Anda di halaman 1dari 7

BAB II PEMBAHASAN

Proses respirasi dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara dalam rongga dada dengan
tekanan udara di luar tubuh. Jika tekanan di luar rongga dada lebih besar maka udara akan
masuk. Sebaliknya, apabila tekanan dalam rongga dada lebih besar maka udara akan keluar.
Menurut tempat terjadinya pertukaran gas maka respirasi dapat dibedakan atas 2 jenis, yaitu:
respirasi internal dan respirasi ekternal. Respirasi internal adalah pertukaran gas antara aliran
darah (pembuluh darah kapiler) dan sel tubuh di dekatnya. Selama respirasi ini darah akan
memberikan 5 – 7 % volume oksigen yang dikandungnya dan mengambil 4 –
6 % volume karbon dioksida dari sel tubuh. Semakin tinggi suhu tubuh, jumlah oksigen yang
dilepas ke dalam sel tubuh semakin besar. Di dalam darah oksigen
berkombinasi dengan hemoglobin membentuk oxyhemoglobin dalam sel darah merah, dan
berfungsi dalam proses metabolisme tubuh. Karbon dioksida sebagai sisa metabolisme akan
bereaksi dengan air (H2O) di dalam tubuh untuk membentuk asam karbon (H2CO3), yang
kemudian terurai menjadi H+ dan bikarbonat (HCO-3) dan diangkut sel darah merah menuju
paru-paru. Di dalam paru – paru, H+ dan HCO-3bercampur lagi membentuk air (H2O) dan
CO2. Proses ini ditunjukkan dalam gambar 6.1. Gambar 6.1. Reaksi kimia dalam proses
respirasi Sedang respirasi eksternal adalah pertukaran gas antara paru – paru dengan aliran
darah.

Respirasi ini terjadi karena pengaruh kimiawi pada aktifitas syaraf tidak sadar. Ada dua
macam otot mekanis yang mempengaruhi proses respirasi yaitu musculo membranous
diaphragm yang memisahkan rongga dada dengan rongga perut (bergerak atas – bawah) dan
otot intercostal (mengelilingirongga dada) yang menyebabkan dada mengembang mengempis.
Aktifitas syaraf tadi akan menimbulkan kontraksi otot yang mengubah volume rongga dada.
Aktifitas syaraf sadar juga mungkin menyebabkan
respirasi meskipun hanya terjadi kadang-kadang, dan dibatasi oleh internal body homeostasis.
Ada dua macam respirasi eksternal yaitu inspirasi ( memasukkan udara luar ke dalam paru –
paru), dalam kondisi normal terdiri atas 79% nitrogen, 20.96% oksigen, 0.04% karbondioksida),
dan ekspirasi (mengeluarkan udara dari paru – paru), dalam kondisi normal terdiri atas 79%
nitrogen, 17% oksigen, 4% karbondioksida). Pusat respirasi ada dalam medulla and pons pada
batang otak. Sel pada otak akan memberikan impuls yang akan menstimulasi otot diaphragma
dan otot intercostal untuk berkontraksi. Terjadilah inspirasi. Membesarnya rongga dada
menyebabkan tekanan dalam dada berkurang (-3 mm Hg), udara dari luar akan masuk ke
dalam paru-paru. Karena paru-paru merupakan organ pasif (tanpa otot), maka paru-paru akan
mengembang menurut rongga dada. Pusat pneumotaxicdalam pons menerima impuls dari
pusat inspiratori dalam medulla
bahwa inspirasi telah mencapai puncak. Informasi ini diteruskan ke pusat ekspiratori (dalam
medulla), dan kemudian segera mengirim impuls untuk mengakhiri inspirasi. Otot inspirasi (
diaphragma dan intercostal ) mengalami relaksasi, proses ekspirasi mulai berlangsung.
Tekanan dalam rongga dada meningkat (+ 3 mm Hg) sehingga udara akan didorong keluar,
dan paru – paru akan menyempit. Kecepatan dan kedalaman respirasi selain dikontrol oleh
sistem syaraf dan konsentrasi oksigen dan karbon dioksida dalam darah., juga dipengaruhi
proses kimia dan suhu darah yang melewati otak. Selama kondisi normal, respirasi dilakukan
dengan tenang ( eupnea ), rata – rata kecepatan respirasi (respiratory rate = RR) sekitar 12-14
siklus per menit. Bertambahnya konsentrasi CO2(penurunan konsentrasi O2) dalam darah akan
meningkatkan kecepatan respirasi yang artinya permintaan udara segar yang kaya oksigen
semakin meningkat. Keseimbangan asam basa darah (pH 7.4) akan meningkat karena adanya
reaksi kimia antara air dalam plasma darah dengan CO2 hasil metabolisme. Sehingga
kecepatan respirasi akan meningkat. Jika CO2 sudah dilepaskan, konsentrasi akan berkurang
dalam darah. Terjadi negatif feedback loop dan pH darah kembali normal.

Fungsi saraf otonom pada system respirasi

Sistem saraf otonom juga dikenal sebagai sistem saraf visceral atau tak sadar yang
mengendalikan gerakan otot yang paling penting untuk mempertahankan kehidupan binatang.
Kontraksi otot jantung untuk berdetak semua-penting untuk jantung, sebagian besar saluran
pencernaan, pengaturan fungsi pernapasan, pemeliharaan ukuran pupil, dan rangsangan
seksual adalah beberapa fungsi utama diatur oleh sistem saraf otonom tersebut. Terlepas dari
kenyataan bahwa sistem saraf otonom mengatur tindakan disengaja, respirasi dapat dikontrol
dengan beberapa kesadaran. Berdasarkan fungsi sistem saraf otonom, ada dua subsistem
utama yang dikenal sebagai aferen (sensorik) dan eferen (motorik). Kehadiran kedua sinapsis
rangsang dan penghambatan mengatur fungsi yang tepat dari sistem saraf otonom dalam tubuh
hewan. Sistem saraf simpatik dan parasimpatik adalah dua modul fungsional utama dalam
sistem saraf otonom tersebut. Modul simpatik penting untuk respon ‘fight or flight‘, karena
mendorong pasokan darah yang sangat tinggi untuk otot rangka, meningkatkan denyut jantung,
dan menghambat gerak peristaltik dan pencernaan. Sistem saraf parasimpatis mendorong
fenomena ‘istirahat dan mencerna'; pelebaran pembuluh darah pada saluran pencernaan
adalah salah satu hal yang dikelola oleh subsistem ini.

Sistem saraf otonom ini tidak berada di bawah kendali kesadaran. Ada beberapa pusat yang
berperan dalam mengendalikan sistem saraf otonom:

 Korteks serebral – daerah korteks serebral mengendalikan homeostasis dengan


mengatur sistem saraf simpatik, sistem saraf parasimpatik dan hipotalamus.
 Sistem limbik -sistem limbik terdiri dari hipotalamus, amydala, hipokampus, dan daerah
lain di dekatnya. Struktur ini terletak di kedua sisi talamus, tepat di bawah otak besar.
 Hipotalamus sel-sel yang mendorong sistem saraf otonom terletak di medula lateral.
Hipotalamus bekerja ke daerah ini, yang meliputi inti vagal parasimpatis, dan juga untuk
sekelompok sel yang mengarah pada sistem simpatis di sumsum tulang belakang.
Dengan berinteraksi dengan sistem ini, hipotalamus mengendalikan pencernaan, detak
jantung, berkeringat dan fungsi lainnya.
 Batang otak – batang otak bertindak sebagai penghubung antara sumsum tulang
belakang dan otak besar. Neuron sensorik dan motorik berjalan melalui batang otak,
menyampaikan pesan antara otak dan sumsum tulang belakang. Batang otak
mengontrol banyak fungsi otonom dari sistem saraf parasimpatik, termasuk respirasi,
denyut jantung dan tekanan darah.
 Sumsum tulang belakang- dua rantai ganglia yang terletak di kedua sisi tulang belakang.
Rantai luar membentuk sistem saraf parasimpatik, sedangkan rantai paling dekat
dengan sumsum tulang belakang membentuk unsur simpatik.

Mekanisme kerja saraf otonom pada respirasi

Pengaturan pernapasan oleh persarafan dilakukan oleh korteks cerebri, medulla oblongata, dan
pons . Saat bernapas dalam-dalam, mekanisme umpan balik negative mencegah paru-paru
agar tidak membesar secara berlebihan, sensor peregangan mengirimkan impuls saraf kembali
ke medula yang akan menghambat pusat kontrol pernapasannya.

• Pons

Pada pons terdapat 2 pusat pernapasan yaitu pusat apneutik dan pusat pnumotaksis. Pusat
apneutik terletak di formasio retikularis pons bagian bawah. Yang berfungsi untuk
mengkoordinasi transisi antara inspirasi dan ekspirasi dengan cara mengirimkan rangsangan
impuls pada area inspirasi dan menghambat ekspirasi. Sedangkan pusat pneumotaksis
terletak di pons bagian atas. Impuls dari pusat pneumotaksis adalah membatasi durasi
inspirasi, tetapi meningkatkan frekuensi respirasi sehingga irama respirasi menjadi halus dan
teratur, proses inspirasi dan ekspirasi berjalan secara teratur pula.

• Korteks Cerebri

Berperan dalam pengaturan pernapasan yang bersifat volunter sehingga memungkinkan kita
dapat mengatur napas dan menahan napas. Misalnya pada saat bicara atau makan.

• Medulla oblongata

Terletak pada batang otak, berperan dalam pernapasan automatik atau spontan. Pada kedua
oblongata terdapat dua kelompok neuron yaitu Dorsal Respiratory Group (DRG) yang terletak
pada bagian dorsal medulla dan Ventral Respiratory Group (VRG) yang terletak pada ventral
lateral medula. Kedua kelompok neuron ini berperan dalam pengaturan irama pernapasan.

Pengaruh konsentasi CO2 terhadap penurunan pH

 Konsentrasi CO2 muncul pada perubahan pH darah dan cairan jaringan (cairan
sererospinal) yang mengenai otak. CO2 bereaksi dengan air untuk membentuk asam
karbonat, yang akan menurunkan pH.

 Ketika pusat kontrol mendeteksi penurunan pH (peningkatan CO2) cairan serebrospinal


atau darah, pusat kontrol tersebut akan meningkatkan kedalaman dan laju pernapasan
serta kelebihan CO2 dibuang di dalam udara yang dihembuskan.

Pengaruh konsentrasi O2 dalam darah

 konsentrasi O2 dalam darah umumnya mempunyai sedikit pengaruh pada saat


pusat kontrol pernapasan. Akan tetapi, ketika kadar O2 turun sangat hebat, misalnya
sensor O2 di aorta dan arteri karoid di leher akan mengirimkan sinyal peringatan ke
pusat kontrol pernapasan, dan pusat itu merespons dengan cara meningkatkan
kedalaman dan laju pernapasan. Peningkatan konsentrasi CO2 indikasi kuat
mengenai adanya penurunan konsentrasi O2, karena O2 yang dihasilkan melalui
proses respirasi seluler.

 pernapasan yang dalam dan cepat secara berlebihan mengeluarkan banyak sekali
CO2 dari darah sehingga pusat pernapasan untuk sementara waktu berhenti
mengirimkan impuls ke otot rusuk dan diafragma. Pernapasan akan berhenti
menghidupkan kembali pusat pernapasan.

 pusat pernapasan merespons terhadap berbagai ragan sinyal saraf dan kimiawi,
menyesuaikan laju dan kedalaman pernapasan. Akan tetapi, kontrol pernapasan
hanya akan efektif jika dikoordinasikan dengan kontrol sistem sirkulasi.
BAB III PENUTUP

Kesimpulan

Manusia dalam bernapas menghirup oksigen dalam udara bebas dan membuang
karbondioksida ke lingkungan. Pernapasan adalah proses ganda yaitu terjadinya pertukaran
gas di dalam jaringan atau “ pernapasan dalam” dan yang terjadi didalam paru-paru
“pernapasan luar”. Pernapasan Luar yang merupakan pertukaran antara O2 dan CO2 antara
darah dan udara. Pernapasan Dalam yang merupakan pertukaran O2 dan CO2 dari aliran
darah ke sel-sel tubuh. Sistem pernapasan atau sistem respirasi adalah sistem organ yang
digunakan untuk pertukaran gas. Pada hewan berkaki empat, sistem pernapasan umumnya
termasuk saluran yang digunakan untuk membawa udara ke dalam paru-paru di mana terjadi
pertukaran gas. Diafragma menarik udara masuk dan juga mengeluarkannya. Berbagai variasi
sistem pernapasan ditemukan pada berbagai jenis makhluk hidup.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/5366296/BAB_VI_PARU_PARU_DAN_SISTEM_RESPIRASI_MAN
USIA

https://ikaeliza.files.wordpress.com/2011/01/kontrol-otonom1.pptx

http://informasitips.com/kontrol-pernapasan-oleh-sistem-saraf

http://kliksma.com/2014/10/peran-fungsi-sistem-saraf-otonom.html

http://budisma.net/2015/01/perbedaan-sistem-saraf-somatik-dan-otonom.html