Anda di halaman 1dari 10

PENDAHULUAN

Fenomena Raynaud adalah suatu keadaan kontriksi ekstremitas yang mengakibatkan

perubahan hilang timbul pada warna kulit ekstremitas, pucat, sianosis, atau kedua nya,

diikuti dengan periode hiperemia dengan warna kemerahan. Bila fenomena raynaud

merupakan kelainan primer disebut dengan penyakit raynaud. Gangguan arteri perifer pada

tangan merupakan masalah klinik yang sukar, sering kali sukar untuk membedakan

gambaran penyakit secar terpisah.

Tahun 1862 Raynaud melaporkan penelitiannya pada kasus-kasus vasokontriksi

dengan perubahan warna ekstremitas yang timbul akibat rangsangan dingin atau gangguan

emosi \. Keadaan tersebut akibat timbulnya mekanisme vasokontriksi tanpa adanya kelainan

arteri. Kelainan ini dinamakan penyakit Raynaud.

Para peneliti sebelum tahun 1950 mendapatkan bahwa 50-70 % kelainan

vasokontriksi ini merupakan penyakit Raynaud, tetapi akhir-akhir ini dengan

berkembangnya cara pemeriksaan pembantu diagnosis terutama pemeriksaan imunologis,

beberapa peneliti melaporkan bahwa 80-100% kasus yang diteliti mempunyai kelainan

primer, terutama kelainan autoimun. Atas dasar ini beberapa peneliti mengusulkan untuk

tidak memakai istilah sindroma Raynaud.

Tentang istilah ini belum ada keseragaman diantara para ahli, tetapi seabaiknya kita

membatasi diri dengan hanya memakai istilah fenomena Raynaud dan penyakit Raynaud

untuk mencegah kekeliruan.


Keadaan yang sering berhubungan dengan fenomena Raynaud dapat digolongkan

sebagai berikut :

1. Penyakit Raynaud, dimana fenomena Raynaud tidak disebab kan oleh penyakit yang

jelas.

2. Kelainan imunologis dan jaringan penunjang :

a. Skleroderma

b. Mixed connective tissue diseases

c. Lupus eritematosus sistemik

d. Arteritis reumathoid

e. Dermatomiositis

f. Polimiositis

g. Vaskulitis yang disebabkan antigen hepatitis B

h. Vaskulitis yang disebabkan obat

i. Kelainan imunologis non spesifik

3. Penyakit obstruksi arteri tanpa kelainan imunologis :

a. Arteriosklerosis obliterans

b. Thromboangitis obliteran

c. Sindrom kompresi neurovaskuler

4. Fenomena Raynaud akibat pekerjaan :

a. Cedera karena vibrasi (tukang ketik, pemain piano)

b. Trauma arteri langsung

c. Cedera akibat dingin


5. Fenomena Raynaud akibat obat tanpa adanya arteritis :

a. Ergot

b. Beta bloker

c. Obat sitotoksik

d. Obat kontrasepsi

6. Lain- lain

a. Penyakit Vinil chlorida

b. Kegagalan \ginjal kronis

c. Aglutinin dingin

d. Krioglobunemia

e. Neoplasma

f. Kelainan susunan saraf pusat dan perifer

g. Kelainan endokrin

Meskipun kasus penyakit Raynaud jarang dijumpai, tapi bila ada harus dirawat

dengan teliti. Laporan yang ada menyatakan bahwa penderita wanita merupakan 60-90%

dari seluruh kasus dan cenderung merupakan idiopatik atau berhubungan dengan penyakit

jaringan penunjang. Penyakit Raynaud biasa nya timbul pada usia sebelum 40 tahun. Pada

penderita laki laki biasa nya dimulai pada usia yang lebih tua dan lebih banyakberhubungan

dengan aterosklerosis.

Setelah beberapa tahun, gambaran klinik pada seseorang penderita dapat berubah,

terutama pada penderita dengan penyakit Raynaud dimana pada permulaan menunjukan

suatu vasokontriksi murni, lambat laun memberikan gambaran obstruksi apabila proses

autoimun telah menimbulkan kerusakan dinding arteri.


Manifestasi klinik

Hipotesis Raynaud (1982) mengatakan bahwa penyakit dan fenomena raynaud

disebabkan oleh aktivitas yang berlebihan dari saraf simpatis, sedang kan lewis merumuskan

suatu kelainan setempat dimana pembuluh darah pre kapiler menjadi hipertensif terhadap

pendinginan lokal. Ternyata kontrol dari arus darah digital tidak seluruhya oleh aktivitas

konstriksi melalui simpatis dan kemudian kontrol alir balik secara pasif, tapi juga sudah

diketahui peranan mekanisme vasodilatasi (bio-feedback). Sirkulasi darah di jari tangan dan

kaki tidak terkait dengan kebutuhan metabolik, tapi vasokontriksi setempat hingga aliran

darah berkurang, tapi jika penurunan ini berlanjut akan terjadi mekanisme yang

menimbulkan vasodilatasi, suatu reaksi yang dapat mencegah iskemi. Pada pasien Raynaud

reaksi ini tidak terjadi, mungkin karena titik kritis vasokontriksi pembuluh darah yang

berbeda dengan individu normal (150 - 170). Karena perfusi berkurang akan terjadi pembuluh

jaringan ikat yang berlebihan dengan akibat penyempitan pembuluh darah karena tekanan.
Perubahan warna jari pada fenomena Raynaud bervariasi, tetapi menunjukkan pola

yang tetap pada setiap penderita. Serangan dimulai dengan berhentinya aliran arteri secara

mendadak dan simetris mengakibat kan warna pucat, kemudian darah mengalir secara

perlahan dalam sistem kapiler dan vena, yang akan mengalami desaturasi dan akan

mengakibatkan sianosis. Bila periode iskemia diikuti vasodilatasi, akan timbul warna merah.

Pada sebagian penderita hanya terlihat warna pucat atau sianosis saja. Fase iskemia dapat

disertai rasa berdenyut. Pada kasus yang berat atau lanjut dapat ditemukan ulserasi atau

gangren ujung-ujung jari.

Diagnosis dan diagnosis banding

Diagnosis fenomena Raynaud dapat di tegakkan dengan anamnesis riwayat

kepucatan atau sianosis jari akibat rangsang dingin atau gangguan emosi. Diagnosis dapat

ditegakkan dengan pengukuran waktu kembalinya suhu jari ke suhu semula sesudah tangan

direndam kedalam campuran es dan air selama 20-30 detik. Orang normal akan mencapai

suhu semula dalam waktu 5-20 detik, sedang kan penderita fenomena Raynaud akan

membutuhkan waktu lebih lama, sekitar 35-40 menit.

Lebih lanjut perlu anamnesis yang mempengaruhi kepada kemungkinan penyakit

atau keadaan yang berhubungan terutama dengan penyakit jaringan penunjang seperti

kesulitan menelan, kelainan sendi, rasa kering pada mata dan mulut dan sebagainya.

Kriteria yang dipakai untuk menegakkan diagnosis penyakit Raynaud adalah sebagai

berikut:

a. Serangan fenomena raynaud karena rangsangan dingin atau emosi

b. Fenomena ini terjadi secara bilateral, jarang terjadi unilateral


c. Tidak ada gangren dan kalau ada hanya terbatas kulit

d. Tidak ditemukan penyakit primer

e. Gejala yang ada sedikitnya sudah 2 tahun

Pemeriksaan fisik dilakukan secara teliti dan terarah kepada kemungkinan penyakit

raynaud seperti perabaan nadi, kelainan kulit, kelainan sendi. Pemeriksaan laboratorium

harus lengkap pula untuk menghindarkan kemungkinan penyakit vaskuler lainnya. Pada

semua gangguan arteri perifer kita selalu membuat pemeriksaan angiografi untuk

memastikan apakah ada kelainan vaskuler atau tidak.

Diagnosa banding

a. Tromboangitis obliterans

Disini biasanya pada pria dan unilateral. Bila ada ada fenomena Raynaud hanya ada

pada 2-3 jari saja dan biasanya ada riwayat tromboflebitis perifer yang berulang. Bila

ada sumbatan arteri maka sudah pasti bukan penyakit Raynaud.

b. Aterosklerosis obliterans

Disini jarang ada fenomena Raynaud, kalaupun ada hanya pada 1-2 jari saja dan

warnanya pucat bukan biru. Usia biasanya lebih dari 50 tahun mengenai ekstremitas

bawah. Juga ada kolesterol yang meningkat

c. Akrosianosis

Disini biasanya juga terdapat pada wanita muda, tetapi perubahan warna pada

akrosianosis terlihat lebih jelas. Warna biru lebih mencolok dan menetap. Bila

terkena suhu dingin atau panas mungkin warna ini akan berkurang. Biasanya jarang

terjadi kelainan kulit pada ujung jari.


d. Skleroderma

Penting untuk diketahui apakah fenomena Raynaud disini bermula sebelum atau

sesudah adanya kelainan kulit atau jaringan di daerah sendi. Teleangiektasis pada

skleroderma di daerah kulit jari biasanya mendahului sklerosis kulit dan pada

stadium lanjut akan terjadi sklerosis dari kulit di lengan, muka, dada, dan leher yang

tidak ikut dengan perubahan warna seperti pada fenomena Raynaud.

Penatalaksanaan

a. Non-operatif

b. Operatif

I. Penatalaksanaan Non-operatif

Keterangan yang jelas akan membuat penderita lega, karena tidak akan dilakukan

amputasi dan tidak ada kelainan vaskuler berupa sumbatan. Kemungkinan penyakit

ini akan menjadi lebih buruk masih ada, karena itu penderita harus mengikuti rencana

pengobatan secara rutin.

Dingin dan panas harus dihindari, demikian juga trauma pada jari, kalau perlu

menggunakan sarung tanga. Reserpin dapat dicoba per oral 1 mg per hari dalam

jangka waktu yang lama. Bila diberikan intra arteri, hanya memberikan reaksi

sementara.

a. Reserpin : 1 mg per hari. Efek penekanan katekolamine dan efek

penekanan serotonin.

b. Methyldopa : 1-2 mg per hari. Efek penekanan saraf simpatis.

c. Griseofulvin : 500-1000mg per hari. Efek vasodilator pada arteriol ujung

jari.
d. Therapi esterogen : menghilangkan vasospasme.

II. Operatif ( Simpatektomi thorakodorsal )

Simpatektomi tidak dianjurkan pada penyakit Raynaud yang ringan, karena kira-

kira 80% dari penderita akan bertambah baik atau tidak bertambah buruk dengan

perawatan non-operatif. Hanya pada stadium lanjut, dimana telah menjadi koreng

pada ujung jari, yang dirasakan nyeri sekali, ada indikasi simpatektomi, tetapi

tindakan operatif ini tidak akan mencegah terulangnya pembentukan lesi pada ujung

jari.

Bila hasil pemeriksaan komponen vasomotor baik, maka simpatektomi

hampir selalu memberikan hasil yang memuaskan. Hasil simpatektomi akan lebih

baik bila dilakukan pada penyakit raynaud di ekstremitas bawah, daripada

ekstremitas atas.

Simpatektomi thorakal saja hanya akan memberikan perbaikan sementara,

karena itu lebih baik melakukan simpatektomi torako dorsal. Disini kecuali

pengangkatan ganglion I dan II, juga dilakukan pemotongan nervus interkostalis II

dan III, selanjutnya dipotong juga radiks anterior dan posterior dari segmen II, dan

III. Semua jaringan antara n. Interkostalis II dan III juga diangkat. Akhirnya nervus

spinalis kedua dipotong, karena semua ini dapat menyalurkan rangsangan sebagai

jalan alternatif. Kadang nervus interkostalis (nervus dari kunz) harus dicari dan

dipotong. Bila neurektomi luas ini dilakukan dengan baik, akan memberikan hasil

yang memuaskan.

Simpatektomi thorakal ini dapat pula dilakukan dengan memakai alat

endoskop, seperti yang diterapkan pada operasi laparoskopi.


Daftar Pustaka

1. Djang jusi. Dasar dasar Ilmu Bedah Vaskuler, 2010; 198 – 202.

2. Petterson Dean, J Donald, A Roberth. Mechanisms vascular disease, 2006; 158-165.

3. J. Fernandez, Vascular Surgery,2007; 219-225.

4. Saegal renu, Kansal amit. Raynaud’s phenomenon, 2010; 309 – 313.


TINJAUAN PUSTAKA

PENYAKIT RAYNAUD

Di susun oleh :
Argaputra Pradana

Pembimbing :
Dr. Sahal Fatah Sp.B, Sp.BTKV
Dr. Wahyu Wiryawan Sp.B, Sp.BTKV

Sub Bagian Bedah

Fakultas Kedokteran UNDIP / RSUP Dr. Kariadi Semarang

AGUSTUS 2012