang komplementer adalah barang yang

saling

melengkapi,

apabila

dikaitkan

dengan

pariwisata

barang

komplementer ini sebagai obyek wisata yang saling melengkapi dengan

obyek wisata lainnya.

Morley (1990) dalam Ross (1998) mengatakan permintaan akan pariwisata

tergantung pada ciri-ciri wisatawan, seperti penghasilan, umur, motivasi, dan

watak. Ciri-ciri ini masing-masing akan mempengaruhi kecenderungan orang

untuk

bepergian

mencari

kesenangan,

kemampuannya

untuk

bepergian

dan

pilihan tempat tujuan perjalanannya. Permintaan juga ditentukan oleh sifat-sifat

dan ciri-ciri tempat tujuan perjalanan, daya tariknya, harga dan efektif tidaknya

kegiatan memasarkan tempat tujuan. Kebijaksanaan dan tindakan pemerintah

dapat mendorong atau menurunkan permintaan akan pariwisata secara langsung

dan sengaja, dan secara tidak langsung melalui faktor-faktor yang penting bagi

wisatawan, seperti keamanan.

Menurut Wahab (2003), ada banyak faktor ekstern atau intern yang besar

pengaruhnya dalam diri seseorang ketika mengambil keputusan untuk melakukan

kegiatan berwisata atau tidak. Adapun faktor-faktor tersebut ditunjukkan dalam

gambar berikut ini :

-

-

-

-

-

-

-

-

lingkup pergaulan dan ikatan-ikatan keluarga

tingkah laku prestise

tiruan dan mode

perasaan-perasaan keagamaan

hubungan masyarakat dan promosi pariwisata

iklan dan penyebaran informasi pariwisata

kondisi ekonomi (faktor pendapatan dan biaya)

- sumber-sumber wisata (asset wisata)- (alam, panorama, warisan budaya, perayaan-perayaan sosial dan lain- lain)

- fasilitas wisata (pengorganisasian industri pariwisata di dalam negara tersebut, transportasi).

- fasilitas wisata (prosedur kunjungan, bea cukai dan lain-lain).

- kondisi lingkungan ( sikap masyarakat setempat terhadap orang asing, keramah tamahan dan sikap mudah

- susunan kependudukan (umur, jenis kelamin, dan urbanisasi)

- situasi politik (kestabilannya, tingkat kebebasan warganya).

- keadaan geografis (jarak dari negara pasaran sumber wisatawan, keindahan panorama dan lain-lain).

IRASIONAL (dorongan bawah sadar)

pengaguman pribadi (dalam pola tingkah laku)panorama dan lain-lain). IRASIONAL (dorongan bawah sadar) Faktor-faktor yang mempengaruhi kedatangan wisatawan

Faktor-faktor yang mempengaruhi kedatangan wisatawan (permintaan)

RASIONAL (dorongan yang disadari)

bergaul).wisatawan (permintaan) RASIONAL (dorongan yang disadari) Gambar 4. Faktor –Faktor yang Mempengaruhi Kegiatan Wisata

Gambar 4. Faktor –Faktor yang Mempengaruhi Kegiatan Wisata

Sumber : Wahab, 2003

2.8. Willingness To Pay

Salah satu tolok ukur yang relatif mudah dan bisa dijadikan persepsi

bersama berbagai disiplin ilmu adalah pemberian harga (price tag) pada barang

dan jasa yang dihasilkan sumber daya alam dan lingkungan. Maka dari itu,

digunakan apa yang disebut dengan nilai ekonomi sumberdaya alam (Fauzi,

2006).

Selanjutnya Fauzi (2006) juga menyatakan secara umum, nilai ekonomi

didefinisikan

sebagai

pengukuran

jumlah

maksimum

seseorang

ingin

mengorbankan barang dan jasa untuk memperoleh barang dan jasa lainnya. Secara

formal, konsep ini disebut keinginan membayar (Willingness To Pay) seseorang

terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumber daya alam dan lingkungan,

dengan

menggunakan

pengukuran

ini,

nilai

ekologis

ekosistem

dapat

diterjemahkan ke dalam bahasa ekonomi dengan mengukur nilai moneter barang

dan jasa.

Haab dan McConnell (2002), menyatakan bahwa pengukuran WTP yang

dapat diterima atau reasonable harus memenuhi syarat :

1. WTP tidak memiliki batas bawah yang negatif.

2. Batas atas WTP tidak boleh melebihi pendapatan.

3.

Adanya

konsistensi

antara

keacakan

keacakan perhitungannya.

(randomness)

pendugaan

dan

Pada pengukuran nilai sumber daya alam, nilai tersebut tidak selalu harus

diperdagangkan untuk mengukur nilai moneternya. Adapun yang diperlukan disini

adalah pengukuran seberapa besar kemampuan membayar (purchasing power)

masyarakat untuk memperoleh barang dan jasa dari sumber daya (Fauzi, 2006).

2.9. Regresi Poisson

Pada

umumnya

analisis

regresi

menggunakan

variabel

respon

yang

merupakan variabel random kontinu dan berdistribusi normal, tetapi bisa saja

variabel respon yang digunakan adalah variabel diskrit dan berdistribusi Poisson.

Jika

terdapat

variabel

respon

yang

berupa

variabel

numerik

diskrit

dan

berdistribusi Poisson, maka analisis regresi linier kurang tepat digunakan, dan

regresi yang tepat digunakan adalah regresi Poisson (Sundayani, 2004). Menurut

Hogg and Craig (1970) dalam Sundayani (2004), jika suatu variabel random

mempunyai tipe diskrit dan menyatakan banyaknya kejadian dalam interval

tertentu (waktu, area, dan lain-lain), maka variabel random tersebut berdistribusi

Poisson.

Menurut Wijayanti (2003), estimator model permintaan rekreasi sering

dibuat dalam bentuk fungsi kontinu, yang diduga dengan OLS (Ordinary Least

Square). Namun sifat permintaan rekreasi mengandung masalah-masalah yang

rumit, antara lain :

1.

Trip (jumlah kunjungan wisata) adalah kuantitas non negatif

 

2.

Metode pengumpulan data adalah survey di lokasi sehingga pengunjung

melakukan kunjungan nol tidak akan diperoleh

 

3.

Trip tidak tersedia dalam kuantitas kontinyu

 

Menurut Smith dan Desvausges (1985) dalam Rahayu (1999), penggunaan

metode

OLS

dalam

mengestimasi

permintaan

rekreasi

akan

menghasilkan

koefisien regresi yang bersifat bias, karena fungsi permintaan rekreasi merupakan

data cacah (count data) dari jumlah kunjungan dalam semusim atau setahun,

sehingga dependent variable merupakan bilangan bulat positif

2.10. Pendugaan Surplus Konsumen

Surplus

konsumen

adalah

ukuran

nilai

berlebih

yang

diterima

oleh

konsumen dari suatu barang melebihi dari yang mereka bayarkan (Nicholson,

2002). Surplus

konsumen

mengukur manfaat

yang diterima

konsumen

dari

partisipasinya di suatu pasar. Surplus konsumen dapat dihitung dengan mencari

luas daerah di bawah kurva permintaan dan di atas harga.

Gambar 5 menunjukkan supply barang X terhadap individu sebanyak 0x 1 .

Nilai marjinal X adalah 0P 1 . Guna membeli 0x 1 barang X, pengeluaran uang

adalah harga dikalikan dengan kuantitas yang dikonsumsi, atau daerah segiempat

0P 1 AX 1 . Kemauan membayar total jelas melebihi jumlah ini, karena jumlah

tersebut adalah hasil penjumlahan nilai-nilai marjinal X dari 0 hingga X 1 , yaitu

daerah 0DAX 1 . Daerah ini merupakan penggambaran tingkat faedah total dan

merupakan manfaat kotor atau total dalam perhitungan manfaat-biaya. Daerah

yang diarsir DAP 1 dikenal dengan nama surplus konsumen dan merupakan ukuran

kemauan membayar di atas pengeluaran kas untuk konsumsi (Hufschmidt et al.,

1987).

Surplus konsumen merupakan perbedaan antara jumlah yang dibayarkan

oleh pembeli untuk suatu produk dan kesediaan untuk membayar. Selain itu,

surplus konsumen haruslah selalu ditambahkan pada nilai pasar barang-barang

dan jasa-jasa yang dikonsumsikan agar diperoleh estimasi yang sebenarnya

manfaat ekonomi total (Hufschmidt et al., 1987).

Harga barang X tiap satuan

D

P 1

0

Surplus Konsumen Garis Harga A
Surplus Konsumen
Garis Harga
A

X 1

Banyaknya satuan barang X

Gambar 5.

Total Surplus Konsumen adalah bidang di bawah kurva permintaan dan di atas garis harga

Sumber: Hufschmidt, 1987

Pangemanan (1993) dalam penelitiannya di Taman Nasional Bunaken

Sulawesi Utara, menduga fungsi permintaan dan manfaat dengan menggunakan

metode biaya perjalanan. Penelitian dilakukan dengan mengaplikasikan Zonal

Travel Cost Method. Dari hasil analisis diketahui bahwa nilai biaya perjalanan

dapat digunakan sebagai nilai pengganti bagi harga pasar barang publik (obyek

wisata Bunaken) melalui mekanisme pasar. Hal ini dapat dibuktikan dari tanda

koefisien regresi biaya perjalanan yang negatif dan nyata pada taraf kesalahan 1

persen.

Sabda (2003) menduga fungsi permintaan dan manfaat rekreasi di Obyek

Wisata Pasir Putih Kabupaten Situbondo Jawa timur. Penelitian tersebut mengkaji

pengaruh dua faktor ekonomi yaitu biaya perjalanan dan pendapatan perkapita

terhadap laju kunjungan wisatawan. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa

kedua variabel tersebut mempengaruhi laju kunjungan wisatawan ke Obyek

Wisata Pasir Putih secara nyata, biaya perjalanan merupakan faktor pembatas

partisipasi seseorang dalam menikmati Obyek Wisata Pasir Putih.

Supriyatna (2004) menduga permintaan dan surplus konsumen pengunjung

Taman Wisata Danau Lido dengan menggunakan metode biaya perjalanan dan

metode kontingensi. Pendugaan fungsi permintaan dilakukan melalui Individual

Travel Cost Method, pengolahan data dianalisis melalui regresi Linear Berganda.

Peneliti mencoba membandingkan nilai WTP yang diperoleh berdasarkan metode

kontingensi dan metode biaya perjalanan. Berdasarkan hasil analisis diketahui

rata-rata kesediaan membayar pengunjung dengan metode kontingensi adalah

sebesar Rp 5.288,00 sedangkan dengan metode biaya perjalanan diperoleh Rp

41.462,00 per orang. Nilai manfaat rekreasi tahunan berdasarkan pendekatan

biaya perjalanan Rp 1.473.094.600,00 lebih besar jika dibandingkan dengan nilai

manfaat

rekreasi

tahunan

dengan

pendekatan

kontingensi

Berdasarkan

uraian

tersebut,

dapat

disimpulkan

bahwa

Rp

202.530.400.

pendekatan

biaya

perjalanan lebih tepat digunakan untuk kasus Taman Wisata Danau Lido jika

dibandingkan dengan pendekatan kontingensi.

Suharti (2007) dalam penelitiannya di di Kebun Wisata Pasir Mukti

menduga permintaan dan surplus konsumen dengan menggunakan metode biaya

perjalanan. Nilai manfaat ekonomi tersebut dapat diketahui dengan menggunakan

Individual Travel Cost Method. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar

biaya masuk / karcis responden berada di bawah Rp 34.000,00. Adapun variabel-

variabel yang berpengaruh nyata pada taraf 15 % antara lain biaya perjalanan,

pendapatan

individu

per

tahun,

jumlah

rombongan,

jarak

tempuh,

lama

mengetahui Kebun Wisata Pasir Mukti, jumlah rekreasi selama satu tahun, daya

tarik, tempat wisata alternatif, jenis kelamin dan status hari.

Penelitian-penelitian terdahulu pada intinya membahas hal yang sama

dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis. Adapun penelitian yang dimaksud

adalah mengenai pengkajian fungsi permintaan wisata serta pendugaan nilai

manfaat ekonomi berdasarkan surplus konsumen. Hal yang yang membedakan

penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan penulis terletak pada alat

analisis.

Alat

analisis

yang

digunakan

penulis

untuk

menentukan

fungsi

permintaan wisata adalah analisis regresi poisson.

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Objek Pariwisata Sebagai Barang Publik (Public Goods)

Beragam potensi pariwisata yang ada di berbagai daerah di Indonesia

sangat erat kaitannya dengan sumberdaya alam dan lingkungan. Sumberdaya alam

yang alami pada umumnya termasuk kriteria barang publik. Barang publik atau

public goods merupakan barang yang jika dikonsumsi oleh seseorang tidak akan

mengurangi kesempatan orang lain untuk mengkonsumsi barang tersebut. Selain

itu, barang publik juga memiliki sifat non excludable yang berarti seseorang tidak

dapat membatasi akses orang lain terhadap sumberdaya tersebut.

Manfaat ekonomi dari suatu barang publik sulit untuk diukur. Hal ini

dikarenakan belum adanya nilai pasar untuk sumberdaya tersebut, dengan kata

lain bersifat

intangible. Maka dengan demikian diperlukan suatu pendekatan

untuk mengukur seberapa besar nilai manfaat ekonomi yang dihasilkan dari suatu

sumberdaya alam.

3.2. Permintaan Wisata

Menurut Sinaga (1995), permintaan wisata terbagi ke dalam dua bagian,

yaitu : 1) permintaan potensial (potential demand), yaitu sejumlah orang yang

memenuhi

syarat

minimal

untuk

melakukan

perjalanan

rekreasi

karena

mempunyai uang, keadaan fisik masih kuat, hanya masih belum mempunyai

waktu senggang untuk bepergian sebagai wisatawan, 2) permintaan aktual (actual

demand), yaitu sejumlah orang yang sedang melakukan perjalanan rekreasi ke

suatu daerah tujuan tertentu.

Clawson

dan

Knetsch

(1975),

mempengaruhi permintaan wisata, yaitu :

mengemukakan

faktor-faktor

yang

1.

Faktor individu atau faktor yang berhubungan dengan konsumen potensial

a) jumlah individu yang berada di sekitar tempat wisata,

b) distribusi (penyebaran) geografis daerah konsumen potensial yang

berkaitan dengan kemudahan atau kesulitan untuk mencapai areal

wisata,

c) karakteristik sosial ekonomi seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan,

jumlah anggota keluarga, dan tingkat pendidikan,

d) pendapatan perkapita rata-rata, distribusi pendapatan masing-masing

individu untuk keperluannya,

e) rata-rata waktu luang dan alokasinya,

f) pendidikan khusus, pengalaman dan pengetahuan yang berhubungan

dengan rekreasi.

2. Faktor-faktor yang berhubungan dengan tempat wisata, adalah:

a) keindahan dan daya tarik,

b) intensitas dan sifat pengelolaannya,

c) alternatif pilihan tempat wisata lain,

d) kapasitas akomodasi untuk keperluan potensial,

e) karakteristik iklim dan cuaca tempat wisata.

3. Hubungan konsumen potensial dengan tempat wisata, adalah:

a) lama waktu perjalanan yang diperlukan dari tempat tinggal ke tempat

wisata,

b) kesenangan (kenyamanan) dalam perjalanan,

c) biaya yang diperlukan untuk berkunjung ke tempat wisata,

 

d)

meningkatnya

permintaan

wisata

sebagai

akibat

promosi

yang

menarik.

 

3.3.

Metode Biaya Perjalanan

Travel

Cost

Method

atau

metode

biaya

perjalanan

digunakan

untuk

mengetahui nilai kegunaan (use value) dari sumberdaya melalui pendekatan

(proxy). Biaya yang dikeluarkan untuk mengkonsumsi jasa dari sumberdaya

digunakan sebagai proxy untuk menentukan harga dari sumberdaya tersebut.

Metode ini terdiri dari dua pendekatan yaitu Zonal Travel Cost Method (ZTCM)

dan Individual Travel Cost Method (ITCM). ZTCM merupakan estimasi Travel

Cost Method berdasarkan data yang berhubungan dengan zona asal pengunjung

(pengelompokan zona asal). Sedangkan ITCM merupakan estimasi Travel Cost

Method

berdasarkan

data

survei

dari

setiap

berdasarkan pengelompokan zona.

individu

(pengunjung),

bukan

Pada penelitian ini digunakan pendekatan Individual Travel Cost Method

karena lebih didasarkan pada data primer yang diperoleh melalui survei dan teknik

statistika sehingga hasil yang diperoleh relatif lebih akurat daripada metode

zonasi. Metode biaya perjalanan ini didasarkan pada model yang mengasumsikan

bahwa orang akan melakukan perjalanan berulang-ulang ke tempat rekreasi

tersebut sampai pada titik dimana nilai marjinal utilitas dari perjalanan terakhir

bernilai sama dengan nilai marjinal biaya baik dalam biaya uang dan biaya waktu

yang dikeluarkan untuk mencapai lokasi tersebut. Secara umum, jumlah biaya

perjalanan ini adalah biaya pulang pergi ditambah dengan nilai uang dari waktu

yang

dihabiskan

untuk

perjalanan

dari

rekreasi

tersebut.

Kemudian

fungsi

permintaan terhadap daerah tersebut dapat diestimasi dengan menggunakan biaya

perjalanan itu sebagai representasi dari nilai atau harga dari lokasi kunjungan itu.

(Turner et al, 1994).

3.4. Nilai Manfaat Ekonomi atau Surplus Konsumen

Nilai surplus konsumen diartikan sebagai tambahan nilai yang diterima

individu

untuk

konsumsi

sebuah

barang

melebihi

dari

yang

dibayarkan

(Nicholson, 2002). Nilai yang bersedia dibayar oleh seseorang untuk memperoleh

haknya mengkonsumsi suatu barang pada harga yang sedang berlaku.

Konsep ini diilustrasikan pada Gambar 6 berikut :

Harga P 1 E 0 P 0 h x 0 X 0
Harga
P
1
E
0
P
0
h x
0
X 0

Gambar 6. Surplus Konsumen

Sumber: Nicholson, 2002

Kuantitas X per periode

Pada harga P 0 konsumen ini meminta sebesar X 0 seperti ditunjukkan oleh

kurva permintaan h x . Jika harga naik ke P 1 (mengurangi konsumsi X ke kuantitas

nol) konsumen ini akan membutuhkan tambahan pendapatn P 1 E 0 P 0 untuk menjaga

kesejahteraannya tetap sama. Daerah ini disebut surplus konsumen.

3.5. Kerangka Operasional

Pembangunan

di

Indonesia

saat

ini

mulai

berorientasi

terhadap

pengembangan di sektor industri pariwisata. Hal ini dikarenakan sektor pariwisata

dinilai mampu bertahan, tidak terpengaruh krisis keuangan yang terjadi di dalam

negeri serta memberikan efek berantai terhadap distribusi pendapatan penduduk di

sekitar kawasan wisata. Terlebih lagi sektor pariwisata merupakan sektor yang nir

konflik.

Pada dasarnya potensi objek wisata yang terdapat di daerah-daerah erat

kaitannya

dengan

sumberdaya

alam.

Potensi

sumberdaya

alam

hayati

dan

ekosistemnya tersebut, perlu dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan

dan kesejahteraan masyarakat tanpa melupakan upaya konservasi sehingga tetap

tercapai keseimbangan antara perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan yang

lestari.

TWA Situ Gunung yang berada di Kecamatan Kadudampit, Kabupaten

Sukabumi,

merupakan

suatu

kawasan

wisata

yang

sangat

potensial

untuk

dikembangkan lebih lanjut karena beragam potensi yang terdapat di dalamnya.

Saat ini, objek wisata tersebut selain menjadi kawasan pelestarian juga menjadi

sarana rekreasi. Panorama alam yang indah, danau, air terjun, flora dan fauna serta

sejuknya udara pegunungan menjadi daya tarik dan objek wisata dari tempat

wisata tersebut. Hal tersebut merupakan peluang besar bagi daerah setempat untuk

meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya melalui sektor pariwisata. Terlebih

lagi, saat ini motivasi kunjungan wisatawan mayoritas masih berorientasi pada

wisata sumber daya alam.

Peluang besar terhadap pasar yang dimiliki, hingga saat ini dirasa belum

dimanfaatkan secara optimal. Diperlukan pemanfaatan potensi sumber daya alam

secara bijaksana, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, dari sisi sumberdaya

alam. Peningkatan aksesibilitas wilayah juga diperlukan dari sisi kewilayahan.

Selain itu, dari sisi sumber daya manusia diperlukan peningkatan kualitas yang

memadai, dengan demikian optimalisasi pemanfaatan potensi diharapkan dapat

meningkatkan

kesejahteraan

masyarakat

yang

dicirikan

oleh

tingginya

aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan yang ditawarkan.

Berdasarkan uraian dan kondisi indikator di atas, menggambarkan bahwa

ketersediaan potensi sumber daya dan peluang yang besar belum menjamin

kesejahteraan masyarakatnya. Ini berarti, dalam pengelolaan pariwisata diperlukan

upaya-upaya keras yang bersifat integratif dan kolektif serta terobosan-terobosan

baru yang melibatkan seluruh pihak terkait (multi stakeholders) 4 .

Terdapat beberapa hal

yang

harus diperhatikan

dalam meningkatkan

kualitas pengembangan ekowisata, antara lain ekologi, etnologi atau budaya,

ekonomi, edukasi, dan masalah estetika meliputi interior atau konsep bangunan 5 .

Terkait

dengan

faktor

ekonomi,

sebagian

besar

potensi

wisata

alam

yang

ditawarkan di TWA Situ Gunung tidak memiliki nilai pasar sehingga penentuan

tarif masuk kawasan wisata belum menunjukkan nilai ekonomi yang sebenarnya

dari jasa lingkungan yang didapat. Oleh karena itu, perlu adanya suatu pendekatan

untuk menentukan nilai manfaat ekonomi dari jasa lingkungan yang ditawarkan

dalam suatu kawasan wisata alam yang nantinya akan dijadikan pertimbangan

dalam pengembangan kawasan wisata lebih lanjut.

Potensi alam yang terdapat di TWA Situ Gunung merupakan sumber daya

alam yang tergolong barang publik dimana sumberdaya tersebut memiliki kriteria

non rivalry and non excludable. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan suatu

penilaian manfaat ekonomi dari TWA Situ Gunung agar alokasi sumberdaya

tersebut menjadi optimum.

4 Profil Kabupaten Sukabumi. http://ppkipm.sukabumikab.net/?pilih=hal&id=2. Diakses: 4 September, 2009 5 Kompas. 2009. Ratusan Potensi Belum Tergarap

Optimal.http://perumperhutani.blogspot.com/2009/06/ratusan-potensi-belum-tergarap

optimal.html. Diakses: 4 September, 2009

Guna mendapatkan nilai manfaat ekonomi tersebut, maka perlu diketahui

terlebih

dahulu

karakteristik

dari

pengunjung

TWA

Situ

Gunung

serta

menentukan fungsi permintaan wisata berdasarkan frekwensi kunjungan. Adapun

karakteristik tersebut meliputi faktor sosial ekonomi pengunjung TWA Situ

Gunung seperti pendapatan pengunjung, tingkat pendidikan pengunjung, umur

dan jenis kelamin pengunjung, jumlah anggota rombongan, jarak tempuh, waktu

tempuh,

lamanya

rekreasi,

daerah

asal,

pengetahuan

pengunjung,

pekerjaan

pengunjung, daya tarik lokasi, dan status hari kunjungan wisatawan.

Berdasarkan

hasil

regresi

biaya

perjalanan

dan

faktor-faktor

sosial

ekonomi

pengunjung

maka

dapat

diestimasi

fungsi

permintaan

TWA

Situ

Gunung. Selanjutnya, dari estimasi tersebut maka dapat diduga nilai surplus

konsumen pengunjung. Pada akhirnya, nilai manfaat ekonomi dapat diduga

dengan mengalikan nilai surplus konsumen per kunjungan per individu dengan

total kunjungan selama periode tertentu. Alur kerangka berfikir ditunjukkan pada

Gambar 7 berikut.

Taman Wisata Alam Situ Gunung
Taman Wisata Alam Situ Gunung

Taman Wisata Alam Situ Gunung

Taman Wisata Alam Situ Gunung
Taman Wisata Alam Situ Gunung
Taman Wisata Alam Situ Gunung
Taman Wisata Alam Situ Gunung Tujuan pelestarian Jasa lingkungan sebagai barang publik Tujuan wisata Potensi wisata
Taman Wisata Alam Situ Gunung Tujuan pelestarian Jasa lingkungan sebagai barang publik Tujuan wisata Potensi wisata

Tujuan pelestarian

Jasa lingkungan sebagai barang publik

Tujuan wisata

Jasa lingkungan sebagai barang publik Tujuan wisata Potensi wisata Belum optimalnya pengelolaan TWA Situ Gunung

Potensi wisata

sebagai barang publik Tujuan wisata Potensi wisata Belum optimalnya pengelolaan TWA Situ Gunung Secara Ekonomi
sebagai barang publik Tujuan wisata Potensi wisata Belum optimalnya pengelolaan TWA Situ Gunung Secara Ekonomi

Belum optimalnya pengelolaan TWA Situ Gunung Secara Ekonomi

Analisis secara ekonomi TWA Situ Gunung Belum diketahui karakteristik dan persepsi pengunjung Belum diketahui faktor-
Analisis secara ekonomi
TWA Situ Gunung
Belum diketahui
karakteristik dan persepsi
pengunjung
Belum diketahui faktor-
faktor yang mempengaruhi
permintaan wisata
Belum diketahui
nilai manfaat
ekonomi
Analisis Deskriptif
Analisis Regresi Poisson
Pendugaan Surplus Konsumen
Karakteristik dan
persepsi pengunjung
Faktor-faktor yang
mempengaruhi permintaan
wisata
Nilai manfaat
ekonomi tempat
wisata
Rekomendasi Pengelolaan dan Pengembangan
Tempat Wisata

Keterangan :

Pengelolaan dan Pengembangan Tempat Wisata Keterangan : Di luar Ruang Lingkup Penelitian Gambar 7. Alur Kerangka

Di luar Ruang Lingkup Penelitian

Gambar 7. Alur Kerangka Pemikiran

IV. METODE PENELITIAN

4.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di TWA Situ Gunung yang terletak di kaki Gunung

Gede Pangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa

Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja dengan mempertimbangkan

bahwa di kawasan tersebut memiliki beragam sumberdaya alam yang sangat

potensial untuk dikembangkan sebagai suatu obyek wisata. Adapun pengambilan

data primer dilakukan selama selang waktu ± 2 bulan, yaitu dari awal bulan April

sampai akhir bulan Mei 2009.

4.2. Metode Pengambilan Contoh

Pengambilan sampel dilakukan secara purposive atau judgmental sampling

yang digunakan dengan menentukan kriteria khusus terhadap pengunjung TWA

Situ Gunung. Adapun kriteria yang dikehendaki adalah pengunjung berusia di atas

15 tahun, dapat berkomunikasi dengan baik dan bersedia menjadi responden

dengan menjawab daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya.

Respoden dalam penelitian

ini

sebanyak 100

orang. Angka tersebut

ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin (Sevilla, 1993) yaitu :

η =

N

Keterangan :

1+ Ne 2

η

= ukuran sampel,

 

N

= ukuran populasi,

e

=

nilai

kritis

(batas

ketelitian)

yang

diinginkan

(persen

kelonggaran

ketidaktelitian

karena kesalahan pengambilan sampel populasi).

Menurut data yang diperoleh dari pengelola TWA Situ Gunung, jumlah

kunjungan rata-rata pada periode Mei 2008-April 2009 terhadap lokasi wisata

tersebut adalah sebesar 2.385 orang. Berdasarkan rumus tersebut didapatkan

jumlah sampel sebanyak 100 responden dengan batas kesalahan sebesar 10%.

Pengunjung yang datang berkelompok atau rombongan dipilih beberapa orang

sebagai wakil kelompoknya.

Pengumpulan

data

dalam

penelitian

dilakukan

dengan

menggunakan

metode survei yaitu melalui wawancara, kuesioner dan observasi. Data yang

dikumpulkan terdiri dari dua jenis yakni data primer dan data sekunder.

Data primer meliputi :

1. karakteristik

pengunjung

seperti

umur,

jenis

kelamin,

pendidikan,

pekerjaan, pendapatan, motivasi kunjungan dan cara kedatangan.

2. daerah asal,

3. banyaknya kunjungan rekreasi yang dilakukan,

4. total biaya rekreasi yang dikeluarkan oleh tiap individu,

5. penilaian pengunjung terhadap kawasan dan pelayanan seperti lokasi,

kebersihan, kualitas lingkungan, fasilitas rekreasi, keamanan, maupun

pelayanan dan informasi dari pengelola.

Data sekunder yang diperlukan meliputi karakteristik TWA Situ Gunung seperti

sejarah dan status kawasan, luas kawasan, lokasi, keadaan fisik, potensi wisata,

fasilitas penunjang dan lain sebagainya yang didapat dari studi literatur.

4.3. Pengolahan Data

Data

yang

telah

dikumpulkan

dalam

penelitian

ini

diolah

dengan

menggunakan Stata 9 dan kemudian digunakan untuk membentuk model regresi

poisson. Pendugaan kunjungan ke TWA Situ Gunung dapat dilakukan dengan

Individual Travel Cost Method tiap individu per tahun kunjungan, yaitu :

Y

=

b 0 +b 1 X 1 +b 2 X 2 +b 3 X 3 +b 4 X 4 +b 5 X 5 +b 6 X 6 +b 7 X 7 +b 8 X 8 +b 9 X 9 +b 10 X 10

+b 11 D 1 +b 12 D 2 + b 13 D 3 +e i

b 1 , b 2 , b 3 , b 4 , b 5 , b 6 , b 7, b 8 , b 9. b 10 = Koefisien regresi untuk faktor X 1 , X 2 , X 3 , X 4 ,

X 5 ,

X 6 ,

X 7