Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

KELUARGA BERENCANA

A. Pengertian
Menurut World Health Organisation (WHO) expert committee 1997: keluarga berencana
adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindari kehamilan yang
tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang sangat diinginkan, mengatur
interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan
umur suami istri serta menentukan jumlah anak dalam keluarga.
Keluarga berencana menurut Undang-Undang no 10 tahun 1992 (tentang perkembangan
kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah upaya peningkatan
kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP),
pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan
keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Keluarga berencana adalah suatu usaha untuk
menjarangkan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.
Kontrasepsi adalah pencegahan kehamilan atau pencegahan konsepsi. Untuk mencapai
tujuan tersebut, berbagai cara dapat dilakukan, antara lain penggunaan pil KB/
kontrasepsi oral, suntikan atau intravaginal, penggunaan alat dalam saluran reproduksi
(kondom, alat kontrasepsi dalam rahim/implan), operasi (tubektomi, vasektomi) atau
dengan obat topikal intravaginal yang bersifat spermisid.

B. Tujuan Program KB
Secara umum tujuan yang ingin dicapai dalam rangka mewujudkan visi dan misi
program KB di muka adalah “membangun kembali dan melestarikan pondasi yang
kokoh bagi pelaksana program KB nasional yang kuat di masa mendatang, sehingga visi
untuk mewujudkan keluarga berkualitas dapat tercapai.”
Sedangkan tujuan utama program KB nasional adalah untuk memenuhi perintah
masyarakat akan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang berkualitas, menurunkan
tingkat/angka kematian ibu, bayi dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan
reproduksi dalam rangka membangun keluarga kecil berkualitas.
C. Sasaran KB
1. Sasaran Langsung
Pasangan usia subur (PUS) agar mereka menjadi peserta keluarga berencana lestari
sehingga memberikan efek langsung pada penurunan fertilitas.
2. Sasaran Tidak Langsung
Organisasi-organisasi kemasyarakatan, instansi pemerintahan maupun swasta, tokoh-
tokoh masyarakat (Wanita dan Pemuda) yang diharapkan dapat memberikan
dukungan terhadap proses pembentukan sistem keluarga kecil bahagia sejahtera
(Mochtar, 1998 dalam Hidayati, 2009)).

D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Kontrasepsi


1. Faktor-faktor Motivasi dan Rehabilitasi
a. Umur
b. Gaya hidup
c. Frekuensi senggama
d. Jumlah keluarga yang diinginkan
e. Pengalaman kontrasepsi yang lalu
f. Sikap kewanitaan dan kepriaan
2. Faktor kesehatan, kontraindikasi, absolut dan relative
a. Riwayat haid
b. Efek samping minor
c. Komplikasi-komplikasi yang potensial
d. Pemeriksaan flek dan panggul
3. Faktor metode kontrasepsi penerimaan dan pemakaian berkesinambungan
a. Efektivitas
b. Efek samping minor
c. Komplikasi-komplikasi yang potensial
d. Kerugian
e. Biaya
E. Memilih Cara Kontrasepsi
1. Cara hambatan yang menghambat kehamilan dengan cara menghambat bertemunya
sel terlur wanita dengan sperma pria.
2. Cara hormonal yang menunda kehamilan dengan cara mencegah indung telur untuk
melepaskan sel telur, membuat sel sperma sukar untuk bertemu sel telur, dan menjaga
agar dinding rahim tidak bisa menjadi lahan kehamilan
3. IUD yaitu alat dalam rahim yang menghambat pembuahan sel sperma dengan sel
telur.
4. Cara alami yang membantu wanita untuk mengetahui kapan waktu yang subur,
sehingga dia tidak melakukan hubungan intim pada waktu tersebut.
5. Cara permanen ini merupakan tidakan operasi yang menghentikan kesempatan bagi
pria dan wanita bisa mempunyai anak.

F. Metode Kontrasepsi
1. Kondom
a. Kondom Pria
Kondom adalah sarung karet yang dipakai pada alat kemaluan pria selama
melakukan hubungan seksual.
Cara menggunakan kondom:
1) Bila seorang pria tidak disunat tarik selaput kulit kepala penis ke belakang.
Kemudian masukan ujung penis kedalam mulut kondom dan masukan sampai
ke ujung akhir penis yang keras.
2) Dengan terus memencet ujung penis, buka gulungan kondom sampai semua
kondom bisa meliputi semua permukaan penis. Bagian ujung kondom yang
agak longgar akan menampung cairan sperma. Bila ujung penis tidak berongga,
kondom bisa pecah.
3) Setelah pria ejakulasi, maka dia sebaiknya memegang ujung dan pinggiran
kondom dan mengeluarkannya dari vagina sewaktu penis masih dalam keadaan
tegang.
4) Tarik keluar kondom. Jangan sampai bocor sehingga cairan sperma keluar.
5) Bentuk ikatan pada pangkal kondom kemudian dibuang dengan cara dibakar
atau dikubur sehingga jauh dari kemungkinan permainan ank-anak atau
binatang.
b. Kondom Wanita
Kondom wanita yang bisa pas di vagina dan menutupi bibir luar bisa dimasukkan
ke dalam vagina sebelum melakukan hubungan seksual. Kondom hanya digunakan
sekali pakai, karena akan mudah robek bila dicuci dan digunakan kembali.
Kondom wanita merupakan cara KB yang efektif bisa melindungi dari penularan
PMS dan kehamilan serta berada dibawah kendali wanita.
Cara memakai kondom wanita:
1) Buka bungkusan kondom cari cincin dalam yang berupa cincin yang bertutup.
2) Pencet cincin dalam tersebut dan pegang oleh jari-jari tangan.
3) Masukan cincin ke dalam lubang vagina
4) Dorong cincin sampai betul-betul masuk vagina. Sedangkan cincin luar tetap
berada diluar vagina.
5) Bila melakukan hubungan seksual masukan penis sampai masuk ke dalam
cincin luar tersebut.
6) Lepaskan segera kondom wanita setelah selesai berhubungan sebelum kita
berdiri. Plintir cincin luar kondom supaya cairan sperma masih tetap berada di
dalam kondom.

2. KB Suntik
Metode Keluarga Berencana ini dapat menghalangi ovulasi (masa subur), mengubah
lendir serviks (vagina) menjadi kental, menghambat sperma dan menimbulkan
perubahan pada rahim. Cara kerja KB suntik pun dapat mencegah terjadinya
pertemuan sel telur dengan sperma dan mengubah kecepatan transportasi sel telur.
Suntikan Keluarga Berencana terbagi menjadi suntik perbulan atau suntikan terpadu,
contohnya dan suntikan per tiga bulan (suntikan progestin). Suntikan progestin (Depo
Provera atau Niisterat) atau suntikan yang diberikan tiap dua atau tiga bulan sekali ini
aman untuk ibu menyusui atau yang tidak boleh menggunakan tambahan estrogen.
Suntikan progestin lebih menyebabkan perubahan seputar haid dan berat badan
bertambah.
Suntikan perbulan atau suntikan terpadu, mengandung hormon progestin dan
estrogen. Jika Anda ingin siklus haid tetap teratur dapat menggunakan kontrasepsi ini.
Sayangnya, suntikan ini sulit diperolah dan biayanya mahal dibandingkan suntikan
progestin.
Suntikan terpadu memiliki efek samping yang sama dengan pil KB terpadu, serta
dilarang dipakai oleh ibu menyusui. Anda bisa menghentikan metode ini kapan saja,
namun baru bisa hamil satu tahun kemudian bahkan lebih, demikian pula haid akan
kembali normal setelah jangka waktu itu. Namun ada sebagian perempuan yang
mendapat haid serta hamil dalam waktu lebih cepat dari itu. Selain menjadi
kontrasepsi sementara yang paling baik, suntikan ini juga telah mengurangi angka
kegagalan kurang dari 0,1% per tahun.
Suntikan Keluarga Berencana tidak mengganggu kelancaran ASI, kecuali Anda
menggunakan suntikan terpadu. Alat kontrasepsi ini juga dapat melindungi Anda dari
anemia, dan memberikan perlindungan pada radang panggul. KB suntik memiliki
reaksi sangat cepat (kurang dari 24 jam), dapat digunakan perempuan di atas 35 tahun,
serta tidak menimbulkan ketergantungan, namun Anda harus rajin kontrol setiap 1, 2
atau 3 bulan.
Kerugian penggunaan KB suntik ialah Anda akan mengalami gangguan haid, di mana
siklus haid bisa memendek atau memanjang, pendarahan banyak atau sedikit,
spotting, sampai tidak haid sama sekali. KB suntik pun tidak dapat dihentikan
sewaktu-waktu, naiknya berat badan, terlambatnya kembali kesuburan setelah
penghentian pemakaian, dan jika digunakan dalam jangka panjang dapat terjadi
perubahan pada lipid serum, menurunkan densitas tulang, serta keringnya vagina yang
dapat menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala, dan jerawat.
WHO menganjurkan untuk tidak menggunakan kontrasepsi suntikan pada kehamilan,
Ca Mammae, Ca Traktus Genitalia, dan Pendarahan Abnormal Uterus.

3. Pil KB
Komposisi Pil KB Andalan berbentuk kemasan untuk dikonsumsi selama 28 hari.
Terdiri dari 21 tablet pil berwarna kuning yang setiap tabletnya mengandung 0.15 mg
Levonorgestrel (hormon Progestin) dan 0.03 mg Etinilestradiol (hormon Estrogen)
dan 7 tablet salut gula berwarna putih yang tidak mengandung hormon.
Mekanisme Kerja Pil KB Andalan akan mencegah pelepasan sel telur yang telah
diproduksi oleh indung telur sehingga tidak akan terjadi pembuahan. Hormon yang
terkandung dalam pil KB Andalan akan memperkental lendir leher rahim sehingga
mempersulit sel sperma masuk kedalam rahim. Hal ini berguna untuk mengurangi
kemungkinan terjadinya pembuahan dan kehamilan. Selain itu, Pil KB Andalan akan
menebalkan dinding rahim, sehingga tidak akan siap untuk kehamilan.
Kualitas Apabila digunakan secara rutin dan tepat waktu, Pil KB Andalan 99,7%
ampuh mencegah kehamilan. Kualitas telah memenuhi standard internasional,
membantu mencegah kehamilan di luar rahim, kanker indung telur, kanker rahim,
kista dan kanker payudara.
Efek Samping:
a. Efek karena kelebihan estrogen
Ada rasa mual, kadang di sertai muntah, diare dan rasa perut kembung. Selain itu
menyebabkan retensi cairan karena kurangnya pengeluaran air dan natrium.
Retensi cairan ini dapat menyebabkan bertambahnya berat badan. Oleh karena itu,
pada akseptor dianjurkan untuk kurangi konsumsi garam. Efek samping lainnya
berupa sakit kepala, nyeri pada mamae. Konsumsi pil yang cukup lama dengan
dosis estrogen yang tinggi dapat menyebabkan pembesaran mioma uteri, akan
tetapi biasanya pembesaran itu berhenti jika pemakaian pil di hentikan. Rendahnya
dosis estrogen dalam pil dapat mengakibatkan spotting dan withdrawal bleeding
dalam masa intermenstruum.
b. Efek karena kelebihan progesterone
Karena hal ini dapat menyebabkan nafsu makan meningkat disertai bertambahnya
berat badan. Dapat menimbulkan jerawat dan alopesia karena efek androgenic dari
jenis progesterone yang di pakai dalam pil.
c. Efek samping yang berat
Dapat terjadi trombo-emboli, trombo-emboli ini dapat terjadi apabila di dukung
oleh faktor-faktor predisposisi seperti merokok, hipertensi, diabetes mellitus dan
obesitas.
Kontraindikasi:
a. Kontraindikasi mutlak
1) Tumor-tumor yang dipengaruhi estrogen
2) Penyakit-penyakit hati yang aktif, baik akut maupun menahun
3) Pernah mengalami trombo phlebitis, trombo-emboli, kelainan serebrovaskular
4) Diabetes mellitus
5) Kehamilan
b. Kontraindikasi relatif
1) Depresi
2) Migraine
3) Mioma uteri
4) Hipertensi
5) Oligomenorea dan amenorea
Kelebihan dan Kekurangan pil kombinasi
a. Kelebihan
1) Efektivitasnya dapat dipercaya
2) Frekuensi koitus tidak perlu diatur
3) Keluhan dismenorea yang primer menjadi berkurang atau hilang sama sekali
b. Kekurangan
1) Pil harus di minum setiap hari
2) Motivasi harus kuat
3) Adanya efek samping walaupun efeknya sementara
4) Kadang-kadang setelah berhenti minum pil dapat timbul amenorea yang
persisten
5) Harganya relative mahal

4. Implant
Implant adalah obat kontrasepsi yang berbentuk seperti tabung kecil dan lunak yang
ditempatkan di bawah kulit lengan. Didalamnya terkandung hormon progesteron yang
akan dikeluarkan sedikit demi sedikit.
Dosis : Norplant terdiri dari 6 kapsul silastik, di mana setiap kapsulnya berisi
levornorgestrel sebanyak 36 mg. Sedang Implanon terdiri 1 kapsul silastik yang berisi
etonogestrel sebanyak 68 mg, yang dilepas tiap hari kurang lebih 30 microgram/hari
Cara kerja Implant : Dengan disusupkannya 6 kapsul/1 kapsul silastik implant di
bawah kulit, maka setiap hari dilepaskan secara tetap sejumlah leveonorgestrel ke
dalam darah melalui proses difusi dari kapsul-kapsul yang terbuat dari bahan silastik.
Besar kecilnya levonogestrel yang dilepas tergantung besar kecilnya permukaan
kapsul silastik dan ketebalan dari dinding kapsul tersebut. Satu set Implant yang
terdiri dari 6 kapsul dapat bekerja secara efektip selama 5 tahun. Sedang Implanon
yang terdiri dari 1 kapsul dapat bekerja secara efektip selama 3 tahun.
Cara kerja dalam pencegahan kehamilan : Dengan dilepaskannya hormon
levonargestrel secara konstan dan kontinyu maka cara kerja implant dalam mencegah
kehamilan pada dasarnya terdiri atas 3 mekanisme dasar yaitu :
a. Menghambat terjadinya ovulasi
b. Menyebabkan endometrium tidak siap untuk nidasi
c. Mempertebal lendir serviks
d. Menipiskan lapisan endometrium
Efektifitas : Sangat tinggi, kegagalannya teoritis 0,2%, dalam praktek 1 – 3%.
Keuntungan Implant :
a. Tidak menekan produksi ASI
b. Praktis, efektif
c. Tidak ada faktor lupa
d. Masa pakai panjang
e. Membantu mencegah anemia
f. Khasiat kontrasepsi susuk berakhir segera setelah pengangkatan
g. Dapat digunakan oleh ibu yang tidak cocok dengan hormon estrogen.
Kekurangan Implant :
a. Implant harus dipasang dan diangkat oleh petugas kesehatan yang terlatih
b. Petugas kesehatan harus dilatih khusus
c. Implant mahal
d. Implant sering mengubah pola haid, karena adanya hormon progesterone yang
terkandung di dalamnya, perdarahan ringan di antara masa haid, juga timbul sakit
kepala ringan, karena mengandung hormone maka tentu saja akan berpengaruh
pada metabolisme tubuh. Sama seperti halnya pil atau suntik, tidak jarang
pengguna implant yang tidak cocok akan mengalami masa menstruasi yang
berbeda-beda.
e. Susuk mungkin dapat terlihat dibawah kulit.
Sebelum tindakan pemasangan : Perlu diberi konseling secara mantap untuk peserta
KB mengingat pemakaian kontrasepsi yang lama dan harga susuk yang mahal.
Pemasangan implant : Pemasangan dilaksanakan pada bagian tubuh yang jarang
bergerak. Berdasarkan penelitian, lengan kiri merupakan tempat terbaik untuk
pemasangan, yang sebelumnya dilakukan anaestesi lokal.
Tahap Pasca tindakan :
a. Peserta KB Susuk sebaiknya menjaga agar daerah sayatan tetap kering minimal
selama 3 hari untuk mempercepat penyembuhan dan mengurangi kemungkinan
infeksi.
b. Lengan akseptor kadang-kadang terasa membengkak dan berwarna kebiru-biruan.
Hal tersebut biasanya akibat tindakan suntikan atau pemasangan implant dan akan
menghilang dalam 3 hari hingga 5 hari.
c. Setelah 5 tahun implant atau 3 tahun untuk Implanon pemakaian, implant dapat
dilepas.
Kontraindikasi :
a. Hamil atau diduga hamil
b. Tumor
c. Penyakit jantung, kelainan haid, darah tinggi, kencing manis
Efek samping, pada dasarnya keluhannya sama dengan kontrasepsi suntik yaitu :
a. Gangguan haid
b. Jerawat
c. Perubahan libido
d. Keputihan
e. Perubahan berat badan
Bila terjadi hal-hal tersebut diatas konsultasikan kepada dokter anda untuk
memperoleh konseling dan penanggulangan.

5. IUD / AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)


Komposisi Batang plastik berbentuk T berukuran 3 cm dengan balutan tembaga seluas
kurang lebih 380 mm2. Mekanisme Kerja IUD Andalan akan mencegah pelepasan sel
telur sehingga tidak akan terjadi pembuahan. Selain itu mengurangi mobilitas sperma
agar tidak dapat membuahi sel telur serta mencegah sel telur yang telah dibuahi
menempel pada dinding rahim. Kualitas IUD Andalan efektif mencegah kehamilan
hingga 99,4% apabila dipasang sesuai dengan prosedur oleh bidan atau dokter terlatih.
Keunikan :
a. Sangat murah dan efisien karena cukup sekali pemakaian yang dibantu oleh tenaga
medis
b. Pilihan kontrasepsi non hormonal jangka panjang yang minim efek samping
c. Efektif mencegah kehamilan selama 10 tahun
d. Cepat mengembalikan kesuburan, sehingga dapat segera hamil jika diinginkan
e. Tidak mempengaruhi produksi dan kualitas ASI
f. Efektif mencegah kehamilan ektopik
Efek Samping : Secara umum, efek samping yang timbul tidak akan bersifat
permanen. Efek samping hanya akan bersifat sementara tergantung dari penerimaan
tubuh terhadap IUD. Efek samping yang bersifat sementara tersebut antara lain:
a. Perubahan siklus haid pada 3 bulan pertama pemakaian
b. Pembengkakan panggul bisa terjadi setelah terkena infeksi penyakit kelamin
c. Tidak memberikan perlindungan terhadap IMS dan HIV dan AIDS
Perhatian :
a. Anda hanya perlu sekali dalam setahun untuk datang ke dokter atau bidan untuk
memeriksakan keberadaan IUD Anda
b. Pemasangan IUD harus dilakukan oleh tenaga medis yang telah dilatih
c. IUD dapat dipasang segera setelah melahirkan, setelah plasenta keluar
d. Kapan saja bisa dipasang tidak harus sedang haid asalkan Anda tidak sedang hamil

6. Kontrasepsi tubektomi
Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan fertilitas (kesuburan)
seorang perempuan secara permanen. Sterilisasi tuba bisa dilakukan 24-48 jam pasca
melahirkan pada persalinan tanpa komplikasi dan bayi diyakinkan sehat.
Kelebihan:
a. Konseling mutlak diperlukan
b. Tidak mempengaruhi proses menyusui
c. Tidak mengganggu hubungan seks dan perubahan dalam fungsi seksual
d. Sangat efektif dan permanen
e. Tindakan pembedahan yang aman dan sederhana
f. Tidak ada efek samping
Kelemahan :
a. Dapat menyesal dikemudian hari saat ingin memiliki anak lagi
b. Rasa sakit atau tidak nyaman dalam jangka pendek setelah tindakan
c. Harus dilakukan dokter terlatih atau dokter spesialis
d. Harus dipertimbangkan dengan baik karena bersifat permanen (tidak dapat
dipulihkan kembali) kecuali dengan operasi rekanalisasi
7. Kontrasepsi masektomi
Sterilisasi berencana bisa dilakukan pada 6-8 minggu postpartum pada pasangan yang
benar-benar yakin dan bayi dalam keadaan sehat. Vasektomi adalah prosedur klinik
untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan melakukan okusi vasa
deferensia sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi
(penyatuan dengan ovum) tidak terjadi.
Kelebihan :
a. Sangat efektif dan permanen
b. Tidak ada efek samping jangka panjang
c. Konseling dan persetujuan mutlak diperlukan
Kelemahan:
Komplikasi dapat terjadi saat prosedur berlangsung atau beberapa saat tindakan,
akibat reaksi anafilaksi yang disebabkan oleh penggunaan lidokain atau manipulasi
berlebihan terhadapa anyaman pembuluh darah di sekitar vasa deferensia.
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BERENCANA

A. Pengkajian
1. Data Subyektif
a. Identitas
Yang dikaji meliputi biodata dan suami mulai dari nama, umur, suku, agama,
pendidikan, pekerjaan, penghasilan, alamat, no. telp.
b. Keluhan Utama
Dikaji keluhan klien yang berhubungan dengan penggunaan KB suntik kombinasi
tersebut antara lain amenorea/ perdarahan tidak terjadi, perdarahan bercak,
meningkatnya/ menurunnya BB.
c. Riwayat KB
Dikaji apakah klien pernah menjadi akseptor KB lain sebelum menggunakan KB
kombinasi dan sudah berapa lama menjadi akseptor KB tersebut.
d. Riwayat Obstetri Lalu
Dikaji riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
e. Riwayat Menstruasi Lalu
Dikaji menarche pada umur berapa, siklus haid, lamanya haid, sifat darah haid,
dysmenorhea atau tidak, flour albus atau tidak.
f. Riwayat Kesehatan Klien
Dikaji apakah klien menderita penyakit jantung, hipertensi, kanker payudara,
DM, dan TBC.
g. Riwayat Kesehatan Keluarga
Dikaji apakah keluarga klien ada yang menderita penyakit jantung, DM, TBC,
hipertensi dan kanker payudara.
h. Pola Kehidupan
Dikaji meliputi pola nutrisi, pola eliminasi, pola istirahat, pola aktivitas, pola
aktivitas seksual, pola personal hygiene, dan kebiasaan sehari-hari.
2. Data Obyektif
a. Pemeriksaan Umum
Meliputi pemeriksaan pada tekanan darah, nadi, pernafasan, BB, TB, suhu badan,
kesadaran.
b. Pemeriksaan Khusus
1) Wajah : dilihat adanya bercak hitam (chloasma) adanya oedem, conjungtiva
tidak pucat, sklera tidak ikterus.
2) Leher : diraba adanya pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar limfe, adanya
bendungan vena jugularis.
3) Dada : dilihat bentuk mammae, diraba adanya massa pada payudara.
4) Genetalia : dilihat dari condiloma aquminata, dilihat dan diraba adanya
infeksi kelenjar bartholini dan kelenjar skene.
5) Ekstremitas : dilihat adanya eodem pada ekstrimitas bawah dan ekstrimitas
atas, adanya varices pada ekstremitas bawah.

B. Diagnosa
1. Nyeri b.d bekas luka suntik
2. Cemas b.d kurang pengetahuan tentang kontrasepsi metode suntikan
3. Ketakutan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tetang pil KB.
4. Nyeri kepala berhubungan dengan pil yang tidak sesuai.
5. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan terjadinya
mual dan muntah.

C. Intervensi
1. Nyeri b.d bekas luka suntik
Tujuan : nyeri berkurang
Kriteria Hasil :
 Intensitas nyeri berkurang
 Tampak rileks
Intervensi Rasional
a. Kaji tingkat nyeri a. Dapat dilakukan penanganan secara
cepat dan tepat.
b. Berikan instruksi dalam tehnik b. Mendorong relaksasi dan
pernafasan sederhana memberikan klien cara mengatasi dan
mengontrol tingkat
ketidaknyamanan.
c. Anjurkan klien menggunakan tehnik c. Relaksasi dapat membantu
relaksasi.Berikan instruksi bila perlu menurunkan tegangan dan rasa
takut,yang memperberat nyeri dan
menghambat kemajuan persalinan
d. Berikan tindakan kenyamanan (mis. d. Meningkatkan relaksasi,menurunkan
Masage,gosokan punggung, tegangan dan ansietas dan
sandaran bantal, pemberian kompres meningkatkan koping dan kontrol
sejuk, pemberian es batu) klien

2. Cemas b.d kurang pengetahuan tentang kontrasepsi metode suntikan


Tujuan : Klien tidak mengalami kecemasan
Kriteria Hasil :
 Kecemasan klien berkurang
Intervensi Rasional
a. Kaji tingkat kecemasan klien a. Dapat dilakukan penanganan secara
cepat dan tepat.
b. Berikan kenyaman dan ketentraman b. Meyakinkan klien bahwa ia benar
hati mendapat pertolongan.
c. Diskusi tentang kecemasan yang c. Mengurangi kecemasan yang dialami
dialami klien klien
d. Jelaskan kepada klien tentang d. Menambah pengetahuan klien untuk
kontrasepsi metode suntikan mengurangi kecemasan
e. Jelaskan kepada klien keuntungan e. Membantu klien mengambil
dan kerugian kontrasepsi metode keputusan untuk pemelihan
suntikan kontrasepsi metode suntik
f. Kolaborasi pelaksanaan suntik KB f. Salah satu bentuk kolaborasi dengan
tim lain
3. Ketakutan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tetang pil KB.
Tujuan : klien dapat menurunkan atau menghilangkan rasa takut
Kriteria Hasil :
 klien mengatakan telah yakin akan cara yang digunakan
 klien dapat mengetahui tetang pil KB
 ekspresi wajah baik
Intervensi Rasional
a. lakukaan pengkajian kembali a. mengidentifikasi penyebab takut
penyebab rasa takut.
b. anjurkan klien untuk meningkatkan b. menurunkan rasa takut.
kualitas lingkungan rumah.
c. berikan dorongan yang positif. c. meningkatkan optimisme.
d. berikan pengetahuan tentang pil KB. d. memberikan / meningkatkan
pengetahuan klien tetntang pilKB.

4. Nyeri kepala berhubungan dengan pil yang tidak sesuai.


Tujuan : nyeri kepala menurun atau menghilang
Kriteria Hasil :
 klien mengeluh tidak nyeri lagi.
 klien tdk terlihat meringis lagi.
Intervensi Rasional
a. mengkaji tingkat dan intensitas a. mengetahui tingkat nyeri dan
nyeri. mempermudah intervensi berikutnya.
b. membantu mengurangi rasa nyeri.
b. mengajarkan teknik relaksasi. c. Meningkatkan rasa nyaman
c. menciptakan lingkungan rumah
yang nyaman. d. rekasi nyeri seperti ini merupakan
d. anjurkan klien untuk berhenti efeksamping dari pil dan ganti
mengkonsumsi konsumsi PIL jika dengan pil yang lain.
terjadi nyeri hebat dan lama.
5. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan terjadinya
mual dan muntah.
Tujuan : keluhan mual, muntah menghilang
Kriteria Hasil :
 klien mengeluh tidak mual/muntah lagi.
 klien terlihat bersemangat

Intervensi Rasional
a. mengurangi gangguan dari a. cara khusus untuk meningkatkan
lingkungan. nafsu makan.
b. anjurkan klien untuk menjaga b. mulut yang bersih meningkatkan
kebersihan mulut. nafsu makan.
c. anjurkan klien untuk menghindari c. mengurangi rasa nyaman.
makanan yang mengandung gas.
d. ajurkan klien untuk mengkonsumsi d. memngurangi rasa mual.
vitamin B 6
e. anjurkan hentikan pemakaian jika e. efek dari penggunaan obat
keluhan terus berlanjut dan tambah
parah.
f. berikan informasi tetang f. meningkatkan pengetahuan klien
epeksamping dari penggunaan PIL
dan cara mengatasinya.
DAFTAR PUSTAKA

Bobak, L. 2004. Buku Ajaran keperawatan maternitas. Jakarta : EGC.

Doenges, M. 2001. Rencana Keperawatan Maternal/Bayi : Pedoman untuk Perencanaan dan


Dokumentasi Perawatan Klien, Edisi 2. Jakarta : EGC.

Hidayati, R. 2009. Metode dan Teknik Penggunaan Alat Kontrasepsi. Jakarta : Salemba
Medika.

Prawirohardjo, S. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBPSP.

Vaney, dkk. 2007. Buku Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC.