Anda di halaman 1dari 20

Tugas Pendidikan Bahasa Indonesia

MAKALAH
KALIMAT EFEKTIF
O
L
E
H:
KELOMPOK VI
 SARI PAGANDA SINAMBELA (4153321033)

 SARIFAH AINUN SIHOMBING (4153321034)

 SERGIO SALDANO YUDA (4153320136)

 SERTINA N TOBING (4153321037)

 RIZKYA PAULITA NASUTION (7143141080)

DOSEN PENGAMPU : Drs. Sanggup Barus, M. Pd


MATA KULIAH : PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
pertolonganNya kami dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Pendidikan Bahasan
Indonesia. Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini. Dan penulis juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan
referensi internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi
bahan makalah.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang "Kalimat Efektif",
yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Semoga makalah ini dapat
memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada pembaca khususnya para guru dan seluruh
tenaga kependidikan.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini sehingga
penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan
makalah ini. Penulis mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan
kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan, dan kekurangan pasti milik kita
sebagai manusia. Semoga makalah ini dapat bemanfaat bagi kita semuanya.

Medan , 18 Maret 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................................... ii


DAFTAR ISI .......................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................ 1
1.1 LATAR BELAKANG............................................................................................................... 1
1.2 RUMUSAN MASALAH .......................................................................................................... 1
1.3 TUJUAN ........................................................................................................................... 2
1.4 MANFAAT ........................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................................. 3
2.1. PENGERTIAN KALIMAT EFEKTIF .................................................................................. 3
2.2. UNSUR-UNSUR KALIMAT EFEKTIF................................................................................ 3
2.3. CIRI-CIRI KALIMAT EFEKTIF ......................................................................................... 9
2.4. SYARAT-SYARAT KALIMAT EFEKTIF ....................................................................... 15
BAB III PENUTUP
3.1. KESIMPULAN ..................................................................................................................... 16
3.2. SARAN ......................................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................... 17

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi yang digunakan manusia dengan sesama
anggota masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa itu berisi pikiran, keinginan, atau
perasaan yang ada pada diri si pembicara atau penulis. Bahasa yang digunakan itu hendaklah
dapat mendukung maksud secara jelas agar apa yang dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan
itu dapat diterima oleh pendengar atau pembaca. Kalimat yang dapat mencapai sasarannya
secara baik disebut dengan kalimat efektif.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya
secara tepat dan dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Kalau gagasan
yang disampaikan sudah tepat, pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan
mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya. Akan
tetapi, kadang-kadang harapan itu tidak tercapai. Misalnya, ada sebagian lawan bicara atau
pembaca tidak memahami apa maksud yang diucapkan atau yang dituliskan. Supaya kalimat
yang dibuat dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat, unsur kalimat yang
digunakan harus lengkap dan eksplisit. Artinya, unsur-unsur kalimat seharusnya ada yang
tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya, unsur-unsur yang seharusnya tidak ada tidak perlu
dimunculkan. Kelengkapan dan keeksplisitan semacam itu dapat diukur berdasarkan
keperluan komunikasi dan kesesuaiannya dengan kaidah (Mustakim, 1994:86).
Dalam karangan ilmiah sering kita jumpai kalimat-kalimat yang tidak memenuhi
syarat sebagai bahasa ilmiah. Hal ini disebabkan oleh, antara lain, mungkin kalimat-kalimat
yang dituliskan kabur, kacau, tidak logis, atau bertele-tele. Dengan adanya kenyataan itu,
pembaca sukar mengerti maksud kalimat yang kita sampaikan karena kalimat tersebut tidak
efektif. Berdasarkan kenyataan inilah penulis tertarik untuk membahas kalimat efektif dengan
segala permasalahannya.
1.2.RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan kalimat efektif?
2. Apa saja unsur-unsur kalimat?
3. Apa ciri-ciri kalimat efektif?
4. Apa syarat yang mendasari kalimat efektif?

1
1.3.TUJUAN
1. Mengetahui maksud dari kalimat efektif
2. Mengetahui unsur-unsur kalimat efektif
3. Mengetahui cirri-ciri kalimat efektif
4. Mengetahui syarat-syarat kalimat efektif
1.4.MANFAAT PEMBAHASAN
1. Manfaat untuk diri sendiri: agar bisa memahami bagaimana yang dikatakan dengan kali
mat efektif.
2. Manfaat untuk kelompok: agar kita bisa menjaga budaya Bahasa Indonesia yang baik
dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. PENGERTIAN KALIMAT


Secara tradisional kalimat adalah sususnan kata yang teratur yang berisi pikiran yang
lengkap.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia , kalimat didefenisikan sebagai :
 Kesatuan ujaran yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan
 Perkataan
 Satuan bahasa yang secara relative berdiri sendiri (Depdikbud. 1989).
Sedangkan dalam kamus istilah, kalimat didefenisikan sebagai bagian terkecil ujaran
atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara ketatabahasaan.
 Dalam wujud lisan kalimat yang diiringi oleh alunan titik nada disela oleh jeda, diakhiri oleh
intonasi selesai dan diakhiri oleh kesenyapan.
 Dalam wujud tulisan, kalimat dimulai dengan huruf besar atau capital dan diakhiri dengan
tanda titik, tanda Tanya atau tanda seru; sementara itu disertai oula didalamnya berbagai
tanda baca (Suprapto:1993).
2.2. PENGERTIAN KALIMAT EFEKTIF
Kalimat adalah Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan
penutur/penulisnya secara tepat sehingga dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara
tepat pula. Efektif dalam hal ini adalah ukuran kalimat yang memiliki kemampuan
menimbulkan gagasan atau pikiran pada pendengar atau pembaca. Dengan kata lain, kalimat
efektif adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat
sehingga pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan
lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya.
Arifin dan Tasai (1989) mendefinisikan kalimat efektif sebagai kalimat yang memiliki
kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pembaca atau penulis.
2.3. UNSUR-UNSUR KALIMAT EFEKTIF
Unsur kalimat adalah fungsi sintaksis yang dalam buku-buku tata bahasa Indonesia
lama lazim disebut jabatan kata dan kini disebut peran kata dalam kalimat, yaitu subjek (S),
predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket). Kalimat bahasa Indonesia
baku sekurang-kurangnya terdiri atas dua unsur, yakni subjek dan predikat. Unsur yang lain

3
(objek, pelengkap, dan keterangan) dalam suatu kalimat dapat wajib hadir, tidak wajib hadir,
atau wajib tidak hadir.
1. Subjek (S)
Subjek (S) adalah bagian kalimat menunjukkan pelaku, tokoh, sosok (benda),
sesuatu hal, suatu masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan. Subjek biasanya diisi
oleh jenis kata/frasa benda (nominal), klausa, atau frasa verbal. Untuk lebih jelasnya
perhatikan contoh sebagai berikut ini:
a) Ayahku sedang melukis.
b) Meja direktur besar.
c) Yang berbaju batik dosen saya.
Kata-kata yang dicetak tebal pada kalimat di atas adalah S. Contoh S yang diisi oleh
kata dan frasa benda terdapat pada kalimat (a) dan (b), contoh S yang diisi oleh klausa
terdapat pada kalimat (c), dan contoh S yang diisi oleh frasa verbal terdapat pada kalimat (d)
dan (e).
Dalam bahasa Indonesia, setiap kata, frasa, klausa pembentuk S selalu merujuk pada
benda (konkret atau abstrak). Pada contoh di atas, kendatipun jenis kata yang mengisi S
pada kalimat (c), (d) dan (e) bukan kata benda, namun hakikat fisiknya tetap merujuk pada
benda. Bila kita menunjuk pelaku pada kalimat (c) dan (d), yang berbaju batik dan berjalan
kaki tentulah orang (benda). Demikian juga membangun jalan layang yang menjadi S pada
kalimat (e), secara implisit juga merujuk pada “hasil membangun” yang tidak lain adalah
benda juga. Di samping itu, kalau diselami lebih dalam, sebenarnya ada nominal yang lesap,
pada awal kalimat (c) sampai (e), yaitu orang pada awal kalimat (c) dan kegiatan pada awal
kalimat (d) dan (e).
Selain ciri di atas, S dapat juga dikenali dengan cara bertanya dengan memakai kata
tanya siapa (yang)… atau apa (yang)… kepada P. Kalau ada jawaban yang logis atas
pertanyaan yang diajukan, itulah S. Jika ternyata jawabannya tidak ada dan atau tidak logis
berarti kalimat itu tidak mempunyai S. Inilah contoh “kalimat” yang tidak mempunyai S
karena tidak ada/tidak jelas pelaku atau bendanya.
a) Bagi siswa sekolah dilarang masuk.
b) Di sini melayani obat generic.
c) Memandikan adik di pagi hari.
Contoh (a) sampai (c) belum memenuhi syarat sebagai kalimat karena tidak
mempunyai S. Kalau ditanya kepada P, siapa yang dilarang masuk pada contoh (a) siapa

4
yang melayani resep pada contoh (b) dan siapa yang memandikan adik pada contoh (c),
tidak ada jawabannya. Kalaupun ada, jawaban itu terasa tidak logis.

2. Predikat (P)
Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberitahu melakukan (tindakan) apa atau
dalam keadaan bagaimana subjek (pelaku/tokoh atau benda di dalam suatu kalimat). Selain
memberitahu tindakan atau perbuatan subjek (S), P dapat pula menyatakan sifat, situasi,
status, ciri, atau jatidiri S. termasuk juga sebagai P dalam kalimat adalah pernyataan tentang
jumlah sesuatu yang dimiliki oleh S. predikat dapat juga berupa kata atau frasa, sebagian
besar berkelas verba atau adjektiva, tetapi dapat juga numeralia, nomina, atau frasa nominal.
Perhatikan contoh berikut:
a) Anjing Mengendus.
b) Ibu sedang tidur siang.
c) Putrinya cantik jelita.
Kata-kata yang dicetak tebal dalam kalimat di atas adalah P. kata mengendus pada
kalimat (a) memberitahukan perbuatan anjing. Kelompok kata sedang tidur siang pada
kalimat (b) memberitahukan melakukan apa ibu, cantik jelita pada kalimat (c)
memberitahukan bagaimana putrinya.
Berikut ini contoh kalimat yang tidak memiliki P karena tidak ada kata-kata
menunjuk pada perbuatan, sifat, keadaan, ciri, atau status pelaku atau bendanya.
a) Adik saya yang gendut lagi lucu itu.
b) Kantor kami yang terletak di Jln. Gatot Subroto.
c) Bandung yang terkenal kota kembang.
Walaupun contoh (a), (b), (c) ditulis persis seperti lazimnya kalimat normal, yaitu
diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, namun di dalamnya tidak ada
satu kata pun yang berfungsi sebagai P. Tidak ada jawaban atas pertanyaan melakukan apa
adik yang gendut lagi lucu (pelaku) pada contoh (a), tidak ada jawaban atas pertanyaan
kenapa atau ada apa dengan kantor di Jalan Gatot Subroto dan Bandung terkenal sebagai
kota kembang itu pada contoh (b) dan (c). karena tidak ada informasi tentang tindakan, sifat,
atau hal lain yang dituntut oleh P, maka contoh (a), (b), (c) tidak mengandung P. Karena itu,
rangkaian kata-kata yang cukup panjang pada contoh (a), (b), (c) itu belum merupakan
kalimat, melainkan baru merupakan kelompok kata atau frasa.
3. Objek (O)

5
Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. objek pada umumnya diisi oleh
nomina, frasa nominal, atau klausa. Letak O selalu di belakang P yang berupa verba
transitif, yaitu verbal yang menuntut wajib hadirnya O, seperi pada contoh di bawah ini.
a) Nurul menimang …
b) Arsitek merancang …
c) Juru masak menggoreng …
Verba transitif menimang, merancang, dan menggoreng pada contoh tersebut adalah
P yang menuntut untuk dilengkapi. Unsur yang akan melengkapi P pada ketiga kalimat
itulah yang dinamakan objek.
Jika P diisi oleh verba intransitif, O tidak diperlukan. Itulah sebabnya sifat O dalam
kalimat dikatakan tidak wajib hadir. Verba intransitive mandi, rusak, pulang yang menjadi P
dalam contoh berikut tidak menuntut untuk dilengkapi.
a) Nenek mandi.
b) Komputerku rusak.
c) Tamunya pulang.
Objek dalam kalimat aktif dapat berubah menjadi S jika kalimatnya dipasifkan.
Perhatikan contoh kalimat berikut yang letak O-nya di belakang dan ubahan posisinya bila
kalimatnya dipasifkan.
a) 1. Martina Hingis mengalahkan Yayuk Basuki (O)
2. Yayuk Basuki (S) dikalahkan oleh Martina Hingis.
b) 1. Orang itu menipu adik saya (O)
2. Adik saya (S) ditipu oleh oran itu.
4. Pelengkap (pel)
Pelengkap (P) atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi P. letak
Pelengkap umumnya di belakang P yang berupa verba. Posisi seperti itu juga ditempati oleh
O, dan jenis kata yang mengisi Pel dan O juga sama, yaitu dapat berupa nomina, frasa
nominal, atau klausa. Namun, antara Pel dan O terdapat perbedaan. Perhatikan cnntoh di
bawah ini:
a) Ketua MPR membacakan Pancasila.
S P O
b) Banyak orpospol berlandaskan Pancasila.
S P Pel

6
Kedua kalimat aktif (a) dan (b) yang Pel dan O-nya sama-sama diisi oleh nomina
Pancasila, jika hendak dipasifkan ternyata yang bisa hanya kalimat (a) yang menempatkan
Pancasila sebagai O. Ubahan kalimat (a) menjadi kalimat pasif adalah sebagai berikut:
Pancasila dibacakan oleh ketua MPR.
S P O
Posisi Pancasila sebagai Pel pada kalimat (b) tidak bisa dipindah ke depan menjadi S dalam
kalimat pasif. Contoh berikut adalah kalimat yang tidak gramatikal.
Pancasila dilandasi oleh banyak orsospol.
Hal lain yang membedakan Pel dan O adalah jenis pengisinya. Selain diisi oleh
nomina dan frasa nominal, Pelengkap dapat juga diisi oleh frasa adjectival dan frasa
preposisional.Di samping itu, letak Pelengkap tidak selalu persis di belakang P. Apabila
dalam kalimatnya terdapat O, letak pel adalah di belakang O sehingga urutan penulisan
bagian kalimat menjadi S-P-O-Pel. Berikut adalah beberapa contoh pelengkap dalam
kalimat.
a) Mayang mendongengkan Rayhan Cerita si Kancil.
b) Sekretaris itu mengambilkan atasannya air minum.
c) Annisa mengirimi kakeknya kopiah bludru.
d) Pamanku membelikan anaknya rumah mungil.
5. Keterangan (Ket)
Keterangan (Ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal mengenai
bagian kalimat yang lainnya. Unsur Ket dapat berfungsi menerangkan S, P, O, dan Pel.
Posisinya bersifat bebas, dapat di awal, di tengah, atau di akhir kalimat. Pengisi Ket adalah
frasa nominal, frasa preporsisional, adverbia, atau klausa.
Berdasarkan maknanya, terdapat bermacam-macam Ket dalam kalimat. Para ahli
membagi keterangan atas Sembilan macam (Hasan Alwi dkk, 1998:366) yaitu seperti yang
tertera pada tabel di bawah ini.

JENIS KETERANGAN DAN CONTOH PEMAKAIANNYA

No Jenis keterangan Posisi/penghubung Contoh pemakaian

1 Tempat Di Di kamar, di kota


Ke Ke Surabaya, ke rumahnya

7
Dari Dari Manado, dari sawah
Pada Pada permukaan
2 Waktu Pada Pada pukul 5 hari ini
Dalam Dalam 2 hari ini
Se- Sepulang kantor
Sebelum Sebelum mandi
Sesudah Sesudah makan
Selama Selama bekerja
sepanjang Sepanjang perjalanan
Sekarang, kemarin
3 Alat Dengan Dengan pisau, dengan mobil
4 Tujuan Supaya/agar Supaya/agar kamu faham
Untuk Untuk kemerdekaan
Bagi Bagi masa depan
Demi Demi orang tuamu
5 Cara Secara Secara hati-hati
Dengan cara Dengan cara damai
Dengan jalan Dengan jalan berunding
6 Kesalingan
7 Similatif Seperti Seperti angin
Bagaikan Bagaikan seorang dewi
Laksana Laksana bintang di langit
8 Penyebab Karena Karena perempuan itu
Sebab Sebab kegagalannya
9 Penyerta Dengan Dengan adiknya
Bersama Bersama orang tuanya
Beserta Beserta saudaranya

2.4. CIRI-CIRI KALIMAT EFEKTIF


Untuk dapat mencapai keefektifan, suatu kalimat harus memenuhi paling tidak lima syarat
berikut, yaitu adanya:
1. Kesepadanan

8
Yang dimaksud dengan kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan)
dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan
gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.
Kesepadanan kalimat itu memiliki beberapa ciri, seperti tercantum di bawah ini:
 Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas.
 Ketidakjelasan subjek atau predikat suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak
efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan
pemakaian kata depan di, dalam bagi untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan
sebagainya di depan subjek.
Contoh:
 Para mahsiswa diharapkan mendaftarkan diri di secretariat
 Tahun ini merupakan tahun terakhir masa dinasnya sebagai pegawai negeri
2. Ide pokok
Dalam menyusun kalimat kita harus mengemukakan ide pokok kalimat tersebut.
Biasanya ide pokok kita letakkan pada bagian depan kalimat. Jika seseorang penulis hendak
menggabungkan dua kalimat , maka penulis harus menentukan bahwa kalimat yang
mengandung ide pokok harus menjadi kalimat induk.
Contoh
 Ia ditembak mati ketika masih dalam tugas militer
 Ia masih dalam tugas militer ketika ditembak mati
Ide pokok dalam kalimat (1) ialah “ia ditembak mati” . ide pokok dalam kalimat (2)
ialah “ia masih dalam tugas militer”. Oleh sebab itu “ia ditembak mati” menjadi induk
kalimat dalam kalimat (1) sedangkan “ia masih dalam tugas militer” menjadi induk kalimat
dalam kalimat (2).
3. Penggabungan dengan “yang”, “dan”
Jika dua kalimat digabungkan dengan partikel dan, maka hasilnya kalimat majemuk
setara. Jika dua kalimat digabungkan dengan partikel yang, maka akan menghasilkan
kalimat majemuk bertingkat, artinya kalimat itu terdiri dari induk kalimat dan anak kalimat.
Contoh penggabungan kalimat dengan partikel dan
 Masyarakat merasakan bahwa mutu pendidikan kita masih rendah
 Perbaikan mutu pendidikan adalah tuga utama perguruan tinggi
Penggabungannya :

9
Masyarakat merasakan bahwa mutu pendidikan kita masih rendah dan perbaikannya adalah
tugas utama perguruan tinggi.
Contoh penggabungan kalimat dengan partikel yang
 Kongres lingkungan hidup diadakan di Vanconder Kanada
 Kongres itu membicarakan masalah yang berkaitan dengan manusia dan lingkungan
Penggabungannya :
Kongres lingkungan hidup yang diadakan di Vnconder Kanada membicarakan beberapa
masalah yang berkaitan dengan manusia dan lingkungan.
Penggabungan menyatakan “sebab” dan “ waktu”
Dalam komposisi untuk mencapai efektivitas komunikasi perlu diperhatikan antara
hubungan “sebab” dan hubungan “waktu”. Hubungan “sebab” dinyatakan dengan
menggunakan kata karena, dan hubungan waktu digunakan dengan kata ketika.
Contoh
 Ketika banjir besar melanda kampu ng itu, penduduk melarikan diri ke tempat-tempat yang
lebih tinggi.
 Karena banjir besar melanda kampung itu, penduduk melarikan diri ke tempat-tempat yang
lebih tinggi.
Penggabungan kalimat yang menyatakan hubungan akibat dan hubungan tujuan
Dalam menggabungkan kalimat perlu dibedakan penggunaan partikel “sehingga” untuk
menyatakan akibat dan partikel “agar” atau “supaya” untuk menyatakan tujuan.
Contoh
 Semua peraturan telah ditentukan
 Para mahasiswa tidak bertindak sendiri-sendiri
Penggabungan
Semua peraturan telah ditentukan sehingga para mahasiswa tidak bertindak sendiri-sendiri.
Semua peraturan telah ditentukan agar mahasiswa tidak bertindak sendiri-sendiri.
Penumpukan ide pokok
Kalimat panjang tidak selalu kurang jelas, tetapi kadang kalimat yang terlalu panjang
kadang-kadang member kemungkinan penumpukan beberapa ide pokok.
Contoh
 Kami sependapat dan terimakasih atas saran saudara B untuk membaritahukan honor yang
lebih banyak kepada para dosen KUTIP, namun honornya sekarang ini tampaknya sudah
yang paling optimal yang dapat kami usahakan dikaitkan denngan keuangan pemerintah.

10
Perbaikannya:
 Kami berterimakasih atas saran saudara B untuk member honor yang lebih banyak kepada
para dosen KUTIP. Saran itu kami setujui. Tetapi tampaknya honor tersebut paling tinggi
yang dapat kami usahakan bila dikaitkan dengan kemampuan keuangan pemerintah.
Penggunaan kata terjemah
Kata-kata dimana, yang mana dan kata mana lainnya merupakan terjemahan dari
kata( where, which) yang pemakaiannya didalam bahasa Indonesia makin meluas. Kata-kata
ini dipakia begitu saja sehingga pemakaiannya menimbulkan kesimpangsiuran.
Contoh
 Kota dimana saya pernah tinggal, sekarang dilanda banjir.
 Manusia membutuhkan makanan, yang mana makanan itu harus cukup mengandung zat-zat
yang diperlukan oleh tubuh, agar mereka tetap sehat.
Kalimat seharusnya
 Kota, tempat saya pernah tinggal sekarang, sedang dilanda banjir.
 Manusia membutuhkan makanan yang sudah cukup.
4. Kesejajaran (paralelisme)
Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan
dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina. Kalau bentuk
pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh:
 Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes.
 Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang
penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
Kalimat (a) tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili
predikat terdiri dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat
diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu.
Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes
Kalimat (b) tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak
sama bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang,pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu
akan baik kalau diubah menjadi predikat yang nomial, sebagai berikut:
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok,
pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.

11
5. Ketegasan/ penekanan dalam kalimat
Yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide
pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberi
penekanan atau penegasan pada penonjolan itu. Ada berbagai cara untuk membentuk
penekanan dalam kalimat. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal
kalimat).
Contoh:
 Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan
yang ada pada dirinya.
Penekanannya ialah presiden mengharapkan.
Contoh:
 Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
Penekanannya Harapan presiden.
Jadi, penekanan kalimat dapat dilakukan dengan mengubah posisi kalimat.
Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh:
 Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada
anak-anak terlantar.
Seharusnya:
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada
anak-anak terlantar.
Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
 Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
6. Kehematan
Yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat
mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak
berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat.
Peghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak
diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.
Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Perhatikan contoh:

12
 Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
 Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui bahwa presiden datang.
Perbaikan kalimat itu adalah sebagai berikut.
 Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
 Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui bahwa presiden datang.
Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada
hiponimi kata.
Perhatikan contoh:
Ia memakai baju warna merah.
Di mana engkau menangkap burung pipit itu?
Kata merah sudah mencakupi kata warna.
Kata pipit sudah mencakupi kata burung.
Kalimat itu dapat diubah menjadi
Ia memakai baju merah.
Di mana engkau menangkap pipit itu?
Pemakaian kata depan dari dan daripada
Dalam bahasa Indonesia kita mengenal kata dari dan daripada, selain kata ke dan di.
Pennggunaan dari dalam bahasa Indonesia dipakai untuk menunjukkan arah (tempat) dan
asal (asal-usul). Kata dari tidak dipakai untuk menyatakan milik atau kepunyaan.
Contoh penggunaan kata dari yang tidak tepat
 Anggota DPRD dari Jawa Barat mengadakan kunjungan ke daerah Jawa Tengah.
 Anak dari tetangga saya Senin ini dilantik menjadi dokter.
Contoh penggunaan kata dari yang tepat
 Pak Karto berangkat dari Bandung pukul 7.30
Contoh penggunaan kata daripada yang tidak tepat
 Kalimat A lebih sukar dipahami daripada kalimat B.
Contoh penggunaan kata daripada yang tepat
 Presiden menekankan bahwa di dalam pembangunan ini kepentingan daripada rakyat harus
diutamakan.
7. Kevariasian
Kalimat yang panjang akan membuat pembaca kehilangan pegangan akan ide pokok
dan mungkin akan menimbulkan kelelahan bagi pembaca. Oleh karena itu dalam penulisan
diperlukan pola dan kalimat dalam bentuk yang bervariasi.

13
Variasi dalam pembukaan kalimat
Dalam variai pembukaan kalimat, sebuah kalimat dimulai atau dibuka dengan cara:
1) frasa keterangan tempat dan waktu. 2) frasa verbun atau 3) partikel penghubung dan
sebagainya.
Contoh
 Dengan gagah Obahorok telah tampil di Jakarta, kota metropolitan yang angkuh ini.
Tetapi dengan cara kualitatif kecenderungan itu menunjukkan perkembangan yang
merisaukan.
Variasi dalam pola kalimat
Untuk efktivitas kalimat dan untuk menghindari suasana monoton yang dapat menimbulkan
kebosanan, pola kalimat subyek-predikat-obyek dapat diubah menjadi predikat-obyek-
subyek atau yang lainnya.
Contoh
 Dianggap hanya satu rentetan kesewenangan desa peristiwa ini oleh penduduk Sugi Waras
 Dalam keterangan kepada Antara di Rabat, Menlu Muchtar mengatakan bahwa tukar pikiran
itu sangat bermanfaat.
Variasi dalam jenis kalimat
Untuk mencapai efektivitas sebuah kalimat berita atau pernyataan dapat dinyatakan dalam
kalimat tanya atau kalimat perintah.
Contoh :
Kita harus berhati-hati memakai bahan bakar dan energi di dalam negeri.
Dapatkah kita melaksanakan pembangunan ini sesuai dengan program?
2.5 SYARAT-SYARAT KALIMAT EFEKTIF
Syarat-syarat kalimat efektif adalah sebagai berikut:
 Secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
 Mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca
dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.
 Mudah dipahami oleh pendengar atau pembacanya.
 Tidak menimbulkan kesalahan dalam menafsirkan maksud sang penulis.
 Menyampaikan pemikiran penulis kepada pembaca atau pendengarnya dengan tepat.
 Sistematis dan tidak bertele-tele.

14
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara
secara tepat sehingga pndengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah,
jelas dan lengkap seperti apa yang dimasud oleh penulis atau pembicaranya.
Unsur-unsur dalam kalimat meliputi : subjek (S), prediket (P), objek (O), pelengkap
(Pel), dan keterangan (Ket).
Ciri-ciri kalimat efektif yaitu : Kesepadanan, keparalelan, ketegasan, kehematan, dan
kevariasian.

3.2 SARAN
Kami selaku penulis menyadari bahwa makalah kami maih sangat jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat
membangun untuk perbaikan makalah kami kedepannya

15
16
DAFTAR PUSTAKA

Ali, L, dkk, (1991), Petunjuk Praktis Berbahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa.
Badudu, J.S, (1983), Membina Bahasa Indonesia Baku. Bandung: Pustaka Prima.
Barus,S., (2017), Pendidikan Bahasa Indonesia, Medan : UNIMED

17