Anda di halaman 1dari 7

PENGETAHUAN IBU TENTANG INFEKSI CACING Ascaris

lumbricoides PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH DI DESA BATU


MERAH KOTA AMBON

Diterima 30 Mei 2012/Disetujui 21 Juni 2012

Abstract

Tropical Infection disease is still the major problem in the world, especially to tropic and sub tropic
countries inclucing Indonesia. There is Soil Helminth Transmitted. it categorized in disease Tropical
Infection. The Most often infection of SHT is caused by Ascaris Lumbricoides (Roundworm). Ascaris
is a big intestine nematode and can be infected human by their egg. Ascaris eggs are passed in the
feces of infected person. If the feces contaminated in soil, then the eggs are desposite on soil. This can
happened when hands or finger that have contaminated dirt on them are put in the mouth. This study
was conducted among mother of Pre School age (3-8) to acertain their knowledge of Infection of
ascaris Lumbricoides. The Benefit of this study is to equal measurement for handling this Infection.
Descriptive method is be used in this study. Sample selection was based on simple random sampling
and data were collected with quitionare.
Results of This study were the respondents had good knowledge about this case. But, relatively poor
on awareness of Ascaris lumbricoides Infection and it transmitted danger.

Key word: Ascaris Lumbricoides, Batu Merah, Knowledge, Mother

Abstrak

Infeksi penyakit tropis masih menjadi masalah utama di dunia, terutama untuk negara-negara tropis
dan sub tropis terutama Indonesia. Penularan cacing Tanah dikategorikan dalam Infeksi penyakit
Tropis. Infeksi penyakit ini lebih banyak disebabkan oleh Ascaris Lumbricoides (cacing gelang).
Ascaris adalah nematoda usus besar dan dapat terinfeksi manusia dengan telur mereka. Ascaris telur
masuk dalam tinja orang yang terinfeksi. Jika kotoran yang terkontaminasi dalam tanah, maka telur
menetas di tanah. Telur ini dapat masuk ketika tangan atau jari yang telah terkontaminasi kotoran pada
anak yang memasukkan jari ke dalam mulut. Penelitian ini dilakukan bagi Ibu yang anaknya usia Pra
Sekolah (3-8) untuk mengetahui pengetahuan mereka tentang penanganan infeksi Ascaris
Lumbricoides. Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengukur pengetahuan dalam penanganan
penyakit ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini secara deskriptif. Pengambilan sampel
secara simple random sampling dan data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner.
Hasil penelitian ini adalah responden memiliki pengetahuan yang baik tentang kasus ini. Tapi,
kurangnya kesadaran tentang bahaya penularan Ascaris lumbricoides.

Kata kunci: cacing gelang, Batu Merah, pengetahuan, ibu

PENDAHULUAN yang sedang berkembang, termasuk di


Saat ini penyakit infeksi masih Indonesia. Diperkirakan 51% kematian
merupakan masalah kesehatan utama di akibat penyakit infeksi di dunia disebabkan
dunia, terutama di negara tropis dan negara oleh tiga penyakit utama yang dikenal

1
sebagai the big three, yaitu tuberkulosis, 40 hingga 60 persen penduduk Indonesia
HIV/AIDS dan malaria. Di antara penyakit menderita cacingan dan data WHO
infeksi tersebut, ternyata hingga saat ini menyebutkan lebih dari satu milliar
penyakit Parasit terkesan kurang mendapat penduduk dunia juga menderita cacingan.
perhatian dari masyarakat. Hal itu mungkin Sebagian besar penderita cacingan hidup di
karena umumnya penyakit parasitik bersifat wilayah kumuh. Dan penderita di kalangan
kronis dan tidak mengancam jiwa, sehingga anak sekolah pun masih cukup tinggi
masyarakat umum bahkan tenaga kesehatan, (Pedoman Pengendalian Cacingan Tahun
termasuk dokter juga cenderung 2006).
mengabaikannya. Adapun penyakit parasitik Di Indonesia angka infeksi STH masih
penting, tetapi kurang mendapat perhatian cukup tinggi, tetapi intensitas infeksi
yaitu malaria, toxoplasmosis dan cacing bervariasi antar daerah. Hasil survey
usus (Wargosudjono T, 2009). cacingan pada murid Sekolah Dasar pada
Infeksi cacing usus masih merupakan tahun 1986-1991 menunjukkan prevalensi
masalah kesehatan masyarakat di negara sekitar 60-80%, sedangkan untuk semua
berkembang termasuk Indonesia. Dikatakan umur berkisar 40-60%. Hasil Survei Subdit
pula bahwa masyarakat pedesaan atau Diare tahun 2002 dan 2003 di 40 sekolah
daerah perkotaan yang sangat padat dan dasar di 10 provinsi menunjukkan prevalensi
kumuh merupakan sasaran yang mudah 2,2-96,3%. Keberadaan cacing di dalam
terkena infeksi cacing (Moersintowarti B, usus manusia dapat mempengaruhi proses
1992; WHO, 2013). pemasukan (intake), pencernaan (digestive),
Menurut WHO, Soil-Transmitted penyerapan (absorbtion), dan metabolisme
Helminth merupakan salah satu penyakit makanan (Wargosudjono, T).
infeksi yang cukup sering terjadi di berbagai Provinsi Maluku merupakan salah satu
belahan dunia, dan biasanya mengenai provinsi kepulauan di Indonesia. Yang
kelompok masyarakat golongan ekonomi terletak antara 20 30’- 90 Lintang Selatan
rendah. Infeksi ini menular melalui Fecal 1240 – 1360 Bujur Timur, dengan Ibukota
oral, dimana telur dari cacing provinsi yaitu Kota Ambon yang terletak di
berkontaminasi dengan tanah sekitar tempat Pulau Ambon. Jumlah penduduk Maluku
tinggal yang sanitasinya buruk. Organisme hingga Tahun 2007 sebanyak 1.301.962
yang sering menyebabkan infeksi adalah jiwa. Dan untuk penduduk Ambon sebanyak
The round worm (Ascaris lumbricoides), the 256.222 jiwa. Kondisi kesehatan di Maluku
whipworm (Trichuris trichiura) and the masih sangat didominasi oleh penyakit
hookworms (Necator americanus and Infeksi, seperti, Malaria, Diare, TB Paru,
Ancylostoma duodenale). Yang tersering Filariasis, Kusta dan HIV/AIDS. (Profil
menyebabkan Infeksi adalah species Kesehatan Maluku Tahun 2007). Prevalensi
Ascariasis Lumbricoides (WHO, 2013). cacingan untuk Propinsi Maluku
Infeksi cacing usus yang berakibat adalah 55,48%. Hasil pemantauan
menurunnya status gizi penderita juga akan menunjukkan bahwa Prevalensi Kecacingan
menurunkan daya tahan tubuh penderita pada masing-masing Puskesmas di Provinsi
sehingga memudahkan infeksi penyakit lain, Maluku Tahun 2009 adalah Puskesmas
termasuk HIV/AIDS, tuberkulosis dan Rijali 51,7%, Puskesmas Poka 51,6%,
malaria. Secara kumulatif, cacingan dapat Puskesmas Masohi 56,88% dan Puskesmas
menimbulkan kerugian zat gizi berupa Amahai 88,79%. Prevalensi untuk Kota
kalori dan protein serta kehilangan darah Ambon 51,67% dan Kabupaten Maluku
yang sangat berarti (Pedoman Pengendalian Tengah 57,89 %. Telur Cacing yang banyak
Cacingan Tahun 2006). ditemukan adalah cacing gelang dan cacing
Ascariasis adalah penyakit cacing yang cambuk (Pemantauan Penyakit Kecacingan
paling besar prevalensinya diantara penyakit di Provinsi Maluku tahun 2009).
cacing lainnya (Widoyono, 2008). Sekitar

2
Tingginya prevalensi ini terutama dapat menurunkan angka kejadian penyakit
karena banyaknya telur disertai dengan daya Askariasis pada anak dalam hal ini usia pra
tahan telur yang mengandung larva cacing sekolah. Selain itu, pengetahuan yang
pada keadaan tanah yang kondusif. Penyakit ditekankan adalah prosedur mencuci tangan
ini terutama menyerang anak pada usia yang baik dan benar, yang dilakukan oleh
prasekolah (usia 3-8 tahun), sementara ibu dan bisa diajarkan kepada anak sebagai
mendapat penyakit ini dari tangan ibunya suatu kebiasaan yang baik, guna mencegah
yang tercemar larva infektif (Widoyono, transmisi telur cacing Ascaris lumbricoides.
2008) Tujuan penelitian ini adalah mengetahui
Desa Batu Merah merupakan bagian tingkat pengetahuan ibu khususnya di desa
dari kawasan pelayanan dari Puskesmas Batu Merah mengenai penyakit cacingan
Rijali dimana terlihat prevalensi kecacingan yang disebabkan oleh cacing Ascaris
didaerah ini adalah yang tertinggi di kota Lumbricoides pada anak usia pra sekolah.
Ambon. Kawasan Desa Batu Merah Dengan adanya penelitian ini, maka
memang merupakan kawasan padat diharapkan dapat menjadi tolak ukur dalam
penduduk dan kumuh sehingga sangat upaya pencegahan dan penanggulangan
memungkinkan terjadi transmisi cacing terhadap penyakit cacingan pada anak usia
Ascaris lumbricoides terutama pada anak pra Sekolah.
usia pra sekolah.
Askariasis merupakan infeksi cacing
paling lazim di dunia, Walau demikian, pada MATERI DAN METODE
pengendaliannya hanya mendapat sedikit Metode penelitian yang digunakan
perhatian (Nelson, 2000). Di Indonesia adalah metode penelitian deskriptif dengan
sendiri, program pemberantasan cacingan media angket. Penelitian dilakukan di Desa
dilakukan sejak zaman penjajahan oleh Batu Merah, Kota Ambon, dimana
sektor kesehatan saja. Langkah yang merupakan daerah dengan prevalensi
dilakukan meliputi pengobatan dan kecacingan yang tinggi dibandingkan daerah
pembuatan jamban. Pemberantasan cacingan lainnya di kota Ambon. Penelitian dilakukan
dilakukan secara Nasional pertama kali pada dengan metode pengisian angket/kuisoner.
Tahun 1975 setelah dibentuk unit stuktural Pengumpulan data dilakukan Bulan Mei
di Direktorat Jendral PM3 (Pencegahan dan 2013. Dalam penelitian ini diambil data dari
Pemberantasan Penyakit Menular). Program seluruh ibu yang memiliki anak berusia pra
pemberantasan cacingan dilakukan oleh sekolah (3-8 tahun) yang berjumlah 50
DEPKES RI Tahun 2006 lalu dengan orang di Desa Batu Merah dengan cara acak
sasaran pengendalian terhadap cacingan di atau Simple Random Sampling. Kemudian
seluruh daerah di Indonesia, dengan kuisioner disebar ke seluruh ibu yang
kerjasama antara Pemerintah Daerah, berjumlah 50 tersebut. Pembagian dilakukan
Petugas kesehatan, dan juga masyarakat di tiga bagian Desa Batu Merah, yaitu Desa
(Pedoman Pengendalian Cacingan Tahun Batu Merah Atas yang terdiri atas Desa
2006). Galunggung dan Desa Kebun Cengkeh dan
Sasaran penelitian ini adalah ibu yang juga Desa Batu Merah bagian bawah.
memiliki anak usia sekolah dasar karena Pengembalian angket dilakukan sehari
biasanya ibulah yang paling berperan dalam setelah dibagikan. Informasi pengetahuan
kehidupan seorang anak. Ibu merupakan yang akan diketahui adalah meliputi
model atas tingkah laku sosial bagi si anak, pengetahuan tentang penyebab, cara
juga dalam berperilaku sehat, khususnya penularan, dan pencegahan penyakit
dalam pencegahan penyakit cacingan. Untuk Ascariasis.
itu, perlu dilakukan kajian tentang
pengetahuan ibu mengenai infeksi cacing
khususnya Ascaris lumbricoides sehingga
3
HASIL DAN adalah tamatan SMA dan 8 orang responden
PEMBAHASAN Hasil lainnya berpendidikan terakhir S1. Sisanya
Kuisioner yang dibagikan sebanyak 50 sekitar 14,89 % responden adalah tamatan
kuisioner dan yang terkumpul sebanyak 47 SD.
kuisioner. Pembagian kuisioner dilakukan Analisis kuisioner responden dilakukan
secara merata kepada ibu yang memiliki untuk mengetahui tentang penyebab, cara
anak usia pra sekolah ( 3-8 tahun ). Ditinjau penularan, dan pencegahan penyakit
dari tingkat pendidikan, responden Ascariasis. Dari pengolahan data tersebut
umumnya tamatan SMP sebanyak 18 orang maka diperoleh hasil sebagai berikut.
( 38,30 % ). Sebanyak 15 orang responden

Tabel 1. Pengetahuan tentang Penyebab Infeksi Cacing Ascaris lumbricoides

Pengetahuan
Penyebab Infeksi Cacing
No. Tahu Tidak Tahu
Ascaris lumbricoides
F % F %
1 Masuknya telur cacing 26 55.32 21 44.68
2 Bukan karena konsumsi
17 36.17 30 63.83
daging mentah
3 Bukan karena tidak memakai
3 6.38 44 93.62
sandal
4 Lingkungan kotor 43 91.49 4 8.51
5 Tanah yang tercemar kotoran
manusia yang juga 45 93.75 2 4.26
mengalami cacingan

Data Tabel 1 menunjukan bahwa 93,62 % dari responden yang tidak


responden terbanyak mengetahui bahwa mengetahui bahwa infeksi cacing tidak
infeksi cacing Ascaris lumbricoides disebabkan oleh perlakuan individu yang
disebabkan oleh tanah yang tercemar tidak memakai sandal dan hanya ada 17
kotoran manusia yang juga mengalami responden ( 36.17%) yang mengetahui
cacingan yaitu sejumlah 45 responden ( bahwa penyakit Ascariasis ini tidak
93.75% ), lingkungan kotor 91,49%, dan disebabkan oleh perlakuan individu yang
masuknya telur cacing sejumlah 26 memakan daging mentah.
responden ( 55.32%). Sedangkan masih ada

Tabel 2. Pengetahuan tentang Transmisi Telur cacing Ascaris lumbricoides

Pengetahuan
No.
Transmisi Telur Cacing Tahu Tidak Tahu
F % F %
1. Makanan/ tangan yang kotor
yang masuk ke mulut ( hands 44 93.62 3 6.38
to mouth )
2. Tidak menembus kulit 20 42.55 27 57.45
3. Tidak melalui saluran
31 65.96 16 34.04
pernapasan

Data tabel 2 menunjukkan pada tentang transmisi masuknya cacing karena


pernyataan pertama responden yang tahu makanan/ tangan yang kotor masuk ke

4
mulut ( hands to mouth ) 93,62% dan 6,38% pernyataan ke-tiga responden yang tahu
yang tidak tahu. Pernyataan ke-dua tentang transmisi cacing tidak melalui
responden tahu bahwa cacing Ascaris tidak saluran pernapasan sebanyak 65,96% dan
menembus kulit sebanyak 42,55% dan sebanyak 34,04% tidak tahu.
57,45% responden tidak tahu. Pada

Tabel 3. Pengetahuan tentang Pencegahan Infeksi cacing Ascaris Lumbricoides

NO Cara Pencegahan Infeksi Pengetahuan


Cacing Ascaris lumbricoides Tahu Tidak tahu
F % F %
1 Anak mencuci tangan sebelum
45 95.74 2 4.26
makan
2 Anak memakai sandal ketika
5 10.64 42 89.36
bermain di luar rumah
3 Ibu mencuci tangan sebelum
46 97.87 1 2.13
menyiapkan makanan
4 Ibu mengetahui 5 langkah
mencuci tangan menurut
34 72.34 13 27.66
DEPKES dan
mengajarkan kepada anak
5 Ibu mengetahui tentang bahaya
21 44.68 26 55.32
infeksi cacing
6 Ibu memberikan obat cacing
42 89.36 5 10.64
kepada anak

Tabel 3 menunjukkan pengetahuan 26 responden (55,32%) dan responden yang


responden tentang pencegahan cacing tahu sebanyak 21 responden (44,68%).
ascaris Lumbricoides. cara pencegahan Pengetahuan tentang Pemberian obat cacing
pertama yaitu anak mencuci tangan sebelum pada anak sebagai bentuk pencegahan
makan, responden yang menyetujui hal ini, terhadap cacingan diketahui sebagian besar
sebanyak 45 responden (95,74%) dan yang responden. Sebanyak 42 responden
tidak mengetahui hal ini sebanyak 2 (89,36%) dan hanya 5 responden (10,64%)
responden (4,26%). Untuk pencegahan yang menjawab tidak tahu.
dengan jalan anak memakai sandal ketika
bermain di luar rumah, responden yang Pembahasan
tidak tahu lebih banyak dari responden yang Pengetahuan atau kognitif merupakan
tahu. Responden yang tidak mengetahui hal domain yang sangat penting untuk
ini sebanyak 42 orang (89,36%), dan yang terbentuknya perilaku seseorang
mengetahui hal ini hanya sebanyak 5 (Notoatmodjo, 2003). Meskipun seseorang
responden (10.64%). Sebanyak 46 memiliki pendidikan yang rendah tetapi jika
responden (97,87%) menyetujui bahwa ibu ia mendapatkan informasi yang baik dari
mencuci tangan sebelim menyiapkan berbagai media misalnya TV, radio atau
makanan dan hanya 1 responden (2,13%) surat kabar maka hal itu akan dapat
yang tidak menyetujuinya. meningkatkan pengetahuan seseorang.
Sebanyak 34 responden (72,34%) Hasil penelitian menunjukkan frekuensi
mengetahui tentang 5 langkah cuci tangan dan presentasi rata-rata sebagian besar
menurut DEPKES dan mengajarkan kepada responden sudah memiliki pengetahuan
anak, 27,66% lainnya tidak menyetujui hal yang cukup baik mengenai penyebab infeksi
ini. Pengetahuan ibu tentang bahaya Infeksi cacing Ascaris lumbricoides. Hal ini terlihat
cacing masih relatif rendah dibandingkan pada responden yang mengetahui penyebab
yang tidak tahu. Yang tidak tahu sebanyak infeksi cacing Ascaris lumbricoides adalah

5
karena masuknya telur cacing yaitu Pada pengolahan data didapatkan hasil
sejumlah 26 responden ( 55.32 % ), Pengetahuan tentang Pencegahan Infeksi
lingkungan kotor sejumlah 43 responden ( cacing Ascaris lumbricoides. Data
91,49% ), dan 45 responden ( 93,75% ) menunjukkan bahwa pengetahuan dari
mengetahui bahwa penyakit Ascariasis ini responden sudah cukup baik. Ditunjukkan
juga disebabkan oleh tanah yang tercemar dengan jumlah responden yang menyetujui
kotoran manusia yang juga mengalami bahwa cuci tangan sebelum makan adalah
cacingan. Di sisi lain pengetahuan sebanyak 45 responden (95,74%). Selain itu,
responden mengenai penyebab infeksi sebanyak 46 responden (97,87%) juga
cacing Ascaris lumbricoides ini juga dapat menyetujui tentang pentingnya cuci tangan
dikatakan masih kurang bila ditinjau dari sebelum ibu menyiapkan makanan.
data yang menunjukan bahwa masih ada Pengetahuan tentang cara cuci tangan dari
93.62% responden yang tidak tahu bahwa DEPKES juga sudah banyak diketahui oleh
infeksi cacing Ascaris lumbricoides ini tidak responden. Sebanyak 34 responden
disebabkan oleh perlakuan individu yang (72,34%) mengetahui hal ini.
tidak memakai sandal dan hanya 36,17% Penelitian Wisnungsih (2004)
(17 responden) yang mengetahui bahwa menunjukkan bahwa ada hubungan antara
penyakit Ascariasis ini tidak disebabkan kebiasaan mencuci tangan dengan kejadian
oleh perlakuan individu yang memakan infeksi cacing. Upaya pencegahan dan
daging mentah. penanggulangan infeksi kecacingan dapat
Data menunjukkan pengetahuan dengan cara meningkatkan pengetahuan dan
responden tentang transmisi telur cacing perilaku keluarga tentang hygiene
Ascaris lumbricoides sudah cukup baik. Ini perorangan serta sanitasi lingkungan dan
dapat dilihat dari banyaknya responden yang makanan meliputi mencuci tangan sebelum
mengetahui tentang transmisi telur cacing makan dan sehabis buang air besar.
melalui makanan atau tangan yang kotor Untuk bahaya Infeksi cacing sendiri,
masuk ke mulut (hands to mounth) banyak juga responden yang belum tahu,
sebanyak 92,62%. Hasil ini dibuktikan dari dengan alasan mereka belum melihat secara
penelitian Ririn dkk tahun 2008 A. nyata bahaya cacing yang bisa
lumbricoides dan T. trichiura pada menyebabkan kematian. Jumlah responden
pemeriksaan spesimen tinja anak diare. yang menyetujui hal ini (44,68%), lebih
Penularan infestasi yang di mediasi oleh sedikit dibanding yang tidak menyetujuinya
lingkungan yang tidak higienis, seperti (55,32%). Pentingnya pemberian obat
tanah yang telah terkontaminasi dengan cacing juga sudah menjadi perhatian besar
telur cacing ini dapat diduga menjadi faktor bagi responden. Sebanyak 42 responden
yang mempermudah terjadinya resiko (89,36%) menyetujui pemberian obat cacing
penularan pada anak yang cendrung sering sebagai bentuk pencegahan terhadap
berkontak dengan tanah pada saat bermain, cacingan.
sehingga resiko penularan kedua cacing ini
secara transmisi fekal-oral sangat mudah
terjadi (Ririn Ayuandani, dkk, 2009). KESIMPULAN DAN SARAN
Selanjutnya sebanyak 65,96% responden Kesimpilan
mengetahui transmisi cacing Ascaris Dari hasil penelitian, tampak bahwa
lumbricoides tidak melalui saluran pengetahuan ibu tentang Infeksi Cacing
pernapasan. Selain itu, masih ada responden Lumbricoides pada Anak Usia Pra Sekolah,
yang tidak tahu tentang transmisi telur di Desa Batu Merah, Kota Ambon, sudah
cacing Ascaris lumbricoides yang tidak cukup baik. Hal ini, kemungkinan
dengan cara menembus kulit yaitu sebanyak disebabkan oleh sebagian besar responden,
57,45% dan responden yang mengetahui hal dengan tingkat pendidikan terakhir SMP.
ini sebanyak 44,55%. Namun, pengetahuan Ibu tentang penyebab

6
dan bahaya infeksi cacing masih rendah. Di misalnya dengan rutin membersihkan
sisi lain prevalensi kecacingan pada anak lingkungan dan juga memperhatikan
usia Pra Sekolah di kawasan Desa Batu kebersihan diri misalnya dengan cuci tangan
Merah tahun 2009 adalah yang tertinggi di dengan sabun sebelum makan terutama pada
Kota Ambon. anak-anak yang senang bermain di
Dengan demikian, perlu dilakukan lingkungan tanah.
penelitian selanjutnya mengenai faktor- Tenaga medis maupun mahasiswa
faktor resiko lain yang mengakibatkan kedokteran juga perlu memberikan
tingginya prevalensi kecacingan anak usia perhatian terhadap masalah ini dengan
pra sekolah di Desa Batu Merah Kota pemantauan yang rutin diselingi pembagian
Ambon. Faktor-faktor tersebut antara lain obat cacing setiap 3 bulan dan juga
lingkungan yang padat dan kumuh, sanitasi penyuluhan serta pemeriksaan kesehatan.
yang buruk, kurangnya kepedulian Pemantauan juga perlu dilakukan oleh
masyarakat terhadap kebersihan diri dan Dinas Kesehatan Kota Ambon agar terwujud
juga lingkungan. dalam perbuatan nyata yang
menunjang upaya pencegahan dan
Saran penanggulangan penyakit Askariasis yang
Perlu ada kerjasama berbagai pihak terus berkembang. Misalnya, upaya
mulai dari masyarakat itu sendiri, peningkatan kesehatan lingkungan dan
mahasiswa terutama mahasiswa kedokteran, pengembangan program pemberantasan
tenaga medis, dan juga pemerintah. penyakit Askariasis yang lebih intensif
Masyarakat perlu meningkatkan kepada orang tua khususnya ibu.
kepeduliannya terhadap lingkungan

DAFTAR PUSTAKA tarif/tahun-


Depkes Maluku, Profil Kesehatan Maluku 2009/kecacingan/perpustakaan.litbang.
Tahun 2007, [update : 2007] [online] depkes.go.id/otomasi/index.php?p=sho
[cited May 2] [ 116 pages ] Available w.id
from : URL : http://www.depkes.go.id Ririn Ayuandani dkk, Deteksi Infestasi
/downloads/profil/profil_maluku_2007. Cacing Usus pada Tinja Anak Diare
H. 1220 yang Berobat di Puskesmas Rawat Inap
Moersintowarti B, 1992. Pengaruh cacingan Kota Pekanbaru 2009 [update : 2009]
Pada Tumbuh Kembang Anak. Makalah [online] [cited May 10] [ 9 screens]
disampaikan pada Pertemuan Ilmiah Available from : URL :
Penanggulangan Cacingan. Fakultas http://repository.unri.ac.id/.../REPOSIT
Kedokteran Unair. Surabaya ORY_Ririn%20Ayuandani_090811360.
Nelson, Ilmu Kesehatan Anak edisi 15, Jilid Wargosudjono, T. Strategi Penanggulangan
2. 2000, Jakarta : EGC dan Pencegahan Penyakit Parasitik di
Notoatmodjo, Pengantar Ilmu perilaku Masyarakat, Majalah Kedokteran
Kesehatan 2003. Jakarta H.34.6 Indonesia vol 59. No 7. 2009 H. 10
Pedoman Pengendalian Cacingan Tahun WHO [online]. Intestinal Worm 2012 [ cited
2006 [online] [update : June 2006] 2013 May 1 ] ; [ 6 screens ]. Available
[cited April 30]. [ 27 Pages ]. Available from: URL:
from: URL : http://www.who.int/intestinal_worms/e
Pemantauan Penyakit Kecacingan di n/index.html
Provinsi Maluku tahun 2009 [update : Widoyono, Penyakit Tropis, Epidemiologi,
2009] [online] [cited May 1] [ 2 Penularan, Pencegahan dan
screens] Available from : URL : Pemberantasannya. 2008, Jakarta :
http://btklambon.wordpress.com/pola- EMS H. 34.