Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan

Volume 15, Nomor 2, Oktober 2014, hlm.182-189


 
ADAPTASI NELAYAN PERIKANAN LAUT TANGKAP
DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM

Nurtjahja Moegni1, Ahmad Rizki2, Gigih Prihantono3


1,2,3 Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga

Jalan Airlangga No.4 Surabaya 60286, Indonesia. Phone: (031) 5033642


E-mail korespondensi: gigih.prihantono@yahoo.co.id

Naskah diterima: Maret 2013; disetujui: Agustus 2014


Abstract: This study presents the response of fisheries management to the extreme climatic
affect marine fisheries in Jember district. Extreame weather LA NINA and EL NINO increasing
sea wave and change wild fish population, causing increasing cost for fisherman. Quantitative
methodology for use research in use data maritime ministry, the national oceanic and atmos-
pheres administration, BMKG and primery data. This study suggests that responding to
extreme climatic influences on fisheries include (1) establishing an early warning system by
connecting fisheries agencies and marine research institutions to assist decision makers in
performing time-adaptive measures, (2) Temporarily suspending subsidy activity to help
managing cost in extreame weather, (3) Develop research technology for managing extreme
weather events.
Keywords: fisheries; marine; climate change; extreme weather; updating; subsidies
JEL Classification: D24, H23, Q22

Abstrak: Studi ini menggambarkan respon dari managemen perikanan laut tangkat dengan
kejadian cuaca ekstrim yang mempengaruhi perikanan laut tangkap di Kabupaten Jember.
Kejadian LA NINA dan EL NINO menyebabkan semakin tingginya gelombang laut dan
perubahan arus ikan sehingga meningkatkan biaya melaut nelayan. Metode penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung data-
data dari kementrian kelautan dan perikanan, the national oceanic and atmospheric
administration (NOAA), BMKG dan survey. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa untuk
merespon pengaruh cuaca ekstrim pada industry perikanan laut harus mencakup beberapa
hal. Pertama, mendirikan sistem peringatan dini dengan menghubungkan lembaga perikanan,
BMKG dan lembaga penelitian kelautan untuk membantu pengambilan keputusan dalam
melakukan langkah-langkah adaptif dengan membentuk pusat monitoring lingkungan.
Sementara waktu memberlakukan sistem subsidi pada kegiatan penangkapan ikan untuk
mengurangi biaya yang timbul akibat cuaca ekstrim. Tiga, melakukan penelitian untuk
mengembangkan tekonologi, guna mengelola perubahan cuaca ekstrim yang terjadi.
Kata kunci: nelayan; perikanan; perubahan iklim; cuaca ekstrim; updating; subsidi
Klasifikasi JEL: D24, H23, Q22

PENDAHULUAN nelayan. Salah satu dampak dari perubahan


iklim global adalah terjadinya fenomena El-
Nino (meningkatnya suhu samudera pasifik)
Industri pengelolaan perikanan laut
dan La Nina (menurunnya suhu samudera
merupakan industri yang rentan terhadap
pasifik) yang mempengaruhi samudera-samu-
perubahan cuaca ekstrim yang diakibatkan oleh
dera di seluruh dunia. Terjadinya fenomena
fenomena pemanasan global. Pengaruh tersebut
tersebut mengakibatkan suhu permukaan air
berasal dari sisi supply di mana dapat terjadi
laut berubah, sehingga mempengaruhi pola
penurunan jumlah tangkapan yang dihasilkan
kehidupan ikan. Perubahan suhu akan mem- Jember. Fokus penelitian ini ditetapkan di
pengaruhi zona upwelling (tempat mencari wilayah laut selatan Jatim tepatnya adalah
makan) ikan dapat mengakibatkan tidak hanya Kabupaten Jember. Kabupaten Jember dipilih
penurunan, tetapi juga pergeseran populasi sebagai daerah penelitian dikarenakan bebe-
spesies ikan ke laut yang lebih dingin atau rapa alasan. Alasan pertama adalah selama 15
panas. Selain itu terjadinya fenomena tersebut tahun terakhir terhitung dari tahun 1998 sam-
juga mengakibatkan kenaikan gelombang yang pai tahun 2013 hasil tangkapan laut kabupaten
mempengaruhi biaya melaut nelayan. ini cenderung konstan di angka 8000 sampai
Donnelly dan Woodruf (2007) menunjuk- 9000 ton. Alasan kedua diperkirakan kabupaten
kan bahwa terjadinya El Nino atau La Nina ini mempunyai potensi sektor perikanan men-
mempengaruhi terjadinya intensitas badai di capai 40.000 ton per tahun namun potensi
wilayah Atlantik Afrika Barat. Mereka menyim- sektor perikanan yang ada saat ini belum
pulkan bahwa periode badai Atlantik intensi- dimanfaatkan secara optimal (www.DKP
tasnya cenderung meningkat bersamaan dengan Jember.com). Alasan ketiga adalah jumlah nela-
terjadinya El Nino atau La Nina. Terjadinya El yan kabupaten Jember selama 15 tahun terakhir
Nino dan La Nina akan mengakibatkan per- terhitung dari tahun 1998 sampai tahun 2013
ubahan sirkulasi lautan dan menguah habitat cenderung konstan antara 14.000 sampai 15.000
laut (Allison, dkk; 2009). Mereka menemukan dibandingkan wilayah pesisir selatan Jawa
bahwa peningkatan suhu air laut akan mem- Timur lain. Karena hal tersebut menarik untuk
batasi produksi primer, meningkatkan pemutih- dicermati bagaimana pengaruh dampak per-
an karang dan mengurangi keanekaragaman ubahan cuaca ekstrim terhadap kondisi sosial
hayati beberapa ekosistem. Temuan dari Chang, ekonomi nelayan di kabupaten Jember.
dkk (2009) dan Hsieh, dkk (2008) melaporkan
terjadinya peristiwa perubahan suhu air yang METODE PENELITIAN
ekstrim pada wilayah perairan kepulauan
Penghu negara Taiwan bagian selatan meng-
akibatkan kematian ikan laut disekitar wilayah Untuk mengestimasi efek dari perubahan
tersebut. cuaca asing pada kondisi sosial ekonomi
Indonesia merupakan Negara maritime nelayan di kabupaten Jember, maka penelitian
yang diapit oleh dua samudera yaitu samudera ini menggunakan survey lapangan kepada para
pasifik dan samudera hindia. Sehingga ketika nelayan di sana. Metode penarikan sampel
terjadi perubahan suhu dan cuaca ekstirm di dalam penelitian ini menggunakan random
wilayah samudera pasifik akibat El Nino atau La sampling sebanyak 100 nelayan. Untuk memper-
Nina akan meningkatkan tinggi gelombang di kirakan dampak pemanasan global bagi nela-
seluruh laut wilayah Indonesia. Hasil penelitian yan, maka penelitian ini menggunakan model
Kurniawan (2012) menunjukkan bahwa ter- pilihan lokasi (model of locational choice). Karena
dapat korelasi tinggi antara indeks Nino lokasi melaut berpindah-pindah secara random,
dengan peningkatan tinggi gelombang yang maka yang bisa kami lakukan hanya melaku-
terjadi di wilayah perairan Indonesia. Wilayah kan pengukuran asumsi berdasarkan wilayah
perairan Indonesia yang mempunyai korelasi rata-rata mencari ikan sebagai berikut:
tinggi dengan terjadi El Nino dan La Nina 1) Daerah melaut yang dekat dari pantai atau
adalah perairan utara Maluku dan perairan masih terlihat untuk melaut; 2) Daerah melaut
selatan Jawa. Sehingga ketika terjadi El Nino jauh dari pantai tetapi masih di wilayah
dan La Nina dapat diprediksi dua perairan Kabupaten Jember; 3) Daerah melaut di luar
tersebut akan mengalami kenaikan tinggi Kabupaten Jember.
gelombang dari rata-rata tinggi normalnya. Pembagian wilayah tersebut diambil di-
Wilayah pesisir selatan jawa terdiri dari 5 karenakan, tiga kategori tersebut mewakili
provinsi dan 22 Kabupaten. Wilayah pesisir pilihan nelayan di wilayah Kabupaten Jember
selatan jawa yang paling banyak dan paling untuk melakukan pencarian ikan. Untuk
luas dimiliki oleh Provinsi Jawa Timur dengan memilih apakah nelayan memutuskan memilih
8 kabupaten, salah satunya adalah kabupaten

Adaptasi Nelayan Perikanan ... (Nurtjahja Moegni, Ahmad Rizki, Gigih Prihantono) 183
salah satu tiga tempat tersebut, kami meng- berisi informasi terkait tanggal, lokasi dan
asumsikan terdapat dua faktor besar yaitu penggunaan input. Dari data tersebut maka
ekspektasi keuntungan pada pilihan lokasi dan bisa diketahui pola nelayan dalam melakukan
biaya yang harus dikeluarkan. penangkapan ikan. Data tinggi gelombang
Untuk membentuk ekspektasi keuntungan didadapat dari the national oceanic and atmosphe-
pada pilihan lokasi, kami melakukan kalkusi ric administration (NOAA) dan badan meteoro-
berdasarkan keuntungan yang didapat ketika logy klimatologi dan geofisika (BMKG).
nelayan melakukan trip di lokasi tersebut dan
diperbarui oleh informasi tentang berapa lama Efek El Nino dan La Nina Terhadap Tinggi
nelayan sering melakukan trip di daerah terse- Gelombang
but sebelumnya. Perhitungan biaya dihitung Selama periode amatan terhadap data-data
berdasarkan, total cost yang harus dikeluarkan tinggi gelombang laut Kabupaten Jember, kami
nelayan rata-rata setiap kali mereka melakukan melakukan pembagian perhitungan menjadi
trip. Selain itu pemilihan trip juga ditentukan tiga kategori. Kategori pertama adalah perhi-
oleh jenis kapal yang digunakan oleh nelayan. tungan rata-rata tinggi gelombang pada waktu
Model estimasi ekonometri menggunakan model normal tidak terdapat El Nino maupun La Nina.
nested logistik dari kondisi tersebut adalah seba- Kategori kedua adalah rata-rata tinggi
gai berikut: gelombang pada waktu terjadinya El Nino dan
kategori ketiga adalah rata-rata tinggi gelom-
bang pada waktu terjadinya La Nina. Grafik
1)
dari perhitungan tersebut dapat dilihat pada
gambar 1.
Data yang ditunjukkan pada gambar 1
Variabel Vi menggambarkan pilihan nela-
memberikan pesan bahwa terjadinya El Nino
yan untuk melakukan kegiatan menangkap
dan La Nina yang diukur dair tahun terjadinya
ikan atau tidak. Variabel profit menunjukkan
El Nino dan La Nina serta data tinggi gelombang
rata-rata keuntungan pada lokasi-lokasi yang
laut dari BMKG mempengaruhi terciptanya
tersedia diwilayah tersebut. Variabel boat
variasi tinggi gelombang. Data pada gambar,
merupakan variabel dummy tentang perahu
menunjukkan bahwa volatilitas gelombang yang
yang digunakan oleh nelayan. Jika perahu yang
disebabkan oleh El Nino lebih kecil dari pada
digunakan berjenis Jukung maka bernilai nol
gelombang yang disebabkan oleh La Nina.
dan jika bukan jukung maka bernilai 1. TC
Nelayan Kabupaten Jember menghadapi gelom-
adalah variabel yang menunjukkan total biaya
bang tinggi ketika terjadi pada bulan Februari
pada saat nelayan berangkat satu kali melaut.
serta bulan Juli sampai September, pada
Secara keseluruhan, jumlah nelayan yang
periode tersebut gelombang laut di perairan
diamati adalah 100 kapal dan melakukan trip
Jember rata-rata mencapai tinggi lebih dari 2
berpindah adalah sebanyak 12 kali per kapal.
meter. Ketika ketinggian gelombang mencapai
Pengumpulan data menggunakan log book yang

Gambar 1. Rata-rata tinggi gelombang laut Kabupaten Jember

184 Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 15, Nomor 2, Oktober 2014: 182-189
2 meter maka hampir seluruh jenis kapal menunjukkan bahwa angin muson timur di
penangkapan ikan yang sedang berlayar akan wilayah samudera Hinda jauh lebih kuat
terpengaruh (Guide Marine Meteorological selama terjadinya La Nina pada musim dingin
Servce, 2001). 1998/1999 dari pada El Nino pada musim
Kondisi tersebut semakin buruk ketika dingin 1997/1998. Chang, dkk (2009) melapor-
wilayah laut kabupaten Jember terkena anomali kan bahwa kecepatan angin di laut cina selatan
La Nina. Anomali La Nina menyebabkan gelom- meningkat tajam dan berlangsung dalam waktu
bang laut rata-rata mencapai tiga meter pada yang lama selama terjadinya La Nina sehingga
periode April sampai September. Kondisi ini menyebabkan pergeseran arus hangat ke
memiliki konsekuensi yang sangat besar bagi wilayah laut jawa sampai samudera hindia
pencarian ikan bagi nelayan. Nelayan akan yang mengakibatkan penurunan suhu air yang
memerlukan lebih banyak bahan bakar untuk signifikan.
dapat berlayar dengan baik pada saat terjadi- Kondisi perubahan iklim juga berdampak
nya gelombang tinggi. Gelombang tinggi juga pada interaksi antara laut dan udara. Pada
memberikan dampak tidak dapat berlayarnya gambar 2 menunjukkan hasil statistik dari
jukung nelayan (Prihantono,2010). Kenaikan distribusi kekuatan yang lebih dari 6 m/s.
suhu permukaan air laut membawa konsekuensi Periode kecepatan angin yang kuat (6 m/s <)
terjadinya coral bleaching, bergesernya habitat selama terjadinya La Nina berlangsung 8 sampai
dan dapat sampai hilangnya spesies laut. Selain 19 hari dan ketika terjadi El-Nino durasi
dampak langsung terhadap perikanan, mening- waktunya hanya 2-8 hari. Terjadinya kondisi
katnya tinggi gelombang laut berimplikasi pada tersebut, membuat produksi ikan menurun
kegiatan aquaculture dan water supplies masya- yang berujung pada menurunnya pendapatan
rakat pesisir. dan ketahanan pangan, sehingga nelayan men-
cari mata pencaharian alternatif atau menggu-
Efek El Nino dan La Nina Terhadap Ling- nakan teknik memancing yang dapat mengha-
kungan Laut silkan lebih banyak tangkapan tetapi membe-
Terjadinya El Nino dan La Nina menye- bani ekosistem laut (Brashares, 2004).
babkan perubahan suhu air laut yang signifi- Perubahan ekstrim pada lingkungan laut
kan. Meskipun sebagian besar lautan meng- dapat merubah tata cara pengelolaan pesisir
alami suhu air yang tinggi di bawah pengaruh dan stabilitas sosial ekonomi disana. Kondisi
peruabahan iklim, namun kejadian cuaca tersebut membuat pengelolaan perikanan laut
dingin ekstrim juga telah banyak dilaporkan tangkap harus berubah untuk dapat beradap-
dalam beberapa tahun terakhir. Memahami tasi dengan adanya perubahan iklim (Allison,
efek lokal akibat dari perubahan iklim terhadap dkk: 2006; Grafton, 2010 dan Mcilgorm, dkk:
ekosistem laut sangat penting dikarenakan 2010). Namun untuk mengubah kondisi terse-
masyarakat pesisir membutuhkan informasi but, pemerintah daerah belum menyediakan
tersebut. Penelitian dari Kuo dan Ho (2004) langkah-langkah adaptif dan belum terdapat

Gambar 2 Variasi kekuatan angin pada wilayah Pesisir Kabupaten Jember

Adaptasi Nelayan Perikanan ... (Nurtjahja Moegni, Ahmad Rizki, Gigih Prihantono) 185
payung hukum di dalamya. Khususnya peratur- pektasi keuntungan yang akan didapat.
an yang mengatur pengelolaan ekosistem pesi- Variabel boat juga berpengaruh signifikan
sir di mana memang pengaruh perubahan iklim positif terhadap pengambilan keputusan nelayan
tidak dapat dirasakan secara langsung. Untuk dalam menentukan pilihan situs penangkapan
itu yang bisa kami lakukan adalah melakukan ikan. Ketika nelayan mendapatkan informasi
model estimasi dan memperkirakan dampak tentang suatu situs penangkapan, nelayan
kesejahteraannya agar memperkuat argumen- mempertimbangkan jenis kapal yang mereka
tasi perlu yang memerlukan mitigasi terhadap punya. Semakin kapal tersebut memiliki kapa-
perubahan iklim. sitas gross ton yang lebih besar maka semakin
besar kemungkinan para nelayan berpindah
HASIL DAN PEMBAHASAN situs mengikuti informasi yang ada. Kondisi ini
juga menjelaskan bahwa semakin tinggi tekno-
Masalah empiris yang harus dipecahkan logi yang digunakan maka nelayan akan lebih
ketika terjadi perubahan iklim, bagaimana mampu beradaptasi terhadap kondisi per-
perubahan perilaku nelayan dalam melakukan ubahan iklim. Variabel TC (Total Cost) membe-
kegiatan melaut. Untuk mengatasi hal tersebut rikan gambaran negatif terhadap keputusan
maka digunakanlah pengukuran tempat alter- nelayan dalam menentukan pilihan situsnya.
natif tangkapan yang disusun berdasarkan tiga Dapat dilihat pada ketiga model, bahwa nilai
alternatif. Pada model pertama diasumsikan negatif variabel TC paling besar pada model no
bahwa nelayan dapat memperbarui harapan updating, hal ini memberikan indikasi bahwa
mereka untuk kembali ke tempat tangkapan kemungkinan besar nelayan tidak mau kembali
meskipun mereka mempunyai pengalaman ke situs yang tidak menghasilkan dikarenakan
bahwa tempat tersebut tidak memberikan hasil biaya untuk kembali lebih besar, meskipun
yang tangkapan yang bagus (updating). Dalam mereka mendapat informasi tambahan bahwa
model berikutnya, diasumsikan bahwa nelayan situs tersebut memiliki panen ikan yang besar
tidak akan kembali ke tempat penangkapan pada saat ini.
yang tidak memberikan hasil tangkapan yang
bagus dalam jangka satu bulan. Model terakhir
Tabel 1. Hasil Empiris Model Nested Logistik
adalah “mixed model” di mana asumsi yang
digunakan nelayan selalu melakukan update Updating No Mixed
informasi untuk mendapatkan harapan pada Updating

hasil yang diperoleh. Bisa saja nelayan tersebut Sprofit 0,03473 0,0083 0,00573
(18,273)** (14,821)** (15,102)**
datang pada situs memancing yang tidak
Boat 0,1372 0,6681 0,0834
menghasilkan dalam waktu dekat atau nelayan
(11,912)** (24,891)** (20,356)**
tersebut mendengar informasi dari nelayan lain
TC -0,427 -0,735 -0,524
dan kemudian mendatangi lokasi yang tidak (32,283)* (39,101)** (41,621)*
menghasilkan pada saat sedang berada di
Site Pseudo R2 0,68 0,54 0,73
tengah laut.
Tabel 1 menunjukkan hasil estimasi kepu- Fishery/Target 0,42 0,37 0,52
Pseudo R2
tusan nelayan pada pilihan situs perikanan
Percentage of 62,6 64,1 72,7
untuk masing-masing model menunjukkan ting-
Choice
kat signifikan sebesar 0,05. Tanda pada koefi- Occasions
sien pada semua variabel sesuai dengan teori Correctly
yang ada. Secara khusus variabel Sprofit mem- Predicted
punyai efek positif meningkatkan probabilitas * t-statistic value significant in level 0,05
keputusan nelayan pada ketiga tempat tersebut.
Hal tersebut mempunyai arti bahwa keputusan
nelayan untuk memilih kembali, tidak kembali Uji tambahan dari model tersebut adalah
atau nanti kembali dalam waktu dekat pada kemampuan prediksi model dalam mempre-
suatu situs ditentukan oleh seberapa besar eks- diksi keputusan nelayan dalam memilih. Dari
hasil R2 memperlihatkan bahwa mixed model

186 Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 15, Nomor 2, Oktober 2014: 182-189
memiliki persentase tertinggi dalam mempre- masih di wilayah Kabupaten Jember dapat
diksi perubahan tersebut. Kondisi ini menun- diberikan bantuan subsidi antara Rp17.420
jukkan bahwa adaptasi nelayan dalam era sampai Rp34.810. Untuk nelayan yang melaut
perubahan iklim ini adalah melakukan perhi- di luar wilayah Kabupaten Jember dapat diberi-
tungan-perhitungan yang lebih rasional dalam kan bantuan subsidi antara Rp21.250 –
menentukan keputusan untuk menangkap ikan Rp49.800.
disuatu situs. Para nelayan akan mengelola Bentuk dari subsidi tidak hanya berupa
informasi baik dari ekspektasi keuntungan uang tunai, tetapi lebih pada subsidi barang.
yang diperoleh, kapal yang digunakan dan biaya Seperti harga bahan bakar nelayan yang
yang harus dikeluarkan ketika terjadi tambahan diberikan subsidi untuk pembeliannya, sehingga
informasi tentang suatu situs. Ketika pertim- kondisi tersebut lebih efektif dalam mengu-
bangan tiga variabel tersebut dirasa masih dapat rangi biaya melaut nelayan akibat cuaca
mendatangkan keuntungan, para nelayan akan ekstrim.
pergi ke suatu situs yang diinformasikan meski- Penelitian menunjukkan bahwa langkah-
pun berdasarkan pengalaman mereka sebelum- langkah adaptif harus dilakukan dengan meli-
nya situs tersebut tidak memberikan keuntung- hat perilaku nelayan dalam melaut. Sebagai
an yang lebih. contoh, bahwa nelayan yang cenderung mene-
Berdasarkan model pada tabel 1 maka tap dalam mencari ikan di suatu tempat dengan
dapat diperkirakan perkiraan subsidi yang nelayan yang sering berpindah disuatu tempat
dapat diberikan akibat terjadinya dampak harus dibedakan cara penangannya. Selain itu
perubahan iklim pada masing-masing model. kapal dengan kapasitas GT yang kecil dengan
Perkiraan nilai subsidi diukur dalam mata uang kapasitas GT besar juga harus dibedakan cara
Rupiah untuk sekali melaut. Hasil estimasi penangannya. Dilihat dari sisi lingkungan,
tingkat kesejahteraan secara lengkap dapat penelitian ini menyarankan perlunya pengelo-
dilihat pada tabel 2. laan sumber daya perikanan berbasis ekosis-
tem, dengan menyediakan data dan melakukan
edukasi pada nelayan tentang ketahanan
Tabel 2. Estimasi Besarnya Subsidi Akibat biofisik laut dan dampaknya bagi kehidupan
Perubahan Iklim sosial-ekonomi mereka (Mcilgrom dkk, 2010).
Updating No Mixed Bentuk dari pengurangan dampak perubahan
Updating iklim/cuaca yang ekstrim adalah membentuk
Melaut sebuah unit teknis sebagai “Pusat Monitoring
Dekat Rp. 19.340 Rp. 15.000 Rp. 25.270 Lingkungan”. Di dalamnya berisi informasi
Pantai biofisik laut, sosial-ekonomi nelayan dan peme-
Melaut rintah. Penjabaran dari konsep tersebut ditam-
Wilayah Rp. 26.820 Rp. 17.420 Rp. 34.810 pilkan pada gambar 3.
Jember
Pusat monitoring lingkungan mempunyai
Melaut inti manfaat pada ketersediaan data biofisik
Luar
Wilayah
Rp. 36.715 Rp. 21.250 Rp. 49.800 lautan untuk membantu nelayan dalam meng-
Jember ambil keputusan melaut. Pusat monitoring
lingkungan ini dalam cara kerjanya terdiri dari
tiga langkah terpisah. Langkah pertama adalah
Secara keseluruhan, perhitungan model mengkoordinasikan pengumpulan data ling-
menghasilkan suatu estimasi bagi nelayan di kungan, cuaca dan biofisik lautan. Langkah
Kabupaten Jember perlu diberikan subsidi kedua adalah melakukan identifikasi potensi
untuk menutupi keuntungan yang hilang anomali iklim berdasarkan informasi dari data
akibat dampak perubahan iklim. Untuk nelayan yang didapat. Langkah ketiga adalah membuat
yang wilayah melautnya dekat pantai dapat keputusan adaptif pada tingkat pemerintah
diberikan bantuan subsidi antara Rp15.000 daerah. Kemudian sumber daya manusia pada
sampai Rp25.270 untuk setiap melaut. Untuk Pusat Monitoring Lingkungan melakukan edu-
nelayan yang melaut jauh dari pantai tetapi kasi atau pengumuman kepada nelayan terkait

Adaptasi Nelayan Perikanan ... (Nurtjahja Moegni, Ahmad Rizki, Gigih Prihantono) 187
Gambar 3. Flowchart manfaat pusat monitoring lingkungan sebagai pertimbangan nelayan
dalam memutuskan berlayar

peristiwa anomali iklim, sehingga nelayan membangun Pusat Monitoring Lingkungan


dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memberikan peringatan bagi para
untuk menanggapi peristiwa tersebut. nelayan tentang kondisi biofisik laut saat ini,
sehingga menghindarkan mereka dari kerugian.

SIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Dampak perubahan iklim pada ekosistem
laut dapat berpengaruh terhadap sektor Allison EH, Perry AL, Badjeck MC, Adger WN,
perikanan laut tangkap. Akibat yang Brown K, Conway D. (2009). Climate
ditimbulkan bagi kehidupan sosial ekonomi change and fisheries: a comparative anal-
nelayan adalah meningkatnya biaya melaut dan ysis of the relative vulnerability of 132
berubahnya perilaku melaut nelayan. countries. Fish Fish, Vol 10(2): 173–96.
Berdasarkan hasil estimasi model secara Allison EH, Horemans B. (2006). Putting the
keseluruhan, memperlihatkan bahwa perilaku principles of the sustainable livelihoods
nelayan menangkap ikan akan berpindah approach into fisheries development pol-
tempat berdasarkan informasi yang selalu icy and practice. Mar Policy Vol 30(6): 757–
diperbaruhi. Namun nelayan tidak mengetahui 66
apakah informasi yang mereka terima dapat
Brashares J, Arcese P, Sam M, Coppolillo P, Sin-
benar-benar memberikan keuntungan pada
clair A, Balmford A.(2004) Bushmeat,
mereka atau malah merugikan. Untuk itu
hunting, wildlife declines, and fish supply
pemerintah daerah perlu melakukan langkah-
in West Africa. Science Vol 306:1180–3.
langkah adaptif baik dalam jangka pendek
maupun dalam jangka panjang. Untuk jangka Chang Y, Lee KT, Lee MA, Lan KW. (2009) Sat-
pendek pemerintah daerah perlu memberikan ellite observation on the exceptional in-
subsidi biaya melaut pada nelayan yang trusion of cold water in the Taiwan Strait.
disesuaikan dengan kategori mereka. Dalam Terr Atmos Oceanic Sci Vol 20(4): 661–9.
jangka panjang pemerintah daerah dapat Donnelly JP, Woodruff JD. (2007). Intense hur-
ricane activity over the past 5, 000 years

188 Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 15, Nomor 2, Oktober 2014: 182-189
controlled by El Niño and the West Afri- in the Taiwan Strait. Geophys Res Lett Vol
can monsoon. Nature 447 : 465–468. 31: L13309.
Grafton RQ. (2010). Adaptation to climate McIlgorm A, Hanna S, Knapp G, Floc 0 HP,
change in marine capture fisheries. Mar Millerd F, Pan M. (2010). How will cli-
Policy Vol 34: 606–15. mate change alter fishery governance? in-
Hsieh HJ, Hsien YL, Tsai WS. (2008). Tropical sights from seven international case
fishes killed by the cold. Coral Reefs Vol studies. Mar Policy Vol 34: 170–7.
27(3) : 599.
Kurniawan, Roni. (2012). Karakteristik gelom-
bang laut dan daerah rawan gelombang
tinggi di perairan Indonesia. Tesis: Uni-
versitas Indonesia. Tidak Dipublikasikan.
Kuo NJ, Ho CR. (2004) ENSO effect on the sea
surface wind and sea surface temperature

Adaptasi Nelayan Perikanan ... (Nurtjahja Moegni, Ahmad Rizki, Gigih Prihantono) 189