Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN


TERMINAL

Oleh :
NI LUH NILAM SHANTI CAHYANI
(P07120215033)
DIV-KEPERAWATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
TAHUN AJARAN 2015/2016

Halaman
0
LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERMINAL

A. Pengertian Penyakit Terminal

Keadaan Terminal adalah suatu keadaan sakit dimana menurut akal sehat tidak
ada harapan lagi bagi si sakit untuk sembuh. Keadaan sakit itu dapat disebabkan oleh
suatu penyakit atau suatu kecelakaan. Kondisi terminal adalah suatu proses yang
progresif menuju kematian berjalan melalui suatu tahapan proses penurunan fisik,
psikososial dan spiritual bagi individu (Kubler-Ross, 1969).

B. Tanda dan gejala

Ciri – Ciri Penyakit Terminal

a. Penyakit tidak dapat disembuhkan


b. Mengarah pada kematian
c. Diagnosa medis sudah jelas
d. Tidak ada obat untuk menyembuhkan
e. Prognosis jelek
f. Bersifat progresif

Fisik

a. Gerakan pengindraan menghilang secara berangsur – angsur dari ujung kaki


dan ujung jari
b. Aktifitas dari GI berkurang
c. Reflek mulai menghilang
d. Kulit kebiruan dan pucat
e. Denyut nadi tidak teratur dan lemah
f. Nafas berbunyi keras dan cepat ngorok
g. Penglihatan mulai kabur
h. Klien kadang-kadang kelihatan rasa nyeri
i. Klien dapat tidak sadarkan diri

Psikososial

Halaman
1
Sesuai fase-fase kehilangan menurut seorang ahli E.Kubbler Ross mempelajari
respon-respon atas menerima kematian dan maut secara mendalam dan hasil
penelitiannya yaitu :

a. Respon kehilangan

1) Rasa takut diungkapkan dengan ekspresi wajah , keakutan, cara tertentu


untuk mengatur tangan

2) Cemas diungkapkan dengan cara menggerakan otot rahang dan kemudian


mengendor

3) Rasa sedih diungkapkan dengan mata setengah terbuka / menangis

b. Hubungan dengan orang lain

Kecemasan timbul akibat ketakutan akan ketidakmampuan untuk berhubungan


secara interpersnal serta akibat penolakan. Dr.Elisabeth Kublerr-Ross telah
mengidentifikasi lima tahap berduka yang dapat terjadi pada pasien dengan penyakit
terminal :

1) Denial ( Pengingkaran )

Tidak percaya telah terjadi kehilangan. Tidak siap mengatasi masalah praktis,
seperti pasien yang mengalami penyakit terminal tidak siap atau tidak dapat
menerima bahwa dirinya terkena penyakit terminal. Biasanya klien dapat menunjukan
keceriaan palsu sehingga memperlama penyangkalan.

Reaksi pada Fase Denial :

Psikologi

a) Syok
b) Tidak percaya
c) Tidak tahu harus berbuat apa
d) Mengingkari Kenyataan

Halaman
2
Fisik

a) Letih
b) Lemah
c) Pucat
d) Mual
e) Diare
f) Menangis
g) Gangguan Pernafasan
h) Gelisah
i) Detak jantung meningkat

2) Anger ( Marah )

Pada fase ini pasien dapat mengarahkan kemarahan kepada petugas medis atau
perawat yang melakukan kegiatan atau tindakan normal yang tidak mengganggu
mereka.

Reaksi pada fase anger :

Perilaku

a) Agresif
b) Bicara kasar
c) Menyerang orang lain
d) Menolak pengobatan
e) Menuduh dokter atau perawat tidak kompeten

Fisik

a) Muka merah
b) Denyut nadi cepat
c) Gelisah
d) Susah tidur
e) Tangan mengepal

Halaman
3
3) Bargaining (Tawar-Menawar)

Klien berusaha melakukan tawar menawar terhdap penyakitnya, biasanya klien


takut akan kondisinya yang semakin parah dan juga kematian akibat penyakitnya.
Klien mengalami masa ketakutan akibat rasa bersalah atau dosa apabila dia
mengalami kematian akibat penyakit terminalnya.

4) Depretion ( Depresi )

Fase dimana ketika klien mengingat akan kondisi penyakitnya, dan memikirkan
dan mendapatkan tekanan dari kondisinya. Pada fase ini klien biasanya mengingat hal
– hal menarik dalam hidupnya, dan takut kehilangan semua momen atau hal tersebut
apabila klien harus meninggalkan semuanya akibat penyakit terminal yang ia derita.
Klien biasanya cenderung menutup diri, cemas, dan menangis, serta klien dapat
menarik diri dari lingkungan sosial.

Perilaku

a) Menunjukan sikap menarik diri


b) Kadang bersikap sangat penurut
c) Tidak mau bicara
d) Menyatakan keputusasaan
e) Rasa tidak berharga
f) Bisa muncul keinginan bunuh diri

Gejala fisik

a) menolak makan
b) susah tidur
c) letih
d) libido turun

5) Acceptance ( Penerimaan)

Halaman
4
Pada fase ini biasanya klien telah menerima kondisinya. Klien membutuhkan
perhatian dari orang – orang terdekatnya, untuk memotivasi psikologis klien dalam
menghadapi penyakit terminal nya, dan juga menghadapi kematian yang akan terjadi
padanya. Klien juga biasanya telah merencanakan atau menata kehidupannya dalam
kondisinya.

Reaksi pada fase acceptance:

a) Reorganisasi perasaan kehilangan


b) Pikiran tentang objek yang hilang akan mulai berkurang atau hilang beralih
ke objek baru.
c) Menerima kenyataan kehilangan
d) Mulai memandang ke depan.

C. Pathway

Penyakit Terminal

Fase Denial Fase Anger Fase Fase Fase


Bargaining Depresi Acceptance

Syok Marah Tawar Gangguan Menerima


Menawar Hubungan Kondisi
Sosial
Mengingkari Takut Akan
Merasa Mempersiap
Kondisi Dosa
Tidak kan mental
Takut Akan Berharga
Tidak
Kematian
Percaya Penarikan
Diri Dari
Lingkungan
Sosial
Halaman
5
Resiko
Bunuh Diri

Faktor Usia Faktor Faktor Jenis Faktor Tingkat


Lingkungan Kelamin Pendidikan
Sosial dan
Budaya

Faktor Faktor Faktor Lama Faktor Caring


Ekonomi Pengetahuan Rawat Inap Perawat

Ketidak Ketidak
efektifan mampuan
Dukacita Kehilangan
koping koping
keluarga

D. Pengkajian Keperawatan

a. Pengkajian terhadap identitas klien


1) Nama
2) Umur
3) Jenis Kelamin
4) Agama
5) Suku
6) Bangsa
7) Alamat
8) Dx Medis
9) Sumber Biaya
10) Sumber Informasi

Halaman
6
11) No.RM
12) Tanggal Masuk Rumah Sakit
13) Ruangan

b. Pengkajian terhadap identitas penangguang jawab klien (keluarga)


1) Nama
2) Umur
3) Jenis Kelamin
4) Agama
5) Suku
6) Bangsa
7) Alamat
8) Hubungan Dengan Klien

c. Pengkajian terhadap riwayat kesehatan klien


1) Alasan masuk rumah sakit
2) Keluhan utama
3) Kronologi keluhan
4) Riwayat kesehatan masa lalu
5) Riwayat kesehatan keluarga

d. Mengkaji kebutuhan dasar klien berdasarkan teori 14 dasar kebutuhan dasar


manusia
1) Bernapas
2) Makan dan minum
3) Gerak aktivitas
4) Eliminasi
5) Istirahat tidur
6) Kebersihan diri
7) Pengaturan suhu tubuh
8) Rasa aman
9) Rasa nyaman
10) Sosial
11) Prestasi dan produktivitas
12) Rekreasi
13) Belajar
14) Spiritual

Halaman
7
e. Melakukan pemeriksaan fisik pada klien

f. Mengkaji data penunjang klien

g. Mengkaji kondisi keluarga klien dalam menghadapi kondisi klien dan kesiapan
keluarga akan kehilangan klien dengan penyakit terminal yang sulit disembuhkan :

1) Fase Denial
Perawat dapat mengkaji gejala pada tahap denial (penolakan) yang ditunjukan
keluarga klien pada saat mendengar kondisi klien dengan penyakit terminal, yang
kemudian dicocokan dengan tanda dan gejala pada fase ini sesuai teori.

2) Fase Anger
Perawat dapat mengkaji gejala pada tahap anger (marah) yang ditunjukan
keluarga klien pada saat mendengar kondisi klien dengan penyakit terminal, yang
kemudian dicocokan dengan tanda dan gejala pada fase ini sesuai teori. Pada fase ini
perawat mengkaji hanya berdasarkan observasi sebab kluarga pasien tidak mungkin
menjawab pertanyan perawat pada fase ini.

3) Fase Bargaining (Tawar Menawar)


Perawat dapat mengkaji gejala pada tahap bargaining (tawar menawar) yang
ditunjukan keluarga klien pada saat mendengar kondisi klien dengan penyakit
terminal, yang kemudian dicocokan dengan tanda dan gejala pada fase ini sesuai
teori. Pada fase ini perawat masih bisa mengkaji klien dengan wawancara namun
perhatikan kuantitas serta kulitas pertanyaan untuk menjaga kestabilan kondisi
keluarga klien.

4) Fase Depresi
Perawat dapat mengkaji gejala pada tahap depresi yang ditunjukan keluarga
klien pada saat mendengar kondisi klien dengan penyakit terminal, yang kemudian

Halaman
8
dicocokan dengan tanda dan gejala pada fase ini sesuai teori. Pada tahap ini perawat
dapat mengkaji keluarga klien namun sedikit, dan terkadang tidak mendapatkan
respon sebab kondisi keluarga klien dalam keadaan tertekan, dan perawat dapat
mengkomunikasikan kondisi keluarga klien.

5) Fase Acceptance (Penerimaan)


Perawat dapat mengkaji gejala pada tahap acceptance (penerimaan) yang
ditunjukan keluarga klien pada saat mendengar kondisi klien dengan penyakit
terminal, yang kemudian dicocokan dengan tanda dan gejala pada fase ini sesuai
teori. Pada kondisi ini perawat lebih leluasa mengkaji kondisi kesiapan keluarga klien
dalam menghadapi resiko kehilangan klien yang mengalami penyakit terminal, sebab
pada gfase ini kleuarga klien biasanya mulai pasrah atau sudah dapat menerima
kondisi kerabatnya.

E. Diagnosa Keperawatan

a. Dukacita

Definisi
Proses kompleks normal yang meliputi respons dan perilaku emosional, fisik,
spiritual, sosial, dan intelektual yakni individu, keluarga, dan komunitas memasukan
kehilangan yang aktual, adaptif, atau dipersepsikan kedalam kehidupan sehari – hari
mereka.

Batasan Karakteristik
1) Perubahan tingkat aktivitas
2) Perubahan pola mimpi
3) Perubahan fungsi imun
4) Gangguan fungsi neuroendokrin
5) Marah
6) Menyalahkan
7) Berpisah/menarik diri
8) Putus asa
Halaman
9
9) Disorganisasi/kacau
10) Gangguan pola tidur
11) Mengalami kelegaan
12) Memelihara hubungan dengan klien dengan penyakit terminal
13) Membuat makna kehilangan
14) Kepedihan
15) Perilaku panik
16) Pertumbuhan personal
17) Distres psikologis
18) Menderita

Faktor yang berhubungan


1) Mengantisipasi kehilangan hal yang bermakna
2) Mengantisipasi kehilangan orang terdekat
3) Kematian orang terdekat
4) Kehilangan objek penting

b. Ketidakefektifan Koping

Defenisi :
Ketidak mampuan untuk membentuk penilaian valid tentang stressor, ketidak
adekuatan pilihan respon yang dilakukan dan/atau tidak mampuan untuk
menggunakan sumber daya yang tersedia.

Batasan Karakteristik
1) Perubahan pada pola komunikasi yang biasa
2) Penurunan penggunaan dukungan sosial
3) Perilaku destruktif terhadap orang lain
4) Letih, Angka penyakit yang tinggi
5) Ketidak mampuan memperhatikan informasi
6) Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar
7) Ketidak mampuan memenuhi harapan peran
8) Pemecahan masalah yang tidak adekuat
9) Kurangnya perilaku yang berfokus pada pencapaian tujuan
10) Kurangnya resolusi masalah
11) Konsentrasi buruk
12) Mengungkapkan ketidakmampuan meminta bantuan
13) Mengungkapkan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah

Halaman
10
14) Pengambilan resiko, gangguan tidur
15) Penyalahgunaan zat
16) Menggunakan koping yang mengganggu perilaku adaptif

Faktor yang berhubungan


1) Gangguan dalam pola penilaian ancaman, melepas tekanan
2) Gangguan dalam pole melepaskan tekanan/ketegangan
3) Perbedaan gender dalam strategi koping
4) Derajad ancaman yang tinggi
5) Ketidak mampuan untuk mengubah energi yang adaptif
6) Sumber yang tersedia tidak adekuat
7) Dukungan sosial yang tidak adekuat yang diciptakan oleh karakteristik
hubungan
8) Tingkat percaya diri yang tidak adekuat dalam kemampuan mengatasi
masalah
9) Tingkat persepsi kontrol yang tidak adekuat
10) Ketidak adekuatan kesempatan bersiap terhadap stresor
11) Krisis muturasi, krisis situasi
12) Ragu

c. Ketidakefektifan Koping Keluarga

Defenisi
Perilaku terdekat (anggota keluarga atau orang penting lainnya) yang
membatasi kapasitas/kemampuannya dan kemampuan klien untuk secara efektif
menangani tugas penting mengenai adaptasi keduanya terhadap masalah kesehatan.

Batasan Karakteristik
1) Pengabaian
2) Agresi agitasi
3) Menjamin rutinitas biasa tanpa menghormati kebutuhan klien
4) Peningkatan ketergantungan klien
5) Depresi
6) Membelot
7) Tidak menghormati kebutuhan klien
8) Perilaku keluarga yang mengganggu kesejahteraan
9) Permusuhan
Halaman
11
10) Ganguan Individualisasi
11) Gangguan membangun kembali kehidupan yang bermakna untuk diri
sendiri
12) Intoleran
13) perawatan yang mengabaikan klien dalam hal kebutuhan dasar manusia
14) hubungan yang mengabaikan anggota keluarga lain
15) terlalu khawatir terus menerus mengenai klien
16) psikosomatis
17) penolakan
18) merasakan tanda penyakit klien

Faktor Yang Berhubungan


1) Penanganan resistensi keluarga terhadap pengobatan yang berubah – ubah
2) Gaya koping yang tidak sesuai antara orang terdekat dengan klien untuk
menangani tugas adaptif
3) Gaya koping yang tidak sesuai diantara orang terdekat
4) Hubungan keluarga yang sangat ambivalen
5) Orang terdekat lama tidak mengungkapkan perasaan (miasalkan rasa
bersalah, cemas, permusuhan, putus asa)

3. Rencana Asuhan Keperawatan

No Diagnosa Tindakan dan Intervensi Rasional


Keperawatan Kriteria Hasil
1. Duka cita 1. Menunjukkan 1) Tentukan pada 1)Pengkajian data
rasa pergerakan tahap berduka dasar yang akurat
ke arah resolusi mana pasian adalah penting
dari rasa duka terfiksasi. untuk perencanaan
dan harapan Identifikasi keperawatan yang
untuk masa perilaku-perilaku efektif bagi pasien

Halaman
12
depan yang berhubungan yang berduka.
2. Fungsi pada 2)Rasa percaya
dengan tahap ini.
tingkat adekuat, 2) Kembangkan merupakan dasar
ikut serta dalam hubungan saling unutk suatu
pekerjaan dan percaya dengan kebutuhan yang
AKS pasien. Perlihatkan terapeutik.
empati dan
perhatian. Jujur
dan tepati semua 3) Sikap menerima
janji menunjukkan kepada
3) Perlihatkan sikap pasien bahwa anda
menerima dan yakin bahwa ia
membolehkan merupakan
pasien untuk seseorang pribadi

mengekspresikan yang bermakna.

perasaannya secara Rasa percaya


meningkat.
terbuka
4)Pengungkapan
secara verbal
4) Dorong pasien
perasaan dalam
untuk
suatu lingkungan
mengekspresikan
yang tidak
rasa marah.
mengancam dapat
membantu pasien
sampai kepada
hubungan dengan
persoalan-
persoalan yang
belum terpecahkan.
5)Latihan fisik
memberikan suatu
metode yang aman
Halaman
13
dan efektif untuk
mengeluarkan
5) Bantu pasien untuk kemarahan yang
mengeluarkan terpendam.
kemarahan yang
terpendam dengan 6)Pengetahuan
berpartisipasi tentang perasaan-
dalam aktivitas- perasaan yang
aktivitas motorik wajar yang
kasar (mis, joging, berhubungan
bola voli,dll) dengan berduka
6) Ajarkan tentang
yang normal dapat
tahap-tahap
menolong
berduka yang
mengurangi
normal dan
beberapa perasaan
perilaku yang
bersalah
berhubungan
menyebabkan
dengan setiap
timbulnya respon-
tahap.
respon ini.
7)Pasien harus
menghentikan
persepsi idealisnya
dan mampu
menerima baik
aspek positif
maupun negatif
dari konsep
7) Dorong pasien kehilangan
untuk meninjau sebelum proses
hubungan dengan berduka selesai

Halaman
14
konsep kehilangan. seluruhnya.
8)Menangis
merupakan hal yan
wajar dalam
menghadapi
kehilangan
9)Umpan balik
positif
meningkatkan
harga diri dan
8) Komunikasikan
mendorong
kepada pasien
pengulangan
bahwa menangis
perilaku yang
merupakan hal
diharapkan.
yang dapat
diterima.
9) Bantu pasien
10) Memenuhi
dalam
kebutuhan
memecahkan
spiritual klien
masalahnya
sebagai usaha
untuk menentukan
metoda-metoda
koping yang lebih
adaptif terhadap
pengalaman
kehilangan.
10) Dorong pasien
untuk menjangkau
dukungan spiritual
selama waktu ini

Halaman
15
dalam bentuk
apapun yang
diinginkan
untuknya.
3. Ketidak NOC NIC
efektifan Decision making Decision making
koping Role inhasmet 1) Menginformasikan 1)Informasi dapat
berhubungan Sosial suport klien alternatif atau mengurangi
dengan Kriteria hasil solusi lain perasaan tanpa
penyakit Mengidentifikasi penanganan harapan dan tidak
terminal pola koping yang berguna.
efektif Keikutsertaan
Mengungkapkan dalam perawatan
secara verbal akan
tentang koping meningkatkan
yang efektif perasaan kontrol
Mengatakan dan harga diri.
2)Meningkatkan
penurunan stres 2) Memfasilitasi klien
perasaan kontrol
Klien mengatakan untuk membuat
dan keikutsertaan
telah menerima keputusan
dalam situasi
tentang keadaanya
dimana orang
Mampu
terdekat tidak
mengidentifikasi
dapat berbuat
strategi tentang
banyak.
koping
3)Memberikan
3) Bantu klien untuk
wawasan
mengidentifikasi
mengenai
keuntungan,
pemikiran,/faktor-
kerugian dari
faktor yang
keadaan
berhubungan

Halaman
16
dengan situasi
individu.
Kepercayaan akan
meningkatkan
persepsi pasien
tentang situasi dan
partisipasi dalam
regimen
keperawatan.

1)Menurunkan
Role inhancement
ansietas dan
1) Bantu klien untuk
menyediakan
mengidentifikasi
kontrol bagi pasien
macam – macam
selama situasi
nilai kehidupan
krisis
2)Untuk mengatasi
ketegangan dan
2) Bantu klien memelihara rasa
identifikasi strategi kontrol individu
positif untuk
mengatur pola nilai
1)Menyiapkan status
yang dimiliki
mental pasien agar
Coping mampu menerima
enhancement perubahan peran
1) Anjurkan klien yang terjadi
2)Agar pasien yakin
untuk
dan mau
mengidentifikasi
kooperatif dalam
gambaran
pemberian
perubahan peran

Halaman
17
yang realistis informasi
2) Gunakan 3)Pasien lebih
pendekatan tenang mampu menerima
dan meyakinkan informasi dengan
jelas
4) Agar keluarga
3) Hindari
bisa mengerti dan
pengambilan
menerima
keputusan pada
sehingga tahap
saat klien berada
anger bisa ditekan
dalam stres berat
4) Berikan informasi
actual yang terkait 1) Memonitor
dengan diagnosis, perkembangan
terapi dan status kesehatan
prognosis pasien
2) Menghargai
Intervensi lainnya
kehidupan klien
1) Mengobservasi
dengan tetap
TTV klien
memberikan
pelayanan sesuai
kebutuhannya
2) Memenuhi
demi
kebutuhan dasar
mempertahankan
klien
hidupnya

Halaman
18
4. Ketidak NOC NIC
mampuan 1) Family coping, Coping
koping disable enhanchement
2) Perenting,
keluarga 1) Bantu keluarga 1)Pasien
impaired
berhubungan dalam mengenal mendapatkan
3) Therapeutic
dengan masalah dukungan dan
regimen
kehilangan bantuan dari
management,
keluarga dalam
ineffective
4) Violence: other menghadapi
directed, risk penyakitnya
2) Partisipasi seluruh
for 2) Dorong
anggota keluarga
Kriteria hasil partisipasi
dalam
1) Hubungan keluarga dalam
menyelesaikan
pemberi semua pertemuan
masalah yang
asuhan klien: kelompok
efektif
interaksi dan
3)Simpati dari
hubungan
keluarga
yang positif 3) Dorong keluarga
meningkatkan
antara untuk
harga diri pasien.
pemberi dan memperlihatkan
penerima kekhawatiran dan
asuhan untuk membantu
2) Performa
perawatan
4)Membantu orang
pemberi
pascahospitalisasi
terdekat dengan
asuhan 4) Bantu
pasien untuk
perawatan memotivasi
meyakinkan pasien
lansung : keluarga untuk
agar menerima apa
penyediaan berubah
yang terjadi dan
perawatan membantu klien
berkeinginan
kesehatan dan untuk beradaptasi

Halaman
19
perawatan dengan persepsi untuk membagi
personal yang stresor, masalah pasien
tepat kepada perubahan, atau dengan keluarga
anggota ancaman yang
5)Mengungkapkan
keluarga oleh mengganggu
perasaan pada diri
pemberi pemenuhan
pasien yang tidak
keperawatan tuntutan dan
terselesaikan
keluarga peran hidup
3) Peforma 5) Dukungan
pemberian emosi ; 6)Proses koping
asuhan memberikan keluarga terjadi
perawatan penenangan, dengan efektif
tidak langsung penerimaan, dan
: pengaturan dorongan selama 7)Meningkatkan
dan periode stres hubungan keluarga
6) Memfasilitasi
pengawasan dengan klien
partisipasi
perawatan
keluarga dalam
yang sesuai
perawatan emosi
bagi anggota 8)Peningkatan
fisik klien
keluarga oleh kesehatan pasien
7) Dukungan
pemberi dengan memberikan
keluarga :
perawatan pelayanan sesuai
meningkatkan
keluarga kebutuhan pasien
nilai, minat, dan
4) Kesejahteraan
tujuan keluarga
pemberi
8) Panduan sistem
asuhan :
kesehatan :
derajat
memfasilitasi
persepsi
lokal klien dan 9)Memberikan
positif
penggunaan pemahaman tentang
mengenai
pelayanan esensi kehidupan dan

Halaman
20
status kesehatan yang kematian
kesehatan dan sesuai 10) Untuk mencari
9) Mendorong
kondisi bantuan sesuai
5) Potensial pasien mencari
kebutuhan akan
ketahanan dorongan
membuat mereka
pemberi spiritual , jika
memilih untuk
asuhan : diperlukan
mengambil
10) Bantu anggota
faktor yang
keuntungan dari apa
keluarga dalam
meningkatkan
yang tersedia
mengklarifikasi
kontinuitas
1)Membantu
apa yang mereka
perawatan
pasien/orang terdekat
harapkan dan
oleh pemberi
untuk mengilhami
butuhkan satu
perawatan
solusi yang mungkin
sama lain
keluarga
(memberikan
Caregiver support
dalam periode
pertimbangan pro
1) Menyediakan
waktu yang
dan kontra bagi
informasi penting,
lama
setiap masalah)
6) Koping advokasi, dan
sehingga mampu
keluarga : dukungan yang
mengambil
tindakan dibutuhkan untuk
keputusan yang baik
keluarga memfasilitasi
untuk perawatan primer
mengelola pasien selain dari
1)Memantau
stresor yang profesional
perkembangan
membebani kesehatan
kondisi pasien
sumber –
2)Mempertahankan
sumber
hidup pasien
keluarga Family support
dengan tetap
7) Normalisasi
Intervensi lainnya
menghargai diri
keluarga ;
1) Mengobservasi
pasien
kapasitas

Halaman
21
sistem TTV klien
keluarga
dalam 2) Memenuhi
mempertahan kebutuhan dasar
kan rutinitas klien
dan
mengembangk
an strategi
untuk
mengoptimalk
an fungsi jika
ada anggota
keluarga yang
sakit kronis
atau
mengalami
ketunadayaan
8) Mampu
mengatasi
masalah
keluarga
9) Mencari
bantuan
keluarga bila
perlu
10) Mencapai
stabilitas
finansial
untuk
memenuhi
kebutuhan

Halaman
22
anggota
keluarga
11) Mampu
menyelesaika
n konflik
tanpa
kekerasan
12) Memperlihatk
an
fleksibelitas
peran
13) Mengungkapk
an
peningkatan
kemampuan
untuk
melakukan
koping
terhadap
perubahan
dalam struktur
dinamika
keluarga
14) Mengungkapk
an perasaan
yang tidak
terselesaikan
15) Identifikasi
gaya koping
yang
bertentangan
16) Partisipasi

Halaman
23
dalam
pengembanga
n dan
implementasi
rencana
keperawatan

D. Daftar Pustaka

Halaman
24
Nurarif, Amin Huda, Kusuma, Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis Dan Nanda NIC-NOC. Jakarta : Mediaction
Carpenito-Moyet, Lynda Juall. 1999. Buku Saku Diagnosis Keperawatan.
Jakarta:EGC
Kozier, Barbara. 2011. Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC
Cemy Nur Fitria. 2010. Palliative Care Pada Penderita Penyakit Terminal. Bandung.
portalgaruda.org. diakses pada 30 Mei 2015
Joko Susanto. 2012. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Penyakit Terminal.
Lamongan. www.e-jurnal.com. diakses pada 30 Mei 2015
AD Damayanti. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Penyakit Terminal
Ditinjau Dari Aspek Psikososial. www.indonesianjournalofcancer.or.id. diakses
pada 30 Mei 2015

Halaman
25