Anda di halaman 1dari 20

BAB IV

TINJAUAN LOKASI PERANCANGAN

4.1. Tinjauan umum lokasi perancangan


4.1.1 Gambaran umum kota Ambon

Kota Ambon atau Amboina atau Ambonesse (kadang dieja sebagai


Ambong atau Ambuni) adalah sebuah kota dan sekaligus ibu kota dari
provinsi Maluku, Indonesia. Kota ini dikenal juga dengan nama Ambon
Manise yang berarti kota Ambon yang indah/manis/cantik, merupakan
Kota terbesar di wilayah kepulauan Maluku dan menjadi sentral bagi
wilayah kepulauan Maluku. Saat ini kota Ambon menjadi pusat pelabuhan,
pariwisata dan pendidikan di wilayah kepulauan Maluku.

Letak kota Ambon berada sebagian besar dalam wilayah pulau Ambon
dan secara geografis terletak pada posisi 3°-4° Lintang Selatan dan 128°-
129° Bujur Timur, dimana secara keseluruhan Kota Ambon berbatasan
dengan Kabupaten Maluku Tengah.

112
Gambar 4.1 Wilayah administrasi kota Ambon dengan 5 Kecamatan
(sumber : BAPPEKOT Kota Ambon, 2014)
Tabel 4.1 Letak dan batas wilayah kota Ambon
Kota Letak Posisi Batas Wilayah
Ambon 3°-4° LS (Lintang Sebelah Utara, dengan :
Selatan) Petuanan desa Hitu, Hila,
Kaitetu, Kecamatan
Leihitu, Kabupaten
Maluku Tenga
128° - 129° BT (Bujur Sebelah Selatan dengan
Timur) : Laut Banda
Sebelah Timur dengan :
Petuanan Desa Suli,
Kecamatan Salahutu
Kabupaten Maluku
Tengah
Sebelah Barat, dengan :
Petuanan Desa Hatu,
Kecamatan Leihitu Barat
kabupaten Maluku
Tengah.
(Sumber : Ambon dalam angka 2016)

113
Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1979 luas wilayah Kota
Ambon seluruhnya 377 km2 dan berdasarkan hasil Survey Tata Guna
Tanah tahun 1980 luas daratan Kota Ambon tercatat 359,45 km2. Sesuai
Perda Kota Ambon Nomor 2 Tahun 2006, Kota Ambon memiliki 5
kecamatan dengan luas masing-masing :
Tabel 4.2 Tabel Luas Daratan Kota Ambon menurut kecamatan
Kecamatan Luas Area (Ha)
Kecamatan Nusaniwe 8.834,30
Kecamatan Sirimau 8.681,32
Kecamatan Teluk Ambon 9.368,00
Kecamatan Teluk Baguala 4.011,00
Kecamatan Leitimur Selatan 5.050
(Sumber : Ambon dalam angka 2016)

4.1.2 Kondisi fisik kota Ambon


1. Topografi
Kota Ambon terletak di Pulau Ambon adalah bagian dari
kepulauan Maluku yang merupakan pulau-pulau busur vulkanis,
sehingga secara umum Kota Ambon memiliki wilayah yang
sebagian besar terdiri dari daerah berbukit dan berlereng.
Kondisi Topografi wilayah Kota Ambon, meliputi wilayah daratan
berbukit sampai berlereng terjal dengan kemiringan di atas
20%, sebesar 73% wilayah; sedangkan wilayah daratan lainnya
yang cenedrung datar atau landai dengan kemiringan kurang dari
20% sebesar 17% wilayah; serta sisa sekitar 10% adalah
pantai, pesisir dan teluk.
Keadaan topografi Kota Ambon secara umum dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
a. Topografi relatif datar dengan ketinggian 0-100 meter dan
kemiringan 0-10% terdapat di kawasan sepanjang pantai
dengan radius antara 0-300 meter dari garis pantai.

114
b. Topografi landai sampai miring dengan ketinggian 0-100
meter dan kemiringan 10-20% terdapat pada kawasan yang
lebih jauh dari garis pantai (100 meter kearah daratan).
c. Topografi bergelombang dan berbukit terjal dengan ketinggian
0-100 meter dan kemiringan 20-30% terdapat pada kawasan
perbukitan.
d. Topografi terjal dengan ketinggian lebih dari 100 meter
dan kemiringan lebih dari 30% terdapat pada kawasan
pegunungan.

Gambar 4.2 Peta Topografi Kota Ambon


(sumber : BAPPEKOT Kota Ambon, 2014)

115
Tabel 4.3 Lokasi pengelompokkan Wilayah daratan di Kota Ambon
Area
Luas Persentase
No Lokasi Ketinggian Kemiringan 2
(km ) (%)
(m) (°)
Pusat kota dan
sekitarnya (sebagian
1. 0-50 3.36 13,50 5,44
petuanan Amahusu
sampai Latta)
Rumah Tiga dan
2. 0-50 3,18 4,50 5,57
sekitarnya
3. Passo dan sekitarnya 0-50 3,00 14,75 4,74
4. Laha dan sekitarnya 0-50 3,93 4,25 6,18
Hutumuri dan
5. 0-50 6,16 4,25 9,70
sekitarnya
0-50 5,66 3,50 9,91
6. Kilang dan sekitarnya
50-250 6,56 3,25 10,30
Latuhalat dan
7. 0-50 5,40 4,00 8,57
sekitarnya
(sumber : BAPPEKOT Kota Ambon)

2. Iklim
Kota Ambon dipengaruhi oleh 2 Iklim yaitu Iklim Tropis dan
Iklim Musim. Kota Ambon dipengaruhi oleh Iklim tropis karena
letaknya di sekitar Garis Katulistiwa, dengan penyinaran matahari
sepanjang tahun. Kota Ambon dipengaruhi oleh Iklim Musim karena
berada dikelilingi lautan yang dapat mengalami perubahan tekanan
udara.
Iklim musim yang terjadi adalah musim Barat atau Utara; dan
musim Timur atau Tenggara. Pergantian musim selalu diselingi
oleh musim Pancaroba yang merupakan transisi dari kedua
musim tersebut. Musim Barat umumnya berlangsung dari bulan
Desember sampai bulan Maret, dimana bulan April merupakan
masa transisi ke musim Timur. Sedangkan musim Timur

116
berlangsung dari bulan Mei sampai bulan Oktober, dimana bulan
Nopember merupakan masa transisi ke musim Barat.
Klasifikasi iklim di Kota Ambon tergolong tipe iklim B menurut
Schmidth dan Ferguson (1951), yang dicirikan oleh rataan bulan
kering (curah hujan < 60 mm) adalah 1,67 bulan dan bulan
basah (curah hujan > 100 mm) adalah 9,58 bulan dengan nilai Q
sebesar 17,4%.
Selama tahun 2008 - 2012, curah hujan tahunan tertinggi di Kota
Ambon terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 5.041,2mm dengan
226 hari hujan di atas 200 mm terjadi pada bulan Maret, Mei
hingga September, seiring dengan berlangsung Musim Timur
dengan curah hujan tertinggi di bulan Juni (1.252,1mm). Pada sisi
lain, rata-rata bulan kering (musim panas) dengan curah hujan di
bawah 200 mm, terjadi dari bulan Oktober hingga Maret seiring
dengan berlangsungnya Musim Barat, dengan curah hujan
terendah di bulan November (24,5mm).

Gambar 4.3 Curah hujan di Kota Ambon tahun 2008-2012


(sumber : Stasiun Meteorologi Ambon melalui BPS tahun 2015)

Data Stasiun Meterologi Ambon mencatat bahwa antara tahun


2008-2012, suhu di Kota Ambon rata-rata adalah 26,2ºC,

117
dengan kisaran suhu minimum adalah 23,7ºC dan suhu maksimal
29,7ºC. Pada sisi lain, rata-rata kelembaban adalah 86%, rata-
rata lama penyinaran matahari adalah 54,6% dan rata-rata tekanan
udara adalah 1.009,8 MB.
Selama tahun 2014, curah hujan bulanan tertinggi di Kota Ambon
terjadi pada bulan Agustus yaitu sebesar 448 mm dengan 30
hari hujan
Penyinaran matahari tertinggi terjadi pada bulan Nopember
sebesar 83%. Pada sisi lain, rata-rata bulan basah (musim
hujan) dengan curah hujan di atas 200 mm terjadi pada bulan
Januari, Mei hingga Agustus seiring dengan berlangsungnya
Musim Timur, sedangkan bulan kering (musim panas) dengan
curah hujan di bawah 200 mm terjadi dari bulan Pebruari sampai
April dan September sampai bulan Desember seiring dengan
berlangsungnya Musim Barat, dimana curah hujan terendah di
bulan November (32 mm) dengan 10 hari hujan.
Pada Tahun 2014, suhu rata-rata di Kota Ambon adalah 27,5ºC
dengan kisaran suhu minimum adalah 23,0ºC dan suhu maksimum
adalah 32,6ºC. Rata-rata kelembaban nisbi adalah 83,6%; rata-
rata lama penyinaran matahari adalah 58,6%, dan rata-rata
tekanan udara adalah 1.011,4 MB.

Gambar 4.4 Curah hujan di Kota Ambon tahun 2014


(sumber : Stasiun Meteorologi Ambon tahun 2015)

118
4.1.3 Aspek Kependudukan, Sosial Dan Budaya
1. Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk
Jumlah penduduk Kota Ambon pada pertengahan tahun 2015
berjumlah 411.617 jiwa. Jika dibandingkan dengan jumlah
penduduk pada tahun 2014 meningkat sebesar 4,10 %.
Penduduk masih terkonsentrasi di Kecamatan Sirimau dengan
tingkat kepedatan penduduk sebesar 2.005 jiwa per km2.
Sementara itu Kecamatan yang paling jarang penduduknya adalah
Kecamatan Leitimur Selatan dengan tingkat kepadatan penduduk
yang hanya sebesar 231 jiwa per km2

Gambar 4.5 Jumlah penduduk kota Ambon menurut kelompok


umur dan jenis kelamin, 2015
(sumber : Kota Ambon dalam angka 2016)

119
Tabel 4.4 Luas Wilayah Daratan, jumlah penduduk, rasio jenis kelamin
dan kepadatan penduduk di kota Ambon dirinci per kecamatan, 2015

Luas Daratan Jumlah Penduduk


Kepadatan
Kecamatan penduduk
(km2) % L P J tiap km2

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Nusaniwe 88,35 24,58 55.020 56.651 111.671 1.264

Sirimau 86.81 24.15 86.753 87.292 174.045 2.005

Teluk Ambon 93,68 26,06 24.347 23.430 47.777 510

T.A. Baguala 40,11 11,16 33.776 32.676 66.442 1.656

Leitimur Selatan 50,50 14,05 5.798 5.884 11.682 231

(Sumber : Ambon dalam angka 2016)


2. Pendidikan
Keberhasilan pendidikan tentunya diiringi dengan peningkatan
sarana dan prasarana yang bisa menunjang baik dari pemerintah
maupun swasta.
Pada tahun 2015, di Kota Ambon terdapat 85 TK dengan 3.780
murid dan 336 guru; SD/MI sebanyak 211 sekolah dengan 41.217
murid dan 3.079 guru; SLTP/MTs sebanyak 57 sekolah dengan
jumlah murid 19.502 orang dan guru 1.698 orang; SMU/MA
berjumlah 40 sekolah dengan 16.516 siswa dan 1.248 guru
sedangkan SMK berjumlah 18 sekolah dengan 5.680 siswa dan
777 guru. Kecamatan Sirimau adalah kecamatan dengan
persebaran fasilitas pendidikan yang paling banyak.
Di kota Ambon juga terdapat beberapa perguruan tinggi
diantaranya Akademi Keperawatan, Politeknik Kesehatan,
Politeknik Negeri, Universitas Pattimura, Universitas Kristen
Indonesia Maluku, Institut Agama Islam Negeri Ambon, Sekolah

120
Tinggi Ilmu Administrasi Trinitas dan Sekolah Tinggi Agama Kristen
Protestan.
Total mahasiswa aktif semua perguruan tinggi di Kota Ambon
selama tahun 2013 berjumlah 30.076 orang, dengan jumlah lulusan
sebanyak 3.723 orang.
Tabel 4.5 Banyaknya sekolah, murid dan guru serta rata-rata murid dan
guru Sekolah Menengah Umum (SMU) menurut Kecamatan di Kota
Ambon 2015
Murid Guru
Kecamatan Sekolah Laki-
Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah
laki
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Nusaniwe 9 1.420 1.267 2.687 81 211 292


Sirimau 13 3.661 3.984 7.645 123 307 430
Teluk Ambon 5 969 890 1.859 42 128 170
T.A. Baguala 6 1.606 1.531 3.137 77 176 253
Leitimur
2 142 142 284 14 21 35
Selatan
(Sumber : Ambon dalam angka 2016)

Tabel 4.6 Banyaknya sekolah, murid dan guru serta rata-rata murid dan
guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menurut Kecamatan di Kota
Ambon 2015
Murid Guru
Kecamatan Sekolah Laki-
Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah
laki

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)


Nusaniwe 3 1.097 229 1.326 83 86 169
Sirimau 6 567 651 1.218 47 168 215
Teluk Ambon 3 258 465 723 21 76 97
T.A. Baguala 5 1.366 963 2.329 114 159 273
Leitimur
1 62 22 84 15 8 23
Selatan
(Sumber : Ambon dalam angka 2016)

121
Tabel 4.7 Banyaknya sekolah, murid dan guru serta rata-rata murid dan
guru Madrasah Aliyah (MA) menurut Kecamatan di Kota Ambon 2015
Murid Guru
Kecamatan Sekolah Laki-
Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah
laki

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)


Nusaniwe - - - - - - -
Sirimau 4 410 494 904 26 42 68
Teluk Ambon - - - - - - -
T.A. Baguala - - - - - - -
Leitimur
- - - - - - -
Selatan
(Sumber : Ambon dalam angka 2016)

4.1.4 Tinjauan Tata Ruang Wilayah Kota Ambon


1. Satuan Wilayah Pengembangan (SWP)
Satuan Wilayah Pengembangan adalah wilayah yang secara
geografis dan administrasi dikelompokan berdasarkan potensi dan
sumber daya untuk pengembangannya. Berdasarkan potensi lokasi
dan kecenderungan perkembangan di Kota Ambon telah terbentuk
sentra-sentra kegiatan yang cukup dominan yaitu : pusat
pemerintahan, pusat perdagangan dan Jasa, pusat perhubungan
antar wilayah, pusat pendidikan tinggi, pusat aktivitas wisata dan
sejenisnya. Mengingat pola perkembangan Kota Ambon yang linier
mengikuti pesisir dan dengan kondisi keterbatasan lahan
bertopografi datar-landai, maka secara spesifik Kota Ambon
cenderung membentuk struktur ruang dengan pusat-pusat
pelayanan utama kota yang tersebar linier berbaur dengan
beberapa pemusatan fungsi kegiatan tersebut. Beberapa
pemusatan fasilitas dan pemukiman terletak jauh dari pesisir ke

122
Gambar 4.6 Peta Pembagian SWP Kota Ambon
(sumber : Bappekot Ambon)

2. Rencana Satuan Wilayah Pengembangan


Prinsip pembagian wilayah pelayanan adalah merata, dan optimasi
pengembangan sentra kegiatan yang ada saat ini. Masing-masing
Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) ditetapkan dengan
kesatuan fungsi, terdapat batas-batas yang jelas dari batas
administrasi atau batas fisik, dan membutuhkan kesatuan
pengelolaan. Aspek yang membatasi pengembangan ruang Kota
Ambon di antaranya adanya Bandara Pattimura di Laha dan
standar keselamatan operasional penerbangan sehingga kawasan
dalam radius pembatasan kegiatan tersebut , dalam struktur ruang
Kota Ambon disebut sebagai SWP Kawasan Khusus yang
mencakup sekitar Laha dan Tawiri. Masing-masing SWP adalah
sebagai berikut :

123
a. SWP I Pusat Kota
Kawasan Pusat Kota dan sekitarnya, yaitu mulai dari Taman
Makmur di sebelah barat sampai Galala di sebelah timur,
sebagian kawasan teluk Ambon di utara dan di bagian selatan
batas kelurahan Kudamati, Kelurahan Batu Gajah, Kelurahan
Batu Meja, Negeri Soya, Kelurahan Karang Panjang, Negeri
Batu Merah terus ke selatan Negeri Galala. SWP 1 adalah
sebagai SWP tersendiri dengan satu kesatuan fungsional
sebagai pemusatan fungsi pelayanan kota primer. Hampir
seluruh SWP ini merupakan kawasan perkotaan dengan fungsi
pemerintahan, komersial, perdagangan, dan jasa serta
permukiman. Batas SWP diintegrasikan dengan wilayah
perairan/ teluk mengingat peran wilayah perairan terkait erat
dengan keberadaan pelabuhan laut pada kawasan ini. SWP
Pusat Kota ini memiliki potensi lahan datar yang relatif luas,
sentral dalam arti memiliki akses tinggi ke seluruh kota dan
adanya kelengkapan prasarana dan sarana kota. Luas SWP
Pusat Kota adalah sekitar 4.259,67 Ha.

Gambar 4.7 Gereja Maranatha


(sumber : twitter.com/sapmawatijen)

124
Gambar 4.8 Masjid Raya Al Fatah
(sumber: artikel.masjidku.id)

Gambar 4.9 Ambon Plasa


(sumber: siapaindra.wordpress.com)

Gambar 4.10 Balai Kota


(sumber: wikimapia.org)

125
b. SWP II Passo
Kawasan Passo dan sekitarnya dengan wilayah pelayanan
cukup meluas hingga mencakup Teluk Ambon Dalam (TAD)
sebagai satu kesatuan mengingat pengembangan Passo ke
depan dan kelestarian TAD sangat erat terkait dan
membutuhkan keterpaduan pengelolaan dan pembangunan.
SWP 2 Passo di sebelah timur berbatasan dengan Teluk
Baguala, sebelah barat dengan Desa Poka dan Negeri Galala,
sebelah utara dengan daerah pegunungan dan Kabupaten
Maluku Tengah, serta sebelah selatan dengan Kecamatan
Leitimur Selatan. SWP ini memiliki potensi pertumbuhan yang
tinggi dan menjadi lokasi transit dari wilayah sekitar melalui
pelabuhan laut penyeberangan di Hitu, Liang dan Tulehu. Di
samping itu daerahnya memiliki lahan datar cukup luas, dekat
pantai, dan daya tarik wisata. Luas SWP Passo adalah sekitar
7.164,83 Ha dan berorientasi ke pusat SWP di Passo.

Gambar 4.11 Ambon City Center


(sumber: www.lahanpameran.com)

Gambar 4.12 Pantai Natsepa


(sumber: www.jalan2liburan.com)

126
c. SWP III Wayame
Kawasan Rumah Tiga-Poka-Wayame dan sekitarnya, mulai
dari Desa Poka di sebelah timur terus sampai ke Negeri Tawiri
di sebelah barat, daerah pegunungan dan kabupaten Maluku
Tengah di utara, dan sebagian kawasan Teluk Ambon yang
berbatasan langsung dengan SWP 1 di selatan. SWP ini
merupakan satu kesatuan dengan fungsi-fungsi pendidikan
tinggi, penelitian, pemukiman, wisata, perikanan dan kawasan
budidaya pertanian. SWP ini meliputi pula wilayah perairan/
teluk sebagai satu kesatuan dengan adanya kebutuhan
kesatuan pengelolaan. SWP Rumah Tiga memiliki potensi
pertumbuhan pesat sehubungan dengan lokasinya yang
strategis. Penataan di sekitar jembatan Galala-Poka sangat
diperlukan oleh karena akan menarik perkembangan berbagai
kegiatan yang muncul dalam memanfaatkan akses yang tinggi
setelah adanya jembatan baru tersebut. Luas SWP Rumah
Tiga-Poka adalah sekitar 7.051,76 Ha dan berorientasi ke pusat
SWP di Poka.

Gambar 4.13 POLTEKNIK Negeri Ambon


(sumber: http://kilasmaluku.fajar.co.id)

127
Gambar 4.14 Universitas Pattimura Ambon
(sumber: http://sp.beritasatu.com)

d. SWP IV Leitimur Selatan


Kawasan Leitimur selatan dengan batas-batas administrasi
kecamatan mulai dari Negeri Hatalai di sebelah barat sampai
Negeri Hutumuri di sebelah timur, Negeri Soya, Negeri Batu
Merah, Negeri Halong, Negeri Passo di Utara, dan laut Banda
di selatan. SWP ini adalah satu kesatuan wilayah
pengembangan dengan kesamaan karakteristik sebagai
kawasan berbukit bergunung. Akses yang menghubungkan
SWP ini adalah linier mengitari wilayah selatan yaitu ke arah
barat dan ke arah timur untuk mencapai pusat primer kota.
Sebagian besar SWP ini adalah merupakan kawasan kebun
campuran dan hutan sekunder. Potensi yang tersimpan pada
SWP ini adalah kebun campuran yang menghasilkan buah-
buahan, pohon kayu putih (Melaleuca Leucadendron) penghasil
minyak kayu putih, serta potensi perikanan dan pariwisata.
Luas SWP Leitimur Selatan adalah sekitar 6.513,10 Ha dan
berorientasi ke pusat SWP di Negeri Leihar

128
Gambar 4.15 Pantai Hukurila
(sumber: http://sp.beritasatu.com)

e. SWP V Amahusu - Latuhalat


Kawasan di ujung Barat Jazirah Leitimur yang termasuk
sebagian Kecamatan Nusaniwe. SWP ini merupakan kesatuan
kawasan berfungsi sebagai daerah tujuan pariwisata bahari dan
perikanan, berorientasi ke laut dan akses ke kawasan pusat
kota. Selain itu SWP ini juga mempunyai potensi industri bahan
bangunan di antaranya batu bata dan kapur. Sebagian besar
SWP adalah kawasan hutan dan kebun campuran diselingi
dengan kawasan industri kecil dan pariwisata. Kawasan ini
relatif berada menjorok ke Laut Banda, sehingga cukup
beresiko terhadap bencana tsunami. Luas SWP 5 adalah
sekitar 4.042,92 Ha serta berorientasi ke pusat SWP di Negeri
Latuhalat

Gambar 4.16 Pantai Latuhalat


(sumber: http://sp.beritasatu.com)

129
Gambar 4.17 Pintu Kota
(sumber: http://sp.beritasatu.com)

f. SWP Kawasan Khusus Bandara


Di dalam pekerjaan penyusunan RTRW Kota Ambon dimana di
dalamnya terdapat kawasan bandar udara, hal ini menjadi
pertimbangan khusus mengingat kawasan ini memiliki
ketetapan tersendiri. Keselamatan penerbangan di Bandar
Udara Pattimura Ambon akan sangat dipengaruhi oleh
lingkungan yang ada. Oleh karena itu, selain mempersiapkan
fasilitas-fasilitas serta sarana dan prasarana yang memadai
bagi keselamatan penerbangan, dibutuhkan pula peran
pemerintah untuk menjalankan fungsi regulasi terhadap
Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan terutama
dari sisi penataan ruang agar dibatasi pengembangannya
sehingga tidak ada bangunan yang nantinya akan mengganggu
aktivitas lalulintas udara di Bandar Udara Pattimura Ambon.
SWP ini membentang dari Negeri Laha, Negeri Tawiri,
Kompleks Bandar Udara Pattimura ke arah Utara sampai
dengan perbatasan Kabupaten Maluku Tengah dengan luas
sebesar 6.912,72 Ha. Untuk lebih jelasnya lokasi pembagian
SWP di atas dapat dilihat pada Peta Satuan Wilayah
Pengembangan.

130
Gambar 4.18 Bandar Udara Pattimura
(sumber: wikimapia.org)

4.1.5 Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang


1. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) maksimum
a. KDB untuk kawasan sarana pelayanan umum kepadatan
rendah maksimum sebesar 25%
b. KDB kawasan sarana pelayanan umum kepadatan sedang dan
tinggi, dengan aksesibilitas yang baik ke jalan raya dan pusat-
pusat pelayanan, maksimum sebesar 60%
2. Koefisien Lantai Bangunan (KLB)
a. KLB untuk kawasan sarana pelayanan umum kepadatan rendah
maksimum 0.5
b. KLB untuk kawasan sarana pelayanan umum kepadatan
sedang dan tinggi dengan aksesibilitas yang baik ke jalan raya
dan pusat-pusat pelayanan, maksimum 1,2
3. Koefisien Dasar Hijau (KDH)
a. KDH minimal 30% dari keseluruhan luas lahan sarana
pelayanan umum.
b. Setiap 100 m2 RTH diharuskan minimum ada 1 pohon tinggi
dan rindang

131